Shera duduk didepan hakim dengan menatap lurus. Begitu juga dengan Daren yang saat itu menyempatkan datang ke pengadilan untuk perceraian keduanya.
"Karena dari pihak kedua yang tidak memiliki kecocokan maka dengan ini sidang perceraian di kabulkan."
Suara ketukan palu membuat keduanya menghela napas panjang.
Shera berdiri begitu juga dengan Daren, keduanya saling tatap dan Shera maju lebih dulu.
"Semoga kedepannya kita sama-sama mendapatkan kebahagiaan." ucapnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Daren menatap sekilas lalu membalas uluran tangan Shera yang sekarang menjadi mantan istrinya.
Mereka saling berjabat tangan, tidak ada dendam ataupun luka yang tertinggal, karena murni keduanya sama-sama tidak bisa melanjutkan rumah tangga yang seharunya di jaga dengan baik.
Saat itulah semua kembali seperti semula, tidak ada yang berubah, Daren selalu sibuk dengan bisnisnya, dan Shera yang saat itu memilih melanjutkan pendidikan sebagai perancang busana. Shera memilih pergi ke luar negeri selama lima tahun, dan menutup akses untuk hubungan dengan mantan suami.
Selama menikah pun keduanya seperti orang asing yang sibuk dengan dunia mereka sendiri, tidak memikirkan apapun kecuali keinginan dan cita-cita. Bahkan untuk hubungan suami istri pun mereka tidak melakukannya, karena memang awal mereka menikah hanya sebuah perjodohan yang di landasi bisnis. Baik Shera maupun Daren tidak menuntut apapun dari kedua belah pihak, namun beberapa hal yang Daren berikan lantaran sebuah isi surat gugatan. Tak mengapa, Daren memberikannya sebagai kompensasi.
**
"Shera sepetinya kamu diterima di fashion D'She." Ucap Joli yang duduk didepan laptop milik Shera.
Shera yang masih berkutat dengan kertas gambar pun menoleh, dan melihat email yang masuk.
"Astaga...apa aku tidak salah melihat." Shera beberapa kali mengecek matanya untuk memperjelas. Dan benar namanya tertera di sana.
"Aaa...Joli! Aku diterima di perusahaan besar yang sedang booming!" Shera yang kegirangan berdiri dengan melompat-lompat, sungguh tak menyangka namanya diterima di perusahaan ternama itu.
"Selamat Shera, aku yakin dengan kemampuan mu." Joli pun memberikan pelukan pada sahabatnya itu. "Tapi itu berarti kamu harus kembali ke tanah air?" Tanya Joli menatap Shera dengan wajah murung.
Shera tersenyum tipis, "Mau bagaimana lagi, aku bisa menggunakan kemampuan ku di perusahaan besar itu." ucapnya dengan nada yang sedikit sendu.
Shera tinggal bersama sahabatnya Joli, sahabat yang menemaninya selama di Prancis. Kedua orang tuanya masih di tanah air dan Shera memilih tinggal sendiri di negara Prancis.
"Kalau begitu kita harus merayakan lebih dulu, aku rasa ini adalah perpisahan kita sementara, sebelum lamaran ku di terima m" Ucap Joli dengan suara sendunya.
Shera merangkul bahu sahabatnya, "Kau tenang saja, Tidak akan lama kau akan ikut aku ke negara ku." Ucap Shera memberi semangat.
Joli sudah tidak memiliki orang tua, dia hanya memiliki bibi di sana, namun baginya kedewasaan cukup membuatnya harus mandiri dan menentukan hidup.
"Ya, setidaknya jika aku bersama mu, aku tidak akan kesepian."
Di bar tengah kota, Shera dan Joli merayakan keberhasilan Shera diterima di perusahaan D'She. perusahaan yang berkembang pesat tiga tahun terakhir, bahkan sudah mencapai manca negara dan terkenal di negara asing dunia. Perusahaan yang bergerak dibidang fashion pemecah rekor dunia dengan penjualan tercepat dan tertinggi. Oleh sebab itu banyak para desainer yang mencoba peruntungan, dengan keahlian mereka yang sudah teruji dan memiliki sertifikat asli, tak lupa beberapa penghargaan yang cukup membuat mereka percaya diri untuk menjadi bagian dari D'She.
