"Kenapa kau tiba-tiba memintaku datang ke sini? Ada apa? Kelihatannya sangat penting." pria itu bertanya dengan nada bingung.
Seorang gadis muda yang telah menjadi kekasihnya beberapa bulan terakhir ini , tiba-tiba saja meminta bertemu setelah sepulang sekolah di halaman parkir sekolah.
Gadis itu berdiri kaku di tempatnya. Jemari tangannya tak henti meremas ujung rok abu-abunya yang sudah terlihat kusut. Ia bahkan tak berani menatap pria itu. Seolah ingin menyembunyikan raut wajahnya yang gelisah.
"Sebaiknya kita mengakhiri hubungan ini." gadis muda itu akhirnya memberanikan diri untuk menatapnya dengan penuh keyakinan.
Pria itu malah tertawa kecil. Menganggap perkataan itu tak lebih dari sekedar gurauan belakang yang terlontar dari mulutnya.
"Apa kau sedang bergurau? Karena itu sama sekali tidak lucu." ungkap pria muda itu mengerutkan keningnya.
"Aku tidak sedang bergurau. Aku serius, Kak. Aku akan pindah bersama ibuku. Mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi." ungkapnya, berusaha untuk tegar.
"Memangnya kemana kau akan pindah? Kita masih bisa bertemu seminggu sekali atau sebulan sekali. Bagiku itu sangat mudah, Amara. Kita bisa mencari solusi bersama. Tidak perlu sampai berpisah, kan?" Pria itu memegang kedua tangannya. Berharap gadis itu bisa merubah keputusannya.
"Apa! Tidak, Kakak tidak bisa melakukannya." sanggahnya tidak setuju.
"Kenapa? Itu masalah mudah bagiku." balasnya tenang sembari menatap tajam ke dalam mata gadis itu, meyakinkannya bahwa ia bisa melakukan apapun untuk mencegah perpisahan itu tidak benar-benar terjadi.
Gadis itu tersenyum lirih. "Iya, itu memang mudah bagimu karena kakak memiliki segalanya. Justru hal itulah yang membuat perbedaan di antara kita menjadi begitu jelas. Aku tidak cocok dan sepadan denganmu."
Pria itu menatapnya tajam, lalu meremas bahunya tanpa sadar. Meluapkan emosi yang seketika mulai menguasainya.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Ini tidak seperti dirimu. Apa ada yang mengancam mu? Atau mengatakan yang tidak-tidak tentangku?" desis pria itu dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang tertahan.
"Lepaskan aku, Kak! Kau menyakitiku!" Ia meringis, merasakan jemari pria itu menekan kuat kulitnya, namun ia menoleh untuk memalingkan wajahnya dari pria itu.
Pria itu seketika sadar dan menyingkirkan kedua tangannya dengan kasar.
"Maafkan aku, Mara! Aku khilaf." pintanya merasa bersalah.
Gadis itu hanya diam. Keheningan diantara mereka terasa mencekam, hanya deru nafas berat pria itu yang memecah kesunyian diantara keduanya.
"Tapi, apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran . Kemarin kau masih bersikap seperti biasa padaku. Bahkan pagi tadi kau masih menyapaku dengan ramah. Apa yang membuatmu berubah dan minta berpisah? Aku sama sekali tidak mengerti." ia bertanya-tanya karena tidak mengerti apa masalahnya.
Gadis yang dipanggil "Mara" itu tampak gusar menghadapi pertanyaannya.
"Karena ... aku merasa jika kita berdua tidak ada kecocokan sama sekali. Kita masih muda dan punya impian masing-masing. Ini hanyalah sekedar cinta monyet belaka. Nanti ketika kau dewasa dan bertemu dengan wanita yang lebih baik, kau mungkin akan tertawa ketika mengenang kisah kita sekarang. Jadi, kita akhiri saja sampai di sini. Aku sudah mengajukan surat pindah pada pihak sekolah. Lusa aku akan pindah bersama ibuku." jelasnya dengan mata berbinar, bukan karena senang, melainkan untuk menutupi kesedihannya.
