Indonesia
NovelToon NovelToon

MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

1. Salah Tagih

Langit malam di luar gelap pekat. Jam dinding tua berdetak pelan, menunjukkan pukul sebelas lewat lima. Indah melangkah pelan keluar dari kelambu, berusaha tak membangunkan anaknya yang tidur lelap. Tenggorokannya terasa kering. Ia mengambil air minum di dapur, membasahi tenggorokannya yang kering.

Tapi baru saja keluar dari dapur, suara sandal berdecit dan langkah kaki terdengar dari arah ruang depan. Tiga sosok muncul: Sari, ibu mertuanya, diapit oleh Tuti dan Astri, adik iparnya. Ketiganya berdiri di sana seperti hendak menginterogasi, wajah mereka tegang dan penuh prasangka.

Indah langsung merasa firasat buruk. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Ada apa lagi kali ini?” batinnya.

Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.

"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan."

Indah mengerutkan kening, masih belum sepenuhnya sadar dari kantuknya.

"Ibu ngomong sama aku?" tanyanya pelan.

Sari menatapnya tajam.

"Memang sama siapa lagi kalau bukan sama kamu?"

Indah tertegun. Ia mengingat-ingat, tapi tak menemukan satu pun momen di mana ia meminjam kalung.

"Ohh... yang katanya dipinjam sama Hendra itu? Kenapa ibu ngomongnya sama aku? Yang pinjam 'kan, anak ibu sendiri. Ngomong aja langsung ke orangnya."

Sari melangkah mendekat, sorot matanya penuh tuduhan.

"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"

Indah mengembuskan napas keras, lalu tertawa kecil—tawa getir.

"Jadi kalau dia punya utang waktu masih bujang, aku yang harus ganti? Dari mana rumusnya, Bu? Hutang Hendra waktu masih bujang ditagih ke aku? Aku ini istri atau ATM keluarga?"

Astri ikut bicara, nadanya memojokkan.

"Kak, jangan kasar sama Ibu. Satu lagi, Kakak harus tahu, kalung itu penting buat Kak Tuti!"

Tuti mengepalkan tangan, matanya berkaca-kaca.

"Aku beli kalung itu dari hasil nabung kerja di sawah, Kak. Capek-capek ngumpulin uang, tapi malah dijual begitu aja. Aku cuma mau kalungku balik."

Indah menahan diri agar tidak meledak. Tapi napasnya mulai berat.

"Astaghfirullah… Yang pinjam siapa, yang ditagih siapa. Kenapa nggak langsung tanya ke Hendra aja? Selama ini kakak kalian ngasih aku apa, sampai kalian berani nagih hutangnya ke aku? Hutang masih bujang pula. Di mana sih, logika kalian?"

Sari membentak.

"Indah!"

Indah menoleh perlahan, lalu tersenyum manis—senyum yang lebih mirip perisai ketimbang ekspresi ramah.

"Ya, Bu?"

"Jaga bicaramu!"

Indah menatap lurus mata mertuanya.

"Apa yang harus aku jaga, Bu? Aku cuma bicara jujur. Logis. Ibu yang mulai nuduh. Aku cuma nanya balik."

Dari dalam kelambu, suara napas anaknya masih terdengar pelan dan teratur. Indah menatapnya sekilas. Anak itu tak tahu, ibunya sedang dipojokkan di malam selarut ini.

"Udah malam, Bu. Anakku butuh tidur. Kalau mau marah-marah, tunggu Hendra pulang. Aku nggak punya tanggung jawab buat ganti kalung itu."

Indah melangkah mundur, siap masuk kembali ke kelambu. Tapi sebelum tirai kain itu menutupi dirinya, ia menoleh sekali lagi.

"Seharusnya Ibu tanya Hendra, uang jual kalung itu dipakai buat apa. Soalnya setahu aku, sebelum nikah, Hendra rutin ngirimin uang ke Ibu. Bukan ke aku."

