"Sayang, bagaimana jika kita liburan ke luar negeri untuk merayakan anniversary pernikahan yang kesepuluh," ajak Kania yang sudah merencanakan liburannya.
"Yang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, sudah lama aku tahan." Amer meminta istri tercintanya duduk di sampingnya.
"Kenapa sayang?"
"Maafkan aku, apapun yang terjadi aku tetap mencintai kamu, kamu wanita terbaik dalam hidupku."
Senyuman Kania terlihat, dia tahu Amer sangat mencintainya, sepuluh tahun belum memiliki momongan tidak mengurangi perasaan cinta mereka.
"Aku sudah menikah lagi Nia, sekarang aku punya dua anak," ucapnya.
Tawa Kania terdengar, suaminya begitu lucu. Memiliki anak dari mana sedangkan mereka belum dikarunia.
"Sayang, candaan kamu ngak lucu, aku pesan tiket sekarang, boleh?" tanyanya sambil tertawa.
Kedua tangan Nia digenggam, Amer mencoba menyakinkan jika dirinya tidak bercanda.
Lima tahun yang lalu Amer menikah lagi tanpa sepengetahuan Nia. Rasanya Amer lelah terus berbohong soal pernikahannya.
Air mata Amer menetes, dia tahu salah, tapi tidak punya pilihan, Amer juga menginginkan anak. Tidak peduli Nia tidak bisa memberikan keturunan paling penting mereka saling mencintai.
Anak Amer juga anak Nia, meskipun cinta Amer terbagi. Perasaannya kepada Nia tidak akan pernah berubah.
"Sayang, aku melakukan ini bukan karena tidak cinta, kita berdua butuh anak. Kamu tidak perlu memikirkan anak lagi, tidak perlu mendengar cemoohan orang, kita punya anak." Tangan Amer menyentuh wajah istrinya lembut.
"Kamu serius sudah menikah lagi, siapa, sejak kapan?" mulut terasa pahit, Nia tidak bisa menangis lagi mendengar ucapan suaminya di hari anniversary pernikahan mereka.
Rasanya mimpi buruk, Nia tidak mampu mencerna dengan baik, bertanya saja sampai binggung ingin bertanya apa.
"Lima tahun yang lalu, aku menikah dengan sekretaris ku, memiliki dua anak, pertama perempuan usianya empat tahun, dan yang kedua berusia dua tahun."
Senyuman Nia terlihat, kepalanya mengangguk. Suaminya sudah jujur saja begitu luar biasa. Hanya saja sakitnya tidak bisa diutarakan.
"Kenapa kamu mengatakannya?"
"Capek terus berbohong, aku ingin kamu tahu, dan kita tetap baik-baik saja. Nia, aku tahu kamu akan mengerti," ucapnya memohon agar Nia memahami perasaan sama seperti Amer yang memahami kekurangan Nia.
"Aku terluka Amer," ungkapnya.
"Maaf sayang, aku sudah menyakiti kamu, tapi mengerti sekali ini saja. Kamu pasti senang melihat kedua anak kita, dia juga milikmu." Amer mengambil ponselnya menunjukkan foto kedua anaknya.
Senyuman Nia terlihat kembali, dia memahami dan sangat mengerti. Tidak ada lelaki yang bertahan dengan pernikahan tanpa anak.
Dirinya yang bodoh dan tidak beruntung, marah, menangis, mengusir, atau melakukan kekerasan tidak akan mengubah apapun.
Suaminya sudah mendua selama lima tahun, Nia tidak tahu apapun. Dia pikir suaminya lelaki hebat yang menerima kekurangan, ternyata salah.
"Kita pesan tiket untuk liburan," ajak Amer yang ingin menghibur Nia.
"Tidak perlu, aku tidak ingin merayakannya seperti dulu," tolaknya sambil tersenyum.
"Aku turuti apapun mau kamu, asalkan tidak pisah. Aku tidak bisa tanpa kamu Nia. Aku mencintai kalian berdua," ucap Amer menambah rasa sakit hati Nia.
"Cinta hanya untuk satu orang, kamu harus kembali kepada wanita itu, dan anak kalian. Tinggalkan saja aku, itu lebih baik untuk kita berdua." Kepala Nia tertunduk, matanya panas, namun air mata terasa kering.
Kepala Amer menggeleng, sampai kapanpun dia tidak akan menceraikan Nia. Dia sangat mencintai istrinya, makanya Amer berbohong selama ini.
