Indonesia
NovelToon NovelToon

AKU VS TRAUMA MASA LALU

Prolog

Di pagi yang cerah dengan sinar mentari yang sangat mampu menghangatkan tubuh. Ada wanita cantik berkulit putih sedang bermain di taman bersama Putri kecil yang sangat imut dan penuh keceriaan, Wanita itu ia lah Farah.

“ Bunda lihat ini, Aku sudah belani main pelosotan sendili... ” Ucap Putri kecil tersebut sambil bersiap untuk meluncur.

“ wuih..... ” Ucapnya dengan meluncur.

“ High five 👋! ”Ajak Farah pada Ica si Putri kecil kesayangannya.

“High five👋, Bundaaa...” serunya dengan penuh semangat.

“ wow.. Ica keren banget sudah berani. Bunda bangga sama Ica, ” Sahut Farah dengan bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian Putrinya itu.

Farah dan Ica sangat menikmati Quality time yang terjadi seminggu sekali, karena Farah harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keduanya.

“ Bunda, Aku mau es klim, ” pinta Ica sambil menunjuk gerobak es krim yang tidak jauh dari keberadaan mereka.

“ SIAP! My Princess..” Sahut Farah dengan tangan yang hormat serta kebahagiaan yang terpancar.

Saat keduanya sedang menuju Grobak es krim, Ica menanyakan hal yang sensitif sehingga Wajah kebahgiaan Farah terbang di bawa angin, namun ia berusaha menahan kesedihan yang akan membuat air matanya jatuh.

“ Bunda, enak ya meleka punya Ayah. kok Ica ga punya Ayah? ” Celetuk Ica dengan wajah polosnya.

“ Maaf ya sayang, Ica cuman punya Bunda ga bisa seperti mereka. Bunda janji akan selaAku buat Ica bahagia tanpa adanya Ayah, ” Ucap Farah sembari mengusap lembut rambut Putri kecilnya, dengan senyum tuAkus namun menyimpan Akuka dari sorot matanya.

‘Andaikan Bunda tidak menikah dengan laki-laki itu, mungkin kamu ga akan ada dunia ini dan merasakan hal seperti ini, Sayang... ’ monolognya dengan menatap dalam Putri kecil sampai tak sengaja satu tetesan air mata terjatuh.

“ Bunda kok nangis? ” tegur Ica sembari mengusap air matanya.

“ eng-nggak ini mata Bunda kena debu, jadinya berair, ” Lanjutnya.

“ Udah yuk, kita beli Es krim keburu abangnya pergi. ” Lanjutnya dengan menggandeng tangan gadis kecil itu dan berlari kecil dengan iringan tawa keduanya.

Di seberang jalan ada sosok Laki-laki memakai hoodie dengan badan yang sangat ideal , sedang memperhatikan mereka dengan wajah sedih namun matanya terlihat kagum dengan apa yang ia lihat.

“ Coba aja Far, Kamu mau buka hati buat Aku, pasti saat ini Kamu akan bisa lebih bahagia, dan ga perlu mengingat rasa sakit masa lalu yang menghancurkan Kamu. ” Ucap Pria berhoodie tersebut.

Setelah membeli es krim, mereka pulang ke rumah menggunakan mobil berwarna putih.

“ Sekarang waktunya... ” Ucap Farah sembari menunjukkan Kunci ditangannya.

“Pulaanggg.” Sambung Ica dengan penuh semangat.

Ramainya jalan tidak dapat menutupi kecerian gadis kecil yang kehilangan peran seorang Ayah.

Saat sudah masuk Lima kilometer lagi sampai rumah, Tiba-tiba...

DUAR...

Ban Mobil Farah pecah, sehingga mereka mau ga mau harus berhenti di pinggir jalan.

“ yahh.. Bunda gimana nihh... ”keluh Ica dengan wajah bete tapi gemesin pake banget.

“ Gimana yaa.. Bunda juga bingung, ” ucap Farah sambil menggaruk palanya dengan raut wajah bingung.

Farah bingung minta bantuan siapa, karena ia tidak membawa ban serep.

tin.. tin..

Suara kelakson Mobil dari belakang mereka, yang merupakan Mobil Pria berhoodie tadi.

Mobil itu berhenti di depan mobil mereka.

“ Kenapa Mobilnya? mogok?”Tanyanya dengan wajah khawatir.

