Indonesia
NovelToon NovelToon

Tak Kalah Tampan

KENAPA MEREKA?

"WOYYY BANG, BANGKE LO YA!" Riuh Natan bolak-balik ke rak sepatu untuk mengecek sepatunya yang hilang sejak tiga puluh menit yang lalu,

"WOY BIJI KARBIT, LO KAN YANG MAKE SEPATU GUE?" Natan marah nampak menggebu-gebu, apalagi sekarang ia sedang kepepet karena waktu pertemuan ia dengan teman-temannya semakin menipis,

"RIBUT AMAT LO, GUE MINJEM SEJAM DOANG," Rafa yang tak lain abangnya menunjuk sepatu Natan yang sudah berada di jemuran, naasnya sepatu itu basah kuyup karena sepertinya baru saja dicuci.

"WAHHH, NYARI MATI LO YA," Natan berlari menuju abangnya yang tak segan untuk memukul Rafa seiring perasaanya yang kian jengkel,

"BOCAH EMOSIAN, SALAH LO KEMARIN GAK ANGKAT PANGGILAN DARI GUE, YAUDAH GUE PAKE AJA." Rafa menghempas tangan Natan yang berusaha memukul dirinya, beginilah keseharian mereka yang tak pernah akur dan Natan merasa penuh perbandingan dalam keluarganya.

"GUA LIHAT-LIHAT SEPATU LO LEBIH BANYAK, MEREK NYA JUGA BAGUS, KENAPA GAK LO PAKE? SENGAJA MANFAATIN BARANG PUNYA GUE?" Sewot Natan namun tak membuat Rafa terusik, justru ia malah meremehkan Natan seakan semua itu salah adiknya,

"SURUH SIAPA LO BODO? NIH BELI! LU KAGAK PUNYA DUIT KAN? GAK MUNGKIN JUGA BOKAP NGASIH LO JAJAN GEDE, SEDANGKAN LO TIAP HARI TAWURAN DAN NYARI MASALAH BUAT KELUARGA INI," Ucapan Rafa hanya semakin membuat Natan murka, Natan sendiri benci jika kakaknya selalu mengungkit hal itu,

"LO EMANG BANYAK PRESTASI, TAPI SOAL ATTITUDE, LO GAK PUNYA ADAB, ANAK ANJ*NG, " Telak Natan melemparkan uang yang diberikan Rafa, ia memilih untuk pergi menggunakan sendal karet daripada mendengar ocehan yang membuat dirinya bisa darah tinggi,

"LO EMANG BANGSA* NATAN, LO SENDIRI GAK PUNYA SOPAN SANTUN, SO SO AN NOLAK DUIT GUE," Cacian Rafa tak digubris Natan yang sudah menaiki motornya dan membuka pagar untuk meninggalkan perkarangan rumah, mukanya tentu saja masam, rautnya datar dan banyak tanya akan hidupnya sepanjang ia berjalan,

" HIDUP GUE GAK PERNAH TENANG ANJ*NG," Umpatnya risau, terfokus pada Rafa yang sikapnya agak laen emang. Hal seperti tadi saja bisa membuat Natan marah besar karena abangnya selalu berbuat seenaknya, sedangkan dirinya dituntut untuk menghormati dan menghargai abangnya.

"Rafa, kamu gak bisa lebih baik ke Natan? adikmu juga perlu dihargai, jangan sembarangan menggunakan barang milik orang lain sekalipun itu milik keluarga kita sendiri," Mama yang mendengar anak-anaknya bertengkar keluar dari dapur dan mendekati Rafa yang ngemil lalu menatap mamanya malas,

" BELAIN TERUS ANAK ANJ*NG ITU," Rafa menatap mamanya sinis,

"RAFA, JAGA UCAPANMU!" Nada sang mama meninggi mendengar Rafa selalu sekasar itu bahkan tak segan saat sedang bersama dirinya,

"KALAU PAPA BALIK, ABIS KALIAN BERDUA," Rafa mengancam lalu pergi meninggalkan mamanya dengan perasaan tak senang bahkan tak terima diteriaki seperti itu.

"Bu, ibu istirahat saja yuk, nanti biar Rafa bibi yang atur," Bujuk pembantu rumah tangga-nya, ia menyaksikan segala hal yang terjadi pada pagi hari itu, termasuk pagi-pagi sebelumnya.

