Indonesia
NovelToon NovelToon

Sang Legenda: Naga Langit

PEMBUKAAN

Sebelumnya terimakasih telah mampir membaca novel saya. saya akan semaksimal mungkin untuk membuat cerita yang bagus dan memuaskan para pembaca, dan jika ada salah kata di setiap bab, sudikiranya para pembaca meng koreksi nya, saya akan senang hati untuk memperbaiki dan menambah saran dari para pembaca.

Dalam proses penulisan, saya mengembangkan ide, konflik, dan perkembangan karakter secara mandiri berdasarkan imajinasi dan riset pribadi. Jika terdapat kesamaan tema atau unsur tertentu dengan karya lain, hal tersebut tidak disengaja dan sangat mungkin terjadi mengingat genre yang saya tulis memang memiliki elemen umum yang sering dijumpai pada banyak karya serupa.

(Cerita Orisinil)

Terimakasih 🙏

Bab 1: Darah yang Menetes

Musim dingin datang lebih awal di Kota Awan Putih tahun ini. Salju tipis mulai menutupi atap-atap bangunan batu hitam milik Klan Xiao, namun dinginnya cuaca tidak sebanding dengan dinginnya suasana di alun-alun utama klan.

Hari ini adalah Ritual Gema Naga, hari penghakiman bagi seluruh generasi muda klan.

Di tengah alun-alun, berdiri sebuah benda pusaka klan Gendang Kulit Naga. Diameternya dua meter, terbuat dari kulit binatang purba yang konon memiliki garis keturunan naga. Aturannya sederhana: Pukul gendang itu. Jika seseorang memiliki bakat kultivasi atau garis keturunan yang kuat, gendang akan beresonansi mengeluarkan auman naga.

"Selanjutnya... Xiao Chen!"

Teriakan Tetua Penguji membelah udara beku.

Dari barisan murid, seorang pemuda berusia lima belas tahun melangkah maju. Dia mengenakan jubah biru pudar yang sedikit terlalu tipis untuk cuaca sedingin ini. Wajahnya tampan namun pucat, dengan sepasang mata hitam yang menyiratkan kelelahan mendalam.

Bisik-bisik segera menyebar seperti racun di antara kerumunan.

"Lihat, si 'Mantan Jenius' maju lagi." "Sudah tiga tahun dia gagal. Kenapa dia masih repot-repot mempermalukan Ketua Klan?" "Kudengar Keluarga Su sudah mengirim utusan. Mungkin mereka muak menunggu sampah ini bangkit."

Xiao Chen mengabaikan bisikan itu, meski setiap kata terasa seperti jarum. Dia naik ke panggung, berdiri di depan gendang raksasa itu. Tangannya terkepal.

Tahun ini... tolonglah. Sekali saja, batinnya memohon.

Dia menarik napas, mengumpulkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya, dan memukul permukaan kulit gendang itu sekuat tenaga.

BUGH!

Suara hantaman tumpul terdengar. Kulit gendang itu bergetar sedikit, lalu diam.

Hening.

Tidak ada auman. Tidak ada cahaya. Tidak ada resonansi. Gendang itu tetap bisu, seolah menolak mengakui keberadaan Xiao Chen.

"Xiao Chen Gagal," vonis Tetua Penguji terdengar datar dan kejam.

Bahu Xiao Chen merosot. Gagal lagi. Tubuh ini... benar-benar lubang tanpa dasar.

"Hahaha! Sudah kuduga!"

Tawa angkuh meledak dari barisan depan. Xiao Long, sepupu Xiao Chen, berdiri dengan tangan bersedekap. Di sebelahnya, Pelayan Han ikut tersenyum mengejek.

"Kau memukul gendang itu seperti perempuan memukul bantal, Sepupu!" seru Xiao Long keras-keras. "Saran saya, lebih baik kau turun dari panggung dan pergi ke kandang babi. Mungkin di sana bakatmu lebih dihargai!"