"Lusa! Secepat itu? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanyanya bingung.
"Ini rencana mendadak. Maafkan aku, kak! Aku harus pulang sekarang untuk bersiap-siap. Selamat tinggal kak. Terima kasih untuk waktu-waktu berharga yang kau berikan padaku. Aku senang mengenalmu. Maafkan aku jika terkadang aku bersikap egois padamu." pintanya sebelum pergi.
Gadis itu berbalik dan pergi dengan langkah yang terburu-buru. Dia bahkan tidak menoleh lagi untuk sekedar melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.
Pria itu hanya berdiri mematung di tempatnya. Ia bahkan tak berusaha untuk mengejarnya karena masih terlihat bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ini sangat aneh!" gumamnya pelan.
...****************...
Itu adalah terakhir kalinya ia melihatnya di sekolah. Gadis itu benar-benar tidak menampakkan wajahnya lagi di sekolah. Ia bertanya-tanya pada teman sekelasnya, tetapi gadis itu bukanlah gadis yang populer. Ia bahkan tidak punya banyak teman dekat di kelas. Gadis itu memang dikenal sebagai gadis pendiam. Tak banyak orang yang bicara padanya. Sehingga tidak ada yang tahu tentang keberadaannya maupun keadaannya.
Bahkan mereka semua selalu bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa tertarik pada gadis sepertinya?
Pria itu sangat populer di sekolah karena latar belakangnya yang berasal dari keluarga berada. Ayahnya bahkan adalah salah satu pemilik saham di sekolah ini. Bagaimana mungkin ia bisa tertarik pada gadis seperti itu. Bahkan ia tidak populer.
Anehnya pria itu bahkan baru tahu hal itu hari ini. Selama ini ia hanya sibuk membanggakan dirinya sendiri di hadapan gadis muda itu tanpa pernah tahu bagaimana perasaan gadis itu sebenarnya. Apakah ia merasa senang atau justru sebaliknya, merasa terpaksa menerimanya.
Pria itu sungguh menyesal. Tanpa pikir panjang, ia memilih untuk bolos di jam istirahat untuk menyusul ke rumah gadis itu.
Satu-satunya hal yang ia tahu tentang gadis itu hanyalah alamat rumahnya saja. Karena ia pernah beberapa kali mengantarkannya pulang. Tetapi sepertinya ia terlambat karena rumah itu terlihat sepi. Bahkan pagarnya sudah di gembok.
Apa mereka sudah pergi? Ia bertanya-tanya dalam hati.
Mereka pergi dengan apa? Kereta atau pesawat?
Pria itu lalu menelepon seseorang. Dan memintanya untuk mencari informasi.
Mereka pergi dengan kereta api. Dan akan berangkat siang ini pukul sebelas. Ia masih punya waktu setengah jam untuk sampai ke sana.
Ia mengendarai sepeda motornya dengan sangat laju, menembus padatnya jalanan siang itu. Bahkan ia tak memperdulikan makian dari beberapa pengguna jalan yang hampir ia tabrak.
Ia ingin cepat sampai dan ingin menyampaikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.
Ia sampai di stasiun kurang dari setengah jam. Ia lalu mencari gadis itu di setiap sudut. Di loket tiket, di kursi-kursi tunggu, dan di kereta yang akan berangkat, namun ia belum berhasil menemukannya.
"Dimana dia?"
Pria itu juga tak bisa menghubungi sejak pagi tadi. Gadis itu mungkin sengaja menonaktifkan ponselnya agar ia tak bisa dihubungi.
"AMARA!!!" Ia berusaha untuk menyerukan namanya di setiap sudut stasiun.
Harap-harap jika gadis itu mendengarnya. Namun ia tak juga menemukannya. Bahkan sampai kereta berangkat pun, ia juga tak berhasil menemukannya.
Kenapa hubungan mereka berakhir seperti ini. Ini tidak masuk di akal.. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Aku pasti akan menemukanmu suatu hari nanti." ia berjanji pada dirinya sendiri mulai saat itu.
