Sinar mentari tampak malu-malu menyibak tirai putih sebuah kamar bernuansa monokrom dan mengintip dua manusia yang sedang memadu kasih. Mereka---lelaki dan seorang perempuan sedang sibuk berbagi keringat, terjebak dalam pusaran gairah yang tidak ada hentinya.
"Mas, udah dong. Udah siang ini loh, nanti kamu ketinggalan pesawat," ujar sang wanita yang sedang berbaring terlentang dengan mata terpejam sembari terus menerima serangan dari seorang pria yang berada diatasnya.
Mengangkat sedikit kepalanya yang berada di ceruk leher sang pujaan hati, pria tampan nan kekar itu kemudian menanggapi dengan malas. "Ck, bentar mine! nanggung dong. Aku bakalan pergi lama, tiga hari loh, jadi harus puas-puasin dulu."
Sang wanita mendesah lirih, kedua tangan yang bertengger apik di pundak si pria, ia gunakan untuk mendorong lelaki diatasnya yang kini malah semakin gencar membelainya penuh kasih.
"Oh, c'mon eughh. Just three days mas. Gak lama itu!"
Si pria menatap tajam, akhirnya ia pun memutuskan untuk mengangkat kepalanya kembali, dan memandang penuh wajah perempuan cantik yang kini berada dibawahnya.
"Just, kamu bilang? It's not just, mine! Aku gak nyentuh kamu sehari aja udah belingsatan, gimana kalo tiga hari? I can't," sanggahnya dengan nada cukup memelas.
Memutar kedua bola matanya, si wanita yang sudah tidak heran lagi dengan tingkah dari pria itu pun hanya menghela napas kasar dan bersikap pasrah. "Oke, fine! tapi sekali ini aja lagi ya! Aku dah capek banget mas."
Dan si pria hanya mengangguk, rautnya tampak semakin bersemangat. Sayangnya, keputusan yang wanita ambil ternyata salah besar. Memberikan kesempatan kepada si pria, malah hanya akan merugikan dirinya sendiri. Karena bukannya melakukan sekali lagi seperti yang ia minta sebelumnya, malah kini berakhir menjadi berkali-kali lipat hingga ia terkapar pingsan tanpa sadar.
...****************...
Adegan saling mencumbu itu kini telah selesai, sang pria mulai bersiap-siap, diikuti dengan si perempuan yang turut membantunya. Kemeja rapi telah tersemat pas pada tubuh kekar si pria yang saat ini tengah menatap penuh puja kepada perempuan yang sangat ia sayangi.
"Mine, kamu dirumah baik-baik ya! kalo ada apa-apa, langsung kabari aku, oke?" ucap si pria sembari mengecup hangat kening wanita dihadapannya.
"Siapp komandan!"
Mereka berdua pun tertawa bersama, walaupun akan berpisah, namun raut bahagia tetap menghiasi wajah keduanya. Kebahagiaan disana juga semakin lengkap dengan teriakan yang datang dari arah tangga.
"Papa, Mama!!"
Pasangan itu pun menoleh ke asal suara, tampak putri kecil mereka yang berlari dengan raut kesalnya.
"Ihh, Mama kok gak bangunin aku sih? Papa mau perginya sekarang ya? jangan lupa oleh-oleh ya Pa!"
Mendengar gerutuan dari buah hatinya, membuat si pria terkekeh geli. Kemudian ia berlutut, membuat tingginya sejajar dengan sang anak. "Siap tuan puteri! Papa gak akan lupa dong."
Setelah obrolan hangat dan salam perpisahan yang mereka lakukan. Sang Ibu pun mengajak anaknya masuk untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Sekitar 45 menit telah mereka habiskan untuk mandi, bersiap, dan sarapan bersama. Saat ini keduanya pun bergegas menuju ke mobil untuk segera berangkat.
Namun belum sempat menyalakan mobil, dering telfon yang cukup keras terdengar. Si wanita perlahan mengangkatnya. Ia kira nomor asing yang tertera hanyalah operator atau orang iseng seperti biasa. Namun kali ini berbeda, kabar buruklah yang ternyata menghantam ketenangannya.
"Halo! dengan Ibu Sarah? Kami dari kepolisian menemukan nomor ibu menjadi nomor darurat dari Bapak Bagas Aryanaka. Kami ingin menginformasikan bahwa bapak Bagas baru saja mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dibawa kerumah sakit Bu."
Disana, perempuan bernama Sarah itu tampak shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Telinganya terasa berdengung dan dadanya terasa sesak.
"Ma! Mama! kenapa ma?" tanya sang putri dengan raut cemas.
...****************...
Seorang wanita dengan penampilannya yang sudah terlihat berantakan dan menggandeng anak perempuan berseragam TK, kini tampak berlari disekitar lorong rumah sakit. Dengan raut panik, Sarah mencoba mencari keberadaan sang suami. Ia hanya bisa berdoa semoga suaminya itu baik-baik saja.
