Indonesia
NovelToon NovelToon

Azizah, Istri Rasa Simpanan

ANNIVERSARY

Azizah memandangi bekal makanan yang sudah ia hias sedemikian rupa dengan wajah puas. Senyum manis tak luput dari wajah ayunya.

Hari ini adalah hari jadi pernikahannya dengan suaminya, Axel William Djaja, yang ke-4. Meskipun pernikahan mereka dilaksanakan atas perintah sang kakek yang kini tengah menjalani perawatan intensif di RS karena penyakit komplikasinya.

Namun, Azizah sudah jatuh hati pada saat pertama kali dia melihat Axel saat menjadi perawat pribadi kakek dari Axel, yaitu Tuan Adhitama Djaja. Bagaimana tidak? Axel tampan, gagah, dingin, dan yang membuat Azizah semakin kesemsem adalah Axel bersedia menuruti keinginan kakeknya untuk dijodohkan dengannya.

Itu sebabnya, selama 4 tahun ini Azizah dengan setia dan sabar mendampingi Axel, meskipun suaminya banyak berubah dua tahun terakhir. Tetapi Azizah yakin jika Axel akan kembali seperti dulu. Apalagi jika Axel tahu saat ini dia sedang mengandung.

Wajah Azizah mendadak murung. Ia mengingat jika terakhir mereka 'berhubungan', Axel dalam keadaan sangat marah. Bahkan suaminya itu juga melakukan kekerasan padanya hingga tubuhnya banyak terdapat luka lebam. Tetapi Azizah memaklumi, Axel dalam keadaan marah dan mabuk.

Azizah tidak ingin membuang waktunya lebih lama. Ia menengok jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Perjalanannya ke perusahaan suaminya memakan waktu hingga 1 jam, bahkan bisa lebih jika macet.

Azizah keluar dari rumah yang disewa oleh suaminya dengan wajah berbinar-binar, hingga membuat Bu Yuni dan Bu Dewi yang notabenenya adalah pelanggan kue-kue buatannya menjadi penasaran.

"Mbak Zizah, masya Allah, kelihatannya bahagia banget. Ada apa nih?" sapa Bu Dewi ikut sumringah.

Azizah merona dan tersenyum malu. Wanita itu kemudian menjawab, "Saya mau ke kantor suami, Bu, ngasih kejutan. Hari ini anniversary pernikahan kami."

"Aduh aduuh senengnya, semoga langgeng ya, Mbak. Hati-hati di jalan ya," Bu Yuni berkata dengan tulus. Alhamdulillah, Azizah memiliki tetangga yang sangat baik dan ramah.

"Terima kasih Bu Yuni, Bu Dewi. Kalau begitu saya pamit, assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Azizah pun berlalu dari kedua wanita itu.

"Beruntung banget ya suaminya Mbak Azizah. Udah baik, salehah, mandiri, dan pintar berwirausaha."

"Iya, kue-kuenya enak. Saya juga ketagihan makanya sering pesan, hehe."

"Saya juga, hihihi. Makanya melar begini."

"Hehehe, yang penting sehat, Bu. Ya sudah, ayo pulang."

"Sayang...."

"Hmn," Axel yang tengah sibuk dengan pekerjaannya hanya bergumam mendengar rengekan manja dari Alexandra, kekasihnya.

"Hiih, sayang!" Alexandra dengan genit menjatuhkan bokongnya di pangkuan Axel, membuat pria yang tengah sibuk itu terkekeh.

"Jangan memancingku, Sayang. Kamu akan menyesal," ancam pria blasteran Jerman-Indonesia itu.

Bukannya takut, Alexa malah sengaja menggoyangkan pantatnya membuat Axel menggeram rendah.

"Stop it, Sayang. Kamu membangunkan 'adikku' yang sedang tertidur."

"Biarkan, salah sendiri kenapa kamu mengacuhkan aku."

"Come on, Baby. Pekerjaanku sangat banyak, you know that."

"Hmn... ya, ya."

"Baiklah, apa yang kamu inginkan saat ini, aku pasti akan menurutinya."

"Really?" Alexa bertanya dengan antusias membuat Axel gemas dan mencubit hidung wanita seksi itu. Pria itu pun mengangguk mantap.

"Mmmm... sebenarnya baru-baru ini temanku menawarkan tas Hermes edisi terbatas, tapi harganya sangat mahal."

