Suara bising mesin pengering rambut di salon kelas atas itu tak mampu meredam lamunan Dania. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik, memang. Di usia 21 tahun, ia sudah menyandang gelar ganda, S.M. dan S.Ked. Namun, di balik mata indahnya, ada kabut kesepian yang dalam.
"Selesai, Nona Dania. Anda terlihat sangat mempesona dengan gaya Navy hair ini," puji sang penata rambut dengan tulus.
Dania tersenyum tipis, tipe senyum yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih, Mbak."
Dania terbiasa sendiri. Sejak kecelakaan pesawat merenggut orang tuanya 15 tahun lalu, dan disusul wafatnya Bik Emi, satu-satunya pelindung yang ia miliki—Dania membangun benteng tinggi di sekeliling hatinya. Ia tidak butuh pria-pria yang mendekatinya hanya karena wajah atau hartanya. Ia punya D’Bakery, bisnis yang ia bangun dari nol dengan keringatnya sendiri.
Malam itu, dengan gaun selutut berwarna lilac yang kontras dengan kulit putih susunya, Dania mengemudikan mobilnya menuju Batrix Hotel.
🤍__________Calix &Dania___________🤍
Ballroom Batrix Hotel sudah penuh sesak. Aroma parfum mahal dan tawa basa-basi memenuhi udara. Begitu Dania melangkah masuk, keheningan singkat sempat terjadi. Keanggunannya yang alami menarik perhatian semua orang bagai magnet.
"Wah, itu Dania, kan? Si jenius yang lulus dua gelar sekaligus?" bisik seseorang.
"Gila, cantik banget. Tapi denger-denger dia sombongnya minta ampun," timpal yang lain.
Dania mengabaikan bisikan itu. Ia berjalan menuju pojok kiri ruangan, mencari tempat paling sunyi. Namun, sepasang mata tajam milik Gabriel mengikutinya dengan benci.
"Cih, sok cantik," desis Gabriel. Ia memutar-mutar gelas sampanye nya dengan geram. "Dia pikir dia siapa bisa mencuri semua perhatian malam ini?"
Gabriel memanggil seorang pelayan yang lewat. Ia menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke saku pelayan itu. "Antarkan gelas ini pada wanita berbaju lilac di pojok sana. Pastikan dia meminumnya sampai habis. Mengerti?"
Pelayan itu mengangguk takut-takut. "Baik, Nona."
Tak lama kemudian, pelayan itu sampai di meja Dania. "Permintaan maaf, Nona. Ini minuman selamat datang khusus untuk tamu kehormatan."
Dania yang memang merasa haus karena hawa panas ballroom, menerima gelas itu tanpa curiga. "Terima kasih."
Hanya butuh sepuluh menit sampai dunia Dania mulai berputar. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. "Kenapa... panas sekali?" gumamnya. Pandangannya mengabur. Dengan sisa tenaga, Dania berdiri, berniat mencari kamar di hotel ini untuk beristirahat. Ia tidak tahu, arah langkahnya sedang membawanya pada bencana sekaligus takdir.
Di lantai yang sama, suasana tegang menyelimuti langkah Calix Matthew Batrix. CEO muda pemilik hotel itu berjalan terburu-buru, didampingi Samuel, asisten pribadinya.
"Tuan Calix, Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat merah," tanya Samuel cemas.
Calix mengumpat tertahan. "Brengsek si Raka itu... Dia memasukkan sesuatu ke minumanku saat tanda tangan kontrak tadi."
Napas Calix memburu. Otot-otot tubuhnya menegang hebat. Efek obat perangsang dosis tinggi itu mulai membakar logikanya. "Samuel, jangan biarkan siapapun masuk ke kamarku. Aku butuh mandi air dingin."
"Baik, Tuan."
Calix masuk ke kamar VVIP-nya dan membanting pintu. Namun, pemandangan di depannya justru membuat suhu tubuhnya melonjak ke titik didih. Di atas ranjangnya, seorang gadis dengan gaun lilac yang sedikit tersingkap sedang mengerang halus dalam tidurnya.
"Siapa... kau?" bisik Calix parau.