...****************...
Hallo!
Ini adalah novel terbaru yang saya buat setelah menyelesaikan "cinta untuk Ayana".
Harapannya semoga saya bisa terus konsisten untuk menulis bab setiap harinya. Semoga semuanya berjalan lancar. Aamiin.
Dan untuk para pembaca setia, jangan lupa sisihkan waktu untuk memberi dukungan pada saya ya. Jangan lupa untuk subscribe ♥️ agar kalian gak ketinggalan lanjutan ceritanya.
Terima kasih untuk waktu dan dukungan ya.
*Setitik cinta di atas harapan*
By Mutia Ratnasari.
Happy reading guys ♥️
Beberapa tahun kemudian...
"Dimana istrimu itu, Ran? kenapa jam segini belum menyiapkan sarapan?" tanya seorang wanita paruh baya dengan nada ketus kepada putra tertuanya itu.
Wanita itu bernama Yanti — ibu pria itu. Mereka sedang berada di meja makan. Tidak hanya ada mereka berdua disana, ada seorang pria paruh baya dan seorang gadis muda berusia remaja.
"Dia sedang memasak di dapur, Bu. Tadi Amara bangun kesiangan." jelas pria bernama Randi itu.
"Dasar pemalas! Sudah jam berapa ini? Kau dan adik-adikmu bisa terlambat nanti." gerutunya kesal.
Wanita itu lalu pergi ke dapur untuk melihat Amara , menantunya.
Gadis itu tampak sibuk memasak dan menyiapkan sarapan. Ia hanya sendirian di sana. Sementara wanita paruh baya itu hanya mengawasinya tanpa berniat sedikit pun untuk membantunya.
"Kenapa lama sekali? Cepat sedikit masaknya. Ini sudah jam berapa?" hardiknya.
"Iya, Bu. Sebentar lagi makananya akan siap. Ini tinggal di pindahin ke mangkuk saja." jelasnya sambil mengambil mangkuk.
Gadis itu tampak kewalahan membawa makanan ke ruang makan. Tak ada seorangpun dari mereka yang berinisiatif untuk membantunya.
Amara lalu meletakkan semua masakan di meja makan.
"Kak! Mana telur sapi setengah matangnya?" tanya gadis muda itu setelah melihat tidak ada lauk favoritnya di meja.
"Kita kehabisan telur. Semalam kakak lupa untuk membelinya." jelas Amara dengan sabar.
"Aduh! kenapa bisa lupa? 'Kan kakak tahu kalau aku tidak bisa makan tanpa telur. Pokoknya aku tidak mau tahu, cepat buatkan telur mata sapi untukku!" perintahnya sambil merengek minta segera dituruti.
"Sarah! Sudah! Makan saja apa yang ada. Kau bisa terlambat ke sekolah nanti." ucap Baskoro pada putri bungsunya itu.
Gadis muda yang mengenakan seragam putih biru itu tampak mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Ayo, makan saja, Sarah! Dimana mas mu? Mara, bangunkan Wahyu sekarang! Dia bisa terlambat ke sekolah nanti." perintah Yanti.
"Iya, Bu!" Amara tampak menuruti perkataannya.
Ia lalu bergegas ke kamar Wahyu untuk membangunkannya. Ia mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban. Ia mencoba untuk membuka pintu kamarnya dan ternyata tidak di kunci. Ia tak melihat ada orang di dalam.
"Apa Wahyu tidak pulang semalam?" tanyanya heran.
Ia kembali ke ruang makan. "Bu! Wahyu sepertinya tidak pulang semalam." jelasnya.
"Apa! Dasar anak itu! Kemana dia?" Yanti tampak kesal.
Mereka lalu selesai sarapan dan bersiap-siap untuk pergi.
Randi — suami Amara, bekerja sebagai manajer di salah satu perusahan besar. Sementara Ayahnya — Baskoro, memiliki sebuah toko sembako. Terkadang Yanti membantu suaminya di toko. Tapi sebagian besar waktunya di habiskan bersama teman-teman arisannya.