"Berapa harganya?"

Alexa memasang wajah berpura-pura tidak enak hati dan malu-malu tapi mau.

"Katakan saja, Sayang. Berapapun itu aku akan memberikannya untukmu."

"Sebenarnya harga resminya 500 ribu dolar, tapi temanku mendapatkan harga khusus jadi hanya butuh 200 ribu dolar saja."

"Oke, aku akan buatkan cek untukmu."

"Are you sure? Itu sangat mahal, Axel."

"Don't mind it, I'll give everything for you."

"Oh, thank you, Sayang. Aku pasti akan kasih imbalan yang memuaskan buat kamu."

"Really? Tapi aku hanya butuh dipuaskan di atas ranjang, Sayang."

Kembali Alexa memasang wajah malu-malu tapi maunya.

"Tentu saja, I will wait for you tonight."

"Oh my Gosh, you're so naughty."

Axel mencium gemas bibir berlipstik merah itu. Setelah menerima cek dari kekasihnya itu, Alexa pergi dari kantor Axel untuk bersenang-senang. Axel pun kembali berkutat dengan pekerjaannya yang sangat menumpuk.

Ting!

Suara dentingan dari benda pipih berlogo Apple potek itu mencuri atensi Axel. Pria itu kemudian meraihnya dan melihat pesan yang masuk.

Azizah?

Sudut bibir itu tertarik ke atas membentuk ekspresi sinis dan jijik.

[Assalamualaikum Mas, kamu sibuk? Kamu belum makan siang kan?]

"Menjijikkan. Sok perhatian dan sok manis. Jangan kamu pikir aku nggak tahu niat busukmu! Perempuan miskin dan rendahan."

Pria itu melempar gawainya sembarangan dan kembali menekuni berkas-berkas yang perlu ia pelajari. Di saat yang bersamaan, pintu ruangannya diketuk.

"Ya, Lin, masuk," seru Axel saat mengetahui bahwa sekretarisnya, Linda, yang mengetuk pintu.

"Ada Pak Darren dan Pak Radit ingin bertemu Anda."

"Okey, minta mereka langsung ke ruangan saya."

"Baik, Pak."

Linda berlalu dari sana. Tak lama kemudian, kedua orang yang adalah sahabat baik Axel pun masuk.

"Holla, Brother! How are you?" ucap Darren yang disambut ramah oleh Axel. Pria itu meninggalkan mejanya dan memeluk kedua sahabatnya itu.

"I'm good. Duduk, Bro, duduk!"

"Lo tambah keren aja nih semenjak jadi CEO Djaja Group," puji Radit seraya menatap Axel dari atas ke bawah.

"Bisa aja lo. Anyway, kalian kapan balik dari Negara Zamrud?"

"Baru kemarin. Gue sama Darren dulu, si Vano kemungkinan besok baru pulang."

"Oh ya, bisa kumpul dong kita..."

"That's why gue sama Darren ke sini," ucap Radit mantap.

Mereka hampir sebulan tidak berkumpul karena kebetulan Radit dan Darren membuka usaha bersama di Sydney, dan mereka harus berada di salah satu kota terkenal di Australia itu sampai peresmian usaha mereka. Sementara Vano, yang memang adalah penerus usaha keluarganya, datang ke negara itu untuk kunjungan bisnis.

"Alright, atur aja kapan kita bisa hangout bareng. Gue usahain pasti bisa ikutan," ucap Axel yakin, membuat kedua sahabatnya manggut-manggut.

"Anyway, barusan gue lihat Alexa di lobi. Lo masih berhubungan sama dia?" Darren bertanya dengan penasaran. Karena meskipun Axel menikah karena perjodohan, hampir seluruh bagian dari keluarga Djaja Group termasuk para sahabat Axel mengetahuinya.

"Yes, why?"

"Why? Lo nggak takut kakek lo tahu?" Radit mengernyit heran. Dia memang kasihan pada Axel yang dijodohkan dengan seorang perawat lansia, dan dia termasuk yang mendukung sahabatnya untuk menolak perjodohan itu.

Namun di sisi lain, Radit dan yang lainnya tahu bahwa ancaman kakek Axel tidak main-main. Axel akan dicoret dari daftar satu-satunya pewaris tunggal, sementara seluruh kekayaan Djaja Group akan disumbangkan ke panti asuhan jika Axel menolak.

"Sekarang gue udah nggak peduli."