Pintu kamar dibanting, Nia pindah ke kamar tamu, dia duduk di pojokkan kamar sambil memeluk kedua lututnya, tawa kecil Nia terdengar masih tidak percaya.
"Apa ini nasibku, kenapa harus aku yang menjadi pilihanmu ya Tuhan, mengapa perjalanan hidupku sesakit ini." Mata Nia berkaca-kaca, cepat diusapnya.
"Tidak apa Nia, ini ujian. Ada yang diuji dengan sakit, anak, materi, kamu tahu itu. Tidak apa, kamu bisa menghadapinya." Mata Nia terpejam hingga tertidur dalam rasa sakitnya.
Berapa kali Amer mengetuk pintu, dia terduduk di depan pintu berlinang air mata. Rasa cintanya kepada Nia sungguh luar biasa, terlalu takut kehilangan dia rela menyembunyikan selama lima tahun.
"Maafkan aku Nia, ampuni aku ya Tuhan. Demi apapun pun aku begitu mencintai istriku, tapi aku juga butuh anak." Amer mengusap air matanya takut sekali kehilangan Nia.
Panggilan masuk, Amer menatap ponselnya. Dia menjawab panggilan Lita istri keduanya yang dinikahi secara diam-diam.
"Sayang, kamu ke sini cepat. Dwi sakit, panasnya tinggi sekali, aku bingung harus melakukan apa," ucapnya.
"Mengurus anak saja kamu tidak bisa, kenapa tidak ke rumah sakit sedari tadi?"
"Dwi kangen kamu, makanya sering-sering jenguk anak jangan hanya mementingkan wanita mandul itu." Lita menatap ponselnya yang dimatikan secara sepihak.
Ponsel dilempar, kepala Lita pusing melihat kedua anaknya yang masih kecil begitu berisik.
"Mama, aku lapar." Dea memegang perutnya.
"Nanti Dea, Mama lagi pusing memikirkan adik kamu yang demam tinggi." Lita menggendong anaknya yang sedari tadi tidak berhenti menangis.
Lita mencoba menghubungi Amer kembali, tapi tidak ada jawaban. Kebiasaan, tiap bulan liburan ke luar negeri bersama Nia, tapi tidak pernah ada waktu bersama anak-anak.
Amer hanya menatap ponselnya, dia tidak tega meninggalkan Nia sendiri. Hati istrinya sedang hancur, tapi Amer tidak bisa menutupi lagi.
Membujuk Nia tidak membuahkan hasil, sedangkan Lita terus menghubunginya.
"Sayang, aku pergi dulu soalnya Dwi sakit," ucapnya bergegas pergi.
Nia tertidur begitu lama, saat bangun tubuhnya terasa sakit karena duduk dipojokkan. Rasanya seperti mimpi buruk saat suaminya mengakui perselingkuhannya.
Saat ini kamar terasa sunyi, biasanya terisi tawa pasangan suami istri yang masih romantis sekalipun sudah lama menikah.
"Kini kamu menghancurkan rumah tangga kita, Amer. Aku memang tidak sempurna, tapi bukan berarti kamu bisa mendua." Nia tidak menemukan apapun soal perselingkuhan suaminya.
Lima tahun begitu lama, seharusnya Amer jujur sejak lama jika dia menginginkan anak mungkin Nia juga akan mengusahakan dengan banyak program, tapi Amer tidak mengizinkannya.
"Tidak mengizinkan bayi tabung, tidak boleh melakukan program apapun mengajak untuk sabar menunggu, pernikahan bukan soal anak, semuanya bohong." Kepala Nia menggeleng, dia mengguyur tubuhnya dengan air.
Sedari malam tidak ada air mata, hatinya sakit sekali. Terlalu bangga kepada suami, ternyata lima tahun mendua dan punya kebahagiaan lain.
"Kalian pikir aku akan hancur sendiri, tidak Amer. Mari kita hancur bersama, dan mari kita lihat siapa yang akan menderita." Mata Nia berkaca-kaca.
Selama sepuluh tahun rela menjadi istri yang patuh, bahkan mengesampingkan segalanya. Berusaha mengimbangi suami yang didampingi sejak susah, sampai akhirnya lupa diri.
"Aku bukan Kania yang kamu kenal lagi, tapi inilah aku yang sebenarnya. Hatiku hancur, rumah tangga juga hancur." Tawa Kania terdengar, dia mentertawakan dirinya sendiri.
Sungguh memalukan, membanggakan lelaki yang punya selingkuhan. Sungguh luar biasa.
