Kyra berjalan tergesa menuju rumahnya. Bagaimana tidak sudah jam sepuluh lewat dia baru pulang dari tempat kerja meninggalkan putranya seorang diri di sebuah kontrakan sederhana.
Setelah membuka pintu dia Kyra mendapati putranya tengah tertidur di atas karpet dengan mainan berserakan di sekitarnya.
" Mama udah pulang" tanya bocah berusia empat tahun itu. Namanya Aidan berbeda dengan anak seusianya, di usianya yang segitu dia sudah cukup mandiri ketika ditinggalkan ibunya bekerja.
" kok bangun sayang, kamu udah makan" ucap kyra menatap sendu ke arah putranya itu.
Aidan menggeleng kan kepalanya " Belum ma, Aidan nungguin mama pulang dulu biar makan bareng"
Kyra ingin rasanya menangisi nasibnya sekarang. Dia kemudian memeluk putranya itu " maafin mama ya, besok mama udah ngga pulang lama lagi. Mama udah punya pekerjaan tetap sekarang. Jadi mama akan temani Aidan belajar "
" serius ma, mama ngga pulang larut malam lagi"
" iya, tapi janji sama mama ngga boleh nakal ya"
Dengan wajah yang bersemangat Aidan menganggukan kepalanya " Aidan janji ma"
" Ya udah, kita makan sekarang ya tadi mama beliin Aidan ayam goreng"
" asikk"
Kyra menatap putranya itu yang tengah lahap memakan ayam goreng yang ia beli di pedagang kaki lima tadi. Dia selalu bersyukur karena bisa melewati masa-masa tersulitnya ketika Aidan lahir karena dia tidak memiliki siapa-siapa lagi.
lima tahun yang lalu, ketika lulus SMA dia langsung menikah dengan seseorang untuk melunaskan utang yang ditinggalkan orang tuanya yang nominalnya cukup besar.
Dia di nikahkan dengan seseorang yang belum ia tahu asal-usul nya bahkan orang tua dari pria tersebut dia tidak tahu. Namun sayang pernikahannya hanya bertahan enam bulan saja setelah itu mereka bercerai.
Tapi hal yang tak terduga terjadi Kyra mendapati dirinya tengah hamil satu bulan. Karena itu pula dia bisa bertahan sejauh ini.
" Habis ini gosok gigi, cuci kaki baru tidur ya. Mama mau beresin ini dulu."
" iya ma"
setelah membersihkan sisa makanan mereka tadi kyra menuju kamar dimana putranya tertidur lelap. Dia ikut bergabung dengan putranya itu di atas kasur tipis lalu mengusap kepala putranya itu.
" maafin mama ya sayang. Mama belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu. tapi mama janji bakal usahain yang terbaik buat kamu" ucap kyra mengecup dahi putranya itu.
******
Paginya Kyra tengah bersiap dengan pakaiannya sekarang. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan ternama di kotanya. Yahh walaupun hanya office girl tapi gaji yang di janjikan lebih dari gaji dia bekerja di tempat sebelumnya.
" Aidan, sarapan dulu sama mama, sini." ucap Kyra memanggil putranya itu.
" mama masak apa"
Kyra menoleh ke arah putranya itu yang sudah terlihat sudah mandi. " mama cuma mask tahu kecap ngga papa kan"
Aidan lantas mengangguk" ngga papa ma, kan kalo mama yang masak pasti enak"
" Bisa aja kamu. Nanti mama berangkat kerja kemungkinan mama pulangnya jam tengah enam. Kamu disini jangan kemana-mana ya, tunggu sampai mama pulang dan kalo ada orang yang ngetuk pintu kamu ngga usah bukain yaa" ucap kyra jujur saja dia sedikit khawatir meninggalkan putranya sendiri. Untuk menyewa baby sister atau menitipkan anaknya itu di penitipan anak dia belum mampu untuk membayar nya.