Azizah sudah sampai di lobi perusahaan suaminya itu. Dia kemudian menuju meja resepsionis. Seperti biasa, seluruh karyawan perusahaan ini tidak ada yang pernah menganggapnya ada dan penting, meskipun tahu ia adalah istri dari pimpinan perusahaan ini.

"Halo Mbak, Mas Axel ada di ruangan?"

Hening, tidak ada yang menjawab.

"Maaf, Mbak?"

"Pak Axel sedang ada rapat penting, Bu, jadi tidak bisa ditemui."

"Mmm begitu ya. Kapan rapatnya selesai, Mbak? Saya nggak lama kok, hanya mau mengantarkan ini."

Mendengar ucapan Azizah, dua resepsionis itu saling berbisik. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, "Silakan Bu, tapi kalau Pak Axel marah, kami tidak bertanggung jawab."

"Iya Mbak, insya Allah saya janji nggak akan bikin dia marah."

Azizah pun tersenyum ramah kepada mereka yang hanya dibalas dengan sinis.

"Palingan nanti ditendang sama Bapak."

"Iya, mimpinya ketinggian. Pembantu aja sok-sokan mau jadi Nyonya."

"Paling pakai dukun dia biar Pak Adhitama luluh sama dia."

"Kayaknya sih iya."

Azizah hampir sampai ke lantai 28 tempat ruangan suaminya berada. Dia menuju ke meja sekretaris dan seperti biasa mendapatkan perlakuan yang sama. Wanita lemah lembut itu hanya menghela napas. Dia datang ke sini hanya untuk bertemu dengan suaminya, bukan ada niatan lain, jadi dia berusaha untuk tidak memasukkan ke dalam hati semua perlakuan para karyawan kepadanya.

"Tapi lo pernah tidur sama dia, kan?"

"Of course, and she's still a virgin. Lumayanlah. Lo boleh coba kalau lo mau. Gratis," ucap Axel dengan nada mencemooh.

"Jadi selama ini lo benar-benar nggak cinta sama dia?"

"Ya nggaklah. Gue harus akting sedemikian rupa biarpun gue udah muak banget sama dia supaya Kakek percaya. Dan gue berhasil. Dua tahun pernikahan gue, Kakek mengasih semua kekayaannya ke gue."

"Gila! Lo emang ciamik."

"Harus."

"Tapi gimana kalau sampai perempuan itu hamil? Yaa bisa jadi kan lo kelepasan."

"No way! Nggak akan pernah. Gue nggak sudi punya keturunan dari wanita rendahan seperti dia. Kalau dia sampai hamil nanti, gue sendiri yang akan menyingkirkan bayi sialan itu! Lagipula perempuan itu pernah hamil dengan cara licik! Untungnya nyokap gue dan Alexa berhasil bikin wanita sialan itu keguguran!"

Kalimat kejam itu keluar dengan lancar dari bibir Axel, membawa pedang yang menusuk hati Azizah.

Klontang!

Suara benda jatuh itu mengejutkan Axel dan kawan-kawannya yang tengah serius berbincang.

"Siapa!" Axel berseru, kemudian segera berjalan menuju pintu.

Ceklek!

Pria itu melongok, tidak ada siapapun di sana. Axel mengernyitkan dahinya kemudian kembali masuk ke ruangan. Sementara itu, Azizah yang mendengar semua pembicaraan suaminya masih setia menutup rapat-rapat bibirnya. Kedua tangan wanita itu memeluk tubuhnya sendiri yang tengah bergetar.

Jadi selama ini, pernikahan yang dia agung-agungkan itu hanyalah kepalsuan?

SELAMAT TINGGAL LUKA

Azizah menarik napas dalam-dalam. Hatinya terluka parah, tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada siapapun.

Wanita berambut panjang itu berjalan dengan cepat keluar dari gedung itu. Ia mengabaikan segala tatapan sinis yang mengarah kepadanya.

Azizah memandangi rantang makanan yang ia bawa jauh-jauh untuk diberikan kepada suaminya, karena yang ia tahu, Axel sangat menyukai masakannya. Tapi, semua itu ternyata hanya pura-pura. Bahkan mereka semua yang telah membunuh janin dalam kandungannya tiga tahun lalu?

"Aku nggak nyangka ya Allah, suami yang aku anggap seperti malaikat ternyata hanya iblis berwujud manusia."