Randi punya dua adik, adik lelakinya bernama Wahyu. Sementara adik perempuannya bernama Sarah.
Amara dan Randi sudah menikah selama dua tahun, namun mereka belum dikaruniai seorang anak. Hal itu membuat Yanti semakin tidak suka pada menantunya itu.
"Mas, sebentar! Ini tasnya." Amara berlari ke depan menghampiri suaminya itu.
"Iya, sudah! Mas berangkat kerja, ya!" ucap pria itu.
"Hmm... Sebentar, mas. Apa nanti siang aku boleh pergi ke rumah ibu? Sudah lama aku tidak ke sana?" tanyanya.
"Untuk apa kau pergi ke sana?" tanyanya balik.
"Aku mendapat kabar jika ibu sedang sakit. Jadi aku ingin melihat bagaimana keadaannya."
"Hah! Iya, sudah. Tapi jangan lama-lama. Nanti ibu bisa marah lagi. Mas pergi, ya!" pria itu tampak terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.
"Mas, tunggu sebentar! Mas!" Amara berusaha untuk memanggilnya, namun Randi tidak menggubrisnya.
Padahal aku mau minta uang. Tidak mungkin aku pergi dengan tangan kosong. batinnya.
"Apa aku minta saja pada ibu?" gumamnya ragu.
Selama menikah, Randi selalu memberikan semua gajinya pada ibu mertuanya. Menurut Randi, ibunya lebih bijak mengatur keuangan daripada istrinya. Sehingga jika ada keperluan, Amara selalu meminta uang pada ibu mertuanyanya itu. Tetapi, itu bukanlah hal yang mudah. Karena ibu mertuanya itu tidak akan begitu saja memberikan uang padanya begitu saja, kecuali uang belanja. Uang belanja yang diterimanya pun selalu pas-pasan. Sehingga Amara tak pernah memegang uang sepeserpun setelah menikah.
Hal itu tentu saja membuatnya terluka. Ia merasa tak pernah dianggap sebagai seorang istri di rumah ini. Namun ia memilih untuk diam daripada harus terus bertengkar dengan suaminya. Ia hanya tak ingin penyakit jantung ibunya kambuh karena mendengar bagaimana ia diperlakukan di rumah ini.
Ia pun lalu masuk ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi.
...****************...
"Mau kemana kau?" tanya Yanti ketika melihat menantunya telah berpakaian rapi dan membawa tas.
"Saya mau pergi ke rumah ibu. Tadi saya sudah izin sama Mas Randi." jelasnya.
"Mau apa kau pergi ke sana? Mau mengadu pada ibumu?" tanyanya curiga.
"Tidak, Bu! Saya tidak pernah mengadu apa-apa sama ibu saya. Saya hanya mau menjenguk ibu. Dia sedang sakit." sanggahnya.
"Apa kau sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah?" tanyanya.
"Sudah, Bu. Saya juga sudah menyiapkan makan siang." jelasnya.
"Iya, sudah! Tapi jangan lama-lama." perintahnya.
"Iya, Bu. Hmm... Tapi Bu!" ucap Amara ragu.
"Kenapa? Mau minta uang?" duganya.
"Iya, Bu. Saya mau membeli buah untuk ibu!" jelasnya.
"Hah! Enak saja. 'kan kau yang mau pergi sendiri. Kenapa malah minta uang pada ibu. Randi mencari uang ini dengan susah payah. Enak saja kau mau menghabiskan uang ini. Apalagi untuk diberikan pada ibumu. Jangan harap! Pergilah!" gerutunya kesal.
Wanita itu lalu pergi begitu saja.
"Bu! Tolong, Bu!" pintanya.
Namun wanita itu tidak menggubrisnya.
Amara tampak menangis. Dia merasa tak tahan dengan semua ini. Ia hanya berharap jika suatu saat nanti mereka bisa bersikap lebih baik padanya.
