Indonesia
NovelToon NovelToon

Docter In Seoul

1. Awal Pertemuan

Seoul, Korea Selatan

“Akhirnya, kau jawab juga telpon dariku. Kau dari mana saja? Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu selama tiga jam.”

Kata-kata itu menerjang gendang telinga Dokter Yoo Shi Jin, bahkan sebelum ia sempat berkata “Halo”. Ia bahkan belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya ke telinga. Mengenali suara di ujung sana, Yoo tertawa dan berkata, “Aku tau kau merindukan kakak mu ini, tapi tak bisakah kau mengecilkan suara nyaringmu itu, Dokter Shin?”

Shin tertawa hambar. “Haha, lucu sekali,” katanya datar.

“Tunggulah, kakak akan menjemputmu!” Pintah Yoo, lantas mematikan telpon dan mulai berlari kecil menuju parkir.

----

Bandara.

Yoo berjalan santai dengan tangan yang berada dijubah putihnya menuju ruang tunggu, ia menghela nafas panjang ketika mendapati adiknya duduk seraya memainkan phonsel.

“Waahh, kau benar-benar setia menungguku, adik kecilku” Yoo memegang pundak seseorang, tampak senyum mengejek dari sudut bibirnya.

“Ya kakak, kau tau aku hampir mati bosan di sini, dan kau tau? Banyak pria yang menggodaku hingga aku merasa muak, dan sekarang kau malah mengejekku, isshhh” Protes Shin.

Yoo menarik alisnya keatas, lalu memandang menilai Shin dihadapannya.

Matanya menyipit, “Aku meragukan itu, Penampilanmu sungguh tidak berubah” ujarnya lalu menggeleng.

Shin terkekeh mendengar penuturan Yoo, “Apa maksudmu aku lebih keren?” goda Shin, wajah tirus, hidung mancung, bibir ranum berwarna pink, putih mulus dengan tinggi 170. Memakai kaos abu-abu dibaluti jaket coklat dengan celana jeans hitam ditubuhnya. Bisa dikatakan ia keren, malah mendekati cantik.

“ Ya, kau keren tapi aneh. Ayo ke mobil.” ujar Yoo, Shin hanya memajukan bibir beberapa senti.

“Hyung!” Yoo berhenti lalu menoleh kearah Shin. “Kau bilang apa?” tanyanya kemudian.

“Hyung. ” jawab Shin santai lalu mulai melangkah meninggalkan Yoo yang masih berdiri kaget. Yoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Aku lebih suka kau memanggilku oppa, daripada hyung. Wah,, kau membuatku merasa sedikit gila.” gumam Yoo seraya melangkah kakinya.

-

Yoo mendesah ketika melihat Shin duduk memainkan handphone disampingnya, namun mulutnya tersenyum. “Shin Tae Woo, aku ini orang sibuk, baik disini maupun dimana-mana. Jadi katakan padaku, kenapa aku harus meluangkan waktuku yang berharga untuk menjemputmu dibandara? Padahal, biasanya ketika kau datang dari Indonesia mengunjungiku, kau tak pernah memintaku menjemputmu?”

Mengabaikan pertanyaan Yoo, Shin Tae Woo malah balas Tanya, “Sibuk? Maksudmu sibuk pacaran?” lalu ia terkekeh. “Kapan kau akan memperkenalkan gadismu padaku?”

Yoo menyipitkan matanya, “Ya benar-benar.. isshh” ujarnya seraya mengangkat tangan hendak memukul Shin, dengan gerakan lincah Shin mengelak.

“Hei, aku hanya bertanya hyung, aku takkan merebutnya darimu.” Goda Shin lalu tergelak.

“Yah, terserah kau saja.” jawab Yoo tanpa menatap adiknya, matanya hanya fokus menatap jalanan.

---

Pintu rumah sakit terbuka ketika didorong oleh Yoo memasuki area rumah sakit didampingi oleh Shin. Shin berjalan dengan tangan dijejalkan kesaku celana jeansnya.

“Waw cool” bisik seorang wanita kepada seseorang temannya, pelan namun masih dapat terdengar oleh Shin. Shin tersenyum menunduk.