Sari terdiam. Matanya menatap kosong ke dinding, tapi dadanya sesak penuh amarah yang tak bisa tumpah. Ego mencegahnya mengakui bahwa Indah benar. Ia memilih diam. Diam yang tajam.

Tanpa sepatah kata, ia berbalik badan dan membaringkan diri di kelambu sebelah Indah, diikuti Tuti dan Astri. Tuti masih mengerucutkan bibir, tapi memilih bungkam. Untuk saat ini.

Indah mengembuskan napas panjang. Lelah. Bukan karena fisik, tapi hati dan pikiran. Ia rebah lagi di kasur tipisnya, memandangi langit-langit kelambu.

"Ya Tuhan… ini mertua atau musuh bebuyutan, sih?! Hidupku kayak sinetron stripping, minus honor dan sutradara."

Di sisi lain, Sari masih belum bisa menghapus bayangan kalung Tuti yang dijual oleh anaknya sendiri—Hendra—demi modal usaha. Semua ini bermula dari tadi sore. Saat nonton ke rumah tetangga, ia melihat mereka memamerkan kalung baru. Rasa iri muncul, lalu menjelma amarah.

"Anakku yang cari duit, tapi menantuku yang menikmati semuanya," pikirnya.

Sementara itu, Tuti menggigit bibir, menahan kecewa.

“Aku beli kalung itu dari hasil kerja sendiri. Bukan minta, bukan nyolong. Tapi kenapa malah dipinjam dan gak dibalikin, dan aku harus diam?”

Ia menoleh pada kelambu tempat Indah berbaring. Rasa tak terima masih menggumpal, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu—uang itu juga untuk rumah ini. Untuk semua dari mereka.

Indah sendiri, masih bergulat dalam pikirannya.

"Apa aku masih kuat bertahan di keluarga ini? Atau aku harus ikut audisi lomba sabar dulu?"

Ia menutup wajahnya dengan tangan, mengusap kasar.

"Hendra berutang buat usaha. Hasilnya dikirim ke ibunya. Untuk keluarganya. Tapi kenapa yang ditagih aku? Padahal selama pacaran, cuma pernah dikasih uang tiga ratus ribu. Sedangkan aku? Nggak cuma kasih dia lebih dari itu, biaya nikah pun aku yang tanggung."

Indah mendesah panjang.

"Tobat, Gusti... Tobat. Aku nggak pernah kurang ajar sama orang tua, tapi kenapa dapat balasan mertua yang... astaga. Ini mertuaku apa maduku, sih? Duh, speechless aku."

 

Matahari mulai miring ke barat. Jam dinding menunjuk pukul setengah tiga sore.

Ibu mertua dan adik-adik iparnya masih di sawah. Bibi mertuanya, kakak kandung Bu Sari, sibuk menjemur padi milik tetangga yang akan digiling nanti sore.

Rumah terasa sunyi. Hanya denting halus per ayunan dan napas lembut Rayhan, putranya yang tertidur lelap, yang sesekali bergerak pelan—menjadi satu-satunya tanda bahwa rumah ini belum sepenuhnya mati.

Hendra baru saja selesai mandi, tubuhnya masih segar habis pulang dari mencari belut seharian. Indah mendekatinya pelan, menata kata-kata di dalam kepala seperti menyusun perangkap agar tak memicu kemarahan.

Karena Indah baru benar-benar tahu, setelah menikah: Hendra orang yang mudah marah. Saat pacaran, semuanya terlihat baik. Manis, perhatian, bertanggung jawab. Tapi nyatanya, yang Indah nikahi... bukan versi yang itu.

“Kak, aku ingin kita hidup mandiri,” ucap Indah hati-hati. “Gimana kalau kita pisah rumah dari Ibu dan adik-adikmu?”

Hendra tak menoleh. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakannya, lalu menjawab datar, “Aku nggak mau pisah dari Ibu dan adik-adikku sebelum mereka semua nikah.”

Indah tercengang. Apa?