Azizah mengusap kasar air matanya. Ia kemudian memberikan bekal makanan itu kepada satpam di sana. Hanya satpam-satpam itu yang ramah kepadanya.

"Pak..."

"Iya, Bu..." Satpam berbadan tegap dengan wajah hormat menghampiri Azizah dengan segera.

"Ini buat Bapak. Tadi saya bawa ke dalam tapi ternyata suami... eh, maksud saya Tuan Axel sudah makan."

"Ini nggak apa-apa, Bu Azizah?"

"Nggak apa-apa, Pak... ambil saja, sekalian tempatnya buat Bapak."

"Waduh... terima kasih banyak, Bu."

"Sama-sama, Pak. Saya pamit, assalamualaikum."

Azizah beranjak dari sana, namun baru beberapa langkah ia kembali menoleh ke belakang.

'Aku nggak akan pernah menginjakkan kakiku di sini lagi.'

Wanita itu mengusap pelan perutnya yang masih rata. Kasihan sekali calon anaknya.

"Jangan khawatir, Nak. Ibu akan jaga kamu dan jadi orang tua terbaik untukmu."

Azizah memantapkan langkahnya, pergi dari sana menuju rumah sakit tempat kakek Axel dirawat. Ia harus pergi, tapi tak ingin meninggalkan penyesalan di hati Tuan Adhitama. Azizah akan meyakinkan pria itu bahwa kepergiannya adalah keputusan terbaik.

Sesampainya di rumah sakit, ternyata ibu mertuanya juga ada di sana bersama dengan adik iparnya. Kedua orang itu bahkan dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Azizah.

Azizah tidak ingin membuat keributan, jadi dia memilih bersembunyi dan akan menemui Kakek Adhitama seusai mertua dan iparnya pergi dari sana. Sekian lama menunggu, akhirnya kedua orang itu pergi dari ruangan kakek. Setelah dirasa aman, Azizah segera melangkah menghambur ke ruang perawatan VVIP itu.

"Lho, Mbak Zizah?"

"Iya, Sus... Kakek masih bisa dijenguk nggak?"

"Bisa... tapi jangan lama-lama ya, soalnya Tuan Adhitama perlu istirahat."

"Iya, Sus, terima kasih."

Azizah membuka pelan pintu ruangan itu.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam... Zizah? Kamu datang, Nak?"

"Iya, Kek..."

Azizah menghampiri ranjang pasien itu kemudian duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang.

Tak lama kemudian, mereka berdua sudah terlibat dalam perbincangan yang seru hingga diselingi canda tawa yang meriah. Melihat Kakek Adhitama seperti itu, Azizah merasa tidak tega jika harus menceritakan semuanya.

"Zizah... ada apa, hmn?"

"Nggak apa-apa, Kek. Zizah mungkin akan jarang menjenguk Kakek."

Adhitama tampak terkejut. Ia kemudian bertanya, "Lho, memangnya kenapa?"

"Zizah nggak bisa melakukan perjalanan jauh karena Zizah beberapa hari ini banyak pesanan terus, Kek. Alhamdulillah."

"Alhamdulillah, tapi jangan terlalu ngoyo. Kalau butuh apa-apa, kakek siap bantu."

"Iya, Kek, makasih. Tapi selama Zizah bisa berusaha sendiri, izinkan Zizah mandiri, Kek."

"Masya Allah. Nggak nyesel kakek nikahkan Axel dengan kamu. Dia benar-benar beruntung punya istri seperti kamu."

'Sayangnya cucu kakek menganggap aku hanyalah sampah.' Tentu saja Azizah hanya tersenyum dan mengangguk.

Melihat wajah lelah Adhitama, Azizah pun pamit pulang agar kakeknya itu bisa beristirahat. Ia juga harus segera pulang untuk mengemasi seluruh barang-barangnya.

Sesampainya di kontrakan, Azizah mengemasi seluruh pakaiannya yang ia bawa saat menikah dengan Axel. Hanya itu. Ia sama sekali tidak membawa benda berharga lainnya. Handphone, perhiasan mas kawin, berikut cincin pernikahan Azizah masukkan ke dalam kotak. Ia berencana menitipkannya pada Bu Willy, pemilik rumah ini sekaligus istri Ketua RT di sini. Azizah yakin Bu Willy yang sangat mengenal Axel akan bisa memberikan kotak ini pada pria itu.