Dania, yang sudah setengah sadar akibat pengaruh obat yang sama, membuka matanya sayu. "Panas... tolong..."
Melihat wajah Dania yang luar biasa cantik dengan bibir merah alami yang menggoda, pertahanan Calix runtuh. Obat itu telah mengambil alih kendali. Ia mendekat, menindih tubuh mungil Dania, dan membisikkan suara berat di telinganya.
"Kau yang datang ke kamarku, manis. Jangan salahkan aku jika malam ini tidak akan pernah kau lupakan."
Dania mencoba mendorong dada bidang pria asing itu. "Jangan... pergi..." Namun, sentuhan Calix justru terasa seperti air di tengah padang pasir bagi tubuhnya yang terbakar.
Malam itu, di bawah remang lampu kamar, dua jiwa yang terjebak dalam jebakan kimiawi bersatu dalam pergulatan panas yang tak terelakkan.
Sinar matahari menyusup melalui celah gorden. Dania terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Saat ia menoleh, jantungnya seolah berhenti berdetak. Seorang pria tampan—sangat tampan—sedang tidur lelap di sampingnya. Lengan berotot pria itu melingkar posesif di pinggang rampingnya.
Ingatan malam tadi menghantam Dania seperti truk. Pesta, minuman, salah masuk kamar... dan pria ini.
"Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?" bisik Dania gemetar.
Ia melihat ke bawah selimut. Mereka berdua tanpa busana. Dania melihat pakaiannya yang sudah robek di lantai. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia menyingkirkan tangan pria itu. Ia melihat kemeja putih milik pria itu tergeletak di kursi. Tanpa pikir panjang, Dania menyambarnya dan memakainya sebagai penutup tubuh.
Sebelum melangkah keluar, Dania tertegun menatap wajah Calix yang tenang dalam tidurnya. Rahang tegas itu, bulu mata yang lebat...
"Maafkan aku, aku harus pergi," bisiknya lirih.
Dania keluar dari kamar dengan hati hancur. Saat menutup pintu, ia melihat nomor kamar tersebut: 909. Sedangkan kunci yang ia pegang adalah untuk kamar 906.
"Aku salah kamar," isaknya kecil sambil berlari menuju lift. Ia harus pulang. Ia harus melupakan malam ini, meski ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah ini.
Dania berjalan terburu-buru menyusuri lorong hotel yang panjang. Kemeja putih kebesaran milik Calix ia kancing kan hingga ke leher, sementara tangannya mencengkeram erat ujung kemeja itu untuk menutupi pahanya. Rambut gelombangnya berantakan, dan matanya sembab. Ia hanya ingin mencapai lift, pulang, dan mengunci diri di kamar.
Namun, saat ia berbelok di dekat lobi lift, sebuah tawa sinis menghentikan langkahnya.
"Wah, wah... lihat siapa yang baru keluar dari sarang singa," suara melengking itu membuat bulu kuduk Dania berdiri.
Gabriel berdiri di sana, bersedekap dada dengan senyum kemenangan yang menjijikkan. Ia tidak sendirian, ada dua orang temannya yang sudah siap dengan ponsel di tangan, seolah sedang menunggu momen ini.
"Gabriel..." desis Dania, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Gabriel melangkah maju, matanya memandangi Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lihat penampilanmu, Dania. Ke mana perginya si 'Nona Jenius' yang terhormat? Kenapa kau memakai kemeja pria? Dan astaga... apa itu tanda di lehermu?"
Dania refleks menutupi lehernya. "Minggir, Gabriel. Aku tidak punya waktu untuk urusan sampahmu."
"Sampah?" Gabriel tertawa keras, suaranya menggema di lorong. "Kau yang sampah! Aku sengaja menunggumu di sini sejak subuh karena aku tahu rencana hebat ku berhasil. Bagaimana rasanya ditiduri pria asing, huh? Apakah pelayan yang kukirim semalam melayani mu dengan baik?"
Dania tertegun. Amarah mulai membakar rasa malunya. "Jadi benar... kau yang memasukkan sesuatu ke minumanku?"