"Viktor, akan ke sini," Bisik Joli. Di telinga Shera.
Shera menoleh, "Kau yang mengajaknya?" tanyanya dengan mata memicing.
Kepala Joli menggeleng, dia menunjukan layar ponselnya. "Dia melihat status yang ku buat." Ucap Joli dengan senyum lebar.
Shera memutar kedua bola matanya, tampak kesal namun ia biarkan saja.
Viktor adalah pria yang beberapa tahun ini dekat dengan mereka, beberapa kali juga Shera menolak ungkapan pria itu. Namun karena Viktor selalu berbuat baik, Shera dan Joli membiarkan saja. Mereka memilih berteman.
"Jangan bilang jika aku akan pulang ke tanah air, aku tidak mau dia menyusul ku."
Joli mengangguk setuju, mengacungkan jari jempol nya.
Tak lama pria yang mereka bicarakan datang. Viktor seperti biasa, dengan penampilannya yang maskulin membuat para wanita di sana tentu melirik dan menatapnya memuja. Hanya saja entah mengapa hati Shera tak bisa melihatnya.
"Hay..ladies.." Viktor tersenyum tampan, duduk diseberang kedua wanita yang membalas senyumnya.
"Tega sekali kalian tidak mengajak ku." Ucapnya sambil menyambar sebotol minuman alkohol.
"Ku pikir kau sibuk dengan para wanita mu." Ledek Joli yang di tertawakan Shera.
"Ck..kau selalu melihat ku dengan buruk Joli, sejak dulu hanya Shera yang ku anggap wanita ku." Ucapnya sambil menatap Shera dengan dalam.
Shera yang ditatap hanya mencebikkan bibirnya.
"Uhhh.. Manisnya, tapi tetap saja, lihat wanita mu ada di mana-mana." Joli melirik kearah beberapa wanita yang selalu menatap Viktor.
Viktor hanya membasahi bibirnya lalu kembali menenggak minumnya. Tidak perduli dengan tatapan lapar dan memuja para gadis. Baginya sejak bertemu dengan Shera dunianya tak lagi sama, ia menginginkan Shera.
Ketiganya menghabiskan waktu hingga larut, tidak ada yang mabuk karena memang mereka hanya ingin bersenang-senang. Shera pulang dengan Viktor yang mengantarnya setelah mendapat sedikit paksaan.
"Terima kasih Viktor." Ucap Shera yang sudah berdiri disisi mobil Viktor.
Viktor hanya tersenyum dan mengangguk, "Kalau pergi ke Bar, hubungi aku jangan pergi berdua saja. Meskipun kalian tidak melakukan apapun tapi banyak pria hidung belang yang menggunakan kesempatan." Jelas Viktor.
Kepala Shera mengangguk, "Lain kali kami akan memberi tahu mu."
Viktor yang berdiri didepan Shera mengangguk, tangannya terulur dan mengusap pucuk kepala Shera. "Istirahatlah, dan selamat malam."
Shera hanya mengangguk, tidak heran dengan perlakuan Viktor. "Kau juga, hati-hati di jalan." Setelah mengatakan itu Shera masuk ke rumah. Meninggalkan Viktor yang masih berdiri menatapnya.
***
"Daren, datanglah ke kafe xxx."
Daren menghela napas membaca pesan yang dikirim ibunya, pria itu memijit pelipisnya guna merasakan pusing dengan pengaturan ibunya yang tak kunjung berhenti.
"Tuan, nyonya besar-"
"Aku sudah tahu, biarkan saja."
Erik hanya mengangguk, dan meninggalkan bosnya kembali.
Daren masih berkutat dengan perkejaannya, sengaja ponselnya ia silent guna menghindari acara ibunya. Hingga satu jam kedepan, Daren justru di kagetan dengan kedatangan ibunya yang menatapnya tajam.
"Bu.." Daren menutup berkasnya, menatap ibunya yang tiba-tiba datang.
"Kamu lebih memilih pekerjaan mu di banding dengan ibumu."
Daren hanya menghela napas.
"Pantas saja Shera pergi dan tidak betah mempunyai suami yang menomor satukan tumpukan kertas." Ketusnya lagi dengan wajah kesal.
