Indonesia
NovelToon NovelToon

Jembatan Dosa

Neraka dan Kebebasan

...Mereka yang menolak kebebasan kepada orang lain...

...maka kebebasan itu tak layak pula untuk dirinya...

Beberapa ambulance dan pemadam kebakaran sudah ada didepan kantor polisi, gadis bernama Bella ini yang menelfon mereka.

Ia duduk di bangku panjang masih tetap terpaku dengan pandangan kosong, telapak tangan seseorang mulai menepuk bahunya membuat lamunannya terhenti, pandangannya kini teralih pada sosok pemuda didepannya dengan pakaian polisi yang begitu rapi, dia adalah Han seorang inspektur muda di Tokyo.

"Bella, maaf tapi aku harus menyampaikan ini. Stevan Drew tewas dalam tragedi ini." Han menunduk tak berani menyaksikan apa yang akan terjadi pada Bella setelah mengetahui Stevan tewas dalam tragedi ini.

"Bagaiman dengan tuan Brad?"

"Dia juga tewas." Han tak sampai hati mengatakan hal itu, tetapi bagaimanapun​ Bella harus tau hal itu.

"Siapa yang melakukan hal ini Han?"

"Kau tau organisasi yang sedang diburu oleh tentara Amerika? Organisasi itu melarikan diri kemari, ada seorang detektif jenius menyusup ke markas mereka! Tapi, belum lama ini kabar tentangnya sudah tidak ada. Tapi, dia mengirim sebuah berkas dan beberapa uang yang dicuri oleh organisasi itu, beberapa hari yang lalu."

"Itu artinya ini adalah peringatan bagi kita?"

"Mungkin, dan detektif itu mungkin sudah tewas saat ini."

"Sertakan aku dalam misimu Han, aku tidak bisa tinggal diam kali ini!"

"Itu tidak mungkin! Serahkan saja pada kami!"

"Apakah aku akan diam saja? Ketika melihat anggota keluarga dihukum atas kesalahan yang sama sekali tidak mereka lakukan? Aku tidak akan diam!" Bella murka kali ini, ia pun beranjak dari tempat itu entah akan kemana ia sekarang, hatinya yang begitu kacau dan hancur yang menuntunnya untuk terus berjalan.

Langkahnya menapak diatas pasir putih, entah ada apa dengan hatinya hingga menuntunnya menuju pantai.

Sepoi angin berhembus begitu kencang malam ini, dingin, hal itu adalah sesuatu yang dirasakan Bella saat ini. Tetapi kakinya tetap berjalan, tak beberapa lama kesadarannya pun hilang ia pun jatuh pingsan.

Mentari pagi kini mulai bersinar terang, seorang pemuda kini mulai membuka matanya dia adalah Brian. Safir biru itu, kini mulai terlihat ketika ia mulai membuka kelopak matanya.

Ia bangun dan merentangkan kedua tangannya, dan beranjak dari ranjangnya. Ia membuka tirai yang menutupi jendela, membiarkan cahaya mentari masuk menyinari isi rumahnya. Matanya yang terkesan tajam mulai menikmati indahnya pantai pagi ini, ia melihat ombak pantai yang begitu tenang dan beraturan, hingga matanya tak sengaja melihat seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri dipinggir pantai, dengan segera ia pun mulai membuka pintu dan keluar menghampiri gadis itu dibopongnya gadis itu dan dibawanya masuk kedalam rumahnya.

Gadis yang tak lain adalah Bella ini ia baringkan diatas ranjang tangannya mulai menarik selimut untuk menutupi tubuh Bella. Brian berdiri melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.

Beberapa menit kemudian Brian terlihat begitu rapi dan segar, rambut pirangnya terlihat sedikit basah itu membuat dirinya terlihat tampan, ia menhampiri Bella yang terlelap diatas ranjangnya matanya mulai memperhatikan Bella. Helaian rambut sedikit menutupi wajahnya, tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menyembunyikan wajah cantiknya. Brian terlarut dalam keindahan wajah ciptaan sang pencipta yang begitu cantik, tak lama Brian menggelengkan kepalanya.