"Yang benar aja? Adikmu ada empat orang. Yang nomor dua aja baru dua puluh tahun, yang bungsu baru dua belas. Jadi… aku harus nunggu, minimal delapan tahun lagi baru bisa punya rumah sendiri? Dan selama itu aku harus tinggal sama mertua dan ipar yang—"

Ia tak sanggup melanjutkan.

"Ini serius? Atau dia cuma mau lihat aku gila pelan-pelan?"

“Ya Tuhan… sabar… sabar… Katanya orang sabar disayang Tuhan. Tapi sabarku udah kayak diskon belanja akhir tahun—semakin besar, semakin diuji. Hidupku tuh ujiannya kayak antrian sembako gratisan: panjang, sesak, dan penuh emosi.”

Indah menarik napas panjang. Ia belum menyerah.

“Kak, aku ini menantu di rumah ini… tapi rasanya lebih kayak numpang. Aku bahkan nggak punya kamar. Tidur pun cuma di balik kelambu, dan itu satu-satunya privasi yang aku punya.”

Hendra menghembuskan asap rokok, malas. “Aku udah bilang dari awal, aku bukan orang kaya. Jangan banyak ngeluh.”

Indah mengerjapkan mata, mencoba meredam amarah yang mulai mendesak di dada.

"Ya, tapi gak gini-gini amat kali. Masa iya, gak ada kamar?" batinnya berteriak.

Ia kembali menarik napas, kali ini lebih berat.

“Kak… Ibu dan adik-adik kamu sering nyindir aku kalau kamu nggak ada di rumah."

Suaranya nyaris bergetar. “Mereka manis di depan kamu, tapi berubah begitu kamu pergi. Sindiran-sindiran mereka bukan cuma sekali dua kali. Aku bukan orang yang gampang tersinggung, apalagi suka ribut. Jadi aku diam… tapi bukan berarti nggak sakit hati.”

Hendra hanya menghembuskan asap rokoknya. Tak menjawab. Tak menoleh. Tak bereaksi.

Lalu…

...🍁💦🍁...

.

To be continued…

2. Mesin Waktu

Hendra menghembuskan asap rokok ke udara dengan, santai.

"Itu cuma perasaan kamu saja. Kamu-nya aja yang baperan," sahutnya enteng.

Indah nyaris tak percaya.

“Apa? Aku baperan?”

"Astaga naga..sabar.. sabar.. Bagaimana pun juga dia adalah suamiku, ayah dari anakku. Baru dua tahun kami menikah, masa iya mau cerai gara-gara mertua dan adek ipar? Dan anakku? Aku gak mau dia tumbuh tanpa keluarga yang utuh... seperti aku dulu."

Indah menahan emosi. Ingin rasanya melampiaskan amarah, menjadikan pria ini samsak tinju. Tapi ia menarik napas panjang, mencoba meredam.

"Lalu, gimana kalau adek kamu nggak nikah-nikah? Apa selamanya kita bakal tinggal sama ibu dan adik-adik kamu? Aku juga pengen punya rumah sendiri punya kehidupan sendiri."

Hendra menghela napas berat lalu beranjak dari duduknya. "Sudahlah!Aku capek. Pengen cari hiburan."

Tanpa menoleh, ia beranjak, begitu saja. Seolah tak ada beban.

Indah menatap Hendra yang mulai melangkah keluar dari rumah dengan segudang rasa kesal. "Brengsek! Kalau tak takut durhaka sama suami sudah tak--"

Indah mengepalkan tangannya, dadanya turun naik menahan emosi yang hampir meledak.

"Kak, kita belum selesai bicara," protes Indah.

Hendra berhenti. Tapi tak menoleh.

“Udahlah, jangan banyak protes. Jalanin aja,” ujarnya ringan, seolah masalah yang sedang mereka bicarakan tak lebih dari memilih menu makan siang.

Indah mengatupkan rahangnya. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak. Tapi ia tahan.

"Jalanin aja? Ini hidupku, Kak… bukan sepatu bekas yang bisa dijalani tanpa rasa."

