Indonesia
NovelToon NovelToon

Reinkarnasi Ke Dunia Naruto

Akhir dan Permulaan yang Baru

Di sebuah rumah di kota Osaka, terdapat seorang pemuda yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Ia adalah seorang tentara yang kini sedang menikmati masa cutinya. Ia hidup sebatang kara sejak kedua orang tuanya meninggal dunia dua tahun lalu akibat kecelakaan tragis. Pemuda itu bernama Naoto Raiden.

PAGI HARI

"Kringgggg! Kringgggg! Kriiiiiiinggggg!"

"Hoaaaammm... Ergh, mengganggu saja," gumam Raiden. Ia beranjak dari tempat tidurnya, segera mengambil handuk, dan melangkah menuju kamar mandi.

Selepas mandi, ia pergi ke dapur untuk memasak daging yang dibelinya kemarin. Namun, tanpa ia sadari, sebuah bahaya mengintai.

Jlebbb!

Sebuah katana tiba-tiba menusuk punggung Raiden hingga menembus organ vitalnya. Darah segar seketika merembes membasahi pakaiannya.

"Lapor, target berhasil dimusnahkan. Data yang kita cari tidak berada di tempat. Laporan selesai," ucap seseorang berpakaian serba hitam dengan nada dingin.

Setelah memberikan laporan, orang itu menyalakan kompor gas tanpa memicu apinya. Ia membiarkan gas bocor dan memenuhi ruangan. Raiden hanya bisa menatap pemandangan itu dengan pandangan kabur dan tanpa ekspresi, sementara darah mulai menyembur dari mulutnya.

‘Sialan, ternyata mereka mengetahui tempatku,’ batinnya geram.

‘Hah, sudahlah. Mungkin ini akhirku. Cih, walaupun tidak sesuai keinginanku, tapi tak apalah. Ayah, Ibu... anakmu ini akan segera menyusul.’

‘Aku harap jika aku dilahirkan kembali, aku ingin sekali menjadi bagian dari keluarga Senju di serial Naruto. Ya, walaupun itu hanya mimpi, hahaha...’ Raiden tertawa getir dalam hati.

Bau gas kian menyengat di indra penciuman Raiden. Orang berpakaian hitam itu segera berlari keluar seraya melemparkan korek api yang menyala ke dalam rumah.

‘Sayonara, minna...’ batin Raiden untuk terakhir kalinya.

DUAAARRRRRR!

Ledakan besar mengguncang kawasan tersebut. Seketika, warga sekitar menghentikan aktivitas mereka karena terkejut. Teriakan histeris menggema di mana-mana. Warga merasa sangat sedih karena Raiden dikenal sebagai pribadi yang baik dan suka membantu sesama.

Mereka berharap pemuda itu selamat, namun takdir berkata lain. Rumah Raiden terbakar hebat hingga hancur menjadi puing-puing. Sementara itu, rekan-rekan seperjuangan Raiden yang mendengar kabar tersebut merasa sangat terpukul.

Bagaimana tidak? Dua hari sebelumnya, mereka baru saja merayakan pesta pernikahan salah satu rekan mereka, sekaligus merayakan keberhasilan Raiden dalam mengambil data tentang genosida yang dilakukan negara tetangga. Namun kini, kawan yang telah berjuang bersama selama tujuh tahun itu telah pergi untuk selamanya.

Di sisi lain, di perbatasan klan Senju dan Uchiha—tepatnya di sebuah aliran sungai—terdapat sebuah peti berwarna putih yang mengambang mengikuti arus. Setelah sekian lama terombang-ambing, peti itu akhirnya diangkat oleh seorang ninja dan segera dibawa menghadap kepala klan.

"Lapor, Senju-sama! Sebelumnya, mohon maaf atas kelancangan saya," ucap Senju Kato dengan napas terengah.

"Ada perihal apa, Kato, sampai kau tergesa-gesa seperti itu?" tanya Senju Butsuma dengan tegas.

"Begini, Senju-sama. Saat saya sedang berpatroli di perbatasan klan, saya menemukan sebuah peti yang mengambang di sungai," jelas Kato.

Orang-orang yang berada di aula klan Senju merasa bingung sekaligus waspada. Mereka khawatir itu adalah jebakan yang sengaja dipasang untuk membunuh mereka, mengingat kondisi dunia shinobi saat itu masih belum stabil dan masih dalam masa perang.

"Apa kau tahu isinya, Kato? Aku takut itu merupakan jebakan dari klan lain," ujar Butsuma penuh selidik.

