Indonesia
NovelToon NovelToon

Possessive Brothers

bab 1

Mansion Keluarga Pratama

Di sebuah mansion mewah yang berada di salah satu kota besar di Negara I, beberapa orang paruh baya tengah berkumpul. Mereka adalah keluarga triliuner nomor satu di dunia, keluarga Pratama.

Keluarga tersebut terdiri atas Arnawama Pratama, sang kepala keluarga; Aryan Pratama, putra sulungnya; dan Mahendra Pratama, putra bungsunya. Kedua putra Arnawama juga ditemani oleh istri masing-masing. Priscillia merupakan istri Aryan, sedangkan Zailine adalah istri Mahendra.

“Bagaimana, Yah? Apakah sudah ada informasi mengenai keberadaan Queen?” tanya Mahendra kepada sang ayah yang duduk di hadapannya.

“Maafkan Ayah, Son. Informasi yang didapatkan detektif yang kita sewa belum banyak. Namun, mereka sudah mendapatkan foto seorang anak perempuan yang dicurigai sebagai Queen.”

Arnawama menjawab dengan suara sendu sembari menatap putra bungsunya.

“A—apakah Ayah memiliki foto anak perempuan tersebut?” tanya Zailine dengan suara bergetar, menahan tangis.

Arnawama mengangguk. Ia kemudian meminta asisten pribadinya mengambil foto tersebut dari ruang kerjanya.

Tak lama kemudian, sang asisten datang membawa selembar foto. Ia menyerahkannya kepada Arnawama.

“Ini, Nak. Foto anak perempuan tersebut.”

Arnawama mengulurkan foto itu kepada Zailine.

Dengan tangan gemetar, Zailine menerima foto tersebut. Namun, begitu melihat wajah anak perempuan yang terpampang di dalamnya, kedua matanya langsung membelalak.

“Mas... anak ini...”

Zailine tak sanggup melanjutkan ucapannya. Wajah anak perempuan dalam foto itu sangat mirip dengannya ketika masih remaja.

“Oh, my God! Aline, dia sangat mirip denganmu saat remaja.”

Priscillia pun ikut terkejut ketika melihat foto tersebut.

Zailine mengangguk berkali-kali. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.

“Mas, pasti betul anak ini adalah anak kita. Queen kita, Mas,” ujar Zailine dengan isak tangis.

“Iya, Sayang. Dia memang sangat mirip denganmu. Bak pinang dibelah dua.”

Mahendra mengusap pelan foto yang masih berada di tangan istrinya. Setelah itu, ia beralih menatap sang ayah.

“Kapan kita akan menemui anak ini, Yah? Hendra sangat yakin kalau anak ini adalah Queen kita yang hilang. Dia sangat mirip dengan Aline.”

“Ayah sudah mengatur semuanya. Besok siang kita akan menjemputnya. Persiapkan semua kebutuhan yang diperlukan. Ayah serahkan semuanya kepada kalian, Priscillia.”

“Serahkan semuanya kepada Priscill dan Aline, Yah. Kami akan menyiapkan semuanya dengan sempurna. Betul, kan, Dek?”

Zailine hanya mengangguk sebagai jawaban.

Namun, tanpa seorang pun dari mereka sadari, kebahagiaan yang baru saja tumbuh di dalam keluarga itu akan segera diuji oleh sebuah kejadian tak terduga.

---

Di Tempat Lain

Sementara itu, di sisi lain kota, seorang remaja perempuan tengah berjalan sendirian melewati sebuah gang yang sepi.

Ia baru saja pulang dari pekerjaan paruh waktunya di sebuah kafe yang dijalaninya setelah pulang sekolah.

Ya, anak perempuan tersebut adalah Florentina Queensha P., yang lebih akrab dipanggil Queen oleh orang-orang terdekatnya.

Saat sedang berjalan menuju panti asuhan tempat dirinya dibesarkan selama ini, beberapa preman tiba-tiba berjalan mendekat dan menghadang langkahnya.

“Ka... kalian mau apa?” tanya Queen, berusaha memberanikan diri.

“Jangan takut, Neng. Kita cuma mau senang-senang saja dengan si Neng cantik ini.”

