Naya Azelia gadis ceria, lembut dan tegas sedang meyakinkan dirinya untuk melangkah Menuju Kota Z, bekerja mengundi nasib bersama sang sahabat.
"Naya janji, Nek... Naya akan jaga diri dan kehormatan Naya. Naya gak mau terus-terusan jadi beban Nenek."
Naya Azelia, gadis berusia dua puluh tahun itu, masih berusaha keras meyakinkan sang nenek. Di hadapannya, Nenek Rumi menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Memperoleh izin untuk merantau ke ibu kota bukanlah perkara mudah. Semua orang tahu, hidup di Kota Z keras dan penuh rintangan.
Apalagi, Nenek Rumi sering mendengar selentingan kabar burung tentang gadis-gadis seusia Naya yang terjerumus menjual diri demi bertahan hidup di kota besar.
Isak tangis Nenek Rumi akhirnya pecah saat melihat Naya tetap bersikeras merapatkan ritsleting tas ransel hitamnya. Wanita tua itu akhirnya luruh, memeluk cucu perempuannya erat-erat. Selama ini, Naya adalah anak yang penurut, tak pernah sekalipun membantah atau melawan ucapannya.
Di sudut ruangan, Airlangga menarik-narik ujung baju Naya. Remaja itu berusaha mencegah kakak perempuan satu-satunya itu pergi.
"Angga bisa jualan kantong plastik di pasar buat bantu Kakak... asal Kak Naya jangan pergi tinggalkan Angga dan Nenek,"
Isak Angga, tiba-tiba bersimpuh di hadapan Naya. "Kakak kerja di pabrik dekat sini saja, jangan pergi jauh-jauh, Kak..."
Hati Naya goyah seketika. Dadanya berdenyut nyeri melihat adiknya yang biasa cuek, kini memohon hingga bersimpuh di kakinya.
"Angga janji, Angga gak akan nongkrong di warnet lagi. Angga bakal nurut di sekolah, asal Kakak tetap di sini bersama kita!" tambah Angga dengan suara serak, napasnya tersengal menahan tangis yang menyesakkan dada.
Nenek Rumi yang tak tega menyaksikan pemandangan itu memilih membalikkan badan. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke halaman belakang, berpura-pura menyiram tanaman cabai dan kacang panjang miliknya untuk menyembunyikan air mata.
"Sudahlah, Angga! Jangan kamu halangi apa yang sudah menjadi tekad kakakmu," seru Nenek Rumi dari balik pintu belakang, suaranya terdengar ketus—sebuah pelampiasan dari rasa tidak berdayanya.
"Kakakmu itu sepertinya tidak mau belajar dari pengalaman orang-orang kampung yang kerja di sana. Pulang-pulang cuma membawa malu keluarga saja."
Naya terdiam membeku. Kalimat itu bagai sembilu yang menggores lubuk hatinya. Jari-jarinya meremas ujung pasmina instan yang membingkai wajahnya.
Angga yang melihat neneknya pergi, perlahan bangkit dan menyusul ke belakang, meninggalkan Naya sendirian dalam keraguan yang kembali membubung.
Apakah keputusannya ini benar, atau justru salah?
"Nay, ayo... taksinya sudah datang!"
Suara Salsa, sahabat masa kecilnya yang tinggal berbeda RT, membuyarkan lamunan Naya dari ambang pintu.
Naya cepat-cepat menghapus bulir bening di pipinya. Panggilan Salsa seolah membakar kembali api tekad di dalam dadanya untuk mengubah nasib keluarga.
Ia harus bergerak. Sebelum melangkah keluar, ia berlari ke belakang rumah untuk memohon ridha terakhir kali.
Di sana, Nenek Rumi dan Angga sedang berdiri dekat tempayan tanah liat besar.
"Nenek, Naya harap Nenek ridha dengan ikhtiar Naya," ucap Naya, suaranya bergetar namun tegas. "Naya janji akan selalu ingat nasihat Nenek. Naya titip Angga ya, Nek."
Nenek Rumi memandangi wajah cucunya dalam-dalam. Ia tahu betul tabiat Naya yang jujur, ulet, dan cepat belajar. Akhirnya, benteng pertahanan sang nenek runtuh juga.
