Indonesia
NovelToon NovelToon

THE SMILING KILLER : Faces Of Mercy

BAB 1

Jakarta sore itu serasa panggangan besi. Matahari di langit butek oleh polusi seolah ingin melelehkan segalanya. Aspal pun terasa lembek di bawah sol sepatu.

Udara terasa berat dan lengket, penuh campuran aroma khas ibukota. Ada bau solar tajam dari Kopaja. Ada wangi legit martabak di wajan panas. Diselingi anyir samar dari got yang tersumbat.

Di antara gedung-gedung tua kolonial yang catnya mengelupas, kabel listrik menjuntai kusut. Seperti jaring laba-laba raksasa, menjerat kota dalam kekacauannya sendiri.

Klakson bersahutan, pedagang asongan berteriak, deru mesin tak pernah tidur. Di tengah kebisingan parau itu, sebuah anomali terselip di Tanah Abang. Gang Mawar.

Di ujung gang, tersembunyi dari jalan utama, berdiri sesuatu yang rasanya mustahil ada di sana: Yayasan Cahaya Jalan Kembali.

Bangunan itu bekas gudang tekstil yang disulap jadi tempat perlindungan. Dindingnya dicat biru muda menenangkan, walau beberapa sisi ternoda coretan kapur tangan-tangan mungil. Halamannya yang dulu beton retak, kini ditutup karpet rumput sintetis usang, dihiasi ayunan dan perosotan kayu bekas.

Di sinilah anak-anak yang dilupakan kota berkumpul. Sepatu mereka mungkin bolong, kaus mereka mungkin compang-camping, tapi di halaman ini tawa mereka terdengar lepas dan nyata.

Dan di tengah riuh tawa itu, duduk di bangku kayu lapuk, seorang pria lima puluh delapan tahun sedang melakukan tindakan yang khusyuk.

Lukas Santoso.

Tubuhnya masih menyisakan jejak kehidupan lama. Bahu lebar dan kokoh, lengan tebal berurat, dibungkus kulit gelap bertato naga yang memudar. Lengan itu, dulu, adalah lengan yang ditakuti di pasar gelap Tanah Abang.

Tangan itu juga yang pernah mencengkeram kerah orang, membenturkannya ke dinding. Semua hanya karena utang lima ratus ribu perak.

Dulu, ia Si Macan. Nama yang diucapkan berbisik, legenda jalanan yang tatapannya cukup untuk membuat nyali ciut.

Kini, tangannya yang kasar dan kapalan itu tengah sabar mengikat simpul ganda tali sepatu seorang bocah kurus berusia tujuh tahun. Ia bisa merasakan rapuhnya tulang pergelangan kaki anak itu di antara jemarinya yang besar. Sebuah kepolosan yang asing dan berharga.

Kapan terakhir kali aku menyentuh orang tanpa niat menyakiti? batinnya. Mungkin baru lima tahun ini.

"Sudah, Nak," kata Lukas, suaranya yang dalam dan berat kini lembut. Ia menepuk pelan bahu si anak. "Lain kali, kalau lari-lari, lihat jalan. Jangan lihat langit terus, nanti jatuh lagi."

Anak itu menyeringai, giginya ompong, lalu melesat kembali ke lapangan, bergabung dengan teman-temannya menendang bola dari gulungan kain perca.

Lukas menghela napas, senyum tipis yang tulus tersungging. Di sini, ia bukan Si Macan. Ia hanyalah Pak Lukas. Pria tua yang memastikan ada bubur kacang hijau hangat setiap pagi, yang mengajari mereka mengeja "i-b-u", dan yang terkadang menangis diam-diam saat mendengar cerita hidup mereka yang sudah lebih keras dari baja bahkan sebelum genap berusia sepuluh tahun.