"Saya tidak tahu, Senju-sama. Tapi saat saya mendekatkan telinga, sepertinya ada suara napas seseorang di dalamnya," jawab Kato.

Merasa ada yang janggal, Butsuma menyuruh Kato untuk membawa masuk peti tersebut. Tanpa menunggu lama, Kato pamit dan segera mengambil peti besar berwarna putih itu.

Beberapa saat kemudian, Kato kembali membawa peti tersebut ke tengah aula. Jika dilihat dari luar, peti itu tampak biasa saja. Namun saat hendak dibuka, mereka menyadari ada sesuatu yang menghalangi.

"Sial, ini Fuinjutsu!" seru Butsuma. "Siapapun dari kalian, cepat panggil Uzumaki Ashina kemari! Hanya dia yang bisa membukanya. Aku rasa ini merupakan Fuinjutsu tingkat tinggi."

Dua orang ninja segera melesat menuju kediaman klan Uzumaki. Tak butuh waktu lama, mereka kembali bersama Uzumaki Ashina.

"Ada apa Senju-sama memanggil saya?" tanya Ashina.

"Tidak usah terlalu formal, Ashina. Kita sudah berteman lama, lagipula kita sesama kepala klan," balas Butsuma.

"Haaahhh, baiklah. Jadi, ada apa Butsuma?" tanya Ashina santai.

"Bawahanku menemukan sebuah peti yang mengambang di sungai perbatasan klan. Kami tidak bisa melihat isinya karena saat ingin dibuka, terdapat segel Fuinjutsu di sana," jelas Butsuma.

"Hmm, begitu ya. Baiklah, coba aku lihat. Di mana peti itu?"

Butsuma menoleh seraya melambaikan tangannya. Kato segera menggeser peti itu ke hadapan Ashina.

"Ini dia, Uzumaki-sama," ujar Kato.

Ashina mengamati peti itu sejenak. ‘Hmm, Fuinjutsu apa ini? Aku belum pernah melihat pola seperti ini sebelumnya. Ah, coba buka saja.’

Ashina terdiam sejenak, membuat Butsuma yang melihatnya merasa heran. Tanpa menunggu lama, Ashina segera membentuk segel tangan dengan cepat.

"Kai!" seru Ashina.

Seketika, mekanisme pada peti itu bereaksi. Kleeekkk! Tutup peti itu pun lenyap bagai debu yang tertiup angin.

Semua orang di ruangan itu terbelalak tidak percaya. Di dalam peti tersebut, terdapat seorang bayi laki-laki berusia sekitar lima bulan yang tengah tertidur dengan sangat pulas.

Senju

Selepas rasa terkejut itu mereda, Butsuma maju dan menggendong bayi tersebut. Namun, ia merasa bimbang saat memperhatikan penampilan sang bayi yang tidak biasa.

"Ashina, apa kau menyadarinya? Anak ini sedikit aneh. Kulitnya putih pucat, dan benjolan di dahinya ini apa? Terlebih lagi, di tengah dahinya... apakah ini sebuah mata?" tanya Butsuma heran.

Ashina yang ditanya hanya mengangkat bahu seraya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Butsuma menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari jawaban dari anggota klan yang lain, namun ia tidak mendapat respon apa pun.

"Hah... sudahlah. Mungkin hanya para tetua yang tahu. Nanti akan coba tanyakan kepada mereka," desah Butsuma. "Coba kalian periksa, apakah masih ada hal lain di dalam peti itu?" lanjutnya memberi perintah.

Ashina mendekat lalu memeriksa bagian dalam peti tersebut.

"Hmmm, hanya terdapat tiga potong pakaian berwarna putih dengan simbol aneh di sana. Mungkin ini pakaian miliknya," gumam Ashina. Saat ia mengaduk-aduk isi peti lebih dalam, tiba-tiba ia menemukan sesuatu. "Tunggu sebentar, apa ini?"

Ashina mengambil sebuah plakat emas yang bertuliskan kanji: ( 大筒木雷電 ). Ia memandangi plakat itu sejenak, lalu membacanya perlahan.

"Ōtsutsuki Raiden..."

Ashina segera menatap Butsuma dengan pandangan yang sulit diartikan. Butsuma yang merasa diperhatikan menjadi heran.

"Apa?" tanya Butsuma singkat.

Tiba-tiba, plakat emas itu melayang dari tangan Ashina dan masuk ke dalam tubuh si bayi. Bayi yang tadinya diam tenang dan tertidur lelap, seketika tersentak dan menangis kencang.

