Indonesia
NovelToon NovelToon

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Bab 1 — Kembali Lima Belas Tahun

“Qing Er...?”

Suara serak itu nyaris tak terdengar di tengah dinginnya malam.

Namun bagi gadis yang sejak tadi menangis di sisi ranjang, suara tersebut bagaikan petir yang membelah langit.

Tubuhnya menegang.

Air mata masih menggantung di ujung bulu matanya ketika ia buru-buru mengangkat kepala.

“Tuan Muda?”

Di atas ranjang kayu sederhana, jari pemuda yang semula tak bergerak perlahan berkedut.

Kelopak matanya bergetar.

Lalu terbuka.

Cahaya lilin yang redup menusuk pandangannya.

Su Yun mengerang pelan. Kepalanya terasa seperti dihantam palu berkali-kali. Tubuhnya begitu lemah hingga mengangkat tangan pun terasa sulit.

Tetapi semua rasa sakit itu mendadak tak berarti.

Karena wajah di hadapannya.

Wajah yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia temui dalam mimpi.

“Qing... Er?”

Su Yun menatap gadis itu tanpa berkedip.

Wajah mungil yang bersih. Sepasang mata jernih yang memerah karena menangis. Rambut hitam panjang tergerai di belakang bahunya.

Masih begitu muda.

Masih hidup.

Mustahil.

Su Yun jelas mengingatnya.

Qing Er telah mati.

Dan kematiannya adalah penyesalan terbesar dalam hidup Su Yun.

“Tuan Muda!”

Qing Er langsung menggenggam tangannya.

“Anda akhirnya sadar!”

Air matanya kembali jatuh.

“Saya benar-benar takut... Saya pikir Anda...”

Kalimatnya terputus oleh isakan.

Su Yun tidak menjawab.

Ia hanya menatap Qing Er.

Tangannya gemetar ketika perlahan menyentuh jemari gadis itu.

Hangat.

Benar-benar hangat.

Bukan mimpi.

Bukan ilusi menjelang kematian.

“Qing Er... kau benar-benar hidup.”

“Tentu saja saya hidup.”

Qing Er menatapnya kebingungan.

“Tuan Muda, apa kepala Anda masih sakit?”

Su Yun hendak menjawab ketika suara dingin terdengar dari belakang.

“Sepertinya orang seperti dia memang tidak mudah mati.”

Barulah Su Yun menyadari ada orang lain di dalam gubuk.

Seorang pemuda tinggi berdiri tak jauh dari pintu. Wajahnya cukup tampan, tetapi tatapannya terhadap Su Yun penuh penghinaan.

Mosha.

Nama itu muncul begitu saja dalam ingatannya.

“Sudah delapan belas tahun hidup,” lanjut Mosha, “tetapi bahkan setelah menghabiskan begitu banyak sumber daya keluarga, kultivasinya tetap menyedihkan.”

“Mosha!”

Qing Er langsung menoleh.

“Jangan bicara seperti itu!”

“Aku hanya mengatakan kenyataan.”

Mosha mendengus.

“Dia sudah dibuang dari kediaman utama. Apa gunanya kau terus datang kemari?”

Qing Er berdiri.

“Dia adalah Tuan Mudaku.”

“Dulu.”

“Sekarang juga!”

Nada Qing Er membuat Mosha terdiam sesaat.

Su Yun memperhatikan keduanya tanpa bicara.

Ingatan yang semula kacau perlahan menyatu.

Gubuk ini.

Mosha.

Qing Er yang masih berusia sekitar enam belas tahun.

Dan tubuhnya sendiri...

Su Yun menundukkan kepala.

Kurus.

Lemah.

Telapak tangannya bahkan tidak memiliki kekuatan yang pernah ia miliki sebelum kematian.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

Tidak mungkin...

Mosha tampaknya semakin kesal melihat Qing Er tetap berada di sisi Su Yun.

“Qing Er, kau harus kembali.”

“Aku belum ingin pergi.”

“Kepala keluarga bisa mengetahui kau menyelinap keluar.”

“Biarkan.”

“Jangan keras kepala!”

Mosha melangkah mendekat.

“Sekarang kau adalah salah satu orang berbakat yang diperhatikan keluarga. Masa depanmu berbeda dengannya.”

Ia menunjuk Su Yun tanpa sedikit pun menyembunyikan penghinaan.

“Lihat dia. Minum, berjudi, menghabiskan uang, dan menyia-nyiakan hidup. Orang seperti ini tidak pantas membuatmu mempertaruhkan masa depan.”

“Mosha!”

Qing Er mengepalkan tangan.

“Keluar.”

“Apa?”

“Aku menyuruhmu keluar!”

Wajah Mosha berubah.

Tatapannya beralih kepada Su Yun.

“Kau benar-benar menyusahkan.”

Tiba-tiba tangannya bergerak menuju gagang pedang.

Su Yun bahkan belum sempat bereaksi.

Sring!

Pedang terhunus.

Namun sebelum bilah itu mendekati ranjang—

Bang!

Gelombang energi menghantam tubuh Mosha.

Ia terpaksa mundur beberapa langkah sebelum menstabilkan dirinya.

Qing Er telah berdiri di depan Su Yun.

Energi samar berputar di sekitar tubuhnya.

“Mosha.”

Tatapan gadis itu berubah dingin.

“Kalau kau berani menyentuh Tuan Muda, jangan salahkan aku.”