Bersyukur karena satu tahun terakhir kue buatannya laris manis menerima pesanan, jadi Azizah masih memiliki tabungan untuk pergi meninggalkan kota ini dan memulai hidup baru bersama dengan bayinya.

Azizah tersenyum miris seraya memasukkan pakaiannya ke dalam tas jinjing usang yang ia bawa saat pindah ke rumah ini. Wanita itu baru menyadari betapa cinta buta telah benar-benar membodohi dirinya. Seharusnya dia sudah tahu jika pernikahannya tidak normal, apalagi bahagia.

Axel hanya mengunjunginya saat sedang mabuk. Pria itu bahkan tidak lebih dari 1x24 jam di rumah yang ia sewa ini. Setiap bulan pria itu memberi nafkah hanya 1,5 juta dengan alasan dia tidak memiliki anak dan tidak memerlukan banyak kebutuhan. Padahal suaminya itu bukankah seorang pengusaha kaya?

Tapi Azizah sama sekali tidak keberatan. Baginya, uang seberapa pun itu yang suaminya nafkahkan padanya, ia mensyukurinya—meskipun pada akhirnya dia harus mencari penghasilan sampingan karena tentu saja jumlah segitu belum cukup.

Ironis memang, dia baru menyadari bahwa selama ini dia hanyalah seorang istri yang diperlakukan tidak lebih baik dari pembantu. Mirip simpanan, lebih tepatnya. Pernikahan seperti ini tidak akan bahagia sampai kapan pun.

Maka, pergi adalah keputusan terbaik.

Wanita itu kembali mengingat betapa dia sangat bodoh dan naif. Dia berpikir bahwa Axel menempatkannya di rumah kontrakan ini agar mereka mandiri dengan memisahkan diri dari keluarga. Ternyata yang sebenarnya adalah dia dibuang dan diasingkan.

Saat pertama kali datang ke tempat ini, Azizah begitu bersemangat: membersihkan rumah, memasak kesukaan suaminya yang ia tahu dari pembantu di rumah Kakek Adhitama dulu, menunggunya dengan sabar saat pulang kerja. Tapi Axel tidak pernah pulang. Pria itu hanya datang sesekali untuk melampiaskan entah itu nafsunya atau apa. Lebih banyak dalam keadaan mabuk.

Tapi, Azizah bukan tipe wanita yang suka mengadu, meskipun ia yakin jika melaporkan semua kelakuan suaminya pada Kakek Adhitama, Axel pasti akan dihukum.

Tapi lagi-lagi, cinta yang tulus namun dianggap kotoran oleh Axel tetap memilih untuk diam dengan keyakinan bahwa suaminya akan berubah suatu saat nanti. Dan semuanya sia-sia. Sama sekali tidak berguna.

Azizah menatap lekat foto pernikahannya yang berukuran besar yang tertempel di dinding kamar. Betapa bahagianya dia dulu, menganggap bahwa pernikahan ini akan bahagia hingga akhir hayatnya. Di foto itu hanya dia yang tersenyum, sementara Axel, wajahnya sangat muram dan dingin. Sangat jelas jika pria itu tidak bahagia.

Azizah merasakan matanya memanas lagi, tapi tidak ia biarkan air mata itu kembali menetes. Sudah cukup perjuangan bodohnya mempertahankan pernikahan konyol ini. Azizah menyerah dan menghapus semua cintanya untuk pria itu.

Ia memantapkan hati, kemudian meraih setiap potret pernikahannya yang banyak di dinding, melepaskannya dari bingkai, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah boks besar yang sudah ia siapkan. Azizah lalu membawa semua foto-foto itu berikut albumnya ke halaman belakang dan... membakarnya.

Foto-foto itu mulai hangus menjadi abu. Seperti itu pula cintanya—hangus tak berbekas.

PAMIT

"Lho... jadi Mbak Azizah mau pindah toh? Kok Mas Axel ndak bilang yo?"

Bu Willy terlihat sangat terkejut saat Azizah datang lengkap dengan ranselnya untuk berpamitan.

"Iya Bu, maaf mendadak. Mas Axel mau buka cabang di luar pulau dan mungkin memakan waktu yang cukup panjang. Jadi saya harus ikut pindah."

"Oalah, ngono toh... Ya sudah tidak apa-apa Mbak, mudah-mudahan lancar di perjalanan yo."

