Langit Kota Lainada siang itu bersih, biru tanpa noda awan. Udara berhembus lembut, membawa aroma bunga dari taman kota yang mulai bermekaran setelah musim hujan berlalu.
Di bawah pohon besar yang menaungi bangku melingkar, aku dan teman-temanku duduk bersama, menatap langit tanpa banyak bicara. Wajah-wajah lelah tapi bersahabat menatap satu sama lain seolah diam kami justru berbicara lebih banyak dari kata-kata.
William memandang langit sebentar sebelum akhirnya membuka suara yang tercekat di tenggorokan.
“Hei, Rana… kau tahu? Rasanya makin sulit saja mencari pekerjaan di negeri ini.”
Gerald menoleh, mengangkat alisnya setengah tak percaya. “Lho? Untuk apa kau cari pekerjaan lagi?”
Rana ikut menimpali dengan nada heran, “Iya, bukannya kau sudah kerja di sektor industri?”
Ahmad yang duduk di ujung menatapku penuh tanya. “Apa yang terjadi, Will?”
Aku menghela napas panjang. Jemariku gemetar saat menggenggam gelas plastik berisi kopi dingin yang sudah kehilangan rasa. “Empat tahun kerja banting tulang… tapi gaji tak cukup buat hidup sebulan! Apa itu namanya kerja?!”
Tiba-tiba, emosi mengambil alih. Gelas itu melayang dari tanganku, menghantam lantai semen taman. Suara pecahannya menggema suara yang entah kenapa terdengar seperti puncak dari semua beban yang kupendam.
Rana hanya tersenyum miris. “Aku paham. Sejak Hartfordviel lengser, negara ini seperti kehilangan arah. Semua ikut tenggelam… termasuk kita.”
Aku meremas selembar kertas lamaran kerja yang sudah lusuh, penuh lipatan dan noda kopi. “Sialan! Kertas ini… cuma simbol harapan palsu!”
Gerald menyandarkan punggung ke bangku, menatap langit kosong. “Kalian sadar gak? Dunia makin kacau. Diplomasi hancur, presiden kita berseteru dengan Ternanida... rasanya kayak kita cuma nunggu bom waktu meledak.”
Aku mendongak, suaraku serak. “Kenapa aku harus lahir di zaman penuh kegilaan ini?!”
Gerald tertawa pelan, getir, seperti orang yang sudah pasrah. “Nasib memang suka bercanda.”
Aku berdiri, menghela napas panjang. “Aku pulang duluan. Kepalaku penuh.”
Rana sempat memanggil, “Tunggu, William!”
Tapi aku tak berhenti. Langkahku berat, tapi aku terus melangkah meninggalkan taman itu, meninggalkan tawa yang perlahan memudar.
Rumahku sunyi ketika aku tiba. Lampu ruang tamu redup. Aku menyalakan kompor kecil dan mulai membuat nasi goreng seadanya. Aroma minyak dan bawang memenuhi ruangan sempit itu. Layar ponsel di meja tiba-tiba menyala. Notifikasi berita muncul di layar: “Perang pecah. PBB resmi dinyatakan lumpuh total. Dunia di ambang kehancuran.”
Sendok yang berada di tanganku jatuh, membentur tembok, menghasilkan suara dentum keras yang memantul di dinding ruang makan. Aku menatap layar itu, dada terasa sesak.
“Sial! Kenapa aku hidup di zaman ini?!”
Aku rebah di ranjang usang di pojok kamar, menutup wajah dengan bantal, mencoba menahan amarah dan rasa hampa yang membuncah. Dunia… rasanya sudah terlalu berat untuk kujalani.
Pagi datang tanpa warna. Cahaya matahari menyelinap di sela tirai, tapi tak membawa semangat apa pun. Aku hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Lalu suara bel rumah memecah keheningan.
“William! Bukain pintu!” terdengar suara yang tak asing. Rana.
Aku membuka pintu, dan di sana dia berdiri, mengenakan jaket abu-abu dengan senyum kecil di wajahnya.