"Terimakasih ya bi, gak usah saya di sini aja," Mama menolak halus, hati bibi ikut tersayat karena ia ikut melihat pertumbuhan dua anak yang dulu selalu berdamai itu, ia yang melihat keadaan sekarang, tentunya amat sedih. Terutama perubahan sikap Rafa yang lebih lama dalam masa pengasuhannya semenjak ia lahir.

" WOY TAN," Teriak seseorang yang memanggilnya dari belakang motornya ketika di lampu merah, mana suaranya kenceng lagi.

"HAFAL BANGET LO INI GUE," Heran Natan seraya takjub dengan temannya yang selalu tau itu dia sekalipun ia di bungkus pake gulungan terpal.

"LO SERIUSAN SEKOLAH PAKE SELOP? MANA SELOP NYA KENYAL-KENYAL GITU LAGI," Lais Aditya Nugraha yang merupakan nama panjangnya itu merupakan teman sekelas Natan, ia menyelidiki hal yang agak laen dari penampilan Natan hari ini,

"Diem lo, gue colok mata lo!" Natan memalingkan wajahnya sinis dan melirik lampu lalu lintas yang sudah hijau, motornya di gas cukup kencang, hal itu membuat Lais cukup terkejut dan menggelengkan kepalanya .

" Lagi gak bae-bae aja ni bocah, gue harus kasih tau yang lain." Niatnya yang cukup cepu. Namun sebenrnya Lais amat perhatian tentang Natan, terlebih ia yang lebih tau tentang hidupnya Natan karena sudah bersama sejak ia jadi bocil paud.

"WOY BOCAH KECIL, MAJU NAPA! KAGAK LIAT LAMPU HIJAU UDAH NYALA?" Teriak bapa-bapa pengangkut tahu di motor tuanya yang emosi karena jalannya terhalangi oleh Lais,

" Lah, gue kira dia jalan karena kabur lawan arus, udah lampu ijo ternyata, " Cengo Lais salah prasangka terhadap Natan sebelumnya,

"IYA MAAF YA PAK," Ucapnya, lalu melaju dengan kecepatan sedang, karena jarak sekolahnya tak jauh dari lampu lalu lintas tadi.

"Rafa, mau bibi bantu menyiapkan keperluan kamu?"Tanya bibi salah satu orang yang membuat hati Rafa dan Natan melembut jika di dekatnya,

"Engga perlu bi, bibi sarapan aja, hal ini Rafa bisa atur." Titah Rafa yang sebenarnya ingin ditinggal sendiri. Sebetulnya Rafa sering merenung tentang tindakannya kepada adiknya. Namun ada sesuatu hal yang salah membuatnya tak terima hingga menjadi sosok berkepribadian seperti ini,

"Yaudah Fa, kalau ada hal yang perlu bibi bantu, panggil aja ya! Bibi pamit," Bibi meninggalkan Rafa yang tengah mempersiapkan barangnya untuk segera pergi ke kampus. Bibi sendiri sudah tak segan memanggil Rafa dan Natan dengan nama aslinya karena kedua bocah bau menyan itu tidak mau dipanggil tuan muda kecil, yang bagi mereka amat geli untuk didengar.

"LO MEMANG GAK GUNA DI KELUARGA INI NATAN, LO HAMA, BAGUSNYA LO GAK ADA HARI ITU," Benci Rafa menatap foto ia bersama Natan kecil yang saling berpelukan, seakan tak menyangka hubungan mereka akan seperti hari ini. Ia tak pernah membanting kenangan itu sekalipun ia cukup benci,

"BRO NGAMPUS GAK HARI INI? GUE TUNGGUIN DI BASECAMP!" Notif dari ponselnya membuat pandangan Rafa beralih, ia lalu mengetik sesuatu sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan kamar yang menjadi saksi segala sesuatu yang dirasakan pria tampan itu.

Sedangkan di sekolah SMA Jiwa Nusantara, kini tengah dihebohkan oleh kedatangan Natan yang selalu menjadi pusat perhatian karena wajah tampannya yang tak berhenti memikat, dari awal masuk saja jeritan wanita sudah terdengar dimana-mana, membuat siswa-siswa lain jengah dan dengki menatap Natan yang rasanya beruntung sekali memiliki wajah setampan itu.