“Masa iya, aku harus tinggal di rumah ini sampai adik kamu yang paling kecil nikah?” tanyanya, berusaha memastikan ia tak salah dengar.

“Ya,” jawab Hendra, tanpa ragu. Lalu kembali mengisap rokok.

Indah tercekat.

Pria ini... bahkan tak peduli sedikit pun.

Tak ingin tahu apa yang dirasakannya. Tak ingin ikut lelah. Tak ingin berpihak.

“Kenapa aku harus berjuang sendirian di rumah ini? Sementara kamu… pura-pura tuli tiap kali aku butuh kamu?”

“Kalau kamu nggak nyaman, ya keluar aja,” sahut Hendra enteng.

Indah tersentak. Keluar? Dari mulut suaminya sendiri?

"Jadi, aku yang harus pergi? Setelah semua sabar dan diamku? Setelah semua yang aku tanggung selama ini? Setelah aku bertahan tanpa kamar, tanpa ruang privasi? Setelah aku biayai sendiri pernikahan kita dari uang tabunganku? Bahkan jual sapi buat bayar utang kamu sebelum menikah?”

Hatinya remuk, tapi matanya tak meneteskan air mata. Ia terlalu lelah untuk menangis. Terlalu sering disakiti untuk merasa kaget lagi.

Indah bangkit berdiri. Tangannya mengepal, bibirnya bergetar.

“Terima kasih, Kak. Jawaban kamu jelas,” katanya pelan.

Hendra hanya mendengus. Tak menoleh. Tak bertanya.

Ia melangkah keluar, meninggalkan Indah seperti seseorang yang tak ada artinya.

Di dalam ayunan, Rayhan masih tertidur. Bocah itu bahkan belum bisa bicara banyak, tapi sudah jadi satu-satunya alasan Indah tetap bertahan.

Ia duduk di lantai, punggungnya menyandar di dinding kayu yang lapuk. Menatap kosong ke depan.

"Aku nggak minta rumah mewah. Aku cuma minta ruang untuk bernapas. Tapi bahkan itu pun nggak bisa aku punya."

"Apa aku salah kalau ingin hidup dengan tenang? Salah kalau ingin dicintai dan dihargai, bukan cuma dijadikan istri yang harus nurut dan nggak boleh bersuara?"

Dari balik jendela kayu yang mengelupas, cahaya sore menyusup masuk. Tapi hati Indah.. tetap gelap.

Indah menghela napas panjang, lalu bangkit dengan malas.

“Nangis juga nggak bikin kenyang. Yang ada malah lapar dan kerasukan setan,” gumamnya sambil menatap kosong ke arah dapur.

Matanya melirik Rayhan yang masih terlelap di ayunan. Anak semata wayangnya itu tampak damai, seolah dunia benar-benar baik-baik saja. Ia mengayun pelan kain sarung tempat Rayhan tidur.

“Tidur yang nyenyak, ya, Nak. Ibu mau masak… sebelum akal sehat ibu ikut menguap.”

Ia melangkah ke dapur dan menatap ember plastik berisi hasil tangkapan Hendra pagi tadi.

“Belut, lele, udang. Mantap. Tinggal tambah lilin sama kue, lengkap buat sesajen,” gumamnya sambil menarik napas pasrah.

Bubu belut yang ditaruh Hendra di sungai rupanya cukup ampuh. Jebakan kecil yang bahkan lebih kecil dari harapan Indah soal rumah tangganya… tapi ya sudahlah.

Sambil menyiangi belut, Indah mengomel pelan. “Kenapa sih, belut ini licinnya kayak orang ngutang yang ogah bayar? Dipegang selip, diatur susah, nyetrumnya cepet. Udah kayak Hendra aja—kalau nggak hati-hati, bisa bikin emosi meledak.”

Isi perut belut ia buang, lalu badannya ia pukul berkali-kali. Bukan cuma buat melunakkan tulang, tapi juga buat menyalurkan emosi.

