Indonesia
NovelToon NovelToon

Kembar Tiga Sang CEO Dingin

Petaka di Resort

"Om! Om! Mau gak jadi Papa kami?"

Tiga anak kembar yang sedang aktif-aktifnya itu menyerbu seorang pria tinggi yang berdiri di lobi Hotel, sebuah hotel termewah di kota itu. Pria itu memakai jas rapi, wajahnya dingin dan gagah—cukup untuk membuat tiga bocah itu berhenti bermain dan langsung terpana.

Pria itu menoleh perlahan, menatap mereka dengan tatapan tajam seolah kehadiran tiga bocah itu adalah gangguan besar.

"Om! Mau gak jadi Papaku?" tanya Farad, kembar kedua, polos dan paling cepat terpikat oleh pria asing tersebut.

"Iya, Om. Mau gak jadi Papa kami? Kami gak punya Papa, dan Om keren banget," sambung Fared, kembar pertama yang selalu cerewet.

"Om ganteng, Mama kami cantik dan jago masak! Om pasti suka Mama kami," tambah Farid, kembar ketiga.

Pria itu menghela napas kasar, jelas tidak suka didekati anak-anak. Tanpa ampun, dia mendorong mereka satu per satu hingga terjatuh.

"Bocah-bocah sial! Minggir!" hardik pria itu— Leonhart Varellion, CEO yang terkenal kaya dan memiliki wajah yang membuat wanita manapun terkesima , terkenal dingin dan tidak punya hati, terutama pada anak-anak.

"Huaaaaa… Mamaaa…!!"

Tiga kembar itu menangis bersamaan.

Di saat mereka merangkak bangun, seorang wanita cantik dengan seragam staf resort berlari menghampiri. Dengan cepat ia memeluk ketiga putranya dan memeriksa satu per satu.

Leon mendadak membeku.

Wanita itu… adalah seseorang yang tidak pernah ia duga akan ia temui lagi.

Alya Renatha.

Wanita yang dulu sempat menjadi istrinya sebelum ia menceraikannya tanpa penjelasan.

Enam tahun yang lalu

“Alya, tolong antar minuman dan buah ini ke Vila Utama.”

Alya mengangguk dan mendorong troli berisi minuman premium serta hidangan ringan. Ia bekerja sebagai staf pelayanan di Resort Indraloka, tempat yang sering disewa pejabat, artis papan atas, sampai pengusaha asing yang menghabiskan puluhan juta semalam.

Alya bertubuh mungil, tingginya hanya 160 cm—tetapi ia pekerja keras. Banyak tamu laki-laki yang jatuh hati karena wajah ayunya, namun Alya selalu menolak tip atau ajakan makan malam yang mencurigakan. Ia tidak mau terlibat dalam dunia gelap pria-pria kaya itu.

Hari itu, ia mendapat tugas mengantar hidangan ke vila paling mahal—tempat orang-orang penting menginap. Ia mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Pintu sedikit terbuka.

Takut terjadi sesuatu, Alya masuk perlahan.

Namun begitu ia melangkah, seseorang menarik pinggangnya dari belakang dan menutup pintu. Seorang pria dengan aroma alkohol menyengat menyandarkan tubuhnya pada Alya.

“Lepaskan saya, Tuan!”

Alya berusaha mendorongnya.

Pria itu mendorong Alya ke kasur besar di tengah ruangan. Semua pakaiannya sudah berantakan—jelas ia sedang mabuk berat.

Saat Alya hendak kabur, kakinya ditangkap. Tubuhnya terjatuh ke lantai dan kepalanya membentur pinggiran meja. Pandangannya berkunang-kunang, tubuhnya goyah, dan ia tidak sanggup melawan saat pria itu mengangkatnya kembali.

“T-tolong… jangan…” Suaranya pecah, kepalanya berdenyut hebat.

Tapi pria itu tidak mendengar apa pun selain nafasnya sendiri.

Dan malam itu… segalanya terjadi.

 

Alfred, seorang pria tua berambut perak, masuk ke dalam vila pribadi itu dan langsung terkejut ketika melihat cucunya sedang menindih seorang gadis pelayan. Alya yang sudah berlinang air mata hanya bisa pasrah, menatap Alfred seolah meminta pertolongan.