Ketika ia ingin masuk ke sebuah ruangan yang ia ketahui sebagai tempat dimana suaminya sedang dirawat, seorang suster tiba-tiba saja menghadang dirinya. "Maaf ibu, pasien saat ini sedang dalam kondisi kritis dan tengah ditangani oleh dokter. Mohon untuk menunggu diluar."
Disana Sarah hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Padahal baru saja sang suami berpamitan dengan raut bahagia. Sungguh, Sarah tidak mau itu menjadi perpisahan terakhir mereka. Ia tidak sanggup membayangkan bahwa ia harus ditinggalkan oleh pria yang ia cintai sekaligus ayah dari putrinya ini.
"Ma, Thalia takut ma. Papa gak kenapa-kenapa kan?"
"Yes, dear. Papa bakal baik-baik aja. Berdoa ya buat Papa," ujar Sarah sembari memeluk putrinya yang sedari tadi juga terlihat menangis.
Setelah satu jam lamanya Sarah menunggu, akhirnya para perawat dan seorang dokter pun keluar. Sayangnya kabar buruk lagi yang harus ia dapatkan. "Maaf Bu, Pak Bagas mengalami benturan kepala yang cukup keras dan patah tulang pada bagian rahang. Saat ini pasien dalam kondisi kritis dan mengalami koma. Kita hanya bisa menunggu sampai Pak Bagas siuman untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Tidak! Tidak!
Suaminya koma? Oh tuhan, Sarah merasa turut sakit. Kali ini Sarah benar-benar hanya bisa mengandalkan doa dan kesabaran. Semoga suaminya itu dapat segera sadar dan kembali kedalam pelukan hangat keluarga kecil mereka.
Dua minggu telah terlewati. Sarah berusaha untuk selalu berpikir positif dan dengan telaten mengurus suaminya dirumah sakit. Walaupun harus mendapatkan caci dan makian dari sang Ibu mertua. Ia harus tetap bertahan.
"Dasar, kamu memang pembawa sial ya! dulu kamu jebak anak saya sampai pernikahan impiannya gagal, dan sekarang gara-gara kamu, Bagas jadi terluka seperti ini!"
Sarah hanya diam, tentu ia tidak berani melawan. Sang mertua memang sangat benci kepada dirinya sejak dulu. Tentu, ia telah terbiasa.
"Sudah Tante, Mbak Sarah gak salah Tan, ini kan murni kecelakaan," ucap seorang gadis berhijab ungu, yang mencoba menenangkan.
"Haduh Farah, kamu memang beda banget ya sama Mbak-mu yang lon*e itu. Kamu harusnya jangan terlalu baik sama dia Far. Dia loh yang sudah merusak pernikahan kamu sama Bagas. Coba saja gak ada dia yang dateng ngaku-ngaku hamil anak Bagas. Pasti kamu yang jadi menantu Tante saat ini. Tentu saja Bagas pasti masih baik-baik saja, bukan malah koma kayak gini."
Lagi-lagi hatinya tersayat. Sarah akui memang dirinya dulu salah karena telah merusak hubungan antara adiknya dengan Bagas yang kini menjadi suaminya. Karena kesalahan satu malam, semuanya berubah. Ia dinyatakan hamil dan Bagas dengan terpaksa beralih untuk menikahnya. Padahal, saat itu Farah dan Bagas telah menjalin kasih cukup lama dan telah bertunangan, serta merencanakan pernikahan pula.
Sejujurnya ia pun merasa jahat, dulu setelah Thalia lahir ia juga meminta cerai kepada Bagas dan membujuknya untuk kembali kepada Farah. Namun tanpa diduga, cinta tumbuh diantara mereka. Hingga keduanya pun memutuskan untuk tetap bersama dan melupakan masa lalu kelam mereka.
Sayangnya sang mertua, ibu dari Bagas yang bernama Suratih itu, tidak pernah ikhlas dan terus saja membenci Sarah. Ia tetap kekeh bahwa Sarah hanyalah jalang yang bisanya membawa kesialan dalam hidup putranya. Ia terus-menerus mengatakan bahwa hanya Farah lah yang berhak dan pantas untuk mendampingi Bagas.
Larut dalam ingatan, Sarah tak menyadari bahwa Ibu mertuanya telah heboh melihat jari-jemari anaknya yang tengah koma itu bergerak. Tak lama datanglah dokter dan para perawat yang bergegas datang memeriksa.
Mereka pun terpaksa harus menunggu diluar. Perasaan tegang menyelimuti orang-orang disana. Suratih duduk dengan cemas dan bergenggam tangan dengan Farah. Sedangkan Sarah kini tetap berdiri sambil menangkupkan kedua tangan, terus berdoa untuk suaminya.
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, dokter menghampiri mereka. Kali ini rautnya nampak lega. Semoga semua memang baik-baik saja.