***
Nia terburu-buru ingin pergi ke rumah sakit, ada jadwal pemeriksaan beberapa pasien. Dia hampir saja terlambat karena terlalu banyak pikiran.
Senyuman Nia terlihat saat memasuki rumah sakit, beberapa dokter, suster, perawat menyapanya.
"Pagi Dok," sapa salah satu dokter.
"Pagi, bagaimana dengan jadwal pemeriksaan hari ini?"
"Sudah banyak yang menunggu, mereka datang lebih cepat dari jam buka." Dokter pendamping mengikuti Nia yang langsung masuk ke dalam ruangannya.
Perawat dan dokter magang sudah berdiri menunggu, menjelaskan berapa orang yang akan melakukan pemeriksaan jantung.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh Dok," balas yang lainnya.
"Apa kalian siap dimadu?" tanyanya sambil tertawa kecil.
"Tidak Dok, harga diri juga harga mati."
Kepala Kania mengangguk, dia juga tidak ingin di madu. Rasa cintanya sangat besar, tapi bertahan juga merusak mentalnya.
Tetapi, membiarkan Amer bahagia diatas penderitaan serasa tidak adil.
"Kita mulai pemeriksaan," ucap Dokter Kania.
Pintu diketuk, seorang wanita masuk membawa anak lelakinya yang berusia dua tahunan. Dokter anak menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke Dokter ahli jantung.
"Kita periksa dulu Bu," ucap Kania lembut.
Beberapa waktu melakukan pemeriksaan ketukan pintu terdengar kembali, perawat membuka pintu mengizinkan masuk setelah tau pria ayah dari anak yang sedang diperiksa.
"Lama sekali Pa, sepertinya Dwi terkena sakit serius," ucapnya pelan merasa khawatir.
"Jangan berpikir aneh-aneh," tegurnya.
Dokter Kania menoleh, bagaikan tersambar petir di pagi hari. Amar terkejut, dia sudah berusaha agar tidak bertemu Kania di rumah sakit, tapi dirinya malah masuk ke ruangan periksa istrinya.
"Bagaimana Dok?" tanya Lita penasaran.
"Ada kebocoran di jantungnya, secepat mungkin lakukan operasi." Dokter Nia menunjukkan laptopnya menjelaskan dengan detail, keputusan ada di tangan pasien dan keluarga.
"Tidak ada solusi lain Dok?"
"Saran saya hanya ini Bu, jika tidak coba ke rumah sakit lebih besar lagi. Saya bisa bantu membuat surat rujukan," ucap Dokter Nia yang masih santai.
Perawat menarik tangan asisten dokter yang langsung menoleh, perhatian keduanya ada di foto yang tertera di atas meja kerja.
"Sayang, jangan diam saja cobalah bicara agar kita dapat solusinya."
"Aku tunggu di luar," ucapnya sambil membawa anak nya yang masih sakit.
Senyuman Nia nampak, dia penuh kesabaran menjelaskan kepada orang tua pasien seperti biasanya.
"Terima kasih Dok, nanti saya datang lagi," pamitnya.
Pintu tertutup rapat, Nia masih melihat ke arah pintu. Hatinya hancur sekali, sakitnya luar biasa dashyatnya. Sampai kapanpun Nia tidak akan memaafkan perselingkuhan.
"Kalian berdua bisa keluar sebentar," pintanya.
Perawat dan asisten dokter bergegas keluar, mereka sudah tahu jika pria yang datang ternyata suami dokter Kania.
Foto pernikahan diambil, senyuman Nia terlihat mengusap lembut foto. Tidak disangka semuanya akan berakhir seperti ini.
"Tuhan, begitu baiknya engkau padaku sampai sakitnya luar biasa sekali." Nia membuka foto sampai dirobek-robek.
Pernikahan bahagia impian banyak wanita akhirnya hancur, ekonomi cukup, saling mencintai, pekerjaan bagus, kehidupan Kania tidak ada yang gagal, tapi dirinya tidak bisa menjadi ibu.
Panggilan masuk, Nia langsung mematikan panggilan dari suaminya. Tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.
"Sayang, nanti kita bicara di rumah," pesan dari Amer masuk.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan Amer, keputusan kamu sudah benar untuk jujur. Aku yang tidak sempurna, maka nikmatilah sesaat kebahagiaan itu." Cincin nikah dilepaskan, Nia memberikan senyuman manis untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pernikahannya.
Ketukan pintu terdengar, tangisan anak kecil menggema. Nia langsung membuka pintu, nampak anak manis dan lucu sedang duduk menangis.