Gelak tawa membahana di seluruh alun-alun. Wajah Xiao Chen memanas, bukan karena marah, tapi karena rasa malu yang membakar harga dirinya.

Dia hendak berbalik dan turun, ketika sebuah suara jernih dan dingin memotong tawa itu.

"Tutup mulutmu, Xiao Long."

Kerumunan terdiam seketika. Dari kursi tamu kehormatan, seorang gadis muda berdiri. Jubah putihnya berkibar anggun, dan wajah cantiknya tampak sedingin es.

Su Qingyue.

Dia berjalan menaiki panggung, mengabaikan tatapan kakeknya (Tetua Su Ming) yang melotot tidak setuju dari tribun VIP. Dia berdiri tepat di samping Xiao Chen, menghadapi ratusan orang itu.

"Qingyue..." bisik Xiao Chen, merasa bersalah. "Jangan lakukan ini. Kau akan membuat kakekmu marah."

Su Qingyue tidak menoleh ke arah kakeknya. Dia menatap Xiao Chen, matanya melembut. Dia mengambil tangan Xiao Chen yang memerah akibat memukul gendang, lalu menggenggamnya erat di depan semua orang.

"Biarkan mereka marah," kata Qingyue tegas. Lalu dia menatap Xiao Long. "Bakat seseorang tidak hanya diukur dari gendang tua ini. Xiao Chen memiliki keteguhan hati yang tidak dimiliki siapa pun di sini. Siapa pun yang menghinanya, sama dengan menghinaku, Su Qingyue!"

Pernyataan itu bagaikan tamparan keras bagi Xiao Long dan para tetua. Xiao Long mengertakkan gigi, wajahnya merah padam karena cemburu. Bagaimana bisa sampah itu masih mendapatkan pembelaan dari wanita paling berbakat di kota ini?

Di tribun VIP, Tetua Su Ming mendengus kasar. "Gadis bodoh. Dia semakin mempersulit keadaan. Kita harus mempercepat rencana 'itu'."

Su Yang, ayah Qingyue, hanya menghela napas berat. "Kita akan bicarakan ini besok di Paviliun Danau Giok."

Xiao Chen mendengar gumaman para tetua itu. Dia melihat tatapan jijik dari Su Ming. Dia tahu, pembelaan Qingyue hari ini hanya menunda eksekusi, bukan membatalkannya.

Setelah ritual selesai, kerumunan bubar. Xiao Chen menarik diri dari Qingyue sebelum gadis itu sempat berkata lebih banyak. Dia tidak sanggup melihat rasa kasihan di mata tunangannya.

"Chen, tunggu!" panggil Qingyue.

"Maaf, aku ingin sendiri," jawab Xiao Chen tanpa menoleh, setengah berlari menuju kediamannya yang terpencil di pinggir klan.

Kamar Xiao Chen Malam Hari

Malam itu, Xiao Chen duduk sendirian di tepi tempat tidurnya yang keras. Di luar, angin menderu kencang.

Di tangannya, dia memegang sebuah manik hitam kusam satu-satunya peninggalan ibunya yang tidak pernah dia kenal.

Rasa frustrasi yang dia tahan sepanjang hari akhirnya meledak.

"Kenapa?!" teriak Xiao Chen.

Dia membanting tinjunya ke meja kayu di depannya.

BRAK!

Meja itu retak. Serpihan kayu tajam menggores tangannya. Darah segar mengalir deras dari luka di telapak tangannya.

"Kenapa aku harus menjadi sampah?! Kenapa aku harus dilindungi oleh wanita yang kucintai?! Aku ingin melindunginya! Aku ingin membungkam mulut mereka!"

Xiao Chen menangis tanpa suara. Air matanya jatuh, bercampur dengan darah yang menetes dari tangannya.

Tanpa dia sadari, tetesan darah segar itu jatuh tepat di atas manik hitam yang dia pegang.

Tes.

Darah itu tidak menggenang. Darah itu... terserap.