"Bu, itu sudah masa lalu." Daren menghela napas kesal mendengar ibunya menyebut nama mantan istrinya.
"Ya, justru kamu harus belajar dari masa lalu. Kamu semakin tua, dan kamu butuh penerus." Ucapnya lagi dengan nada masih kesal.
"Ibu tidak mau tahu, nanti malam kamu harus temui anak teman ibu." Ucapnya lagi sambil berjalan keluar, namun saat di ambang pintu wanita itu kembali bicara. "Kalau tidak mau yang lain, itu tandanya kamu mengharapkan Shera kembali."
Brak
Daren menutup mata saat pintu ruangannya ditutup sedikit kasar oleh ibunya, Daren seharunya tidak pusing memikirkan perjodohan yang terus dilakukan ibunya, karena dirinya memang tak menginginkannya. Namun saat mendengar nama Shera disebut, Daren tidak mungkin lupa dengan wanita itu, wanita yang tinggal satu atap degannya selama dua tahun, namun sama sekali tak pernah terlibat obrolan yang cukup lama.
"Apa mungkin aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan." Gumamnya pada diri sendiri.
Daren pun memilih berkutat dengan pekerjanya lagi, seperti biasa dia akan tenggelam bersama kertas-kertas itu dan melupakan janji yang ibunya buat, jika tidak asisten Erik yang mengingatkan.
"Kau saja yang pergi." Daren menatap asistennya sambil bersandar di kursinya.
"Saya tidak sedang mencari jodoh Tuan, lagi pula saya punya kekasih." Ucap asisten Erik dengan santai.
Daren menatap asistennya memicing, namun ucapkan Erik setelahnya membuat Daren menghela napas pasrah.
"Meskipun anda memberikan saya bonus, tapi saya tidak ingin membuat keributan dengan kekasih saya Tuan."
Final, Daren pun tak punya pilihan lain, pria itupun meninggalkan kantornya setelah semua karyawan pulang.
Di restoran xxx, Daren mencari seseorang yang ibunya janjikan, hingga arah matanya menangkap sosok wanita yang duduk sendiri diujung.
Daren berjalan mendekati, tatapannya yang datar dan wajahnya yang terlihat tegas. Tak membuat beberapa wanita berpaling dari wajah datar dan tatapan dingin Daren.
"Sonia!"
Wanita yang merasa namanya di panggil mendongak, dan terpaku melihat sosok tinggi tegap yang berdiri didepannya.
"D-daren."
Kepala Daren mengangguk, pria itu mengambil duduk di depan Sonia.
Wanita yang bernama Sonia tersenyum, tangannya sibuk merapikan rambut dengan senyum merekah. Sama halnya dengan wanita kebanyakan yang Daren temui sebelumnya, bertemu dengannya sudah seperti bertemu dengan idola, mereka sibuk dengan penampilan.
"Ternyata kamu lebih tampan dari foto yang di tunjukan Tante Rena." Ucap Sonia memuji dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Daren tak bereaksi, pria itu sibuk dengan ponselnya, tidak peduli dengan gadis cantik didepan matanya.
"Em..Kata Tante Rena kita akan dijodohkan." Ucapnya lirih diakhir kalimat, bahkan wajahnya bersemu saat mengatakan itu. Siapa yang tidak mau dijodohkan dengan sosok pria tampan, mapan dan hampir segalanya Daren milikki. Siapapun wanita yang bersamanya pasti akan sangat beruntung.
Daren mendongak dan menatap wajah gadis yang sejak tadi berbicara padanya.
"Kamu tahu kenapa aku bercerai dulu?"
Sonia terdiam sejenak, "Aku tidak akan menuntut apapun, aku tidak akan mempermasalahkan jika kamu ingin bekerja tidak kenal waktu, dan aku tidak akan menuntut anak."
Daren mengangkat sebelah alisnya, bibirnya tersenyum tipis mendengar penuturan wanita itu.
"Dan karena semua itu aku bercerai."
Deg
Bibir Sonia terkatup rapat, wajahnya mendadak kaku. Jawaban yang dia berikan justru seperti paku yang menancap di tenggorokan.
"Jadi apapun yang kamu lakukan, tidak menutup kemungkinan jika aku akan menceraikan mu."