"Tidak mau disuntik," tolaknya.
"Emh, ternyata kamu kabur. Dasar nakal." Nia menggendong si kecil membawanya ke Dokter anak.
Tawa beberapa dokter terdengar, anak yang kabur berhasil Nia amankan. Perawat langsung mengambilnya, tapi pelukannya erat di leher Nia.
"Tidak mau disuntik," tolaknya.
Satu tangan Nia terulur, Dokter anak langsung memberikan suntikan. Nia tersenyum manis mengusap bokong lembut.
"Katanya mau sembuh, maka tahan sakitnya." Suntikan masuk.
Tangisan terdengar, Nia memeluk erat mencoba menenangkan. Mengusap punggung berkali-kali agar lebih tenang. Setelah memberikan kepada perawat.
"Nanti aku laporin Papa, nakal." Tangan terlipat didada memarahi Nia yang mengembalikan ke ruangan dokter anak.
"Anak manis, harus rajin jaga diri." Hidung kecil disentuh.
Nia berjalan keluar, dia melihat Amer yang nampak mencarinya.
"Kania, nanti kita bicara di rumah, aku tidak ingin kehilangan kamu." Amer nampak ngos-ngosan karena panik.
Beberapa orang memperhatikan, nampak kasihan melihat Amer yang kewalahan dan wajahnya binggung.
"Lima tahun yang lalu kamu sudah melepaskan aku, kurang bahagia, bukannya kebahagiaan ada di anak." Senyuman Nia nampak melangkah pergi meninggalkan suaminya.
Pergelangan tangan Nia dipegang, cepat ditepis. Nia berpapasan dengan seorang pemuda, langkahnya terhenti melihat Nia yang berjalan cepat.
"Ternyata kamu Kania, aku Derlita." Tangan terulur mengajak berkenalan.
Tangan Lita dijabat, Nia menatap dua anak yang berdiri disampingnya.
"Kamu tahu siapa aku, bagaimanapun kami sudah menikah," ucapnya.
"Selamat, kamu berhasil memberikan anak kepada suamiku, dan semoga anak kalian cepat sembuh." Nia mengucapkan penuh ketulusan.
"Nia, anak kamu juga." Amer mengenggam erat tangannya.
Mata Lita melotot, dia tidak mengerti mengapa Amer mengatakan anak Nia juga. Dirinya yang mengandung dan melahirkan, kenapa bisa berbagi anak.
"Maksudnya apa, aku tidak ingin berbagi anak dengan wanita mandul ini," bentaknya.
mata Amer melotot, tangannya sampai tergempal. Tidak ada yang boleh menghina Nia.
"Jaga ucapanmu!" serunya sambil menunjuk.
Nia sudah berjalan jauh, dia sedikit senang melihat keributan.
Suara Amer memanggil tidak digubris, Nia kembali ke ruangannya karena banyak pasien menunggu.
"Dok," panggil seorang perawat.
"Pura-pura tidak tahu saja, kita selesaikan pemeriksaan hari ini."
"Dokter Nia, ada seseorang yang ingin menuntut." Senyuman lebar Dokter magang terlihat.
Jari telunjuk anak kecil ke arah Nia, tawa seorang pria terdengar melihat anaknya melaporkan seseorang.
"Papa, dia yang nakal."
"Ssshhh, tidak boleh begitu."
Mata Nia tajam, dia melaporkan balik si kecil yang kabur dari perawat, tidak ingin diobati sampai menangis dan mengamuk.
"Kalau sakit harus diobati, tidak boleh kabur."
"Enggak, Alia hanya nyasar."
"Hey, anak kecil sudah pintar bohong, tidak baik. Itu dosa," tegur Nia.
Senyuman Elber terlihat, dia meminta maaf karena putrinya memang sangat bawel.
Sudah satu tahun bolak-balik rumah sakit karena harus melakukan pengobatan.
Alia merasakan bosan harus suntik, obat dan infus. Dia sering kabur tiap kali jadwal berobat.
"Hmmm, minta maaf dulu." Nia mengulurkan tangannya.
"Dokter juga harus minta maaf sama Alia," pintanya.
Nia berjongkok, memegang kepala Alia. Meminta maaf dan mendoakan Alia cepat sembuh.
"Terima kasih Alea," ucap Elber.
"Bagaimana kamu bisa tahu nama itu?"
Elber mengandeng tangan putrinya melangkah keluar meninggalkan ruangan pemeriksaan.
