Indonesia
NovelToon NovelToon

Indahnya Waktu

Sinyo Daniel

"Siapa tadi yang membersihkan kamarku?!!!!" Bentak Daniel pada seisi dapur para pembantu.

"In-indah den...!" Serentak mereka menunjuk salah seorang dari mereka yang berkerudung.

Daniel menatap orang yang menjadi sebab kemarahannya dengan penuh emosi. Kamar tidur miliknya adalah tempat paling privasi yang tidak boleh ada orang masuk kecuali atas izinnya. Bukan karena benda-benda berharga yang ada di dalamnya tapi karena ia tak suka jika barang-barang miliknya berpindah tempat tanpa sepengetahuannya.

"Ada apa sih nyo, pagi-pagi begini sudah ribut? Matahari juga baru keluar?"

Wanita paruh baya dengan pakaian daster khas miliknya mendatangi si bungsu yang kini kerap marah-marah kalau ada hal yang tidak cocok dengannya.

"Kamar I (baca ai) diberantakin ma....! Mama tahu kan I paling nggak suka ada yang masuk ke kamar I?"

"Siapa tadi yang bersihkan kamarnya Sinyo?" Tanya nyonya rumah itu.

"Indah bu..." Jawab para pekerja dengan serentak.

Gadis cantik berkerudung merah jambu yang ketakutan akan kena amukan itu memberanikan diri maju dengan kedua tangan yang bertaut. Kepalanya menunduk tak berani melihat tatapan majikan muda yang biasanya suka bermanja-manja pada sang mama.

"Berani-beraninya you masuk ke kamar I dan memindahkan barang-barang I ?!!" Daniel berkacak pinggang. Memarahi Indah di depan semua orang.

"Daniel... mama yang nyuruh Indah membersihkan kamar kamu. Mbok Jah sedang sakit dan mama yang memberi waktu libur selama satu Minggu. Kalau kamu nggak suka kamar kamu dibersihin sama Indah mulai besok bersihkan saja sendiri. Kok bisa kamu tinggal di kamar yang persis kayak kapal pecah begitu..."

Nyonya Rosi memang meminta salah satu pembantu untuk membersihkan kamar Daniel tanpa menyebut nama. Dan para pekerja yang kini sering mendapatkan amukan dari Sinyo sepakat menyuruh Indah yang harus mengerjakannya. Karena Indah adalah pegawai paling baru dan paling muda yang bisa disuruh-suruh. Apalagi dia baik dan penurut membuat para pembantu kawakan sering memerintahnya ini dan itu.

"Branggggg!!!!"

Semua orang menoleh pada galon kosong yang dijatuhkan oleh sang majikan utama. Pria keturunan cina yang berjalan tenang menuju ke meja makan.

"Ada apa pagi-pagi sudah ribut begini?"

Semua orang terdiam mendengar tuan rumah bicara dengan nada marah. Seluruh penghuni rumah terpaku di tempat masing-masing.

" Kamu ikut sama Sinyo sana!" Perintah sang nyonya pada gadis yang bernama Indah.

Indah menganggukkan kepala pada sang Nyonya kemudian mengikuti tuan mudanya ke kamar sedangkan nyonya besar berkulit agak gelap itu buru-buru mendatangi sang suami yang sudah siap untuk menyantap sarapan.

"Apa pekerjaan you di sini?" Tanya Daniel sambil berjalan ke kamarnya.

"Nyuci dan setrika tuan!" Jawab Indah dengan menundukkan kepala seperti orang yang sedang mencari barang yang hilang.

Hampir saja Indah menabrak tubuh si tuan mudanya kalau saja dia tidak punya rem cakram yang kuat untuk menghentikan langkah kakinya.

"Berdiri di sini!!" Kata Daniel sambil membuka pintu kamarnya. Tak mengizinkan pegawai rumahnya untuk menginjakkan kaki di kamar pribadi nya.

Gadis itu pun menganggukkan kepala tanpa melihat wajah si tuan muda.

"Jawab!!, kenapa diam saja ?"

"B-baik tuan!!" Jawab Indah dengan terbata-bata. Ia ketakutan karena seumur-umur baru kali ini ia dibentak sedemikian.

