Fransisca Hotel
Semua tamu tampak bersenang-senang dengan hidangan dan tamu lainnya, lain halnya dengan seorang pria muda berumur 23 tahun yang tampak gelisah di tempat ini. Penyebabnya adalah ia baru saja melihat sileut gadis yang sangat berarti di hidupnya 5 tahun ini.
Apakah itu dia?
Galang Gumilang, Pria sukses yang mampu menghandle perusahaan besar milik keluarganya di usianya yang sangat muda. Putra bungsu dari keluarga Gumilang yang terkenal dengan pengusaha muda tanpa ekspresi, arogan dan sombong. Galang tak mempermasalahkan jika semua orang menyebutnya dengan mengerikan, ia bisa terima itu.
"Ada apa, Lang?"
Galang menatap sahabatnya sekilas lalu menggeleng. "Nggak, gapapa," katanya dan diangguki sahabatnya.
Rayhan Pramudya, sahabatnya sejak ia berada di sekolah menengah atas yang sudah tahu bagaimana sifat dan sikapnya. Pria yang seumuran dengannya itu begitu mengerti dirinya. "Kalo ada apa-apa cerita, jangan dipendam sendiri."
Galang mengangguk mendengar celotehan Rayhan, ia menatap sahabatnya yang tengah berdiri di pelaminan bersama dengan istrinya. Randy Irfandy, itulah nama sahabatnya. Mereka semua berasal dari keluarga kaya, sama seperti dirinya.
"Gue gapapa, gue ke taman dulu."
Rayhan mengangguk mengerti.
Galang melangkahkan kakinya menuju taman yang masih menjadi kawasan resepsi, tempat itu cukup sepi. Hanya ada beberapa orang, mungkin ia bisa menenangkan diri di sana.
Tapi, tunggu?
Mata Galang memicing saat melihat seorang gadis yang tengah duduk sendirian menikmati makanan ringan dan minumannya, apakah itu dia?
"Rara..."
Gadis itu menoleh dengan wajah cantiknya yang bingung, mata Galang berkaca-kaca. Apakah ini jawaban atas penantiannya? Galang mencoba mendekap gadis itu, tapi-
"Maaf, anda salah orang." Katanya dan mendorong Galang membuat pria itu tersadar.
Galang terkekeh miris, ya dia bukan gadis yang ia tunggu.
"Maaf, gadisku tak mempunyai kekuatan sebesar kau," Galang mengucapkan hal itu dengan santai, menggunakan kata kiasan yang bahkan gadis di depannya sama sekali tak paham.
"Saya permisi."
Galang mendongak menatap langit yang bertaburan bintang, apakah ini akan menjadi hari bahagia untuk sahabatnya dan hari tersial untuknya? Wajahnya begitu mirip dengan gadisnya.
bahkan lebih cantik, jika ia ada mungkin akan secantik dirinya.
"Ya Tuhan, aku sangat merindukannya."
Galang mengusap wajahnya kasar, haruskah ia kembali mengharapkan seseorang yang telah pergi 5 tahun yang lalu?
.
.
.
Tap!
"KYAA!!!"
Grep!
"*Galang!"
"Ada apa, Ra?"
"Gelap, aku takut*."
Galang merasa De Javu dengan ini semua, ia merasa terlempar pada kejadian 5 tahun yang lalu. Saat ia masih bersama dengan gadisnya, kenangan manis yang menyakitkan.
Detik berikutnya, lampu menyala terang dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang tengah memeluknya dengan ketakutan. Gadis itu, lagi?
"Eumm, Maaf."
Galang tersenyum dan mengangguk, "Tidak apa-apa, minumlah." Katanya dan mengambilkan minuman agar gadis itu lebih tenang. Galang tersenyum memperhatikan cara gadis itu minum, benar-benar persis.
"Gala-" Rayhan hampir saja menjatuhkan gelas saat melihat gadis yang ada di samping Galang. "Rara?"
