Indonesia
NovelToon NovelToon

Falling

Pertemuan

Seorang gadis cantik sedang menikmati coffe lattenya di depan pelataran coffee shop tidak jauh dari tempat kerjanya, sambil asyik fokus dengan laptop di depannya.

Samar-samar terdengar suara pekikan seorang wanita yang membuat konsentrasi gadis cantik tersebut pecah. Keningnya berkerut dan mengangkat kepalanya mencari sumber suara yang membuatnya kehilangan fokus.

Pandangannya terhenti di satu titik di depannya hanya berjarak kira-kira 10 meter, seorang wanita cantik dengan pakaian sexynya dan wajah yang di poles make up lumayan tebal sedang mencoba menarik tangan seorang laki-laki yang berjalan mendekati coffeeshop dimana gadis cantik itu sedang duduk.

Laki-laki tersebut berjalan tergesa-gesa dengan wajah yang tampak memerah, di belakangnya tampak seorang laki-laki lain yang mencoba menghalangi wanita cantik itu yang terus saja mengejar laki-laki yang semakin mendekati gadis cantik yang sedang memperhatikan kejadian di depannya.

Tanpa di sadari si gadis, laki-laki tersebut sudah berdiri di depannya dan tiba-tiba saja...

Cup..

Kecupan singkat kilat dan tentu saja membuat wajah si gadis memerah seperti udang rebus dengan bibir yang terbuka melongo.

Laki-laki tersebut segera meraih tangan gadis tersebut dan menggenggamnya.

"Maaf, Saya butuh pertolongan anda sebentar," bisik lelaki itu pelan di telinga si gadis yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi.

"Damaaar, sialaaan Kamu, tidak.. tidak.. tidak ada yang akan menggantikan aku dari hatimu Damaaar sayang, jangan coba-coba Kamu bermain dengan wanita lain Damaaar!" wanita cantik tersebut masih terus mengikuti laki-laki yang mendekati si gadis.

"Nona, tolong bantu Saya, sampai wanita gila itu pergi," bisik laki-laki tersebut.

Gadis cantik yang masih bengong tersebut hanya memandangi wajah tampan laki-laki di depannya ini. Dirinya seperti terhipnotis dengan wajah tampan dan teduh dari laki-laki ini.

"Nona Clara tolong menjauh dari bos Kami, sebelum Bos Kami bertindak yang tidak Nona inginkan," laki-laki yang mencoba menghalangi wanita cantik itu terus berusaha menjauhi wanita yang sudah di kenalnya sebagai mantan kekasih bosnya itu.

Dua orang pengawal juga sudah mencoba bertindak kasar ke wanita tersebut, tetapi wanita tersebut seperti tidak bisa tersentuh.

"Diam kalian, jangan coba-coba menghalangi Aku, siapa kalian, apa kalian mau mati mencoba menghalangi Aku bertemu dengan kekasih Aku, hah!" pekik wanita itu lagi.

Laki-laki yang di panggil Damar tersebut tidak menghiraukan wanita cantik yang bernama Clara itu.

Cup.. sekali lagi Damar laki-laki tampan tersebut mengecup pipi gadis cantik di depannya.

Baru menyadari apa yang terjadi gadis cantik tersebut seketika membelalakkan matanya.

"Kamu!" gadis cantik tersebut ingin mengangkat tangannya menampar laki-laki tampan yang sudah dua kali mengecup pipinya tetapi gerakannya cepat terbaca oleh laki-laki yang di panggil Damar itu.

Damar segera menangkap tangan gadis tersebut dan kembali berbisik.

"Kamu mau Saya cium bibir Kamu? Bantu Saya sebentar anggap saja Kamu sedang beruntung mendapatkan kecupan dari Saya," bisik laki-laki tersebut di telinga gadis itu.

Wajah gadis tersebut kembali merona, belum lagi mendengar suara berat laki-laki manly di depannya ini yang membuatnya merinding.

"A.. a.. pa? Saya beruntung yang benar saja, jangan macam-macam dengan Saya, Saya tidak mau membantu Anda, titik," gadis tersebut menghentakkan tangannya agar bisa lepas dari genggaman kuat tangan laki-laki tampan tersebut.