“ Bukan Om, Bukan mogok tapi Ban-nya meledak. ” Protes Ica dengan wajah yang lucu.

“ Boleh saya bantu? ” pintanya dengan wajah tulus.

“ hmm.. tidak usah Pak, Saya takut ngerepotin. ” Tolak Farah dengan sopan, karena ia ga mungkin minta bantuan dari pria ini yang merupakan Bosnya.

“ ngga ngerepotin, kan Saya cuman nganterin kalian aja. ”Ucapnya.

“ ga usah Pak, Saya cari bengkel aja sekitar sini pasti ada. ” tolak nya lagi dengan mata yang mencari sesuatu ke kiri dan ke kanan.

“ Udah Kalian ikut Saya aja. Bengkel dari sini jauh yang ada si Ica kasian kepanasan. ” Bujuknya lagi.

“ Mobil Kamu biarin disini, nanti saya minta bengkel langganan saya untuk bawa mobil ini. ” Lanjutnya.

“ hmm... oke kalo tidak merepotkan, ” Jawabannya setelah ia melihat putri kecilnya yang udah kegerahan.

“ OM!!!... Kok pintu Mobilnya ga bisa di Bukaa. ” Ucap Ica yang berusaha membuka pintu tersebut.

“ Ica... ”Tegur Farah, karena tak enak hati dengan vano.

“eh, Maaf om tadi Ica terlalu semangat hehehe, ” Ucap Ica dengan wajah yang menggemaskan.

“Gapapa sayang... ”ucap vano dengan mengusap kepala Ica lembut, membuat senyum Ica semakin lebar.

“silahkan masuk Farah, ” pinta vano dengan membukakan pintu depan.

“makasih pak, tapi saya duduk dibelakang aja. Ga enak kalo bawahan duduk bareng di depan bareng atasan.” tolak Farah dengan bahasa yang di peralus.

“ ya sudah, ” Ucapnya dengan senyum sedikit asam karena mendapat penolakan.

hening...

Perjalanan yang sunyi karena rasa canggung keduanya, serta anak kecil yang lucu itu langsung tertidur pulas.

“ hmm.. Far, ”Panggil vano dengan gugup.

“Iya Pak, kenapa? ” Sahut Farah melihat kearah vano sebentar, lalu menunduk kembali karena canggung.

“ng-nggak, ga jadi. ” Ucapnya dengan cepat.

Keheningan kembali menemani perjalanan.

Mobil melaju pelan, melewati deretan pepohonan yang bergoyang diterpa angin sore. Farah memandangi jalanan, mencoba mengalihkan pikirannya dari rasa canggung yang menguasai mobil itu. Ica, yang tertidur pulas, sesekali menggumam pelan sambil memuk lengan sang Bunda.

vano melirik Farah dari sudut matanya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun seakan ada dinding tak terlihat yang menahannya.

Kenapa dia selalu menjaga jarak begitu jauh. bahkan ketika aku hanya ingin melindunginya, batinnya.

Farah merasakan tatapan itu, tapi pura-pura tak peduli. Baginya, terlalu dekat dengan vano berarti membuka pintu masa lalu yang ingin ia kunci rapat-rapat. Ia pernah jatuh, dan jatuhnya terlalu sakit. Cukup sekali.

“Makasih ya, Pak… udah mau repotin diri buat saya dan Ica,” ucap Farah akhirnya, suaranya pelan.

vano tersenyum tipis. “Far… aku nggak pernah anggap nolong kamu itu merepotkan. Justru, aku pengen ada setiap kali kamu butuh.”

Farah menelan ludah. Hatinya bergetar, tapi logikanya segera menarik rem. “Kita… jangan bahas yang nggak-nggak, Pak. Ica bisa bangun.”

vano menghela napas. “Kamu selalu begitu. Nutup diri rapat-rapat. Sampai kapan, Far?”

Pertanyaan itu menusuk. Farah tidak menjawab, hanya menatap ke luar jendela, melihat langit sore yang mulai memerah. Di sana, matahari perlahan tenggelam, sama seperti hatinya yang ia kubur dalam-dalam.

Sesampainya di depan rumah, vano memarkir mobil.

“Terima kasih,” ujar Farah singkat sambil membangunkan Ica.

vano menatap keduanya turun dari mobil. Suatu hari,aku akan bikin kamu percaya lagi pada cinta, Farah. Entah bagaimana caranya, janji dalam hatinya.

