Indonesia
NovelToon NovelToon

Penyesalan ( Karena Telah Selingkuh )

BAB 1-SELINGKUH

Hari perlahan tenggelam, malam merayap sunyi. Jam dinding menunjukkan tepat pukul delapan malam.

Di dapur apartemen yang hangat oleh aroma masakan, Aluna masih setia berdiri di depan kompor. Tangannya cekatan, bibirnya sesekali melengkungkan senyum kecil. Ia memasak untuk suaminya Alaska yang sebentar lagi pasti pulang kerja.

Meja makan telah tertata rapi. Dua piring. Dua gelas. Semua seperti biasa. Terlalu biasa, hingga tak ada firasat buruk yang sempat singgah di benaknya.

Ceklek!

Suara pintu terbuka lalu tertutup memecah keheningan.

Aluna spontan menoleh, senyum di wajahnya mengembang penuh harap. Tanpa ragu, ia melangkah menuju ruang tengah untuk menyambut pria yang paling ia cintai.

“Honey, apakah kamu sudah pulang?” ucapnya ceria.

Namun langkah Aluna mendadak terhenti.

Senyumnya runtuh seketika. Di sana berdiri Alaska. Dan di sampingnya Sienna.

Dunia Aluna seakan berhenti berputar. Pandangannya terpaku, napasnya tercekat.

Senyum yang tadi menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa, berganti keterkejutan yang membeku.

Matanya beralih ke Alaska, penuh tanya dan tuntutan. Ia menunggu penjelasan.

Namun Alaska hanya diam. Rahangnya mengeras, tatapannya menghindar. Jelas ia kebingungan atau mungkin takut untuk membuka mulut.

“Mengapa kalian bersama?” tanya Aluna akhirnya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Sienna tetap membisu, justru bersembunyi di balik tubuh Alaska, seolah mencari perlindungan.

Pemandangan itu membuat dada Aluna semakin sesak.

Alaska akhirnya menghela napas panjang, berat, seakan menyiapkan dirinya untuk menjatuhkan sebuah vonis.

“Honey… ada yang ingin aku katakan kepadamu,” ucapnya lirih, nadanya sarat kesedihan.

Aluna mengernyit, satu alisnya terangkat. Ada sesuatu yang jelas tak beres. Nada Alaska bukan nada biasa.

“Katakan saja, Honey. Ada apa?” balas Aluna lembut, meski jantungnya mulai berdetak tak karuan.

Alaska menarik napas sekali lagi lebih panjang, lebih dalam lalu menghembuskannya dengan pasrah.

“Honey… S-Sienna hamil.”

Seakan petir menyambar tepat di atas kepala

Aluna.

“H-hubungannya Sienna hamil dengan kamu apa, Honey?” tanyanya terbata, kebingungan bercampur ketidakpercayaan.

Alaska menunduk. Suaranya hampir tak terdengar.

“Karena Sienna mengandung anakku, Honey.”

Dugkk!

Dada Aluna terasa dihantam benda berat. Nafasnya tercekat. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa sempit.

Ia menatap Alaska dengan mata berkaca-kaca.

“K-kamu bercanda, Honey?” tanyanya lagi, berharap semua ini hanyalah lelucon kejam.

Namun harapannya runtuh seketika.

“Aku tidak bercanda. Selama ini aku berselingkuh dengan Sienna.”

Kepala Alaska tetap tertunduk, seolah rasa bersalah terlalu berat untuk ditanggung tatapannya sendiri.

Aluna refleks memegangi kepalanya. Pikirannya kacau. Sesak di dadanya semakin menekan, membuatnya sulit bernapas.

Bagaimana mungkin? Alaska… bersama Sienna?

Perlahan, tatapan Aluna beralih ke Sienna.

Tatapan penuh selidik. Penuh luka.

Langkahnya maju, satu demi satu, hingga ia berdiri tepat di depan wanita itu. Dengan gerakan cepat, Aluna menarik rambut Sienna.

“Bagaimana kau bisa tega kepadaku, Sienna?! Kau tahu dia adalah pria yang kucintai!” teriaknya penuh emosi.

“Honey, cukup!” seru Alaska sambil menarik tangan Aluna.

Plak!

Tamparan itu mendarat keras di wajah Alaska.