“Oppa, kau dari mana saja?” Tanya seseorang dari dalam ruangan Yoo. Shin mengangkat wajahnya ketika berada didepan pintu ruangan tersebut. DOKTER YOO SHI JIN, tulisan yang terdapat diatas pintu luar dengan huruf capital.

Shin masuk kedalam ruangan, ia tersenyum ketika berhadapan dengan gadis di depannya, gadis itu menatap Shin dengan takjub. Ehem. Yoo berdehem menyadarkan wanita itu seraya meletakkan koper milik Shin di samping meja kerja miliknya. Shin hanya terkekeh geli.

Gadis itu tersadar, lalu menoleh kearah Yoo yang duduk cemberut. “Oppa, siapa dia?” Tanya gadis itu.

Yoo hendak menjawab. “Namaku Shin Tae Woo. Panggil saja dokter Shin” jawab Shin. Gadis itu tersenyum lalu mengibaskan rambutnya kebelakang. “Aku dokter Kang.” jawab gadis itu cepat, Shin hanya tersenyum manis, sedangkan Yoo hanya terbengong melihat kelakuan Dokter Kang.

“Kau tidak ada jadwal operasi?” Tanya Yoo pada Dokter Kang.

“Tidak, jadwalku kosong.” jawab gadis itu yang masih menatap takjub Shin.

“Kau pulanglah! Pergilah ke apartemenku, barang-barangmu nanti kubawa.” Shin menoleh cepat kearah Yoo, “Kau mengusirku?” tanyanya seperti protes.

Yoo mengangkat bahu, menggeleng sebentar lalu menjawab, “Tidak, hanya saja besok kau harus menemui ketua untuk konfirmasi pertukaran dokter, dan aku tau kau sangat lelah. Jadi pulanglah!” ujar Yoo matanya berada di computer di depannya.

Shin mengangguk, “Baik lah, aku pulang.” pamitnya. Ia tersenyum sekilas pada gadis itu, menunduk memberi hormat lalu pergi.

---

“Aku sudah sampai beberapa jam yang lalu... Mmm, sekitar empat jam yang lalu... Aku sedang berjalan mencari toko makanan... Ya, kau tak usah khawatir aku baik-baik saja”

Shin melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi di jejalkan kedalam saku celana jeansnya. Ia menghembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang diajaknya bicara adalah Sean, tapi laki-laki itu malah menelponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.

“Sean, sudah dulu ya? Aku lelah,” Shin menyela ucapan Sean dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia menghembus napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal.

Shin memandang sekelilingnya. Kota Seoul telah menenggelamkan matahari di ufuk barat. Bangunan-bangunan disepanjang jalan seakan berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu. Meskipun sudah berkali-kali ke Seoul, Shin masih terkagum dengan suasana di kota ini.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan, jalan yang ramai membuat alunan musik tersendiri. Aroma makanan tercium dari sebuah restoran, lagu disko terdengar samar-samar dari club. Disampingnya, suara orang-orang berteriak, berbicara dan tertawa terdengar masuk ke dalam gendang telinga.

Shin merasa segar mencium aroma tersebut. pandangannya berhenti pada toko makanan kecil dari seberang sana. Ia melangkah menyebrangi jalan dengan cepat dan masuk ke toko itu.

Ia melihat daftar menu, melirik hati-hati dari atas hingga kebawah. Lalu matanya tertuju kepada... “Bibi, Nasi gorengnya satu, dibungkus!” pintanya pada bibi pemilik toko tersebut. Bibi itu menoleh lalu tersenyum mengangguk.

Shin berdiri ditempat ia memesan tadi, ia menatap bibi itu membuat nasi goreng dengan takjub. Tanpa ia sadari, banyak sepasang mata menatapnya kagum. Bibi itu telah selesai dan memberikan bungkusan tersebut pada Shin.

“Permisi, apa kau seorang aktor?” Tanya bibi itu, sepertinya sedari tadi ia menahan rasa penasarannya.

Shin terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh bibi pemilik toko. “Bukan, saya bukan seorang aktor” jawabnya lembut.

Bibi itu tersenyum “Silahkan berkunjung lagi lain waktu, kau pembawa keberuntungan” ujar sang bibi.