"Baiklah. Nenek tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau keputusanmu sudah bulat," ujar Nenek Rumi sambil menarik Naya ke dalam pelukannya. "Semoga Allah selalu melindungimu di mana pun kamu berada. Jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu, Nak."
Meskipun Naya hanya bermodalkan ijazah SMA, Nenek Rumi menyelipkan doa dan keyakinan besar di dalam hatinya.
Angga pun maju memeluk kakaknya erat-erat. Walau hatinya perih dan belum siap kehilangan sosok yang selalu membantunya belajar dan menyemangatinya setiap pagi, Angga tahu ini adalah pengorbanan Naya untuk masa depannya.
Di dalam hati, Angga berjanji akan belajar lebih giat agar bisa masuk ke SMA impiannya tanpa menyusahkan kakaknya lagi.
"Jaga diri baik-baik ya, Ga. Jangan pulang malam terus, kasihan Nenek harus mencari kamu!," bisik Naya sambil mengacak rambut adiknya yang mulai gondrong.
"Rambutnya jangan lupa dicukur, uang yang minggu lalu Kakak kasih masih ada, kan?"
"Iya, Kak... Kakak juga jaga diri. Jangan sampai tergoda laki-laki ibu kota ya," sahut Angga, mencoba tersenyum tipis. "Insyaallah besok Angga potong rambut."
Angga bergegas membawakan tas Naya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, sebuah perhatian kecil dari seorang adik laki-laki yang beranjak dewasa. Sebelum pintu mobil tertutup, Angga mengetuk kaca jendela Salsa.
"Kak Salsa, kalau sudah sampai, tolong kabari Pak RT ya. Biar kami di sini tenang," pinta Angga.
Ponsel adalah barang mewah yang belum mampu mereka beli. Selama ini, mereka hanya mengandalkan upah harian Nenek Rumi yang tak seberapa dan sisa gaji Naya dari konfeksi baju dekat pasar.
Naya sengaja melarang Angga bekerja paruh waktu menjadi kuli panggul demi menjaga fokus belajarnya, sebab Angga adalah anak yang cerdas dan selalu berprestasi di kelasnya.
Mobil mulai melaju membelah jalanan, meninggalkan Kampung Sawah, Desa Paguyuban. Perjalanan menuju Kota Z diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam.
.
.
Di sebelah Naya, Salsa sudah terpejam pulas, kelelahan setelah semalaman membantu keluarganya berdagang. Namun, tidak dengan Naya. Matanya menatap keluar jendela, merekam setiap jengkal perubahan pemandangan—dari hamparan sawah hijau yang luas, hingga perlahan digantikan oleh aspal kelabu yang lebar.
Satu setengah jam berlalu, sepasang mata indah Naya terperangah. Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi bak tiang yang menopang langit malam.
Lampu-lampu kota beraneka warna mulai menyala, menciptakan panorama yang memukau bagi gadis kampung yang baru menginjakkan kaki di ibu kota saat dewasa.
Terakhir kali ia ke sini adalah saat duduk di bangku sekolah dasar bersama almarhum ayahnya. Kini, Kota Z telah berubah menjadi hutan beton yang luar biasa megah sekaligus mengintimidasi.
Saat mobil melambat di sebuah lampu merah, Naya memberanikan diri bertanya kepada sopir taksi daring tersebut, karena tidak tega membangunkan Salsa.
"Pak, apakah kita sudah mau sampai ke tujuan?"
Sopir paruh baya itu melirik dari kaca spion tengah. "Belum, Neng. Masih sekitar setengah jam lagi, itu juga kalau jalanan depan tidak macet."
Naya mengangguk paham, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Oh begitu, Pak... Kalau misalnya nanti di jalan sudah azan magrib, apa kita bisa menepi sebentar di masjid terdekat?"
Sopir itu mengembuskan napas panjang, nadanya terdengar agak keberatan.
"Wah, maaf, Neng, gak bisa kalau begitu. Kalau mau ditunggu, harus ada biaya tambahan arloji penantian. Karena saya kan harus menunggu Neng shalat, itu memakan waktu... Harusnya saya sudah bisa ambil penumpang lain."