Alaska terkejut. Namun Aluna lebih terkejut pada dirinya sendiri karena untuk pertama kalinya, suaminya menarik tangannya dengan kasar.

Air mata Aluna jatuh tanpa bisa dicegah. Tangannya gemetar, hatinya remuk.

“K-kamu sangat jahat,, apa salahku?” tanyanya lirih, penuh kepedihan.

“Kamu tidak salah, Honey. Aku yang bodoh dan egois. Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri…” jawab Alaska sambil menggenggam tangan Aluna.

“Alasannya?” tanya Aluna dengan suara bergetar.

“Aku merasa kesepian, frustasi, dan lelah dengan pekerjaanku. Itu membuatku berpikir untuk berselingkuh,” ucap Alaska, terdengar putus asa.

“Seharusnya kamu mencariku, Honey! Bukan bersama dia!” pekik Aluna sambil menunjuk Sienna.

Sienna semakin menunduk. Tubuhnya gemetar. Ia ingin membela diri, namun sadar ini memang kesalahannya.

Kesalahan karena menggoda, karena membiarkan segalanya berlanjut. Alaska, yang merasa lelah dan kosong, akhirnya tergoda. Dan kesalahan itu kini menjelma menjadi kehancuran.

“Honey, dengarkan aku dulu. Kita bisa hidup bersama. Aku, kamu, dan Sienna. Aku akan tetap mengutamakan kamu,” ucap Alaska sambil memegang pundak Aluna.

“Kita?” Aluna mengulang pelan.

Alaska mengangguk.

Wajah Aluna mengeras.

“Aku tidak akan sudi tinggal bersama dia! Dan dia bukan sahabatku lagi! Dia adalah PELAKOR karena telah mengambil suamiku!” teriak Aluna lantang.

Alaska dan Sienna terkejut.

Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang menyesakkan, seakan udara pun ikut membeku.

Dan malam itu bukan hanya kepercayaan yang hancur, tetapi juga sebuah rumah tangga.

BAB 2-CERAI!

Tangisan Aluna pecah tanpa bisa dibendung. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya terasa perih seperti diremas berkali-kali. Ia benar-benar tak pernah membayangkan, pria yang ia cintai sepenuh hati justru mengkhianatinya bersama sahabatnya sendiri.

Alaska masih memegangi tangan Aluna, jemarinya gemetar. Dadanya pun terasa hancur melihat Aluna menangis sejadi-jadinya. Rasa bersalah menekan dirinya hingga sulit bernapas.

Perlahan, Aluna mengangkat wajahnya. Matanya sembab, merah, penuh luka.

Alaska menatapnya balik dengan sorot sendu, sorot seorang pria yang sadar telah menghancurkan segalanya.

“Apa karena aku belum hamil jadinya kamu selingkuh?” tanya Aluna lirih, suaranya pecah oleh tangis.

“Tidak, Honey… tidak. Aku selalu ingin kamu mengandung anakku. Maafkan aku, Honey,” jawab Alaska tergesa sambil mencium kedua tangan Aluna.

“Jangan tinggalkan aku, Honey… kumohon.”

Tangisan Aluna justru semakin menjadi.

“Aku ingin cerai!”

Ucapan itu seperti pisau tajam yang menghujam

dada Alaska.

“Tidak! Jangan katakan itu, Honey! Aku tidak ingin kamu meninggalkanku. Tolong… jangan tinggalkan aku,” katanya panik, hampir berlutut.

“Maaf… tapi aku ingin cerai.”

Kini Alaska yang menangis sejadi-jadinya. Bahunya bergetar, air matanya jatuh tanpa bisa dicegah.

“Kumohon, Honey… jangan katakan itu. Katakan saja apa yang kamu inginkan agar kamu tetap bersamaku. Aku akan melakukan apa pun. Jangan tinggalkan aku,” ucapnya sambil menggenggam tangan Aluna semakin erat, seolah takut ia benar-benar pergi.

Aluna hanya bisa menangis. Rasa sakit itu terlalu dalam, terlalu menusuk.

Ia menarik napas kasar, menghembuskannya dengan gemetar, lalu menatap Alaska dengan sorot mata penuh harap—harapan terakhir.

“Tinggalkan Sienna.”

Alaska terkejut.

“T-tapi dia mengandung anakku, Aluna…”

Aluna tersenyum getir sambil menangis.

“Haaaaa…” ia menghembuskan napas kasar lagi.