'Kau ini kenapa?' Fikir Brian, ia pun berdiri keluar dari kamarnya menuju dapur, tangannya mulai aktif membuat racikan minuman. Sementara Brian yang sedang sibuk membuat minuman, Bella yang sedang terlelap ini mulai membuka matanya, pandangannya beredar ke segala arah tangannya mulai menyentuh kepalanya yang sedikit sakit, tak lama suara langkah kaki membuat pandangannya teralih. Brian datang masuk kedalam kamar menghampiri Bella dengan membawa dua cangkir minuman.

"Kau sudah bangun?" Brian menatap Bella yang sedang duduk bersandar di ranjangnya, tatapan bingung Bella berikan pada Brian.

"Siapa kau?" Brian tidak menjawab pertanyaan kecil itu, tangannya menyodorkan segelas minuman hangat pada Bella, gadis yang sama sekali tak ia kenal.

Bella mengambil minuman yang diberikan Brian, sementara Brian ia duduk di kursi yang letaknya tak cukup jauh dari ranjangnya, kursi itu menghadap tepat ke arah jendela.

"Terima Kasih." Ucapan kecil dari Bella membuat Brian sedikit terkejut, namun dirinya hanya merespon ucapan itu dengan deheman kecil, Bella mulai menyeruput coklat hangatnya.

"Apa kau tinggal sendiri disini?"

"Ya" Jawaban singkat dari Brian tanpa menatap Bella.

"Dimana keluargamu?"

"Keluarga? Apa itu keluarga?" Kali ini Brian mengalihkan pandangannya ke-arah Bella.

"Orang yang ada bersamamu dan mereka menyayangimu."

"Aku tidak memiliki itu dan tidak ingin memilikinya! Tidak ada kasih sayang sejati didunia ini! Semua yang ada didunia ini adalah ilusi bagiku."

Tatapan heran Bella berikan pada Brian, banyak pertanyaan dihatinya tentang pemuda yang ada didepannya ini. Bella mulai meletakkan cangkir yang berisikan coklat hangat itu diatas meja disampingnya.

"Kasih sayang sejati itu ada didunia ini, tetapi hanya sedikit diantara banyak orang didunia ini yang mendapatkannya! Karena tidak semua orang didunia ini hatinya bersih! Semua yang kau dapatkan itu tergantung pada perbuatanmu dimasa lalu. orang yang mendapatkan kasih sayang sejati adalah mereka yang beruntung, jangan sia-siakan itu!" Brian terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata Bella.

"Apa kau termasuk orang yang beruntung itu?"

"Iya, tapi itu sudah tidak lagi. mereka yang menyayangiku sudah berada bersama Tuhan." Brian tersenyum kecil mendengar jawaban Bella.

"Dunia itu ilusi!"

"Semua orang memiliki waktu yang berbeda untuk tetap berada didunia, dunia ini adalah fasilitas Tuhan yang diciptakan untuk kita... Tuhan, memberi mereka waktu dan memperhatikan mereka, tergantung bagaimana cara mereka hidup, tapi tetap saja saat waktu yang telah diberikan habis, maka mau tidak mau kita harus pergi."

"Nona, bagaiman jika kau bersihkan dirimu."

"Baiklah." Bella pun beranjak masuk kedalam kamar mandi.

"Aku sudah lama menutup mataku untuk melihat dunia, yang kulihat hanyalah tujuanku! Satu tujuan, yang begitu ingin ku wujudkan! Aku bergerak atas dasar ambisi dan prinsip ku! Sebanyak apapun tangan ini bergerak untuk membunuh tetap saja tidak terasa, karena aku hidup dalam ilusi yang ku buat dan yang ku inginkan. Dan aku berjalan diantara kegelapan! Berusaha untuk mencari Cahaya, tapi aku sadar tidak akan ada secercah cahaya yang berani masuk kedalam Badai! Karenanya aku membuat cahaya ilusi yang hanya dapat ku lihat didalam badai, cahaya itu adalah tujuanku!" Ujar Brian, ia mulai menyeruput coklat hangatnya menikmatinya hingga tegukan terakhir.

Suara kecipak-cipak air tak lagi terdengar dari dalam kamar mandi, pintu kamar mandi perlahan mulai terbuka terlihat Bella kini sudah bersih dan segar. Wajahnya yang putih itu terlihat sangat cantik, Brian matanya terfokus tetap pada jendela didepannya, pandanganya tak sekalipun teralih pada Bella yang masih ada diambang pintu.