Mobil putih itu pun pergi, meninggalkan vano yang masih menatap punggung mereka hingga menghilang di balik pintu.

Malam yang tak diduga

Malam hari

Hening yang menyelimuti rumah membuat pikirannya kembali berkelana. Ia menatap Ica yang tengah tertidur pulas disampingnya, ia menatap anak kecil yang hanya hidup olehnya tanpa figur seorang ayah di sampingnya. Dadanya sesak, namun ia tersenyum paksa.

" Bunda cukup, Ica nggak butuh yang lain…” gumamnya pada diri sendiri, seolah ingin meyakinkan hatinya yang rapuh.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Vano muncul di layar. Farah terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Halo, Pak.” suaranya pelan.

“Far, besok Mobil Kamu baru bisa di anter ke rumah. ” suara Vano terdengar serius, namun ada kelembutan yang sulit ia sembunyikan.

“Iya, Pak. Terima kasih sudah bantuin tadi.” jawab Farah, menahan suaranya agar tetap datar.

“Far, aku tahu kamu nggak suka Aku bantuin tadi. Tapi lihat kamu tadi, lihat Ica. Aku makin yakin, Aku nggak salah kalau terus ada di dekat kamu.”

Farah terdiam. Ia meremas ujung bajunya, berusaha keras menahan air mata. “Pak Vano, tolong jangan bikin saya salah paham. Saya cuma bawahan Bapak. Jangan lebih.”

Suasana hening. Hanya terdengar helaan napas berat dari seberang.

“Kalau kamu mau terus menutup diri, itu hak kamu, Far. Tapi jangan larang aku buat peduli. Karena Aku nggak mau lihat kamu terus berjuang sendirian.”

Farah langsung menutup telepon itu, dadanya berdegup kencang.

Ternyata Ica belum sepenuhnya tidur. Gadis kecil itu mendengar suara bundanya yang bergetar saat bicara. Ia menggenggam boneka kecilnya, lalu berbisik lirih, “Andai Bunda nggak sedih terus, Ica pengen ada yang jagain Bunda juga.”

Di tempat lain, Vano duduk sendiri di dalam mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ia menatap kosong ke depan. “Sampai kapan pun, Far Gue nggak akan berhenti. Kalau Gue harus ngadepin trauma Lo, gue siap. Karena Lo sama Ica, adalah alasan gue bertahan.”

Matanya berkaca-kaca, tapi senyum tipis terukir di wajahnya.

Di langit malam yang mulai dipenuhi bintang, seakan takdir sedang bersiap mempertemukan mereka dalam jalan yang lebih rumit. Antara cinta, luka lama, dan keberanian membuka hati yang telah hancur.

Ditengah Malam...

“ Bunda... ” lirih Ica dengan mata yang terpejam dan badan yang gemetar.

Farah pun bangun dari tidurnya, Ia langsung memeriksa keadaan sang anak.

“ Sayang, kok badan kamu tiba-tiba panas. ” Ucapnya dengan Khawatir sambil memegang dahi Ica.

hal ini membuat Farah panik. Sehingga ia menggendong Ica untuk dibawa ke Rumah sakit.

“ Tuhann.. Apa malam seperti ini akan ada angkutan untuk kita tumpangi. ” Keluhnya dengan wajah panik serta khawatir.

Farah memesan Taksi online, namun ga ada satupun yang mengambil. Akhirnya Farah menggendong Ica kerumah sakit, Padahal jarak ke Rumah sakit lumayan jauh.

Tin.. tin..

“ Far, mau kemana tengah malam gini? ” Tanya Vano yang tiba-tiba ada dibelakang mereka, padahal mereka baru keluar pager beberapa langkah.

“ Pak tolong, anter Saya ke Rumah sakit. Ica tiba-tiba badanya panas banget... ” Ucapnya dengan tetesan air mata.

“ Udah langsung masuk. Saya antar Rumah sakit sekarang. ” Sahutnya mempersilahkan Farah masuk kedalam mobilnya.

“ Pak makasih yaa. ” Ucap Farah sambil terus meneteskan air mata dan terus memeluk sang anak.

“ iyaa. Kamu tenang yaa, Sebentar lagi kita sampai. ” Ucap Vano dengan melihatnya dari kaca depan mobilnya.

“ Bagaimana Saya bisa tenang Pak, Saya cuman punya Ica dalam hidup Saya. Saya takut kalo ia kenapa-napa. ” Sahutnya dengan raut wajah yang sangat khawatir.