“Ayah, di mana Leon?” Rafael masuk beberapa detik kemudian dan langsung membelalak. “Astaga! Apa yang kamu lakukan, Leon?!”

Leonhart yang sudah tepar berat tidak menggubris mereka bahkan mungkin tidak mendengar dan masih tidak mengenakan sehelai benang pun.

Alfred cepat-cepat meraih selimut dan menyelimutkan tubuh Alya. Dari raut wajahnya jelas ia tahu bahwa cucunya yang mabuk itu telah memaksa gadis tersebut.

Alya bergegas pergi sambil menangis, merasa kehormatannya direnggut oleh pria asing itu. Ia merasa dirinya kotor, tak suci lagi, dan mendadak menganggap dirinya tak ada bedanya dengan teman-temannya yang terpaksa tidur dengan tamu kaya tanpa ikatan apa pun.

“Putramu itu sudah mencemari seorang gadis,” ucap Alfred berat kepada Rafael.

“Sepertinya Leon kalau sadar juga tidak akan mau melakukan itu. Ini kecelakaan,” jawab Rafael, mencoba membela anak satu-satunya.

“Dia tetap harus bertanggung jawab,” balas Alfred tegas.

“Ayah! Tidak ada yang tahu selain kita dan gadis itu. Kita bisa menutup mulutnya dengan uang. Leon itu pewaris satu-satunya dan pantas mendapat wanita yang setara,” sahut Rafael.

“Apa aku membesarkanmu untuk berpikir seperti itu? Laki-laki yang punya harga diri tidak akan lari dari tanggung jawab. Kamu lupa masa mudamu sendiri? Kamu ingin Leon mengulang kesalahanmu?” tanya Alfred tajam.

“Tapi Ayah…”

“Suka atau tidak, Leon harus menikahinya,” putus Alfred.

Rafael terlihat jelas tidak rela bila anaknya, pewaris keluarga Leonhart, harus menikahi seorang pelayan.

“Mumpung kita masih di sini, cari tahu siapa gadis itu,” ucap Alfred sambil melirik Leon yang masih terkapar tak sadar.

 

Beberapa jam kemudian

Leonhart terbangun dengan selimut menutupi tubuhnya. Di ujung tempat tidur, Rafael duduk sambil menatapnya dengan kecewa.

“Banyak wanita lain yang lebih layak. Kenapa justru menggauli pelayan?” tanya Rafael dingin.

Leon mengusap wajahnya, duduk, dan baru sadar bahwa ia masih tanpa busana.

“Apa maksud Papa?” gerutunya.

“Kamu harus menikahi gadis itu. Itu permintaan Kakekmu,” jawab Rafael.

“Gadis apa, Pa?” Leon terlihat kesal, lalu membeku setelah sadar situasinya.

“Pelayan yang kamu tiduri. Papa tidak bisa menolak keputusan Ayah. Kali ini Papa tidak bisa melindungimu.”

Leon memukul kasur keras-keras. “Sial! Aku bahkan tidak ingat apa pun! Itu cuma kecelakaan!”

“Leon, turuti perintahnya. Kalau tidak, pewaris kekayaan keluarga bisa jatuh ke cucu yang lain. Ingat, kamu sudah membuat masalah besar. Papa sudah mencari tahu identitas gadis itu. Kamu bisa menikahinya secara kontrak, diam-diam. Lagi pula… umur kakekmu tidak lama. Setelah beliau tiada, kamu bisa menceraikannya.”

Keterpaksaan

Alya terduduk di sudut kamar asrama kecilnya sambil meremas kedua tangannya. Wajahnya pucat, matanya sembap. Baru saja ia dipanggil oleh dua pria tua—Rafael dan Alfred Leonhart—keluarga dari pria yang telah menodainya. Mereka berjanji akan bertanggung jawab, padahal Alya sama sekali tidak pernah mengharapkan itu.

“Hei, Alya… kenapa bengong kayak mayat hidup gitu?” tanya Maya, teman sekamarnya.

Alya menghela napas berat. “Maya, kalau kamu dipaksa oleh seorang pria yang bahkan nggak kamu kenal… lalu keluarganya ingin menikahkan kamu dengan dia, kamu bakal apa?”

Maya spontan mengernyit. Pertanyaan itu jelas aneh dan berat.