"Oh... begitu ya, Pak. Ya sudah, nanti saya shalat di kontrakan teman saya saja kalau sudah sampai. Maaf ya, Pak," ujar Naya buru-buru, merasa tidak enak hati sekaligus agak ciut dengan ketegasan dunia kota.
Sadar bahwa ia tidak tahu persis di mana titik penurunan mereka, Naya akhirnya menyentuh bahu sahabatnya pelan. "Sa... Salsa, bangun. Sepertinya kita sudah dekat." Ia harus membangunkan Salsa, agar perjalanan pertama mereka tidak tersesat di tengah megahnya Kota Z.
Langkah kaki Naya akhirnya terhenti di depan sebuah bangunan petak. Pintu-pintu kayu yang lapuk berderet delapan, saling berhadapan di lorong sempit yang pengap.
Inilah kontrakan Salsa. Sebuah ruangan berukuran tiga kali lima meter, di mana kasur lantai yang masih digulung bersandar pada dinding berstiker bunga yang mulai mengelupas.
Kamar mandi kecil di sudut ruangan tampak menyatu dengan dapur mini yang padat.
"Kamu bisa taruh tas kamu di dekat lemari, Nay," ucap Salsa menyambut sahabatnya. "Kamu bawa sarung bantal, kan? Nah, itu ada bantal bekas temanku ngontrak bulan lalu. Udah aku jemur, kok. Tinggal kamu pasang aja sarungnya."
Naya menatap bantal yang ditunjuk Salsa. Kondisinya sudah lusuh, kempes, dan kehilangan keempukannya. Namun, Naya memaksakan seulas senyum tulus.
"Iya, Sa. Terima kasih banyak, ya." Ia meletakkan tas hitam besarnya yang berisi seluruh helai pakaian yang ia bawa dari kampung.
Salsa berjalan ke arah kulkas satu pintu berukuran mini, mengambil sebotol air dingin lalu menuangkannya ke dalam dua gelas plastik.
"Oh iya, Nay. Besok aku cuma bisa anterin kamu sampai depan butik, ya. Kamu nanti langsung ngobrol sama pemiliknya. Aku enggak bisa nemenin masuk karena harus buru-buru ke tempat kerjaku."
Naya yang sedang menerima gelas dari Salsa seketika termangu.
"Oh... gitu? Aku pikir kita bakal satu tempat kerja, Sa. Tempat kerja kamu jauh dari butik itu?"
Nada suara Naya menyiratkan riak cemas. Di kampung dulu, Salsa menjanjikan mereka akan bekerja di bawah atap yang sama. Kenyataan ini mendadak membuat dadanya agak sesak.
"Maaf banget, Nay. Aku juga baru dikasih tahu Bu Maya kemarin kalau kita dipisah," ujar Salsa setelah meneguk airnya.
"Kamu ditempatkan di butik yang di Jalan Kacang, sedangkan aku dipindah ke cabang mall. Tapi jangan khawatir, pas pulang nanti aku bakal samperin dan tungguin kamu. Kita pulang bareng."
Naya mengangguk pelan, mencoba mengusir rasa bersalahnya.
"Iya, Sa. Tapi nanti tolong ajarin aku naik angkutan apa aja ke sana, ya? Takutnya suatu saat kamu lagi libur atau lembur, jadi aku bisa pulang sendiri dan enggak ngerepotin kamu."
"Jangan!" potong Salsa cepat, matanya menatap Naya serius.
"Kamu belum hafal kota ini. Di sini sama di kampung itu beda jauh, Nay. Kita enggak akan pernah tahu mana orang yang beneran baik, dan mana yang cuma pura-pura baik padahal mau jahat. Kamu itu terlalu polos, jadi harus ekstra hati-hati."
Salsa kemudian duduk di samping Naya, menjabarkan dengan detail bagaimana kerasnya Kota Z. Mulai dari modus penipuan jalanan, hingga akal-akalan laki-laki hidung belang.