"Bantu Saya atau Saya cium bibir Kamu di depan umum sini, Kamu tidak lihat semua mata mengarah ke sini, hmm?"

Gadis tersebut menoleh ke samping benar saja semua mata pengunjung coffeeshop sedang memperhatikan mereka.

"Damaaaar sialan, jangan coba lari dari Aku, Kamu tidak bisa meninggalkan Aku, Damar!" teriak wanita cantik yang masih ingin mendekati laki-laki tampan mantan kekasihnya itu.

"Nona, Saya peringatkan sekali lagi menjauh dari Bos Kami, jangan sampai kami berbuat kasar ke Anda Nona Clara.

"Siapa kalian menghalangi Aku bertemu kekasihku, Aku mau bertemu kekasihku, Damaaar, jangan coba-coba mendekati wanita lain, Damaaar!" pekik wanita cantik tersebut tanpa dia peduli lagi banyak pasang mata mengarah kepadanya.

Laki-laki tampan dengan outfit jas mahalnya itu tampak sudah duduk manis di depan gadis yang sudah di cium pipinya itu.

Gadis tersebut tidak menjawab apapun saat laki-laki tampan tersebut meminta bantuan darinya.

"Perkenalkan Saya Damar, Saya sedang menunggu klien Saya datang ke sini, biarkan Saya duduk di sini sebentar, Saya tidak ingin wanita itu mengejar-ngejar saya, bisakah Kamu pura-pura menjadi pacar Saya pagi ini sampai wanita gila itu pergi?" laki-laki yang bernama Damar memperhatikan wajah gadis di depannya ini dengan seksama.

Gadis tersebut hanya diam saja dan kembali asyik dengan laptopnya.

Baru kali ini laki-laki yang terkenal dingin dan sangat kejam dengan musuhnya ini di abaikan oleh seorang wanita.

Biasanya dirinya selalu saja di puja dan di puji oleh kaum hawa, dari klien, keluarga besar juga teman-temannya.

"Damaaaar! Jangan kira Kamu bisa lepas dari Aku!" teriak wanita yang belum juga pergi dari jarak yang tidak jauh dari Damar duduk.

Ponsel wanita itu berdering, dirinya melihat ke layar ponselnya dan menerima panggilan tersebut.

"Iya, Honey, ini Aku udah mau menuju ke sana, sabar sebentar Aku masih ada urusan di sini, iya, iya ini sudah selesai, Aku otw ke tempatmu, honey, " wanita cantik tersebut tidak berpaling lagi, dirinya berjalan menjauh mendekati mobilnya yang sedang parkir.

Dua orang pengawal dan satu orang asisten Bos Damar hanya memperhatikan wanita cantik tersebut menjauh dari mereka.

Ketiganya saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan wanita cantik yang mereka kenal sebagai mantan kekasih bosnya.

Asisten laki-laki tampan tersebut berjalan mendekati meja bosnya yang sedang duduk dengan seorang gadis cantik.

"Pak, Nona Clara sudah pergi, Bapak sudah aman," ucap asisten Damar, Vano.

"Hmm, kabari kalau Mr. Gery sudah datang tinggalkan Kami, Aku masih ada urusan dengan gadis ini," ucap Damar ke Vano asistennya.

"Baik Pak, permisi,"

"Nona boleh tau siapa nama Anda?" tanya Damar yang merasa aneh dengan dirinya sendiri. Biasanya dirinya tidak pernah seramah ini dengan wanita.

Gadis cantik yang sedang fokus dengan laptopnya mengangkat kepalanya.

"Bapak masih duduk di sini?" pandangan gadis tersebut ke depan mencari wanita cantik tadi yang sedang teriak- teriak.

"Kenapa? Apa kamu keberatan Saya duduk di sini? " tanya Damar sambil terus memandangi gadis cantik di depannya ini.

Tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama gadis cantik tersebut.