Tapi mata itu… menyimpan lelah yang sama denganku.
“Ada apa?” tanyaku datar.
Rana menarik napas, lalu tersenyum lembut. “Ayo ikut aku. Kita ke bukit. Butuh udara segar.”
Aku menatapnya sebentar. “Udara bisa menyelesaikan masalah?”
“Tidak selalu,” jawabnya lirih. “Tapi kadang cukup untuk membuatmu bertahan satu hari lagi.”
Aku tak menjawab, tapi beberapa menit kemudian aku sudah duduk di kursi penumpang mobil tuanya. Mesin berderu, jalan menanjak menuju bukit di pinggiran kota.
Di atas sana, kami duduk di atas batu besar.
Angin berhembus membawa aroma rerumputan liar. Langit cerah, tapi jauh di kejauhan, seekor pesawat tempur melintas cepat.
“Aku kenal pesawat itu,” kataku sambil menatapnya.
“Kenapa?” tanya Rana.
“Itu pesawat Hasgerl. Negara yang hubungan diplomatiknya lagi panas dengan kita.”
Rana mengepalkan tangan, wajahnya menegang. “Dasar negara brengsek!”
“Mereka mungkin sedang mengintai…” gumamku.
“Kalau iya, lebih baik kita cari tempat aman.”
Aku menggeleng lemah. “Untuk apa? Mungkin lebih baik aku mati saja.”
Sebuah tamparan ringan mendarat di pipiku. Aku tertegun. Rana menatapku tajam, tapi matanya bergetar.
“Jangan bilang hal bodoh seperti itu!” katanya keras.
Aku menunduk, suaraku pelan. “Maaf…”
Suasana menjadi hening sejenak. Angin sore berhembus, membawa dedaunan kering berputar di sekitar kami.
“Ngomong-ngomong…” Rana memecah sunyi. “Aku sewa vila di dekat sini. Mau ikut? Healing… atau apalah.”
Aku menatapnya dengan sedikit senyum miring. “Kencan?”
Rana tertawa kecil.
“Aku cuma sahabatmu. Tapi sahabatmu ini tahu kau butuh tempat tenang.”
Kami menghabiskan sore dengan menatap langit jingga yang mulai tenggelam. Vila itu sederhana tapi hangat. Setelah mandi dan makan malam seadanya, kami duduk bersantai di ruang tamu, memandangi pemandangan dari jendela besar.
“Pemandangan luar biasa,” kataku.
“Makanya aku bawa kau ke sini,” jawab Rana sambil tersenyum.
“Tapi… kau kerja, kan?”
“Lagi cuti. Darurat,” balasnya ringan.
Tiba-tiba, suara menderu terdengar dari langit. Tanah bergetar halus. Aku menoleh ke arah jendela, wajahku menegang.
“Eh, itu apa?”
“Masuk, cepat!!” Rana berteriak, menarik lenganku masuk ke balik dinding.
Ledakan mengguncang bumi. Cahaya oranye menyilaukan mata. Suara menggelegar seperti ratusan naga meraung di langit. Rudal-rudal menghantam kota Iragoni di kejauhan satu demi satu, menghancurkan segalanya.
Ketika akhirnya langit kembali tenang, kami keluar dari persembunyian. Bau asap, debu, dan logam terbakar menyelimuti udara.
Yang tersisa… hanyalah puing. Kota yang dulu hidup kini tak bernyawa. Ambulans melaju di antara reruntuhan. Tentara memenuhi jalanan.
Aku berdiri mematung, menatap kehancuran di depan mata. Dunia kami… telah berubah selamanya.
Harmonia_
Langit yang semula kelabu dan muram kini tampak makin sunyi, seperti menahan napas atas kerusakan yang baru saja terjadi. Setelah keadaan benar-benar cukup aman untuk keluar, kami berdiri di tepi bukit dan menatap ke bawah ke arah kota yang sebelumnya hidup, kini berubah menjadi pemandangan mengerikan layaknya kota mati yang disapu badai meteor.