Setelah mengatakan itu Daren berdiri dan berlalu pergi, meninggalkan Sonia dengan segala pikiranya.
**
"Pasti aku akan sangat merindukan mu." Joli memeluk Shera sebelum wanita itu pergi.
Keduanya berpelukan di bandara, hari ini Shera akan kembali.
"Tentu saja, karena hanya aku teman yang baik untuk mu." Balas Shera membuat Joli mencebikkan bibirnya.
Keduanya cukup lama saling berbicara sebelum keberangkatan pesawat Shera lepas landas.
Duduk menatap awan putih dari kaca pesawat, Shera tersenyum mengingat dirinya akan kembali setelah lima tahun meninggalkan negeri tercinta. Rasanya begitu lama, namun semua terbayar dengan apa yang dia dapatkan. Mimpinya perlahan terwujud dengan menjadi desainer, dan saat ini kemampuannya akan di pertaruhkan di perusahaan D'She. Membayangkan saja membuat Shera tersenyum senang. Tanpa dia ketahui apa yang akan dia hadapi kedepannya.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, Shera sampai di saat sore hari. Kedua orangtuanya sudah menunggunya membuat Shera tersenyum lebar dan merentangkan tangan.
"Mah..I Miss you..." Ucapnya sambil menghambur ke pelukan sang Mama.
"I Miss you to sayang..." Keduanya saling memeluk, berbagi kerinduan yang selama ini tak sampai.
Ehem...
"Papa tidak dipeluk nih..."
Shera melepaskan pelukannya dan bergantian memeluk Amar sang papa.
"Miss you pah.."
Amar membalas pelukan Shera dengan hangat, mencium pucuk kepala putrinya dengan sayang.
Sarah sampai mengusap ujung matanya yang basah, melihat putrinya kembali dengan sehat.
"Ayo pulang, Mama mu sudah memasak makanan kesukaan kamu." Ucap Amar sambil merangkul bahu sang putri.
"Ummm..aku sangat merindukan masakan Mama." Shera begitu antusias menanggapi.
Ketiganya berjalan keluar bandara, memasukkan barang Shera ke mobil. Shera menikmati udara sore yang sepetinya sangat dia rindukan.
"Ngomong-ngomong sejak kapan kamu melamar bekerja di D'She, sayang.." Tanya papa Amar yang duduk dibalik kemudi.
"Sudah lama Pah, Shera juga tidak menyangka akan diterima di perusahaan besar itu."
Papa Amar dan Sarah saling menatap, mereka seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ya, kamu termasuk beruntung. Sulit untuk bisa diterima di D'She. Perusahaan terbesar yang bonafit itu."
Shera menggunakan setuju. Perusahaan yang sedang hangat di perbincangkan berita lokal maupun internasional itu. Shera diam-diam bersyukur dan bangga.
"Kapan mulai bekerja nak?" Tanya Mama Sarah.
Pasalnya Shera melalui interview lewat online, bersama beberapa orang yang bergabung.
"Lusa Ma, jadi ada waktu untuk Shera istirahat."
Mama Sarah mengangguk.
Mobil memasuki gerbang rumah berlantai dua, Shera tersenyum sambil membuka kaca jendela mobil. Menatap bangunan lantai dua yang penuh kenangan sewaku dirinya masih kecil.
"Aku merindukan kamar ku Mah." Ucapnya dengan binar terang.
Sarah tersenyum, "Semua masih sama, dan sekarang kamu kembali."
Shera berdiri didepan cermin, mematut dirinya dengan baik. Rambut yang diikat menjuntai, kemeja biru muda dengan rok span hitam. Tak lupa senyumnya yang terlihat manis.
Penampilannya kini berubah, ya Shera akui, selama Lima tahun berada di Prancis Shera banyak memiliki perubahan.
Membuat wanita itu kini lebih percaya diri. Shera menuruni tangga dengan membawa tas dan beberapa desain yang sudah ia siapkan. Wanita itu berjalan menuju dimeja makan dimana Sarah dan Amar sudah duduk di sana.
"Pagi Ma, Pa..." Sapanya dengan senyum ceria.
"Pagi sayang, sudah siap bekerja hari ini?"
Shera mengangguk mantap, "Tentu saja, karena hari ini aku baru akan memulai."