"Aku trauma, Nay. Dulu pas baru datang, aku pernah diajak ngobrol ramah banget sama orang di kereta. Pas aku lengah sedikit, dompet dan HP-ku amblas,"
Kenang Salsa dengan kilat kekesalan yang masih tersisa di matanya. "Makanya, kalau ada orang asing yang sok akrab dan mencurigakan, jangan diladeni."
Naya menepuk dahinya sendiri, tersadar oleh sesuatu. "Ya ampun, Sa! Aku sampai lupa belum shalat magrib. Gara-gara supir taksi tadi, nih. Tadi pas kamu ketiduran di mobil, aku sempat minta berhenti sebentar di masjid pinggir jalan. Eh, bapaknya malah ketus, katanya harus tambah uang arloji baru mau berhenti."
Salsa menghela napas, tersenyum kecut. "Ya, begitulah kota, Nay. Uang adalah segalanya. Ya udah, kamu salat duluan. Aku keluar sebentar mau beli lauk dan cemilan di depan."
.
.
Begitu Salsa menutup pintu, Naya bergegas ke kamar mandi untuk berwudu. Lembaran mukena putih bermotif daun kecil yang ia bawa dari rumah kini telah membingkai wajah ayunya. Namun begitu berdiri di tengah ruangan, Naya kebingungan. Ke mana arah kiblat?
Naya memutuskan untuk bertanya pada tetangga sebelah. Ia membuka pintu kontrakan dan melongokkan kepala. Kebetulan, pintu kamar sebelah terbuka.
Seorang wanita keluar dengan riasan wajah yang cukup tebal. Wanita itu mengenakan dress hitam ketat dengan potongan dada rendah dan belahan paha yang tinggi.
"Permisi, Kak..." sapa Naya selembut mungkin, tanpa prasangka apa pun. "Maaf mengganggu, saya mau tanya, kalau arah kiblat di sini menghadap ke mana, ya?"
Wanita yang sedang sibuk mengunci pintunya itu menoleh. Matanya memicing, menatap Naya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis.
"Lo nanya gue? Mana gue tahu. Gue bukan ustazah yang rajin shalat," ketusnya berbau sinisme.
"Tanya tuh ke kontrakan paling ujung! Dia biasanya pakai pakaian tertutup kayak lo gitu."
Tanpa menunggu balasan Naya, wanita itu berbalik dan melenggang pergi dengan sepatu hak tingginya, meninggalkan aroma parfum yang menyengat.
Naya baru saja hendak melangkahkan kaki menuju kamar paling ujung saat sebuah suara menginterupsinya.
"Naya!"
Itu Salsa. Ia berjalan cepat membawa satu kantong plastik berisi makanan. "Kamu mau ke mana pakai mukena begitu?"
"Eh, Sa... ini, aku mau tanya arah kiblat. Tadi nanya sama kakak yang itu, tapi katanya enggak tahu," tunjuk Naya polos pada wanita berbaju seksi yang punggungnya mulai menjauh di gang. "Terus aku disuruh tanya ke kontrakan ujung."
Salsa buru-buru menarik lengan Naya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. "Kiblatnya serong ke arah kanan kasur, Nay. Dan tolong, lain kali jangan asal ngobrol sama orang sini. Itu tadi Mbak Mery, dia kerja di tempat karaoke klup malam"
Salsa mengembuskan napas panjang. Sebenarnya, lingkungan ini sudah tidak aman lagi. Bulan depan Salsa bahkan berniat pindah.
Di sini terlalu bising, belum lagi maraknya kasus kehilangan. Uang hasil keringat Salsa pun pernah raib digondol maling dari dalam kamarnya sendiri. Namun, ia memilih menyimpan cerita itu agar Naya tidak makin ketakutan.
.
.
.
Keesokan paginya, atmosfer kamar yang sempit itu terasa lebih segar. Naya sudah bersiap. Ia mengenakan baju kurung maroon yang anggun, dipadukan dengan celana hitam dan kerudung pashmina berwarna merah muda yang senada.
"Gimana penampilan, Sa? Udah pas belum?" tanya Naya dengan senyum merekah penuh harap.
Salsa mundur satu langkah, mengamati Naya dari ujung kepala hingga kaki.