“ Iya, Saya faham. Ica pasti baik-baik aja, dan sebentar lagi kita sampai Rumah sakit. ” Ucapnya dengan suara yang lembut untuk menenangkan Farah.

Sesampainya di Rumah sakit, Ica langsung diperiksa oleh Dokter.

Farah mondar-mandir di depan Ruangan.

“ Far.. Ica pasti baik-baik aja. Sekarang kamu duduk tenang, dan doa sama Tuhan.” Ucap Vano dengan menatap Farah penuh ketulusan.

Farah pun menurutinya untuk duduk, namun jari jemarinya tak bisa diam karena begitu besar rasa khawatir dan takut.

Cetek

Farah langsung menghampiri Dokter“ Dok gimana Putri Saya? ”

“ Putri Ibu baik-baik aja. hanya saja imunnya tadi menurun. ” Jawab Dokter tersebut.

” Terimakasih Tuhaan.. ”Ucapnya dengan nafas lega.

“ Terimakasih yaa dok. ” Ucap Vano saat dokter akan melangkah pergi.

“Tuh kan Ica itu anak hebat. ” Ucap Vano dengan senyum tulusnya serta tatapan yang memenangkan.

Kini Farah sudah masuk kedalam Ruangan, lalu disusul oleh Vano yang akan pamit.

“ Far, Saya balik dulu yaa. soalnya tadi Mama Saya telpon Saya, besok Saya akan kesini lagi. ” Pamit Vano.

“ Iya Pak Terimakasih, sudah bantu Saya lagi. ” Ucapnya dengan menunduk.

Vano berjalan ke ranjang Ica.

“ Anak hebat.. cepet sehat yaaa. Besok Om akan kesini lagi dan itu pasti. ” Ucap Vano dengan ketulusannya ia mengusap rambut dengan lembut hingga mengecup kening Ica.

Kini Vano keluar Ruangan itu.

‘ Untung setiap Malam Saya selalu ada di depan Rumah Kamu Farah. Saya akan selalu pastikan Kamu dan Ica baik-baik aja. ’Monolognya sambil menyusuri lorong Rumah Sakit.

Di dalam Ruangan.

“ Ica sayang..Kamu harus tahu, Kalo kamu itu berharga buat Bunda. ” Ucap Farah sambil mengelus tangan Putrinya.

“ Bunda akan selalu memenuhi hidup kamu dengan kasih sayang, walaupun Bunda tahu kamu butuh sosok Ayah. Maaf Bunda milih jadi Bunda yang egois. ” Lanjutnya dengan air mata yang tak bisa dibendung.

Matahari kini sudah menuju tempatnya, hingga sinarnya mampu menyoroti wajah Farah yang tengah tertidur duduk sambil memegangi tangan sang Putri.

Saat ia berusaha membuka matanya, ia mendapati pemandangan yang membuat ia terenyuh.

“ Ica ada pesawat terbang... buka mulutnya” Ucap Laki-laki yang sedang menyuapi Ica.

“ Aaaa... ”

Ica membuka mulutnya sangat lebar sampai satu sendok nasi masuk kedalam mulutnya.

‘Pak Vano sangat menyayangi Ica, Sangat berbeda dengan orang itu. ’ monolog Farah dalam hatinya dan membuat ia tak sadar tersenyum sangat lebar.

“ Bunda sudah bangun.. ” Ucap Ica senang.

“ eh kamu sudah bangun. Aku ijin suapin Ica, soalnya tadi Aku lihat kamu tidur sangat pulas. Jadi Aku ga tega bangunin Kamu. ” Ucap Vano dengan senyum yang sama yaitu ketulusan.

“ Ia Pak gapapa. ” Jawabnya singkat tanpa menatap Vano.

“Sayang gimana rasanya enak ga? ” Tanya Fqrah sambil mengusap kepala Ica.

“ ga enak Bunda.. ” keluhnya dengan berbisik.

“ enakan masakan Bunda. ” Pujiannya dengan masih berbisik.

“ kenapa bisik-bisik? ” Tanya Farah dengan bisik-bisik juga.

“ takut di omelin ncus sama Doktel. ” jawabnya membuat tawa pecah diruang itu.

‘ Akhirnya Aku bisa melihat tawa lepas yang kamu simpan selama ini Farah. ’Monolog Vano dengan memperhatikan Farah yang sedang tertawa dan senyum bahagia.