"Keluarga Bapak Bagas?"
"Ya, ya saya ibunya dok," jawab Suratih dengan cepat, sengaja mendahului si menantu.
"Oh iya baik ibu, saya ingin memberitahu bahwasanya pasien sudah berhasil sadar dari koma-nya."
Seketika semua yang disana bernapas lega. Sarah menangis haru. Kini ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan sang suami.
"Namun, ada satu hal yang harus kami sampaikan, yang mana mungkin ini cukup berat bagi pasien dan keluarga," lanjut sang dokter.
"Ada apa dok? Anak saya baik-baik saja kan? dia gak lumpuh kan dok?" tanya Suratih dengan panik.
"Syukurnya tidak, namun pasien saat ini sepertinya mengalami amnesia jangka pendek yang disebabkan oleh benturan keras saat kecelakaan, karena tadi pak Bagas ternyata melupakan ingatan yang terjadi baru-baru ini, termasuk kecelakaan yang menimpanya. Untuk saat ini kami hanya bisa menunggu keadaan pasien hingga stabil, kemudian kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Mendengarnya, Sarah pun merasa kaget. Ia hanya bisa berharap semoga Suaminya itu tidak melupakan dirinya. Sayangnya harapannya kali ini tidaklah terkabul, karena ketika keesokan harinya saat dokter telah memperbolehkan para anggota keluarga untuk menjenguk dan melihat kondisi Bagas, suaminya itu hanya menatapnya dengan datar, sorot matanya kian asing. Dan yang lebih membuatnya sedih, adalah ketika bukan nama Sarah yang pertama kali terlontar dari bibir pucat suaminya itu, melainkan nama perempuan lain yang tentu saja sangat Sarah kenal.
"Bun, Farah mana? Ini aku dirumah sakit, terus acara pertunangan aku sama Farah gimana?"
Runtuh sudah, hidup Sarah hancur lebur tak bersisa. Ia memandang lekat suaminya dengan raut tak percaya. Terisak dalam diam, wanita dengan surai gelap itu pun perlahan mundur dan berbalik pergi keluar dari ruangan yang seakan menghimpitnya dalam sesak.
"Bagaimana ini mas? kamu lupa sama aku. Kamu pasti juga lupa sama Thalia. Kenapa semua jadi begini? aku gak bisa mas, aku sendirian mas! Mas Bagas! Hikss."
Kehidupan Sarah kembali seperti disaat ia belum bersama dengan Bagas Aryanaka. Keluarga hanyalah sebuah omong kosong baginya. Perempuan yang lahir dengan hanya nama Sarah itu, kini harus menjalani lika-liku perjalanan penuh derita seperti yang dialaminya dahulu kala.
Sejak kecil, ia hanya dianggap sebagai anak sial. Lahir dari rahim seorang jalang yang merupakan selingkuhan ayahnya---Hendra Cakra Diharja. Terlebih disaat adiknya yang cantik jelita, yaitu Farah Putri Diharja, hadir ditengah-tengah mereka, ia semakin tidak terlihat, bahkan dianggap sebagai kuman. Jika saja saat itu nenek dan kakeknya tidak membela dirinya, mungkin ia telah lama mati, kelaparan dipinggir jalan.
Kebaikan kakek dan neneknya membersamai Sarah selama 20 tahun, sebelum keduanya meninggal karena disebabkan oleh insiden kebakaran yang menimpa sebuah swalayan tempat mereka berdua kebetulan sedang berbelanja saat itu. Sarah amat sangat terpukul, ditambah lagi, beberapa hari setelahnya, ia langsung diusir oleh sang Ibu, atau lebih tepat ia sebut sebagai ibu tirinya---Hapsari Diharja.
Sang Ayah yang melihat semuanya, memilih untuk tetap diam, seakan tidak peduli. Hanya Farah yang saat itu masih mencoba membujuk sang Ibu. Namun, nyatanya kuman memang harus segera dibersihkan. Merasa sadar diri, ia pun pergi meninggalkan rumah yang selalu tampak asing bagi dirinya.
"Saya harap kamu gak kembali lagi Sarah, seperti Ibumu, lebih baik kamu mati dan pergi ke neraka untuk menyusulnya."
Sepatah kalimat tersebut kian terngiang di kepala Sarah, hingga membawanya pada bayang aturan sakral, bahwa ia tidak lagi bisa untuk menginjakkan kakinya kembali dirumah besar berlantai dua dihadapannya saat ini.
Namun, demi putrinya, ia rela merendahkan harga dirinya sekali lagi. Satu minggu ini ia terluntang-lantung tanpa arah. Hal yang selalu ia pikirkan, adalah tentang keberlangsungan hidup anaknya. Tujuh hari, hanya tujuh hari waktu yang ibu mertuanya berikanuntuk ia dapat mencoba mengembalikan ingatan sang suami. Jika tidak berhasil, maka Sarah harus pergi meninggalkan semua kenangan diantara mereka, dan setuju untuk bercerai dengan Bagas.