Amar mengangguk dan tersenyum, begitu juga dengan Sarah.
"Semoga hari mu menyenangkan, bekerjalah dengan baik."
**
Shera menatap bangunan tinggi didepanya, logo D'She terpajang jelas dan begitu mendebarkan untuk Shera. Meskipun sudah beberapa kali kaluar masuk perusahaan besar, namun entah kenapa kali ini rasanya berbeda, Shera sendiri tidak tahu. Mungkin karena di sini ia akan menjadikan rumah nya untuk melebarkan kemampuannya.
Tarikan napas dalam, Shera berjalan memasuki lobi, udara dingin dan beberapa karyawan yang lalu lalang.
"Selamat pagi, saya Shera Sephira bagaian desain." Ucapnya pada resepsionis wanita.
"Selamat pagi Nona, silahkan ke lantai lima, disana sudah ada Miss Fira yang akan membantu anda."
Shera mengangguk dan tersenyum, berjalan menuju lift untuk menuju lantai lima.
Saat didepan lift beberapa orang menunggu karena lift sedang digunakan, sedangkan satunya masih dalam perbaikan. Namun mata Shera tertuju pada lift sebelah kiri, di mana lift itu kosong namun tidak ada yang memakainya.
Dengan gerakan cepat Shera menggunakan lift ujung kiri, tanpa tahu jika lift tersebut adalah lift khusus presedir.
"Wah.. siapa itu yang berani pakai lift presedir."
"Pasti anak baru, mana mungkin orang lama berani memakainya, bisa-bisa pak Erik langsung memecat." Tutur mereka yang melihat Shera masuk ke lift khusus presedir.
"Ssttt, jangan keras-keras, itu presedir dan pak Erik."
Mereka menoleh pada sumber, dan benar saja Daren bersama asistennya berjalan menuju lift khusus.
"Pasti akan langsung dipecat."
"Sepetinya sedang ada yang menggunakan lift Tuan." Erik menatap tombol lift yang masih berjalan di lantai tiga.
Daren menatap sekilas. "Siapa yang berani disini, cari tau dan bawa orangnya padaku." Kesal Daren yang harus menunggu.
Daren tidak suka dengan keterlambatan meskipun hanya sedetik, baginya waktu adalah uang, dan kedisiplinan adalah yang utama.
"Baik Tuan."
Keduanya menunggu sekitar lima menit sampai lift itu bisa digunakan, wajah Daren yang memang datar dan tak memiliki senyum terlihat menyeramkan, di tambah kekesalan diwajahnya tampak terlihat.
"Permisi.." Shera memasuki ruangan yang tadi di tunjukan, wanita itu menatap beberapa orang yang sepertinya sama seperti dirinya.
"Saya Shera Sephira." Katanya saat beberapa orang menatap kearahnya.
"Oh...hay...saya Miss Fira, silahkan bergabung."
Shera mengangguk, berjalan menuju kursi yang tersedia, tak lupa memberi salam dengan orang-orang sekitarnya.
"Miss Shera selamat bergabung di perusahaan D'She, semoga dengan bergabungnya anda akan membuatmu perusahaan ini semakin maju dan bersinar." Ucap Miss Fira dengan ramah."
"Baik, terimakasih sudah memberi kesempatan pada saya untuk bergabung di perusahaan besar ini. Semoga kita semua bisa bekerja sama untuk perusahaan ini menjadi lebih baik dan bersinar."
Didalam ruangan itu ada enam orang, kepala bagian desain Miss Fira, sedangkan lima diantara Shera.
"Untuk musim ini kita akan membuat atau merancang pakaian sesuai kebutuhan di negara asia dan Eropa, terutama negara kita sendiri. Jadi saya minta kalian desain beberapa mode sesuai kebutuhan, dan saya akan memberikan hasil kalian pada presedir untuk disetujui." Miss Fira tampak menunjukan beberapa contoh dan gambaran untuk bahan mereka. Shera tentu sangat bersemangat, jarinya menari lincah di atas kertas dengan pensilnya.
"Besok saya akan megambil hasil kalian."
Miss Fira pun meninggalkan ruangan.
**
Erik masuk keruangan Daren membawa tablet miliknya. Memberikan laporan pekerjaan yang hanya didengarkan Daren, karena pria itu sibuk dengan kertas diatas meja yang harus ia tanda tangani.