"Kau akan pergi setelah ini?" Brian mencoba bertanya pada Bella dengan pandangan​yang masih terfokus pada jendela.

"Boleh ku katakan sesuatu padamu?" Deheman kecil kembali Bella dapatkan dari Brian.

"Cobalah tatap lawan bicaramu ketika kau mengajaknya bicara."

Cukup! Bagi Brian, sepertinya Bella sudah membuatnya kesal sekarang, pandangannya beralih tepat pada Bella, tangannya mengepal keras. Diletakkannya cangkir yang sudah kosong itu dilantai, ia berdiri menghampiri Bella dan menatapnya dingin.

"Ingatlah, aku tidak butuh saran apapun darimu! Dan kau harus tau aku bukanlah orang baik! Pergilah sebelum sesuatu yang buruk terjadi padamu."

"Kau butuh saran untuk memperbaiki hidupmu, kau orang yang baik! Jika kau orang yang kejam, kau tidak akan membawaku kemari ketika aku pingsan!"

"Kenapa penilaianmu sempit sekali?!" Brian mulai menjauh dari Bella.

"Terima Kasih karena sudah menolongku. terima kasih atas sajian yang kau berikan."

Perlahan Bella mulai melangkah keluar dari rumah Brian. Ia menutup pelan pintu rumah itu ketika ia sudah berada diluar, ia mulai menuruni anak tangga dan pergi. Kakinya kini benar-benar menjauhi rumah tua itu. Suara deru ombak mengiringi langkahnya pergi, Brian sedang termenung didalam rumahnya tak lama ia mendapat sebuah panggilan dari ponselnya, ia pun menjawab panggilan itu.

"Hallo."

"Brian, semua yang dikatakan anak buahmu sungguh membuatku sangat bahagia, kami akan merayakannya apa kau ingin bergabung?"

"Tidak, biarkan aku lepas tugas selama beberapa waktu."

"Oh tunggu dulu, lepas tugas? Itu tidak mungkin, masih ada tugas lagi untukmu."

"Apa itu?"

"Kau sudah meledakkan kantor polisi Tokyo, dan membunuh dua orang detektif juga dua orang anggota Tentara... mereka ternyata orang penting yang di utus kemari untuk mencari kita... kau tau kita kan? Kita bukan hanya memotong bagian kepala, tapi juga bagian ekor dan yang lainnya."

"Jadi kau ingin membunuh semua keturunannya?"

"Iya benar sekali."

"Kau keji sekali pak tua!"

"Apa kau menyerah?"

"Tidak aku tidak pernah menyerah."

"Ya benar, kau hidup dalam ilusi yang kau tentukan sendiri, pastinya untuk melakukan itu tidak akan sulit."

Brian menutup telfonnya, kali ini ia bertekad akan menyelesaikan misinya dengan baik meskipun hatinya begitu berat, untuk menjalankan misi yang diberikan, sejenak ia menarik nafas dan membuangnya kasar.

"Shawn, sudah kehilangan akal! Membunuh semua keturunannya, itu berarti aku harus pergi ke Amerika? Tidak, aku harus mengirim orang untuk menyelesaikan misi keji ini!" Fikir Brian.

Brian mulai menghubungi beberapa orang yang ia percaya, untuk mengemban tugas yang diberikan Shawn untuknya.

Dilain tempat Bella berada didalam taxi ia baru saja diberi kabar oleh inspektur Han, tentang acara pemakaman Daddy dan Adiknya.

Sebelum meninggal Daddy nya pernah berpesan, jika dirinya tewas saat ditugaskan di Negara orang, maka dia ingin dimakamkan di Negara itu, begitupun juga adiknya. Taxi yang ia tumpangi kini telah sampai di sebuah pemakaman, terlihat banyak orang disana, Bella pun keluar dari mobil.

Meskipun langkah kakinya sangat berat melangkah ke arah dua peti berisikan mayat itu, namun Bella tetap memantapkan hatinya dan berjalan mendekati kerumunan orang itu.