"Oeeee... oeeee... oeeee!"

Mereka semua kembali terkejut. Sementara Ashina masih terdiam, memikirkan nama yang tertera di plakat tadi. Mendengar suara tangisan bayi, dari arah belakang terlihat Uzumaki Ai mendekat. Ia segera mengambil bayi itu dari gendongan Butsuma dengan lembut.

"Kemarikan... Cup, cup, cup... Anak manis, apa kamu takut?" bisik Ai menenangkan.

Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di aula, Ai membawa bayi itu masuk ke kamarnya. Butsuma hanya bisa pasrah melihat tingkah istrinya. Lagi pula, Ai saat ini sedang mengandung, jadi wajar jika intuisi keibuannya sangat kuat.

"Hei, Butsuma... sepertinya aku sedikit mengingat tentang nama itu," ucap Ashina tiba-tiba, memecah keheningan.

Butsuma seketika mengalihkan pandangannya. "Leluhur..." gumam Ashina lagi.

Butsuma semakin heran melihat Ashina yang sempat terdiam, namun tiba-tiba...

"Hahahahahaha! Bodohnya diriku, hahaha!" Ashina tertawa dengan sangat lantang.

"Ada apa denganmu, Ashina? Apa kau sudah gila?" tanya Butsuma tak habis pikir. Anggota klan yang lain pun menatap Ashina dengan tatapan aneh.

"Tidak, tidak! Aku tidak gila. Kau tahu siapa nama leluhur kita?" Ashina bertanya balik untuk memancing ingatan sahabatnya.

Butsuma terdiam, mencoba menggali ingatan dari sejarah kuno klan mereka. "Hagoromo," ucap Butsuma sambil menatap Ashina tajam.

"Dan apa nama marga atau klannya?" sahut Ashina cepat.

"Ot... hmm... Otsutsu..." Butsuma menggantung kalimatnya.

"Ōtsutsuki!" sambung Ashina.

Mendengar nama itu terucap, Butsuma terdiam seribu bahasa dengan mata terbelalak.

"Hahaha, kau mengingatnya, bukan? Nama marga anak ini sama dengan beliau. Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Ashina bangga.

Tanpa menunggu lama, Butsuma langsung menatap seluruh pasukannya yang ada di aula.

"Baiklah! Umumkan kepada semua orang! Mulai sekarang, aku, Senju Butsuma selaku Kepala Klan Senju, mengangkat Ōtsutsuki Raiden sebagai anakku!"

Semua orang yang hadir di sana segera menangkupkan tangan sebagai tanda hormat, lalu menghilang dalam sekejap untuk mengumumkan kabar besar tersebut. Sementara Butsuma dan Ashina tertawa bahagia membayangkan masa depan klan mereka.

Di Kamar Uzumaki Ai

Bayi yang tadi menangis perlahan mulai tenang karena kehangatan yang diberikan oleh Ai.

‘Sialan, suara siapa itu yang menangis? Kenapa aku bisa mendengarnya? Bukankah aku sudah mati?’ batin Raiden bingung.

Raiden mencoba membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit ruangan bergaya Jepang kuno. Merasa ada yang aneh, ia segera melihat ke arah tubuhnya. Ia sangat terkejut saat melihat tangan yang sangat mungil serta kulitnya yang berwarna putih pucat.

‘Oi, oi, oi! Apa aku menjadi bayi? Siapa pun, tolong jelaskan apa yang terjadi padaku!’

Setelah beberapa waktu merenung, Raiden akhirnya tersadar sepenuhnya.

‘Tunggu sebentar... apakah aku bereinkarnasi? Tapi ini di mana?’

Hari-hari berlalu. Lama-kelamaan, Raiden mulai terbiasa dengan dunianya yang sekarang. Ia sangat senang mengetahui bahwa keinginan terakhirnya sebelum mati ternyata menjadi kenyataan. Meskipun ia agak kecewa karena garis waktu (timeline) yang ia masuki ternyata jauh di masa lalu, tidak seperti keinginannya yang ingin melihat masa Naruto.

Namun, ia tetap bersyukur karena kini ia menjadi putra angkat Senju Butsuma. Itu artinya, ia akan menjadi kakak dari sang "Dewa Shinobi", Hashirama Senju. Satu hal yang sempat membuatnya sangat terkejut adalah saat ibu angkatnya, Uzumaki Ai, memanggilnya dengan nama Ōtsutsuki Raiden. Saat itu ia hampir pingsan karena kaget, namun seiring waktu, ia mulai menerima identitas barunya.