"Tentu saja!" Gabriel mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Dania. "Aku muak melihatmu dipuja-puja. Aku ingin semua orang tahu bahwa Dania yang sok suci ini ternyata tidak lebih dari seorang wanita murahan yang menggoda pria di hotel demi kesenangan semalam."
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Gabriel. Suasana seketika hening. Teman-teman Gabriel ternganga, ponsel mereka hampir jatuh.
"Kau..." Gabriel memegangi pipinya yang panas, matanya menyalang merah. "Kau berani menamparku?!"
"Itu untuk harga diriku yang kau injak-injak," ucap Dania dengan suara bergetar namun tegas. "Dengarkan aku, Gabriel. Kau mungkin punya sejuta rencana busuk, tapi kau lupa satu hal. Aku tidak selemah yang kau kira. Jika rekaman atau berita apa pun tentang malam ini tersebar, aku pastikan kau dan keluargamu akan membusuk di penjara atas tuduhan pembiusan dan pencemaran nama baik. Aku punya uang, dan aku punya otak untuk menghancurkan mu tanpa harus menyentuhmu lagi."
Gabriel gemetar karena marah dan sedikit ketakutan melihat kilat di mata Dania. "Kau tidak punya bukti!"
"Oh, ya? Hotel ini punya CCTV, dan darahku masih menyimpan sisa obat yang kau berikan," Dania melangkah maju, membuat Gabriel mundur selangkah. "Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, atau kau akan menyesal pernah mengenalku."
Dania berjalan melewati Gabriel dengan kepala tegak, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia masuk ke dalam lift yang terbuka, meninggalkan Gabriel yang berteriak frustrasi di lorong.
Begitu pintu lift tertutup, pertahanan Dania runtuh. Ia merosot di lantai lift, terisak dalam diam. Ia berhasil mengancam Gabriel, tapi ia tahu, kenyataan bahwa ia telah menyerahkan kesuciannya pada pria asing di kamar 909 tidak akan pernah bisa dihapus.
🤍___________Calix &Dania____________🤍
Di dalam kemewahan kamar 909 yang masih berantakan, Calix Matthew Batrix perlahan membuka matanya. Denyut di pelipisnya perlahan memudar, digantikan oleh kepingan ingatan semalam yang menghantamnya secara brutal.
Wajahnya yang tampan seketika mengeras. Amarah mendidih dalam dadanya saat mengingat senyum licik Raka Anderson—tua bangka itu berani meracuninya. Namun, kemarahan itu sedikit mereda ketika ia merasakan aroma vanilla dan melati yang masih tertinggal di bantalnya.
Calix teringat wanita itu. Suaranya yang merdu saat mengerang kesakitan, sentuhannya yang lembut, dan wajah cantiknya yang tampak murni di bawah cahaya remang. Tanpa sadar, sudut bibir Calix terangkat tipis. Sebuah senyuman yang sangat langka.
"Senjata makan tuan, Raka," gumamnya dengan suara rendah dan serak.
Namun, senyum itu menghilang saat ia melihat noda darah merah yang mengering di atas seprai putih. Jantung Calix berdegup kencang. Wanita itu menyerahkan segalanya padanya dalam keadaan yang sama-sama tidak sadar.
Ia segera meraih ponsel di nakas dan menghubungi asisten pribadinya. "Samuel, ke kamarku sekarang. Dan siapkan mobil."
Lobi Batrix Group gempar pagi itu. Sang CEO, Calix Matthew Batrix, melangkah masuk dengan aura yang begitu mengintimidasi. Di sampingnya, Samuel berjalan dengan wajah siaga.
Kehadiran Calix seperti badai yang membekukan waktu. Para karyawan perempuan menahan napas, mata mereka mengikuti setiap gerak-gerik pria yang seolah berjalan di atas tumpukan dolar itu.
"Tuhan, kalau Engkau mau memberiku jodoh, yang speknya seperti Tuan Calix saja," bisik seorang karyawan di balik bilik kantornya.
"Mimpi! Lihat tatapannya, bisa membuatmu mati berdiri sebelum sempat disapa," timpal temannya.
