Levi Bagaskara, saat ini ia menjabat sebagai wakil CEO di perusahaan ayah nya, ia mempunyai adik laki-laki yang bernama Leo Bagaskara. Adik badung nya itu, bukan nya ikut mengurus perusahaan malah bekerja pada orang lain, yang merupakan kakak dari kekasihnya.
Pagi ini, Levi dan ayah nya sedang memimpin jalannya rapat direksi.
Ada beberapa kendala kecil yang harus di selesaikan segera, Lukman terlihat puas dengan kemampuan putra sulung nya itu.
"Jadi saya ingin masalah ini cepat selesai, tolong kerjasama nya" ucap Levi mengakhiri rapat pagi ini, yang tampak hangat namun tegas secara bersamaan, sangat berbeda dengan Leo yang berkepribadian dingin.
"Baik, kami mengerti"
Setelah rapat selesai, satu persatu jajaran direksi mulai meninggalkan ruangan. Levi dan ayah nya masih duduk di ruangan rapat.
"Papa ingin segera melihat kamu menikah Levi, papa sudah semakin tua apalagi di tambah penyakit papa, setidaknya ada yang mengurus kamu yang bisa saling berbagi kekhawatiran" ucap Lukman memecah keheningan.
"Papa masih sehat dan kuat" Levi tersenyum menguatkan.
"Selalu jawaban mu begitu" decak Lukman.
"Aku keluar dulu ya, pa" Levi tidak ingin percakapan dengan ayahnya berubah menjadi pertengkaran kecil.
Levi termenung di ruangan nya, ia ingin sekali menikah namun sampai saat ini jodoh nya entah dimana. Ia belum pernah berpacaran di usia nya yang sudah menginjak lebih dari kepala tiga tahun ini, berbeda dengan adiknya yang sepertinya sangat di sukai oleh para gadis, dirinya setiap hari hanya berkutat dengan laptop dan lembaran dokumen.
Sebagai anak laki-laki pertama, ia memikul tanggungjawab yang besar. Dirinya adalah harapan dan penopang keluarga nya, berbeda dengan Leo yang diberikan kebebasan untuk membuat keputusan nya sendiri.
Tetapi, Levi sama sekali tidak benci maupun iri dengan kehidupan sang adik. Meskipun dia anak laki-laki yang nakal, Leo adalah adik satu-satunya yang ia punya.
Pernah sekali, ia di seret oleh adik nakal nya itu ke tempat hiburan. Disodorkan para wanita penghibur, tetapi berakhir ia yang menghajar Leo.
Memang Levi menginginkan seorang wanita, tetapi yang dia inginkan wanita baik-baik yang bisa ia jadikan seorang ibu dari anak-anaknya.
*****
Seorang pria dengan wajah dingin nan tegas tengah melajukan mobilnya, ia memasuki pekarangan sebuah rumah mewah berwarna putih.
"Levi!" teriak pria tersebut.
"Hei yang sopan pada kakak mu ini"
"Cih" Leo mendudukkan dirinya di sofa.
"Kau tahu, tadi ayah pergi ke perusahaan keluarga Wiratama"
"Mana ku tahu" Levi mengangkat bahu nya, ia terlihat tampan dengan pakaian santai nya.
"Ayah ingin menjodohkan mu dengan Sasha, kekasihku"
Brrrr.
Levi menyemburkan kopi nya "apa kau bilang?"
Leo menatap buas dengan mata memerah "bicaralah pada ayah, jika tidak aku tidak segan-segan keluar dari rumah ini"
"Leo!" bentak nya "tenang saja, aku akan bicara pada ayah"
Leo melengos pergi, menuju kamar nya.
"Apa yang di lakukan ayah benar-benar keterlaluan, pantas saja dia murka" Levi memijat kepalanya yang mendadak pusing.
Dengan amarah yang masih bergejolak, ia melangkah kan kaki menuju kamarnya yang sudah beberapa hari tidak ia tempati karena saat ini Leo tinggal di apartemen milik nya.
Pintu kamar ia buka perlahan, Leo merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk beristirahat sejenak sebelum besok bergelut kembali dengan pekerjaannya di perusahaan Wiratama. Yang merupakan perusahaan milik keluarga kekasihnya, Sasha Wiratama.
Ia memilih bekerja di sana, tentu nya selain agar bisa bertemu dengan sang kekasih setiap hari juga mencari pengalaman baru sebelum terjun ke perusahaan milik keluarganya sendiri.