Mosha menatapnya tidak percaya.

“Kau menyerangku demi sampah ini?”

“Dia bukan sampah!”

Qing Er menggigit bibir.

“Dia adalah orang yang memberiku tempat tinggal ketika aku tidak memiliki apa-apa. Dia membesarkanku dan melindungiku.”

“Dan sekarang?”

Mosha tertawa sinis.

“Sekarang justru kau yang memberinya makan!”

Qing Er terdiam.

“Setiap bulan kau memberikan uangmu kepadanya. Kau pikir aku tidak tahu?”

Mosha menatap Su Yun tajam.

“Seorang pria hidup dari uang seorang gadis. Kalau bukan sampah, lalu apa?”

Su Yun tidak membantah.

Karena semua itu benar.

Pada masa ini, dirinya memang seperti itu.

Setelah bakat yang dahulu membuat seluruh Keluarga Su kagum namun tiba-tiba berhenti berkembang, hidupnya perlahan runtuh.

Dari seorang jenius...

menjadi bahan tertawaan.

Dari harapan keluarga...

menjadi orang buangan.

Dan dirinya yang muda tidak sanggup menerimanya.

Ia memilih arak.

Perjudian.

Amarah.

Bahkan orang yang paling setia kepadanya ikut menjadi tempat pelampiasan.

Qing Er.

Su Yun menutup mata.

Rasa pahit memenuhi dadanya.

“Keluar.”

Suara Qing Er kembali terdengar.

Mosha mengertakkan gigi.

“Baik!”

Ia menyarungkan pedangnya.

“Tapi ingat kata-kataku, Qing Er. Kau dan dia sudah berada di dua dunia berbeda.”

Bang!

Pintu dibanting keras.

Gubuk kembali sunyi.

Qing Er berdiri beberapa saat sebelum memastikan Mosha benar-benar pergi.

Kemudian ia mengembuskan napas lega.

“Tuan Muda, jangan dengarkan perkataannya.”

Su Yun membuka mata.

Qing Er tersenyum kepadanya.

Senyum itu membuat dadanya semakin sesak.

Dalam kehidupan sebelumnya, kapan terakhir kali ia melihat senyum ini?

Qing Er mendekati jendela dan mengintip keluar.

Setelah yakin tak ada orang, ia mengambil sebuah kantong kecil dari balik pakaiannya.

Diam-diam ia menyelipkannya ke bawah selimut.

Namun sebuah tangan menangkap pergelangannya.

Qing Er terkejut.

“Tuan Muda?”

“Apa ini?”

“Tidak... bukan apa-apa.”

“Qing Er.”

Gadis itu menundukkan kepala.

“Uang.”

Su Yun memandang kantong tersebut.

“Berapa?”

Qing Er semakin gelisah.

“Hanya sedikit.”

“Tiga ratus?”

Kepalanya langsung terangkat.

“Bagaimana Tuan Muda tahu?”

Su Yun tersenyum pahit.

Tentu saja ia tahu.

Tiga ratus adalah seluruh uang bulanan Qing Er.

Gadis bodoh ini selalu mengatakan hanya memberikan sisanya.

Padahal ia sendiri hampir tidak menggunakan apa pun.

“Ambil kembali.”

Su Yun menyerahkan kantong itu.

Qing Er terpaku.

“Tuan Muda?”

“Mulai sekarang, jangan berikan uangmu kepadaku.”

“Apakah... tidak cukup?”

“Bukan.”

Su Yun menatap matanya.

“Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi.”

Qing Er tampak kebingungan.

Su Yun yang ia kenal tidak pernah menolak uang.

Terlebih dengan ekspresi seperti sekarang.

Tatapan pria itu seolah telah melewati sesuatu yang sangat jauh.

“Qing Er.”

“Ya?”

“Hari apa sekarang?”

Pertanyaan itu membuatnya semakin bingung.

“Dinasti Baru, Tahun 1001.”

Napas Su Yun tertahan.

“Tanggal?”

“Tiga Maret.”

Dunia mendadak terasa sunyi.

Tiga Maret.

Tahun 1001.

Su Yun menatap nyala lilin.

Tangannya perlahan mengepal.

Ia mengingat tanggal lain.

Sembilan Mei.

Tahun 1005.

Hari kematian Qing Er.

Gadis di hadapannya akan dipaksa menjalani pernikahan politik demi ambisi Keluarga Su.

Ia menolak.

Ia mencoba melarikan diri.

Dan orang-orang dari Sekte Langit Mendalam membunuhnya.

Mereka bahkan menyebarkan kabar bahwa Qing Er meninggal karena penyakit.

Saat itu Su Yun tidak berada di sisinya.

Ia sedang mabuk.

Bahkan pertemuan terakhir mereka pun terlewatkan.

Setelah mengetahui kebenaran, Su Yun menghabiskan bertahun-tahun hidup hanya untuk satu tujuan.

Balas dendam.

Ia meninggalkan Keluarga Su.

Mengembara.

Mencari guru.

Mempelajari berbagai metode.

Bahkan memasuki wilayah berbahaya yang tak berani didatangi kebanyakan kultivator.

Di sanalah Su Yun akhirnya mengetahui kebenaran.

Bakatnya tidak pernah benar-benar menghilang.

Tubuhnya mengalami kelainan spiritual langka yang menghambat perkembangan kultivasinya.