Ia berdiri, sendi-sendi lututnya sedikit berderit, pengingat dari perkelahian lama di atas kontainer pelabuhan. Ia berjalan ke arah dapur, tempat Bu Ijah, janda muda yang ia pekerjakan untuk memasak, sedang sibuk.

"Nasi dan ayam kecapnya sudah hampir siap, Pak," kata Bu Ijah sambil tersenyum. "Anak-anak sudah lapar sepertinya."

"Terima kasih, Jah. Kau memang bisa diandalkan," balas Lukas. Saat ia hendak membantu menyiapkan piring, seorang anak perempuan kecil berlari menghampirinya, menarik-narik ujung kemejanya.

"Pak Lukas! Pak Lukas!"

"Iya, Mentari? Ada apa?"

"Tadi, waktu aku beli es di depan gang, ada orang nanya soal Bapak."

Senyum Lukas sedikit memudar. "Orang? Orang kayak apa?"

"Bapak-bapak sudah tua. Pakai sorban putih. Jenggotnya juga putih. Dia tanya, 'Ini benar tempatnya Si Macan, kan?' Aku bilang aku nggak kenal Si Macan, kenalnya Pak Lukas. Terus dia senyum, bilang dulu kenal Bapak di pasar."

Darah Lukas seolah mendingin. Pasar. Sorban putih. Dua kata itu menghantamnya, menariknya keluar dari dapur yang nyaman. Tiba-tiba, bukan lagi wangi ayam kecap yang ia cium, tapi bau keringat, kain, dan buah busuk. Panas Tanah Abang kembali membakar kulitnya.

Di pelupuk matanya, ia melihat lagi pedagang tua bersorban putih itu bersimpuh, memohon penundaan uang keamanan. Ia merasakan lagi dinginnya pipa besi di genggamannya. Ia tak ingat wajahnya, tapi ia takkan pernah lupa suara tulang bertemu logam, dan jeritan yang perlahan redup...

"Pak Lukas?" Suara Mentari menariknya kembali.

Lukas mengerjap, mengusir hantu itu. Ia memaksakan senyum. "Oh... mungkin dia salah orang, Nak. Sudah, ayo, sebentar lagi makan malam."

Anak itu mengangguk polos, lalu berlari pergi. Tapi rasa dingin itu tetap menjalar di perut Lukas. Gema dari masa lalunya, frekuensi yang ia kira sudah lama mati, kini bergetar lagi.

Malam harinya, setelah semua anak pergi, yayasan menjadi sunyi. Lukas telah mengunci gerbang utama dengan tiga gembok besar. Ia berjalan di koridor remang, diterangi satu lampu neon yang berkedip-kedip. Ritual terakhirnya: kapel.

Itu bukan kapel megah. Hanya bekas gudang di ujung lorong, dindingnya dicat putih, dengan beberapa bangku kayu dan salib sederhana. Di sini, Lukas merasa bisa berbicara dengan Tuhan tanpa perlu berteriak di antara dosa-dosaNYA.

Ia duduk di bangku depan. Dari sakunya, ia mengeluarkan rosario kayu zaitun, hadiah Pastor Antonius lima tahun lalu. Jemarinya yang kasar menelusuri setiap manik, bibirnya menggumamkan doa.

Saat itulah ponsel tuanya bergetar.

Ia mengeluarkannya, mengira itu dari Bu Ijah. Tetapi di layar, tertera pesan dari nomor tak dikenal.

Penebusanmu diterima. Datanglah ke altar malam ini untuk menerima hukuman terakhirmu.

Lukas mengerutkan kening. Membacanya ulang. Apa-apaan ini? Ia mencoba tertawa, berpikir ini lelucon kejam dari preman tua. Tapi tawa itu tidak sampai ke matanya.

Ia mengetik balasan dengan jempolnya yang besar:

Siapa ini? Gak lucu.

Ia menekan kirim. Tak ada jawaban. Ia coba menelepon; nada sibuk singkat, lalu putus. Nomor virtual. Nomor hantu.