"NIH YA...KALAU WAJAH GUE SECAKEP NATAN, TIAP JAM GUE BAKALAN GANTI CEWE, RUGI AMAT TUH ANAK NOLAK CEWEK MULU," Ucap salah satu siswa yang bersender di dinding depan kelas bersama anak-anak lainnya,

"UNTUNGNYA ENGGAK YA, KALAU GUE SIH CAKEPNYA LEBIH DARI NATAN," Pede siswa teman siswa tersebut yang menimbulkan gelak tawa karena penampilannya yang hitam dan acak-acakan saking malasnya untuk mengurus diri.

"KALAU GAK KALAH HITAM SIH IYA," Timpal siswa lainnya, membuat siswa yang diejek itu melempar sepatunya yang baru mau ia pasang.

TASYA NGAMUK

"Tan, lo ada Masalah ya? muka lo lebih menyeramkan hari ini," Lais bertanya seraya dadah-dadah di lorong sekolah karena banyak orang yang menyapa mereka,

"Lebay lo," Natan membalasnya dengan dingin. Ia jauh berbeda dengan Lais yang selalu ramah dan menggubris sapaan orang-orang, sorotnya menatap tajam ke depan, sekalipun ia kini memakai sendal karet ia tak peduli dengan ucapan orang-orang nantinya,

" Lo ganti selop lo coba, pakai sana sepatu gue di loker, malu gue bawa lu!" Mata Lais menyipit aneh, merasa Natan terlalu bodo amatan untuk hal penting seperti itu, padahal ia bisa kena hukuman nanti.

"Lo tapi yang bawa, gue mau nyontek tugasnya si Rafgan!" titahnya balik, Lais yang selalu setia mengikuti perkataan bagindanya itu hanya bisa menurut, walau dalam hatinya ingin sekali menonjok wajah Natan yang semulus aspal jalan tol itu,

"Gan, mana buku lo?" Tanya Natan yang baru saja masuk kelas dan melempar tas nya dengan sembarang,

"DI KOLONG BANGKU NOH, AMBIL AJA!" Rafgan yang sudah biasa justru senang jika tugasnya dicontek oleh Natan, ia merasa bisa berbagi nilai dan menjadi orang yang baik hati dengan seperti cara itu, walau menurut seseorang....

"GOBL*K LO RAFGAN, MAU AJA DI CONTEKIN SAMA DIA, ENGGA-ENGGA SINI BUKU NYA GUE SITA," Maki wanita berambut pendek dengan wajahnya yang nampak galak, sang legenda ketua kelas mereka, yakni Tasya Alexandria Ningrat. Ia termasuk salah satu wanita yang tidak tertarik dengan geng Natan yang bagi dirinya nampak seperti kumpulan mahluk kunyuk itu, ia justru mengarahkan mereka pada kebenaran sekalipun permasalahan yang di alami pasukan kunyuk itu tentunya berbeda-beda, untuk setiap harinya.

" TAU TUH, SI TAMPAN YANG MENINDAS, SI PINTAR TAPI TOL*L, SATU LAGI SI PENURUT TUKANG RUSUH, UNTUNG DUA KUNYUK LAIN DI KELAS SEBELAH," Timpal Lais yang baru datang dan ikut gabung bersama Rafgan dan Natan tanpa merasa malu bertutur seperti itu,

" YA ITU LO GOBL*K", Maki Tasya lagi yang berusaha merebut buku dari Natan,

"APAAN SI LO SYA, MAKI-MAKI MULU LO KAYA DUKUN KAGAK DI BAYAR," Rafgan merasa risih mendengar ocehan Tasya yang selalu menyengat kupingnya itu,

"IYA TUH, LAMA-LAMA PEKAK TELINGA KITA DENGER SUARA LO," Lais memanasi agar Tasya semakin mengamuk, bagi dia wanita bertubuh semampai itu lucu saat ia emosi.

"BERISIK LO BIJI KUTIL, SINI NATAN, GUE SITA BUKUNYA!" Pinta Tasya berusaha agar buku Rafgan beralih ke tangannya,

"BUKAN URUSAN LO...AWAS... GUE MAU SALIN JAWBAN NYA , BENTAR LAGI MASUK," Natan mendorong Tasya agar berlalu dari hadapannya, tapi wanita itu malah diam menatap Natan bengis seperti ingin mengutuk pria itu menjadi bubuk ketumbar.