Salah seorang preman menatap Queen dengan tatapan yang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Jangan macam-macam kalian! Queen bakal teriak!”

Queen berusaha mengancam mereka dengan suara lantang.

“Hehehe... teriak saja, Neng. Enggak bakal ada yang dengar suara Neng sekarang. Jalan ini sepi. Jarang ada orang lewat.”

Preman lainnya menanggapi dengan nada mencemooh.

Ya Tuhan, apa yang harus Queen lakukan sekarang? Apa Queen bakal selamat kalau kabur dari para preman ini? Tapi mau tidak mau Queen harus lari. Kalau tidak, Queen yang bakal celaka.

Bisa saja Queen melawan mereka, tapi kondisi tubuh Queen tidak memungkinkan.

Tanpa Queen sadari, dua preman telah berdiri tepat di depannya dan bersiap menangkap dirinya.

Sontak, Queen menendang salah satu preman dan langsung berlari sekuat tenaga menuju jalan raya terdekat.

Namun, karena terlalu panik dan terburu-buru, Queen tidak memperhatikan keadaan jalan.

Dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju.

“BRRAKKK!”

Tubuh Queen terpental setelah tertabrak mobil tersebut.

---

Kembali ke Mansion Pratama

Di saat yang hampir bersamaan, Zailine tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar kencang. Perasaan tidak nyaman menyelimuti dirinya seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarganya.

Kenapa perasaanku tidak tenang, ya? Apa akan terjadi sesuatu yang menimpa keluargaku?

Ya Tuhan, selalu lindungi keselamatan seluruh keluargaku.

Zailine memegang dadanya dengan wajah cemas.

Kecemasannya tentu saja tidak luput dari perhatian Mahendra.

“Kamu kenapa, Sayang? Wajahmu pucat sekali,” tanya Mahendra ketika melihat perubahan wajah istrinya.

“Aku tidak tahu, Mas. Tiba-tiba aku merasa cemas. Seakan-akan akan terjadi sesuatu pada keluarga kita. Aku mencemaskan anak-anak, Mas.”

“Anak-anak pasti aman. Sekarang kamu istirahat, ya, Sayang. Seharian ini kamu dan Mbak Priscillia sibuk menyiapkan segala kebutuhan Queen.”

Mahendra menarik pelan tangan Zailine dan membawanya menuju kamar agar istrinya segera beristirahat.

Ia memang selalu mencemaskan kondisi kesehatan sang istri yang beberapa tahun terakhir masih belum sepenuhnya pulih.

Kehilangan putri bungsu mereka telah memberikan luka yang begitu dalam bagi keluarga besar Pratama, terutama bagi Zailine.

Informasi mengenai kemungkinan ditemukannya Queen telah memberikan semangat baru kepada Zailine. Sepanjang hari tadi, senyum sang istri bahkan terus terpancar.

Mahendra hanya berharap informasi yang mereka dapatkan benar-benar membawa mereka kepada putri bungsu yang selama bertahun-tahun mereka cari.

Karena bagi keluarga Pratama, Queen bukan sekadar seorang anak.

Ia adalah sumber kebahagiaan keluarga mereka.

---

Beberapa Saat Sebelumnya

“BRRAKKK!”

“ASTAGA!”

Seorang anak laki-laki yang berada di balik kemudi tersentak kaget setelah mobil yang dikendarainya menabrak seseorang.

“Keluar! Kita lihat kondisi korban yang kita tabrak!” perintah seorang pemuda yang duduk di samping pengemudi.

Keempat orang yang berada di dalam mobil segera turun dan berlari menghampiri korban.

Salah seorang dari mereka berjongkok untuk memeriksa kondisi korban. Ia mengecek napas dan denyut nadi anak perempuan tersebut.

“Masih hidup, Bang. Lebih baik cepat kita bawa ke rumah sakit. Darah yang keluar dari kaki dan kepalanya banyak sekali,” ujar pemuda tersebut dengan panik.

Pemuda yang dipanggilnya abang mengangguk.

Tanpa membuang waktu, ia segera menggendong korban menuju mobil.