Rasa dingin di perutnya kembali dengan kekuatan penuh. Ia berdiri, mengunci gerendel besi kapel dari dalam. Ia memeriksa jendela-jendela. Tertutup. Ia sendirian. Aman.

Ia kembali ke altar, mencoba melanjutkan doanya. Tapi kata-kata itu kini terasa hampa. Pikirannya terus kembali ke pesan itu. Hukuman terakhirmu.

Tiba-tiba, di tengah keheningan pekat, sebuah suara memecahnya.

Langkah kaki.

Terdengar dari luar, di koridor.

Tok... tok... tok...

Bukan langkah tergesa-gesa. Bukan langkah mengendap-endap. Tapi tenang, mantap, berirama. Langkah sepatu kulit mahal di atas semen retak. Suara yang sama sekali tidak pada tempatnya.

Lukas membeku. Insting lamanya berteriak. Ada yang masuk. Itu bukan langkah Bu Ijah. Terlalu berat.

"Siapa di luar?" serunya, serak.

Tidak ada jawaban. Langkah kaki itu terus mendekat. Tenang, mantap. Sialan. Langkah orang yang tidak takut ketahuan.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kapel.

Lukas menahan napas, menatap pintu kayu itu. Punggungnya merapat ke altar. Terkunci. Ia tahu pintu itu terkunci. Ia sendiri yang menggerendelnya dari dalam.

Lalu, sebuah suara yang membuat darahnya membeku.

Klik.

Mata Lukas terpaku pada pintu. Pada gerendel besi di sisi dalam.

Gerendel itu...

...perlahan bergeser terbuka.

Bergerak sendiri. Tanpa suara. Seolah didorong tangan tak terlihat.

Mustahil, batinnya.

Pintu berderit terbuka.

Cahaya remang koridor menyusup, membentuk siluet pria tinggi di ambang pintu. Ia memakai setelan jas hitam yang dijahit sempurna, rambutnya tersisir rapi ke belakang. Wajahnya tenang, nyaris seperti pendeta, tapi matanya tajam dan dingin seolah mampu menembus daging dan menatap langsung jiwa Lukas yang penuh noda.

Pria itu tersenyum. Tipis sekali. Seperti senyum dokter yang hendak menyampaikan kabar buruk dengan sopan, sopan yang membekukan.

Lukas tidak bisa bergerak. Mustahil. Tidak ada yang bisa membuka pintu itu. Di benaknya, bukan lagi takut, tapi rasa familier yang aneh dan mengerikan. Seolah, jauh di lubuk hatinya, ia tahu hari ini akan tiba.

"Siapa kau?" bisik Lukas, suaranya nyaris tidak terdengar.

Pria itu melangkah masuk, pintu di belakangnya menutup dengan sendirinya. "Hanya seorang utusan," katanya, suara rendah dan dalam, seperti lantunan doa. "Membawa pesan yang sudah lama tertunda."

Ia berhenti beberapa langkah di depan Lukas, tatapannya tak berkedip.

"Sudah siap untuk penghakimanmu, Saudara Lukas?"

BAB 2

Pukul 04.17 dini hari. Jakarta adalah binatang yang tidur dengan satu mata terbuka. Di jalan utama, deru truk sayur sesekali membelah hening. Tapi di gang-gang sempit, kota ini menahan napas. Udara dingin dan lembap. Baunya khas: anyir got, debu basah sisa gerimis, dan samar-samar wangi roti dari toko yang mulai memanaskan oven.

Di dalam mobil patroli yang melaju pelan di Tanah Abang, Ipda Adit menahan kuap untuk ketiga kalinya. Kantuk menekan kelopak matanya. Di sebelahnya, Bripka Roni, seniornya yang berperut buncit dan berwajah lelah, sedang mengunyah kacang rebus.

Sudah dua belas tahun Roni berpatroli di sini. Dia hafal setiap tikungan, setiap warung 24 jam, setiap preman yang sudah insaf, atau yang masih aktif.