Penyakit yang menghancurkan hidupnya ternyata dapat disembuhkan.

Sayangnya, ketika mengetahui semuanya...

sudah terlambat.

Qing Er telah mati.

Dirinya telah kehilangan terlalu banyak waktu.

Dan ketika akhirnya menyerang Sekte Langit Mendalam demi membalas dendam, Su Yun meremehkan kekuatan musuh.

Ia mati di tangan para ahli mereka.

Namun sekarang...

Su Yun memandangi kedua tangannya.

Tubuh delapan belas tahun.

Tahun 1001.

Empat tahun sebelum tragedi itu terjadi.

Jadi...

aku benar-benar kembali.

“Tuan Muda?”

Suara Qing Er membuyarkan lamunannya.

Su Yun mendongak.

Tanpa sadar, ia menarik Qing Er ke dalam pelukan.

Tubuh gadis itu langsung menegang.

“T-Tuan Muda?”

“Maaf.”

Qing Er membeku.

Dua kata itu sederhana.

Namun Su Yun terlambat mengucapkannya selama lima belas tahun.

“Maafkan aku, Qing Er.”

Suara Su Yun bergetar.

Untuk semua kemarahannya.

Untuk uang yang dihabiskannya.

Untuk kesetiaan yang tak pernah dihargainya.

Dan terutama...

karena tidak berada di sana ketika Qing Er paling membutuhkannya.

Qing Er tentu tidak memahami semua itu.

Ia hanya merasa Tuan Mudanya berubah setelah hampir mati.

Perlahan, ekspresinya melembut.

“Tuan Muda.”

“Hmm?”

“Kalau begitu berjanjilah kepada Qing Er.”

Su Yun melepaskan pelukannya.

“Janji apa?”

“Jangan menyerah lagi.”

Qing Er tersenyum kecil.

“Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, tetaplah hidup.”

Su Yun menatapnya cukup lama.

Kemudian mengangguk.

“Aku berjanji.”

Qing Er akhirnya berdiri.

“Saya harus kembali sebelum ketahuan. Besok saya akan mencari tabib untuk memeriksa keadaan Anda.”

“Tidak perlu.”

“Tapi—”

“Aku baik-baik saja.”

Su Yun mengembalikan kantong uang itu sekali lagi.

“Dan simpan uangmu.”

Qing Er masih ragu.

“Tuan Muda benar-benar tidak membutuhkannya?”

“Tidak.”

Su Yun tersenyum.

“Mulai hari ini, aku akan mengurus hidupku sendiri.”

Qing Er memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Qing Er menoleh.

“Kalau ada masalah, cepat panggil saya.”

Su Yun mengangguk.

“Aku tahu.”

“Jangan berjudi lagi.”

Su Yun tertawa kecil.

“Baik.”

“Dan jangan minum terlalu banyak.”

“Baik.”

Qing Er tersenyum puas.

Pintu pun tertutup.

Su Yun menatapnya lama.

Tetapi beberapa saat kemudian—

Bang!

Pintu kembali terbuka.

Mosha berdiri di sana.

Tatapannya jauh lebih dingin daripada sebelumnya.

“Ada satu hal yang harus kuberitahukan padamu.”

Su Yun menyipitkan mata.

“Katakan.”

“Jauhi Qing Er.”

Su Yun tidak menjawab.

“Dia memiliki bakat besar. Sebentar lagi bahkan Cabang Phoenix mungkin menerimanya.”

Mosha melangkah masuk.

“Selain itu, masa depannya sudah ditentukan keluarga.”

Mata Su Yun berubah.

“Maksudmu pernikahannya?”

Mosha terkejut.

“Kau tahu?”

Su Yun tetap tenang.

“Dengan orang dari Sekte Langit Mendalam?”

Keterkejutan Mosha semakin jelas.

“Bagaimana kau mengetahui itu?”

Su Yun tidak menjawab.

Mosha mendengus.

“Kalau sudah tahu, lebih baik sadar diri. Orang-orang di sana bukan seseorang yang bisa kau singgung.”

Ia menatap Su Yun dari atas ke bawah.

“Bagi mereka, kau bahkan tidak lebih berharga daripada seekor semut.”

Su Yun tersenyum tipis.

“Sudah selesai?”

“Kau—”

“Kalau sudah, tutup pintunya.”

Wajah Mosha mengeras.

“Hmph! Jangan menyesal nanti.”

Ia berbalik dan pergi.

Pintu kembali tertutup.

Kali ini Su Yun benar-benar sendirian.

Ia bangkit perlahan dari ranjang dan berjalan menuju jendela.

Langit malam membentang luas.

Udara dingin memasuki gubuk.

Lima belas tahun.

Ia telah membawa seluruh pengalaman lima belas tahun itu kembali bersamanya.

Ia tahu mengapa kultivasinya berhenti.

Ia tahu berbagai kesempatan yang akan muncul di masa depan.

Ia tahu siapa yang akan menjadi kuat.

Ia tahu siapa yang akan mati.

Dan yang terpenting...

ia tahu tragedi apa yang sedang menunggu Qing Er.

Su Yun mengepalkan tangannya.

Sekte Langit Mendalam.

Keluarga Su.

Pernikahan politik.

Semua itu masih berada di masa depan.

Artinya belum terlambat.

Kehidupan sebelumnya, ia hanya bisa menyaksikan semuanya setelah kehilangan Qing Er.

Kehidupan kali ini berbeda.