"Apa Hendra juga harus dipukul dulu kayak belut ini biar otaknya agak lunak?" desisnya sambil menghela napas panjang.

Lele dan udang menyusul dibersihkan. Ia menatap udang itu beberapa saat. "Udangnya kecil-kecil banget, tapi cukup buat lauk keluarga besar yang rakus dan doyan nyinyir ini."

Wajan ia panaskan, sambal mulai digoreng. Asap dan aroma mengepul, menari-nari di udara, meniru emosinya yang barusan hampir meletus. Sesekali ia kembali ke ruang tengah—yang merangkap ruang tidur—untuk menggoyang ayunan Rayhan, memastikan bocah itu tak bangun sebelum semuanya matang.

Ia balik lagi ke dapur. Ikan digoreng, sambal hampir jadi.

“Dulu makan cuma tahu tempe sama sayur tumis. Sekarang tiap hari makan ikan. Naik kelas dong?” gumamnya. “Tapi ya gitu… sayur sekarang lebih langka dari empati mertua.”

Indah tersenyum miris.

"Hidup emang aneh. Kadang kamu cuma butuh belut goreng, wajan panas, dan satu anak kecil yang belum ngerti apa-apa… buat tetap waras."

 

Indah selesai memasak tepat saat Rayhan terbangun dan merengek minta susu. Bocah kecil itu duduk di ayunan, mengucek mata, lalu mulai rewel seperti alarm yang tak bisa dimatikan.

Setelah kenyang, Rayhan kembali diam, menatap langit-langit rumah seolah dunia cuma selebar kain kasa. Indah mengelus pipi gembul anaknya dan mengecupnya.

“Ayo, mandi, Nak.”

Suara Indah pelan tapi mantap. Dia tahu, kalau ditunda-tunda, bisa-bisa nanti yang keluar cuma bau keringat dan cucian kotor, bukan air.

Ia mengenakan sarung yang dililit dari dada sampai mata kaki. Klasik, praktis, dan menutup aurat—selama angin tidak terlalu niat bercanda. Tangan kiri menggendong Rayhan, tangan kanan menjinjing baskom isi peralatan masak kotor, sabun, odol, dan sikat gigi yang bulunya tinggal dua belas biji.

Ia menghela napas. Napas seberat hidupnya.

Perjalanan ke sungai dimulai. Melewati jalan setapak, kebun-kebun kecil, rumah-rumah tetangga yang saling bertukar kabar lewat suara ayam dan bocah-bocah teriak. Kalau ada soundtrack-nya, ini mungkin cocok pakai lagu latar "Sendiri Lagi" tapi versi dangdut koplo.

Dan ya—sungai. Jangan bayangkan kamar mandi keramik, pancuran air hangat, atau bathtub dengan busa. Ini bukan sinetron, ini kenyataan. Kamar mandi? Mimpi. Toilet? Ah, jangan ketinggian.

Yang ada cuma sungai selebar seratus meter, alirannya pelan, airnya surut karena kemarau. Sebuah rakit bambu dengan papan di atasnya jadi tempat buang air. Mandi dan cuci? Ya di situ juga. Satu paket hemat—serba guna.

Indah berdiri di tepi sungai, melihat ke air yang surut, berpasir, dan agak berbau lumut. Ia mulai mencuci perabot, sementara Rayhan bermain pasir di sebelahnya. Sesekali ia menoleh, memastikan bocah itu tidak mendadak nyebur ke tengah.

Beberapa tetangga juga sedang di sana. Ada yang nyuci, ada yang nyabun, ada yang curhat, dan ada yang pura-pura nggak nguping curhatan orang lain.

Indah menyabuni piring sambil menggumam dalam hati.

“Dulu, mandi meski harus nimba air… ya di kamar mandi. Sekarang? Mandi di sungai kayak sinetron jaman dulu. Bedanya, ini bukan akting. Ini kenyataan yang nggak ada script-nya.”