“Jam-jam segini yang paling rawan, Dit,” gumam Roni di sela kunyahannya. “Otak orang lagi capek, lengah. Maling sama setan paling suka jam segini.”

Adit hanya mengangguk. Enam bulan lulus akademi, ia masih menyerap semua. Akademi mengajarkan hukum dan prosedur, pikir Adit. Jalanan mengajarkan naluri. Dan naluri Roni setajam silet. Seniornya itu bisa mencium gelagat buruk dari jarak lima puluh meter.

Tiba-tiba, radio di dasbor berderak. Suara operator dari pusat terdengar panik, terdistorsi sinyal.

“Panggilan darurat, patroli Sektor Tanah Abang! Segera meluncur ke Yayasan Cahaya Jalan Kembali di Gang Mawar. Ada laporan anak kecil penemuan mayat. Ulangi, penemuan mayat! Mohon segera respons!”

Kelebatan kantuk Adit langsung lenyap. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Penemuan mayat. Selama ini kasusnya paling banter tawuran remaja atau copet pasar. Ini yang pertama.

Roni melempar kantong kacangnya ke luar jendela. Wajahnya mengeras. “Pegang erat-erat, Dit.”

Roni membanting setir, memutar balik mobil dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Ia menyalakan sirene dan rotator biru, menyapu ruko-ruko gelap dengan cahaya gelisah.

Gang Mawar terlalu sempit untuk mobil. Mereka memarkirnya di mulut gang dan berlari masuk. Udara di dalam gang terasa lebih pengap. Di ujung sana, di depan bangunan biru muda, seorang anak laki-laki kurus terduduk di tanah, memeluk lutut. Ia menangis tersedu-sedu. Seorang satpam ruko mencoba menenangkannya, tapi anak itu terus gemetar hebat.

“Dia yang melapor, Pak,” kata satpam itu. “Namanya Bagas. Katanya mau ambil selimut di kapel, pintunya sudah terbuka. Pas masuk, dia lihat… dia lihat Pak Lukas.”

Adit berlutut di depan Bagas. Bocah itu mungkin baru sepuluh tahun. Wajahnya kotor oleh air mata dan ingus. “Bagas, tenang ya. Kami polisi. Bisa ceritakan apa yang kamu lihat?”

Anak itu mendongak, matanya bengkak penuh teror. “Pak… Pak Lukas…” isaknya tertahan. “Di… di dalam. Dia… dia diam saja. Didoain… tapi… tapi badannya…” Ia tak sanggup melanjutkan, tangisnya pecah lagi.

Roni menepuk pundak Adit. “Sudah, jangan paksa dia. Kita periksa ke dalam. Kamu di belakangku.”

Adit mengangguk, tenggorokannya kering. Ia menarik senter, tangannya sedikit gemetar saat menyalakannya. Mereka melangkah melewati halaman bermain yang sunyi, menuju pintu kayu di ujung bangunan yang sedikit terbuka. Kapel.

Roni mendorong pintu itu pelan.

Hawa dingin aneh langsung menyambut mereka. Bau lilin padam, kayu tua, dan... sesuatu yang lain.

Sesuatu yang amis. Metalik.

Bulu kuduk Adit meremang.

Senter Roni menyapu bagian depan ruangan, lalu berhenti. “Astaga…” desisnya pelan.

Adit mengarahkan senternya ke titik yang sama. Dunianya seolah berhenti berputar.

Di sana, di tengah ruangan, di depan altar kayu sederhana, sesosok pria berlutut. Punggungnya lurus. Posisinya khusyuk, seolah tenggelam dalam doa. Kedua tangan tergenggam di depan dada, kepala menunduk ke arah salib.

Dari belakang, tampak begitu damai. Sakral.

“Pak Lukas?” panggil Adit ragu, suaranya seperti bisikan.