Su Yun menatap langit malam dengan mata yang semakin tajam.

“Langit mengembalikanku lima belas tahun ke masa lalu...”

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Kalau begitu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Ia tidak akan kembali menjadi pemabuk.

Tidak akan kembali menjadi penjudi.

Tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak.

Dan tidak akan membiarkan Qing Er menghadapi nasib yang sama.

Apa pun yang harus dilawannya...

bahkan jika musuhnya adalah Sekte Langit Mendalam sekalipun.

Kali ini—

Qing Er tidak akan mati.

Dan Su Yun tidak akan menjadi sampah lagi.

......................

Bersambung...

Bab 2 — Utang Dua Ribu Koin Roh

Pagi berikutnya, Su Yun berdiri di depan sebuah toko kecil di wilayah luar Keluarga Su.

“Dua botol penawar racun, satu botol obat pemulihan tingkat rendah, satu botol darah Serigala Hitam, tiga bungkus bubuk obat, dan tiga potong jantung harimau.”

Pemilik toko tua yang berada di balik meja mengangkat kepala.

“Masih ada?”

“Satu lagi.”

Su Yun meletakkan kantong uang di atas meja.

“Siapkan seekor Kuda Roh Hitam untuk besok pagi. Beri makan dengan baik. Aku akan membutuhkannya untuk perjalanan jauh.”

Pemilik toko menatapnya dengan heran.

Su Yun memang dikenal di wilayah luar.

Bukan karena kekuatannya.

Justru sebaliknya.

Dahulu ia pernah menjadi salah satu jenius Keluarga Su. Pada usia sepuluh tahun, kultivasinya telah mencapai tahap kelima.

Namun setelah itu, perkembangannya hampir berhenti.

Delapan tahun berlalu.

Ia hanya berhasil mencapai tahap keenam.

Seorang jenius akhirnya berubah menjadi bahan tertawaan.

“Su Yun.”

Pemilik toko mengambil salah satu potongan jantung harimau.

“Benda ini mengandung energi spiritual cukup kuat. Tubuhmu baru saja terluka. Dengan kultivasimu sekarang, memakannya bisa berbahaya.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu masih mau membelinya?”

“Ya.”

Orang tua itu menggeleng.

“Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak takut mati.”

Ia mulai menghitung barang.

“Penawar racun, obat pemulihan, darah Serigala Hitam, bubuk obat, jantung harimau, ditambah sewa Kuda Roh Hitam...”

Beberapa saat kemudian ia mengangkat kepala.

“Tiga puluh lima koin roh.”

Su Yun mendorong kantong uang ke arahnya.

Pemilik toko membukanya.

Tepat tiga puluh lima.

Tidak kurang satu pun.

“Kalau kudanya tidak dikembalikan dalam tujuh hari, ada biaya tambahan. Kalau terluka atau mati, kau harus mengganti sesuai harga.”

“Tidak masalah.”

Su Yun memasukkan barang-barangnya ke dalam bungkusan.

“Besok pagi aku mungkin kembali membeli beberapa bahan.”

Setelah mengatakan itu, ia pergi.

Pemilik toko hanya bisa memandang punggungnya dengan bingung.

“Anak itu...”

Biasanya Su Yun hanya terlihat di kedai arak atau tempat perjudian.

Sekarang ia membeli obat, darah binatang, jantung harimau, bahkan menyewa Kuda Roh Hitam.

“Apa sebenarnya yang ingin dilakukannya?”

Tiga puluh lima koin roh.

Itulah seluruh uang yang masih dimiliki Su Yun.

Kehidupannya benar-benar menyedihkan.

Seandainya ia bekerja untuk Keluarga Su, satu bulan penuh mungkin hanya menghasilkan sekitar lima puluh koin roh.

Namun Su Yun dari kehidupan sebelumnya tidak pernah bersedia melakukannya.

Ia memilih hidup dari uang Qing Er.

Mengingatnya sekarang membuat Su Yun merasa muak kepada dirinya sendiri.

“Tak akan terulang lagi.”

Ia terus berjalan.

Wilayah luar Keluarga Su jauh berbeda dibandingkan kediaman utama.

Rumah-rumah sederhana berjajar di sepanjang jalan batu. Sebagian dinding telah ditumbuhi lumut, sementara para pekerja berlalu-lalang membawa kayu, ember, ataupun barang dagangan.

Tidak semua orang di sini memiliki darah Keluarga Su.

Ada pengungsi perang.

Pengembara.

Kultivator miskin.

Bahkan beberapa orang yang datang untuk mencari perlindungan.

Selama menaati aturan Keluarga Su, mereka diperbolehkan tinggal.

Kehidupan di wilayah luar keras.

Tempat latihan hanyalah tanah terbuka yang dikelilingi tiang kayu. Teknik kultivasi yang tersedia kebanyakan hanya teknik dasar.

Sumber daya jauh lebih sedikit dibandingkan wilayah dalam.

Namun selalu ada satu harapan.

Tahap kesepuluh.

Siapa pun yang berhasil mencapai tahap kesepuluh berhak mengikuti seleksi untuk memasuki wilayah dalam Keluarga Su.

Di sanalah kehidupan seorang kultivator benar-benar berubah.

Tempat tinggal lebih baik.

Senjata.

Pil spiritual.

Koin roh bulanan.

Teknik kultivasi yang lebih tinggi.