" iya Aidan tahu kok ma, kan mama selalu bilang itu tiap hari"
" satu lagi jangan nakal ya, jangan lupa makan siang mam udah taruh lauknya di meja "
" iya mamaku sayang"
Kyra jadi gemas sendiri melihat tingkah anaknya itu yang sangat menggemaskan di matanya. Ahh untung saja dia memutuskan merawat putranya ini. Ya dulu saat mengetahui jika dia tengah mengandung anak mantan suaminya itu dia sangat frustasi dan berniat untuk menggugurkannya.
Setalah sarapan kyra langsung berpamitan dengan putranya itu.
"mama pergi dulu ya, mama kunci pintunya. Nanti kalo ada apa-apa kamu buka aja pintunya mama udah taro kunci cadangan di laci "
" iya ma, Aidan udah hafal itu semua. Mama berangkat aja nanti telat."
" ya udah mama berangkat dulu ya" ucap Kyra yang dibalas anggukan oleh putranya itu.
Kyra mengeluarkan motornya yang dia beli bekas waktu itu. Melajukan ke sebuah perusahaan di tengah kota yang dia tempati. Setelah beberapa saat dia sampai, kyra cukup terpana melihat bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya itu.
Setelah mantap kyra langsung masuk dan menuju resepsionis.
" permisi mbak, saya pekerja baru disini yang diterima melalui test online mbak" ucap kyra kepada sang resepsionis di depannya yang ia taksir umur mereka sama tapi penampilannya jauh berbeda dengan kyra.
" maaf, di bagian ma ya" ucap perempuan itu dengan ketus.
" saya keterima di bagian office girl mbak"
"ohhh, mari ikut saya bertemu dengan pak manager "
Kyra mengikuti langkah wanita itu, sampai ke ruangan yang di depan pintu nya terdapat tulisan 'manager'
" permisi pak, ini ada pekerja baru dari bagian office girl"
Pria yang sudah berkepala empat itu menoleh " ohh silahkan masuk"
" Perkenalkan nama saya Bramawijaya panggil saja Pak bram saya manager disini"
Kyra lantas mengangguk menatap pria itu
" Nama kamu siapa, dan umur kamu berapa"
" Nama saya Kyranza, bapak bisa panggil saya kyra, usia saya sekarang baru dua puluh lima tahun pak" jelas kyra.
" apakah kamu sudah menikah" tanyanya lagi
Kyra cukup terdiam beberapa detik kemudian menjawabnya " saya janda pak"
Jawabannya itu membuat pak Bram sedikit terkejut
" Dih masih muda udah jadi janda aja " ucap resepsionis yang mengantarnya itu dengan pelan.
" oke kalo gitu ini kunci loker kamu, seragam kamu sudah ada disana dan untuk pekerjaanmu Bu Dhea yang akan memberitahu mu" ucap pak Bram sembari memberikan sebuah kunci.
Kyra langsung mengambilnya " Baik, pak terima kasih"
" ikut gue" ucap resepsionis yang bernama Dhea itu
Kyra langsung mengikuti langkah wanita itu menuju lokernya disana sudah ada pekerja lainnya yang sama dengannya.
" ehh Arya" ucap Dhea pada ob yang kebetulan tengah membersihkan lantai.
" iya buk"
" nih teman baru Lo, tunjukin mana lokernya dan jelasin apa aja yang mau dia kerjain"
" Baik Bu, mari biar saya antarin" ucap Arya pada kyra
" tuh lokermu, disana udah ada seragam yang sama kyak yang aku pake. Kamu bisa ganti di toilet sana. Itu khusus buat para ob atau og kyak kita" jelasnya sambil
menunjuk ke sudut ruangan itu.
" nanti kerjaan kamu membersihkan lantai dasar sama kyak aku setiap lantai sudah ada cleaning service nya jadi ngga usah pusing, disini kerja ya ngga terlalu capek kok"
"ohh makasih ya mas" ucap kyra lalu membuka lokernya itu
"kenalin aku Arya, nama kamu siapa"
" namaku Kyranza, panggil aja Kyara mas"
" salam kenal ya Kyara, aku masih dua lima loh mungkin kita seumuran panggil nama aja ya"
" oke deh Arya, aku ganti pakaian dulu nanti aku nyusul kamu"
"oke aku tunggu di tempat di tadi ya" ucap Arya meninggalkan kyra dan menuju ke tempat yang tadi untuk mengerjakan pekerjaannya ya g sempat tertunda.