"Kami menunggumu, sekarang kita harus memulai upacara ini.. Mr. Brad dan Tuan Stevan adalah prajurit yang baik, mereka berdua bukan hanya tentara yang kuat dan gagah tetapi juga detektif yang sangat cerdas. Sulit menemukan orang seperti mereka." Ujar inspektur Han ketika Bella berada disampingnya.

"Silahkan dimulai!" Ucap Bella.

Han memberi aba-aba pada prajuritnya untuk memberi penghormatan terakhir, pada dua peti yang berisikan manusia yang sudah tak bernyawa. Upacara pemakaman itu berjalan lancar tanpa ada kendala hingga akhir. Ketika semua orang sudah meninggalkan pemakaman, hanya ada Han dan Bella yang masih setia disana.

"Apa kau masih bertekad untuk mencari buronan itu, dan membereskannya sendiri?" Tanya Han.

"Aku hanya membantumu mencari tau tentang buronan itu, dan aku hanya akan menghukum dia yang paling berdosa dalam tragedi ini!"

"Jadi targetmu hanya pada bosnya?"

"Tidak, semuanya pasti akan ditangkap! Tapi bosnya yang akan mendapat hukuman paling berat."

"Kau anak seorang Tentara juga detektif paling besar dari Amerika, analisismu pasti sangat tajam, seperti ayahmu dan adikmu." Bella tersenyum kecil mendengar ucapan Han.

"Letak ketajaman analis, bukan pada dari keturunan siapa dia dan apa latar belakang keluarganya. Namun terletak pada bagaimana cara ia berfikir dan menyimpulkan sebuah permasalahan dengan tenang."

"Wah bahkan sekarang caramu berbicara sudah seperti Mr. Brad.. apa dia yang mengajarimu?"

"Ya, semua yang diajarkan Daddy adalah pelajaran yang baik dan berguna."

"Apa kau akan kembali setelah ini?"

"Kembali, kemana?" Tanya Bella heran pada Han.

"San Fransisco, Amerika Serikat."

"Tidak, aku akan kembali hanya jika buronan internasional itu sudah dibereskan!" Mendengar hal itu, Han mencoba pasrah kali ini, memberikan Bella kesempatan.

"Baiklah, aku mengijinkanmu ikut serta dalam misi ini."

"Terima kasih, aku pergi dulu Han." Bella mulai berlalu dari hadapan Han.

..."Cahaya selalu datang ketika Badai pergi, mereka tak bisa dipersatukan... Sudah takdir mereka hidup saling menyimpang. Ketika dua insan dengan pribadi yang menyimpang memang dipersatukan, cinta keduanya menjadi hal yang menarik untuk di simak."...

Iblis Baik Hati

Seringkali pertemuan singkat antara dua orang berbeda, membawa kesan tersendiri bagi setiap orang. Sudah ada satu bulan sejak kejadian yang menimpa kantor polisi Tokyo, membuat Bella sangat sibuk membantu FBI Jepang, untuk mencari tau dalang dari peristiwa satu bulan lalu.

Meskipun fikirannya terfokus pada beberapa dokumen yang ada diatas mejanya, entah kenapa bayangan pemuda yang ia temui di rumah tua pinggir pantai selalu muncul.

"Ya Tuhan, Bella! Ada apa denganmu? Fokuslah pada berkas yang ada didepan matamu, lagi pula dia hanya orang asing." Bella mengacak-acak rambutnya frustasi, meja belajar miliknya dipenuhi banyak dokumen.

"Apa aku harus mengunjunginya? Tapi untuk apa, dia sudah mengusirku! Lebih baik hari ini aku ke supermarket saja, sambil berjalan kecil menjernihkan fikiranku yang mulai lelah." Ujar Bella, ia mengambil jaketnya didalam lemari lalu pergi.

Pemuda dengan topi bandana berjaket abu-abu sedang jogging pagi ini, banyak pasang mata memperhatikannya, bagaimana tidak? Pemuda Amerika yang tak lain adalah Brian ini sangatlah tampan.

Brian memang sangat menyukai olahraga, dia terus berlari tanpa mempedulikan pasang mata yang memperhatikannya, sejenak Brian berhenti didepan supermarket, bersamaan dengan itu Bella juga berhenti didepan supermarket posisi mereka saling berhadapan. Keduanya membuang nafas kasar, keduanya baru saja sama-sama berlari ditempat yang berbeda, dengan tujuan yang sama.