Shin menatap bibi itu dengan kening berkerut, seolah meminta penjelasan. Seakan mengerti dengan tatapan Shin, bibi itu memajukan dagunya kearah belakang Shin, dengan mengikuti arah pandangan bibi itu, ia kemudian terkekeh geli melihat sebagian isi toko dipenuhi oleh wanita-wanita yang menatapnya seakan hendak melahap habis dirinya.

Shin membalikkan badannya, “Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.” pamitnya.

Shin melangkahkan kaki keluar dari toko, matanya disibukkan oleh ponsel yang berada digenggaman tangan kanannya, sedangkan tangan kiri sedang mengayunkan bungkusan nasi yang barusan dibelinya. Baru berapa langkah ia meninggalkan toko, tubuhnya ditabrak oleh sesuatu yang mengharuskan ia terduduk dilantai.

“Ayssh..” gumamnya kecil, untung saja bungkusan tersebut baik-baik saja.

“Maafkan aku, kau baik-baik saja?” Shin melihat sebuah tangan terulur untuk membantunya, ia meraih dan berdiri namun belum melihat kearah suara tersebut, karna sedang sibuk membersihkan kotoran di pakaiannya.

“Jika pakaianmu kotor, aku bisa menggantinya.”

Shin menoleh ke arah suara bernada rendah, namun tegas itu. Suara itu milik pria bersetelan putih yang berdiri didepannya. Rupanya pria itu sedang menelpon tanpa menyadari Shin yang berada didepannya. Sekarang Shin meihat orang tersebut menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjang. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi beberapa air mineral. Pria itu masih muda, mungkin sekitar dua puluh tiga tahunan, wajahnya tampan berpenampilan rapi, seperti seseorang yang menjabat penting disebuah perusahaan besar.

Shin memandang pria itu, lalu senyuman manis mengembang dari sudut bibirnya. Garis kecantikan terpancar dari wajah anggun miliknya. Pria itu membulatkan matanya, seperti terpesona. Senyuman yang membuat rasa lelah akan lenyap bagi yang memandang.

“Aku baik-baik saja, terima kasih.” jawab Shin, lalu membungkuk dan pergi meninggalkan pria itu.

Pria itu memandang Shin yang berjalan meninggalkannya, lalu menggelengkang kepala untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada jalan sekelilingnya.

----- -

Shin tersenyum meminta maaf pada Yoo, “Maaf, aku hanya membeli makanan sebentar, aku sangat lapar” ujarnya seraya membuat lingkaran di perut datarnya. “Lagian kulkasmu kosong, apa kau terlalu miskin hingga tak bisa membeli makanan?” sambungnya.

“Yah Shin, aku ini orang sibuk dan kau? apa kau tak punya ponsel untuk memberitahuku? Orangtua mu menelponku berkali-kali, kenapa kau tidak memberitahu mereka?” Tanya Yoo.

“Aku terlalu sibuk, aku lapar. Apa kau mau?” tawarnya untuk meredam emosi Yoo. Seperti biasa, Yoo selalu tersenyum jika Shin menawarkan makanan padanya. Dokter satu ini, selalu disibukkan dengan ruang operasi hingga ruang perutnya suka kosong tak berisi. Dan ini kesempatan Shin untuk meredam emosi Yoo jika sedang kesal, triknya satu ini selalu berhasil.

“Setelah makan, kau tidur lah. Biar kakak yang akan membersihkannya, besok kau akan bertemu dengan ketua. Ingat itu!” ujar Yoo yang mendapat anggukan Shin.

2. Pria Yang Cantik.

“Kau ini ketua, tapi kenapa selalu telat? Benar-benar.” gerutu Yoo pada seseorang di seberang telpon.

“Cepatlah datang! Aku tak punya banyak waktu untuk mengurus orang ini. Dan sebentar lagi Presdir akan datang.” ujar Yoo seraya melihat Shin yang terduduk santai dikursi ruang ketua. Yoo mematikan ponselnya dan menyimpannya didalam saku jubah putih panjang miliknya lalu duduk disamping Shin yang tengah asik bermain game.