Tidak ada jawaban.

Dengan jantung yang berdentam di rusuknya, Adit melangkah lebih jauh, menyinari sosok itu dari samping.

Saat itulah pemandangan damai itu hancur berkeping-keping.

Ya Tuhan.

Tubuh Lukas Santoso memang dalam posisi berdoa. Tapi kemeja putihnya, dari leher sampai pinggang, basah oleh merah gelap. Ditembus ratusan luka kecil.

Luka-luka itu bukan hasil amukan. Masing-masing tampak kecil, rapi, presisi, seukuran ujung pena. Tersebar di sekujur tubuh dengan pola mengerikan. Seolah seorang ahli bedah gila telah menandainya.

Tidak ada darah menggenang. Lantai semen di bawahnya bersih secara supernatural.

Napas Adit tercekat. Asam lambung panas naik ke kerongkongannya. Mundur. Mundur. Ia mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding dingin. Prosedur. Otaknya berteriak mencari prosedur TKP, tapi yang muncul hanya bayangan ratusan luka itu. Hilang. Semua yang ia pelajari di akademi hilang, menguap di hadapan... ini. Ini bukan TKP. Ini bukan amarah atau perampokan.

Ini sebuah altar penistaan.

“Jangan sentuh apa pun, Dit!” perintah Roni, suaranya tajam, menarik Adit dari ambang panik. “Keluar. Amankan area. Pasang garis polisi. Panggil tim identifikasi dan Kasat Reskrim. Cepat!”

Adit mengangguk kaku, kakinya seperti jeli saat berbalik dan setengah berlari keluar. Di luar, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir bau kematian dari hidungnya.

Sementara Roni berbicara di radio dengan suara mendesak, Adit memaksa diri melihat ke dalam lagi. Mencoba memprosesnya sebagai polisi, bukan manusia yang ketakutan.

Matanya menangkap detail lain. Di sebelah kanan altar, ada bak baptis tua. Di atasnya, tergantung cermin persegi panjang.

Permukaan cermin itu telah menjadi kanvas.

Dengan goresan darah yang pekat dan hampir menghitam, sebuah kalimat tertulis dengan kaligrafi yang mengerikan begitu rapi dan terkendali.

"SEBAB UPAH DOSA IALAH MAUT..."

Di bawah kutipan Kitab Roma itu, sebuah simbol: lengkungan tipis. Jejak senyuman yang digoreskan dengan ujung jari.

Adit menelan ludah. Ini bukan pembunuhan. Ini ritual. Pelakunya bukan hanya membunuh Lukas, ia menghakiminya. Suasananya begitu dingin, metodis. Tak ada kursi terbalik, tak ada jejak perlawanan. Seolah Lukas berlutut di sana, menerima setiap tusukan tanpa suara. Seolah menjalani penebusan dosa.

Siapa pun pelakunya, ia bukan pembunuh biasa. Ia seorang profesional. Seorang hantu.

Tiga puluh menit kemudian, gang sempit itu ramai. Garis polisi kuning terbentang. Tim INAFIS dengan rompi mereka mulai berdatangan. Beberapa wartawan kriminal juga muncul.

Adit berdiri di dekat garis polisi, memberikan keterangan singkat kepada kepala unitnya. Ia sudah menceritakan apa yang ia lihat tiga kali, tapi rasa mual itu kembali setiap ia mengulanginya.

Pukul 05.03 pagi, sebuah Toyota Fortuner hitam legam berhenti di mulut gang. Tanpa sirene.

Pintu pengemudi terbuka, seorang pria paruh baya melangkah keluar.

Ajun Komisaris Polisi Daniel Tirtayasa.

Kasat Reskrim.

Adit langsung menegakkan tubuh. Pria itu tidak tinggi, tapi posturnya tegap. Kehadirannya langsung terasa. Wajahnya bergaris tegas, tatapan matanya tajam dan tenang, seolah mampu melihat menembus kekacauan di sekelilingnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang biru tua yang rapi dan celana bahan hitam. Tak ada setitik debu di sepatunya.