"Coba putar badan," pintanya.
Naya menuruti dengan riang. Namun, senyum Salsa perlahan memudar. Ia menggigit bibirnya, merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal.
Pandangannya terkunci pada alas kaki Naya. Sepasang sandal busa jepit yang warnanya sudah pudar dan menipis karena sering dipakai.
Tanpa banyak bicara, Salsa berjongkok di depan Naya. "Lepas sandal kamu, Nay. Pakai sepatu aku yang ini."
Salsa mengambil sepasang flat shoes berwarna cokelat kopi yang masih tampak sangat terawat dan meletakkannya di depan kaki Naya.
Naya terperangah dan buru-buru menarik kakinya mundur. "Eh, jangan, Sa! Itu kan sepatu kerja kamu yang paling bagus. Biar aku pakai sandal ini aja, enggak apa-apa."
"Kamu itu mau kerja di butik, Naya Azleaaa, bukan mau ke pasar!" tegas Salsa, langsung memegang pergelangan kaki Naya dan memakaikan sepatu itu dengan sedikit memaksa.
"Apa kata Bunda Vero nanti kalau lihat kamu datang pakai sandal yang sudah mau putus begini? Jangan khawatir, sepatu aku masih banyak di rak."
Salsa menunjuk rak plastik tiga susun di balik pintu yang dipenuhi beberapa pasang sepatu kerja dengan berbagai model.
Setelah terpasang, sepatu cokelat kopi itu ternyata pas dan membuat penampilan Naya naik kelas secara instan.
Naya menatap kakinya dengan perasaan campur aduk. "Nanti... kalau aku sudah terima gaji pertama, aku bakal ganti uang sepatu ini ya, Sa. Aku enggak enak..."
Salsa berdiri, lalu merangkul bahu sahabatnya itu dengan erat.
"Udah, jangan dipikirin. Kita sahabatan udah dari zaman susah. Kecuali ya... kalau nanti kamu udah jadi orang kaya, kamu wajib traktir aku apa aja! Hahaha," canda Salsa, memecah kecanggungan.
Di balik senyumnya, Salsa menatap Naya dengan binar haru. Ia tidak pernah melupakan kebaikan keluarga Naya saat mereka masih duduk di bangku SMP dulu.
Ketika ayah Salsa sakit keras dan keluarganya terancam runtuh karena ekonomi, orang tua Naya-lah yang secara diam-diam melunasi seluruh uang ujian dan tunggakan sekolah Salsa.
Naya sendiri bahkan tidak tahu tentang hal itu, sebab orang tuanya adalah tipe manusia yang selalu menyembunyikan tangan kanan saat memberi.
Dulu, orang tua Naya adalah buruh pabrik sepatu dengan penghasilan yang cukup untuk menabung masa depan anak-anak mereka.
Tragisnya, setelah kedua orang tua Naya tiada, seluruh tabungan itu dikuras habis oleh paman Naya sendiri—adik kandung dari ibunya. Rahasia kelam itu terkubur rapat, hanya diketahui oleh Nenek Rumi yang memilih bungkam demi menjaga kedamaian keluarga.
Salsa berjanji dalam hati akan menjaga Naya di kota ini. Ketika Bu Vero bercerita sedang membutuhkan pegawai butik yang jujur, wajah Naya-lah yang pertama kali melintas di pikiran Salsa.
Ia meyakinkan bosnya bahwa ia memiliki seorang sahabat yang memegang teguh kejujuran dan ketekunan di atas segalanya. Dan hari ini, langkah awal itu resmi dimulai.
Salsa dan Naya berdiri berhimpitan di dalam bus kota yang sesak. Di bawah sengatan hawa gerah, mereka memilih mengalah, memberikan kursi mereka kepada seorang ibu paruh baya dan kakek tua yang tampak ringkih.
Naya melempar pandangan ke luar jendela, menatap deretan kendaraan yang merayap memadati jalanan Kota Z.
Sementara itu, Salsa dengan telaten menjelaskan rute demi rute, menghafalkan setiap kelokan dan jenis transportasi yang kelak harus Naya kuasai demi bertahan hidup di kota ini.