“Kau itu seorang dokter, tapi tingkahmu seperti anak dibawah umur” sindir Yoo, Shin menoleh.

“Benarkah? Itu artinya aku imut dan awet muda.” goda Shin seraya mengedipkan matanya berkali-kali.

Yoo hanya mengabaikan perkataan Shin.

“Apakah wanita itu?”

Alis Yoo terangkat heran. “Wanita? Siapa?”

“Wanita yang kulihat di dalam ruanganmu kemarin. Apakah wanita itu yang membuatmu sibuk?”

Mata Yoo menyipit teringat kejadian kemarin. Semburat merah sedikit terlihat dari pipi putihnya. Lalu mengangguk.

“Hahah, cantik”

Yoo menoleh cepat kearah Shin, “Kau tidak menyukainya bukan?” tatapan introgasi dilontarkan Yoo pada Shin, Shin yang mendapat tatapan tersebut hanya tertawa.

“Kau takut aku merebutnya? Hahah, bagus juga, sepertinya dia juga menyukaiku.” goda Shin.

“Yah, dia kekasihku, jika kau mematahkan hatinya, jangan salahkan aku jika aku yang mematahkan tulang rusukmu.” ujar Yoo

Shin menelan ludahnya, “Kau mengerikan,” ujarnya, lalu mereka tertawa bersama.

Bunyi hentaman keras terdengar dari pintu, Yoo dan Shin menoleh kearah pria yang tampak terengah-engah mengatur napas.

Ia menerawang kesekeliling ruangan, lalu berjalan menuju Yoo.

“Apa presdir telah pergi? Apa yang dia katakan? Di mana dia?” Tanya pria itu bertubi-tubi. Yoo yang awalnya syok, malah tertawa hingga membuat alis pria itu menyatu.

“Kenapa kau tertawa?”

“Apa karna mendengar kata presdir membuatmu jadi seperti ini?” ledek Yoo.

“Jadi kau hanya membohongiku? Yah, benar-benar” ujar pria itu seraya berkecak pinggang.

Pria itu menoleh kearah Shin yang hanya memperhatikannya, ia menyipitkan mata seperti mengingat sesuatu, terdiam sejenak lalu matanya melebar terkejut.

“Kenapa dia disini?” Tanya pria itu pada Yoo.

“Oh, dia Shin Tae Woo. Saudaraku dari Indonesia, ia di sini untuk mengkonfirmasi pertukaran dokter padamu” jelas Yoo.

Shin menundukkan badan memberi hormat. “Namaku Shin.” ujarnya menyalurkan tangan.

Pria itu menjabat tangan Shin. “Danny, Danny Jo” jawabnya.

“Aku ada jadwal operasi sebentar lagi, aku duluan.” pamit Yoo seraya menepuk pundak Danny.

Shin duduk terdiam di kursi, berkali-kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sesekali matanya mengarah pada Danny. “Apakah pria ini sudah gila, dari tadi hanya menatapku tanpa bergeming” ujarnya dalam hati.

“Maaf sebelumnya, aku tau jika diriku tampan, tapi tak bisakah kau berhenti menatapku seperti itu? Sungguh rasanya menakutkan.” terang Shin.

“Maaf” ujar Danny salah tingkah. Shin hanya tersenyum melihat Danny seperti itu.

“Cantik..” gumam Danny tanpa sadar melihat Shin tersenyum. Shin mengerutkan keningnya.

“Apa?” Tanya Shin.

“Ahh tidak, kau boleh keluar.” jawab Danny tergagap.

Shin menatap Danny bingung, lalu menaikkan bahunya acuh. Shin menunduk izin mundur kemudian berlalu dari hadapan Danny.

“### Wahh,, aku masih normal, aku masih normal” ujar Danny setelah Shin pergi. “Tapi kenapa senyum pria itu membuat wajahnya terlihat cantik?”

“Omma!” panggil seorang anak kecil pada wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Wanita itu tersenyum lega seraya mengangkat anaknya ke dalam pelukan.

“Kau darimana? Ibu khawatir.” Tanyanya. Anak itu tersenyum riang, “aku ke toilet, mau pipis” jawabnya polos tanpa mengetahui makna raut wajah ibunya.