Semua petugas langsung memberi hormat. Daniel tidak berlari. Langkahnya terukur saat ia mendekati garis polisi. Pertanyaan pertamanya ditujukan pada Adit.

“Kamu yang pertama masuk?” tanya Daniel, suaranya tenang namun berwibawa.

“Siap, Ndan! Saya dan Bripka Roni,” jawab Adit.

Daniel mengangguk, matanya memindai Adit dari atas ke bawah. “Lihat apa kamu?”

Adit tertegun. Lihat apa? Bukan 'ceritakan', tapi 'lihat'. “Saya… saya lihat korban, Ndan. Dalam posisi berdoa. Dan... lukanya. Rapi sekali.”

“Bukan,” kata Daniel, suaranya tetap tenang namun memotong. “Lihat apa yang tidak ada di sana.”

Adit langsung berpikir keras, memutar ulang ingatan singkatnya. "...Darah, Ndan. Tidak ada darah di lantai. Bersih sekali. Dan tidak ada jejak perlawanan."

"Bagus," kata Daniel. "Itu titik awalnya. Jangan terfokus pada apa yang ada. Mulai sekarang, cari apa yang seharusnya ada tapi tidak ada. Sekarang, ceritakan semuanya dari awal. Detail."

Saat Adit mulai menceritakan kembali penemuannya, Daniel mendengarkan dengan saksama, matanya tak pernah lepas dari wajah Adit. Setelah Adit selesai, Daniel menatap ke arah kapel, yang kini dipenuhi cahaya blitz kamera forensik.

Ia menarik napas dalam-dalam. Fajar mulai mewarnai langit. Kemudian, ia mengenakan sarung tangan lateksnya, dan dengan satu anggukan singkat kepada Adit, ia melangkah melewati garis polisi.

Fajar telah tiba. Tetapi bagi Daniel Tirtayasa, pagi itu adalah awal dari perjalanan menuju inti kegelapan yang paling pekat.

BAB 3

AKP Daniel Tirtayasa melangkah melewati garis polisi, meninggalkan dunia luar yang mulai riuh oleh suara radio dan langkah-langkah sepatu bot. Saat ia memasuki ambang pintu kapel, seluruh kebisingan itu seolah terhisap ke dalam sebuah vakum. Di dalam sini, yang ada hanyalah keheningan yang berat dan sakral, sebuah keheningan yang kini telah dinodai secara brutal.

Ruangan itu sederhana, jujur dalam kemiskinannya. Bangku-bangku kayu pinus yang sudah usang berbaris rapi. Dindingnya yang dicat putih di beberapa bagian sudah menggelembung karena lembap. Di udara, tergantung aroma yang aneh dan berlapis: wangi manis dari lilin yang telah lama padam, bau apak dari kayu tua, dan di bawah semua itu, aroma lain yang langsung dikenali oleh Daniel: aroma logam yang anyir dari kehidupan yang tumpah.

Matanya tidak langsung tertuju pada pusat tragedi. Sebagai seorang detektif berpengalaman, ia telah melatih dirinya untuk membaca sebuah ruangan dari tepiannya terlebih dahulu. Ia memindai setiap sudut, setiap bayangan. Tetapi pada akhirnya, tatapannya tak terhindarkan lagi tertarik pada sosok yang berlutut di depan altar.

Ipda Adit dan Bripka Roni berdiri kaku di dekat pintu, memberikan ruang bagi komandan mereka. Daniel bisa merasakan gelombang keterkejutan yang masih memancar dari detektif mudanya itu. Ia tahu persis apa yang dirasakan Adit. Ia pernah berada di posisi itu.