“Kenapa? Aku adalah istri sahmu, dan dia hanya pelakor. Apa itu susah?”

Alaska terdiam.

Ucapan Aluna benar, menusuk, dan tak terbantahkan. Sienna hanyalah orang ketiga yang masuk ke rumah tangga mereka.

Alaska menoleh ke arah Sienna yang masih menunduk, tubuhnya kaku, tak berani menatap siapa pun.

Lalu Alaska kembali menatap Aluna, masih memegangi tangannya dengan erat.

“Lepaskan tanganku.”

Alaska menggeleng kuat.

“Tidak, Honey. Jangan tinggalkan aku… tolong… kumohon.”

“Kau sudah punya Sienna dan anakmu nanti.”

Aluna tersenyum pahit.

“Tidak! Aku ingin hidup bersamamu. Aku tidak ingin bersama dia. Tolong, jangan pergi!”

Tangannya semakin erat menggenggam tangan Aluna. Wajah Alaska basah oleh air mata. Ia frustasi, hancur, takut kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai.

Rasa sakit menyayat hatinya saat Aluna terus mengulang keinginan untuk bercerai. Namun semua ini adalah akibat dari kebodohannya sendiri akibat dari pengkhianatan yang ia lakukan.

“Honey, aku sangat mencintaimu. Tolong maafkan aku. Jangan pergi dariku. Aku akan berubah… aku akan selalu bersamamu,” ucap Alaska putus asa.

“Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan selingkuh dan melakukan hubungan intim dengan wanita lain,” jawab Aluna dengan senyum rapuh yang justru lebih menyakitkan.

“Aku tahu aku salah… tolong maafkan aku, Honey. Kumohon jangan tinggalkan aku,” sahut Alaska terisak.

Aluna tak lagi menjawab.

Perlahan, ia melepaskan tangan Alaska dari genggamannya.

“Tidak…” Alaska menggeleng panik.

“Jangan tinggalkan aku…”

Namun Aluna tetap menarik tangannya.

Tak disangka, Alaska justru menarik Aluna ke dalam pelukannya.

Sienna yang menyaksikan itu merasakan perih di dadanya. Cemburu, sakit, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Namun ia tak berhak melakukan apa pun karena semua ini berawal dari kesalahannya.

Alaska memeluk Aluna sangat erat.

Hangat.

Dalam.

Seolah tak ingin melepaskannya selamanya.

Aluna terdiam. Ia merasakan pelukan itu untuk terakhir kalinya.

Hatinya sebenarnya tidak ingin berpisah. Namun rasa sakit itu terlalu besar, terlalu menghimpit, hingga membuatnya sulit bernapas.

Akhirnya Aluna memantapkan hati.

Ia memilih bercerai.

Agar Alaska bisa menikahi Sienna. Agar anak di dalam kandungan itu tidak lahir tanpa ayah. Karena anak itu tidak salah. Dan pengorbanan ini adalah luka paling sunyi yang harus ia tanggung sendiri.

BAB 3-SANGAT KECEWA!

Alaska masih bersujud di hadapan Aluna. Tangannya gemetar memegangi tangan Aluna, seolah itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak benar-benar kehilangan segalanya. Ia menahan Aluna agar tetap tinggal, agar tidak benar-benar pergi dari hidupnya.

Namun tatapan Aluna justru semakin kosong.

Bukan marah.

Bukan benci.

Melainkan mati rasa.

Rasa sakit itu sudah terlalu dalam, hingga hatinya perlahan menutup. Ia tahu, setelah malam ini, tidak akan ada lagi ruang untuk cinta.

“Maafkan aku… aku sangat menyesal, Honey. Tolong jangan pergi meninggalkan aku,” ucap Alaska dengan suara gemetar, ketakutan jelas tergambar di wajahnya.

Namun Aluna tetap tak merespons. Kekecewaannya telah melampaui kata-kata.

Ia benar-benar kecewa kepada Alaska, dan kepada Sienna.

Tiba-tiba.

“M-maafkan aku, Aluna…” ucap Sienna dengan suara kecil penuh ketakutan.

“Aku tidak perlu maafmu!” sahut Aluna cepat, tanpa sedikit pun menatap wajah Sienna.