"Diandra, ternyata Kamu di sini, aku tadi dari apartemen Kamu, di telpon gak diangkat,"

Gadis yang di panggil Diandra kaget, Damar menoleh dan tatapannya beradu dengan tatapan laki-laki tampan yang sedang berdiri di depannya yang memanggil nama gadis cantik yang tadi di minta untuk menolong dirinya.

"Berry," sebut gadis cantik itu pelan.

Damar Priambodo Wibisono

Lelaki tampan dengan tinggi 183 centimeter berjalan dengan gagah di antara para pengunjung coffeeshop, banyak pasang mata mengarah kepadanya.

Bersama asistennya Vano, lelaki itu mendekati meja yang sudah di reservasi untuk pertemuan dengan kliennya.

Lelaki tampan dengan aura mengintimidasi menyalami kliennya yang baru datang ke coffeeshop di mana tempat gadis yang bernama Diandra juga ada di sana.

Pertemuan antara lelaki tampan yang di panggil Damar tersebut dengan gadis cantik di pelataran coffeeshop membuat dirinya sedikit tersenyum dengan kejadian tadi pagi.

Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun, pria tampan dengan lesung pipi membuat wanita yang melihat dirinya bisa menjadi salah tingkah sendiri.

Pria peranakan Jawa-Belanda tersebut merupakan pewaris kerajaan bisnis Wibisono Grup. Ibunya keturunan Belanda sedangkan ayahnya asli Jawa, wajah tampannya perpaduan antara Ibu dan Ayahnya yang mantan seorang pebisnis.

Damar memiliki 2 orang adik, dibawahnya laki-laki dan si bungsu perempuan keduanya sudah menikah dan memiliki anak. Hanya dirinya saja yang sampai sekarang belum menikah.

Damar bukan tidak ingin menikah tetapi baginya menikah itu hanya sekali untuk seumur hidup. Damar merasakan patah hati yang dalam sejak mendapatkan kekasih yang di cintainya berselingkuh dengan pimpinannya.

Pimpinan kekasihnya Clara merupakan rekan bisnis Damar yang baru saja bekerjasama dengan perusahaannya pada saat itu.

Damar kala itu masih berusia 28 tahun dan baru menjalankan bisnis setelah ayahnya memintanya untuk menggantikan posisinya. Dirinya sebagai anak pertama dan pilihan orangtuanya tentu saja tidak bisa menolaknya.

Sebelumnya Damar hanya seorang manager IT di perusahaan ayahnya. Hanya segelintir orang saja yang tahu bahwa Damar merupakan anak pemilik perusahaan.

Pagi ini Damar bersama Vano bertemu di coffeeshop "Santai" untuk membicarakan kerjasama bisnis dengan Mr. Gery.

Damar tampan tampak sedang melamun saat kolega bisnis menyapanya.

"Pak, Pak Damar," bisik Vano pelan.

Damar tersadar dan segera menyapa Mr. Gery yang heran dengan rekan bisnisnya ini. Tidak bisanya rekan bisnisnya ini melamun.

"Mr. Gery bisa kita langsung saja pembicaraan kita pagi ini, maaf jika tadi saya sedikit melamun,"

"Baik Tuan Damar,"

Pembicaraan bisnis keduanya di laksanakan dengan lancar tanpa ada kendala. Keduanya puas dengan kerjasama yang akan mereka lakukan.

Damar, seorang lelaki dewasa yang belum mau mencari pasangan hidupnya dikarenakan dirinya masih merasa trauma dengan kejadian Clara mantan kekasihnya sedang bermesraan saat berada di kantor rekan bisnisnya tersebut.

Clara merupakan sekretaris dari pimpinannya yang bernama Davis.

Damar datang ke kantor Davis pada saat itu karena ada hal yang urgent yang harus di bicarakan. Bersama asisten Davis pada saat itu dirinya memergoki kedua orang berlainan jenis tersebut sedang bermesraan di sofa ruangan kantor Davis.

Tentu saja amarah Damar langsung ke ubun-ubun, rahangnya mengerat wajahnya seketika merah padam dan tangannya mengepal.

Damar merasa jijik dengan penampakan di depan matanya. Kekasih yang sudah bersamanya selama 2 tahun ternyata bukan wanita baik-baik. Damar yang setia dan tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas.