Satu jam berlalu penuh perjuangan hingga bus akhirnya mendecit, berhenti di sebuah halte yang menjadi titik transit mereka.
"Dari sini kita sambung naik angkutan umum atau bajaj, Nay," ujar Salsa begitu kaki mereka menapak di trotoar.
Naya tertegun menyaksikan hiruk-pikuk pagi hari di Kota Z. Matahari baru saja naik, tetapi sinarnya sudah terasa menyengat.
Gurat kecemasan seketika membayang di wajah Naya; ia takut mereka akan terlambat pada hari pertamanya.
Melihat ekspresi sahabatnya, Salsa langsung menepuk bahu Naya. "Enggak usah buru-buru, Naya. Kita enggak akan terlambat, kok."
"Tapi ini sudah mulai siang, Sa. Lihat, mataharinya sudah seterang ini," sahut Naya gelisah.
Di kampungnya, jam delapan pagi masih menyisakan embun dan udara sejuk. Namun di kota ini, jam tujuh pagi saja polusi udara dan hawa panas knalpot sudah sanggup membuat kepala berdenyut.
"Butik baru buka jam sembilan, Naya. Jam segini yang pegang kunci saja pasti belum datang," jelas Salsa mencoba menenangkan. Ia meraih jemari Naya yang mendadak dingin. "Ayo nyeberang, Nay. Kita naik angkot N.10."
Salsa menarik tangan Naya dan melangkah tegas, mencoba membelah jalan raya. Namun, Naya yang belum terbiasa dengan ritme kota besar mendadak ragu di tengah jalan.
Genggaman tangan mereka terlepas. Tepat pada saat itu, sebuah sepeda motor melesat kencang dari arah kanan.
TIIIIIIIT!
Suara klakson memekik, memutus aliran darah Naya. Ia membeku di tengah aspal. Beruntung, motor itu berhasil mengerem mendadak, meski ujung rodanya hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuh Naya.
"KALAU PUNYA MATA ITU DIPAKAI DONG! LU KIRA INI JALANAN NENEK MOYANG LU?!" bentak si pengendara motor dengan kasar.
Tak cukup memaki, ia merangsek maju dan menoyor bahu Naya hingga gadis itu limbung.
Salsa yang melihat sahabatnya diperlakukan kasar langsung pasang badan. Ia menangkap tubuh Naya yang gemetar, lalu berteriak ka arah si pengendara,
"Lu yang salah! Jalanan lagi macet begini malah ngebut! Enggak punya otak ya?!"
Namun, si pengendara sudah telanjur tancap gas, meninggalkan kepulan asap dan makian Salsa yang menguap di udara.
Wajah Naya pias, kehilangan seluruh rona alaminya. Ini adalah kali pertama ia dibentak secara kasar di tempat umum.
Langkah kakinya terasa lemas. Sadar menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar jalan, Salsa segera memapah Naya menuju sebuah warung kaki lima di pinggir jalan.
Melihat kondisi Naya, seorang ibu paruh baya pemilik warung pecel dengan sigap menyodorkan sebotol air mineral.
"Minum dulu, Neng," ujarnya ramah.
"Terima kasih, Bu," ucap Salsa dan Naya hampir bersamaan.
Setelah Naya meneguk airnya, Salsa menatap lekat-lekat mata sahabatnya. "Lain kali, kalau sudah niat nyeberang, jangan ragu, Nay. Di kota sama di kampung itu beda jauh."
"Iya, Sa... aku tadi kaget waktu kamu tarik. Ditambah lagi motor itu tiba-tiba muncul," jawab Naya dengan suara cicit yang masih menyiratkan trauma.
"Maaf ya, aku juga salah karena terlalu egois menarik kamu tadi," sesal Salsa.
Naya menggeleng pelan, lalu menggenggam balik tangan Salsa. "Ini kelalaian aku, Sa. Bukan salah kamu. Udah, yuk, kita lanjut lagi."
Naya membuka tas rajutnya, berniat mengambil dompet untuk membayar air minum. Namun, Salsa langsung menahannya.