“A-aku benar-benar—”

“Cukup!” teriak Aluna, membuat Sienna tersentak kaget. “Apa dengan minta maafmu bisa mengembalikan semuanya seperti semula? Tidak, kan!”

Sienna terdiam.

Tak ada satu kata pun yang bisa ia gunakan untuk membela diri. Aluna memegangi kepalanya. Pusing. Dadanya sesak.

Tiga tahun pernikahan apakah ini akhir dari jodohnya bersama Alaska?

“Lepaskan aku.”

Alaska menggeleng kuat.

“Aku bilang lepaskan aku!” teriak Aluna, membuat Alaska tersentak.

Dengan berat hati, Alaska akhirnya melepaskan genggamannya. Aluna langsung berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.

Alaska hanya bisa menatap kepergiannya.

Hancur.

Tak berdaya.

Beberapa menit kemudian, Aluna kembali dengan dua tas di tangannya. Melihat itu, Alaska langsung bangkit dan kembali menahan Aluna.

“Honey… tolong jangan tinggalkan aku. Kumohon, Honey, jangan tinggalkan aku…” ucapnya sambil menangis.

Namun Aluna tetap tidak mendengarkan. Ia menangkis tangan Alaska dan melangkah menuju pintu. Alaska mengikutinya dari belakang dengan langkah tergesa.

Saat Aluna hendak membuka pintu.

Ceklek…

Pintu sudah terbuka lebih dulu.

“Loh, sayang, mau ke mana kamu?” tanya seorang wanita dengan suara terkejut.

Yang berdiri di sana adalah Rossa, ibu Alaska.

Setiap minggu Rossa dan suaminya, Aldo, memang sering datang berkunjung. Namun kali ini suasananya terasa sangat berbeda. Dan kehadiran Sienna di dalam apartemen itu membuat Rossa semakin bingung.

“Sienna?” ucap Rossa heran.

Sienna langsung menunduk dan refleks menutupi perutnya yang sudah membuncit terlalu jelas untuk disembunyikan.

Aldo hanya diam, menatap anak dan menantunya dengan wajah tegang.

Tak satu pun berbicara.

“Mengapa kalian hanya diam?” tanya Rossa semakin penasaran.

“Alaska, Aluna… katakan sesuatu.”

Aluna mengangkat wajahnya. Air mata masih mengalir tanpa henti.

“Bu… Alaska selingkuh dengan Sienna. Dan sekarang Sienna mengandung anaknya Alaska.”

Dugggkkk!

Jantung Rossa terasa dihantam keras. Dadanya sesak, tubuhnya melemah.

Ia tak sanggup berkata apa-apa hanya air mata yang jatuh.

Namun demi memastikan kebenarannya, Rossa menatap Alaska.

“Alaska… jawab yang jujur. Apa benar yang dikatakan Aluna itu?” tanyanya dengan suara

bergetar.

“I-iya, Bu… yang dikatakan Aluna benar.”

Tanpa aba-aba, Aldo melangkah mendekat.

Bugkk!

Bugkk!

“Siapa yang mengajarimu selingkuh di belakang istrimu?!” teriak Aldo sambil terus memukul Alaska.

“Maafkan Alaska, Yah…” ucap Alaska pasrah, menerima setiap pukulan.

“Apa permintaan maafmu bisa mengembalikan semuanya seperti semula, hah?!” bentak Aldo semakin marah.

Kemarahan Aldo meluap. Ia tak percaya anak yang ia besarkan tega menyelingkuhi istrinya bahkan dengan sahabat istrinya sendiri.

Rossa langsung memeluk Aluna erat. Tangisnya pecah.

“Mengapa, Alaska… mengapa…” ucap Rossa berulang kali sambil mengusap punggung Aluna.

Aluna menangis sejadi-jadinya dalam pelukan mertuanya. Ia kehilangan segalanya malam ini.

Sementara Alaska terbaring lemah di lantai, menangis dalam kehancuran. Aldo menatapnya dengan kekecewaan yang dalam.

Di sudut ruangan, Sienna ikut menangis. Ia tak tega melihat Alaska dipukul.

Namun di saat yang sama ia baru menyadari betapa egoisnya dirinya. Ia hanya memikirkan Alaska, tanpa pernah memikirkan perasaan Aluna.

Dan malam itu kekecewaan bukan lagi sekadar luka, melainkan kehancuran yang tak mungkin diperbaiki.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!