Sendi-sendi tubuhku masih saja bergetar karena trauma; napas masih tersengal tiap kali debu hitam menyentuh tenggorokan. Di bawah, jalanan terbelah, gedung-gedung miring, beberapa masih menyemburkan api dan asap hitam pekat yang menghirup semua warna dari suasana.
Rana memegang lenganku dengan jari-jari yang gemetar. Suaranya kecil, tapi penuh kekhawatiran. “William, apakah kau tak apa-apa?”
Aku menelan dahak, batuk terbatuk sambil mengusap mulut dengan punggung tangan. “Ya… aku tak apa-apa, uhukk… uhukk…” Suara batukku serak, debu masih menyumbat paru-paru. Aku menghela napas panjang dan menggerakkan bahu. “Sialan… debu ini membuat nafasku sesak.
Ternyata hempasan itu sampai ke wilayah kita juga.”
Rana menatapku, pandangannya penuh simpati. “Ayo kita turun. Kita lihat keadaan dan cek mobil, apakah masih bisa dipakai.”
Pelan-pelan kami menuruni anak tangga menuju parkiran. Langkah kami berat, bukan hanya karena fisik, tapi karena bayang-bayang yang menempel di kepala larut wajah terluka, tubuh-tubuh yang terbakar, dan suara teriakan yang masih terngiang. Di sepanjang jalan menuju parkiran, kami melihat manusia-manusia yang terluka, beberapa terduduk lemas, beberapa lagi menatap kosong ke arah reruntuhan. Ada yang masih mencari anggota keluarga, ada pula yang menggenggam barang kecil seolah itu satu-satunya bukti bahwa hidup mereka pernah normal.
Akhirnya kami sampai di mobil. Kunci gemeretak di tanganku ketika kuputar, dan mesin mengeluarkan bunyi serak sebelum akhirnya hidup. Aku menghela napas, sedikit lega. “Ahh, untung saja masih bisa nyala.”
Rana mengerling, memeriksa bodi mobil. “Kalau dipikir-pikir, mobil ini kena rusak juga, cuma lecet dan terbentur. Masih bisa jalan, setidaknya untuk sekarang.”
“Kita lihat kondisi kota,” jawabku. Kami keluar dari parkiran, melaju pelan melewati jalan yang dipenuhi puing; kaca mobil yang retak, kursi yang terbakar, dan kegelapan berupa oli dan beton pecah di mana-mana. Di antara reruntuhan, terlihat korban bertebaran—ada yang tak bernyawa, ada yang menangis, ada pula petugas medis yang berusaha sigap mengevakuasi.
Saat kami sedang memeriksa keadaan, radio mobil tiba-tiba memecah kepingan sunyi dengan sebuah siaran resmi.
Suara yang keluar lewat pengeras suara terdengar terputus-putus, seolah transmisi juga tersentak oleh kehancuran.
“ Halo, apa kabar di sana? Masyarakat negara Tristain mengalami serangan mendadak dari lima kota besar dan wilayah militer. Tampaknya mereka berniat menginvasi kita,” suara pemerintah menyampaikan berita itu dengan nada berat dan statis.
Wartawan yang ikut terhubung lewat jaringan juga mengajukan pertanyaan, suaranya pecah karena gangguan: “Apa solusi pemerintah untuk menyelesaikan ini?”
Siaran berikutnya lebih singkat, namun tegas: “Tentu saja, kami menyatakan perang terhadap mereka yang menghancurkan kita. Mereka sudah bergerak menuju pulau Tanzania; saat ini kami masih dalam posisi bertahan dan akan mempertahankan wilayah itu.”
Radio mobil berhenti tiba-tiba, sunyi yang kembali turun menambah rasa frustasi dalam dadaku.
Aku menepuk stir dengan siku, suara kepalan di permukaan karet menandai amarah yang tak tertahankan.
“Sialan! Kenapa lagi-lagi hidupku dipenuhi kematian dan ledakan di tahun ini? Rasanya mematikan aku tak sanggup lagi,” gumamku dalam hati, suara itu lebih kepada desah putus asa yang hampir pecah menjadi teriakan.