Galang tersenyum dan menggeleng, "dia bukan Rara."
"Queensha, kamu disini rupanya."
Galang, Rayhan dan gadis itu menoleh ke arah sumber suara, gadis itu mengangguk dan segera beralih ke sisi cowok yang memanggilnya.
"Galang, Rayhan senang bertemu dengan kalian."
Galang balas tersenyum ke arah pria yang lebih tua dari dirinya, dia berasal dari keluarga Maheswara. Lebih tepatnya, putra pertama. apakah gadis ini adiknya? Tunangannya?
Apakah Tuhan tengah mempermainkan kisah asmaranya?
Queensha Kayra Artavika, gadis cantik itu mengerjapkan matanya perlahan membiarkan matanya terbuka dan tertutup selang beberapa waktu. Kantuknya yang menyerang tak membuat gadis itu menyelesaikan kegiatannya dan tertidur di ranjang empuknya.
Jam menunjukkan pukul 14.02 WIB, waktu tidur siang yang terlambat. Ia masih saja membaca dokumen pekerjaan yang cukup penting dan harus segera di selesaikan.
Tok Tok Tok
Kayra tersadar dan membuka pintu kamar yang dapat dibuka/tutup melalui remote control. Asisten nya masuk dan memberitahu bahwa seseorang tengah menunggunya di depan pintu kamar.
Kayra menyuruh untuk segera masuk, biarkan saja orang itu masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ia sedang malas keluar, ia juga sudah meminta seseorang untuk membawakan minuman dan beberapa makanan ringan.
Ia tak kaget dengan kedatangan seorang pria tampan dari keluarga Gumilang, karena Ibunya sempat membicarakan hal ini padanya.
"Silahkan duduk, Eum-"
"Galang atau mas Galang, atau apa terserah kamu." Galang tersenyum manis ke arahnya membuat Kayra salah tingkah.
"Iya, Galang." katanya sedikit ragu.
Kayra duduk di sofa, gadis itu masih memegang ponselnya. Ia tak tahu harus membahas apa bersama pria di depannya itu, "tumben kemari, ada apa?"
"Queen-"
"Panggil aku Kayra," selanya yang langsung diangguki Galang. Ia tak menyangka jika putra bungsu Gumilang sangat ramah, karena kabar yang beredar putri bungsu mereka sangatlah arogan.
"Kay, berapa umurmu?"
"Dua puluh satu tahun."
Galang terdiam sejenak.
"Apa ada masalah?"
Galang menggeleng, "kuliahmu, sudah selesai?"
Kayra mengangguk.
"Bagus kalo gitu," kata Galang dengan mata yang tak lepas dari wajah Kayra, entah kenapa tatapan Galang bisa membuat seorang Kayra salah tingkah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kayra tak menjalin hubungan dengan siapapun. Ia bahkan tak berpacaran dengan pria manapun, ia seakan trauma. Ya, ia pernah jatuh cinta kepada seorang pria. Hanya saja dia mengkhianatinya, terlalu sakit jika diingat.
"Kita bisa melangsungkan pesta pertunangan."
Kayra membulatkan matanya dan menatap Galang tak percaya. Pertunangan? Bukankah mereka seolah melupakan pertunangan yang sudah direncanakan bertahun-tahun? Lalu, kenapa tiba-tiba datang dan membahas pertunangan?
"Pernikahan kita yang paling ditunggu-tunggu, Kay. Aku harap kamu bisa menerima meskipun tidak mencintaiku," kata Galang.
Cinta? Kayra bahkan tak berminat dengan itu. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Cinta sudah tak ada di daftar keinginanku saat ini."
"Kenapa? Bukankah seorang wanita benar-benar sangat ingin dicintai?"
Kayra tersenyum. "Tidak semua wanita."
"Tapi, bagaimana jika aku mencintaimu?"
Apakah dia gila?