***
Follow Ig vhiaazaira
***
Pintu kamar terbuka, Nia menarik napas saat kamar yang biasanya dipenuhi gelak tawa, kini serasa hampa.
"Sayang," sapa Amer yang mengejutkan Nia.
Satu piring nasi goreng ayam sudah selesai dimasak, Amer sudah biasa menyiapkan makan malam untuk istrinya saat pulang kerja terlambat.
"Ayo makan dulu, kamu butuh nutrisi." Senyumannya lebar.
Tanpa jawaban, Nia menutup pintu kamar. Dia pilih menyegarkan tubuhnya.
Ketukan terdengar berkali-kali, Nia sudah muak dengan suaminya yang penuh kepalsuan.
"Sayangku, ayo makan."
Tubuh Nia serasa segar, lelah seharian menangani pasien terobati setelah merasakan air hangat.
Senyuman Amer terlihat menatap istrinya yang sangat cantik, apalagi tubuh Kania seksi tidak berubah sejak pertama kenal.
Sikap dingin Nia membuat senyuman lebar Amer memudar, dia tidak mendapatkan balasan seperti biasanya.
Ke mana wanita yang diluar nya tangguh, di dalam rumah begitu manja.
"Kania, kamu masih istriku, kenapa tidak salam, memeluk dan bermanja seperti biasanya?" Amer mengejar Nia yang sudah berjalan ke dapur.
Makanan yang sudah disiapkan tidak dilirik sedikitpun, Nia sibuk membuat makan malam untuknya.
"Kania, aku sedang bicara." Lengan dicengkeram cukup kuat.
"Sakit," balasnya.
Cengkraman dilepas, Amer menarik napas panjang. Dia tahu Nia marah, tapi tidak dengan mengabaikannya.
"Kamu tidak menghargai aku yang sudah menyiapkan makan malam?" tanyanya.
"Aku tidak minta." Nia meletakkan makanan yang dimasak dalam piring.
Piring yang berisikan nasi dan telur goreng dibanting, semuanya berhamburan di lantai.
"Makan, apa yang sudah aku siapkan," pintanya.
Piring yang berisikan nasi goreng ayam juga dilempar. Semuanya berhamburan di lantai.
Tatapan Amer tajam, ini pertama kalinya melihat Nia yang bersikap keras.
"Kamu kenapa begini Nia, ini bukan Nia yang aku kenal," bentaknya.
"Inilah aslinya." Senyuman sinis terlihat.
Tidak memperdulikan kemarahan Amer, Nia mengambil ponselnya memesan makan dari luar.
"Kania, kita harus bicara." Panggilan masuk.
Nia menatap suaminya yang mencoba mengabaikan panggilan, tapi wanita yang disebut istri kedua terus mengusiknya.
"Papa, Dea sakit perut." Suara anak kecil terdengar.
Amer mengusap wajahnya, dia meminta Nia menunggu dirinya sebentar.
"Wanita itu mulai menggunakan anak-anaknya. Aku tidak butuh suami lagi, tapi aku juga tidak bisa membiarkan kamu menang." Nia tersenyum manis.
Membicarakan sakit, tidak bisa diutarakan lagi dengan rasa, sungguh hancur.
Mobil melaju kencang meninggalkan rumah mewahnya, Amer bergegas ke apartemen yang Amer sewakan untuk Lita.
"Kenapa sakit terus." Jarak yang tidak terlalu jauh memudahkan sampai di apartemen.
Lita sudah menunggu di depan pintu, dia membiarkan Dwi menangis kencang memegang perutnya dan Dea juga menangis karena belum makan.
"Apa yang kamu lakukan, tidak becus jadi ibu," bentaknya.
Senyuman Lita terlihat, dia hanya butuh suaminya berperan sebagai ayah. Mengurus anak bersama bukan wanita mandul.
"Kenapa tidak masak?"
"Aku capek masak," balasnya.
"Beli, setidaknya beli."
"Berarti tambah uang belanja aku," pintanya.
Dea memeluk papanya yang sudah menyiapkan telur goreng. Menyuap makan, Dwi juga baru selesai minum obat.
"Apa mau kamu Lita, aku bisa buang kamu," ancam Amer.
"Aku lelah menjadi ibu. Dulu aku wanita karir, dan hidup mewah. Bisa pergi kemanapun yang aku inginkan, tapi sekarang beda," ucapnya.
Kali ini Lita tidak ingin menjadi wanita simpanan, dia ingin diakui dan keberadaannya diketahui banyak orang.