Awalnya Sarah cukup percaya diri dan bersemangat. Akan tetapi, tiba di hari ke-tujuh ini, Bagas masih belum bisa mengingatnya. Bahkan saat kemarin ia membawa Thalia turut serta, tetap tidak ada perubahan sama sekali. Malah ia berakhir harus menenangkan Thalia yang menangis kencang, dikarenakan sosok yang selama ini ia panggil Papa itu, menatapnya asing dan seolah tidak mengenalnya.
"Papa! Papa udah sembuh? Thalia kangen tauu!
Bagas yang sedang terbaring di ranjang, seketika mengernyit heran. Seingatnya ia belum resmi menikah dengan Farah, lalu mengapa ada seorang bocah yang memanggilnya dengan sebutan papa?
"Ihh papa kok diam aja? Papa udah sembuh kan? Ayo jalan-jalan pa, ganti karena papa kan belum beli oleh-oleh buat Thalia."
Anak perempuan itu berbicara dengan riang, cerewet sekali. Bagas yang masih mencerna keadaan setelah terbangun dari koma itu pun, mulai merasa pusing. Kepalanya berdenyut seakan hendak pecah.
"Maaf, saya gak kenal kamu dek. Sepertinya kamu salah orang. Saya bukan papa kamu. Jadi sekarang tolong keluar ya, saya pusing," jelas Bagas dengan hati-hati.
Mendapatkan jawaban seperti itu dari papanya, sontak membuat Thalia sedih. Apakah papa-nya itu sedang bercanda? Mengapa pura-pura tidak kenal dengannya?
"Papa! Jangan becanda! Thalia sedih nih kalo papa gitu! Thalia kan anak papa. Iya kan' ma?"
Kini Thalia berusaha mencari dukungan dari sang mama. Sarah pun menggenggam tangan si anak, dan mencoba tersenyum walau rasanya pahit karena harus menerima keadaan seperti ini.
"Mas, tolong kamu ingat-ingat lagi ya. Ini Thalia anak kamu. Setidaknya kalo kamu gak bisa ingat aku, aku mohon mas bisa mengingat Thalia ya," pinta Sarah dengan suara serak dan menahan tangis, karena melihat suaminya yang hanya menatapnya acuh tak tersentuh.
"Maaf, tapi saya benar-benar gak bisa ingat apapun tentang kamu dan dia," jelas Bagas sembari menunjuk kepada Thalia yang kini mulai merengek.
"Dan, jangan paksa saya, karena kepala saya saat ini pusing sekali, " lanjut Bagas dengan tegas, kemudian pria itu pun menutup mata, berusaha mengabaikan suara jeritan tangis dari bocah kecil yang senantiasa memanggil-manggil dirinya papa.
"Papa! Hikss, papa kok jahat gitu? Papa kenapa ma? Papa jahat ma, papa jahat! Hikks."
Disana Thalia akhirnya tantrum, ia mencoba untuk mendekat dan memukul papa-nya yang sedari tadi enggan membuka mata dan menanggapi mereka. Melihatnya, Sarah hanya bisa terisak dan menutup mulutnya. Seharusnya ia tidak mengajak Thalia, seharusnya ia tidak membawa Thalia dalam permasalahan yang rumit ini.
Ya, seharusnya dan seharusnya. Namun, Sarah nyaris tidak memiliki cara lagi untuk bisa mengembalikan ingatan suaminya. Dokter pun tidak bisa memastikan apakah ingatan suaminya itu dapat kembali atau tidak. Sarah merasa sangat frustasi, apalagi ketika sang ibu mertua terus mencecarnya dan memanfaatkan keadaan saat ini untuk mendepak Sarah dari kehidupan Bagas selamanya.
"Waktu kamu habis hari ini Sarah. Seperti kesepakatan kita sebelumnya, kamu dan Bagas akan segera bercerai. Maka dari itu, besok saya harap kamu dan anakmu itu sudah angkat kaki dari rumah Bagas," terang Suratih dengan sikap arogannya ketika Sarah telah keluar dari ruangan Bagas, dengan menggendong Thalia yang kelelahan karena terus-menerus menangis.
"Tapi Bun, Thalia juga anak Mas Bagas. Setidaknya izinkan Thalia tinggal bersama kalian ya? Saya mohon, saya tidak punya apa-apa lagi," ucap Sarah membalas dengan pelan dan terisak.
Sang ibu mertua mendengus kesal, menatap tajam pada sosok wanita yang ia anggap sebagai penghancur hidup putra satu-satunya.
"Gak bisa! Bagas saja gak ingat kalo dia punya anak. Untuk apa anak itu tinggal bersama kami? Gak ada gunanya."