Lukman terlihat masuk ke sebuah perusahaan dengan membawa dokumen di tangannya. Ia merogoh ponsel di saku jas nya, kemudian melakukan panggilan.
" Dimana?" tanya Lukman.
"Aku di jalan, ayah. Kenapa?"
"Cepatlah datang ke perusahaan Wiratama, ayah tunggu di lobi"
"Baik, ayah"
Levi menutup panggilan nya, kemudian mempercepat laju mobilnya.
Saat tiba di perusahaan Wiratama, tampak ayah nya sudah menunggu di lobi perusahaan.
"Ayo kita langsung naik ke atas"
Lukman memimpin langkah menuju ruangan petinggi perusahaan.
"Ayah, sudah membuat janji" tanya Levi, ketika mereka berdua di dalam lift.
"Sudah"
Ting.
Lift terbuka, segera Lukman dan Levi menuju ruangan CEO setelah sebelumnya mengonfirmasikan kedatangan mereka pada sekertaris perusahaan.
"Silakan pak, tuan besar dan tuan muda sudah menunggu" seorang wanita muda, mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Terimakasih" ucap Lukman dan Levi bersamaan.
"Selamat pagi, tuan Agung dan tuan Edrick" Lukman membungkuk hormat dan tersenyum ramah.
Levi masih tetap berdiri, sesekali melirik ke arah wanita yang sedang duduk di atas sofa.
"Silakan duduk" Agung mengajak kedua tamunya untuk duduk di sofa.
"Terimakasih" Lukman duduk di ikuti oleh Levi.
"Perkenalkan ini cucu perempuan saya, Sasha Wiratama. Ayah nya meninggal saat masih kecil" suara nya perlahan pelan.
Agung menatap ke arah Levi "sejak saya bertemu dengan anak mu di pertemuan waktu lalu. Sejak saat itu, aku menginginkan nya untuk menjadi suami cucu ku. Tenang saja, aku akan menggelontorkan dana untuk perusahaan mu yang sedang mengalami kesulitan" ia mencoba meyakinkan.
"Baik, saya setuju" ucap Lukman sumringah.
"Ayah, Leo dan Sasha mereka sepasang kekasih" potong Levi.
Sasha mendongak, menatap pria di hadapannya. Dia kakak yang baik.
Ia yakin, dengan sifat kakak nya Leo yang seperti ini. Perjodohan ini masih bisa di batalkan.
"Oh ya?" Lukman baru tahu, putra keduanya itu cukup tertutup. Jika saja ia tahu, ia tidak akan buru-buru menyetujui.
"Tuan Agung, bagaimana kalau kita jodohkan nona Sasha dengan putra kedua saya" ucap Lukman, menundukkan wajahnya.
"Saya tidak suka di permainkan seperti ini. Dari awal yang saya inginkan untuk jadi suami cucu saya adalah Levi" geram Agung.
"Kakek, tenanglah" Edrick buru-buru menenangkan, ia khawatir kakek nya ini punya riwayat penyakit jantung.
"Sasha, apakah kamu tidak mau?" tanya Agung, menahan dada nya yang terasa nyeri.
Sasha buru-buru mengangguk "iya kek, Sasha hanya menyukai kak Leo"
"Bagus...bagus. Sekarang kamu pun bisa melawan kakek" Agung membungkuk terlihat kesakitan "Levi, selain pria yang mempunyai tanggungjawab dan integritas, dia juga pria dewasa yang bisa mengayomi. Bukan seperti Leo, dingin dan keras kepala. Kamu harus terus bersabar menghadapinya"
"Ahh" Agung berteriak.
Suara sirine ambulans menggaung di pagi hari, berhenti di sebuah perusahaan. Petugas segera mengeluarkan brankar, terlihat tubuh Agung di angkat oleh beberapa orang.
"Cepat angkat" ucap Lukman panik.
"Kakek, maafkan Sasha huhuhu" ucap Sasha, menangis sejak tadi.
Leo yang baru saja mewakili rapat di luar, baru saja tiba. Terkejut dengan situasi yang tampak kacau di area depan kantor.
Ia langsung menghampiri sang kekasih yang tengah menangis.
"Honey, ada apa?" Leo memeluk Sasha.
"Kak, kakek...." ia tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Tenanglah, tuan besar akan baik-baik saja" ia mengelus puncak kepala nya.