“Kalau keluarganya orang kaya ya… aku terima aja. Lagian kehormatan wanita itu penting, laki-laki harus tanggung jawab,” jelas Maya tanpa ragu.

“Walau kamu nggak kenal dia sama sekali, tetap mau?” tanya Alya lirih.

“Kalau sudah terlanjur hamil bagaimana?”

Alya sontak terdiam. Maya menatapnya tajam, penuh curiga, lalu ikut duduk dekatnya.

“Itu yang kamu rasain sekarang, kan? Siapa pria itu, Ly?” tanya Maya pelan.

Alya terkejut sampai tubuhnya menegang. Aib itu terlalu berat baginya—dia selalu menjaga kehormatan, tak pernah berniat menyentuh lelaki sembarangan. Maya mengusap punggung Alya lembut, ia sudah mengerti ketika melihat wajah panik dan kebingungan sahabatnya itu.

“Apa dia salah satu tamu VVIP vila Indraloka?” tanya Maya perlahan.

Air mata Alya langsung pecah. Akhirnya ia menceritakan semuanya dari awal. Maya mendengar tanpa memotong, wajahnya berubah iba. Mereka sama-sama bekerja jauh dari keluarga demi mencari nafkah, tetapi nasib buruk bisa menghampiri kapan saja—terutama di tempat kerja yang hanya memandang status dan kekuasaan.

“Kalau dia mau nikahin kamu, mending kamu terima,” ujar Maya.

“Terus aku harus berhenti kerja? Kerja di resort ini impian aku, May. Gajinya besar… aku butuh biayai nenek.”

“Aku yakin suami kamu bisa menafkahi kalian. Kalau dia tinggal di vila VVIP… udah pasti orang super kaya,” ucap Maya mantap.

Alya hanya menggeleng sambil menangis. Ia tidak tahu harus memilih apa. Jika menolak, bagaimana jika ia benar-benar hamil? Kalau sampai itu terjadi, dia tetap tak bisa bekerja lagi di sini.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Maya cepat bangkit dan membukanya. Kepala pelayan berdiri di sana.

“Alya, seseorang ingin bertemu denganmu. Kamu harus ikut saya sekarang.”

“Baik, Pak…” jawab Alya pelan.

Maya menepuk punggung Alya lembut, memberi semangat.

Dengan langkah berat, Alya mengikuti kepala pelayan itu menuju sebuah ruangan tertutup. Bulu kuduknya meremang—jantungnya berdebar tak karuan, saat ini memikirkan kemungkinan terburuk seperti pemecatan nya dari pelayan Resort.

 

Sesampainya di ruangan itu, Alya masuk perlahan dan pintu tertutup di belakangnya. Kepala pelayan meninggalkannya sendirian. Di dalam, ia melihat pria yang telah merenggut kehormatannya secara brutal—Leonhart Varellion. Pria itu hanya melirik sekilas tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu memalingkan wajah seolah semua itu bukan apa-apa.

“Namamu Alya Renatha?” tanya Leon tanpa emosi.

“Iya, Tuan…” jawab Alya gugup.

“Jangan panggil aku ‘Tuan’. Aku belum setua itu,” bentak Leon sinis.

“M–maaf…”

Leon mengangkat dagunya, menatapnya dengan pandangan merendahkan. “Beginikah sifat orang miskin yang memanfaatkan keadaan? Kamu bisa saja kabur, tapi malah menikmati permainan itu.”

Alya terbelalak. “Apa maksudmu?” tanyanya lirih namun terdengar tidak terima.

Leon berdiri dan melangkah mendekatinya, langkahnya berat dan tajam. Alya mundur sampai punggungnya menempel ke dinding.

“Kamu bisa lari saat aku akan menyentuhmu. Tapi kamu malah menyerahkan diri. Semua wanita sama saja—ingin dapat pria kaya dengan mudah dengan menjual harga diri,” ujar Leon dingin.

Tanpa pikir panjang, Alya menamparnya keras. Tangannya bergetar, tapi ia tidak menyesal. Ucapan pria itu terlalu menyakitkan. Leon menatapnya tajam—baru kali ini ada wanita yang berani melayangkan tangan padanya.

“Ternyata uangmu tidak bisa membeli etika,” ucap Alya gemetar namun tegas.

“Kamu…” Leon mendesis marah.