Itulah sebabnya banyak orang rela berlatih mati-matian.

Su Yun pernah memiliki semua itu.

Lalu kehilangan semuanya.

Tetapi sekarang ia tidak terlalu memedulikannya.

Memasuki wilayah dalam bukan tujuan akhirnya.

Sekte Langit Mendalam jauh lebih menakutkan daripada Keluarga Su.

Jika ia bahkan tidak mampu melampaui keluarga kecil ini, bagaimana mungkin ia bisa mengubah nasib Qing Er?

“Hei!”

Sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Bukankah dia Su Yun?”

Su Yun menoleh.

Beberapa pemuda mengenakan lencana Keluarga Su berjalan mendekat.

Mereka adalah pengawas wilayah luar.

Tatapan Su Yun berhenti pada pemuda yang berjalan paling depan.

Su Gui Mu.

Sudut matanya sedikit menyempit.

Ia tentu mengenal orang ini.

Ayah Su Gui Mu menangani sebagian urusan keuangan keluarga dan diam-diam mengendalikan sebuah rumah judi.

Rumah judi yang dahulu menelan hampir seluruh harta peninggalan orang tua Su Yun.

“Wah.”

Su Gui Mu tersenyum lebar.

“Jadi rumor itu benar. Tuan Muda Su yang terkenal sekarang benar-benar tinggal bersama orang-orang wilayah luar.”

Beberapa orang di belakangnya tertawa.

Su Yun tidak menunjukkan reaksi.

“Ada urusan?”

Senyum Su Gui Mu memudar sedikit.

Sikap Su Yun berbeda dari biasanya.

Biasanya pria ini mudah terpancing.

“Memang ada.”

Su Gui Mu mengulurkan tangan.

“Dua ribu koin roh.”

“Apa?”

“Utangmu.”

Su Gui Mu mendekat.

“Jangan bilang kau sudah lupa.”

Su Yun tentu tidak lupa.

Dalam kehidupan sebelumnya, Su Gui Mu menggunakan berbagai tipu daya untuk membuatnya menandatangani perjanjian utang.

Dua ribu koin roh.

Jumlah yang hampir mustahil dibayar Su Yun saat ini.

“Aku tidak punya uang.”

Wajah Su Gui Mu langsung berubah.

“Tidak punya?”

“Benar.”

“Kau berutang dua ribu dan hanya mengatakan tidak punya?”

“Apa aku harus mengatakannya dua kali?”

Beberapa orang di belakang Su Gui Mu saling berpandangan.

Ada yang berbeda dengan orang ini.

Su Gui Mu juga merasakannya.

Namun kemarahannya segera berubah menjadi senyum licik.

“Baiklah.”

Ia menepuk bahu Su Yun.

“Kita masih saudara. Aku bisa memberimu waktu.”

Su Yun menatap tangannya.

“Tapi...”

Benar saja.

“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”

Su Gui Mu merendahkan suaranya.

“Aku punya sebuah usul.”

“Katakan.”

“Qing Er.”

Tatapan Su Yun seketika mendingin.

“Ada apa dengannya?”

Su Gui Mu tersenyum.

“Bantu aku mengajaknya makan malam.”

Ia mengangkat dua jari.

“Kalau berhasil, utang dua ribumu kuhapus.”

Kemudian satu jari lagi terangkat.

“Bahkan kutambahkan seribu koin roh.”

Su Yun diam.

Su Gui Mu mengira ia mulai tergoda.

“Aku hanya ingin mengenalnya. Kau tahu sendiri Qing Er sekarang sangat berbakat. Aku sudah lama mengaguminya.”

“Benarkah?”

“Tentu.”

“Lalu bagaimana dengan wanita-wanita sebelumnya?”

Senyum Su Gui Mu membeku.

Su Yun melanjutkan dengan tenang.

“Yang minumannya diberi obat.”

Wajah beberapa pengawas berubah.

“Apa maksudmu?” bentak Su Gui Mu.

“Kau tahu maksudku.”

Su Yun mendekat sedikit.

“Setelah mereka kehilangan kesadaran, ayahmu ikut menikmati mereka. Kemudian masalahnya ditutup menggunakan jabatan dan uang.”

“Diam!”

Wajah Su Gui Mu memerah.

“Berani sekali kau memfitnah ayahku!”

“Fitnah?”

Su Yun tersenyum tipis.

“Kau sendiri tahu apakah itu fitnah.”

“Aku akan bertanya sekali lagi.”

Su Gui Mu mengertakkan gigi.

“Bantu aku mendapatkan Qing Er, atau bayar dua ribu koin roh sekarang!”

“Tidak keduanya.”

“Apa?”

“Aku tidak akan menyerahkan Qing Er kepadamu.”

Tatapan Su Yun menjadi dingin.

“Dan uangmu belum akan kubayar.”

“Kau mencari mati!”

Su Gui Mu langsung melayangkan pukulan.

Namun Su Yun sudah bergerak.

Satu langkah.

Hanya satu langkah sederhana ke belakang.

Wus!

Tinju itu melewati wajahnya.

Su Gui Mu terpaku.

Su Yun baru berada di tahap keenam.

Bagaimana ia bisa membaca serangannya?

“Kepung dia!”

Beberapa pengawas langsung bergerak.

Su Yun segera dikelilingi.

Orang-orang di jalan mulai menjauh.

Namun tidak sedikit yang diam-diam memperhatikan.