Mata mereka terkunci, pandangan mereka bertemu, tatapan tajam milik Brian dan tatapan teduh milik Bella beradu.

Dua kepribadian berbeda bagaikan Badai dan Cahaya yang selalu menyimpang. Brian mengalihkan pandangannya ke arah lain, Ia berjalan masuk ke dalam supermarket begitupun dengan Bella.

Mereka mulai mencari apa yang mereka butuhkan, netra mereka tertuju pada objek yang sama, sebuah minuman isotonik. Mereka pun berjalan ke arah minuman isotonik, yang terpampang di atas meja itu dan mengambilnya. Tangan mereka saling bersentuhan saat ini.

"Berhenti mengikutiku dan jangan cari masalah!" Kesal Bella, tangannya memang lebih dulu memegang botol itu. Tetapi ia sedikit risih dengan tangan Brian yang ikut menggenggam botol itu seolah tangan Bella yang ia genggam.

"Kau tidak terlalu menarik untuk diikuti!" Ujar Brian

"Lepaskan minumanku Tuan!" Bella menatap Brian yang ada disampingnya.

"Tidakkah kau melihat, tangan siapa yang memegang botol ini pertama?" Brian mengalihkan pandangannya ke arah Bella, mata mereka saling bertemu.

"Apa kau tidak melihatnya? Itu tanganku! Aku tidak tau darimana asalmu. Yang jelas, kau adalah pemuda menyebalkan! Berhenti berdebat dan jadilah lelaki, serahkan botol ini!"

Bella mencoba bersifat tegas pada Brian saat ini. Cukup bagi Brian, dia benar-benar muak saat ini, didekatinya Bella ditatapnya dengan pandangan tajam. Bella Sedikit takut dengan tatapan Brian, Bella perlahan mulai mundur ketika Brian mendekatinya.

Hingga tubuhnya terpojok di dinding. Minuman isotonik itu masih dalam genggaman Bella, Brian mulai mendekat ke arah Bella mempersempit pandangan mereka, Brian masih menatapnya tajam.

Brian menarik dagu tirus Bella, di arahkannya Bella padanya didekatkannya wajah tampannya ke arah Bella, satu ciuman lembut​ tercipta. Bella menutup matanya, sentuhan hangat di keningnya membuat matanya tak kuasa menyaksikannya.

Tangannya yang tadi menggenggam sebotol minuman mulai meregang, dari situlah Brian mulai mengambil kesempatan, tangannya mulai mengambil botol itu. Lepasnya botol minuman itu dari genggaman Bella mengakhiri ciuman yang Brian berikan padanya. Tatapan yang tadi menatap serius Bella, kini berubah menjadi hangat di iringi dengan seringai kecil.

"Gadis baik!" Brian segera berlalu dari hadapan Bella yang masih syok dengan kejadian beberapa detik lalu, Ia benar-benar tidak menyangka Brian akan melakukan hal itu padanya. Perlahan Bella meraba mulai keningnya, sambil mengingat kejadian beberapa detik lalu, entah kenapa Bella sama sekali tak menunjukkan perlawanan sedikitpun pada Brian.

"Ya Tuhan, pemuda itu sudah gila!" Jerit Bella dalam hati, ia pun segera beranjak dari posisinya mencari bahan-bahan yang ia butuhkan. Selang beberapa menit mencari akhirnya semua bahan yang ia perlukan pun telah diterkumpul. Bella berjalan keluar dari supermarket itu, terlihat Brian yang masih ada disamping supermarket duduk dibangku panjang. Tanpa mempedulikan Brian yang duduk, dengan acuh Bella pun melewatinya.

"Begitukah caramu memperlakukan orang yang sudah menolongmu?" Brian mulai membuka pembicaraannya, Bella yang berada tak jauh darinya mulai menghentikan langkahnya netranya berakih pada Pemuda itu sekarang.

"Begitukah, apa kau mengharapkan pamrih?"

"Tidak!"

"Kau membuang waktuku!" Ujar Bella dingin.