"Tapi Bun-
Belum sempat mengajukan permohonan lagi, ibu mertuanya itu telah berlalu pergi, meninggalkan ia pada keterpurukan dan putus asa.
Saat ini, hanya rumah dari Ayahnya lah yang menjadi tujuan Sarah. Walaupun dulu ia diusir dan tidak boleh kembali, namun Sarah harus mencoba, demi hidup putrinya. Ia tidak memiliki aset apapun. Uang dan barang-barang yang dulu suaminya berikan kepadanya telah diambil paksa oleh sang ibu mertua. Baik mobil maupun kartu debit yang ia punya sebelumnya, kini telah berpindah tangan kepada Suratih.
Sungguh, jika bukan karena Thalia, ia tidak sudi melangkah ke tempat ini. Sayangnya, keadaan telah memaksanya. Perlahan ia mengetuk pintu berwarna coklat dihadapannya. Tak lama seorang wanita paruh baya yang ia kenal sebagai mbok Ijah itu pun membuka pintu dan langsung menyapanya.
"Loh, non Sarah? Ini non Sarah kan? Ya Alloh non, mbok kangen banget sama non, maaf dulu mbok gak bisa bela non Sarah ya. Non Sarah baik-baik aja? Ini non bawa anaknya ya non? Udah gede ya non, mbok berasa punya cucu atuh non."
Tangis haru menyelimuti mereka berdua. Sarah senang karena setidaknya masih ada satu orang yang mengharapkan kehadirannya. Ya, sedari dulu, hanya Mbok Ijah.
Disela-sela percakapan singkat keduanya, tiba-tiba darj arah belakang Mbok Ijah, datanglah sang nyonya rumah. Mbok Ijah pun bergegas menyingkir dengan raut tegang.
"Ck, kamu. Sudah saya bilang bertahun-tahun yang lalu untuk gak dateng kesini lagi. Dasar gak tau malu."
"Bu, hanya kali ini aku minta tolong Bu. Izinkan anakku tinggal disini sementara ya Bu, sampai aku dapet kerja dan bisa sewa tempat kost untuk kami berdua."
Ya, tujuan Sarah datang ke rumah itu lagi adalah meminta tolong agar Thalia bisa tinggal sementara disana, berhubung tidak mungkin ia terus membawa Thalia disaat ia belum mendapat pekerjaan dan tempat tinggal. Dulu Sarah bisa hidup sendiri selama lima tahun sebelum bertemu dengan Bagas, karena ia masih memiliki tabungan dari kakek dan neneknya, juga ia yang bekerja sebagai pelayan di sebuah club ternama.
Namun saat ini, ia tidak yakin mampu mendapatkan uang dengan cepat. Maka dari itu, ia berniat untuk meminta belas kasih ibu tiri dan ayahnya, agar setidaknya mau merawat Thalia sebentar selama Sarah mencari pekerjaan.
Sayangnya, ibu tirinya itu tetap pada pendiriannya untuk tidak membiarkan sejengkal pun bagian dari Sarah dapat masuk dan kembali mengusik keluarga tercintanya.
"Menjijikan kamu Sarah! Bagaimana bisa saya menolong kamu ketika kamu saja telah menyakiti anak saya. Gak ingat kamu? Kamu yang sudah menghancurkan impian Farah untuk menikah dengan Bagas. Kamu memang sama persis seperti ibumu yang jalang itu, bisanya merusak kebahagiaan orang lain. Asal kamu tahu Sarah, Karma itu nyata! Dan sekarang kamu sedang merasakannnya."
"Tutup pintunya mbok, jangan sampai kuman itu masuk kedalam rumah ini," titah sang majikan yang membuat Mbok Ijah merasa bersalah.
"Non Sarah, maaf non, lagi-lagi mbok gak bisa bantu non Sarah, hiks."
"Gak papa mbok, mungkin memang benar ini karma buat Sarah," ucap Sarah pasrah sembari meneteskan air mata.
"Nggak non, nggak, ini semua takdir tuhan non. Non Sarah gak salah non. Non Sarah anak baik, mbok tahu itu."
Mbok Ijah mencoba menenangkan Sarah yang kini telah tersedu sembari memeluk erat sang putri yang berada digendongannya. Sungguh tragis kehidupan sang nona kesayangannya itu. Mbok Ijah hanya bisa berdoa agar segala masalah yang menimpa wanita cantik dihadapan ini, segera terselesaikan.
"Ya sudah mbok, Sarah pamit ya mbok. Mbok sehat-sehat terus ya. Sampai jumpa lagi Mbok!"
"Non, non Sarah mau kemana?"
"Gak tau mbok, mungkin dijalan nanti akan ada petunjuk. Doakan Sarah ya mbok."
Dua Tahun Kemudian.....