Beruntung, jalan yang mereka lalui cukup sepi sehingga tidak banyak orang maupun kendaraan yang berlalu-lalang.

Namun, saat menggendong anak perempuan yang menjadi korban tabrakan itu, tanpa sengaja pandangan pemuda tersebut tertuju pada sebuah kalung yang melingkar di leher korban.

Kalung itu terlihat sangat familiar.

Deg!

Pemuda tersebut membeku.

Matanya terpaku pada kalung itu.

Ia menggeleng berkali-kali, seolah menolak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

Kalung itu...

Kalung Princess...

Tanpa disadarinya, air mata menetes dari sudut matanya.

Ia kemudian mempererat gendongannya dan mempercepat langkah menuju mobil.

“KEN! KENZIE! KENNARD! CEPAT MASUK!”

Teriakannya terdengar panik.

“Kita harus cepat membawa anak perempuan ini ke rumah sakit!”

Ketiga orang lainnya segera masuk ke dalam mobil.

Pemuda tersebut masih menatap kalung yang melingkar di leher Queen dengan tatapan penuh keterkejutan.

Ya...

Anak perempuan yang baru saja mereka tabrak itu adalah Florentina Queensha P.

Queen.

Gadis yang selama bertahun-tahun dicari oleh keluarga Pratama.

Dan tanpa mereka sadari, kecelakaan kecil yang terjadi malam itu akan menjadi awal dari terbukanya sebuah rahasia besar yang selama ini tersembunyi.

bab 2

Di depan ruang IGD, tepatnya di ruang tunggu, seorang pemuda duduk dengan hati yang bercampur aduk. Takut, khawatir, sedih, sekaligus bahagia—semuanya melebur menjadi satu.

Pemuda itu sangat mencemaskan keadaan gadis yang sedang ditangani oleh dokter. Pasalnya, sebelum gadis itu dibawa masuk ke ruang IGD, ia sempat melihat sebuah kalung yang sangat familiar dan begitu melekat dalam ingatannya.

Kalung yang dulu ia pasangkan sendiri ke leher kecil sang adik.

Kalung yang secara khusus dipesan oleh keluarganya.

Sejak tadi, pemuda itu terus merapalkan doa kepada Tuhan, berharap gadis tersebut baik-baik saja.

Pemuda itu adalah William Orlando Pratama.

Air mata terus menetes tanpa disadari William. Pemandangan tersebut tentu membuat tiga remaja yang baru saja tiba di ruang tunggu merasa bingung sekaligus terkejut. Mereka tak pernah menyangka akan melihat abang sulung mereka menangis.

Terakhir kali mereka melihat William menangis adalah ketika adik perempuan mereka satu-satunya menghilang setelah diculik oleh pesaing bisnis keluarga mereka.

Ketiga remaja itu hanya bisa terdiam. Mereka memperhatikan sang abang tanpa tahu harus melakukan apa.

Dua jam telah berlalu, tetapi dokter yang menangani Queen belum juga keluar.

William bahkan sejak tadi terus mondar-mandir di depan pintu IGD tanpa tujuan yang jelas.

Padahal, gadis itu hanyalah seseorang yang baru saja ia temui. Bahkan, William sama sekali tidak mengenalnya.

Namun, mengapa ia merasakan ikatan yang begitu kuat dengan gadis tersebut?

Segala tingkah laku William diperhatikan oleh ketiga adiknya yang duduk tak jauh darinya.

"Bang Will kenapa, ya, Bang? Sepertinya khawatir banget sama gadis tadi," tanya salah satu dari mereka, Kennard Reksa Pratama, kepada saudaranya yang duduk di sebelahnya.

Kennedy Abraham Pratama hanya mengangkat bahu sebagai tanda tidak tahu. Namun, rasa penasarannya tetap ada. Tatapannya bahkan tak pernah lepas dari sang abang sulung.

"Tapi, Bang, kalau diperhatikan lebih dekat, mata Bang Will kayak habis nangis," ujar Kenzie Aksa Pratama.

Kennedy dan Kennard mengangguk, membenarkan ucapan Kenzie.