Meski dia hidup serba kekurangan namun ia tak pernah kekurangan kasih sayang. Mendiang suami dan ayahnya adalah orang yang sangat sabar. Begitupun ibu dan adiknya.

Indah adalah seorang janda dengan satu anak yang kini berusia tiga tahun. Ia sudah menjanda ketika umurnya baru menginjak dua puluh satu. Meski umur nya masih tergolong muda tapi ia sudah menjadi tulang punggung keluarga semenjak sang ayah dan suaminya meninggal.

Hidup serba kekurangan dan kesulitan memang sudah menjadi teman akrabnya. Ia tak menyesali apalagi iri pada kehidupan orang lain yang berkecukupan. Dari mendiang suami nya yang seorang ustadz ia belajar mengenai kehidupan. Setiap orang hidup akan diuji dengan berbagai hal. Entah itu si miskin atau si kaya. Jangan dikira kalau orang kaya itu hidupnya selalu bahagia dan si miskin selalu menderita.

Banyak hal yang bisa membuat orang bahagia tanpa harus kaya terlebih dahulu.

Orang-orang kaya juga banyak yang menangis karena berbagai masalah yang mendera mereka. Lihat saja kehidupan para majikan tempatnya bekerja selama tiga bulan terakhir ini. Semuanya punya masalah sendiri-sendiri.

"Dimana sepatu kets ku yang biasa di situ?" Tanya Daniel sambil menunjuk belakang pintu.

"Di dalam lemari kaca tuan" Jawab Indah santun menggunakan kelima jarinya untuk menunjuk dimana ia tadi menyimpan sepatu sang majikan.

Sarapan pagi

Pagi itu setelah jogging di sekitar rumah Daniel menaruh sepatu ketsnya seperti biasa, di belakang pintu kamar. Namun setelah dilihat-lihat lagi ternyata memang lebih rapi kalau di taruh di lemari kaca tempat semua sepatunya bersemayam.

Daniel kemudian menjinjing sepatunya dan menaruhnya di lemari kaca seperti yang dilakukan oleh Indah kemarin. Padahal sebelumnya dia marah-marah tapi sekarang dia membenarkan pekerjaan si tukang cuci setrika.

Pria berkulit putih dan bermata sipit itu kemudian pergi mandi karena kulitnya berkeringat setelah olahraga pagi. Ia memang kerap bangun pagi meskipun tidak ikut menunaikan shalat subuh bersama keluarganya karena agama mereka berbeda.

Sejak kecil ia memang ikut mama tirinya namun sang mama tak mengajarinya tentang agama Islam karena mami kandungnya masih beragama Katolik.

Kini Daniel sudah memakai pakaian kerja lengkap dan terlihat rapi. Setelan jas yang ia kenakan sangat cocok dengan tubuh dan wajah tampannya. Tinggal mencari dasi yang warnanya senada dengan pakaiannya. Ia memejamkan mata saat mendapati dasinya tidak berada di tempat biasa. Ia paling benci kalau asisten rumah tangga ikut campur menata barang-barang miliknya tanpa perintah darinya.

Nafasnya naik turun karena kesal yang datang tiba-tiba. Satu nama yang berkelebat dalam pikirannya. Siapa lagi yang berani memindahkan barang-barang nya tanpa meminta izin dulu darinya kalau bukan Indah. Gadis yang kemarin kena semprot mulut jahatnya.

Selama ini mbok Jah tidak pernah berbuat salah. Menata barang-barang pribadinya sesuai dengan perintah.

Dari lantai atas Sinyo berteriak ke arah dapur para pembantu.

"Panggilkan Indah!!! Suruh naik ke atas!!"

Suara Daniel menggema ke seluruh penjuru. Untungnya tuan dan nyonya sedang tidak ada di rumah. Kalau tidak bisa dipastikan dia akan kena marah.

Para pembantu pun berlarian mencari sosok yang membuat majikan muda mereka marah. Si tersangka ternyata berada di tempat biasa sedang memilah pakaian yang akan dicucinya.

Dengan takut-takut gadis yang bernama Indah itu mengetuk pintu kamar sang majikan. Meski pintunya terbuka namun ia tahu diri. Kemarin dia hanya boleh berdiri di depan pintu seperti sekarang. Barulah setelah tidak bisa menemukan sepatu yang dicari, Indah diperbolehkan masuk untuk menunjukkan keberadaan barang yang dicari oleh sang majikan.