“Kenapa tak bilang terlebih dahulu? ibu bisa mengantarmu.” Ujar sang ibu yang disambut gelengan si anak.

“Omma, aku mau pergi bersama hyung yang cantik itu,” jawab si anak seraya menunjuk kea rah Shin. Shin yang sedari tadi melihat adegan ibu dan anak ini hanya bisa tersenyum.

“Hallo, saya Shin, dokter baru di sini.” Shin menunduk memperkenalkan diri yang kemudian disambut oleh wanita itu.

“Hallo, saya Ahn Shi, ibunya Jung Myol,”jawab si ibu, “terimakasih telah membantu anak saya, dia memang sedikit nakal”

“Ah tidak apa-apa, dia anak yang manis,” jawab Shin. Shin menunduk mensejajarkan diri pada anak itu, “Kalau gitu, hyung pergi.” Ujarnya seraya menggosok puncak kepala anak itu.

Shin menatap kembali wanita itu,menunduk seraya berlalu dari hadapan wanita itu.

Kakinya yang jenjang terus menelusuri keramik putih di lorong rumah sakit. Sesekali ia tersenyum ramah ketika di sapa oleh para pasien. Bibirnya yang tipis terus melengkung walaupun di tempat yang sepi.

“Kau terlihat senang,” Ucap seseorang yang membuat langkahnya terhenti, “ada apa?”

Shin menoleh ke arah kiri, terlihat seorang pria yang lebih tinggi darinya dengan mengenakan jas putih keluar dari sebuah ruangan. Alis kirinya terangkat, “Danny Jo?”

“Panggil aku Danny, kau tak perlu sesopan itu.”ujar Danny yang kini berada di hadapan Shin.

Shin mengangguk mengerti. “Pasienmu?” Tanyanya pada sosok pria yang terbaring lemah dengan kepala terbalut lengkap dengan selang oksigen dan miniature-miniatur kecil yang berada di badannya.

Danny mengikuti arah mata Shin yang menatap pasiennya di balik kaca jendela. “Iya. Dia mengidap penyakit kanker otak stadium akhir.” Jawabnya. Terlihat pupil mata Shin melebar diikutin dengan gerakan mulut berbentuk ‘O’.

Shin terus menatap pasien itu tanpa kedip. Ada tersirat rasa rindu dan sedih. Ntah kenapa, dia pun tak tau. Padahal tak mengenal siapa yang kini berbaring lemah di atas ranjang.

“Mau minum kopi? Di sini kopinya sangat enak.” Tawar Danny. Shin tersenyum menatap Danny seraya mengangguk. Merekepun mulai berjalan menuju tangga yang tak jauh dari kamar tadi.

Sekali lagi, Shin menatap kamar itu dengan tatapan sendu, lalu kemudian berjalan cepat mengikuti langkah Danny yang jauh beberapa langkah darinya.

“Hyung, kenapa kau tak pernah bilang padaku bahwa di sini kopinya sangat lezat. Kalau bukan Danny yang mengajakku, aku takkan tau ada kopi selezat itu.” Ujar Shin ketika masuk ke dalam ruangan Yoo dengan tergesa, salam atau bahkan ketukan tak lagi dilakukan.

“Ya... kau membuatku kaget.” Ucap Yoo dengan tangan mengelus dada. Ia menatap Shin yang sudah duduk di hadapannya.

“Biarin. Biar Hyung sakit karena karma.”

“Kar...ya.. panggil aku Oppa.” Ujar Yoo yang mulai kesal dengan tingkah adik sepupunya ini.

“Males bet gua.” Jawab Shin dengan bahasa gaul di Indonesia.

“Bukan adek gua lu.” Jawab Yoo dan dihadiahi ledekan Shin.

“### Ah sudahlah. Hyung, kau masih berhutang makanan lezat padaku. Aku pergi dulu, bye.” Ucapan Shin membuat Yoo terlihat syok. Bagaimana tidak, sudah beberapa tahun tidak bertemu tingkahnya makin membuatnya kesal bukan kepalang. Yoo hanya bisa mengelus dada melihat adiknya yang kini telah meninggalkan ruangannya seorang diri.