Akhirnya, Kennedy memberanikan diri untuk mendekati William. Ia hendak menanyakan sesuatu tentang gadis yang tanpa sengaja mereka tabrak tadi.

"Bang..." panggil Kennedy.

William menoleh ke arahnya.

Namun, sebelum Kennedy sempat melanjutkan perkataannya, pintu IGD di hadapan mereka tiba-tiba terbuka.

Seorang dokter keluar dari dalam ruangan.

William yang melihat dokter tersebut segera berjalan menghampirinya. Hampir dua jam lebih dokter itu berada di dalam untuk menangani Queen.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya William dengan wajah cemas.

"Anda siapanya pasien?" Dokter itu justru balik bertanya.

"Saya pengemudi yang tidak sengaja menabraknya, Dok. Jadi, bagaimana keadaan gadis tersebut?" William menjelaskan.

Dokter itu menarik napas sebelum mulai menjelaskan.

"Pasien mengalami pendarahan yang cukup parah. Selain itu, terdapat sedikit keretakan pada tulang tengkoraknya. Pasien juga membutuhkan transfusi darah. Sayangnya, stok darah dengan golongan yang sama saat ini tidak tersedia di rumah sakit karena golongan darah pasien sangat langka."

Wajah William semakin panik.

"Apakah kondisinya buruk, Dok? Dan gadis itu memiliki golongan darah apa? Siapa tahu golongan darah saya sama dengan dia."

"Saya belum bisa memastikan kondisinya sebelum pasien mendapatkan transfusi darah. Semoga saja malam ini pasien dapat melewati masa kritisnya."

Dokter itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Untuk golongan darahnya, pasien memiliki Rh-null atau Rhesus-null, yang biasa disebut golden blood. Golongan darah ini sangat langka. Pemiliknya dapat mendonorkan sel darah merahnya kepada pasien dengan golongan darah Rh negatif."

Deg!

William dan Kennedy terdiam.

Mereka saling menatap.

Golongan darah tersebut bukanlah sesuatu yang asing bagi keluarga mereka.

Sebab, di keluarga mereka hanya ada beberapa orang yang memiliki golongan darah Rh-null.

Papah Hendra.

Aldino.

Dan...

"Rh-null, Dok?" tanya Kenzie dan Kennard hampir bersamaan.

Keduanya tampak terkejut mendengar informasi tersebut.

"Betul. Pasien memiliki golongan darah Rh-null. Apakah di antara kalian ada yang memiliki golongan darah tersebut? Pasien sangat membutuhkan donor darah secepatnya."

Kenzie menatap William dengan penuh tanda tanya.

"Bang, ini maksudnya apa? Kenapa gadis itu memiliki golongan darah yang sama dengan Papah Hendra, Aldino, dan... 'dia'?"

William masih terdiam.

Ia seperti baru saja mendapatkan kepingan terakhir dari sebuah teka-teki yang selama ini tidak pernah mampu mereka pecahkan.

Namun, bukannya menjawab pertanyaan Kenzie, William justru segera mengambil ponselnya. Ia berjalan sedikit menjauh sebelum menghubungi seseorang yang memiliki golongan darah sama dengan gadis tersebut.

Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung.

"Halo, Pah."

William terdiam mendengarkan suara di seberang telepon.

"Pah, bisa datang ke rumah sakit keluarga kita sekarang?"

Kembali hening.

"Bukan, Pah. William nggak bisa menjelaskannya lewat telepon sekarang. Nanti William jelaskan setelah Papah datang ke rumah sakit."

William kembali mendengarkan.

"Iya, Pah. William tunggu."

Panggilan itu berakhir.

William memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian berjalan kembali menghampiri dokter dan ketiga adiknya.

"Abang kenapa telepon Papah? Siapa gadis itu, Bang? Kenapa golongan darah gadis itu sama dengan milik 'dia'?" Kenzie membombardir William dengan berbagai pertanyaan.

Pertanyaan itu seolah mewakili rasa penasaran ketiga adiknya.

William tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap dokter dengan serius.

"Saya sudah menghubungi keluarga saya yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis di dalam, Dok. Tapi sebelumnya, saya ingin meminta tes DNA terhadap gadis itu. Apakah bisa dilakukan dengan adik saya ini?"