...****************...
Amara tiba di rumah ibunya dengan menggunakan angkutan umum. Butuh waktu satu jam untuk tiba di sana. Amara terpaksa meminjam uang dari tetangganya untuk membeli buah.
Rumah yang ditempati oleh ibunya itu adalah rumah peninggalan dari mendiang neneknya.
Ibunya hidup dengan berjualan sarapan pagi. Tetapi beberapa hari ini ia tidak bisa jualan karena sakit. Wanita itu memiliki riwayat penyakit jantung. Karena hal itulah, Amara selalu berhati-hati agar penyakit ibunya tidak kambuh.
Sementara Ayahnya sudah meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar.
Amara mengetuk pintu rumah itu dan memanggil-manggil ibunya.
"Assalamualaikum, Bu! Ini Amara, Bu!" serunya.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"Mara! Kamu datang, nak! Ayo, masuk! Uhuk .. Uhuk..." wanita itu tampak pucat.
Ia terbatuk-batuk dan masih tampak lemas. Ia bahkan memakai cardigan rajut untuk menghalau rasa dingin yang ia rasakan.
"Ibu masih sakit?" tanyanya sembari memapah ibunya untuk duduk.
"Tidak, kok. Ibu sudah jauh lebih sehat. Hanya masih sisa batuk-batuk saja. Untuk apa kau datang ke sini? Ibu hanya sakit biasa saja, kok!" jelasnya.
"Apanya yang hanya sakit biasa. Wajah ibu terlihat sangat pucat. Apa ibu sudah ke rumah sakit?" tanyanya cemas.
"Sudah. Ibu sudah pergi ke puskesmas kemarin. Makanya sekarang ibu sudah jauh lebih mendingan. Kau tidak perlu cemas, nak." ucapnya.
"Maafkan Mara ya, Bu. Mara baru bisa datang sekarang." pintanya sedih.
"Tidak apa-apa. Ibu mengerti, kok. Apa kau sudah makan siang? Kau tampak lebih kurus dari saat terakhir ibu melihat mu." ucapnya cemas.
"Masa, sih! Tapi Mara makan lebih banyak akhir-akhir ini. Memang Mara sedang menjaga asupan yang Mara makan. Mara ingin segera hamil." ucapnya.
"Iya, ibu tahu. Tapi jangan sampai hal itu membuatmu sakit."
"Iya, Bu. Mara bisa menjaga diri Mara, Bu."ucapnya menenangkan ibunya.
"Oh, iya! Mara bawa buah untuk ibu. Mara potongkan dulu, ya!" ucapnya.
"Iya, nak. Oh iya, kamu makan siang di sini ya. Temani ibu!"pinta ibunya.
"Iya, Bu."
Mara lalu pergi ke dapur dengan ibunya. Sudah lama sekali ia tidak makan bersama ibunya.
...****************...
Sepulang dari rumah ibunya , Mara tampak bingung. Rasanya malas sekali untuk pulang ke rumah suaminya. Tidak ada yang menghargainya di sana. Bahkan suaminya pun tak pernah membelanya ketika keluarganya menyudutkan dirinya.
"Apa aku cari kerja saja, ya?"
"Tapi mau kerja apa dan dimana? Aku hanya tamatan sekolah menengah atas." ia bergumam sambil jalan.
Namun tiba-tiba, ia melihat selebaran lowongan pekerjaan yang di tempelkan di tiang listrik.
...Lowongan pekerjaan....
...Toko bunga "D-florist"...
...Di cari pegawai wanita/pria...
...Usia max 30 tahun....
...Berkepribadian baik dan berpenampilan menarik....
...Untuk di tempatkan sebagai pegawai dan kasir....
...Jika berminat silahkan hubungi no Hp. 08xxxxxxxxxx...
...Sekian dan terima kasih....
"Sepertinya aku bisa melamar di toko bunga ini. Alamatnya juga tidak jauh dari rumah. Semoga lowongan pekerjaannya masih ada."