Rana menggenggam tanganku, ekspresinya berubah menjadi pucat. “William… aku takut. Kalau perang berkepanjangan, tak mustahil pemerintah bakal mewajibkan mobilisasi militer secara besar-besaran.”
Kupaksa diri untuk menghela napas, menenangkan nada suaraku demi dirinya. “Tenang, Rana. Kita akan lewat ini. Sekarang, ayo kita bantu evakuasi korban di sekitar sini.” Aku berdiri, mencoba memberi arah pada diriku sendiri dan padanya suatu tindakan kecil agar tak tenggelam dalam kepanikan.
Rana menuruti, membantu mengangkat selimut darurat, membopong seorang perempuan tua yang terjepit di antara puing.
Kami bekerja bergantian dengan warga lain; beberapa dari mereka menangis, sebagian diam, namun semuanya bergerak meski tubuh dan jiwa mereka terkoyak.
Di tempat lain, jauh dari asap dan jeritan, dalam relung bunker komando Hargerl Selatan, seorang pria menatap peta besar dengan raut wajah berat.
Ia berbicara pada dirinya sendiri, suaranya dipenuhi rona bersalah. “Kenapa lagi-lagi aku yang harus menjadi komandan untuk urusan ini? Mengapa tak ada yang mau memikul beban?” ia menggumam.
Seorang bawahan mengetuk pintu dan masuk. “Tuan Jacob, panglima perang di lapangan meminta kehadiranmu.”
Jacob meneguk kopi yang telah mendingin, menatap wajah pria itu. “Ada urusan apa?”
“Kau diminta untuk memimpin pasukan menguasai dan menginvasi wilayah Tanzania,” jawab sang bawahan singkat.
Jacob menutup mata sebentar, menyerahkan nasib pada kata yang berat. “Baiklah. Tunggu aku di sana.”
Di lain penjuru
Hartford dipenuhi percakapan berliku tentang politik dan masa depan negeri. Asteral menatap temannya dengan wajah datar. “Hei, Hartford. Kau merasakan ada keanehan besar, bukan?”
Hartford mengangguk pelan. “Ya. Hubungan diplomatik semakin runtuh.
Sejak aku tidak lagi memimpin, semuanya berubah. Kebijakan jadi tak terkendali.”
Asteral menghela napas. “Partai penengah lenyap, tersisa satu partai kanan yang mendominasi. Rakyat jadi tergantung pada keputusan yang sering kali tidak berpihak pada mereka.”
Hartford menatap dari jendela, tersenyum tipis tapi penuh tekad. “Mungkin sudah waktunya aku melakukan sesuatu—membentuk kehidupan baru, menegakkan disiplin pada pejabat-pejabat itu.”
Asteral memperingatkan dengan nada setengah bercanda setengah serius, “Hati-hati. Mereka yang memiliki kekuasaan sering menyapih lawan mereka ke sungai limbah beracun.”
Hartford tertawa, menepuk bahu temannya. “Hahaha, kau selalu membuatku terhibur. Tapi sungguh, aku akan merubah negara ini. Seperti dulu aku melakukannya.”
Di sanalah kisah kami berhenti, dengan kota yang hancur di bawah kaki, pasukan yang bersiap gerak, dan tekad seorang Hartford yang menyala—sebuah pembukaan bagi konflik baru yang belum sempat kami pahami sepenuhnya.
Perlahan-lahan aku membuka mataku. Pandangan kabur, telinga berdengung, dan napas terasa berat seolah udara di sekitarku ikut terbakar. Tubuhku nyaris tak bisa digerakkan. Aku mencoba mengangkat kepala, dan rasa sakit langsung menyambar dari pelipis hingga tengkuk.
Aku sadar—aku baru saja pingsan. Tapi kapan? Bagaimana? Yang terakhir kuingat hanyalah suara ledakan keras dan cahaya putih yang membutakan, lalu semuanya gelap. Kini, di sekelilingku, puing-puing bangunan berserakan. Dinding gereja yang megah kini berubah menjadi reruntuhan batu dan debu.