Kyra langsung mengganti pakaiannya dengan seragam yang ia temukan di lokernya. Untung saja seragam yang di berikan kepadanya itu masih baru.
Setelah beberapa saat Alya keluar dari kamar mandi dan menyimpan pakaiannya itu loker dan menuju ke tempat Arya.
" ini bagian mana yang mau aku kerjain" tanya kyra.
"itu kamu bersihkan lobi bagian samping bisa kan, untuk alatnya kamu bisa ambil disana"
"oke" Kyra langsung mengambil beberapa alat pembersih yang mungkin ia butuh kan, lalu Muali membersihkannya.
Setelah beberapa saat Kyra dan Arya sudah membersihkan semuanya sekarang mereka sedang berada di kantin perusahaan karena sudah jam makan siang.
" ngomong-ngomong kok kamu bisa kerja disini jadi office girl, kamu cantik loh mungkin bisa dapat posisi yang lebih tinggi.
" apakah dayaku. Mana mungkin aku diterima jadi staff pegawai disini secara aku cuma lulusan SMA, lagi pula selagi pekerjaannya masih halal pasti aku lakuin"
" kyaknya kamu pekerja keras deh, keliatan dari kantung mata kamu"
" emang keliatan banget ya, jujur ya sebelum kerja disini dulu aku kerja di tiga tempat kerja sekaligus. Yaaa jadi wajarlah aku kurang tidur"
" hebat lu Ra, aku aja yang kerja disini udah tekanan batin belum lagi kamu yang udah ketemu banyak sifat orang disana"
Kyra menghembuskan nafasnya " mau gimana lagi anak aku butuh makan "
Arya seketika terkejut mendengar ucapannya kyra " hah! Jadi udah menikah"
" lebih tepatnya janda sih"
"hahahaha, yang sabar ya janda kyak kamu banyak yang ngincer kok termasuk aku" Ucup Arya dengan tawanya
kyra hanya menatap Arya saja tanpa berniat membalas ucapannya. untuk menikah lagi kyra tidak ada niatan lagi ke situ dia hanya ingin membesarkan putranya saja. Itu sudah cukup baginya.
Kyra segera pulang kerumahnya karena semua pekerjaannya sudah selesai tak lupa pula pamit dengan Arya rekan kerjanya itu. Awalnya Arya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang tapi di tolak oleh kyra selain dia membawa motor sendiri dia juga belum kenal dekat dengan Arya . Baru satu hari dia bekerja tapi dia sudah mendapatkan teman yaa walaupun ada beberapa staf yang pangkatnya lebih tinggi darinya terkadang menyebalkan.
Saat di tengah jalan kyra menghentikan motornya, dia berhenti di sebuah pedagang kaki lima yang berjualan martabak.
" mang, martabak rasa coklatnya satu ya" ucap kyra.l
" oke siap mbak"
Kyra duduk di kursi yang ada disana sambil menunggu pesanannya itu siap"
" kerja disekitar sini mbak" ucap penjual martabak itu kepada kyara.
lantas kyra langsung mengangguk " iya mang, baru hari ini kerja di perusahaan Aditama "
" wihh keren dong mbak bisa kerja disana. Setau saya ya orang-orang yang bisa kerja disana rata-rata orangnya pada pintar-pintar"
" ya iyalah mang kan itu perusahaan ternama beda lagi sama saya, saya mah di sana cuma jadi cleaning service. Jadi ngga ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka"
" jangan berkecil hati dong mbak, yang penting halal itu ngga masalah."