Amara mencabut kertas selebaran itu dari tiang listrik dan menyimpannya di dalam tas. Rencananya besok ia akan mendatangi toko bunga tersebut.
...****************...
"Kau darimana saja? Kenapa baru pulang sekarang?" Yanti yang sore itu pulang lebih awal dari toko, menegur Amara karena pulang sore.
"Sudah lama saya tidak ketemu ibu. Jadi saya keasyikan mengobrol, Bu!" jelas Amara.
"Alasan saja. Kau pasti mengadu pada ibumu, 'kan?" tuduhnya.
"Tidak, bu. Aku tidak mengadu apapun pada ibu." sanggahnya.
"Dengar, ya! Kau itu hanya menumpang tinggal di sini. Jadi jangan pikir jika kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Sekarang siapkan makan malam. Sebentar lagi ayah dan Randi akan pulang. Jangan lupa cuci semua piring bekas makan siang tadi. Apa kau mengerti?" perintahnya.
"Iya, Bu!" jawabnya lirih tanpa membantah sedikitpun.
Amara pergi ke dapur untuk melakukan pekerjaan. Ia tampak terkejut melihat keadaan dapur yang berantakan. Begitu banyak piring dan gelas yang kotor berserakan di wastafel.
Ibu pasti mengundang beberapa temannya lagi. Batinnya.
Amara tampak sedih karena keberadaannya di rumah ini tak pernah di hargai. Mungkin bagi mereka ia tak lebih dari sekedar pembantu yang tenaganya bisa di pakai secara cuma-cuma. Apalagi suaminya tak pernah sekalipun perduli pada perlakuan keluarganya padanya.
Terkadang ia ingin sekali lari dari rumah ini dan meninggalkan Randi. Hanya saja ia tak bisa karena takut membuat ibunya jatuh sakit karena masalahnya. Ditambah lagi ia tak punya uang sepeserpun untuk mengajukan perceraian.
Dia hanya berharap jika suatu saat keadaan bisa berubah.
"Kau sudah pulang, Mara?" tanya Baskoro pada menantunya itu.
"Iya, yah. Jawabnya.
Satu-satunya orang yang bersikap baik padanya hanyalah ayah mertuanya saja.
"Maafkan sikap ibu mertua mu ya. Kau selalu diperlakukan seperti ini setiap hari. Dan ayah minta maaf karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu. Kau tahu kan jika posisi ayah juga sulit di rumah ini." jelasnya.
"Tidak apa-apa, yah. Ini juga merupakan kewajiban saya sebagai menantu rumah ini." ia berusaha ikhlas.
Ayah mertuanya itu juga selalu di remehkan oleh istrinya. Hal itu karena ia lah yang memberikan modal pada suaminya untuk membuka usaha. Rumah ini juga warisan dari mertuanya. Dia bahkan tidak punya hak di rumah ini untuk mengutarakan pendapatnya sendiri.
"Sabar ya!" ucapnya.
"Iya, yah!"
...****************...
Malam harinya ia berbicara dengan Randi tentang niatnya untuk bekerja. Walaupun ia ragu bahwa Randi akan mengizinkannya untuk bekerja.
"Kau mau bekerja? Untuk apa? Siapa yang nantinya akan membantu ibu mengurus rumah jika kau pergi bekerja. Ibuku sudah tua dan mudah lelah. Tidak mungkin dia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian." jelas Ervin ketika Amara mengutarakan niatnya.
"Aku bisa bekerja pada sore hari. Paginya aku bisa mengurus rumah dan memasak. Aku tidak akan lupa kewajiban ku jika aku bekerja. Tolong izinkan aku, mas." pintanya memohon.
"Tidak. Kau tidak boleh bekerja. Kerjakan saja pekerjaan yang ada di rumah. Lagipula untuk apa kau bekerja. Aku masih sanggup untuk menghidupi mu."