"Tok tok tok...!!".

"kenapa masih berdiri di situ?? Masuk!!!"

Indah menghela nafas sambil mengusap dada. Ya..h beginilah jadi pembantu harus siap dicaci dan dimaki sesuai mood majikan. Kemarin nggak boleh masuk, sekarang cuma berdiri di depan pintu masih saja dibentak lagi. Pokoknya dimata majikan pembantu itu selalu salah dan di mata para pekerja, majikan itu selalu benar tidak pernah salah.

"Dimana dasi I yang warna biru yang ada garis kuningnya ?"

"Miring?"

" What do you say? Miring ? You pikir I tidak waras?"

"Apa garis kuningnya motifnya miring tuan?" Jelas Indah sambil melihat tuannya. Hanya sebentar kemudian ia menunduk kembali.

"Tanya yang jelas!"

Sinyo menatap Indah dengan emosi. Merasa di sepelekan. Padahal kemarin jelas-jelas ia melihat kalau sosok Indah ini adalah gadis penakut tapi hari ini dia sudah berani membantahnya.

"Buruan...! I mau meeting...!" Daniel berkacak pinggang dengan pongahnya.

Pria muda itu membelalakkan mata saat melihat Indah membuka lemari pakaiannya.

"Berani-beraninya you membuka lemari I" Sepagi itu dia sudah menghabiskan tenaganya untuk marah-marah. Dia lupa kalau tugas Indah adalah mencuci dan menyetrika. Menata pakaian kembali ke lemari juga menjadi bagian dari pekerjaannya.

"Saya sudah sering membuka lemari ini tuan. Itu adalah tugas saya untuk menata pakaian kembali ke tempatnya semula. Hanya saja karena sekarang saya disuruh membersihkan dan menata ruangan ini jadi ....."

"What is this?" Daniel berjalan mendekat ke arah Indah yang sedang menghadap lemari. Kini ia berdiri tepat di belakang Indah yang berdiri mematung karena Jarak mereka sangat dekat membuat bulu kuduk si cantik bergidik. Meski sudah pernah menikah namun ia sangat menjaga diri dari lelaki yang bukan mahromnya. Perlahan ia pun berjalan menyamping agar ada jarak di antara mereka.

Mata Daniel menangkap gerakan Indah yang sepertinya menghindar , lebih tepatnya menjauh darinya. Tapi kemudian matanya segera beralih pada dasi yang digantung rapi pada gantungan yang terletak di balik pintu lemari.

"Dari mana you mendapatkan ini?" Tanya nya sambil telunjuknya meneliti dasi-dasi yang tergantung rapi. Jujur hatinya lebih suka dengan tatanan Indah daripada kebiasaannya yang menggulung dasi-dasi miliknya dengan rapi kemudian menatanya dalam laci.

"Dari laci bawah sana tuan!" Indah menunjuk laci yang dimaksud dengan telapak tangan tanpa berani menatap wajah sang majikan.

"Memang you istri I? sampai berani menata barang-barang yang ada disini?"

"Baiklah akan saya kembalikan ke tempat semula..."

Daniel tak mengiyakan tapi juga tak menolak. Ia menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar membuat gadis itu lega karena ia bisa bernafas dengan semestinya.

Di luar kamar Indah mengusap dadanya sambil menghembuskan nafas lewat mulutnya.

"Kenapa?" Tanya Sofiyah tiba-tiba.

"Ya Alloh non...!! Bikin kaget aja !!" Lagi-lagi Indah mengusap dadanya karena sepagi ini berkali-kali dikejutkan dengan hal-hal tak biasa. Selama tiga bulan dia bekerja di kediaman Tuan Adi dan Nyonya Rosi baru kali ini ia kena semprot secara langsung oleh tuan muda yang disebutnya Tuan Sinyo.

Sofiyah melongokkan kepala ke dalam kamar adik iparnya tapi tak melihat siapa-siapa karena si empunya kamar sedang berada di ruangan wardrobe nya.