" ini mbak pesanannya " lanjutnya
Kyra menerima bungkusan plastik itu '' jadi berapa mang"
" lima belas ribu aja mbak ditempat mamang mah harganya murah-murah". Kyra langsung mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya itu dan memberikannya kepada mamang penjual martabak itu " makasih ya mang"
Setelah mengucapkan itu kyra langsung melanjutkan perjuangannya untuk pulang. Dia selalu berusaha untuk pulang cepat karena khawatir dengan anaknya tapi yaa namanya juga kerja sama orang jadi dia bisa apa yhanya bisa pasrah saja.
Tapi saat memasuki daerah kontrakannya kyra melihat ibu pemilik kontrakan itu tengah berdiri di depan pintu kontrakannya llmenunggunya.
Kyra langsung menyapanya setelah turun dari motornya " ibu mau minta uang kontrakan ya " ucap kyra seolah tau maksud dari tujuannya
" iya, ibu cuma mau nanya aja. Kalo kamu belum ada uang, kamu bisa kok bayarnya bulan depan. Tapi kalo ada sekarang yaa ngga papa juga" ucap Bu Lasmi pemilik kontrakan itu. Dia cukup baik dan bisa menoleransi keadaannya kyra.
Kyra langsung mengangguk dan tersenyum "Bentar ya Bu, kyra udah siapin kok uangnya" ucap Kyra sambil membuka tasnya dan mengambil beberapa uang berwarna merah dari sana.
"ini Bu, Alhamdulillah kyra baru gajian"
" kamu masih ada uangkan, kalo kamu butuh sesuatu minta aja sama ibu. Ngga usah sungkan, anak kamu juga kalo kamu kerja titip aja sama ibu kasian dia sendirian dirumah, ibu juga di rumah ngga ada siapa-siapa "
" ngga papa kok Bu, nanti malah ngerepotin ibu. Lagian Aidan juga anteng kok Bu"
" yaa jangan gitu dong, sesekali bawa kerumah pasti ibu senang nemani nya "
kyra hanya tersenyum menggapinya" iya Bu makasih banyak. Nanti lah kapan-kapan aku ajak Aidan kerumah ibu"
" ya udah kamu masuk gih, ibu mau pulang dulu kasian anak kamu. Tadi ibu liat dari kaca kyaknya dia lagi tidur deh"
" iya Bu, kyra masuk dulu ya" ucap kyra pamit kepada Bu Lasmi.
setelah membuka pintu pemandangan pertama yang ia dapat putranya tengah tertidur di depan tv yang menyala. Kyra menatap putranya itu. kadang Dia selalu sedih melihat putranya itu seolah mengingat masa lalunya yang kelam dulu. bagaimana tidak wajah anaknya sangat mirip dengan mantan suaminya itu.
Yang tidak berperasaan menceraikan begitu saja tanpa meminta pendapatnya dulu.
" mama udah pulang, kok ngga bangunin Aidan sih" ucap Aidan seolah mengetahui kedatangan sang ibunda tersayang.
" mama mana tega bangunin anak mama ini, tidurnya nyenyak banget sih. Sekarang cuci muka dulu yaa habis mama masak baru makan malam. Mama juga bawain kamu martabak rasa coklat tuh"
" emangnya mama ada uang, kalo mama ngga ada uang mama ngga perlu beli kok"
kyra mengusap kepala putranya itu " mama ada uang kok, kan mama baru gajian dari tempat kerja mama yang lama"
" ya udah sana gih cuci mukanya dulu. Tadi udah mandikan" tanya kyra yang di anggukan oleh Aidan.
*****
Disaat yang bersamaan seorang pria dengan tubuh tegapnya tengah menatap sang mama dengan jenuh. Bagaimana tidak ibunya selalu menyuruhnya untuk menikah bahkan berniat untuk menjodohkannya dengan anak temannya, yang jelas di tolak oleh pria itu.
Dia Bagaskara Aditama pria yang sudah berusia kepala tiga itu tapi sampai sekarang belum menikah juga. Bukan tanpa alasan dia menolak tawaran ibunya tapi dua memiliki alasan tersendiri.