Seorang pria dengan tubuhnya yang kokoh dan kilatan tajam yang tersorot oleh sinar lampu diatas panggung, tampak menarik perhatian dari setiap pasang mata yang berada disana. Setiap kata yang terucap seperti memiliki daya magis yang membuat semua orang merasa takjub seketika. Bait-bait romantis membawa syahdu dan gelora baru yang menggebu.
"Sebelumnya saya ingin menyampaikan terimakasih atas kehadiran rekan-rekan, teman, sahabat, dan keluarga kami disini. Terimakasih telah berkenan menjadi saksi dalam persatuan cinta kami---saya dan Farah Putri Diharja---gadis yang teramat saya kasihi dan selalu saya harapkan menjadi pendamping saya hingga tua nanti. Saya sangat bersyukur akhirnya pertunangan yang sebelumnya telah tertunda, dapat dilaksanakan kembali. Dua tahun ini saya harus memulihkan kondisi saya terlebih dahulu pasca kecelakaan yang saya alami. Saya bersyukur karena perempuan disamping saya ini, dengan keikhlasannya mau menunggu, bahkan turut mendukung dan merawat saya hingga sembuh."
Pidatonya ia hentikan sejenak, sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk memfokuskan diri---menghadap penuh kepada sang pujaan hati. Tunangan yang hari ini memakai gaun panjang nan cantik, dengan dihiasi permata biru yang indah dan memanjakan hati.
"Farah, cintaku. Terimakasih ya sudah selalu ada bersama Mas. Hari ini adalah bukti dari keseriusan mas selama ini. Mas ingin, Farah menjadi satu-satunya perempuan yang menemani mas, menjadi ratu, dan kelak menjadi ibu dari anak-anak kita nanti. I love you for now, tomorrow, and forever," lanjutnya dengan tulus, hingga membuat Farah kian tersenyum dan meneteskan air mata.
Mendengar perkataan dari sang pujangga tadi, membuat semua tamu undangan disana bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah. Mereka yang ada disana turut merasakan atmosfer kebahagiaan dan janji cinta yang luar biasa. Beberapa orang tampak terharu hingga menyeka air mata yang tumpah, ada juga yang merasa iri karena ingin pula mendapatkan lelaki sebaik calon suami Farah Putri Diharja. Tidak sedikit pula yang menaruh harap dan turut memanjatkan doa, agar pasangan yang baru saja mengikrarkan sumpah setia dalam ikatan pertunangan ini, senantiasa diberi kemudahan dan terhindar dari segala gangguan.
Sayangnya, mereka lupa, bahwa untuk mencapai sebuah bahagia tanpa bahaya, diperlukan pula usaha dan sikap waspada, karena diantara ratusan manusia yang menjunjung harapan terbaik untuk sang pasangan utama hari ini, ada pula satu manusia yang kini sedang menahan rasa benci dan kesalnya sembari menyusun rencana apik untuk menghancurkan impian mereka. Impian yang dipalsukan dan telah mengorbankan satu hati, hingga berujung kepada pesakitan tak berkesudahan.
"Cuiihh, najis sekali. Cintaku? Kasihku? Semua palsu Mas! Fuckin' amnesia. Dua tahun aku menunggu, bukannya mencoba untuk memulihkan memori yang hilang, kamu malah menikmati waktu dengan mantan terindahmu itu," keluh seorang wanita dengan pakaian pelayan berwarna hitam putihnya.
Kedua tangan yang sedang memegang nampan hitam dengan beberapa minuman diatasnya itu pun meremat kuat, melampiaskan gundah dan amarah yang tertahan. Andai saja ia punya kuasa, sudah habis mereka berdua. Ingin rasanya ia maju---melangkah ke atas panggung dan menyiramkan selusin gelas berisi minuman berwarna merah yang ada dalam genggamannya itu kepada dua manusia kejam yang sedang tersenyum diatas sana. Seorang pria yang merupakan mantan suaminya dan sosok perempuan yang sedari kecil ia kenal sebagai saudara satu ayahnya.
"Rai-mu itu loh Mbak, dah kaya Hulk aja ihh. Inget toh mbak, masih misi penyamaran ini, harus kuat-kuatin hati."
Seruan tiba-tiba hadir dari arah belakangnya, sehingga ia kini perlahan mulai kembali ke mode tenangnya. Untung saja gadis berambut ikal itu selalu ada bersamanya, bahkan repot-repot mau membantunya hingga sejauh ini.
"Huhh, rileks Sarah, rilekss," tekannya pada dirinya sendiri.
"Nah iya mbak, rileks, tarik napas dulu. Selow aja mbak, lagian kan kita dah susun rencana toh, tinggal tunggu tanggal mainnya saja hahaha," celetuk gadis yang juga memakai baju pelayan sama sepertinya.
"Ck, tetep aja loh Ran, aku bawaannya kesel mulu. Mana harus liat keluarga dia pula, apalagi tuh si nenek lampir, mantan ibu mertua-ku dulu. Sumpah mukanya ngeselin banget."