Aku menatap sekeliling. Tubuh-tubuh tergeletak tak bergerak, sebagian tertindih serpihan pilar besar, sebagian lainnya masih menggeliat sambil mengerang kesakitan. Aroma darah bercampur debu menyengat di udara, membuat perutku mual.
Tiba-tiba, dari arah pintu keluar, terdengar suara seseorang berteriak minta tolong. Suara itu serak, penuh ketakutan dan nyaris hilang ditelan asap. Aku menelan ludah, lalu berdiri dengan lutut bergetar.
“Di mana kau?!” teriakku, mencari sumber suara itu.
Aku berjalan tertatih, menyingkirkan potongan kaca dan kayu, hingga akhirnya kutemukan seorang pria muda terjebak di bawah balok besar. Aku segera berjongkok, mencoba mengangkat serpihan bangunan yang menimpanya.
“Tenang, Tuan! Aku akan menyelamatkanmu!”
Dengan sisa tenaga, aku mendorong balok itu ke samping. Napasku memburu, keringat bercampur darah menetes di pelipis. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, aku berhasil menarik tubuh pria itu keluar.
“Apakah kau tak apa-apa?” tanyaku, suaraku serak namun tulus.
Pria itu batuk keras, matanya menatapku penuh syukur. “Aku… aku tak apa. Tapi… apa yang sebenarnya terjadi? Aku mendengar dentuman besar… seolah… misil menghantam kota.”
Aku terdiam sejenak, mencoba memahami situasi yang bahkan tak kumengerti.
“Entahlah,” jawabku pelan. “Tiba-tiba semuanya runtuh. Aku mungkin pingsan karena tertimpa.”
Ia tersenyum lemah, meski di wajahnya masih ada bekas luka. “Ngomong-ngomong, siapa namamu, kawan?”
“Oh, aku?” Aku menepuk dada, berusaha terdengar normal. “Namaku Jovan. Mahasiswa teknik sipil. Seharusnya aku di kampus sekarang, tapi… ya, aku malah terjebak di sini.”
Pria itu tertawa kecil di tengah kekacauan. “Senang bertemu, Jovan. Namaku Rifal.” Ia mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya. “Kondisi di sini mengenaskan sekali. Ayo, kita cari orang lain yang masih hidup.”
Aku mengangguk. “Baik, kita bagi tugas. Aku cari di dalam gereja ini, kau periksa area luar.”
“Setuju,” katanya singkat, lalu berlari ke arah reruntuhan luar.
Sementara itu aku tetap di dalam, mencari siapa pun yang mungkin masih bernapas. Setiap langkahku menimbulkan gemeretak kaca pecah. Sesekali aku mendengar erangan, kadang hanya kesunyian yang menyahut. Waktu berjalan lambat—jam-jam terasa seperti hari. Akhirnya aku berhasil menyelamatkan sekitar dua puluh orang. Tapi sebagian lainnya… hanya bisa kututupi dengan kain seadanya.
Ketika aku keluar, matahari sudah condong ke barat. Langit tertutup asap hitam, dan aroma kematian menggantung di udara. Aku menatap pemandangan kota di bawah bukit—gedung-gedung menjulang kini menjadi kerangka besi terbakar.
Rifal datang menghampiri, wajahnya penuh debu dan peluh. “Hei, Jovan! Berapa orang yang kau selamatkan?”
“Dua puluh,” jawabku lemah
Ia menghela napas panjang. “Aku tiga puluh… tapi dari dua ratus orang pagi tadi, hanya segitu yang bisa kita selamatkan.”
Aku menendang dinding yang sudah retak, amarah dan frustasi bercampur dalam dada. “Brengsuk! Apa yang sebenarnya terjadi hari ini?”
Rifal menatap langit yang merah kehitaman. “Sepertinya kita diserang, Jovan. Ini… bukan kecelakaan. Mungkin perang.”
Kami berdua terdiam lama, lalu tanpa banyak bicara, memutuskan untuk turun ke kota dan menolong siapa pun yang masih bisa diselamatkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!