Su Yun sama sekali tidak terlihat panik.

“Su Gui Mu.”

“Apa?”

“Kalau kau masih ingin ayahmu mempertahankan jabatannya, suruh mereka mundur.”

Su Gui Mu tertawa.

“Kau mengancamku?”

“Ya.”

Tawa itu semakin keras.

“Dengan apa? Kau bahkan sudah dibuang ke wilayah luar!”

Su Yun mengangguk.

“Aku memang tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Kalau begitu—”

“Tapi Qing Er bisa.”

Tawa Su Gui Mu berhenti.

Su Yun menatapnya.

“Kalau Qing Er mengetahui apa yang kau rencanakan terhadapnya, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Su Gui Mu hendak menjawab, tetapi Su Yun tidak memberinya kesempatan.

“Dia sekarang diperhatikan kediaman utama.”

“Lalu kenapa?”

“Dan dengan bakatnya, cepat atau lambat ia akan memasuki Cabang Phoenix.”

Ekspresi Su Gui Mu mulai berubah.

Su Yun tersenyum.

“Kalau dia mengadukan bahwa putra pengurus keuangan berusaha menjebaknya menggunakan obat, menurutmu para tetua akan diam?”

Tidak ada jawaban.

“Begitu penyelidikan dimulai, mereka mungkin akan menemukan lebih banyak hal.”

Su Yun meliriknya.

“Rumah judi, misalnya.”

Wajah Su Gui Mu memucat.

“Juga para wanita yang pernah menjadi korban.”

“Diam!”

“Kenapa?”

Su Yun mengangkat alis.

“Takut?”

Su Gui Mu mengepalkan tangan.

Ia memang memiliki ayah yang cukup berpengaruh.

Namun itu tidak berarti mereka bisa menantang orang-orang wilayah dalam.

Terlebih Qing Er.

Dengan bakat gadis itu, masa depannya hampir pasti jauh melampaui dirinya.

Kalau masalah benar-benar dibawa kepada para tetua...

bukan hanya dirinya yang celaka.

Ayahnya juga bisa kehilangan jabatan.

Bahkan rumah judi mereka mungkin akan dibongkar.

Su Yun berjalan melewati salah satu pengawas.

Tak seorang pun berani menghentikannya.

Ketika berada beberapa langkah di belakang Su Gui Mu, ia berhenti.

“Oh, satu lagi.”

Su Gui Mu menoleh dengan wajah gelap.

Su Yun mengangkat kantong berisi obat di tangannya.

“Aku memang belum punya dua ribu koin roh.”

Ia tersenyum.

“Jadi bersabarlah.”

Kemudian ia pergi begitu saja.

Su Gui Mu menatap punggungnya.

Tangannya gemetar menahan amarah.

“Bajingan...”

Seorang bawahannya mendekat.

“Tuan Muda Su, apa kita biarkan saja?”

Su Gui Mu tidak menjawab.

Ia memperhatikan Su Yun sampai menghilang di ujung jalan.

Tatapan yang tadi penuh amarah perlahan berubah menjadi dingin.

“Tentu tidak.”

Ia tersenyum tipis.

“Orang yang berutang padaku harus membayar.”

Su Gui Mu berbalik.

“Kalau dia tidak punya uang...”

Senyumnya semakin kejam.

“Dia bisa membayar dengan sesuatu yang lain.”

Sementara itu, Su Yun terus berjalan tanpa menoleh.

Ia tahu masalah ini belum selesai.

Namun Su Gui Mu hanyalah gangguan kecil.

Yang benar-benar penting adalah barang-barang di tangannya.

Penawar racun.

Darah Serigala Hitam.

Bubuk obat.

Jantung harimau.

Dan Kuda Roh Hitam yang akan ia ambil besok.

Semua itu hanya untuk satu tujuan.

Menyembuhkan kelainan spiritual yang menghancurkan kehidupan pertamanya.

Kali ini, ia tidak akan menunggu puluhan tahun untuk menemukan jawabannya.

Su Yun mengepalkan bungkusan di tangannya.

“Besok...”

Tatapannya menjadi tajam.

“Sudah waktunya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.”

......................

Bersambung...

Bab 3 — Pertunangan yang Berakhir

Su Yun tidak terlalu memikirkan Su Gui Mu.

Setelah kembali ke gubuk, ia segera mengeluarkan semua bahan yang dibelinya.

Penawar racun.

Obat pemulihan.

Darah Serigala Hitam.

Bubuk obat.

Dan tiga potong jantung harimau yang masih menyimpan energi spiritual cukup kuat.

Dalam kehidupan sebelumnya, Su Yun membutuhkan bertahun-tahun untuk mengetahui penyebab kultivasinya berhenti.

Ia pernah mendatangi banyak tabib.

Mencari ahli terkenal.

Mempelajari berbagai metode pengobatan, bahkan mempertaruhkan nyawanya memasuki wilayah berbahaya.

Semua itu dilakukan demi memperbaiki tubuhnya.

Ironisnya, masalah yang menghancurkan hidupnya ternyata bukan karena ia kehilangan bakat.

Tubuhnya mengalami kelainan spiritual langka yang menghambat jalur energi di dalam tubuhnya.

Sulit dideteksi.

Namun bukan berarti tidak dapat disembuhkan.

Masalahnya, ketika Su Yun menemukan cara penyembuhannya dalam kehidupan pertama, semuanya sudah terlambat.