Ya, sang penjahat utama juga berada disana, tampak ia sedang tertawa bangga. Suratih, wanita paruh baya yang dulu mengusirnya dengan kejam itu, tentu memilih tempat paling depan untuk menyaksikan hasil kerja kerasnya yang berhasil menyatukan kembali sang putra yakni Bagas Aryanaka dengan calon menantu idamannya, Farah Putri Diharja.
"Ah elah mbak, dah biarin aja. Toh nenek peyot itu nanti yang bakalan kita singkirin pertama, aman dehh, haha."
"Oh iya ya, tapi aku salut loh sama kamu Rania. Rencana kamu tuh keren banget tau, apalagi tentang nyingkirin si nenek lampir itu haha, jadi gak sabar pengin segera eksekusi," balas Sarah dengan puas.
"Kecil-kecil gini, otak-ku gede mba. Banyak taktik ini."
Keduanya pun tertawa lirih, sudah merasa puas, padahal disini mereka baru membayangkan rencana yang sebelumnya mereka susun. Ya, malam ini, di acara pertunangan megah Bagas Aryanaka---seorang jaksa terkenal dengan seorang dokter bedah nan cantik jelita yaitu Farah Putri Diharja, Sarah bersama partner in crime-nya yakni Rania Diajeng Cempaka, akan membuat kehebohan dengan menculik sang nyonya rumah, Suratih Aryanaka.
Memang cukup beresiko, mereka hanya dua orang wanita yang bermodalkan nekat. Namun, disini Sarah mencoba percaya dengan akal cerdik dari Rania. Kesempatan emas tidak boleh mereka sia-siakan. Karena kunci dari jalannya rencana mereka selanjutnya adalah dengan hilangnya Suratih. Suratih bagaikan tameng berlumur racun yang harus Sarah basmi terlebih dahulu, agar ia bisa menembus keluarga Aryanaka lagi.
"Ya udah, ayok mbak kita siap-siap aja dulu, let's go to the party hahaha."
"Hahaha, let's go baby!!"
Sayangnya, tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan interaksi mereka cukup lama, seperti merasa curiga dengan tingkah laku aneh dari mereka berdua.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, para tamu masih tampak mengobrol santai sembari menikmati hidangan yang tersedia. Sejoli yang menjadi bintang hari ini pun terlihat sibuk menghampiri para tamu undangan. Tidak jauh berbeda pula dengan para orang tua yang tiada bosannya bercakap-cakap ria.
"Wahh jeng Suratih akhirnya ya, jujur aku lebih setuju sama yang ini sih daripada yang dulu itu. Yang ini lebih berbobot, jelas pula karirnya. Aku sampe iri loh, kamu berhasil dapet menantu dokter. Dokter bedah pula, berkelas banget."
"Iya ih, andai saja anakku itu seperti Bagas. Sayangnya, matanya udah ketutup sama istrinya yang cuma guru TK itu."
"Ah, jeng-jeng ini terlalu memuji saya. Saya juga sebenarnya gak menyangka loh. Tapi ya syukurlah, kuasa tuhan itu memang ada, sehingga anak saya dijauhkan sama si perempuan gak jelas itu," ucap Suratih sambil menyesap pelan wine ditangannya.
Walau tampak merendah, namun didalam hati, Suratih sungguh merasa jumawa dan sangat senang. Dulu, ketika Sarah yang menjadi menantunya, semua temannya mengolok-olok dirinya. Tetapi, sekarang ketika Farah yang akan menjadi istri dari Bagas, mereka semua berbalik bersikap baik, bahkan memuji-muji dirinya. Ya, memang yang sedari dulu salah adalah Sarah, menantu jalang yang tidak pernah ia harapkan.
Mereka pun semakin larut dalam perbincangan yang kian bergonta-ganti topik. Hingga, tak lama, tiba-tiba Suratih merasakan perutnya tidak enak, lebih tepatnya ia merasakan mulas yang teramat kuat.
"Aduh jeng, perut saya tiba-tiba sakit nih, saya ke belakang sebentar ya. Silahkan bersenang-senang dulu di pesta anak saya."
Setelah berpamitan, Suratih pun lekas menuju ke kamar mandi. Ia kira hanya masalah perut biasa, namun ternyata ia harus bolak-balik sampai tiga kali. Hingga disaat ia baru saja selesai yang ke-empat kalinya, dengan wajah pucat dan tubuhnya yang sudah amat lemas, ia tidak menyadari bahwa ada sosok dibelakangnya. Mulutnya tiba-tiba saja disumpal, ia berusaha melawan, sayangnya bius telah mematikan seluruh organ tubuhnya, akhirnya ia pun jatuh pingsan.
"Yes, berhasil Ran! Lanjut next part!
"Siap mbak," sahut Rania dari seberang telfon.