“Apa? Mau menamparku balik? Tampar saja! Itu cuma menunjukkan betapa rendahnya kamu sebagai pria,” balas Alya, menatapnya balik tanpa mundur.

Tiba-tiba pintu terbuka. Leon segera mundur dan duduk kembali, pura-pura tenang. Yang masuk adalah Alfred dan Rafael Leonhart. Alya kembali gugup, apalagi ia sadar apa yang barusan ia lakukan—menampar pewaris keluarga Leonhart.

 

Alya hampir tak percaya barusan ia menampar pria kaya yang telah merusaknya. Saat pintu terbuka, Alfred Leonhart masuk bersama Rafael.

“Alya Renatha?” tanya Alfred.

“Iya, Tuan…”

“Silakan duduk di sebelah Leon.”

Alya dan Leon saling bertatapan sebentar sebelum keduanya cepat-cepat memalingkan wajah. Alya melangkah pelan dan duduk di samping Leon. Mereka sama-sama membuang muka, sementara Alfred tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.

“Kalau dilihat-lihat, wajah kalian agak mirip,” goda Alfred.

“Kakek menyamakan aku dengan seorang pelayan? Level kami sangat berbeda,” sahut Leon dengan nada angkuh.

“Oh Leon, jangan terlalu sombong. Coba lihat calon istrimu—dia cantik, hanya butuh sedikit dipermak,” ucap Alfred santai.

“Sudahlah Ayah, jangan terlalu banyak basa-basi,” potong Rafael, yang sejak awal tidak suka bila putranya disamakan dengan seorang pelayan.

Alfred tertawa kecil. “Baiklah. Alya, Leon… setelah kita pulang dari sini, kalian akan menikah. Walaupun pernikahan ini mendadak, Kakek yakin suatu saat benih-benih cinta akan muncul di antara kalian.”

Pria tua itu melirik Alya lembut. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu cucu dari wanita yang pernah dicintainya di masa muda—dan justru terlibat insiden buruk dengan cucunya sendiri.

“Tapi Tuan… pekerjaan saya bagaimana? Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya begitu saja,” tanya Alya panik.

“Tenang, Nak. Setelah menikah dengan Leon , hidupmu akan jauh lebih baik. Keluarga kami akan menanggung semuanya, termasuk ekonomi keluargamu,” jawab Alfred.

Leon tiba-tiba bersuara, nada suaranya tidak suka. “Lalu apa untungnya untukku?”

“Cucu bodoh! Perbuatanmu itu bisa merusak nama keluarga kita. Kamu memang harus bertanggung jawab. Kamu pikir ini masalah kecil?” bentak Alfred.

Leon menatap Rafael. Ayahnya hanya mengangguk pelan, meminta putranya mengikuti keputusan sang kakek.

“Kemasi barang-barangmu,” ucap Alfred kepada Alya. “Setelah vila ini kami tinggalkan dan helikopter tiba, kita akan terbang ke Jakarta.”

“Tuan… saya bahkan belum menyetujui pernikahan ini,” ucap Alya memelas.

“Jika kamu hamil bagaimana?” balas Alfred. “Kamu tidak tahu siapa kami. Kalau kami pergi tanpa kabar, kamu tidak akan bisa mencarinya. Ini demi kebaikanmu—setidaknya pria yang menodaimu akan menikahimu.”

Alya terdiam. Tidak ada pilihan lain.

“Baik, Tuan… saya akan berkemas dan berpamitan dengan rekan kerja saya.”

“Kamu punya waktu satu jam,” jawab Alfred.

Alya baru saja melangkah keluar ketika tiba-tiba Leon menarik tangannya kasar dan membawanya ke sebuah ruangan kosong. Ia mendorong Alya ke dinding, tatapannya gelap dan tajam.

“Jangan senang dulu,” desisnya dingin. “Aku menikahimu karena terpaksa. Setelah upacara nanti, kau minum obat pelancar—pastikan kau tidak hamil anakku.”

Pernikahan Suram

Alya membawa tas kecilnya sambil menunduk. Dia sudah berpamitan dengan bos dan rekan kerjanya di resort Indraloka Tidak pernah sekalipun ia membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini—dipaksa menikah dengan pria asing yang tidak ia cintai.