Daniel berjalan maju, langkahnya pelan dan terukur, tidak ingin mengganggu apa pun. Ia berhenti beberapa meter dari tubuh Lukas Santoso. Pemandangan itu begitu kontradiktif hingga terasa sureal. Posisi tubuhnya begitu tenang, begitu pasrah dalam doa, sebuah gambaran dari iman di saat-saat terakhir. Namun, kekerasan yang menimpa tubuh itu adalah antitesis dari kedamaian; sebuah badai brutal yang tercetak di atas kanvas daging.

Dan saat itulah, pemandangan itu memicu sesuatu di dalam diri Daniel.

Gudang tua. Cakung. Dua belas tahun lalu.

Pikiran Daniel terlempar. Tiba-tiba, bukan lagi bau darah yang ia cium, melainkan bau hujan dan beton basah. Lima menit. Ia terlambat lima menit.

Di hadapannya, bukan pria berlutut, tapi tubuh kecil di lantai dingin. Pita rambut merah.

Rasa dingin dari kegagalan itu kembali menjalari tulang punggungnya. Aku percaya. Suara gadis itu, atau hanya tulisannya di jendela yang berembun? Aku tahu polisi datang.

Kepercayaan.

Kalimat itu telah menjadi cambuk sekaligus bahan bakar bagi Daniel selama bertahun-tahun. Kepercayaan dari mereka yang tak lagi bersuara. Dan kini, saat ia menatap tubuh Lukas Santoso yang berlutut, ia merasakan beban kepercayaan itu lagi. Pria ini, dalam saat-saat terakhirnya, sedang menaruh kepercayaannya pada sesuatu yang lebih besar. Dan ia telah gagal dilindungi.

Daniel mengerjapkan mata, menarik dirinya kembali dari pusaran ingatan yang kelam itu. Ia kembali ke masa kini, ke dalam kapel di Tanah Abang. Rasa sakit dari masa lalu itu tidak membuatnya lemah; sebaliknya, itu menajamkan fokusnya menjadi setajam ujung pisau bedah. Ia tidak akan gagal lagi. Tidak di kasus ini.

Ia berbalik, matanya yang tenang kini menatap Ipda Adit. Ia bisa melihat dengan jelas guncangan yang masih tersisa di mata detektif muda itu campuran antara ngeri, bingung, dan adrenalin.

“Adit,” kata Daniel, suaranya rendah dan terkendali, memotong lamunan Adit. “Aku mau kau bicara dengan anak yang menemukan korban. Namanya Bagas, kan?”

Adit mengangguk kaku. “Siap, Ndan.”

“Dapatkan kesaksian lengkapnya. Tanyakan semua yang ia lihat dan dengar, sekecil apa pun detailnya,” lanjut Daniel. “Tapi yang lebih penting dari itu, pastikan dia merasa aman. Jauhkan dia dari sini, dari para wartawan. Temani dia sampai ada psikolog dari unit PPA yang datang. Itu tugas utamamu sekarang. Mengerti?”

Perintah itu adalah sebuah ujian sekaligus sebuah belas kasihan. Adit mengerti. Komandannya tidak hanya memberinya tugas, tetapi juga memberinya alasan untuk menjauh dari pusat kengerian ini, untuk fokus pada korban yang masih hidup.

“Mengerti, Ndan. Laksanakan.”

Saat Adit bergegas keluar, Daniel beralih ke tim INAFIS yang telah menunggu dengan sabar di ambang pintu. “Sisir ruangan ini dalam pola grid, mulai dari pintu masuk. Aku mau setiap helai serat, setiap jejak potensial didokumentasikan sebelum ada yang melangkah lebih jauh. Jangan sentuh cermin itu sampai aku beri aba-aba. Aku mau foto dari setiap sudut.”

Perintahnya yang tenang dan jelas membawa sebuah tatanan pada kekacauan itu. Tim mulai bergerak dengan efisiensi yang senyap, seperti kru panggung yang sedang mempersiapkan sebuah drama yang kelam.