Kemudian para tamu dikejutkan dengan matinya seluruh lampu yang berada diruangan. Gelap seketika membuat orang-orang disana terkejut dan bertanya-tanya. MC acara pun dengan sigap mencoba mengatasi suasana yang makin riuh.
"Tenang! tenang semua. Mungkin ada masalah sistem disini, tim EO sedang mengecek dan memperbaiki. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."
Mereka pun akhirnya terdiam, mencoba sabar dan menunggu terang datang kembali. Begitupula dengan Bagas dan Farah yang masih duduk sambil terus bergenggam tangan di kursi mereka saat ini.
"Sayang, kok dari tadi aku gak denger suara bunda ya? Kalo kejadian seperti ini harusnya dia yang paling heboh," tanya Bagas dalam obrolannya dengan sang tunangan.
"Nah iya mas, aku juga heran. Tapi kayaknya tadi aku sempet liat bunda ke toilet deh. Masa belum balik ya?"
Merasa ada yang tidak beres, Bagas pun memilih untuk menyusul sang ibunda. Gelap yang menyelimuti cukup membuat Bagas kesulitan, karena arah pandangnya menjadi terbatas. Namun, pendengarannya menangkap suara-suara aneh. Ia pun bergegas menuju ke arah suara, ternyata berasal dari lorong dekat toilet wanita. Dadanya pun berdegup kencang, takut terjadi sesuatu kepada Bundanya.
Disisi lain, tampak dua wanita yang tengah berusaha keras menyeret tawanan mereka.
"Aduh mba, iki ibu-ibu berat poll sih, kebanyakan dosa iki mesti," keluh Rania yang napasnya telah tidak beraturan.
"Huhh, semangat Ran, sebentar lagi yukk. Kita harus bisa bawa dia sampe ke parkiran sebelum listriknya nyala. Katanya kamu dulu atlet gulat, harusnya gampang ini mah," balas Sarah dengan terkekeh kecil karena melihat Rania yang sedari tadi tidak berhenti misah-misuh yang malah membuatnya tampak semakin menggemaskan.
"Ah mbak, iku wes suwe. Aku kan dah pensiun, ini tulang-tulang udah pada keropos gini. Tapi yo mbak aku tuh ya dulu sering juara loh. Juara di Jepang, Cina, bahkan sampe Jer---
"Hai kalian, sedang apa disana?!"
Belum selesai Rania menyombongkan prestasinya, tiba-tiba mereka dikejutkan akan kehadiran Bagas Aryanaka yang kini tengah menunjuk dan berjalan cepat kearah mereka.
"Waduhh, mbak gimana ini mbak?!"
Mereka pun langsung panik. Sialnya, mereka tidak memiliki rencana cadangan. Mereka tidak menduga bahwa Bagas akan kesini, mungkin lelaki itu curiga karena ibunya tidak terlihat lagi di ballroom acara.
"Ran, aku ada ide. Gambling sih ini. Tapi semoga manjur ya. Sekarang pake kekuatan kamu, angkat ini nenek lampir ke parkiran. Biar aku yang handle Bagas."
Entah apa yang Sarah akhirnya akan lakukan, Rania pun bergegas mengikuti arahannya. Dengan sekuat tenaga ia membawa tubuh wanita paruh baya itu dipundaknya. Kemudian ia lanjut berlari ke arah depan dan menyeruduk Bagas yang juga tengah menuju kearah mereka.
Dasar Rania, tulang keropos katanya? tapi larinya udah sekenceng kelinci yang lagi balapan sama kura-kura, batin Sarah geli.
Bagas yang mendapat serangan tidak terduga itu pun, sontak kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, tidak lama ia kembali berdiri dan berniat mengejar orang yang telah menabraknya tadi.
Belum sempat melangkah, tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang, dan tubuhnya dihimpitkan ke arah tembok. Masih dengan keterkejutannya, kini ia malah dibuat tertegun ketika ada benda hangat nan lembab yang menempel di bibirnya. Seorang perempuan asing mengungkung dirinya, dada empuknya menekan---mambawa gairah nan panas hingga ia tidak bisa berkutik. Lumatan demi lumatan, hingga gigitan-gigitan kecil kian terasa di bibirnya. Sebagai lelaki yang sudah memiliki pasangan, ia pun mencoba melepaskannya.
Ini salah, ya ini salah, tapi mengapa rasanya sangat manis dan sayang untuk dilewatkan. Ah, bermain-main sebentar, tidak apa bukan? Lagipula perempuan ini yang terlebih dahulu mulai.
Bagas kemudian membalik keadaan, memposisikan dirinya sebagai dominan. Membelit, membelai, hingga meremat segala bagian yang telah wanita itu tawarkan. Sungguh ini gila! dimalam pertunangannya sendiri, ia malah bermain api dengan sosok asing yang langsung membuatnya kecanduan dan kehilangan kewarasannya dalam sekejap.
GILAA!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!