Dengan cepat tanpa​ mempedulikan Brian, Bella mempercepat langkahnya setengah berlari. Ia memilih masuk kedalam gang kecil yang dihimpit dua gedung, karena dirinya tau gang kecil yang ia lewati akan mempersingkat waktu untuk sampai di apartment-nya. Tak sengaja, Bella menabrak beberapa pemuda yang berpenampilan seperti brandal.

"Maafkan aku!" Lirih Bella menyesal.

"Hey gadis cantik, apa kau sengaja menabrakku agar aku berpaling menatapmu?" Para berandal itu mulai menggoda Bella, tangan nakal mereka mulai mencoba menyentuh Bella yang terus saja memberontak.

"Hentikan! Aku bukan gadis murahan!!"

"Hey ayolah tidak perlu marah, kita akan bersenang-senang."

Para berandal itu masih saja menggoda Bella hingga Bella terpojok, sebuah seruan menghentikan para berandal itu. Mereka mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara.

"Sekali lagi kalian menyentuhnya, akan ku beri kalian pelajaran!" Brian datang menghampiri kerumunan berandal itu, Bella terkejut melihat kehadirannya, Brian memang sedaritadi mengikuti Bella tanpa sepengetahuan Bella.

"Wah ada pahlawan ternyata disini, kau akan melawan kami? Kau sendiri, kami berempat!" Para berandal itu mencoba meremehkan Brian, namun Brian tetap tenang.

Pandangannya sama sekali tak teralih pada Bella yang sedang berada dalam kukungan para berandal, Brian menarik kecil pergelangan tangan Bella ke arahnya Brian mencoba melindunginya.

"Tidakkah kau berfikir bahwa dia adalah seorang wanita? Lalu kenapa kalian berani menggodanya?"

"Justru karena dia wanita kami menggodanya, sudahlah lebih baik kau bergabung bersama kami dan kita nikmati bersama!"

"Buruk sekali saranmu! Diamlah sebentar disini, akan kuberi pelajaran mereka!" Brian mengatakan hal kecil itu dengan santai pada Bella yang ada dibelakangnya sedangkan para berandal tersenyum sinis ke arah Brian. Aksi saling pukul antara kedua belah pihak mulai terjadi, Bella berdoa dalam hatinya berharap bahwa Brian akan baik-baik saja setelah ini.

Diantara gang yang cukup sempit yang dihimpit dua gedung mereka berkelahi dengan sangat brutal, Brian terlihat begitu unggul kali ini padahal lawannya lebih banyak sedangkan Brian hanya seorang diri, Brian menghajar mereka tanpa ampun hingga babak belur. Bella memperhatikan cara Brian bertarung, dari situ Bella mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa Brian bukanlah seorang pemuda biasa.

"Maafkan kami, kami menyerah!" Para berandal itu tersungkur dan memohon pada Brian.

"Maafmu tidak berlaku untukku, tunjukkan dan berikan permintaan maaf hanya pada dia yang sudah kau sakiti! Pemuda yang sering menyakiti wanita, adalah dia yang tidak memiliki harga diri!" Tegas Brian, Bella terkesiap mendengar penuturan itu hal itu membuatnya​mengukir sebuah senyuman. Bella sama sekali tak menyangka penuturan yang begitu bijak itu mampu keluar dari lisan seorang Brian.

Menaklukan Iblis Kota

Gerombolan berandal itu mulai mematuhi perintah yang diberikan Brian. Mereka yang tersungkur itu merangkak mendekati Bella, sambil mengatupkan kedua tangannya dan memohon maaf atas kesalahannya, hanya dengan cara itu Brian melepaskan para berandal itu.

"Terima Kasih." Mendengar ucapan kecil dari belakang tubuhnya, Brian tersenyum singkat.

"Melihat caramu bertarung, sepertinya kau bukan orang biasa, kau seperti sudah terlatih!" Selidik Bella.

"Kenapa, apakah itu penting? Sebaiknya aku pergi, masih ada banyak urusan ditempat lain." Brian mulai melangkah pergi.

"Aku Bella, terima kasih untuk bantuannya yang kesekian kalinya."

Ucapan terima kasih yang Bella berikan, membuat langkah kaki Brian berhenti dan berbalik menatap Bella. Brian memperhatikan gadis itu dengan seksama, tak lama sebuah senyuman sinis ia suguhkan.