"Menghidupi ku? Iya, mas memang memberiku makan tiga kali sehari di sini. Tapi apa mas pikir aku hanya butuh itu? Sementara ibu dan adik-adik mas bisa belanja pakaian bagus setiap minggunya. Lihat aku, mas! Pakaian ku sudah lusuh karena dipakai setiap hari. Dan lihat wajah ku, bahkan membeli satu lipstik pun harus mengemis pada ibumu. Setiap hari aku bangun lebih pagi dan menyiapkan segala kebutuhan kalian hingga malam hari. Tapi apa yang ku dapatkan, hanya hinaan dan makian dari keluarga mu." jelasnya meluapkan segala isi hatinya.
"Kamu sudah berani melawanku." tegurnya marah.
"Aku bukan melawan padamu. Tapi aku membicarakan kenyataan. Aku tidak pernah mendapatkan apapun darimu selama menikah. Baik itu materi ataupun perhatian. Kau bahkan tidak perduli ketika semua keluarga mu menghinaku. Kau hanya diam. Sekarang aku mau tanya padamu, mas. Apa artinya aku bagimu?" Akhirnya Amara meluapkan segala emosi yang ia pendam selama ini.
Randi terdiam karena apa yang dikatakannya memang benar.
"Kenapa diam saja, mas. Jawab?" desak Amara.
Randi tak gentar begitu saja. Egonya jauh lebih tinggi daripada nuraninya.
"Kau jangan banyak bicara. Jika kau tak tahan hidup bersama dengan ku lagi, silahkan keluar dari rumah ini." usirnya.
"Kau mengusirku, Mas?" tanyanya tak percaya.
"Iya. Kenapa? Apa kau takut? Jika aku mengusir mu, kemana kau akan pergi? Ke rumah ibumu?" ejeknya dengan nada sinis.
Randi tahu jika kelemahan istrinya itu adalah ibunya. Wanita itu tentu tak ingin ibunya mendengar berita buruk darinya dan membuatnya jatuh sakit.
"Kenapa kau hanya diam?"
Amara hanya tertunduk diam. Randi lalu mendekatinya dan menarik dagunya dengan kasar.
"Dengar! Jangan bertindak macam-macam denganku! jika kau tak ingin ibumu terluka. Kau harus menurutiku jika ingin ibumu tetap sehat. Apa kau mengerti?" Randi mengancamnya.
Amara mengangguk patuh. Ia tak punya kekuatan apa-apa untuk melawannya. Untuk saat ini ia mungkin hanya bisa bersabar.
Randi lalu keluar dan pergi entah kemana.
Kamar itu kini terasa sunyi. Perlahan terdengar suara isakan yang tertahan yang lolos dari bibir Amara. Dadanya terasa sesak seketika — menahan rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Ada banyak amarah yang tertahan, namun tak bisa ia salurkan.
...****************...
Randi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus padatnya jalanan malam itu. Rasa kesal di dadanya kian membuncah mengingat sikap Amara yang sudah berani melawannya. Ia perlu pergi untuk mencari kesenangan.
Mobil itu memasuki area komplek perumahan yang tak jauh dari kantornya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah lantai dua yang di desain dengan konsep minimalis.
Ia lalu turun dan masuk ke dalam rumah. Randi menekan bel yang berada di pintu masuk. Tak lama, seorang wanita muda keluar dari rumah itu.
Wanita itu berperawakan sedang — dengan rambut panjangnya yang sengaja di biarkan terurai.
"Sayang! Kau datang!" wanita itu memeluknya erat — melepas rasa rindu yang sudah tak tertahankan.
"Iya. Aku bosan di rumah! Jadi aku datang ke sini. Kau tidak keberatan, 'kan?" tanya Randi menatapnya lembut.
"Tentu saja tidak. Aku senang sekali kau ada di sini. Aku baru saja memikirkanmu. Sepertinya hati kita sudah terhubung satu dengan yang lainnya." godanya.
"Kau bisa saja. Ayo masuk! Aku juga merindukan mu." Randi balik menggodanya.
Pintu rumah itu lalu tertutup rapat.
...****************...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!