Skip 3 Bulan kemudian...

Saat ini usia Raiden sudah 8 bulan. Ia sudah bisa merangkak ke sana kemari. Sebenarnya ia sudah bisa berjalan, namun ia menahan diri karena tahu hal itu akan memicu kehebohan besar jika dilakukan bayi seusianya.

‘Hahhh, sungguh melelahkan memiliki tubuh kecil seperti ini. Apalagi aku harus terus bersandiwara bersikap seperti bayi pada umumnya,’ keluh Raiden dalam hati.

Raiden juga sudah mendengar kabar bahwa sebentar lagi adiknya, Hashirama Senju, akan lahir. Ia sangat antusias. Saat diajak menemui ibunya, ia langsung meronta minta turun ke kasur, tepat di samping Ai.

"Da da da da dada daadaa! (Semoga kau lahir dengan sehat, Adikku!)" ucap Raiden ceria sambil mengelus perut Ai yang membesar.

Butsuma dan Ai yang melihat kelakuan Raiden seperti itu tertawa bahagia.

"Hehehe, anak Ibu... sudah tidak sabar ya menunggu adiknya lahir?" Ai mengelus lembut kepala Raiden.

Raiden hanya mengangguk lucu, bersikap layaknya bayi pada usianya.

"Hahaha, sepertinya besok kau akan resmi memiliki adik, Raiden," sahut Butsuma penuh semangat.

Malam itu, kediaman kepala klan Senju dipenuhi canda tawa akibat tingkah menggemaskan Raiden yang sebenarnya memiliki jiwa seorang dewasa.

kebangkitan pertama

Kediaman Senju Butsuma, Siang Hari

Proses persalinan Uzumaki Ai sedang berlangsung. Di depan ruangan, Senju Butsuma tampak gelisah, ia mondar-mandir menunggu kelahiran anak kandungnya. Sementara itu, di kamarnya sendiri, Raiden sedang berbaring malas di atas ranjang.

‘Haaahhh, menjadi bayi sungguh tidak menyenangkan,’ batinnya bosan.

Raiden hanya bisa berguling ke sana kemari di tempat tidurnya. Namun, di balik rasa bosannya, ia merasa bahagia karena hari ini adiknya, Hashirama, akan lahir. Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas dan membuatnya termenung.

‘Hmm, tunggu sebentar. Bukankah aku akan memiliki tiga adik? Hashirama, Tobirama, dan Itama...’

Pikiran itu terus terngiang di benaknya. Ia tahu betul bahwa pada zaman ini perang terus berkecamuk. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun dipaksa ikut andil dalam pertumpahan darah. Raiden kembali menghela napas panjang.

‘Aku sudah tahu bagaimana alur cerita ini akan berjalan. Namun, apakah aku harus mengubahnya?’

Raiden bimbang. Ia bingung apakah harus membiarkan takdir berjalan apa adanya atau melakukan intervensi. Namun, ia teringat bahwa kedamaian besar terkadang memerlukan pengorbanan.

‘Ah, lebih baik biarkan mengalir saja sesuai ceritanya. Lagi pula, dengan keberadaanku di sini saja, alurnya pasti sudah sedikit bergeser. Maafkan aku, Itama... aku mungkin harus membiarkan takdirmu terjadi.’

Karena keterbatasan fisik tubuh bayinya, rasa kantuk segera menyerang. Raiden pun kembali tertidur lelap.

Tak lama kemudian, suara tangisan bayi pecah dari dalam kamar Ai. Tanpa menunggu lama, Butsuma segera membuka pintu. Raut wajahnya tampak berseri-seri. Ia bergegas mendekati Ai dan menggendong bayi mungil yang berada di samping istrinya.

"Terima kasih, Sayang. Beristirahatlah, aku tahu kau sangat lelah," ucap Butsuma dengan senyum hangat.

"Baiklah. Jadi, siapa nama anak kita ini?" tanya Ai lemah namun bahagia.

Butsuma terdiam sejenak, menatap bayi di pelukannya. "Hashirama. Hashirama Senju, itulah namanya. Hehehe, aku yakin kakakmu akan sangat senang. Dari kemarin dia selalu mengelus perut ibumu," lanjutnya lembut.

Hashirama yang berada di gendongan ayahnya hanya tertawa riang, seolah mengerti ucapan sang ayah. Setelah itu, Butsuma meletakkan Hashirama kembali ke samping Ai.