"GAK JANTAN LO, KALAU LO GAK NUGAS HARUSNYA LO TAU KONSEKUENSINYA KENA JEMUR HAJI BAWOR, INI MALAH MAIN CURANG MENINDAS ORANG PINTAR YANG LEMAH UNTUK BERBAGI JAWABAN," Jurus Tasya yang tau Natan sangat gengsi jika dirinya tak berani mengambil resiko ketika ia salah,

"Nih gak jadi," Natan melempar buku Rafgan ke arah Tasya, berlalu meninggalkan kelas menuju UKS,

"DASAR MANUSIA KERANG REMIS," Tasya mengumpat, namun ia tetap berbesar hati karena itulah resiko dia menjadi ketua kelas,

"TAN, SEPATU LO KETINGGALAN!," Lais berlari menyusul Natan, diikuti Rafgan yang hampir kena semprot lagi agar tidak mengikuti mereka berdua, namun memang kenyataannya tidak ada hari beruntung bagi Tasya jika berhadapan dengan mereka, apalagi suara wali kelasnya yang kian bermain di kepalanya, dimana ia meminta untuk merubah kebiasaan tiga kunyuk itu, termasuk melakukan perbaikan terhadap nilai-nilai mereka tanpa mencontek atau berbagi,

"BERAT HIDUP GUE BERATT," Keluhnya memungut buku Rafgan dan memasukannya ke kolong bangku miliknya.

...----------------...

" FA, MASUK BARENG AYO!" Jaka teman kampus Rafa ternyata memang benar-benar menunggu di basecamp tempat mereka sering berkumpul,

"Jangan sampai ada yang liat, ayo!" Rafa memperhatikan sekitar agar tidak dilihat orang lain, terutama anak-anak kampus yang mengenal adiknya, ia menjaga suatu rahasia yang sampai kapanpun Rafa akan menutupi hal itu dari Natan.

" Gimana matkul kemarin, lo paham?" Setelah agak jauh, mereka membuka topinya dan mulai berbicara santai. Hingga mereka memasuki kampus, Rafa yang tampan tentunya menjadi pusat perhatian orang-orang, baik lelaki, dosen maupun wanita. Cuman ruang lingkup kali ini lebih ngeri daripada orang-orang di sekolahnya Natan.

" EH RAFA, SINI DONG, LO TERIMA GAK KADO YANG GUE KASIH KEMARIN?" Teriak salah satu wanita cantik, yang penampilannya selalu memukau ditambah rupa nya yang nampak babyface.

"Gue terima ko, makasih ya Ra," ucapnya dibalas anggukan excited oleh Zafira, pengagum Rafa semenjak awal masuk fakultas dengan prodi yang sama.

"Jangan gitu lo Ra, malu dilihat orang lain, ini lingkungan kampus loh." Tegur Jaka melihat perlakuan Zafira yang berlebihan terhadap Rafa,

" YAELAH BIASA KALI, YANG LAIN AJA MESUM DI KAMPUS," Elaknya membuat Jaka dan Rafa terkejut mendengarnya, mereka saling berpandangan seakan tahu isi pikiran masing-masing,

"Mulut lo jangan asal jeplak, lo tau darimana berita itu?" Kali ini Rafa yang bertanya, mengingat Zafira yang terkadang berlebihan menyampaikan sesuatu,

"GUE KAN SELALU KUMPULAN SAMA ANAK JURUSAN SEBELAH, MEREKA BANYAK INFO TENTANG ITU, GUE KIRA DI JURUSAN KITA KAGAK ADA, TERNYATA ADA LOHHH," Hebohnya langsung dibekap oleh jaga karena mengundang perhatian orang-orang,

" Lo kalau ngasih info kaya gini jangan teriak-teriak napa, lagian kalau emang lo denger kaya gitu belum tentu juga bener, yang bagus-bagusnya aja lah yang lo harus ambil, apalagi lo anak hukum," Tutur Jaka memperingati. Walaupun jurusan apapun tentunya, harusnya sebagaimana manusia kita harus menjaga adab dan etika dimanapun, terutama di tempat ia mengais ilmu.