"Udah, enggak usah. Biar aku saja. Uang kamu simpan untuk cadangan ke depan,"
Cegah Salsa sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan kepada pria yang berjaga di kasir warung.
"Sudah dibayar sama bapak yang di ujung sana tadi, Neng," ucap sang penjual mengejutkan mereka.
Naya dan Salsa menoleh, namun sosok yang dimaksud sudah hilang di balik kerumunan koridor jalan. Sebuah misteri kecil yang sengaja ditinggalkan kota ini.
.
.
Tepat pukul 08.25 WIB, Salsa dan Naya tiba di depan sebuah ruko megah. Sebuah papan reklame bertuliskan "Butik Bunda Vero" terpampang mencolok dengan perpaduan warna merah muda dan perak abu-abu yang elegan.
Di sebelah kanan dan kiri butik tersebut berderet toko tas mewah dan elektronik. Hanya ada satu toko yang sudah mulai beraktivitas di ujung gang, sebuah ruko fotokopi.
"Itu tempat aku kerja nanti, Nay. Mall Anggrek yang ada di balik jembatan penyeberangan itu," tunjuk Salsa ke arah gedung megah yang menjulang tinggi di kejauhan.
"Nanti kalau butik sudah tutup, kamu tunggu aku di sini ya. Kita pulang bareng."
Naya tersenyum tipis, mencoba mengusir sisa ketakutannya.
"Wah, kalau dekat begitu, aku bisa dong ajak kamu makan siang bareng nanti?"
Salsa langsung melambaikan tangan, menolak cepat. "Jangan! Dari jembatan penyeberangan itu jalannya masih jauh, Naya. Kamu harus menyeberangi jalan protokol yang jauh lebih besar dan ngeri dari yang tadi."
Naya tertunduk lesu. Ia tahu Salsa mengkhawatirkannya, namun di sisi lain, ia merasa kekhawatiran itu terlalu mengekangnya.
Ia merasa sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Namun bagi Salsa, Kota Z adalah sarang serigala; tidak semua senyum yang merekah di kota ini berniat baik. Salsa hanya memegang teguh sumpah dan pesan dari Nenek Rumi sebelum mereka berangkat.
Salsa mengangkat dagu Naya, memaksanya saling bertatapan.
"Aku bukan enggak percaya sama kemandirian kamu, Nay. Hanya saja... kota ini punya cara sendiri untuk menghancurkan orang baik-baik. Kamu ingat pesan nenekmu, kan? Aku cuma enggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu."
Mendengar ketulusan sekaligus beban yang dipikul sahabatnya, dinding pertahanan Naya runtuh.
"Maafin aku ya, Sa," bisiknya sambil menyandarkan kepala di bahu Salsa.
"Sa, kalian sudah lama nunggu? Maaf ya, jalanan arah ke sini macet parah tadi," sebuah suara interupsi memecah keheningan mereka.
Seorang wanita dengan postur tinggi semampai berjalan mendekat. Ia mengenakan terusan hitam di bawah lutut yang dibalut cardigan sewarna mocca. Modis dan tegas.
"Enggak kok, Mbak. Oh ya, kenalin, ini Naya, temen yang kemarin aku ceritain," kata Salsa memperkenalkan sahabatnya kepada Mbak Bianca.
Bianca bukan sekadar karyawan biasa; dia adalah keponakan kandung dari Bunda Vero. Dialah tangan kanan yang memegang kendali atas arus keuangan dan operasional butik.
"Naya," sapa Naya sopan.
Bianca menatap Naya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tertuju pada wajah Naya yang bersih dengan hijab yang sangat pas berpadu dengan kulit putih kemerahannya. Cantik alami, batin Bianca.
"Yuk, masuk. Nanti biar Tante Vero yang langsung menilai kamu ya, Nay," ujar Bianca memimpin jalan.
Salsa melirik jam dinding di dalam butik yang sudah menunjukkan hampir jam setengah sembilan.
"Mbak Bianca, aku titip Naya ya. Aku harus langsung otw ke Mal Anggrek sekarang. Nay, kamu ngobrol-ngobrol aja dulu sama Mbak Bianca, orangnya asyik kok."