Wanita paruh baya itu menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan penuh amarah " mau kamu tuh aja sih Bagas, mama pengen punya cucu kamu ngga kasian apa sama mama yang udah tua Mungin usia mama juga ngga bakalan lama lagi"
nah kan selalu saja ibunya itu menyangkut pautkan segala hal dengan kematian.
" mama sabar aja dulu, nanti Bagas bakalan nikah kok"
" kapan tunggu mama sakaratul maut dulu, mana udah banyak kenalin anak perempuan teman mama, tapi mana ada satupun yang buat kamu tertarik. Ohh atau jangan-jangan kamu belok ya. Astaga sudah capek aku membesarkan mu tapi kamu malah milih jalan yang sesat, gimana nanti kalo ayah kamu dengar"
" mama apa-apa sih Bagas masih normal kok, mama ada-ada aja, kurangi tuh ngomel-ngomel nya nanti cepat tua" ucap Bagas lalu bangkit dari tempat duduknya menuju mobilnya.
" mau kemana kamu, mama belum selesai ngomong"
" pulang mah, kalo mama mau ngomong nih Revan udah pulang"
Orang yang disebutkan namanya menoleh ke sang kakak yang baru keluar dia juga baru pulang kerja " kenapa sama aku" tanya nya
" temanin mama tuh, mama mau curhat sama kamu. Mungkin efek ditinggal suaminya keluar negri" bolehkan dibilang Bagar kurang ajar sekarang. tapi jujur saja bagas kadang kewalahan menghadapi kemauan mamanya sendiri.
" lah kok malah jadi aku sih, kan kamu yang punya masalah sama mama."
" masalahnya mama nyuruh aku nikah "
Revan menatap kakaknya heran " lah apa masalahnya coba nikah ya tinggal nikah"
" otak Lo udah di cuci deh kayaknya sama mama " ucap Bagas menata adiknya itu dengan malas.
Setelah mengucapkan itu Bagas memilih pulang ke apartemen miliknya. Disana dia langsung mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju santai.
Bagas merebahkan dirinya di atas kasus menatap langit-langit kamarnya. bukannya dia tidak mau menikah tapi dia masih mencari seseorang yang hidupnya saja dia tidak tahu apakah sudah mati atau masih hidup.
Bagas tengah berjalan menuju ruangnya dengan sikap dinginnya tapi walau begitu dia masih terlihat profesional. beberapa karyawan menatapnya dengan tatapan memuja apalagi mengetahui jika bos mereka itu belum menikah di usianya yang sudah matang.
Sesampainya di ruangnya, Bagas segera melepas jasnya meninggalkan kemeja berwarna abu-abu lalu melihat ke arah tumpukan berkas yang ada di mejanya.
Beberapa saat kemudian Dika sekretaris datang untuk memberitahukan jadwal untuk hari ini.
" hari ini ada jadwal makan siang dengan Leo company pak, di restoran sushi, setelah itu dilanjutkan dengan meeting dengan perusahaan djong untuk membahas kerja sama"
" baik nanti kamu atur saja semuanya, jangan lupa file yang saya tanyakan semalam segera kamu kirim ke saya, kita ngga bisa begitu saja tawaran kerja sama itu." ucap Bagas.
Dika lalu mengangguk " baik pak akan segera saya kirimkan"
" ohh yaa, satu lagi tolong kamu suruhkan salah satu staff pantry untuk membuatkan ku kopi"
"baik pak"
Bagas kembali fokus ke laptop nya,dari semalam dia sudah pusing di buat ibunya sendiri
*****
Kyra baru saja sampai di tempat kerjanya, dan segera menuju lokernya untuk mengganti pakaiannya. tadi sebelum dia berangkat kerja dia tidak sengaja bertemu dengan Bu Lasmi dan memintanya untuk menitipkan anaknya bersamanya. Dari dulu Bu Lasmi lah yang mengetahui bagaimana hidup dan pengorbanan kyra selama ini.
" pagi Arya " sapa kyra kepada Arya yang sudah duluan datang, tapi matanya tak sengaja melihat perempuan yang berdiri disamping Arya dengan seragam yang sama.