William menunjuk Kennedy.

Ucapan tersebut justru membuat ketiga remaja itu semakin penasaran sekaligus khawatir terhadap fakta yang mungkin akan terungkap sebentar lagi.

Kennedy menatap William dengan tatapan penuh harap.

"Bang... apakah gadis di dalam itu 'dia'?"

William terdiam beberapa saat.

"Abang nggak tahu, Ken. Abang juga nggak yakin."

Tatapannya beralih ke pintu IGD.

"Tapi sebelum kita melakukan tes DNA, kita nggak akan pernah tahu kebenarannya."

Kennedy menelan ludah.

Sementara itu, di dalam hati mereka bertiga, sebuah harapan yang selama ini mereka kubur perlahan mulai muncul kembali.

Bagaimana jika gadis yang sedang terbaring di balik pintu IGD itu benar-benar...

Adik perempuan mereka yang selama ini mereka yakini telah hilang?

...........................................

Mansion Pratama

Di sebuah kamar di Mansion Pratama, Mahendra baru saja menerima panggilan telepon dari William, putra sulung kakaknya, Aryan.

William memintanya datang ke rumah sakit milik keluarga mereka.

Mahendra merasa bingung dengan permintaan mendadak tersebut. Namun, tanpa banyak bertanya, ia segera bersiap dan mengganti pakaiannya.

Zailine yang melihat sang suami berganti pakaian di tengah malam tentu merasa heran.

Ia menoleh ke arah jam dinding.

Pukul sebelas malam.

Mau ke mana suaminya keluar malam-malam begini?

Batin Zailine.

"Mau ke mana, Mas?" tanyanya, membuat Mahendra yang sedang bersiap di depan meja rias menoleh.

"Lho, Sayang? Kamu bangun?" Mahendra berjalan mendekati tempat tidur. "Ini masih malam. Lebih baik kamu istirahat lagi, ya."

Zailine menggeleng.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Kamu mau ke mana malam-malam begini?"

Mahendra menghela napas.

Ia tahu dirinya tidak akan bisa membohongi sang istri.

Akhirnya, dengan sabar Mahendra menjelaskan bahwa William baru saja menelepon dan memintanya datang ke rumah sakit Pratama.

Mendengar penjelasan sang suami, Zailine tentu saja langsung memaksa untuk ikut.

Dan pada akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi bersama.

Tanpa mereka sadari, malam itu akan menjadi awal dari terungkapnya sebuah rahasia besar yang selama bertahun-tahun terkubur dalam keluarga Pratama.

bab 3

Tap... tap... tap...

Beberapa langkah kaki terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit, menuju sebuah ruangan setelah salah satu anak laki-laki mereka menelepon dan meminta mereka datang dengan segera.

Ya, beberapa orang yang berjalan tergesa-gesa itu adalah Mahendra, Aryan, Zailine, dan Priscillia.

Sebelumnya, saat Mahendra dan istrinya hendak berangkat menuju rumah sakit, sang kakak, Aryan, dan istrinya, Priscillia, yang sedang bersantai di ruang keluarga, menghentikan langkah mereka dan menanyakan ke mana mereka hendak pergi malam-malam seperti ini. Mahendra pun menjelaskan semuanya.

Dan sekarang, mereka semua berada di sini. Berjalan menuju sebuah ruangan yang disebutkan William melalui telepon. William adalah putra sulung Aryan Pratama.

Di dalam benak mereka semua dipenuhi berbagai pertanyaan.

Mengapa William menyuruh papahnya datang ke rumah sakit dengan segera?

Atau jangan-jangan ada salah satu anak mereka yang terluka?

Rombongan keluarga Pratama akhirnya melihat keempat putra mereka sedang berdiri di depan ruang IGD. Pemandangan itu justru membuat para tetua keluarga Pratama semakin bingung.

Jika keempat putra mereka berada di sana, lalu siapa yang terluka dan sedang berada di dalam IGD?

"William..." panggil Mahendra kepada salah satu keponakannya.

"Pah, ayo ikut William dulu."