Sinar mentari menembus dari celah-celah tabir yang menutupi lapisan kaca. Menyentuh lembut kulit putih itu. Terangnya cahaya ditambah dengan nyaringnya dering ponsel membuat mata sang pemilik harus memaksakan diri untuk membuka mata sipit itu. Tangan kiri mulai meraih ponsel yang berada di atas meja tak jauh dari tempat tidur. Di lihatnya layar ponsel. Alisnya terangkat diikuti dengusan napas yang terdengar malas.

“Ya.” Jawabnya dengan suara berat.

“....”

“Apa? Kakek, aku... tapi...ahhhh” keselnya menatap ponsel yang tak lagi dalam keadaan menelpon. Putusnya panggilan secara sepihak membuatnya bergegas meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi.

“Bisa gila aku...” umpatnya kesal.

#3 3.Tugas Dari Kakek

Setelah mandi kilat dan mengenakan pakaian rapi, Shin menyambar mantelnya lalu bergegas keluar dari apartemen. Langkah kakinya yang lebar membawanya dengan cepat menuju mobil yang sudah menunggu di depan gedung. Sopir pribadi suruhan kakeknya membukakan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan gestur sopan yang makin membuat Shin mendengus kesal.

Sepanjang perjalanan, Shin menatap keluar jendela kota yang mulai dipadati aktivitas pagi. Pikiran dan benaknya melayang kembali pada bayangan pasien kanker otak stadium akhir yang dilihatnya kemarin di lorong rumah sakit bersama Danny. Entah mengapa, wajah pucat pasien itu seolah tertanam kuat di memorinya, membangkitkan perasaan hampa yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.

Tak butuh waktu lama, mobil hitam mewah itu berhenti meluncur di depan sebuah restoran tradisional bergaya klasik yang elegan. Tempat biasa sang kakek mengadakan pertemuan keluarga atau urusan bisnis penting. Shin menghela napas panjang untuk menetralkan rasa kesalnya sebelum melangkah masuk menyusuri koridor berlantai kayu.

Saat pintu geser ruangan privat dibuka, tampak sang kakek duduk tenang sembari menikmati teh hangat. Di samping beliau, Yoo sudah duduk tegap lengkap dengan pakaian rapinya, menyambut kedatangan Shin dengan senyuman jahil yang amat familier.

"Langkahmu lambat sekali, Shin," tegur sang kakek dengan suara berat namun penuh wibawa. "Duduklah."

"Kakek memanggilku pagi-pagi begini hanya untuk minum teh?" tanya Shin seraya mengambil tempat di sebelah Yoo.

Sang kakek meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap Shin dengan pandangan tajam yang dipenuhi kehangatan. "Laporan pertukaran doktermu sudah disetujui. Tapi selain tugas di rumah sakit, ada hal lain yang perlu kau tangani. Ini menyangkut proyek penelitian antardokter spesialis saraf yang dipegang oleh tim Danny Jo."

Shin mengerutkan keningnya, menoleh ke arah Yoo yang hanya membalasnya dengan kibatan bahu jahil.

"Kenapa harus aku, Kakek? Aku ini baru saja sampai," protes Shin dengan nada merajuk.

"Karena kau satu-satunya dokter muda yang paling menguasai teknik intervensi terbaru yang mereka butuhkan," potong sang kakek tegas, namun senyum tipis terukir di bibirnya. "Lagipula, bukankah kau bilang ingin menimba pengalaman sebanyak-banyaknya di sini?"

Shin mendesah pasrah, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Baiklah, baiklah. Tapi setelah ini Kakek harus membelikanku makanan enak selama seminggu penuh."

Gelak tawa terdengar meredam suasana kaku di ruangan tersebut. Di balik tingkahnya yang seperti anak kecil dan godaan-godaan konyolnya, Shin menyadari bahwa tugas baru ini akan membawanya kembali berhadapan langsung dengan Danny Jo—dan mungkin, jawaban atas rasa penasaran misterius pada pasien di lorong rumah sakit itu.