Ia lanjut mencuci sambil mengingat masa-masa ketika malam hari berarti nonton sinetron atau talk show, rebahan di kasur empuk sambil nyemil keripik.

“Sekarang? Cuma bisa mandang langit-langit kelambu, ditemani lampu kaleng dari bekas susu. Tinggal tiup kalau apinya goyang-goyang, persis lampu buat pesugihan bab bi ngepet,” desisnya lirih.

Ia menyeringai.

“Dulu, tinggal colok headset sambil rebahan. Sekarang? Yang kedengeran cuma suara anak-anak nyebur, suara kodok, sama doa supaya lampunya nggak mati diterpa angin.”

Ia mendongak ke langit sore, lalu menatap air yang mengalir lambat.

“Astaga… aku kayak masuk mesin waktu. Bukan ke masa depan. Tapi ke masa lalu. Ke zaman ketika HP kamera belum jadi standar hidup, dan wartel masih berjaya.”

Ia mengusap wajah, mengibaskan air.

“Ya Tuhan… ini hidupku atau film dokumenter?”

Tapi lalu ia menoleh ke Rayhan, yang sedang asik menggali pasir dengan tangan mungilnya.

Indah tersenyum.

"Setidaknya, kamu di sini, Nak. Satu-satunya alasan ibu masih bisa ketawa, walau rasanya pengen meledak."

Setelah ia dan Rayhan mandi, dan perabotan sudah bersih, Indah menarik napas, sekali lagi. Lalu ia bersiap kembali ke rumah yang katanya rumah tangga—tapi lebih sering terasa seperti kontrakan tanpa kontrak hati.

Ia tidak tahu akan seperti apa malam ini, tapi satu hal pasti: ia masih harus bertahan.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

3. Baru Sadar

Selesai mandi dan mencuci perabotan, Indah menggendong Rayhan dan melangkah cepat menuju rumah—lebih tepatnya, menjauh dari potensi sumber stres yang bisa menyerang tanpa aba-aba.

Langkahnya ringan tapi penuh kehati-hatian, seolah dia sedang bermain petak umpet dengan suara dehem dan batuk khas keluarga besar suaminya.

Bukan batuk karena tenggorokan gatal, tentu saja—tapi batuk sindiran, batuk tuduhan, batuk “siapa suruh kamu lahir jadi menantu kami?”

"Menghindari penyakit lebih baik daripada menunggu positif,” batin Indah.

Dalam hal ini, penyakit hati. Yang katanya tak terlihat, tapi gejalanya nyata: dada sesak, air mata nyaris bocor, dan mulut tiba-tiba pengin nyumpahin.

Lalu, ke mana Hendra? Pertanyaan yang selalu tidak ingin ia tanyakan, karena jawabannya pasti bikin naik tekanan darah.

Hendra—sang suami, tulang punggung keluarga, kepala rumah tangga—kerjaannya sekarang: maghrib pulang makan, abis itu hilang. Pulang tengah malam. Paginya? Cari belut dan ikan. Kadang buat bubu, kadang buat Indah bertanya dalam hati:

“Aku ini istri, atau bagian dari logistik dapur harian keluarganya?”

Kalau Rayhan tidur siang, Indah hanya bisa membuka album lama. Bukan untuk nostalgia, tapi semacam terapi visual—mengingat bahwa ia pernah hidup.

Foto-foto ketika masih gadis. Di pantai. Di taman bunga. Di hotel. Sekarang? Hidupnya hanya berputar di tiga titik: dapur, kasur, sungai.

Jangankan wisata, liat sinetron pun udah kayak mimpi. Tak ada TV. Tak ada VCD. Bahkan radio pun tak sudi tinggal di rumah ini. Satu-satunya hiburan cuma gosip emak-emak kampung dan suara ayam berantem rebutan padi.

Sambil menggendong Rayhan keluar rumah, ia bertemu ibu-ibu tetangga yang sedang ngobrol di bale bambu dekat warung kelontong.

Topik obrolannya?