"Bukankah sudah kukatakan, bahwa kau tidak terlalu menarik untuk diikuti! Apa dengan kau memperkenalkan namamu padaku kau fikir aku akan tertarik?" Ketus Brian.

"Tidak ada fikiran seperti itu dalam otakku, aku hanya ingin bersosialisasi denganmu." Bella tersenyum kecil.

"Ilusi adalah tidak nyata, untuk setiap hal yang ku jumpai dalam hidupku, ku anggap sebagai ilusi! Setiap detik, menit waktu yang ku lalui selama ini, tidak akan pernah sedikitpun tersimpan dalam memori otakku... cukup aku hidup sendiri menutup mataku dan melihat diantara kegelapan." Brian mencoba menjelaskan pada Bella mengenai prinsip kehidupannya, Bella menemukan satu hal dalam penjelasan itu.

"Selama ini kau hidup sendiri bukan? Tanpa teman, saudara, dan keluarga... benar?" Tanya Bella.

"Apa untungnya jika aku mengatakan dan menceritakan padamu tentang kisah hidupku?"

"Setiap orang yang kau jumpai dalam hidupmu, tdak semua adalah seorang penjahat! Sebuah saran yang paling baik adalah saran yang disampaikan oleh hati nurani, karena pada saat itulah Tuhan sedang menuntunmu berjalan ke arah yang benar." Bella mencoba menjelaskan pada Brian dan mencoba merubah cara berfikir Brian yang salah menurutnya.

"Kau bisa terus berceramah pada mereka yang ingin mendengarnya, Tapi maaf aku harus pergi!!"

Tanpa ada argumen lagi, Brian berbalik dan mulai melangkah pergi menjauhi Bella.

"Aku menantangmu!" Tegas Bella.

Langkah kaki yang tadi berjalan menjauhi Bella perlahan mulai terhenti, mendengar satu kata tegas dari Bella membuat Brian berbalik menatapnya, Brian mencoba memberikan waktu pada Bella untuk meneruskan kata-katanya.

"Aku percaya satu hal, kau adalah orang yang baik dan kau masih memiliki hati! Kau bilang kau lebih suka hidup sendiri dan melihat diantara kegelapan! Baik, jika aku bisa mengeluarkanmu dari kegelapan dan membantumu keluar dari ilusi dan karma dunia... membawamu berjalan lagi pada dunia dan melihat indahnya... maka kau akan memenuhi keinginanku!"

Brian terkejut mendengar itu, seorang gadis mencoba menantangnya baru kali ini. Brian tertawa jahat mendengar tantangan yang diberikan Bella padanya.

"Seorang wanita? Berani menantangku?" Brian meremehkan Bella.

"Ada apa? Apa kau takut?" Tanya Bella.

"Baiklah, silahkan lakukan apapun yang kau mau!"

"Persilahkan aku tinggal bersamamu, maka akan kupastikan dalam waktu 1 bulan kau akan berubah."

"Syaratnya hanya 1 bulan, lebih dari itu kau harus angkat kaki dari rumahku!" Tegas Brian yang langsung pergi dari hadapan Bella.

...________0________...

Mentari pagi mulai menampakkan diri dengan gagah diatas langit, sinarnya menyinari setiap sudut bumi. Hari ini di rumah Brian, Bella sedang memasak sesuatu didapur, tangannya mulai aktif mencampur beberapa rempah-rempah dan disulapnya menjadi sebuah makanan yang lezat, berbeda dengan Brian yang masih terlelap diatas sofa panjang yang ada di ruang tengah.

Bella memasak beberapa makanan khas Jepang yang cukup lezat, setelah meletakkan beberapa piring di atas meja makan Bella mulai melepas celemeknya dan meletakkannya pada tempatnya tak lama kakinya mulai menuju ke ruang tengah, menghampiri Brian yang masih terlelap.

"Hey, Bangunlah." Lirih Bella ketika tepat berada dihadapan Brian, seraya menggerakkan tubuh Brian.