William segera menarik lengan papah Mahendra yang telah berdiri tepat di hadapannya.

"Tapi, Nak..."

"Kita nggak punya banyak waktu, Pah." William kembali menarik tangan papahnya.

"Okay. Papah ikut kamu. Tapi setelah ini, kamu ceritakan semuanya kepada kami tanpa alasan apa pun."

William mengangguk tanda mengerti.

Segera setelah itu, papah Mahendra dan William masuk ke dalam IGD. Di sana, Queen sedang ditangani oleh tim dokter yang sibuk memeriksa kondisinya.

Sekilas, papah Mahendra melihat ke arah tempat Queen terbaring. Tubuh gadis itu dipenuhi luka dan darah.

Papah Mahendra sontak terkejut.

Seorang anak perempuan.

Namun bukan itu yang membuatnya terkejut.

Wajah gadis itu...

Sangat mirip dengan wajah sang istri ketika masih muda.

Mahendra segera menoleh ke arah William yang saat itu sedang berdiri berhadapan dengan seorang dokter.

William menyadari tatapan papahnya dan segera menghampirinya.

"William tahu apa yang mau Papah tanyakan. Nanti William akan jelaskan semuanya di hadapan semua orang."

"Papah tunggu penjelasan kamu, Nak."

---

Sementara itu, di luar IGD, seluruh keluarga Pratama menunggu dengan gelisah karena papah Mahendra dan William masih belum keluar.

"Sebenarnya ada apa ini, Ken? Kenapa papah kamu dan kakak kamu masuk ke dalam sana?" tanya mamah Zailine kepada putra sulungnya sambil menunjuk ruangan di hadapan mereka.

"Ken sendiri nggak mengerti, Mah. Tadi, sewaktu kami dalam perjalanan pulang ke mansion, Bang William secara tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan. Ternyata anak perempuan tersebut terluka parah dan kehilangan banyak darah. Sedangkan darah yang dibutuhkan anak perempuan itu cukup langka, sama seperti golongan darah yang dimiliki sebagian besar anggota keluarga kita, terutama Papah."

Penjelasan Ken membuat mamah Zailine terduduk lemas.

"Ja... jadi, di dalam sana ada anak perempuan yang membutuhkan transfusi darah dengan golongan yang sama seperti darah papah kamu, Ken?"

Ken mengangguk membenarkan pertanyaan sang mamah.

Mamah Zailine sangat ingat bahwa orang yang memiliki golongan darah sama dengan sang suami hanyalah si kembar bungsu mereka. Salah satunya bahkan masih menghilang hingga detik ini.

Mamah Zailine menggeleng, seakan tidak mempercayai pikirannya sendiri. Kemudian, ia menoleh ke arah Priscillia, sang kakak ipar, yang berdiri di sampingnya sambil menggenggam erat tangannya, seolah memberikan kekuatan.

"Kita berdoa sama-sama, ya, Aline. Semoga anak perempuan yang ada di dalam sana bukan Queen seperti yang ada di pikiran kita saat ini," hibur mamih Priscillia.

Sebisa mungkin Priscillia berusaha menenangkan Zailine agar kondisi kesehatannya tidak kembali drop seperti yang sering terjadi selama hampir belasan tahun terakhir akibat kehilangan permata keluarga mereka.

"Ta... tapi, Mbak..."

Belum sempat Zailine menyelesaikan ucapannya, terdengar suara pintu terbuka.

Kreeek...

Papah Mahendra dan William keluar dari dalam ruangan IGD, diikuti oleh tim dokter yang berjalan di belakang mereka.

"Saya harap permintaan tes DNA tadi segera dilaksanakan. Dan segera kabari kami begitu hasil tesnya keluar," pinta papah Mahendra kepada salah seorang dokter.

"Baik, Tuan Hendra. Akan kami lakukan secepat mungkin. Hasil tes DNA kemungkinan bisa keluar dalam empat puluh delapan jam ke depan," ucap Dokter Eshwar, selaku kepala Rumah Sakit Medika Pratama, yang langsung turun tangan begitu mengetahui sang pemilik rumah sakit berada di IGD.