"Permisi non...!" Indah menundukkan kepala meminta izin untuk turun ke bawah

******

Keesokan harinya Sinyo yang sudah rapi dan sudah memakai dasi, membuka laci tempat biasanya dia menaruh penjepit dasi tapi tidak menemukan barang yang ia cari.

Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berjalan keluar kamar. Dari atas lantai dua dia melihat ke arah dapur para pembantu yang sedang sibuk menyiapkan keperluan para majikan. Ia tidak melihat Indah di sana.

"Indahhh!!! Naik ke atas!!!" Daniel berteriak dengan nada emosi meski hari masih pagi.

"Iya den saya panggilkan sebentar....!" Kata Bi Juliati sambil tergopoh-gopoh mendatangi Indah di tempat kerjanya, tempat cuci dan setrika yang berada di bagian belakang kediaman utama.

"Ndah....!! Dicari den Sinyo. Kamu apakan sih kamarnya den Sinyo ? Tiap pagi sampai teriak-teriak begitu? Nggak usah dirubah-rubah kenapa Ndah? Jangan bikin masalah deh Ndahhh.... !!! Kita semua yang kena sasaran... Pagi-pagi bukannya sarapan malah kena ocehan " Kata Bi Juliati dengan muka masam.

"Maafin Indah bi...." Indah menaruh pakaian yang tadi dipilah-pilah di keranjang terpisah kemudian segera bergegas menuju ke lantai atas.

Baru saja Indah mau mengetuk pintu tapi ternyata tuan mudanya itu sudah menunggunya. Sinyo bersandar di dinding dengan kedua tangan bersedekap.

CCTV

Indah langsung menundukkan pandangan saat matanya bersirobok dengan mata sipit si majikan muda.

"Dimana penjepit dasi I yang silver?"

"Di laci tuan...." Jawab Indah tanpa mengangkat kepala. Sementara Daniel justru memperhatikan gadis di depannya dengan seksama.

Kulitnya coklat bersih. Hidungnya cukup mancung untuk ukuran orang Indonesia. Bibirnya sensual dan ada titik di dagunya. Wajahnya terlihat manis dan tingginya juga tak jauh beda dengannya. Daniel penasaran apakah gadis yang beberapa hari ini ia marahi ini tak memiliki emosi.

Apa dia tidak tertarik pada wajahku yang tampan ini, narsisnya pada diri sendiri.

Ia menyuruh Indah masuk ke ruang wardrobe dengan menggerakkan kepala. Dari ujung mata Indah paham dengan perintah yang tersirat. Sebagai bawahan ia membungkukkan badan dengan tangan kanan yang dijulurkan ke bawah sebagai rasa hormat saat berjalan di depan majikan.

"Permisi tuan!"

Dengan cekatan Indah kemudian membuka laci paling atas nomer tiga dari arah kanan. Daniel sampai membelalakkan mata sipitnya karena tadi ia sudah membuka hampir semua laci bagian atas tapi tak melihat penjepit dasi silver nya. Ia yang kurang teliti atau ia sudah mulai tergantung pada si tukang laundry?

Setelah Indah menyerahkan penjepit dasi yang dicari, Daniel pun segera memakainya.

"Waahhhh..... Kok bisa rapi gini .....?!!!!"

Suara cempreng Sofiyah yang datang tiba-tiba mengagetkan kedua insan yang sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"You kenapa masuk ke kamar I tanpa permisi?" Si tampan berkulit putih ini menyipitkan matanya yang sudah sipit hingga kini hanya tinggal segaris. Daniel yang sedang berkaca merasa terganggu dengan kedatangan Sofiyah.

"I juga mau ruangan wardrobe I ditata kayak gini..." Tanpa mengindahkan adik iparnya Sofiyah berjalan ke arah asisten rumah tangga nya kemudian memegang lengan Indah.

"She is not designer. Dia bagian laundry..." Jelas Daniel.

"You mau kan bantuin I?" Tanya Sofiyah dengan mengedip-ngedipkan mata sipitnya membuat Indah tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Tuan muda yang suka marah-marah itu sampai terkesima melihatnya. Dari balik kaca ia melihat Indah tersenyum. Ia seperti melihat pahatan terindah di dunia. Sungguh indah dipandang mata. Bagaimana bibirnya yang sensual tertarik ke sisi kanan dan kiri kemudian dagunya terbelah membentuk sebuah garis.