"BANYAK BACOT LO... GAK ASIK," Kesal Zafira yang selalu tak terima jika dia di nasehati,

"Udahlah Jak, kemauan dia juga, kalau rusak yang rugi dia juga, tapi jangan bawa-bawa gue ya," Rafa menghempas lengan Zafira, meninggalkan gadis itu sendirian,

" HAI CANTIK," Sapa mahasiswa lain yang kebetulan lewat bersama teman-temannya,

"NAJIS,"Balas Zafira berlari dan kembali mengikuti Rafa yang memang satu ruangan dengan dia.

"Ngeri juga ya pergaulan anak-anak sini, gue kira semakin gede semakin waras," Jaka merinding sendiri membayangkan jika itu terjadi terhadap dirinya,

"Udahlah lo jangan pikirin hal itu, urus aja hidup kita masing-masing," Entah kenapa Rafa kesal mendengar penuturan Jaka yang sebetulnya ada benarnya, ia malah mengingat tentang perlakuan ia kepada Natan yang sama busuknya,

"TUMBEN LO, " Heran Jaka mengakhiri perbincangan mereka sebelum masuk ke ruangan tempat mereka mengais ilmu.

"WOILAHHHHH NATANNNNN, MASUKK KELAS CEPETANNN, KALIANNN JUGA!" Tasya berteriak di UKS melihat keberadaan trio kunyuk yang sedang mengusik orang-orang yang tengah sakit, suara ia cukup mengejutkan mereka yang berada di dalam, hingga mendapat terguran halus karena mengganggu anak-anak lain yang sedang sakit.

"Gak ah, lambung gue kambuh," Tolak Natan, lalu kembali memakan kacang tanahnya bersama teh hangat yang disajikan oleh anak UKS karena dipaksa tiga kunyuk itu untuk menyediakan nya.

"Kalau gue demam, hampir sekarat nih," Timpal Rafgan,

" Sama, mata gue juga picek setelah liat lo, udah ah pergi sana, kita lagi sakit," Usir Lais berkahir dengan Tasya memukul mereka menggunakan gagang sapu ijuk hingga mereka masuk kelas karena guru bentar lagi masuk,

"BAGUSAN MELIHARA AYAM TERNAKAN DARIPADA KALIAN PADA YE," Emosi Tasya pada pagi hari itu.

Kecewa

"Lama banget anjirrr ," Keluh Nata yang kini merasa bosan menunggu abangnya yang tak kunjung datang.

"Mana gerah banget gila," Lenguh nya kembali dengan nada malas layaknya orang tidak minum air sepuluh abad.

(Lemas plus Letoy)

Nata mulai celingukan mencari kakaknya dari dalam mobil. Tetapi dia tidak menemukan siapa -siapa terkecuali para cewe yang sedang berkerumun penuh teriakan histeris seakan memperebutkan sesuatu

yang membuat mereka tertarik.

"Ah mungkin mereka lagi rebutan diskon kali, mana mungkin dia memperebutkan bang Rafa," batinnya sekedar untuk menenangkan kegundahannya.

Nata yang malang pun memutuskan untuk menunggu kehadiran abangnya berberapa menit lagi, ia memilih pindah tempat duduk ke jok belakang untuk menghempas rasa penatnya. Dengan malas ia keluarkan ponselnya yang sudah penuh notifikasi dari berbagai aplikasi yang tengah populer. Bahkan di nomor pribadinya banyak yang mengirim pesan sekedar menyapa atau genit yang tentunya semua itu ulah perempuan,

"Ulah siapa ini? Dapat nomor gue darimana mereka," Nata terus scrolling ponselnya, melihat berbagai pesan yang membuat ia jengah sendiri.

Nata selalu begitu, untuk saat ini cewek tidak istimewa dimatanya. Berbeda dengan Rafa yang sangat suka digemari oleh para wanita, bahkan dia selalu bergonta -ganti pasangan yang membuatnya di cap sebagai Playboy tingkat Akut.

Nata tidak bermaksud untuk merendahkan martabat seorang perempuan, namun ia takut akan terjadi sesuatu hal yang bisa merugikan kedua pihak akibat perilaku mereka yang nantinya bisa keluar dari batas wajar.

15 menit sudah Nata menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda abangnya kembali dari tempat perbelanjaan megah itu. Akhirnya dia terpaksa mencarinya sendiri karena ponsel Rafa tidak bisa dihubungi sama sekali.

Nata keluar mobil dengan wajah flat nya yang dingin, ia memutuskan berlari menuju mall untuk mencari Rafa agar bisa pulang lebih cepat.