Oh, jangan remehkan ibu-ibu desa. Dari masalah keong racun yang bikin padi nyaris botak, sampai obrolan strategis bertema “cara bertahan hidup dalam rumah tangga minim empati, tapi penuh drama.”

“Padi tadi pagi hampir habis dimakan keong,” keluh Bu Murni sambil mengipas dirinya dengan daun pisang.

“Kamu bangunnya kesiangan, sih. Keduluan keong,” sahut tetangganya sambil terkekeh, seolah keong adalah makhluk mistis paling rajin sedesa itu.

“Aku bangun pagi-pagi, dapet keong satu karung. Kalau dijual bisa buat beli perabot baru,” timpal yang lain dengan bangga, seolah berburu keong adalah cabang olahraga Olimpiade.

“Capek nyari keong, sumpah. Udah dibeliin obat, dicari tiap pagi sama sore, masih aja makan padi. Ujung-ujungnya ya, nanam lagi. Siapa yang suruh mereka tuh makhluk nggak punya moral,” sambung satu suara, memaki keong seakan mereka koruptor dengan tubuh berlendir.

Obrolan beralih cepat seperti channel televisi tanpa remote.

Dari keong racun, pindah ke urusan fashion dan interior.

“Eh, kemarin baju di perempatan bagus-bagus, loh.”

“Aku pengin beli, ah. Buat lebaran.”

“Lebaran masih lama. Mending beli perabotan. Kemarin ada teko model baru.”

“Bener. Ada juga set cangkir baru. Cocok dipajang di lemari kaca, yang isinya cuma gelas, piring dan mangkuk hadiah sabun cuci.”

Indah duduk di pinggiran, menahan senyum. Bukan karena geli, tapi karena sedang menyusun logika hidup yang makin absurd. Apalagi saat topik naik level:

dari keong dan cangkir, ke urusan kasur.

“Eh, Roya, kenapa mukamu kusut gitu? Kayak padimu tenggelam sebelum dipanen.”

“Capek aku. Si Bakir minta jatah mulu. Nggak dikasih, ngamuk. Segitiga pengaman dibakar semua. Gila tuh orang,” sahut Roya dengan wajah ditekuk kayak cucian belum diperas.

“Kenapa juga nggak dikasih? Kalau udah dikasih tuh kayak kucing manis. Nurut kalau disuruh-suruh,” celetuk satu.

“Ya capek lah, kalau keramas tiap hari,” keluh Roya.

“Halah. Tinggal ngangkang aja, beres.”

Gelak tawa pecah. Beberapa ibu-ibu terbatuk—bukan karena asma, tapi karena lucu dan terlalu jujur.

“Malah bagus kalau suami doyan jatah. Bikin tuh, klepek-klepek di kasur. Biar nggak lupa jalan pulang. Gawat kalau nyangkut di rumah janda, bisa enggak balik, loh!”

Indah mengangkat alis. Dulu obrolan kayak begini terasa absurd baginya—sekarang malah jadi soundtrack harian.

Semacam podcast hidup yang diputar otomatis setiap sore di bale bambu, lengkap dengan sound efek ketawa cekikikan, dan sesekali diselingi suara anak kecil berantem rebutan kerupuk.

Kadang bikin ketawa.

Kadang bikin ingin kabur.

Tapi lebih sering bikin mikir:

"Hidup kok gini amat, ya?"

“Ya ampun, Indah… dulu kamu tuh kalau sore suka rebahan di kasur sambil nulis puisi. Muter lagu cinta-cintaan. Sekarang? Duduk di bawah pohon pisang, dengerin ibu-ibu rumpi soal keong racun, fashion dan interior, serta gaya guling-guling biar suami betah di rumah.”

Indah tersenyum miring. Gumam dalam hati itu seperti dialog dari komik time travel yang salah mendarat.

“Ini bukan novel, bukan juga drama kolosal zaman kerajaan. Tapi kok rasanya kayak aku kelempar ke masa lalu… ke dunia yang sinyalnya aja harus numpang di pucuk pohon,” gumam Indah dalam hati, sambil menghela napas panjang.