Apa yang akan neneknya pikirkan bila ia pulang ke desa sambil membawa “suami”?

“Sudah?” tanya Alfred Leonhart, kakek dari pria yang menodainya.

“Sudah, Tuan…” suara Alya pelan.

Alfred menatapnya lama. “Kamu… mirip sekali dengan seseorang yang dulu pernah kukenal.”

Alya bingung, tetapi tidak berani bertanya.

 

Setibanya di dermaga, sebuah mobil mewah sudah menunggu.

Alya dan Leonhart duduk di belakang. Mereka sama-sama membuang muka, seolah keberadaan satu sama lain adalah kutukan.

“Kakek sudah menyiapkan pesta pernikahan yang meriah untuk kalian,” ucap Alfred dari kursi depan.

Leon mendengus. “Kakek tidak perlu repot. Pernikahan ini hanya formalitas. Aku tidak ingin mengundang siapa pun.”

“Pernikahan cucu pertama keluarga Leonhart tanpa perayaan? Tidak mungkin,” jawab Alfred tegas. “Alya adalah calon cucu menantu Kakek. Dia pantas mendapat yang terbaik.”

Leon tidak menjawab. Ia tahu berdebat dengan Alfred hanya buang waktu. Kakeknya keras kepala, dan ayahnya—Rafael Leonhart—selalu memilih diam.

Sementara Leon hanya menjalankan pernikahan ini demi menutup skandal, setelah itu ia berniat menceraikan Alya… sesuai kesepakatan Rafael.

 

Setiba di bandara, mereka langsung diarahkan menuju jalur khusus. Jet pribadi keluarga Leonhart sudah siap. Alya ternganga—keluarga ini seperti bangsawan modern.

Sayangnya, pangerannya adalah pria angkuh berhati batu.

Di dalam jet, Alya berusaha terlihat sopan meski jantungnya berdebar melihat kemewahan di sekelilingnya.

“Alya,” tanya Alfred, “di Jakarta kamu punya tempat tinggal?”

Alya menggeleng. “Tidak, Tuan. Saya tidak punya rumah di Jakarta.”

“Kalau begitu kamu tinggal di rumah keluarga kami sampai pernikahan selesai.”

“Ayah! Dia bahkan belum sah menjadi istri Leon!” sela Rafael.

Alfred menatap Rafael tajam. “Dia calon menantumu. Dan jika kau masih ingin warisan dan posisi di perusahaan tetap turun ke garis keturunanmu, tutup mulut.”

Rafael yang mendengar itu langsung diam.

 

Setiba di rumah megah keluarga Leonhart, Riana, ibu Kandung Leon, berjalan menghampiri sambil memegang gaun yang baru dibelinya.

“Sayang, kenapa kalian pulang cepat? Dan siapa gadis itu?”

Rafael melewatkan Alya tanpa menatapnya. “Anakmu memperkosa seorang gadis. Gadis itu yang akan dinikahi Leon . Ayahku yang memaksa.”

Riana terhenyak. Rafael langsung masuk kamar, meninggalkan Alya berdiri sendirian di tengah ruang megah itu—dihadapkan pada keluarga baru yang bahkan tidak menginginkannya.

 

Riana memandang Alya dengan sinis, kenapa juga harus gadis pelayan yang menikahi putra pewarisnya?

"Selamat sore, Tante. Nama saya Alya Renatha," ucap Alya.

"Kamu yang menggoda anakku?

Leon tidak mungkin terpikat dengan gadis jelek sepertimu," jawab Riana dengan ketus.

Alya terdiam, ternyata sifat Leon yang angkuh menurun dari kedua orang tuanya.

"Riana, tidak perlu memojokkannya. Ini semua salah Leon dan dia harus bertanggung jawab. Oh iya, pernikahan mereka akan diselenggarakan minggu depan dan akan diurus oleh orang kepercayaan ku sebagai penghulu. Tugasmu hanya menulis nama-nama orang yang akan kamu undang ke pernikahan anakmu," jelas Alfred.

"Baik, Ayah."

Rafael Juga menyuruh pembantu untuk mengantar Alya ke kamarnya, Alya berpamitan kepada calon ibu mertuanya walau tidak digubris.

***

5 hari kemudian.

Pernikahan antara Leonhart dan Alya Renatha membuat heboh karena termasuk mendadak.