Bella terus saja mencoba membangunkan Brian, namun tetep saja yang dibangunkan sama sekali tak membuka matanya. Entah kenapa, tangan Bella yang sedang berusaha membangunkan Brian ditarik cepat oleh Brian yang masih terlelap, itu membuat Bella jatuh tepat diatas tubuh Brian. Terkejut bahkan Bella begitu syok, posisi ini Brian sangat diuntungkan.

Karena tangannya dengan leluasa mampu memeluk Bella, refleks Bella pun memukul kecil Brian dengan tangannya tak hanya itu ia pun juga berteriak. Mendengar suara teriakkan Bella yang kencang begitupun dengan tangan yang memukul tubuhnya, Brian terganggu ia mulai membuka matanya dan melepas pelukan itu.

"Apa-apaan kau ini?" Murka Bella, Brian menatap bingung Bella yang sudah berdiri dihadapannya.

"Aku? Bukankah mengganggu tuan rumah yang sedang tidur itu tidak sopan?" Ujar Brian tak terima, Bella bungkam mendengar itu.

"Baiklah, maafkan aku." Jawab Bella dengan nada menyesal, Brian beranjak dari duduknya ia mulai berdiri dan berlalu dari hadapan Bella tanpa mempedulikan ucapan maaf Bella.

"Hey, Jangkung!" Brian berhenti mendengar itu, ia membuang nafasnya kasar dan berbalik.

"Jangan buat keributan ini masih pagi!"

"Dengarkan aku, makanan sudah siap dimeja makan, cepatlah kau makan." Nada bicara Bella sedikit melembut.

Brian merasakan sesuatu dalam hatinya ketika ucapan gadis didepannya ini melembut, ia merasa baru pertama kali ini ada orang yang benar-benar peduli padanya, menyiapkan makanan pagi untuknya, dan memperhatikannya. Brian melangkah maju mendekati Bella tepat ketika jarak mereka dekat tatapan Brian menyendu.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan, sampai kau berbuat seperti ini padaku?" Bella tersenyum singkat mendengar itu.

"Badai, aku ingin badai menemukan cahaya sejatinya menuju kebenaran nyata! Selalu ada pelangi sesudah hujan, maka pasti setelah badai, terangnya cahaya akan datang! Tetapi menghentikan sang badai tidaklah mudah, maka cahaya harus memberanikan diri perlahan masuk kedalam badai."

"Kau tidak akan bisa!" Raut wajah Brian mendadak berubah dingin begitupun nada bicaranya.

"Jika kau terus menjadi orang lain dalam hidupmu, maka kepuasanlah yang kau dapatkan! Tetapi, kebahagiaan tidak apalagi kedamaian. Jika jalanmu terus menapak menyimpang menjauhi kebenaran, maka kau akan hancur! Maka hentikan badai dalam hatimu untuk mendapatkan kebahagiaan nyata!"

Bella mulai meninggalkan Brian yang masih mencerna kata-kata Bella, baru lima langkah Bella menjauhi Brian sebuah tangan menarik cepat tangannya, refleks Bella berbalik dan menabrak tubuh Brian. Satu pelukan untuk pertama kalinya Brian berikan padanya, hatinya menghangat ketika dirinya merengkuh Bella.

"Lakukan apapun yang kau mau!" Brian mulai melepas pelukan itu, lalu pergi meninggalkan Bella.

Sekilas Bella menangkap sesuatu yang jatuh dari kelopak mata Brian, ia tidak yakin. Ada banyak pertanyaan dalam fikirannya saat ini.

"Apakah itu air mata? Tapi kenapa manusia es itu harus meneteskan air mata ketika seorang gadis berada dalam rengkuhannya." Batin Bella.

Dari situ Bella mulai menyimpulkan sesuatu, keyakinannya semakin besar bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hidup Brian di masa lalu, yang merubahnya menjadi seperti ini. Tapi Bella sudah berjanji akan membantunya keluar dari Badai yang begitu gelap dan membantunya menemukan secercah cahaya.

..."Dia datang tiba-tiba dalam kehidupan. Dia sosok nyata yang datang dari tempat lain. Sosok yang tidak pernah kau jumpai, tapi takdir hidup menuntunnya menemuimu! penolakan tidak akan merubah segalanya, jika memang keping hatimu ada padanya.. maka penolakan kecil darimu perlahan akan disulap menjadi cinta."...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!