Dengan timnya yang sudah bekerja, Daniel akhirnya memberikan dirinya waktu untuk benar-benar “membaca” adegan utama. Ia tidak mendekat. Sebaliknya, ia berlutut di tempatnya berdiri, menurunkan level pandangannya agar setara dengan posisi kepala Lukas. Ia mencoba melihat apa yang dilihat oleh sang korban di saat-saat terakhirnya.

Di depannya, lurus di atas altar, tergantung sebuah salib kayu sederhana. Itulah pemandangan terakhir Lukas. Sebuah simbol harapan.

Ini bukan amarah, pikir Daniel dalam hati. Amarah itu berantakan, impulsif, meninggalkan jejak kekacauan. Ini berbeda. Ini… bersih. Terkendali. Hampir terasa… khidmat.

Pikiran itu membuatnya bergidik. Pelaku ini tidak membenci korbannya. Dia melakukan ini bukan karena dendam pribadi. Dia melakukan ini karena sebuah keyakinan.

Daniel berdiri dan akhirnya mendekati cermin itu. Ia membaca ayat yang ditulis dengan darah. Sebagai seorang pria yang membaca Alkitab setiap pagi, ia langsung mengenali referensinya. Roma 6:23. Tetapi ia juga tahu apa yang sengaja dihilangkan oleh si penulis. Bagian tentang karunia Tuhan dan hidup yang kekal.

Sang Hakim hanya mengutip bagian tentang penghakiman. Ia telah memelintir firman Tuhan menjadi sebuah surat vonis mati. Ini bukan lagi sekadar petunjuk; ini adalah sebuah tantangan teologis. Sebuah penistaan yang dilakukan oleh seseorang yang sangat memahami materi yang ia nistakan.

Di sinilah Daniel tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan jenis predator yang berbeda. Bukan serigala biasa yang membunuh karena lapar atau terancam. Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang menganggap dirinya lebih tinggi, lebih benar.

Ia melangkah keluar dari kapel, kembali ke udara fajar yang mulai menghangat. Kontras antara keheningan ritualistik di dalam dan kesibukan profesional di luar terasa begitu tajam. Ia tahu kasus ini akan membutuhkan lebih dari sekadar prosedur kepolisian standar.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor dari daftar kontak cepatnya.

Panggilan itu dijawab setelah dua dering, suara di seberang terdengar tenang dan sedikit serak karena baru bangun. “Samuel.”

“Sam? Daniel,” katanya pelan, sambil berjalan menjauh dari keramaian. “Maaf mengganggu pagimu.”

“Tidak masalah. Panggilan darimu di jam seperti ini biasanya berarti ada hal yang menarik,” jawab suara itu, ada sedikit nada geli yang kering.

“Aku punya sesuatu untukmu di Tanah Abang,” kata Daniel. “Bukan sekadar pembunuhan biasa. Ini sebuah teater. Sebuah khotbah.”

Hening sejenak di seberang. Daniel bisa membayangkan pikiran analitis temannya itu mulai bekerja.

“Khotbah, katamu?” Suara Samuel kini terdengar lebih tertarik. “Lanjutkan.”

“Kau harus melihatnya sendiri,” kata Daniel. “Aku butuh kau di sini, Sam. Bukan hanya matamu sebagai ahli forensik. Kali ini, aku benar-benar butuh pikiranmu.”

“Aku segera ke sana.”

Panggilan itu berakhir. Daniel memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia menatap kembali ke arah kapel. Ia baru saja mengundang pikiran yang paling logis dan paling ilmiah yang ia kenal ke dalam sebuah kasus yang terasa begitu spiritual dan bengis. Ia butuh logika Samuel untuk membedah kekacauan ritual ini. Ia butuh sains untuk melawan iman sesat.

Untuk saat ini, ia tidak punya pilihan lain. Ia tahu ia tidak bisa menghadapi serigala jenis ini sendirian.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!