Meski Clara selalu memancingnya dengan bahasa tubuhnya. Seorang Damar tidak terpengaruh. Reputasi dirinya di jaganya Damar pria cerdas dengan perhitungan konsekuensinya jika melakukan hal-hal yang di luar batas dari hubungan antara pria dan wanita dewasa.

Bagi Damar dengan statusnya sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarganya membuatnya selalu berhati-hati dalam bertindak.

Pembicaraan bisnis antara Damar dengan Mr. Gery berlangsung satu jam.

Saat Damar akan berdiri dari duduknya tanpa sengaja tatapan matanya bersirobok dengan tatapan gadis yang tadi ada di kursi coffeeshop di pelataran depan.

Ternyata gadis cantik berambut lurus sebahu tersebut sudah pindah duduknya. Dan gadis tersebut duduk bersama pria yang tadi disebut namanya Berry.

Gadis tersebut segera mengalihkan pandangannya ke samping tiba-tiba saja dirinya merasa wajahnya memanas saat di tatap sangat lembut dari laki-laki yang sudah mengambil ciuman pertamanya meski hanya di pipi.

Damar si pria tampan tersebut menarik sedikit ujung bibirnya dan segera beranjak dari tempatnya.

"Andra, kenapa dengan wajahmu, Kamu sakit? tapi tadi Kamu tidak kenapa-kenapa kok kenapa sekarang wajahmu merah begitu Ndra?"

"Berry, Aku tidak apa-apa, Aku baik-baik saja kok Ber, Kamu kenapa mencari Aku, Ber? Aku bukan anak kecil lagi yang harus Kamu khawatirkan,"

"Bukan begitu Ndra, aku tidak akan membiarkan Kamu kenapa-kenapa di kota ini, Mama Kamu, Tante Mikha yang selalu khawatir dengan anak gadisnya yang cantik ini,"

"Sudah jangan menggoda Aku, Ber, Kamu taukan Aku ke kota ini karena pingin cari suasana baru, di sini Aku bisa hidup mandiri tanpa perlu dilayani oleh siapa saja, seperti saat aku masih di rumah Papa dan Mama, aku ingin mandiri Ber tanpa perlu di bayangi dengan nama besar Papa dan Mama,"

"Oke, oke aku paham Ndra, tapi jangan selalu menghindari Aku, biarkan Aku menjagamu di kota ini Diandra Paramita Maheswari Sadewa,"

Diandra yang mendengar perkataan Berry adik sepupunya anak Om Rain hanya merotasikan kedua bola matanya.

Tiba-tiba saja terdengar suara bariton yang tadi pagi di dengarnya. Diandra kaget dan menatap pria tampan di depannya dengan mata tidak berkedip.

"Nona, urusan kita belum selesai, ingat itu," pria tersebut menarik ujungnya tipis dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan Diandra yang masih bengong.

"Ndra, urusan apa sama laki-laki itu? Kamu ada urusan apa sama Dia, bukannya Dia pengusaha terkenal di kota ini ya, kamu kenal darimana Ndra, hati-hati Ndra, Aku tidak ingin Kamu kenapa-kenapa di kota ini," ucap Berry dengan kekhawatiran ke Diandra yang lebih tua usianya 2 tahun dari dirinya.

Diandra kembali merotasikan kedua bola matanya.

"Sudah deh, Ber, Aku gak kenapa-kenapa, aku baik-baik saja, Aku tidak kebak dengan pria itu Ber, Kamu jangan macam-macam mengadu sama Ganendra, Papa dan Mama, awas aja Kamu ya,"

Berry mengerucutkan bibirnya, "Aku akan kadukan pada mereka, kalau Kamu ada sesuatu dengan pria pengusaha tadi, jangan bohong sama Aku, Ndra,"

"Barry, awas saja kalau sampai Aku di telpon mereka ya,"

"Aku janji tidak akan ngadu dengan Om, Tante dan Ganendra asal Kamu mau angkat telpon Aku kalau Aku telpon dan jangan Kamu kucing-kucingan dengan Aku, Diandra,"

"Sudah-sudah Aku mau balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku kerjakan," Diandra segera bergerak beranjak dari duduknya.