Tapi atensinya kembali tertuju pada kerumunan para cewe yang masih heboh membuat Nata merasa ganjal.

Nata tidak langsung mendekati kerumunan itu, ia mengawasi dari jarak lumayan jauh dan melihat sedikit celah yang menunjukan wajah abangnya dengan jelas, Nata melihat Rafa sedang asyik berselfie ria bersama para fans jametnya daripada menolak dan segera pergi untuk pulang.

"EMANG TOL*L PUNYA ABANG," umpatnya dengan kembali berlari memecah kerumunan tersebut,

"AWAS GUE MAU LEWAT," Galaknya dengan memasang wajah garangnya yang tengah menahan emosi menatap wajah abangnya.

Para gadis yang menyadari kehadiran Nata, segera berpaling dari Rafa yang sekarang terlihat kecewa karena fans girlnya berpaling semua kearah Nata, bocah kurang pergaulan tersebut.

"Aaaaaaa ganteng banget"

"Kyaaaaa si tak kalah tampan"

"Ouuuuuuuu bahkan lebih tampan"

"Selfie bareng dong sayang"

"GILEEE SAPEEE NIH BOCAHHH,"

"Aku rela deh ninggalin Rafa demi kamu,"Ucap seorang gadis genit yang tak malu memegang tangan Nata.

Nata yang merasa risih segera menarik abangnya dari kerumunan.

Dia terpaksa berlari karena para cewe tengah mengejarnya secara masal.

"Sialan, lu malah enak berfoto ria sama para cewek yang gak jelas, daripada pulang segera," Ucap Nata yang tengah berlari bersama Rafa untuk segera memasuki mobil mereka.

Setelah mereka memasuki mobil, ketukan dari cewek di luar memenuhi seluruh kaca mobilnya, membuat Nata meninggikan suara agar mereka segera menyingkir. Tapi sepertinya permintaan nya itu tidak digubris oleh mereka, hingga Nata memilih keluar mobil kembali dengan tatapan garang ala es batu dari kutub utara yang dipadukan iblis hitam seakan ingin menghabisi siapa saja yang ada di depannya.

"Hai para wanita terhormat tapi kurang adab, menyingkir dari hadapan mobil gua dan bang Rafa! Apa kalian semua mau gua tabrak masa hah?" Marah Nata meluapkan emosi.

Rafa sendiri hanya menonton santai dari dalam mobilnya yang memang masih dipenuhi oleh para cewe yang tadi mengejarnya. Ia melihat adiknya begitu marah, membuatnya sedikit panik.

"MAMPUS GUE DIA NGAMUK,"

"Gapapa sih kalo kamu yang nabrak, aku rela mati untukmu tahu,"Kata seorang gadis beperawakan agak tinggi ,berambut panjang dan gaya yang elegant membuat Nata berfikir aneh, bagaimana bisa penampilannya jauh berbeda dengan sikapnya yang bertindak seenaknya itu.

"Kalian terlalu murah tidak menjaga harga diri kalian di depan pria, seharusnya kalian tahu tata krama dan cara bertegur sapa dengan seseorang. Jangan asal main keroyok aja, udahlah pusing gua ngurusin kalian, " Nata memperingatkan wanita yang ramai itu, setelahnya ia memasuki mobil kembali dengan abangnya yang menjadi pengemudi.

Namun bukannya mereka menghindar, para wanita itu malah menundukkan kepalanya karena merasa kecewa, posisi mereka masih sama tidak pindah sama sekali setelah mendengar ucapan Nata yang menyayat hati itu.

Nata yang melihat itu emosinya semakin menjadi-jadi, ingin sekali melahap mentah satu persatu dari mereka yang sama sekali tidak menunjukan kedewasaannya, padahal umur mereka berada jauh diatas umur Nata yang usianya baru memasuki 18 tahun. Lagi dan Lagi Nata harus berkoar dengan suara beratnya yang nyaring dengan emosi yang jauh lebih kacau,

"Minggir kalian atau gua tabrak aja sampai kalian mampus, najis gua liat kalian yang sikapnya diluar batas peraturan!" titah Nata mengamuk dengan wajah merah nyala layaknya serigala.

Alhasil para wanita pun berhasil menyingkir dari mobil Rafa dan Nata .