Manik hitam yang selama lima belas tahun terlihat seperti batu mati, tiba-tiba berdenyut. Sebuah hawa panas menjalar dari manik itu ke telapak tangan Xiao Chen, lalu merambat naik ke lengannya, menuju jantungnya.

Dunia di sekitar Xiao Chen tiba-tiba menjadi gelap gulita. Suara angin di luar menghilang.

Dari dalam manik itu, sebuah tawa purba yang berat dan serak bergema, bukan di telinganya, tapi langsung meledak di dalam jiwanya.

"Kekeke... Akhirnya. Darah yang penuh dengan keputusasaan dan amarah... Inilah kunci untuk membangunkanku."

Xiao Chen terbelalak, melihat kabut hitam mulai keluar dari manik itu, membentuk siluet mata reptil raksasa di udara kamarnya.

"Kau menginginkan kekuatan untuk membungkam dunia, Bocah? Maka berikan darahmu pada Raja ini, dan Raja ini akan memberimu langit."

Bab 2: Jiwa yang Tertidur

Kegelapan itu tidak dingin. Sebaliknya, itu terasa panas, menyesakkan, dan purba.

Xiao Chen merasa tubuhnya ditarik paksa dari kamarnya yang sempit, melayang masuk ke dalam ruang hampa tanpa batas. Rasa sakit di tangannya lenyap, digantikan oleh tekanan spiritual yang begitu berat hingga rasanya jiwanya akan remuk.

Di hadapannya, sepasang mata emas vertikal raksasa terbuka di dalam kegelapan. Mata itu menatapnya, seolah-olah Xiao Chen hanyalah seekor semut di hadapan gunung.

"Siapa... kau?" tanya Xiao Chen. Suaranya bergema di ruang hampa itu.

Kabut hitam bergulung, memadat menjadi wujud manusia—seorang pria tua dengan rambut yang tergerai liar dan jubah hitam yang seolah terbuat dari bayangan malam. Wajahnya angkuh, memancarkan aura seorang penguasa yang telah melihat ribuan peradaban runtuh.

"Siapa aku?" Sosok itu mendengus, suaranya seperti guntur. "Manusia zaman sekarang benar-benar bodoh. Mereka melupakan nama yang pernah membuat langit runtuh."

Sosok itu melayang turun, menatap Xiao Chen dengan ketertarikan yang aneh.

"Di eraku, dunia menyebutku Kaisar Naga Abyssal. Dan kau, Bocah, telah membangunkan tidur panjangku dengan darahmu yang penuh dendam itu."

Xiao Chen tertegun. Kaisar Naga? Makhluk mitos?

"Kau bilang darahku?" Xiao Chen tertawa pahit. "Darah sampah maksudmu? Aku tidak bisa menampung Qi. Aku aib bagi klan."

"Tidak bisa menampung?" Yao Huang tertawa keras, tawa yang menggelegar menghina.

Xiao Chen mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Yao Huang mengibaskan tangannya. Sebuah proyeksi cahaya muncul di udara, menampilkan sistem peredaran darah Xiao Chen.

"Kau bukan manusia biasa. Kau memiliki Garis Keturunan Naga Langit Kuno yang tertidur. Tubuh manusia biasa menyerap Qi alam yang lembut seperti meminum air. Tapi naga? Naga memakan api, menelan petir, dan melahap lautan!"

Dia menunjuk ke arah perut Xiao Chen di dalam proyeksi itu.

"Metode kultivasi klan-mu yang sampah itu memberikan energi yang terlalu halus. Bagi tubuh nagamu, itu bahkan tidak cukup untuk membasahi tenggorokan. Dantianmu menyerap semuanya seketika hanya untuk bertahan hidup, itulah sebabnya kau tidak pernah naik tingkat. Kau mencoba memberi makan dengan remah roti!"

Mata Xiao Chen membelalak. Selama ini... dia bukan tidak berbakat? Dia hanya... terlalu kuat untuk metode biasa?