Kali ini berbeda.

Ia sudah memiliki pengetahuan itu.

“Selama tubuh ini bisa dipulihkan...”

Su Yun memandangi telapak tangannya.

“Bakatku juga akan kembali.”

Ia baru hendak mulai mengolah bahan ketika suara geraman berat terdengar dari luar.

Grrr...

Su Yun menoleh.

Seekor binatang besar berwarna ungu berdiri tidak jauh dari gubuk.

Tubuhnya hampir sebesar sapi dewasa. Dua tanduk kokoh tumbuh di kepalanya, sementara aura spiritual samar menyelimuti tubuh berototnya.

Di belakang binatang itu terdapat sebuah kereta mewah.

Su Yun langsung mengenali lambang pada sisinya.

“Keluarga Bai.”

Tatapannya berubah sedikit.

Rupanya mereka akhirnya datang.

Ia mengambil barang-barangnya lalu memasuki gubuk.

Krek.

Pintu terbuka.

Seorang pria tua berambut putih sudah duduk di depan meja reyot miliknya.

Cangkir teh retak berada di tangannya.

Pemandangan itu tampak aneh.

Kereta mewah di luar.

Pakaian mahal.

Namun tamunya duduk di sebuah gubuk yang bahkan hampir roboh.

“Tuan Muda Su.”

Pria tua itu berdiri dan memberi salam.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Su Yun meletakkan barang-barangnya.

“Anda sudah melihat keadaanku.”

Ia menarik kursi.

“Jadi kita tidak perlu berbasa-basi. Untuk apa Anda datang?”

Pria tua itu sedikit terkejut.

Su Yun yang didengarnya seharusnya pemuda pemarah, pemabuk, dan mudah kehilangan kendali.

Namun orang di hadapannya sangat tenang.

“Kalau begitu saya langsung ke tujuan.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop putih.

“Di dalamnya terdapat surat berharga senilai tiga puluh ribu koin roh. Dapat dicairkan di bank mana pun.”

Tiga puluh ribu.

Jumlah yang sangat besar bagi Su Yun saat ini.

Namun ekspresinya tidak berubah.

Pria tua itu melanjutkan.

“Saya datang atas perintah Nona Bai.”

Su Yun sudah mengetahui kalimat berikutnya.

“Nona kami telah diterima oleh Sekte Pedang Abadi. Bakatnya mendapat pengakuan, bahkan masa depannya di sekte sangat menjanjikan.”

Ia berhenti sejenak.

“Karena itu, pertunangan antara Anda dan Nona sudah tidak sesuai lagi.”

Hening.

“Pihak Keluarga Bai berharap pertunangan tersebut dibatalkan.”

Pria tua itu mendorong amplop ke depan.

“Tiga puluh ribu koin roh ini adalah kompensasinya.”

Su Yun memandang amplop tersebut.

Dalam kehidupan sebelumnya, kejadian ini pernah membuatnya marah.

Harga dirinya terluka.

Ia merasa dihina.

Namun sekarang?

Su Yun hampir ingin tertawa.

Setelah mengalami hidup dan mati, pertunangan seperti ini tidak lagi berarti apa-apa.

“Ambil kembali.”

Pria tua itu mengerutkan kening.

“Anda menolak pembatalan pertunangan?”

“Tidak.”

Su Yun mulai membuka bungkusan berisi bahan obat.

“Aku setuju.”

“Lalu mengapa—”

“Kalau Nona Bai ingin membatalkan pertunangan, biarkan dia mengatakannya sendiri.”

Su Yun mengambil sebilah pisau.

“Tidak perlu membayar.”

Pria tua itu menatapnya beberapa saat.

Kemudian ia berdiri.

“Baik.”

Ia keluar dari gubuk.

Tak lama kemudian, tirai kereta terangkat.

Seorang wanita muda turun perlahan.

Gaun kuning muda membungkus tubuhnya dengan anggun. Kulitnya putih, wajahnya cantik, dan sebuah pedang ramping tersembunyi di balik pakaiannya.

Bai Yan.

Tunangan Su Yun.

Atau lebih tepatnya...

mantan tunangannya sebentar lagi.

Bai Yan memasuki gubuk.

Su Yun bahkan tidak mengangkat kepala.

Ia sedang membuat beberapa lubang kecil pada jantung harimau.

Setelah itu, darah Serigala Hitam dituangkan sedikit demi sedikit ke dalamnya.

Bai Yan memperhatikan tindakannya.

Aneh.

Namun ia tidak datang untuk membicarakan itu.

“Su Yun.”

“Hmm?”

“Aku ingin membatalkan pertunangan kita.”

Pisau Su Yun tetap bergerak.

“Oke.”

Hanya satu kata.

Bai Yan terdiam.

Ia telah membayangkan banyak kemungkinan.

Su Yun marah.

Memohon.

Mengancam.

Atau setidaknya mempertanyakan alasannya.

Namun tidak ada satu pun yang terjadi.

“Kau... setuju?”

“Ya.”

Su Yun mulai menumbuk jantung harimau agar darah di dalamnya menyerap lebih sempurna.

Bai Yan mengerutkan kening.

Entah mengapa, respons itu justru membuatnya tidak nyaman.

Seolah-olah pertunangan mereka sama sekali tidak berarti bagi pria ini.

“Kalau begitu ambillah kompensasinya.”

Amplop diletakkan di meja.