"Tapi lihatlah... aura pria matang memang tidak ada lawan. Sayang sekali dia lebih dingin dari kutub utara," desah karyawan lain sambil memandangi punggung Calix yang tertutup jas custom-made mahal.
Begitu sampai di ruang kerjanya yang luas, Calix melepas jas dan melemparkannya ke kursi. Ia berbalik menatap Samuel dengan mata tajam yang tak terbantahkan.
"Sam, aku mau kau cari tahu siapa wanita yang bersamaku di kamar semalam. Aku mau datanya sudah ada di mejaku sebelum makan siang. Lengkap tanpa celah," perintah Calix dingin.
Samuel sempat tertegun sesaat—tuannya tidak pernah mempedulikan wanita—namun ia segera membungkuk. "Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."
Satu jam kemudian, Samuel kembali ke ruangan Calix dengan wajah pucat.
"Ada apa, Sam? Mana datanya?" tanya Calix tanpa beralih dari dokumen di depannya.
"Maaf, Tuan... terjadi sesuatu yang aneh," Samuel menyeka keringat dingin di keningnya. "Kami berhasil mengakses rekaman CCTV lantai sembilan dan mengidentifikasi wajahnya. Namun, saat tim IT mencoba meretas data kependudukan dan identitas penerbangannya... laptop mereka tiba-tiba berasap dan terbakar habis. Sebuah virus enkripsi menghancurkan seluruh sistem pencarian kami."
Calix meletakkan penanya. Ia menyandarkan punggungnya, matanya menyipit. "Siapa wanita ini sebenarnya?"
"Dia bukan orang biasa, Tuan. Dia sepertinya tahu kita sedang mencarinya. Dia sengaja meninggalkan virus untuk menghentikan kita."
Di sudut lain kota, Dania sedang menutup koper besarnya. Ia baru saja menyelesaikan aksinya di depan laptop—menghapus jejaknya dari sistem CCTV bandara dan memalsukan manifest penerbangan. Ia tahu Calix bukan orang sembarangan, dan pria itu pasti akan mencarinya.
Dania menatap kemeja putih milik Calix yang belum sempat ia cuci. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Ia benci kejadian semalam, tapi ia tahu pria itu juga korban dari kelicikan Raka Anderson.
"Pak Ujang," panggil Dania saat turun ke lantai bawah.
Pak Ujang, penjaga rumahnya yang setia, menghampiri dengan raut bingung. "Loh, Non Dania mau ke mana bawa koper besar begini?"
Dania tersenyum lembut, mencoba menyembunyikan luka di matanya. "Saya mau pergi sebentar, Pak. Mungkin cukup lama. Saya titip rumah ya. Untuk urusan toko, Metha yang akan mengurus semuanya."
"Tapi Non, ini mendadak sekali..."
"Semua akan baik-baik saja, Pak. Tolong jaga diri baik-baik," Dania memeluk pria tua itu singkat sebelum melangkah masuk ke taksi yang sudah menunggunya.
Di dalam pesawat yang mulai bergerak menuju landasan pacu, Dania menyandarkan kepalanya di jendela. Ia menatap daratan Negara A yang perlahan mengecil.
Ia telah meninggalkan segalanya—bisnisnya yang sedang berkembang, rumah kenangannya, dan pria yang telah mengambil kesuciannya. Di saku tasnya, ia menggenggam kartu nama bertuliskan Calix Matthew Batrix yang ia temukan di saku kemeja pria itu.
"Kita tidak seharusnya bertemu dengan cara seperti itu, Calix," bisiknya lirih pada awan di balik jendela.
Dania memejamkan mata nya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di Negara Y, namun satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan siapa pun menemukannya sampai ia siap menghadapi kenyataan dari malam yang terkutuk sekaligus tak terlupakan itu.
Selamat tinggal, masa lalu.
Sepuluh jam mengudara, Dania akhirnya menginjakkan kaki di Negara Y. Udara dini hari yang dingin menusuk tulang, namun hatinya terasa sedikit lebih lega. Jarak ribuan kilometer kini memisahkannya dari tragedi di kamar 909.