"Ayyyy.....!!!!!" Kali ini suara ngebass kakak lekaki Daniel yang menggema di seluruh rumah.

"Aduh!! Iya koh..... just a minute.... I am coming honey... !" Sofiyah segera berlari meninggalkan kedua insan yang sesaat saling berpandangan lewat kaca.

Indah segera membuang pandangan kemudian permisi undur diri.

Daniel memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ini pertama kalinya ia melihat Indah tersenyum.

"Apa I salah lihat? She did not make up at all tapi kenapa manis sekali..?" (dia tidak memakai make up sama sekali)

Hari itu Daniel bekerja dengan bayangan senyum Indah yang terus berkelebat dalam kepala. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya sudah berapa lama Indah bekerja di rumahnya? kenapa selama ini ia tidak pernah melihatnya. Dia juga ingin tahu apakah dia masih single atau sudah punya pacar. Jangan-jangan dia malah sudah bersuami. Ia mengacak-acak rambutnya karena ingin segera pulang ke rumah dan melihat senyuman indahnya.

Sementara itu Indah sedang bekerja ekstra di kamar Sinyo Daniel untuk mengembalikan barang-barang milik tuan mudanya ke tempat semula. Menatanya seperti sedia kala. Ia tak ingin teman-teman kerjanya yang kebanyakan lebih tua darinya kena omelan setiap pagi.

Sebenarnya Indah hanya ingin bekerja dengan sebaik-baiknya karena itu ia menata sesuai yang ia sangka baik dan rapi tapi kalau karena hal itu tuan mudanya malah tidak suka maka ia akan mengembalikan semuanya ke tatanan semula.

Ia bersyukur karena ia hanya ditugaskan bekerja membersihkan ruangan Tuan muda Sinyo selama satu Minggu saja. Kalau tidak mungkin ia harus menutup kedua telinganya dengan sesuatu agar gendang telinganya tidak rusak.

Indah bekerja ekstra hari ini. Ia mengurangi waktu istirahatnya agar bisa menyelesaikan misinya. Ia tidak ingin para pekerja lain terkena imbas kemarahan tuan muda padahal dia yang bersalah.

Gadis manis itu berjalan pulang dengan tergopoh-gopoh. Ia menyampirkan tas selempangnya dengan cepat. Di depan gerbang adiknya yang bernama Budi sudah menunggunya sejak tadi. Lelaki muda itu khawatir karena kakaknya sudah terlambat satu jam lebih. Hari hampir gelap tapi sang kakak belum menampakkan batang hidungnya.

Ibu dan putra semata wayangnya Indah juga sudah menantinya sejak tadi. Sang ibu sampai menyuruhnya datang ke rumah majikan Indah dengan sepeda ontelnya. Untungnya hari ini Budi sedang libur kerja.

"Kenapa terlambat kak?" Tanya Budi.

"Ada pekerjaan tambahan. Lana baik-baik saja kan?"

"Merengek dikit tadi. Mari pak...!" Pamit Budi pada security yang sudah mengenalnya.

"Hati-hati boncengin enengnya. Jangan sampai jatuh...!" Kata si security menggoda Indah.

"Mari pak...!" Sapa Indah juga. Tak terlalu mempermasalahkan godaan yang sudah sering mampir di telinganya asal masih dalam batas wajar. Menjadi janda di usianya memang bukan hal mudah. Ia kerap digoda oleh lawan jenis dengan kata-kata seperti itu. Baginya itu adalah suatu ujian agar ia bersabar menjalani hidupnya dan lebih mendekatkan diri pada yang Kuasa.

Jarak rumah kontrakan Indah dan rumah keluarga besar pak Adi sebenarnya tidak terlalu jauh. Kawasan rumah mereka bersinggungan. Rumah majikannya berada di kawasan elit sedangkan rumah tempat tinggalnya berada di kawasan sangat sempit. Untungnya tempat tinggal Indah bukan termasuk lingkungan yang kumuh.

Di depan rumah ternyata si kecil Maulana sudah menunggunya.

"Ibu kenapa lama sekali?" Tanya Lana sambil mengusap ingus yang keluar dari hidungnya.