"Dan saya sudah mengambil cctv siapa orang yang menggunakan lift anda." Erik mengulurkan ponselnya sendiri, menunjukan sebuah vidio yang Daren minta.
"Sepertinya dia karyawan baru di bagian desain, saya belum pernah melihatnya Tuan." Tutur Erik.
Daren meraih ponsel Erik, menekan layar untuk melihat Vidio tersebut.
Matanya memicing, menatap dengan intens, karena jarak cctv terlihat jauh, namun Daren sepertinya masih mengenali sosok wanita itu.
Daren menggunakan kedua jarinya untuk memperbesar layar, dan benar saja dia melihat Shera mantan istrinya.
"Shera..." Gumamnya dengan pelan.
"Anda mengenalnya tuan?" Bibir Erik tak bisa diam.
"Hem... yasudah, kirimkan ke hp saya." Daren mengembalikan ponsel Erik, dan Erik melakukan apa yang di minta Daren.
"Sudah tuan, kalau begitu saya permisi."
Daren hanya berdehem, seteleh Erik keluar, Daren membuka vidio yang Erik kirim, kembali memastikan jika wanita yang berani masuk kedalam lift khusus benar-benar Shera mantan istrinya.
"Jadi dia ada di sini." Gumamnya lagi, saat menyakini jika wanita itu benar-benar Shera.
Daren megambil berkas beberapa karyawan desain yang minggu laku dia periksa, sepertinya dia tidak teliti saat memeriksa nya sehingga melewatkan satu hal, Mantan istrinya.
"Shera Sephira, Prancis fashion."
Jadi selama ini dia tinggal di Prancis?
Daren menatap bio data karyawan desain, lalu menutupnya kembali.
"Lima tahun dan kini dia muncul kembali."
Daren kembali melihat vidio Shera, ada perbedaan di sana dengan lima tahun lalu. Shera tampak berbeda.
"Ck, kenapa malah nonton vidionya." Daren berdecak, menyingkirkan ponselnya dan kembali pada pekerjaannya.
**
"Shera menurut mu ini bagaimana?"
Shera melihat desain rekanya, "Menurut ku, ini sudah lebih baik, tapi kamu harus tetap menggunakan desain penting di dalam D'She, karena dengan begitu simbol ikoniknya tidak akan hilang."
Wanita itu mengangguk, "Terima kasih ya." Ucapnya dengan senang.
Begitu juga dengan Shera, namun tidak dengan dua wanita yang duduk di sana.
"Sepetinya kamu berlebihan Rin, dia karyawan baru, belum tentu ide yang dia beri akan membuat desain mu jauh lebih baik." Vivi menatap Shera sinis.
"Paling tidak, dia tidak pelit ilmu dan mau berbagi, jadi kalian diam saja jika tidak mau berbagi." Rindu membalas Vivi ketus.
Shera hanya diam, menatap mereka yang disana, sepertinya diantara mereka ada yang tidak suka dirinya.
"Tentu saja Vivi tidak akan mau berbagi, karena ilmu itu mahal, dan pasti Presdir akan menggunakan desain Vivi yang selalu membuat beliau puas." Ucap Prita.
Rindu hanya menatap sinis, "Ya.. semoga saja kali ini presedir tidak salah pilih."
Shera yang mendengar perdebatan mereka hanya geleng kepala dan tersenyum, baginya berbagi sedikit ilmu tidak masalah, karena disini mereka bekerja untuk memajukan perusahaan yang sama.
"Nona Shera!"
Shera menoleh mendapati sosok pria yang berdiri diambang pintu.
"Ya,"
"Mari ikut saya."
Shera mengerutkan keningnya, "Anda siapa?" Tanyanya yang memang tidak tahu. Berbeda dengan empat orang di sana yang hanya berbisik melihat asisten Erik datang menemui Shera.
"Kau tidak tahu kesalahan mu, pagi tadi kau dengan lancang menggunakan lift presedir, dan membuat presedir menunggu."
Shera membulatkan matanya mendengar penuturan Vivi, berbeda dengan Vivi yang justru tersenyum menyeringai seperti sedang menertawakan kepanikan Shera.
"Mampus aku..."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!