Matahari mulai bergeser lebih tinggi saat mobil yang membawa Shin dan Yoo akhirnya meluncur meninggalkan restoran klasik tersebut. Di dalam mobil, suasana yang tadinya hening mendadak pecah oleh dentingan pesan di ponsel Shin.

Nama **Danny Jo** tertera di layar.

*“Dokter Shin, Presdir dan kakekmu sudah mengonfirmasi tim penelitan. Bisakah kau langsung ke ruanganku begitu sampai di rumah sakit? Ada berkas medis pasien kemarin yang perlu kau tinjau.”*

Shin menatap pesan itu lama, lalu mengarahkan pandangannya ke jendela luar. Perasaan asing yang kemarin menyergapnya saat menatap ruang perawatan pasien kanker otak itu kembali hadir, merambat pelan di balik dada.

"Kenapa? Danny menghubungi?" tanya Yoo yang menyadari perubahan raut wajah adiknya.

"Ya. Dia memintaku langsung ke ruangannya," jawab Shin pelan, menghilangkan sejenak nada bercandanya. "Hyung... pasien kanker otak di lorong kemarin, apa kau tahu siapa dia?"

Yoo menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Shin yang mendadak serius. Ia terdiam sejenak sebelum mendesah pelan. "Pasien itu ditangani langsung oleh Danny. Setahuku dia pasien rujukan khusus, tanpa identitas resmi karena ditemukan pingsan di area stasiun dua bulan lalu. Kasusnya sangat rumit, makanya Danny yang mengambil alih."

Penjelasan Yoo bukannya memuaskan rasa penasaran Shin, melainkan makin menumpuk tanda tanya besar di kepalanya.

Begitu melangkah melewati pintu utama rumah sakit, Shin langsung memisahkan diri dari Yoo dan berjalan menuju lantai tiga—area departemen bedah saraf. Kehadirannya kembali menarik perhatian beberapa perawat dan pasien yang lalu lalang, namun Shin terlalu fokus pada tujuannya untuk sekadar menyunggingkan senyum ramahnya.

*Tuk, tuk.*

Shin menggetuk pintu ruangan Danny pelan sebelum membukanya. Danny yang sedang memeriksa tumpukan dokumen di mejanya langsung mendongak. Begitu melihat Shin, ia tampak tersentak kecil—wajahnya mendadak agak merona teringat kejadian kemarin saat ia tanpa sadar bergumam "cantik".

"Ah, Shin... masuklah," ujar Danny sedikit canggung, menggeser kursi di hadapannya.

Shin berpura-pura tidak melihat kecanggungan Danny dan langsung duduk manis. "Kakek bilang kita akan bekerja sama dalam proyek penelitian saraf. Jadi, berkas mana yang harus kukaji?"

Danny berdeham pelan untuk menguasai hatinya, lalu menyodorkan sebuah map tebal berwarna biru ke hadapan Shin.

"Ini rekam medis dan hasil pemindaian otak dari pasien yang kau lihat kemarin," terang Danny, suaranya berubah profesional secara instan. "Jaringan tumornya berada di area yang sangat riskan, menekan saraf memori dan persepsi. Sejauh ini, pengobatan konvensional tidak menunjukkan respons positif."

Shin membuka map tersebut. Jemarinya yang lentik dan bersih menelusuri lembar demi lembar hasil rontgen serta grafik medis. Namun, saat matanya tertuju pada lampiran foto barang bukti yang ditemukan bersama pasien—sebuah liontin perak berbentuk ukiran daun yang agak usang—jantung Shin serasa berhenti berdetak sesaat.

Napasnya tertahan. Matanya membelalak menatap gambar liontin itu.

"Ada apa, Shin? Kau menemukan sesuatu yang aneh dari hasil studinya?" tanya Danny heran melihat perubahan drastis pada ekspresi Shin.

Shin dengan cepat menguasai diri, mengedipkan matanya berkali-kali untuk menyembunyikan getaran di matanya. Ia menyunggingkan senyum tipis—jenis senyuman yang biasanya ia gunakan untuk mengalihkan perhatian.

"Tidak ada... hanya saja, metode operasi intervensi mikrosirkulasi yang pernah kupelajari di Indonesia sepertinya bisa dicoba di sini," alih Shin cepat.