Kepala Amer tambah pusing, dia harus menghadapi Nia yang sedang marah dan merajuk, sekarang Lita juga mulai bertingkah.
"Aku siapkan satu baby sitter, dan aku tambah uang belanja," ucapnya.
"Aku ingin pembagian lebih besar dari Nia," pintanya.
Tatapan Amer tajam, dia tidak bisa karena Kania yang memegang keuangan dan mengatur segalanya.
"Setengah-setengah," tawarnya lagi.
Amer mengangguk, dia akan bicara dengan Nia cara mengatur keuangan agar mereka semua kebutuhan tercukupi.
"Bukannya istrimu itu bekerja, dia juga tidak punya tanggungan, tidak butuh banyak uang."
Ocehan Lita diabaikan, Amer fokus mengurus anaknya yang sedang sakit.
Di depan rumah seseorang berdiri sambil melipat tangan di dada.
"Sudah berapa lama apartemen milikku ditempati pelakor," gumam Nia.
Kepala Nia geleng-geleng, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Terlalu mempercayai suaminya, ternyata menyimpan wanita lain.
"Baiklah, tunggu besok ya." Nia tersenyum berjalan menuju rumahnya membawa makanan yang dibelinya karena makanan yang dipesan habis.
Tanpa sengaja Nia melihat seorang anak kecil kabur dari rumah dengan cara memanjat pagar.
"Anak itu lagi, apa dia juga tinggal disekitar sini?" Nia menghubungi keamanan agar menangani bocah nakal.
Sengaja dia mengawasi dari kejauhan sampai penjaga datang, senyuman Nia terlihat merasa lucu melihat si kecil mengamuk.
"Aku mau jajan," teriakkan terdengar.
"Anak nakal." Nia merasa hatinya sedikit terhibur.
"Mama," teriakkan Alia terdengar langsung memeluk Nia.
Wajah Nia panik, kepalanya menggeleng menyakinkan pak keamanan jika mereka tidak saling kenal.
"Pak, saya yang melaporkan, ini anak dari rumah yang disana." Nia menujuk ke arah jalan.
"Baru kali ini menangani Ibu bertengkar dengan anak," ucap penjaga yang berlalu pergi.
Kedua tangan Nia bertolak pinggang, dia tidak bohong. Buat apa dirinya yang sudah cukup tua berbohong.
"Dokter, kenapa melaporkan Alia kepada penjaga, aku ini bukan pencuri tau," omelnya.
"Masalahnya ini sudah malam, kenapa kamu keluar malam?'"
"Baru jam sembilan, Alia lapar."
"Kamu bisa meminta orang membelinya, jangan alasan. Masih kecil sudah berani keluar malam." Mulut Nia tergagap melihat Alai mengeluarkan uang yang cukup banyak.
Wajah sombong dan angkuh terlihat, sengaja Alia pamer agar tahu dirinya bukan tidak punya uang.
"Anak kecil satu ini menggemaskan," batin Nia yang tahan tawa
Tanpa rasa takut Alia berjalan ke supermarket terdekat, dia membeli cemilan yang diinginkannya.
Nia hanya mengawasi dari luar menunggu Alia selesai belanja cemilan.
"Kenapa masih disini, aku tahu jalan pulang." Alia berjalan duluan membawa kantong besar berisi makanan yang dia sukainya.
"Bagaimana tidak sakit, dia membeli Snack sebanyak itu." Kania geleng-geleng melihatnya.
Pagar rumah dipanjat kembali, jajan dilempar barulah manjat. Terlihat sangat mahir.
"Cerdas, ternyata dia sudah terbiasa melakukannya." Tangan Nia bertepuk.
Tidak berselang lama mobil mewah melintas, gerbang terbuka masuk ke dalam rumah.
"Ayahnya baru pulang." Nia bergegas ke rumahnya takut kehujanan karena langit sudah gelap.
Mobil Amer sudah dirumah, Nia menatap suaminya yang menunggu.
"Sayang, kamu dari mana, tolong bantu aku," pintanya.
Nia kaget menatap anak kecil berusia dua tahun dibawa ke rumah, wajahnya pucat dan nampak lemas.
"Bawa dia ke rumah sakit, bukan ke sini," tegasnya.
"Kamu dokternya, tolong bantu."
Kania menarik napas panjang, dia tidak punya obat-obatan, makanya harus ke rumah sakit.
Mata anak yang begitu sayu membuat hatinya tidak tega. Nia memang sakit hati kepada Lita dan Amer, tapi anak tidak salah.
***
Follow Ig vhiaazaira
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!