***
Gumilang
Para pekerja di perusahaan Gumilang tampaknya tengah terheran-heran dengan tingkah sang bos besar mereka, pasalnya bos mereka melakukan hal yang tak biasa dilakukannya.
Galang tersenyum membalas sapaan para pekerja kepadanya, bukannya senang karena disapa balik para pekerja malah dibuat terkejut. Galang sempat berdecak dan menggeleng pelan sebelum benar-benar hilang di telan pintu ruangannya.
"Ris, masuklah," panggil Galang melalui intercom, setelah mendengar jawaban dari seberang Galang kembali menatap layar laptopnya.
"Ya, Mr?"
"Tolong pesankan sarapan."
"Baik, Mr."
Risa sangat bingung, tidak biasanya sang atasan menyuruhnya memesankan sarapan. Setahu Risa, keluarga Gumilang tak pernah mengabaikan sarapan putra bungsunya. Tetapi hari ini? Banyak hal yang berbeda.
.
.
.
Pukul 09.38 WIB
"Apa Mr. Gumilang ada di tempatnya?"
"Maaf, Nona. Apakah sebelumnya sudah membuat janji?"
Gadis itu tersenyum dan menggeleng, "tapi saya harus bertemu dengan Mr. Gumilang. Bisa saya bicara dengan sekretarisnya?"
Resepsionis menggeleng cepat, "tidak bisa Nona, ini sudah menjadi kebijakan jika tidak membuat janji. Maka tidak bisa bertemu dengan CEO kami," katanya.
Kayra menghela nafasnya pelan, ia bahkan tak memiliki nomor ponsel Galang. Bagaimana caranya agar resepsionis ini tak menahannya disini? Menyebalkan sekali.
"Saya tunangannya, Mbak. Saya mau bertemu tunangan saya," kata Kayra.
Resepsionis itu tertawa. "Sudah banyak wanita yang mengaku menjadi tunangannya, ternyata cuma ****** yang nggak punya harga diri."
Kayra menghela nafasnya kasar. "Baiklah, saya akan ke lantai atas untuk membuktikan bahwa saya bukan ****** seperti yang kamu sebutkan."
"Saya tak mengatakan hal itu!"
"Secara tidak langsung."
Karya merogoh tasnya dan mengambil ID Card, ia menyerahkan kepada Resepsionis dengan ekspresi yang sudah sangat kesal. "Saya boleh masuk?"
Saat resepsionis melihat dan membaca Id Cardnya, dia terlihat shock dan segera menunduk. "Maaf, Nona."
Kayra tak mempedulikan hal itu dan segera menuju lift, ia lelah berdiri beberapa menit. Jika dengan cara menyombongkan diri ia bisa bertemu dengan sang CEO Gumilang, ia bisa melakukannya. Padahal, ia sangat ingin merahasiakan identitasnya di kantor ini.
Semua gagal gara-gara resepsionis sialan itu!
Saat mencapai lantai paling atas, hanya ada ruangan sang CEO dan sekretarisnya. Seorang perempuan muda duduk dan mungkin tengah mengerjakan pekerjaannya. Lebih baik ia tidak mengganggu, selain ia tak ingin mengganggu, ia juga tak ingin berdebat lagi.
Kayra melenggang bebas ke arah ruangan sang bos besar, Sekretaris itu tampak akan mencegahnya. Tetapi sebelum itu benar-benar terjadi, Kayra menunjuk wanita itu agar tetap duduk.
"Tolong diam, saya lelah berdebat!"
"Tapi, Non-"
Kayra langsung membuka pintu ruangan membuat sekretaris itu seperti ketakutan, sayangnya Kayra tak peduli. Ia masuk dan segera duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Galang. Galang sempat terkejut tetapi ia tersenyum melihat tingkah Kayra yang unik.
"Maaf, Mr. saya tidak bisa mencegah Nona ini masuk," kata Risa.
Galang mengangguk, "tidak apa-apa, dia tunangan saya."