"Sebuah hotel dekat bandara saja dulu," gumamnya lelah. Ia menyeret kopernya menuju taksi. "Besok aku harus mulai mencari rumah permanen. Aku tidak boleh meninggalkan jejak digital di sini.
Di belahan dunia lain, tepatnya di ruang kerja puncak gedung Batrix Group, Calix Matthew Batrix duduk dengan kaku. Fokusnya pada dokumen di atas meja mendadak buyar saat suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk," sahutnya, dingin dan tajam.
Samuel melangkah masuk dengan napas sedikit tertahan. Ia meletakkan sebuah map cokelat di hadapan bosnya. "Tuan, ini data yang Anda minta mengenai wanita itu."
Calix segera menegakkan punggung. Saat jemarinya menyentuh map itu, jantungnya tiba-tiba berulah.
Deg. Deg. Deg.
Calix mengepalkan tangan kiri dan menekannya ke dada. Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak seperti genderang perang hanya karena sebuah map? Apa organ ini sudah rusak dan harus diganti? batinnya heran.
"Tuan? Anda baik-baik saja? Wajah Anda sedikit... aneh," Samuel bertanya dengan nada khawatir yang tulus.
Calix tersentak dari lamunannya. Ia menatap Samuel dengan tatapan membunuh. "Kau mau mati, Sam? Berhenti berteriak di depanku!"
"Maaf, Tuan," Samuel menunduk dalam. Ia tahu betul siapa pria di depannya. Samuel berhutang nyawa dan masa depan pada Calix sejak insiden preman 13 tahun lalu. Tanpa Calix, ia dan adiknya, Mikhayla, mungkin sudah membusuk di jalanan. Kesetiaannya pada Calix adalah harga mati.
Calix membuka map itu. Matanya terpaku pada sebuah foto.
Nama: Daniella Dania
Umur: 21 Tahun
Status: Lajang
Pendidikan: Lulusan terbaik (S.M. & S.KED)
Pekerjaan: Pemilik D’Bakery
"Daniella Dania..." Calix mengecap nama itu di lidahnya. Mine, batinnya posesif. Namun, senyum tipis di wajahnya segera lenyap saat ia melihat lembar berikutnya yang hampir kosong.
Calix menatap Samuel dengan tajam, menuntut penjelasan.
"Maaf seribu maaf, Tuan," Samuel bergegas menjelaskan sebelum bosnya meledak. "Hanya itu yang bisa kami temukan. Informasi pribadinya terkunci rapat oleh enkripsi tingkat tinggi. Tim IT kita bahkan menyerah—laptop mereka terbakar saat mencoba menembus pertahanan digitalnya. Nona Dania... dia bukan orang sembarangan."
Calix terdiam. Rasa penasarannya berubah menjadi kekaguman yang berbahaya. "Wanita ini... dia menantangku."
Ia berdiri mendadak, menyambar jasnya. "Siapkan mobil. Sekarang."
BAB 13: Rumah yang Kosong
Perjalanan 45 menit menuju kediaman Dania terasa seperti keabadian bagi Calix. Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang asri, dikelilingi bunga mawar yang mekar indah. Sangat kontras dengan pemiliknya yang misterius.
Pak Ujang, yang sedang membersihkan halaman, mengernyit bingung melihat mobil asing itu. "Cari siapa, ya, Den?" tanyanya saat Samuel turun dari mobil.
"Saya Samuel. Kami ingin bertemu dengan Nona Dania," ujar Samuel sopan sambil melirik ke arah kaca gelap mobil di mana Calix duduk memantau.
Pak Ujang menghela napas panjang, wajahnya berubah sendu. "Walah, Den. Non Dania sudah pergi tadi pagi-pagi sekali."
Samuel tersentak. "Pergi? Ke mana?"
"Kurang tahu, Den. Non Dania cuma bilang mau pergi jauh dan lama. Dia bawa koper besar sekali. Katanya rumah ini dititipkan ke saya untuk dijaga," jawab Pak Ujang.