"Aku pergi dulu, masih banyak urusan klan yang harus kuselesaikan. Jangan lupa beristirahat," pesan Butsuma.

"Emmm," jawab Ai sambil mengangguk kecil. Butsuma mencium kening istrinya sebelum melangkah keluar ruangan.

Time Skip: 2 Tahun Kemudian

Dua tahun telah berlalu dengan cepat. Kemarin, adik kedua Raiden, Tobirama Senju, telah lahir ke dunia.

Selama dua tahun ini, Raiden bersandiwara dengan bertingkah seperti anak-anak pada umumnya; bermain bersama Hashirama, bermanja dengan ibunya, dan aktivitas lainnya. Namun secara diam-diam, ia sering menyelinap ke ruang penyimpanan teknik rahasia keluarga Senju. Meski di sana hanya terdapat teknik-teknik dasar—karena ia tahu teknik Elemen Kayu (Mokuton) belum ada yang membangkitkannya—hal itu tidak menyurutkan niat belajarnya.

Suatu hari, ia bahkan pernah dihukum oleh ibunya karena ketahuan mencoba memanipulasi cakra. Ia dikurung selama satu hari penuh. Namun, berkat wajah imut dan sikap manis Raiden, Ai merasa iba dan tidak tega meneruskan hukumannya.

Dua hari setelah kelahiran Tobirama, Raiden merasakan sesuatu yang aneh pada matanya. Rasanya perih dan gatal secara bersamaan. Ai yang melihat Raiden terus-menerus mengucek matanya mulai merasa khawatir.

"Ada apa, Nak? Kenapa kau terus mengucek matamu?" tanya Ai lembut.

"Tidak tahu, Ibu. Mataku terasa perih dan sangat gatal," sahut Raiden.

Melihat kondisi anaknya, Ai segera memanggil Butsuma. Di sisi lain, Raiden terus menahan rasa tidak nyaman itu. ‘Ah, apa-apaan ini? Tidak terlalu sakit, tapi rasa gatalnya luar biasa!’ batinnya.

Ia tidak menyadari bahwa warna matanya yang semula hitam perlahan berubah menjadi putih dengan corak biru kehijauan yang indah. Sesaat kemudian, Ai kembali bersama Butsuma.

"Ada apa, Nak? Apa yang terjadi dengan matamu?" tanya Butsuma panik sambil memegang bahu Raiden.

"Tidak tahu, Ayah. Tapi sekarang sudah tidak sakit lagi," jawab Raiden pelan.

Saat Raiden menurunkan tangannya dan membuka kelopak mata, Butsuma dan Ai tersentak hebat. Mereka terpaku melihat perubahan pada bola mata putra sulung mereka.

‘Mata apa ini? Aku belum pernah melihatnya. Aku tahu leluhur Shinobi memiliki Doujutsu yang kuat, tapi bentuknya tidak seperti ini,’ batin mereka berdua diliputi keheranan.

Melihat kedua orang tuanya terdiam sambil menatapnya dengan sangat serius, Raiden bertanya, "Ada apa, Ayah? Ibu? Apa ada yang salah denganku?"

Suara Raiden menyadarkan mereka dari lamunan.

"A-ahhh, tidak ada apa-apa, Nak. Kami hanya senang kau baik-baik saja. Ya kan, Sayang?" ucap Ai cepat sambil melirik Butsuma.

Butsuma yang mengerti maksud lirikan istrinya segera menimpali untuk menenangkan suasana. "Y-ya, benar kata ibumu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucapnya sambil menepuk pundak Raiden dengan senyum yang sedikit canggung.

Raiden tahu ada sesuatu yang disembunyikan orang tuanya, namun ia memilih untuk mengabaikannya. Saat ini, ia merasa penglihatannya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam. Ia bahkan bisa melihat aliran cakra di dalam tubuh orang tuanya dengan sangat jelas.

‘Tenseigan... Ternyata aku mendapatkan mata ini. Pantas saja mereka terkejut,’ batin Raiden puas.

Meski awalnya ia berharap mendapatkan Rinnegan, ia tidak merasa kecewa. Ia menyadari bahwa dirinya masih memiliki potensi satu mata lagi di dahinya, mirip seperti Dewi Kaguya.

Setelah itu, suasana kembali normal. Butsuma pergi untuk mengurus urusan klan, sementara Ai kembali fokus menyusui dan merawat bayi Tobirama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!