Harapan yang nyaris padam kini menyala kembali, membakar dada Xiao Chen dengan ganas. Dia teringat wajah Qingyue yang membelanya, dan wajah angkuh Xiao Long.

Dia jatuh berlutut di hadapan Yao Huang.

"Senior! ajari aku!" teriak Xiao Chen. "Jika aku memang memiliki darah naga... ajari aku cara menggunakannya! Aku butuh kekuatan! Aku harus membuktikan bahwa aku bukan sampah!"

Dia menatap pemuda yang bersujud itu. Dia melihat api di mata Xiao Chen. Itu bukan api keserakahan, melainkan api pembuktian diri.

"Jalan kultivasi naga itu menyakitkan," Yao Huang menyeringai, memperlihatkan gigi yang sedikit terlalu tajam. "Kau harus meremukkan tulangmu, mendidihkan darahmu, dan menanggung rasa sakit seribu kali lipat dari manusia biasa. Kau mungkin mati."

"Aku sudah mati berkali-kali setiap hari saat mereka menghinaku," jawab Xiao Chen, mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam. "Rasa sakit fisik bukan apa-apa."

"Bagus," mata Yao Huang berkilat senang. "Aku suka tatapan itu. Tatapan seekor predator yang lapar."

Dia mengangkat satu jari. Ujung jarinya bersinar dengan cahaya hitam pekat.

"Bersiaplah. Kita tidak punya waktu untuk metode lembut. Aku akan memaksa darah nagamu bangun sekarang juga."

Cahaya hitam itu ditembakkan tepat ke dahi Xiao Chen.

"ARGHHHHHHH!"

Di dunia nyata, di dalam kamarnya yang gelap, tubuh Xiao Chen mengejang hebat di lantai.

Panas.

Rasanya seperti darah di dalam tubuhnya diganti dengan timah cair. Pembuluh darah di kulitnya menonjol, berubah warna menjadi hitam, lalu merah menyala. Suara krak mengerikan terdengar saat tulang-tulangnya memadat, membuang kotoran, dan menyusun ulang strukturnya menjadi lebih kokoh.

Pori-porinya terbuka, mengeluarkan cairan hitam berbau busuk kotoran yang telah menumpuk selama bertahun-tahun menghambat tubuhnya.

Proses itu berlangsung sepanjang malam. Namun, Xiao Chen tidak pingsan. Dia menggigit bibirnya hingga hancur untuk tetap sadar, memandu energi liar itu sesuai instruksi suara di kepalanya.

Aku tidak boleh pingsan. Aku harus bangun. Aku harus kuat.

Cahaya matahari pagi menembus celah jendela.

Xiao Chen membuka matanya. Napasnya terengah-engah. Dia terbaring di lantai kayu yang basah oleh keringat hitam berbau anyir.

"Menjijikkan," gumamnya.

Namun saat dia mencoba bangun, dia terkejut. Tubuhnya terasa ringan. Sangat ringan. Pandangannya menjadi sangat jelas, dia bahkan bisa melihat debu yang melayang di udara.

Dia mengepalkan tangannya.

KRETEK.

Suara sendi jarinya terdengar renyah dan padat. Dia merasakan kekuatan fisik murni mengalir di setiap serat ototnya.

"Coba pukul tiang tempat tidur itu," perintah suara di kepalanya.

Xiao Chen menurut. Tanpa menggunakan Qi, dia meninju tiang kayu keras itu dengan santai.

BRAK!

Tiang kayu solid setebal paha orang dewasa itu patah menjadi dua bagian dengan mudah.

Xiao Chen menatap tangannya tak percaya. "Kekuatan fisikku... ini setara dengan Kultivator Tingkat 5 Pengumpulan Qi! Padahal kultivasiku masih nol."

"Itu baru permulaan," kata Yao Huang. "Sekarang bersihkan dirimu. Kau bau Busuk."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!