"Iya Bu Willy, terima kasih selama ini sudah sangat baik sama saya," ujar Azizah dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak berbohong jika saat ini dia sangat sedih. Bu Willy dan ibu-ibu lain di komplek ini sangat solid dan baik. Mereka sangat perhatian satu sama lain. Apalagi Bu Willy, beliau sangat sering mengirimi Azizah makanan karena tahu bahwa wanita itu tinggal sendiri. Suaminya jarang pulang, bahkan bisa dua bulan sekali baru datang.

"Oh, ya Bu, saya bisa titip ini? Katanya nanti Mas Axel akan ke sini pamit juga sama Ibu. Saya orangnya pelupa dan teledor. Bisa minta tolong kasihkan ini sama Mas Axel?"

Azizah menyodorkan sebuah kotak kayu yang cantik dan terkunci rapat. Terdapat gembok kecil di sana lengkap dengan kuncinya.

"Apa ini Mbak?"

"Itu isinya mas kawin saya, Bu. Saya takut kelupaan karena setelah ini saya mau mampir ke rumah sakit dulu."

"Lho... Kenapa dititipkan segala Mbak? Saya takut hilang."

"Malah kalau di saya lebih rawan hilang, Bu. Ibu ingat, kan, kalau saya pernah kehilangan uang satu juta karena lupa menaruh dompet begitu saja di warung?"

"Hissh, Mbak Azizah ini... mbok ya ditaruh di tas gitu."

"Tasnya sudah penuh, Bu. Tolong ya... Paling nanti sore Mas Axel ke sini. Soalnya masih ada barang-barang di rumah."

"Ya sudah Mbak... Insya Allah saya akan jaga amanahnya ini."

"Terima kasih ya Bu, maaf merepotkan."

"Tidak apa-apa Mbak... Hati-hati yo Mbak... Sering kabar-kabar kalau sudah sampai."

"Siap Bu... kalau begitu saya pamit."

Azizah kemudian memeluk Bu Willy. Di saat yang bersamaan, Grabcar yang ia pesan juga datang. Setelah berpamitan dengan Bu Willy dan suami, serta beberapa tetangga yang kebetulan lewat, Azizah memasuki mobil itu dan melaju menuju ke rumah sakit untuk berpamit dengan Kakek Adhitama.

Axel keluar dari ruangannya saat jam makan siang bersama kedua sahabatnya, Darren dan Radit.

Sangat kebetulan hari ini Axel tidak memiliki meeting yang urgent atau penting, jadi bisa ditunda esok hari. Saat melihat Axel datang, Linda yang tengah sibuk tiba-tiba menghadap Axel.

"Pak, saya minta maaf karena membiarkan Ibu Azizah masuk. Beliau memaksa saya, jadi..."

Belum selesai berbicara, Axel dengan cepat menyela, "Tunggu-tunggu, Azizah datang ke sini?"

"Iya, Pak."

Axel mengerutkan keningnya. Azizah datang ke kantornya? Tapi Axel sama sekali tidak melihat wanita itu.

"Lalu di mana dia sekarang?"

Pertanyaan Axel jelas membuat Linda bingung. Niatnya melapor hanya untuk membela diri siapa tahu tiba-tiba Axel memecatnya karena membiarkan istri tak diharapkan itu masuk. Linda dengan bingung menjawab, "Sudah pergi Pak, kira-kira 30 menit yang lalu."

"Apa? Tapi dia tidak menemui saya."

"Benarkah? Tapi tadi...."

"Ya sudah, tidak penting. Lain kali jangan biarkan dia masuk, oke?"

"Baik, Pak."

Axel pun berlalu dari hadapan Linda yang mengangguk hormat padanya. Pria itu sesaat berpikir, Azizah datang ke kantornya tapi tidak menemuinya?

'Ah, palingan mau minta duit,' batin Axel. Dia ingat bahwa bulan ini dia belum mentransfer uang bulanan Azizah.

"Perempuan itu, benar-benar mata duitan. Dia pasti berpikir bisa hidup mewah setelah menikah denganku. Mimpi!" gumam Axel yang tengah memasuki kendaraannya. Tentu saja kalimat itu didengar oleh Radit dan Darren.

"Emang lo kasih bulanan berapa buat dia?"

"Iya, gue juga penasaran. Berapa sih uang bulanan istri seorang Axel William Djaja? Haha, sudah mirip wartawan belum gue?" tanya Radit pada sahabatnya Darren, membuat Darren ikut terkikik.