" pagi kyra, ohh yaa pasti kamu bingung ya. Ini Amel rekan kita di lantai ini, dia semalam cuti" jelas Arya yang melihatku bingung.
" aku Amel. Arya udah cerita siapa kamu" ucap amel menjabat tangan kyra sambil tersenyum.
" kyra" balasnya.
" ohh ya Ra kamu bisa ngga bersihkan pantry. Biar Amel aja yang bersihkan lobi samping"
Kyra langsung setuju, bagaimana pun Arya dan Amel adalah seniornya juga " oke"
Kyra langsung menuju pantry dan mulai membersihkannya, tapi suara dering telepon mengalihkan fokusnya. Dilihatnya. Sekeliling tidak ada orang sama sekali hanya ada dirinya disana.
Mau tak mau kyra langsung menjawabnya " halo"
" halo, saya Dika sekretarisnya pak bos, tolong kamu buatkan kopi untuk pak bos sekarang" suruhnya diseberang sana.
" baik pak" jawab kyra lalu menutup telpon itu. semalam Arya sudah menjelaskan kepadanya jika mereka membersihkan pantry maka dengan artian yang sama mereka juga akan disuruh-suruh.
Dia mulai membutakan kopi, kyra tidak tahu bagaimana selera pak bosnya itu dia hanya membuatnya sesuai seleranya. hari keduanya kyra bekerja disini dia belum tahu bagaimana rupa sang sang bosnya.
lift terbuka di lantai dua belas, kyra menyusuri lorong, kata Arya ruangan boss mereka ada di lantai dua belas.
kyra berhenti di salah satu pintu dengan tulisan CEO disana, kyra menghirup udara dalam-dalam. Sebenarnya dia sedikit gemetar sekarang.
Tok tok
" masuk"
ketika disuruh masuk, kyra membuka pintu itu disana terdapat seorang pria yang sedang berkutak dengan pekerjaannya. Wajahnya tidak terlihat oleh kyra karena terhalang oleh sebuah komputer besar.
Permisi, Pak... ini kopi, yang anda pesan" ucap Kyra pelan sambil meletakkan cangkir itu di atas meja. Tangannya bergetar, ia bahkan tak berani menatap langsung ke arah pria itu.
Bagas yang tadinya sibuk dengan laptop, mendongak. Matanya langsung terpaku pada wajah itu. Seketika, udara di dalam ruangan seolah menipis.
"Kyra...?" suaranya serak, seperti tak percaya dengan penglihatannya.
Kyra yang merasa terpanggil namanya mengangkat kepalanya.
Kyra tersentak, jantungnya berdegup keras. Ia menunduk. "Iya, Pak. Ini kopi pesanan Bapak."
"Kamu?" Bagas berdiri dari kursinya, sorot matanya menajam. "Apa benar kamu... Kyra?"
Kyra akhirnya memberanikan diri menatap, meski hanya sekilas. "Iya... saya." mau berbohong pun itu tidak mungkin dilakukan nya, karena wajahnya masih sama seperti dulu.
Keheningan menyelimuti mereka. Bagas melangkah mendekat, tatapannya sulit ditebak. "Lima tahun aku nggak lihat kamu... dan ternyata kamu muncul lagi di sini. Di perusahaanku."
"Saya tidak tahu kalau ini perusahaan Bapak," jawab Kyra dengan jujur, mencoba menjaga wibawa meski suaranya sedikit bergetar.
Bagas menghela napas, matanya menyipit. "Kamu sengaja?"
"Tidak, Pak," jawab Kyra cepat. "Saya hanya... butuh pekerjaan."
"Dan dari sekian banyak perusahaan, kamu pilih perusahaan ini?" Bagas mendekat, suaranya semakin rendah namun menusuk. "Atau... sebenarnya kamu ingin bertemu denganku lagi?"
Kyra menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Itu tidak benar. Saya tidak tahu sama sekali."
Bagas terdiam, menatapnya lama. Ada segumpal rasa yang sulit dijelaskan marah, rindu, dan kecewa bercampur jadi satu.