"Kamu mau ikut Aku ke kantor? Biar Kamu tidak kehilangan Aku?" Diandra bicara sambil berjalan cepat, berharap Berry, adik sepupunya anak dari Om Rain tidak mengikutinya ke kantor.

"Apa Aku boleh ikut ke kantor Kamu, Diandra Sadewa,"

Diandra tidak menjawab pertanyaan Berry, dirinya berjalan cepat ingin segera menjauh dari Berry adik sepupunya itu yang tak kalah tampannya dengan laki-laki tadi yang sudah mencium pipinya.

Kalau mengingat hal itu Diandra jadi tersenyum sendiri meski hatinya masih kesal dengan pria tinggi dan tampan tersebut.

"Diandra, aku akan balik ke kantor," ucap Berry yang memiliki showroom mobil di kota tersebut yang sudah menyusul Diandra berjalan sejajar di samping Diandra.

"Hmm,"

Diandra Paramitha Maheswari Sadewa

Gadis cantik dengan pesona di dirinya berjalan dengan percaya diri memasuki kantornya, sebuah perusahaan automatif, sebuah dealer dan showroom mobil mewah di mana dirinya memiliki jabatan sebagai Manager Marketing.

Rambutnya yang panjang sebahu tanpa poni di ikat satu, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Bibirnya akan tersenyum tipis jika ada staf karyawan yang menyapanya.

Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun putri dari Fabyan Alkandra Sadewa dan Mikhaila Danya Bimantara (Menangis Tanpa Airmata), gadis berlesung pipi yang mahal senyumnya itu sangat disegani oleh para stafnya.

Sebagai seorang Manager Marketing dari perusahaan bonafid dengan pelanggan tetapnya para eksekutif muda yang selalu tampil menawan dan wangi, seorang Diandra sering di goda oleh para pelanggan yang biasanya ingin membeli mobil mewah yang limited edition.

Memang tidak semua pelanggan yang mencoba mendekatinya, ada beberapa yang ingin mendekatinya tetapi Diandra punya berbagai cara untuk menolaknya.

"Selamat pagi Nona," panggil Gea sekretarisnya yang sangat menghormati atasannya ini.

Diandra tersenyum tipis dan membalas sekedarnya saja.

"Pagi," Diandra berjalan masuk ke ruangannya.

Gea mengikuti di belakangnya dan ikut masuk ke dalam ruangan pimpinannya itu.

"Maaf Nona, mengingatkan kembali mobil yang di pesan atas nama Bapak Damar sudah ready, Saya akan memberitahukan ke Pak Vano asisten Pak Damar yang kemarin memesannya,"

Diandra hanya menganggukkan kepalanya.

"Semua sudah beres mengenai surat-surat dan kelengkapan mobilnya? Apa ada masalah? Bukannya kemarin info darimu ada seorang wanita yang juga mau memesan mobil yang sama dengan mobil Bapak Damar? Bapak Damar? Sepertinya pernah dengar namanya?"

Diandra mengerutkan keningnya mencoba mengingat siapa yang pernah menyebut nama Damar.

"Tidak ada masalah Nona, Saya akan hubungi Pak Vano karena yang memesan dan berhubungan dengan Saya itu Pak Vano,"

"Oke Gea, kabari kalau ada masalah ya,"

"Baik Nona Diandra, Saya permisi dulu,"

"Hem" Diandra tidak menoleh ke sekretarisnya lagi dirinya sedang fokus dengan berkas di mejanya.

Bagi Gea yang sudah 2 tahun menjadi sekretaris Diandra hal tersebut tidak masalah. Gea sudah mengenal karakter pimpinannya itu. Wanita cantik dengan wajah lembut dan berlesung pipi itu tidak banyak bicara, terkesan angkuh, padahal kalau sudah kenal, pimpinannya itu sangat ramah dan humble.

Ponsel Diandra berbunyi nyaring, dilihatnya siapa yang menelpon.