Risa merasakan perih di hatinya, ia hanya bisa mengangguk dan segera berpamitan. Jika dilihat dari penampilan, Risa jelas kalah dengan perempuan yang saat ini duduk di sofa empuk itu.
"Resepsionismu, menyebalkan sekali!"
Galang berdiri dan berjalan mendekati Kayra yang tengah memijit kakinya yang cukup pegang, ia berdiri lebih dari 15 menit hanya gara-gara resepsionis sialan itu.
"Kenapa nggak ngabarin?"
"Aku bahkan nggak punya nomor ponselmu," Kayra merasa dirinya sudah sangat terbiasa berbicara dengan pria di depannya, biasanya ia akan menutup diri dan tak mau menunjukkan sikap aslinya.
"Biar aku yang pijit, maaf ya."
Kayra hanya diam saja memperhatikan Galang memegang kakinya, pria itu memijit kakinya pelan dan sangat lembut. "Sudah. Aku nggak apa-apa."
"Sering didatangi ******?"
Galang menatap wajah Kayra dengan heran, "bahkan tidak pernah, ada apa?"
"Berarti resepsionismu benar-benar kurang ajar!"
"Dia menuduhmu?"
Kayra mengedikkan bahunya acuh. "Ya kurang lebih seperti itu."
Galang mengangguk mengerti. "Akan ku urus nanti," katanya. Galang duduk di samping Kayra, "mau membicarakan hal kemarin?"
Kayra mengangguk, dia kemari memang ingin membahas tentang pertunangannya. Ia hanya tak mau dibebankan pikiran bahwa ia akan bertunangan dengan orang asing. Ia hanya ingin semua berjalan dengan sendirinya tanpa ia berpikir yang tidak-tidak.
"Apa sebaiknya tidak langsung menikah saja?"
What?
Burung berkicau di halaman rumah keluarga Maheswara, membuat gadis cantik yang tengah duduk di depan cermin beranjak dan membuka balkon rumahnya. Ia bersyukur masih bisa menghirup udara segar di pagi hari.
Matanya menyipit saat melihat seseorang yang beberapa hari ini memenuhi isi kepalanya, Galang. Pria itu cukup berani dengan keluarganya, ia bahkan tak segan menginap di rumahnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Kayra sendiri tak tahu.
"Kay! Sini turun!"
Kayra terkekeh mendengar panggilan dari kakak keduanya, ia mengangguk dan segera masuk ke dalam kamarnya agar ia bisa dengan cepat menghampiri mereka yang tengah mengobrol di taman.
"Non, mau kemana?"
Kayra tersenyum manis, "ke taman, Mbak."
"Mbak bikinin susu ya, Non."
Kayra mengangguk dan segera berlalu menuju taman rumahnya. Gadis 21 tahun itu berjalan lincah dengan dress rumahannya yang nampak sangat cocok di tubuhnya, dulu ia sangat jarang keluar rumahnya sehingga banyak teman-teman Ayahnya tak mengenalnya.
"Morning, cantik."
Kayra tersenyum dan duduk bergabung dengan kakak dan calon tunangannya. Kayra masih tak mengerti, hidupnya terbilang mewah dan enak. Tetapi, ia terpaksa menuruti permintaan kakeknya yang bahkan membuat Ibunya tak tega, menjodohkannya.
"Kay, kamu diundang ke makan malam ke keluarganya Galang. Ya, bagaimanapun kamu kan calon menantu mereka. Pasti mereka ingin liat kamu," kata David.
Kayra menatap Galang dan pria itu mengangguk menyetujui ucapan calon kakak ipar. "Sendiri?" tanyanya yang membuat David tertawa.
"Kenapa? Malu? Aduhh Kay, gini kamu kan udah gede. Udah mau nikah juga, kamu nggak usah malu-malu. Hadapi klien aja kamu ga malu, masa cuma makan malam doang malu."
Kayra memutar bola matanya malas. "Siapa juga yang malu, sok tau amat." katanya membuat David makin menggodanya, Kayra merengut kesal. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang menikmati ekspresi wajahnya.