Dengan segera Nata melajukan mobilnya meninggalkan tempat kejadian tersebut, agar terhindar dari kejadian ulang yang baru menyita waktunya berberapa menit tadi.

Mobil kemudian melesat dengan cepat, menjadikannya saksi bisu amarah Nata yang masih belum mereda. Sedangkan Rafa merasa canggung karena baru melihat adiknya yang kali ini marah besar akibat ulahnya tadi.

"Harusnya gua yang ngasih contoh buat adik gua bukan dia ke gue, sialan,"batin Rafa yang kesal terhadap dirinya sendiri.

Nata yang tetap fokus pada jalan didepannya, tidak melihat bahwa Rafa sedang merutuki dirinya sendiri.

Selang berberapa menit, mobil mereka telah sampai di rumah mewah yang megahnya nyampe tujuh turunan dan cukup untuk menampung warga lima (RT) itu, Nata segera memasukan mobilnya ke garasi secara perlahan, lalu memarkirkannya dengan tertib berdampingan dengan deretan mobil lain yang merupakan koleksi sang papa.

Wajah Nata masih merah nyala melihat abangnya yang bersikap egois dan gengsi itu. Padahal dirinya selalu melindungi abangnya dan berusaha menanamkan nama baik abangnya dengan sungguh-sungguh.Tapi nyatanya semua perjuangannya kini hanya sia-sia.

Nata masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya.

Dia menggebrak pintu kamarnya dengan sangat keras dan duduk termenung di kasur kesayangannya yang selalu mengantarkan roh nya ke alam mimpi yang indah itu.

Perlahan buliran-buliran cair yang amat bening mulai turun dari sela bibir matanya melalui pipi putih mulusnya. Ya Nata, menangis, bukan karena ia cengeng sebagai seorang lelaki, tetapi orang yang paling disayang setelah kedua orangnya begitu tidak memperhatikannya sedikitpun, dia mencintai abangnya sangat tulus. Bahkan kedua orang tuanya tidak boleh menyakiti Rafa dengan cara yang berlebihan agar abangnya tidak depresi. Dia sangat penyayang kepada semua orang terkecuali saat dirinya sudah merasa risih dan benci, dia tidak akan segan memarahinya bahkan orang tersebut akan menjadi santapan kekuatan Narutonya tak peduli itu perempuan maupun laki-laki.

"Gue tau gue gak sempurna, sekiranya mohon beri jalan agar abang Rafa berubah,"

Lirih Nata seraya mengingat beberapa kejadian yang cukup penuh mengisi pikirannya.

Flash back on

Pagi itu panas mentari sangatlah terik dan terang menyilaukan matanya. Keringat bercucuran tak kunjung henti membuat Nata kelelahan, dia memutuskan untuk pergi ke kantin sekedar untuk mengisi perut nya yang kosong dan tenggorokan yang telah kering.Tanpa mengajak temannya, dia berjalan sendiri sampai seseorang dari kerumunan sebayanya sedang membicarakan aib tentang abangnya.

Dengan hati-hati, ia mendengarkan isi perbincangan yang melibatkan abangnya itu.

"Eh kalian pada tau gak? abangnya si Nata yang mukanya kaya banci pasaran?" Tanya seorang anak laki-laki yang seragamnya tidak dimasukan ke celana, kancing baju atas terbuka lebar, dengan ambut acak-acak an membuat pemuda tersebut terlihat bukan orang baik-baik dan termasuk siswa begajulan, cukup kacau penampilannya.

"Banci dari mana wong cakep gitu, lo buta apa kelilipan?" balas teman pria itu menyanggah anggapannya.

"Cih...gantengan juga gua. Dia sok kecakepan, masa cewe satu caffe dia embat semua. Sungguh murahan kan?," sewot pemuda berantakan tadi, seakan tak terima jika Rafa cukup populer.

"LAH SERIUS? ANJ*NG DONG SI RAFA, MUKA DOANG HIGH CLASSS," Tawa teman siswa berantakan itu, setelah mendengar rumor yang belum tentu kebenarannya.

Nata yang mendengarnya sebisa mungkin untuk menahan emosinya agar tidak menimbulkan kegaduhan di kantin, untung tidak banyak perempuan waktu itu dan dia dengan leluasanya dapat mendengarkan semua kata-kata yang terucap dari bibir laknat itu, tanpa ada yang mengetahui keberadaannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!