"Ada pekerjaan tambahan tadi " Indah mencuci kedua tangan dan kakinya terlebih dulu baru setelah itu berjabat tangan dengan ibu dan putranya.

"Nangis terus dari tadi " kata ibunya yang sehari-hari menjaga Lana.

"Lana nggak boleh rewel! Kasihan neneknya.... Lana harus jadi anak yabg soleh dan berbakti biar disayang sama Alloh..." Indah menselonjorkan kaki sementara putranya duduk di atas pangkuannya.

Balita itu memeluk ibunya dengan erat seakan-akan ia takut akan ditinggal lagi.

"Ayo makan dulu !!" Sang ibu keluar dari dapur dengan membawa peralatan makan yang disambut oleh semua orang dengan bahagia.

"Hari ini nenek masak sayur sop ya.... Hmm.....Baunya aja enak" Budi pun ikut membantu membawa panci kecil berisi sayur. Dia bersyukur tetap bisa makan setiap hari meskipun dengan menu sederhana. Hidup ditengah keluarga yang kekurangan tak menyurutkan semangat untuk meraih cita-cita.

Menu hari itu yang tersaji di ruang tamu minimalis mereka adalah sayur sop dengan tempe. Kalau beruntung biasanya Indah bisa membawa makanan sisa dari keluarga majikannya.

"Ibu nggak bawa apa-apa?" Tanya si kecil Lana dengan polosnya.

Indah menggelengkan kepala " Masakan nenek ini lebih cocok di lidah kita daripada makanan dari rumah besar juragan ibu. Mereka itu makannya emiii... aja. Tapi ngasih namanya aja yang beda-beda padahal mah emi-emi juga jatuhnya. Lana nggak boleh berharap pemberian orang ya nak. Apa yang ada pada kita harus kita syukuri. Banyak lho orang-orang yang nggak bisa makan tiap hari. Tidurnya di kolong jembatan berteman nyamuk sama sampah. Kita ini Alhamdulillah setiap hari masih bisa makan, ada tempat tinggal biar nggak kepanasan nggak kehujanan. Kalau orang mau bersyukur niscaya Alloh akan menambah nikmat Nya tapi kalau kita kufur Alloh akan mencabut barokah rezeki yang ada pada kita. Lana faham kan nak?"

Lana menganggukkan kepala meski belum faham sepenuhnya. Anak umur tiga tahun memang perlu mendapatkan pembelajaran tentang keimanan. Mungkin saat itu ia belum faham tapi kata-kata seorang ibu akan masuk dan menempel kuat di dalam kepala.

*********

Pagi itu setelah melakukan rutinitasnya Sinyo melewati dapur sambil mencari sosok hitam manis yang sudah mencuri hatinya. Ini pertama kalinya ia tertarik dengan wanita Jawa. Semua mantannya dari kalangan keturunan Cina dan beberapa ada yang cewek blasteran. Circle nya menganut azas kebebasan layaknya orang luar yang tidak mengenal aturan tradisi. Prinsip yang mereka gunakan adalah yang penting tidak menyakiti dan tidak merugikan orang lain. Mau lihat orang jungkir balik atau ngedrugs bukan urusan kita. Mau Gonta ganti pasangan hanya untuk bersenang-senang juga urusan mereka sendiri. Kita tidak boleh ikut campur urusan orang lain.

Huffftttthhhh...... Naudzu billahi min dzalik.....! Semoga kita semua terjaga dan dijauhkan dari hal-hal demikian.

Sampai di tangga pun sinyo belum melihat orang yang dicarinya. Dia mendengus kesal kemudian masuk ke dalam kamar dan mendapati semuanya sudah bersih dan rapi. Berarti Indah sudah masuk ke dalam kamar nya saat ia keluar tadi.

Ia kemudian berjalan untuk melihat area wardrobe nya dan mencari cara agar bisa memanggil Indah ke kamarnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata ruangan wardrobe nya kembali seperti semula, seperti tatanan mbok Jah.

"Apa mbok Jah sudah sembuh dan masuk kerja? Gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Jangan sembuh dulu mbok...!" Katanya pada dirinya sendiri. Ia masih penasaran dengan sosok hitam manis yang senyumnya membuatnya terlena.