Bersambung...

Rasa yang berbeda

Siang berganti sore.

Dokter akhirnya memperbolehkan Ica pulang dengan catatan harus cukup istirahat. Michelle, tanpa diminta, mengurus semua administrasi. Farah sebenarnya ingin protes, tapi lidahnya kelu ketika melihat kesungguhan pria itu.

“Pak.saya bisa urus sendiri,” ucap Farah pelan.

“Iya.. Saya tau Kamu bisa urus Sendiri, tapi Saya cuman mau bantu. ”Sahutnya sambil mengambil Debit Card di dalam dompetnya dan tanpa melihat ke arah Farah.

Farah menarik nafas lalu membuang cepat “Oke..Saya anggap ini hutang, secepatnya saya ganti. ”

“ Ga usah Farah.. Saya ikhlas kok. ”Ucap Michelle dengan senyum yang sangat tulus sambil menatap Farah.

“ Seterah. Saya anggap ini hutang. ”

Farah meninggalkan Michelle langsung berjalan keluar Rumah sakit bersama Ica yang ia gendong.

‘Farah sikap Mu ini yang membuat Aku tertarik, Yaa.. walaupun sangat melelahkan. ’Monolognya dengan tatapan serta senyum tulus yang selalu terpancar.

Michelle, Farah dan Ica, kini sudah berada di dalam Mobil yang berjalan menuju Rumah Farah.

“Om, kok Om baik sama Kita? kan Aku sama Bunda bukan siapa-siapa. ”Tanya Ica dengan polosnya membuat Farah menatap Ica dengan wajah terkejut, berbeda dengan Michelle yang tersenyum.

‘asikkk.. bisa lebih deket ama anaknya, siapa tahu bentar lagi emknyaa.. ’Monolog Michelle ia menganggap ini kesempatan yang besar.

“Kata siapa Om bukan siapa-siapa Kamu? ”Tanya Michelle dan Ica pun menggelengkan kepala.

“ Kamu itu berarti buat Om. Ica tahu ga kalo Om sayang banget sama Ica? ” Lanjutnya.

“ Tau Om, tapi kenapa Om ga jadi Papah Aku aja? katanya Om sayang sama Aku, ” Ucap Ica membuat bola mata Farah hampir keluar dan detak jantung yang berpacu lebih cepat.

“ eh ga boleh ngomong gitu Sayang, ”Sahut Farah dengan senyuman serta tatapan yang panik.

“ Kalo Ica mau, Ica bisa panggil Om dengan sebutan Papah Michelle. ” Saran Michelle dengan hati yang sangat bahagia karena sudah mendapatkan lampu ijo dari anaknya.

Ica pun excited menjawab dengan mata yang berbinar-binar “Selius Om? ”

“Belalti sekarang Aku punya Papah... ”Lanjutnya dengan bahagia hingga ia loncat sambil duduk.

“ Emang gapapa Pak anak Saya panggil Bapak dengan sebutan Papah? ”Tanya Farah dengan rasa campur aduk.

“Gapapa banget, justru Saya seneng punya Putri cantik, Pinter kayak Ica. Kalo bisa kamu panggil Saya Michelle aja, lagian ini di luar kerjaan. ”Ucap Michelle dengan wajah yang sangat BAHAGIA.

“Ga Pak, Saya ga bisa. Bapakkan atasan Saya. ”Ucapnya dengan tertunduk.

“Yaa.. Tuhan.., Far Saya kan udah bilang berkali-kali kalo diluar Kantor ga usah pake Pak. Ngapain ga enak? Kan Saya yang minta, ”Keluhnya dengan nada yang hampir menyerah.

huffhh.... Farah membuang nafas kasar “Oke, Mulai saat ini Saya akan memanggil Michelle aja ”

‘Ingat Lu cuman panggil nama aja, Dia tetap atasan Lu. Ingat juga Far, Laki-laki bajingan itu dulunya kelihatan tulus tapi kenyataannya? ’Monolog Farah yang begelut dalam dirinya.

‘Finally.. bisa dengar nama Gua di panggil tanpa embel Bapak, ’ Monolognya dengan senyum yang sangat bahagia.

Perjalanan ini sangat menyenangkan untuk Michelle dan Ica, Namun Farah terus bergelut dengan hati serta pikirannya.