Dunia Samuel terasa runtuh seketika. Mati aku! Tuan Calix tidak akan suka ini, batinnya menjerit. Ia segera kembali ke mobil dan melaporkan berita buruk itu dengan suara bergetar.
"Tuan... Nona Dania tidak ada. Penjaga rumahnya bilang dia pergi membawa koper besar pagi tadi."
Calix tidak menjawab. Matanya yang tajam menatap rumah kosong itu seolah ingin membakarnya dengan pandangan. Tanpa aba-aba, Calix membuka pintu mobil dan keluar. Aura kemarahannya begitu pekat hingga Pak Ujang yang hendak melarangnya pun mendadak kaku ketakutan.
"Jangan menahanku jika kau masih ingin melihat matahari besok," gumam Calix dingin saat melewati Pak Ujang.
Samuel segera menahan lengan Pak Ujang agar tidak terkena amukan tuannya. "Biarkan saja, Pak. Bos saya sedang tidak dalam suasana hati yang baik."
Calix berdiri di depan pintu rumah Dania yang terkunci. Ia kehilangan wanita itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada sesuatu yang lolos dari genggamannya.
"Kau pikir kau bisa lari dariku, Dania?" bisik Calix dengan nada yang menjanjikan perburuan besar. "Ke mana pun kau pergi, aku akan menemukanmu. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan membiarkanmu bernapas tanpa izinku."
Calix Matthew Batrix tidak pernah meminta izin. Ia melangkah dengan sepatu handmade-nya yang mengkilap, memecah kesunyian rumah Dania yang tenang. Samuel, sang asisten setia, bergerak lebih cepat. Ia menghampiri Pak Ujang yang masih mematung.
"Kunci rumah ini. Berikan sekarang," tuntut Samuel. Suaranya rendah namun penuh penekanan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Tapi Tuan... Nona Dania tidak mengizinkan—"
Samuel memotong kalimat Pak Ujang dengan tatapan sedingin es. Wajahnya yang biasa tenang kini memerah menahan amarah yang tertular dari tuannya. "Jangan membuatku mengulangi perintahku, Pak Tua. Kesabaran bosku ada batasnya."
Gemetar, Pak Ujang menyerahkan serangkaian kunci perak itu. Samuel segera menyusul Calix dan membuka pintu utama dengan satu gerakan tegas.
"Siapa sebenarnya mereka? Apa rumah ini akan dirampok?" bisik Pak Ujang lirih, hanya bisa memandangi pintu yang tertutup dari kejauhan dengan jantung berdebar kencang.
Di dalam rumah, aroma vanilla—aroma khas Dania—langsung menyapa indra penciuman Calix. Ia mengedarkan pandangan ke ruang tamu yang didominasi warna abu-abu kalem. Sangat elegan, sangat mencerminkan wanita yang sanggup meretas sistem IT perusahaannya.
"Sam," panggil Calix tanpa menoleh. Suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Hubungi Satria sekarang. Katakan padanya, aku tidak menerima kegagalan. Cari jalur keberangkatan Dania. Darat, laut, udara—periksa semuanya!"
"Baik, Tuan."
Samuel segera menjauh dan menghubungi Satria. Di seberang sana, suara malas seorang pria terdengar di antara dentum musik klub.
"Halo... ada apa, Sam? Mengganggu waktu party-ku saja," suara Satria terdengar santai.
"Tutup mulutmu dan dengarkan, Satria," potong Samuel tajam. "Bos memerintahkanmu mencari jejak Nona Dania. Sekarang juga. Lacak semua manifes keberangkatan hari ini."
Satria langsung terlonjak dari sofa empuknya, membuat para wanita di sekelilingnya terheran. "Apa? Nona Dania? Wanita misterius kamar 909 itu?"
"Ya. Dan dengarkan ini baik-baik," Samuel menjeda, suaranya memberat. "Malam ini informasinya harus ada di meja Tuan Calix. Jika gagal... kau tahu sendiri bagaimana cara bos menghabisi pengkhianat atau orang yang tidak berguna."
Glek. Satria menelan ludah dengan susah payah. Bayangan wajah dingin Calix saat memegang senjata api melintas di benaknya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!