Ganendra mau apa lagi nelpon, pasti mau kasih tau kalau Papa dan Mama kangen, batin Diandra menebak-nebak kembarannya Ganendra Maheswara Sadewa menelpon dirinya.

"Assalamu'alaikum, iya Gan, ada apa?"

"Waalaikumsalam, Diandra, kamu di kantor?"

"Iya, ada apa? Gak jawab aku tutup nih,"

"Waduh, galak banget, itu Amara ayank aku mau ke kantor kamu, katanya janjian sama kakak sepupunya laki-laki mau ambil mobil baru kakaknya itu. Kamu kenal sama Kakaknya, Ndra?"

"Nggak kenal,"

"Hmm, ya sudah, tolong temani Amara ketemu sama sepupunya, jangan gak Kamu temani,"

"Hmm," jawab Diandra singkat.

"Oh iya Ndra, Dewa ada nanyain Kamu itu,"

"Hmm,"

"Jangan gitu dia sahabat aku pingin deketin Kamu,"

"Udah Ganendra, Aku sibuk, bye," Diandra langsung menutup ponselnya.

Diandra tidak pernah ladeni siapapun yang mencoba mendekatinya. Diandra tidak suka jika cowok yang suka dengannya sok kenal dan sok dekat.

Banyak laki-laki yang menyukainya tetapi Diandra tidak bisa membalas perasaan laki-laki yang suka dengannya begitu saja.

Di usianya yang sudah matang seharusnya dirinya sudah memiliki anak-anak yang lucu, kedua orang tuanya sudah sering menanyakan tentang pacar kepada dirinya, hanya saja Diandra tidak pernah menjawabnya.

Orangtuanya Papa Alka dan Mama Mikha, sudah sering menanyakan kapan akan menikah, tetapi Diandra punya seribu satu jawaban yang membuat Papa dan Mamanya tidak bertanya lagi.

Tok, tok.. terdengar pintu di ketuk.

"Masuk,"

"Nona Diandra, maaf kalau menganggu, ini ada tamu mau bertemu dengan Nona,"

Diandra tidak mengangkat kepalanya saat berbicara dengan Gea sekretarisnya.

"Ayo Nona, silahkan masuk, Nona Diandra sangat sibuk,"

"Baik Saya paham, tidak apa-apa nanti Saya akan menyapanya,"

"Baik Nona, silahkan duduk,"

"Baik terimakasih," Amara gadis cantik dengan pembawaan kalem yang mampu meluluhkan hati Ganendra kembarannya si Diandra duduk di sofa tidak jauh dari meja kerja Diandra.

"Diandra, Kamu sibuk?"

Diandra yang mengenal suara wanita cantik kekasih kembarannya itu kaget. Diandra mengangkat kepalanya dan melihat calon iparnya itu sedang duduk di sofa di dalam ruangannya.

"Amara, ternyata Kamu sudah datang,"

"Iya Diandra, kok Kamu tau Aku datang?"

"Ya siapa lagi tadi Ganendra baru telpon aku,"

"Oh ya? Kembaranmu Ganendra itu terlalu takut ada apa-apa dengan Kamu, Andra,"

"Hmm,"

Tok.. tok.. kembali terdengar pintu di ketuk.

"Masuk,"

Gea membuka pintu dan masuk ke ruangan.

"Nona, di luar ada tamu yang datang, katanya mau bertemu Nona,"

"Bertemu Aku? Ya sudah suruh masuk,"

"Baik Nona,"

Terdengar suara tapak sepatu di lantai masuk ke ruangan Diandra.

"Kak Damar, Kakak sudah datang, kirain masih lama datangnya," teriak Amara begitu melihat Damar.

"Amara kamu di sini dari tadi?" Cowok yang barusan masuk belum menyadari siapa yang duduk di depan meja sibuk dengan berkas-berkasnya tanpa menyambut tamu yang datang.

"Nona, ini tamunya Pak Damar dan Pak Vano sudah datang, mereka mau membicarakan mobil yang mau di ambil hari ini," Gea mengingatkan bosnya.