Farah terus berfikir kalo ia membuka hati, itu sama aja membiarkan dirinya untuk di sakiti lagi.

‘God.. I hate this situation’Monolognya.

Malam hari yang hening...

Farah duduk di balkon kamar dengan secangkir Coffe ditangannya “Indahnya bintang dan bulan menyinari malam ini. ”

Keindahan serta keheningan malam ini tak bisa membuat hati serta pikiran-nya yang ramai.

Dengan helaan nafas“Tuhan, Saya sadar Putri kecil yang tengah tertidur itu sangat membutuhkan sosok Ayah dalam hidupnya,”

“Sangat terlihat jelas betapa bahagianya tadi, saat Michelle mengijinkan dirinya untuk di panggil Papah, ”

Farah pun mengganti posisinya dengan berdiri ke depan pagar balkon “Apakah akan baik-baik saja jika Saya memberinya kesempatan? Apakah dia berbeda dengan lelaki lainnya? atau sama saja? ”

Begitu banyak pertanyaan di kepala Farah malam ini.Farah sebenarnya ingin ada seseorang yang bisa menjadi peran Ayah dalam kehidupan Putri kecilnya, Namun rasa sakit, kecewa itu sudah menjadi trauma yang sangat besar.

Saat pikiran Farah yang sedang ramai ia tak sengaja melihat sosok laki-laki yang sedang memperhatikan dirinya sejak tadi.

“Dia? kenapa Dia selalu ada setiap malam? Apa benar cintanya tulus. ” Ucap Farah dengan sorot matanya yang menatap laki-laki itu dengan dalam, tak lama ia pun sadar dan secepat mungkin langsung masuk kedalam kamarnya.

Farah masuk kedalam Kamar dengan detak jantung yang cepat hingga ia pegang dadanya untuk merasakan detak jantung yang kencang itu.

“Bunda.. Kok Bunda belum Bobo? ” Tanya Putri kecilnya dengan sedikit mengulet.

Farah cepat hampiri sang Putri sambil mengusap rambutnya“Eh iya Sayang...nih Bunda juga mau Bobo, Kamu lanjut tidur ya. ”

Farah pun berusaha memejamkan matanya dengan jantung yang berdetak kencang, sambil sesekali ia menarik nafas dan membuangnya secara perlahan agar jantungnya bisa kembali netral.

Di luar Rumah Farah...

Michelle menatap balkon yang sudah tak ada siapapun disana“Aku yakin tadi Kamu melihat Ku Farah. ”

“Maaf jika caraku ini membuatmu risih, karena cuman dengan cara ini Aku bisa menjaga Mu.. ”Lanjutnya dengan mata yang berkaca kaca.

“Dan.. Makasih sudah memberi kebahagiaan di hari ini, yang dimana Ica kini sudah memanggil Ku dengan sebutan Papah. ”

Michelle pun masuk kedalam mobilnya untuk berbaring dengan mata yang tetap fokus pada satu titik ya itu Rumah Farah.

Keesokan harinya....

Pagi yang cerah dengan Farah yang sudah rapih untuk berangkat kantor, dan Ica di Rumah bersama Mbo sri.

Mbo sri merupakan Baby sister yang menjaga Ica dari pagi sampai Sore selam Farah kerja.

“ Mbo. Kemarin Ica sakit, jadi nanti tolong jangan telat kasih makan dan minum obat, ”

“Kenapa Non ga bilang kalo Ica sakit? kan mbo bisa kesini. Mbo bisa bantu jaga Ica, Pasti kemarin repot yaa? ”Ucap Mbo dengan khawatir.

“Nenek kalo kemalin ke sini juga ga ada olang, kan Aku kemalin malam di lu mah sakit. Untung ada Papah. ” Sahut Ica dengan polos membuat Mbo Sri shock.

“Papah? ” Ucap Mbo dengan menatap Farah meminta penjelasan.

“ Iya Nenek, Aku sekalang udah punya Papah. ” Sahutnya lagi.

“ Ica makan roti sendiri dulu yaa, Nenek mau ngomong sebentar sama Bunda. ” Ucap Mba sambil mengajak Farah menjauh dari Ica.

Mbo Sri, denga rasa penasaran melanda“Non, Siapa yang di panggil Papah itu? Apakah Michelle, Non ? ”

Farah hanya membalas dengan anggukan, semakin membuat mbo shock tidak percaya.

Bersambung....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!