Su Yun akhirnya mengangkat kepala.

“Sudah kukatakan, aku tidak menginginkannya.”

“Kau tidak membutuhkannya?”

“Tidak.”

Bai Yan mencibir.

“Menjaga harga diri?”

Su Yun kembali menunduk.

“Bukan.”

“Kudengar kau berutang dua ribu koin roh kepada Su Gui Mu. Tiga puluh ribu cukup untuk melunasi utangmu dan membuatmu hidup nyaman cukup lama.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa menolak?”

Tangan Su Yun berhenti.

Ia menatap Bai Yan.

“Karena pertunangan kita bukan barang dagangan.”

Bai Yan terdiam.

“Kau ingin pergi, silakan.”

Su Yun kembali bekerja.

“Aku tidak akan menahanmu. Tapi aku juga tidak membutuhkan uang untuk menerima keputusanmu.”

Tatapan Bai Yan berubah.

Pria ini...

benarkah Su Yun yang sama?

Rumor mengatakan ia menghabiskan hari dengan arak dan perjudian.

Namun orang di hadapannya berbeda.

Tenang.

Tatapannya bahkan tidak menunjukkan kesedihan ketika melihat dirinya.

“Baik.”

Bai Yan mengambil kembali amplop.

“Karena kau bersikeras, jangan menyesal.”

Ia berbalik.

“Tunggu.”

Langkah Bai Yan berhenti.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Akhirnya.

Ia menduga Su Yun berubah pikiran.

“Apa?”

Su Yun menatapnya.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu.”

“Katakan.”

“Semoga kau tidak menyesal.”

Senyum Bai Yan menghilang.

Beberapa detik mereka saling menatap.

Kemudian Bai Yan berbalik tanpa mengatakan apa pun.

Pintu tertutup.

Tak lama kemudian terdengar geraman binatang dari luar.

Kereta Keluarga Bai pergi.

Su Yun kembali menunduk.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kesedihan.

Bai Yan hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang pernah dijalaninya.

Ia bahkan hampir melupakan wanita itu.

Orang yang benar-benar disesalinya hanya satu.

Qing Er.

“Lebih baik begini.”

Su Yun kembali bekerja.

Sepanjang hari, ia hampir tidak meninggalkan gubuk.

Lubangi.

Tuangkan darah Serigala Hitam.

Tumbuk.

Campurkan bubuk obat dalam takaran tertentu.

Kemudian ulangi.

Kesalahan sedikit saja dapat membuat energi spiritual di dalam bahan menjadi terlalu liar.

Pengalaman lima belas tahun membuat gerakannya sangat terampil.

Jika seorang tabib melihatnya, mungkin ia akan terkejut.

Sulit membayangkan pemuda delapan belas tahun memahami pengolahan bahan sedalam ini.

Menjelang malam, Su Yun akhirnya berhenti.

Keringat memenuhi dahinya.

Di hadapannya telah tersedia bahan awal yang diperlukan untuk memulihkan tubuh.

Namun ini baru permulaan.

Pengobatan sebenarnya membutuhkan beberapa bahan lain.

Dan bahan terpenting tidak dapat dibeli begitu saja di wilayah Keluarga Su.

Itulah alasan ia menyewa Kuda Roh Hitam.

“Besok aku harus pergi.”

Su Yun menyimpan hasil olahannya dengan hati-hati.

Jika semuanya berjalan sesuai ingatannya, ia bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Setelah itu...

kelainan spiritual dalam tubuh ini dapat mulai disembuhkan.

Su Yun berbaring.

Tubuhnya lelah.

Matanya perlahan terpejam.

Namun belum lama ia hendak tertidur—

“Cepat!”

Suara keras terdengar dari luar.

Su Yun langsung membuka mata.

“Kelilingi tempat ini!”

Suara langkah kaki menyusul.

Bukan satu atau dua orang.

Setidaknya belasan.

“Bajingan itu berani mempermainkanku!”

Suara tersebut terdengar semakin dekat.

Su Yun mengenalinya.

Su Gui Mu.

“Begitu masuk, jangan beri dia kesempatan melawan!”

Terdengar suara senjata ditarik.

“Hajar dia sampai tidak bisa bangun!”

Su Yun bangkit dari ranjang.

Tatapannya berubah dingin.

Akhirnya mereka datang juga.

Dalam kehidupan sebelumnya, mungkin dirinya akan panik menghadapi belasan orang.

Tetapi Su Yun sekarang bukan pemuda delapan belas tahun yang hanya tahu mabuk dan berjudi.

Kultivasinya memang masih tahap keenam.

Namun pengalaman bertarungnya?

Lima belas tahun hidup antara kematian telah mengajarinya jauh lebih banyak daripada yang bisa dibayangkan Su Gui Mu.

Su Yun perlahan mengambil botol bubuk obat dari atas meja.

Ia menimbangnya sebentar di telapak tangan.

Kemudian tersenyum.

“Datang diwaktu yang tepat.”

Bang!

Pintu gubuk ditendang hingga terbuka.

Beberapa bayangan langsung menerobos masuk.

Su Yun berdiri diam di tengah ruangan.

Botol kecil berada di tangannya.

Tatapannya tenang.

“Kalau kalian memang ingin mencari masalah...”

Jarinya perlahan membuka tutup botol.

“...jangan salahkan aku karena menjadikan kalian bahan percobaan.”

......................

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!