Levi yang melihat itu, sontak menundukkan kepala nya. Sikap nya sudah benar, ia tidak ingin berebut wanita dengan adiknya sendiri.
Levi memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah milik mertua nya, hari ini ia ingin menjemput istrinya untuk kembali pulang.
Levi menekan bel rumah, tak lama seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Tuan Levi"
"Istri saya ada?"
"Nona Citra ada, tuan"
"Siapa mbak?" seorang wanita cantik muncul dari dalam rumah.
"Ini nona, tuan Levi"
"Sayang" panggil Levi.
"Ayo duduk" Citra terlebih dahulu mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Kita pulang ya, aku sudah menyelesaikan semua nya. Tidak ada lagi yang akan mengancam mu gara-gara aku tidak membayar hutang"
"Bener sudah beres?" tanya Citra dengan ketus.
"Bener sayang, kita pulang ya" Levi menggenggam tangan istrinya.
Melihat wajah menyedihkan suaminya, akhirnya Citra luluh untuk pulang ke rumah suaminya.
"Baiklah, tunggu aku akan mengambil barang-barang ku dulu" Citra naik ke lantai atas dimana kamarnya itu berada.
"Levi?" panggil Lita, ibu mertua nya " sudah lama"
"Baru saja ma, saya kesini ingin menjemput Citra" Levi menoleh ke arah ibu mertuanya.
"Bagaimana urusan mu beres?"
"Alhamdulillah beres, ma"
"Maaf mama dan papa tidak bisa membantu, malah kalian yang membantu pengobatan papa" ucap Lita dengan raut sendu.
"Tidak apa-apa ma, do'a kan saja perusahaan ku lancar"
"Amiinn" Lita mengaminkan ucapan menantunya itu
Terlihat Citra menuruni tangga dengan menyeret koper milik nya, kemudian tersenyum tipis ke arah Levi dan mama nya.
"Ma, Citra pamit pulang dulu"
"Kalian hati-hati ya, dan juga kalau ada masalah apapun usahakan bicarakan dengan baik-baik"
"Iya ma" Citra dan Levi bergantian mencium punggung tangan Lita.
*****
Hari ini adalah weekend dimana semua pekerja libur, untuk beristirahat atau sekedar jalan-jalan mengisi kembali energi yang sudah habis dipakai selama seminggu untuk bekerja, saat ini Levi sedang menuju apartemen milik Leo, sengaja ia mengunjungi adiknya itu di hari libur karena di hari biasa Leo sibuk bekerja di perusahaan Wijaya.
Sebenarnya ia sudah menawari untuk bersama-sama mengurus perusahaan, namun adiknya itu menolak dengan dalih ingin mencari pengalaman.
Levi menekan kode apartemen yang sudah ia hapal di luar kepalanya. Saat membuka pintu, aroma makanan langsung menyeruak menusuk hidung.
"Jangan terlalu banyak makan mie, tidak baik untuk kesehatan" ucap Levi menghampiri adiknya itu.
Leo hanya terdiam, ia dengan tenang memakan makanan yang telah ia buat.
Levi mendengus kasar merasa di abaikan.
"Memang lebih baik kamu menikah, supaya ada yang mengurus mu"
"Aku belum ingin menikah"
"Kamu harus menikah, karena aku sudah menyepakati perjanjian dengan pak Rasyid"
Tak.
Leo membanting sumpit milik nya.
Plak.
Levi pun tak ingin kalah, ia menampar wajah Leo.
"Kemarin-kemarin aku terlalu toleran pada mu hingga kau begitu kurang ajar terhadap kakak mu sendiri, ingat kau bisa sukses seperti ini karena aku yang membiayai, karena perusahaan orang tua kita, apa salah nya jika sekarang aku meminta sedikit saja bakti mu untuk membantu perusahaan" sentak Levi.
"Aku sudah punya kekasih" ucap Leo dengan nada dingin.
"Baru kekasih kan bisa putus kapan saja"
"Tidak semudah itu"
"Keputusan ku sudah final, kau harus menikah dengan anak pak Rasyid" Levi membanting pintu apartemen, hingga Leo sampai memejamkan matanya.
"Arrrggghhh" Leo memegang kepalanya.
"Dasar kakak sialan"
Leo melangkah kan kaki nya menuju kamar, kemudian ia membungkus tubuh nya rapat-rapat dengan selimut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!