"Kamu masih sama," gumamnya akhirnya. "Masih suka menghindar."
"Bagas..." ia akhirnya berani menyebut nama itu, sesuatu yang sudah lima tahun tak keluar dari bibirnya. "Tolong, anggap saja saya hanya karyawan di sini. Tidak lebih, tidak kurang."
Bagas tersenyum miring, getir. "Kamu pikir aku bisa? Setelah semua yang terjadi di antara kita?"
Kyra menunduk, berusaha menjaga air matanya agar tidak jatuh. "Saya mohon, jangan buat ini sulit. Saya hanya ingin bekerja."
Bagas melangkah semakin dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Suaranya merendah, tapi penuh penekanan. "Kamu pikir aku bisa pura-pura tidak kenal kamu? Lima tahun, Kyra. Lima tahun aku mencoba melupakanmu. Tapi sekarang kamu berdiri di sini, di ruanganku, seakan-akan tidak pernah ada apa-apa di antara kita?"
Kyra menelan ludah, tubuhnya kaku. "Sudah cukup, Bagas. Kita sudah selesai sejak lama."
"Jangan pergi dulu," kata Bagas dengan suara bergetar. Matanya menatap Kyra dalam, begitu tajam hingga gadis itu sulit bernapas. "Aku masih punya banyak pertanyaan. Tentang kamu. Tentang kita."
Kyra mencoba menarik tangannya, namun genggaman Bagas terlalu kuat. "Lepaskan saya. Tolong... kita di tempat kerja, jangan buat masalah."
Bagas menghela napas panjang, tapi genggamannya tak kunjung terlepas. "Kalau kamu ingin aku bersikap profesional, aku bisa. Tapi aku juga ingin jawaban. Setidaknya sekali ini saja, jangan pergi dariku tanpa menjelaskan apa pun, Kyra."
Kyra menutup matanya erat, hatinya kacau. Ia ingin marah, ingin menangis, tapi juga tak bisa menyangkal bahwa perasaan yang dulu masih ada di sana—meski sudah ia coba kubur dalam-dalam.
Suasana ruangan itu semakin berat, seakan hanya menyisakan mereka berdua dan kenangan yang belum selesai.
"Bagas..." suaranya bergetar, namun tegas. "Kamu ingin tahu alasan sebenarnya kenapa aku pergi lima tahun lalu?"
Bagas menatapnya tajam, matanya merah seakan menahan emosi. "Ya. Itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang, seolah pernikahan kita nggak pernah ada artinya."
Yaa walaupun mereka menikah karena terpaksa tapi hubungan mereka sangat baik. Bagas selalu bersikap baik padanya.
Kyra menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku nggak pernah mau pergi darimu"
"Lalu kenapa? Kenapa kamu tega ninggalin aku tanpa sepatah kata pun?"
Kyra akhirnya menatapnya lurus, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Karena ayahmu." dia akan menjelaskan semuanya biar tidak ada kesalah pahaman diantara mereka .
Bagas tertegun. "Ayah?"
Iya," Kyra melanjutkan, suaranya lirih namun penuh luka. "Kamu ingat kan, kita menikah diam-diam? Tanpa sepengetahuan keluargamu. Waktu itu aku pikir cinta kita cukup kuat. Aku pikir, meski aku yatim piatu dan nggak punya apa-apa, kamu tetap akan memilih aku."
Bagas hanya bisa terdiam, tubuhnya kaku mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Kyra.
"Tapi ketika ayahmu tahu... beliau marah besar. Katanya aku nggak pantas untukmu. Katanya aku cuma bikin malu keluarga kalian. Dan beliau—" suara Kyra tercekat, tangannya mengepal. "—beliau menyuruhku pergi dari hidupmu. Menyuruhku bercerai darimu. Saat itu, aku tidak punya siapa-siapa untuk membelaku. Tidak ada yang mendukungku."