Tapi ia tetap tersenyum.

Bukan karena bahagia.

Tapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk marah, dan hatinya sudah kehabisan tenaga untuk menuntut.

Kalau ada yang nanya, “Indah, kamu bahagia?”

Mungkin jawaban paling jujur adalah:

“Aku cuma pengin mandi air panas sambil nangis di pojokan.”

Tapi sungainya keruh, airnya dingin, dan tempat mandinya rame.

Jadi ya… ditahan dulu tangisnya.

Nanti aja pas hujan deras. Biar air mata nyampur sama air langit. Biar nggak kelihatan orang.

Indah merapikan selendang Rayhan yang mulai rewel gara-gara melihat anak lain membeli jajanan.

Hidup yang katanya “rumah tangga bahagia,” kok rasanya lebih mirip mode survival.

“Aku nggak minta hidup mewah, Tuhan. Cuma pengin hidup yang nggak nyesek tiap bangun tidur. Yang nggak bikin aku mikir: ‘hari ini bisa bertahan sampai malam nggak, ya?’”

“Tapi mungkin… rasa nyesek ini emang bagian dari proses jadi perempuan kuat. Atau jangan-jangan… aku aja yang terlalu nekat. Dulu pikir, udah capek nyodorin lamaran kerja sana-sini nggak ada panggilan, jadi ya… nikah aja. Minimal ada yang nanggung makan dan minum.”

Ia melirik Rayhan yang sekarang sudah tenang dengan sepotong jajanan di tangan, lalu menghela napas.

“Eh, ternyata malah kayak langganan masalah. Dikirain nikah itu solusi—jalan pintas keluar dari hidup susah. Padahal, kadang justru itu tiket masuk ke zona perang. Beginilah jadinya kalau nikah tanpa bekal literasi. Nggak tahu apa itu pernikahan, apalagi risikonya. Ternyata, nikah itu butuh ilmu—bukan cuma modal cinta dan surat undangan. Sah, beres? Nggak, itu baru mulai.”

Dan seperti biasa, naskah hidup Indah tidak dibiarkan hening terlalu lama.

“Eh, Indah, kok kamu diam aja dari tadi? Kalau ada jualan di perempatan, kamu mau beli apa? Tabungan udah banyak dong yaaa,” suara Marni—kakak sepupu Hendra—mengiris sunyi seperti pisau dapur tumpul.

Indah tersentak. Bukan karena kaget, tapi karena malas menjawab.

"Ah, Kakak bisa aja. Gak punya tabungan, Kak. Apa yang mau dibeli?"

“Masa sih gak punya tabungan? Hendra 'kan tiap hari bawa pulang belut. Duitnya ke mana aja? Jadi istri itu jangan boros, lho. Harusnya pinter ngatur, nabung, kasihan sama suami yang banting tulang.”

Nada bicaranya ringan, tapi isinya pedas.

Kalungnya mengilap. Gelang emasnya tebal, seukuran jari kelingking.

Dompetnya mungkin selalu gemuk.

Tapi hatinya, entahlah.

Dada Indah mendidih pelan.

“Apa yang mau ditabung kalau penghasilan cuma empat puluh ribu sehari? Beli beras aja empat kilo, sekilo empat ribu. Udah enam belas ribu. Rokok Hendra? Tiga bungkus. Lima belas ribu. Belum minyak, bawang, garam, terasi. Hitung sendiri, Kak. Sisanya di mana?”

Tak ada yang menjawab.

Kecuali Rayhan yang kini mengunyah sisa jajanannya sambil menatap langit.

Mungkin, dalam pikirannya yang masih bersih, dia juga bertanya,

“Kenapa dunia ibu ribet banget, ya?”

...🍁💦🍁...

Mode survival atau mode bertahan hidup adalah kondisi di mana seseorang berusaha untuk mengatasi tekanan dan stres yang berkepanjangan. Ini mencerminkan respons tubuh terhadap bahaya, yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!