"Satu setengah. Kenapa emang?"

"Miliar?" Kali ini Darren yang menatap tak percaya ke arah Axel.

"Juta lah! Banyak amat 1,5 M. Sepuluh juta saja gue ogah ngasihnya. Masih untung gue kasih."

"Gila lo, parah banget. Minimal walaupun nggak bisa kasih cinta lo, kasihlah nafkah yang layak. 1,5 mah sama pembantu gue aja gajinya lebih gede pembantu gue."

"Iya, kebangetan lo."

"Lagian lo sendiri yang cerita, bahkan lo bisa beli barang buat Alexa dengan harga miliaran. Benar-benar raja tega lo."

"Sudah deh, itu semua bukan urusan lo berdua. Dia bahkan nggak layak buat jadi pembantu di rumah gue."

Mendengar ucapan Axel, Radit dan Darren hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka memang kasihan karena Axel harus menikah karena perjodohan, tapi sebagai laki-laki sejati tidak sepantasnya dia bahkan memberikan nafkah lahir sejumlah itu. Come on, bahkan perusahaannya termasuk lima besar perusahaan properti tersukses di negara ini.

"Hati-hati Bro, nanti lo kualat."

"Kualat kenapa?" ucap Axel sedikit emosi.

"Jadi suami zalim."

"Ck... diam lo. Kayak lo benar aja."

"Setidaknya gue nggak pernah menyakiti perempuan sampai segitunya," ucap Darren mengakhiri perdebatan mereka.

Axel hanya diam. Sebenarnya kata-kata Darren sedikit mencubit relung hatinya. Yah, sebenarnya dia memang sedikit keterlaluan. Tapi itu semua karena kebenciannya pada Azizah. Kalau saja wanita itu menolak menikah dengannya, dia pasti sudah bersama Alexa sekarang sebagai suami istri.

Lama berpikir, Axel kemudian meraih ponselnya dan menghubungi sekretarisnya, Linda.

"Halo Lin, tolong transfer uang tiga juta ke rekening Azizah. Thanks."

'Alah, cuma nambah sejuta setengah doang. Dasar pelit,' batin Radit dan Darren mencibir.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam diam. Keheningan itu tidak terpecahkan sampai ketiga pria itu sampai di parkiran gedung perkantoran milik Axel.

Merasa tidak nyaman untuk berbincang lagi, akhirnya Darren dan Radit memutuskan untuk kembali ke kantor mereka masing-masing. Sungguh suasana menjadi sangat dingin dan suram. Baru beberapa langkah mereka menuju ke luar gedung, mereka berdua bertemu dengan Alexa. Wajahnya sangat sumringah dengan banyak paper bag di tangannya.

"Hai, kalian berdua ketemu Axel?"

"Ya menurut lo ketemu siapa? Satpam?" ucap Darren sebal. Entah kenapa setelah mendengar cerita Axel tentang Alexa, yang menurutnya tidak sebaik yang Axel pikirkan, membuatnya muak untuk berbasa-basi. Baginya, wanita terhormat tidak seharusnya tetap mengejar laki-laki yang sudah beristri, apalagi sampai memeras hartanya.

"Nggak menyangka ya, seorang putri dari pejabat bisa-bisanya jadi simpanan pria beristri. Benar-benar prestasi yang membanggakan. Orang tua kamu pasti bangga."

Kali ini kalimat sarkasme itu keluar dari bibir Radit. Dia kemudian menepuk pundak Darren agar segera berlalu. Terlalu lama bersama dengan pelakor tidak baik untuk kesehatan mental. Mereka bukan pria baik-baik, tapi mereka tidak pernah menyakiti wanita. Bahkan dalam melakukan one-night stand, mereka tidak pernah sembarangan memilih wanita, dan tetap menghormati mereka karena dasarnya hubungan satu malam itu adalah suka sama suka; simbiosis mutualisme.

Mereka berdua tidak menyangka jika Axel bahkan sangat merendahkan istrinya sendiri, membuat mereka sedikit terkejut dan kecewa.

Alexa memandang kedua pria yang baru saja berlalu dari hadapannya dengan wajah memerah. Berani-beraninya mereka menghinanya seperti itu. 'Awas saja. Dia akan memberikan pelajaran untuk kedua pria itu. Lihat saja nanti,' batin Alexa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!