"Apa hasil tes tersebut tidak bisa dipercepat, Dok?" tanya William. Ia berharap proses tes DNA antara papah Mahendra dan anak perempuan yang diduga sebagai adik bungsunya itu bisa dilakukan lebih cepat.

Dokter Eshwar menggeleng.

"Maaf, Tuan William. Empat puluh delapan jam adalah prosedur tercepat yang bisa kami usahakan agar hasil tes DNA tersebut keluar."

Papah Mahendra menepuk bahu William dan berkata dengan suara sendu,

"Nggak apa-apa, Son. Kita ikuti saja prosedur yang ada sambil menunggu anak perempuan itu sadar. Papah yakin sekali kalau anak tersebut adalah princess kita yang hilang."

Dokter Eshwar kemudian pamit masuk kembali ke dalam IGD untuk mengawasi proses penanganan anak perempuan yang diduga sebagai putri bungsu pemilik rumah sakit tempat dirinya mengabdi.

Sementara itu, keluarga Pratama yang mendengar ucapan papah Mahendra kepada kepala rumah sakit mereka masih kebingungan.

Namun tidak dengan mamah Zailine.

Entah mengapa, sejak awal dirinya sudah memiliki firasat tentang sesuatu yang akan disampaikan sang suami.

Sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan permata hati mereka yang telah menghilang selama tiga belas tahun.

Papah Mahendra dan William berjalan mendekati tempat seluruh keluarga Pratama berkumpul.

"Ada apa sebenarnya, Son?" tanya Kakek Arnawama Pratama, sang kepala keluarga Pratama. "Ayah tadi mendengar kamu meminta Dokter Eshwar melakukan tes DNA. Kamu hendak melakukan tes DNA kepada siapa, Son?"

Huft...

Papah Mahendra membuang napas perlahan.

Ia harus menyampaikan sebuah kabar yang akan membuat keluarganya bahagia sekaligus hancur.

Kabar bahagia karena kemungkinan besar permata yang selama ini mereka cari telah ditemukan.

Namun di sisi lain, ada kabar menyedihkan karena permata mereka ditemukan dalam kondisi kritis akibat kecelakaan yang dialaminya.

"Jadi, Hendra punya dua kabar untuk kita semua, Yah."

"Kabar apa, Hen? Jangan buat kami penasaran! Cepat beritahu!" potong papih Aryan tak sabar.

"Sabar, Aryan. Biarkan adikmu menyampaikan kedua kabar itu terlebih dahulu," ujar Kakek Arnawama, menenangkan anak sulungnya yang memang terkadang tidak sabaran.

Mahendra menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka suara.

"Kabar yang pertama... kemungkinan princess kita sudah ketemu, Yah."

Deg... deg...

Seluruh anggota keluarga Pratama terkejut mendengar ucapan papah Mahendra.

Princess mereka.

Permata kesayangan keluarga yang telah mereka cari selama bertahun-tahun...

Ada kemungkinan telah ditemukan.

Hanya mamah Zailine yang tidak sepenuhnya terkejut karena sejak awal dirinya sudah menduga apa yang akan disampaikan sang suami.

Namun, ketakutan justru semakin memenuhi hatinya ketika mengingat kabar kedua yang kemungkinan berkaitan dengan kecelakaan anak perempuan yang tadi membutuhkan donor darah dari Mahendra.

"Mas..." Zailine mencengkeram erat lengan sang suami. "Jangan bilang kabar kedua yang mau Mas sampaikan itu berkaitan dengan anak perempuan yang membutuhkan donor darah dari Mas tadi."

Papah Mahendra mengangguk pelan.

Tatapannya menatap sendu sang istri.

"Iya, Sayang. Kemungkinan anak perempuan itu adalah princess kita."

Mahendra menarik napas panjang.

"Untuk memastikan semuanya, tadi aku sudah meminta Dokter Eshwar melakukan tes DNA."

Tubuh Zailine seketika melemas.

Bruk!

"MAMAHHH!"

"SAYANGGG!"

"YA TUHAN, ALINE!"

Tubuh Zailine ambruk di pelukan orang-orang terdekatnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!