"Minumnya, Non."
Kayra mengangguk. "Makasih ya, Mbak."
"Ya udah, kakak ada kerjaan. Ngobrol-ngobrol lah kalian," kata David menepuk pundak Galang pelan yang tentu saja diangguki Galang.
"Ada acara?"
"Ha- apa?"
Galang terkekeh, "hari ini ada acara?" tanyanya yang dibalas ringisan Kayra.
Kayra selalu saja merespon ucapan Galang dengan lambat. "Nggak ada, lebih tepatnya sih liburin diri sendiri."
"Berarti, ntar malem bisa dateng makan malam kan?"
Kayra berdehem pelan dan mengangguk ragu. "Iya bisa kok, aku usahain."
***
Queensha's Caffe
Galang merasa dunianya berada pada gadis yang saat ini berstatus calon tunangannya, ia tak pernah membayangkan jika ia bisa dengan singkat menyukai seorang gadis. Terkadang hati kecilnya selalu bertanya-tanya, apakah karena gadis itu mirip dengan masa lalunya sehingga ia dengan mudah jatuh cinta?
"*Tapi ntar kita kuliah di universitas yang sama, ya?"
"Tentu sayang, kamu harus janji sama aku. Kamu nggak boleh ninggalin aku, ya?"
"Pasti, aku nggak akan ninggalin kamu kecuali kamu yang minta." kata gadis manis dengan cerianya*.
"Galang?"
Galang tersadar dari lamunannya dan menatap sahabatnya yang tengah duduk di hadapannya, Galang menatap Randy dengan ekspresi wajah yang sangat bingung. "Apa?"
"Gue nggak nyangka lu bisa secepat ini, Lang. Gue kira lu masih belum move on dari Rara," kata Randy yang hanya dibalas senyuman oleh Galang. "Istri gue, dia tiba-tiba bisa komunikasi sama calon tunangan lo. Hebat kan?"
"Mika?"
Randy mengangguk, "iya, mereka kaya orang yang lama nggak ngasih kabar. Pas di pesta pernikahan gue, Mika nunggu tunangan lo. Tapi Mika kecewa karena nggak ditemuin secara langsung."
"Maksud lo, dia kenal Kayra?"
"Saya ada urusan, tolong jaga kafe dengan baik. Saya permisi."
"Kayra!"
"Mas Galang? Ngapain disini?"
Prang!!!
Randy masih belum sadar akan hal yang terjadi, yang pasti ia sudah memecahkan gelas yang tadi di pegangnya. Kayra terkejut melihat orang yang tengah berdiri di samping Galang memecahkan gelas.
"Oh, sorry..." kata Randy.
Kayra tersenyum, "nggak apa-apa." Kayra dengan segera memanggil karyawannya agar membersihkan pecahan gelas tersebut.
"Dia calon tunangan gue, Kayra." kata Galang mengenalkan tunangannya pada sahabat baiknya, Kayra tentu saja mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. Lain halnya dengan Randy, ia masih dibuat bingung dengan gadis yang berstatus tunangan sahabatnya itu.
"Ya udah, Lang. Aku pergi dulu, ya."
"Hati-hati."
Randy menggeleng dan menatap wajah Galang. "Sekarang gue tau alasannya," kata Randy membuat Galang terkekeh. "Lang, lo nggak jadiin dia pelampiasan kan?"
"Dia Rara."
"Dia anak Maheswara, Lang. Bukan Rara, lo sadar dong!" kata Randy membuat Galang tertawa.
"Gue tau alasannya kenapa selama lima tahun ini gue nggak ketemu sama Rara. Tapi untuk sekarang, gue lebih suka kepribadian dia. Rara dan Kayra punya dua kepribadian yang berbeda, tapi kebiasaan yang sama."
Randy hanya mengangguk kecil. "Tapi kalo suatu saat dia emang Rara, apa dia masih nerima lo?"
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!