Air matanya semakin deras. "Aku bertahan beberapa hari, berharap kamu akan datang mencariku. Tapi yang aku dapat hanya ancaman dari ayahmu. Katanya kalau aku nggak pergi, hidupmu akan hancur. Kariermu, masa depanmu, semuanya."
Bagas merasa dadanya diremas. Tangannya yang menggenggam Kyra semakin kuat. "Kenapa kamu nggak bilang padaku? Kenapa kamu nggak datang padaku? Aku pasti akan melawan ayah."
Kyra menggeleng lemah. "Kamu terlalu berbakti pada keluargamu, Bagas. Aku tahu, kamu nggak akan pernah benar-benar melawan ayahmu. Dan aku... aku nggak mau jadi alasan kamu kehilangan segalanya. Jadi aku pergi. Aku rela jadi orang jahat di matamu, asalkan kamu tetap bisa hidup dengan baik."
Bagas memejamkan mata, rahangnya mengeras. Emosinya campur aduk antara marah, kecewa, sekaligus sedih yang menyesakkan. "Kyra... kenapa kamu harus menanggung semuanya sendirian? Lima tahun... lima tahun aku menyalahkanmu, membencimu, padahal semua ini karena ayahku?"
Kyra menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. "Aku nggak punya pilihan lain."
Beberapa detik, hanya ada suara isakan Kyra. Hingga akhirnya Bagas menariknya pelan, merengkuhnya ke dalam pelukan.
Kyra terkejut, tubuhnya menegang. "Bagas... jangan."
Tapi Bagas tidak melepaskan. Suaranya berat, penuh luka. "Aku sudah kehilanganmu sekali, Kyra. Aku nggak mau kehilangan lagi."
Kyra memejamkan mata, air matanya pecah di bahu Bagas. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, mereka kembali berada di pelukan yang sama, meski ada jurang besar di antara mereka.
Dengan sisa tenaga, Kyra mendorong tubuh Bagas pelan, melepaskan diri dari rengkuhan itu. Air matanya masih basah di pipi.
"Bagas... cukup," ucapnya dengan suara parau. "Aku nggak bisa di sini lebih lama."
Bagas menatapnya tak percaya. "Kyra... apa kamu masih nggak paham? Aku baru tahu kebenarannya. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku—"
"Tidak!" potong Kyra cepat. Ia menatap Bagas dengan mata yang berair tapi penuh ketegasan. "Kita sudah selesai sejak lima tahun lalu. Kamu harus terima itu."
Bagas menggeleng, matanya memerah menahan emosi. "Aku nggak bisa terima. Kamu masih ada di sini, di depan mataku. Kamu masih sama. Kamu bahkan baru saja mengaku kalau dulu mencintaiku."
Kyra terdiam sejenak, lalu tersenyum getir. "Iya... dulu. Tapi sekarang? Sekarang aku cuma seorang karyawan biasa di perusahaanmu. Jangan tarik aku kembali ke masa lalu, Bagas. Aku sudah berusaha mati-matian melangkah ke depan."
Tangannya hendak membuka pintu, tapi Bagas kembali menahan pergelangannya. "Kyra... dengar aku. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku masih punya banyak hal yang ingin aku tanyakan, banyak hal yang ingin aku perbaiki. Setidaknya... beri aku kesempatan bicara lebih lama."
Kyra menarik napas panjang, suaranya nyaris pecah. "Kesempatan itu sudah hilang lima tahun lalu. Kamu terlambat."
Bagas terdiam, tubuhnya kaku seakan ditampar oleh kenyataan pahit.
Perlahan Kyra melepaskan genggamannya dari tangan Bagas. "Maaf, Pak... saya harus kembali bekerja." Ucapannya dingin, menekankan jarak di antara mereka.
Ia lalu membuka pintu, melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Bagas hanya bisa berdiri di tempatnya, menatap punggung perempuan yang pernah jadi istrinya, kini menjauh untuk kedua kalinya. Tapi kali ini, luka yang ia rasakan jauh lebih dalam, karena ia tahu Kyra benar-benar tidak ingin lagi berada di sisinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!