Danny mengamati wajah Shin dari dekat. Senyuman manis itu kembali hadir, namun kali ini ada pendar kecemasan yang tersembunyi halus di sana. Danny terpaku sejenak, mengagumi betapa menawan sekaligus misteriusnya dokter muda di hadapannya ini.

"Kau... yakin bisa memimpin prosedurnya bersamaku?" tanya Danny pelan, suaranya melembut.

Shin menatap balik mata Danny, mengangguk pelan namun tegas. "Tentu saja. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan pasien itu terus berbaring sendirian di sana."

Di dalam hatinya, Shin menjerit pelan. Liontin ukiran daun yang ada di berkas medis itu... adalah barang yang persis sama dengan milik ibunya yang hilang belasan tahun lalu.

Tangan Shin gemetar halus saat menutup map biru tersebut. Rencana pertukaran dokter yang awalnya ia anggap sekadar rutinitas membosankan, kini mendadak berubah menjadi pusaran misteri yang mengikat masa lalunya.

"Shin? Wajahmu pucat sekali," ujar Danny prihatin. Pria itu berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat, meraih segelas air hangat dari meja dispenser lalu menyodorkannya pada Shin.

"Terima kasih, Danny. Aku hanya... agak sedikit lelah karena penerbangan kemarin," kilih Shin cepat seraya menerima gelas itu. Jemari mereka sempat bersentuhan memicu getaran kecil yang membuat Danny berdeham canggung dan berpaling wajah, sementara Shin terlalu kalut untuk menyadarinya.

"Jika kau butuh istirahat, kita bisa menunda diskusi teknisnya besok pagi," tawar Danny halus.

"Tidak usah. Aku ingin melihat pasien itu secara langsung sekarang. Apakah diperbolehkan?" tatar Shin mantap, tatapannya memancarkan keseriusan yang jarang ia perlihatkan.

Danny mengangguk pelan. "Tentu, ikuti aku."

Langkah kaki mereka berdua menggema di koridor ruang perawatan intensif yang tenang. Di depan pintu kaca kamar pasien tersebut, Danny menekan tombol sensor untuk membuka akses. Suara desis alat penyokong hidup (*life support*) langsung menyambut pendengaran mereka begitu pintu menggeser terbuka.

Shin melangkah pelan mendekati sisi ranjang. Di atas kasur busa medis itu, terbaring sesosok pria paruh baya dengan tubuh yang kian mengurus dan selang-selang transparan terpasang di tubuhnya.

Shin menunduk, menatap lekat fitur wajah pria tersebut. Dahinya yang lebar, garis rahangnya, hingga bentuk telinganya... semuanya terasa sangat tidak asing. Rantai kenangan kecil dari masa kecilnya di Indonesia mendadak berputar cepat seperti klise film tua.

*“Kalau kau merindukan Ibu, lihatlah liontin ini...”*

Suara bisikan lembut dari masa lalu bergema di kepalanya. Shin meraba dada kirinya sendiri, di mana di balik kemeja dan jas dokternya, tersembunyi liontin yang persis sama dengan yang ada di dalam foto berkas medis tadi.

"Kami belum menemukan pihak keluarga yang mengenalinya," bisik Danny yang berdiri tepat di samping Shin, mengamati perubahan raut wajah dokter muda itu. "Setiap kali sadar sejenak, dia hanya bergumam menyebut satu nama yang tidak jelas."

"Nama apa?" tanya Shin cepat, suaranya sedikit bergetar.

Danny mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat catatan perawat jaga. "Kalau tidak salah... 'Tae'... atau 'Tae Woo'."

Mata Shin membelalak sempurna. *Shin Tae Woo.* Itu adalah nama lengkapnya sendiri.

Melihat respons Shin yang begitu emosional, Danny merasa ada ikatan batin yang sangat kuat antara Shin dan pasien tanpa identitas ini. Tanpa sadar, tangan Danny terulur, mendarat pelan di bahu Shin untuk memberikan kekuatan.

"Kita akan mengoperasinya bersama, Shin. Aku akan membantumu menyelamatkannya," janji Danny tulus, menatap dalam mata sipit Shin yang kini berkaca-kaca.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!