Diandra mengangkat kepalanya, wajahnya tampak kaget, tetapi ia segera mengubah mimik wajahnya agak kelihatan biasa saja tidak kaget. Diandra berdiri dari duduknya.

"Silahkan duduk, Pak," Diandra berjalan manjauhi meja kerjanya dan menyambut kedatangan tamunya.

Damar dan Vano kaget dengan wanita yang baru mereka lihat, Damar memang sudah langganan di dealer mobil mewah yang sekarang mereka datangi ini. Biasanya hanya Vano yang mengurus mobil yang ingin di beli Damar.

Tapi kali ini karena mobil yang Damar beli merupakan limited edition, dirinya sudah tidak sabar ingin melihat langsung dan membawa pulang mobil tersebut.

Amara adik sepupunya memang mengetahui jika dirinya sedang membeli mobil baru limited edition.

Damar menarik bibirnya tipis saat melihat wanita yang pernah di ciumnya itu ternyata bekerja di perusahaan ini.

"Sepertinya kita pernah ketemu, Nona," terdengar pelan suara Damar bicara.

"Silahkan duduk Pak, langsung saja ke intinya Pak, mau ambil mobil Bapak bukan?"

"Hm" Damar menjawab singkat.

"Maaf Nona, Bos Saya Pak Damar ingin bertemu dengan Nona sebagai Manager Marketing untuk membicarakan mobil barunya. Apakah sudah langsung bisa di bawa pulang hari ini?" Vano sebagai asisten Damar yang lebih banyak bicara ke Diandra.

"Oh jika masalah ini bisa langsung ke sekretaris Saya juga kan ya, untuk membawa mobilnya, silahkan mobil yang di pesan sudah datang dan Bapak sudah bisa membawanya pulang, apakah ada yang mau di tanyakan lagi?"

"Tidak ada Nona, Bos Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih langsung ke Nona, dan ingin memberikan bingkisan buat Nona, karena sudah mengurus mobilnya dengan segera sampai ke tangan Bos Saya Pak Damar," ucap Vano sambil menatap wajah Diandra.

Damar terus memperhatikan wanita cantik di depannya ini, Damar yang lama tidak berhubungan dengan wanita, entah mengapa melihat wajah wanita di depannya ini perasaannya menjadi tenang dan senang.

"Kak Damar, Kakak suka dengan Diandra ya?" tiba-tiba saja Amara tanpa basa basi membuat Damar kaget begitu juga Diandra.

Damar dan Diandra saling memandang secara refleks, dan Diandra langsung mengalihkan pandangannya ke bawah saat kedua mata mereka saling menatap.

"Maaf Pak, Saya tidak bermaksud untuk menolak pemberian Bapak, tapi menurut Saya itu tidak perlu, sudah tugas Kami untuk melayani customer

agar puas dengan pelayanan kantor Kami,"

"Sudah Vano, tidak perlu berikan apapun dengan Nona.. maaf dengan Nona siapa?"

"Diandra Kak, memangnya Kak Damar gak kenal dengan Diandra? Diandra ini kembarannya Ganendra pacar Aku, Kak," Amara menjelaskan ke Damar siapa Diandra.

"Oh ya? Aku baru tau, terimakasih Nona,"

"Untuk?" Diandra menatap heran dengan tamunya ini.

"Untuk hari kemarin," Damar menarik tipis ujung bibirnya.

Blush.. wajah Diandra tiba-tiba saja merona. Diandra jadi malu, ingatannya langsung terbayang ke kejadian 2 hari yang lalu. Belum lama kejadiannya.

"Diandra wajahmu kenapa? Kamu demam?" tanya Amara yang tiba-tiba panik melihat wajah putih halus Diandra merona.

Diandra diam saja.

"Ayo kita lihat ke bawah mobil Pak Damar," Diandra tidak bisa membiarkan tamunya berada lama di ruangannya. Detak jantungnya sudah tidak normal lagi rasanya tantrum seperti ada genderang perang yang terdengar bertalu-talu dan nyaring bunyinya.

Sekali lagi Damar tersenyum tipis dan samar melihat reaksi wanita di depannya yang tampak merona dan salah tingkah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!