"Oh iya, kamu kan mulai hari ini dipindahkan ke cabang Mal Anggrek sama Bunda Vero. Ya sudah, sana jalan. Tenang, temanmu aman di tangan gue," ucap Bianca meyakinkan.
Setelah Salsa pergi, Bianca mulai mewawancarai Naya dengan santai namun menyelidik—mulai dari latar belakang pendidikan, keahlian menjahit, hingga tempat tinggalnya saat ini. Naya menjawab semuanya dengan jujur dan santun.
.
.
Tak berselang lama, pintu kaca butik terbuka, memunculkan dua karyawan senior. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah dingin.
Bianca memperkenalkan Naya kepada mereka. Karyawan bernama Resti menyambut Naya dengan senyuman hangat, namun tidak dengan Lusi. Wanita dengan riasan wajah yang terlalu tebal alias menor itu menatap Naya dengan pandangan sinis, sarat akan penilaian dan rasa terancam.
"Naya, kalau kamu nanti diterima di sini, besok-besok wajahnya harus sedikit dipoles ya. Biar pengunjung lebih senang melihat karyawan yang terlihat profesional dan modis," ujar Bianca memberikan saran objektif.
"Wajah kamu itu dasarnya sudah cantik, bakal lebih keluar anggunnya kalau disentuh make-up."
"Tapi saya tidak punya alat-alatnya, Mbak. Biasanya cuma pakai bedak tabur saja," jawab Naya jujur.
Mendengar itu, tawa Lusi menyembur remeh.
"Zaman sekarang bilang enggak punya make-up? Duh, jadul banget sih. Enggak banget deh buat standar butik ini."
Lusi membuang muka. Faktanya, kulit putih kemerahan alami milik Naya justru memicu rasa tidak percaya diri di dalam hatinya yang selama ini tersembunyi di balik riasan tebalnya.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut masalah make-up," sebuah suara bariton yang berwibawa menginterupsi dari arah pintu masuk.
Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan anggun.
Rambut pirangnya dipotong rapi sebahu, tubuhnya tegap dan dijaga dengan sangat baik, membuat siapapun tidak akan percaya bahwa usianya sudah menginjak kepala lima. Dialah sang pemilik takhta.
"Selamat pagi, Madam Vero," sapa Lusi dengan nada yang dibuat-buat semanis mungkin, langsung bergerak mencari muka
"Pagi, Bunda," sapa Resti dan Bianca. Resti dengan cekatan mengambil alih tas mewah milik bunda Vero dan meletakkannya di atas meja kerja dengan penuh hormat.
Tatapan tajam bunda Vero langsung terkunci pada sosok Naya yang asing di ruangannya.
Naya yang merasa gugup berinisiatif maju dan mengulurkan tangan, untuk mencium punggung tangan sang pemilik butik sebagai tanda hormat khas orang desa.
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, bunda Vero menarik tangannya kembali dengan gerakan cepat dan dingin. Isyarat penolakan yang halus namun sangat menusuk.
"Kamu temannya Salsa?" tanyanya dingin, langsung duduk di kursi kebesarannya tanpa mempersilakan Naya duduk terlebih dahulu.
"I-iya, Bu..." jawab Naya, lidahnya mendadak kelu"
"Panggilnya Bunda atau Madam! Lu kira Madam Vero ini ibu lu di kampung?!" sela Lusi ketus, memanaskan suasana.
Bianca yang sudah muak dengan tabiat Lusi langsung menoleh tajam. "Lusi! Urus pekerjaanmu sana! Jangan ikut campur!"
Disemprot seperti itu di depan bos besar, Lusi akhirnya mundur dengan wajah bersungut-sungut. Ia menghentakkan kakinya kasar seraya berdecak kesal saat berjalan ke area belakang.
"Dasar perawan tua," umpat Lusi sangat pelan dengan bibir mencibir.
Namun, ruangan yang hening membuat umpatan itu terdengar jelas di telinga keponakan sang bos.
Bianca membalikkan badannya dengan mata menyala. "Eh, Lusi! Gue dengar ya apa yang lu omongin barusan!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!