Pernikahan itu diselenggarakan di sebuah gedung dengan kapasitas tamu sampai 500 orang, ini masih termasuk sedikit karena orang tua Leon memang hanya mengundang beberapa orang saja dan sisanya tamu milik Alfred.

Alya sudah memakai gaun pernikahan yang bagus serta riasan yang tidak terlalu mencolok. Sudah seminggu dia menginap di rumah besar itu dan dia bisa menyimpulkan pernikahannya saat ini hanya sebuah drama karena Leon serta orang tuanya tidak menyukai Alya.

Janji-janji pernikahan sudah dilakukan di Ballroom pagi ini dengan yang mengikrarkan akad kepada pengantin dan sekarang acara resepsi, status Alya juga sudah menjadi Nyonya Leonhart Varellion. Tamu-tamu berdatangan dan memberi selamat kepada mereka, sesekali Alya melirik sang suami yang berada di sebelahnya tersenyum menyambut tamu dan akan kembali datar saat tamu itu sudah pergi. Sungguh pemain sinetron yang hadal.

"Alya?"

"Nenek?"

Alya memeluk sang nenek dengan sebuah kerinduan yang mendalam, sudah berbulan-bulan dia tidak bertemu dan mereka bertemu lagi di saat Alya sudah menikah.

"Nenek datang diantar siapa?"

tanya Alya melepaskan pelukannya.

"Ada orang yang menjemput Nenek datang kemari dan mereka memberikan baju bagus ini untuk dipakai di hari pernikahanmu," jawab Nenek.

"Pasti suruhan Tuan Alfred." Gumam Alya.

Nenek tersenyum dan menangkup wajah Alya. "Kamu harus bersyukur karena mendapatkan suami yang tampan apalagi kakek mertuamu juga orang yang baik."

Alya hanya mengangguk sementara Leon masih acuh tak acuh kepada mereka.

"Nenek menginap di mana saat ini?" tanya Alya.

"Di hotel tidak jauh dari sini. Alfred yang menyiapkan semuanya dan ternyata dia masih ingat padaku," jelas Nenek.

"Maksud Nenek apa?"

"Ah! Itu hanya masa lalu dan tidak perlu dibahas. Sekarang kamu sudah bahagia dan tidak perlu bekerja lagi di Resort itu, setidaknya Nenek sudah lega karena tidak perlu mencemaskanmu di dalam Resort itu."

Alya tersenyum dan mereka kembali berpelukan, sang nenek kemudian turun dari sana dan mengobrol kembali dengan Alfred.

Tak berselang lama kemudian seorang wanita cantik datang dan membuat Leon langsung syok padahal dia tidak merasa mengundangnya.

"Leon!"

Mereka berpelukan dengan erat dan tidak mempedulikan Ayla yang sudah berada di sebelahnya.

"Miki? Siapa yang memberitahumu jika aku hari ini menikah?" tanya Leon.

"Kamu jahat! Padahal janjimu kamu ingin menikahiku, kamu menghilang beberapa saat dan malah menikah dengan gadis lain," jawab Miki.

Mereka melepaskan pelukan masing-masing, Miki terus mengeluarkan air matanya sementara Leon mengusap air mata itu.

"Sudah jangan menangis!"

Alya yang melihat Leon yang lembut bisa menyadari jika pria itu arogan hanya kepadanya saja.

"Bagaimana aku nggak nangis? Kamu menikah."

"Ssst... Aku memang menikah tapi hatiku hanya buat kamu saja," ucap Leon.

Alya menelan ludahnya kasar, apakah ini mimpi buruknya? Suaminya yang terpaksa menikahinya, kedua mertuanya yang tidak menyukainya lalu kemudian kekasih asli Leon yang muncul.

"Miki , pergilah! Ada kakekku di sini dan dia bisa mengusirmu. Aku akan menemuimu setelah pernikahan ini selesai," ucap Leon.

"Janji?"

"Janji."

Miki lekas turun dan melirik Alya dengan senyuman kemenangan, Alya hanya diam saja karena dia juga tidak ada hak melarang suaminya yang tidak menyukainya sama sekali.

"Dengar pelayan sialan! Jangan senang dulu aku menikahimu! Kamu akan merasakan penderitaan yang sebenarnya setelah ini," ancam Leon.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!