Semalam ia memang pulang larut sekali sehingga tidak menyadari perubahan pada ruangan miliknya. Hampir jam sepuluh malam Ia tiba di rumah. Begitu masuk kamar tidur ia hanya melepas sepatu dan bajunya kemudian merebahkan diri hanya dengan memakai celana saja tanpa ke kamar mandi terlebih dulu. Karena itu ketika bangun tidur tadi ia sempatkan mandi dulu sebelum jogging pagi.

Daniel buru-buru mandi untuk kedua kalinya kemudian memakai baju rapi dan mematut diri dalam cermin. Memastikan penampilannya menarik dan bisa menaklukkan si manis yang bernama Indah. Ia tak pernah gagal menaklukkan orang yang diincarnya. Kali ini pun ia yakin bisa mendapatkan hati Indah.

"Ehm... ehm.....!!!" Daniel mencoba menenangkan diri agar ekspresinya tidak terlihat kikuk di depan Indah nanti.

"Indah mana? Suruh kesini !!" Katanya pada Supiyati yang bagian bersih-bersih di lantai bawah.

"Sebentar den....!" Jawab Supiyati sambil menaruh peralatan kerjanya. Ia pun bergegas mencari si biang keladi yang beberapa hari ini menjadi pergunjingan para pekerja.

"Indah lagi?" Tanya Sutirah saat melihat wajah teman kerjanya cemberut.

"Bilangin, jangan sok belagu deh!!! Jadi pembantu aja udah berani ngatur-ngatur barang majikan. Gimana kalau sudah jadi juragan ? "

"Shutttt udah ah. Bikin bete aja dia tuh ...!"

"Ndah...!!! Dicari den Sinyo !!! Kamu apain sih kamarnya aden gantengku itu. Dikasih kepercayaan buat bersihin kamar ya bersihin aja nggak usah beko-neko deh Ndahhh..... Bikin kesel aja!!!" Yati langsung menyemprot Indah begitu melihat sosoknya di ruang cuci setrika.

"Maaf....!" Kata Indah sambil menaruh baju-baju kotor milik para majikan.

Indah menghela nafas dengan pasrah. Dikembalikan seperti tatanan semula juga masih saja salah. Ya mungkin begitulah takdir untuk para pekerja sepertinya. Harus siap dengan segala kondisi. Mau dimarahi atau di bentak telan saja sebisanya.

"You apakan kamar I?" Sinyo yang sudah menunggunya sejak tadi berdiri di depan pintu dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana sembari menginterogasi pekerjanya.

Indah hanya menundukkan kepala tak berani melihat wajah tampan sang majikan.

"Hanya saya kembalikan seperti semula, seperti tatanan sebelumnya " Jawabnya datar, kali ini tak nampak ketakutan di wajahnya .

"You berani melawan I?"

Indah menggelengkan kepala karena memang bukan itu maksudnya.

"Kembalikan semuanya seperti kemarin....!!!" Katanya sambil meninggalkan Indah di tempatnya berdiri.

Sinyo turun ke lantai bawah sambil dengan gaya sok coolnya. Tapi saat menuruni beberapa tangga Ia mencoba melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa sesak karena udara yang masuk ke dalam paru-paru seperti terhalang sesuatu.

Sambil sarapan ia berpikir ingin memasang CCTV di kamar pribadinya agar dia bisa tahu apa saja yang dilakukan oleh Indah di dalam sana.

"Ngelamunin apa you?" Tanya Sofiyah ketika mereka sarapan bersama.

"Kepo!" Jawab Sinyo.

Sofiyah menjadi geregetan dan mengangkat satu bibirnya ke atas bermaksud mengejek adik iparnya.

"A......" Basofi menyuapkan roti bakarnya ke mulut sang istri agar diam tak banyak bicara.

"Papi....!!" Si kecil putra Basofi dan Sofiyah tak terima maminya diperlukan seperti itu oleh papinya sendiri.

Basofi menatap putranya dengan jengah. Sepertinya saingan utamanya kini lebih posesif pada sang istri.

Daniel terkikik dengan kekonyolan keluarganya kemudian mengajak tos si kecil yang kini paling disayang keluarga.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!