Indonesia
NovelToon NovelToon

Ketika Hati Menemukan Jalannya

Tugas Yang Berat

"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?!" Nada penuh penekanan dan lantang dikeluarkan oleh Amanda saat melihat ketiga siswinya yang sedang bertengkar hebat.

Raisa, Karina dan Sofia tengah saling bersiteru, menjambak bahkan memukul satu sama lain sebelum berakhir Karina mendorong tubuh Raisa hingga terjatuh yang mengakibatkan kepala Raisa terbentur tembok dan pundaknya terkena pecahan vas bunga yang tak sengaja tersenggol oleh tubuhnya.

"Aww.."

Raisa langsung meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya yang terbentur tembok dengan cukup keras itu. Beruntung tak ada darah yang menetes dari kepalanya, namun pundaknya terlihat terluka akibat terkena pecahan vas bunga.

"Karina! apa yang sudah kamu lakukan pada Raisa?" Amanda terkejut melihat Raisa di dorong oleh Karina dengan cukup keras.

"Ini semua salah dia, bu!" Elak Karina tak merasa bersalah.

"Kamu tidak boleh sekasar ini sama teman kamu Karina!!." Ucap Amanda sembari menghampiri Raisa untuk menolongnya.

"Dia yang mulai duluan, kok." Karina masih pada pendiriannya.

"Ibu melihat kamu mendorong Raisa, cepat minta maaf sekarang juga!!." Tekan Amanda dengan nada marah pada Karina.

"Untuk apa aku meminta maaf sama dia?" Karina menolak melakukannya dan terlihat menantang Amanda yang merupakan wali kelasnya sendiri.

Amanda menghela nafas panjang melihat sikap anak didiknya yang begitu angkuh dan tak menghormatinya itu.

"Kalian berdua, ikut ibu keruangan BK sekarang juga!!." Ucap Amanda agar Karina dan Sofia ikut keruangan BK.

"Aku tidak mau, aku tidak salah apapun tuh." Balas Karina tak merasa bersalah.

"Iya, aku juga tidak mau. Kita tidak merasa bersalah, tapi dia ini yang salah.." Timpal Sofia menunjuk Raisa dengan wajah kesal.

Raisa sendiri yang sudah dibantu berdiri oleh Amanda, menahan rasa sakitnya pada pundak dan kepalanya. Penampilannya sekarang benar-benar terlihat kacau. Ia yang kesakitan hanya mendengarkan Karina dan Sofia yang sedang dimarahi oleh wali kelasnya.

"Maka dari itu ibu meminta kalian ke ruangan BK untuk menjelaskan semuanya." Pinta Amanda sekali lagi.

"Bu, Raisa yang salah kenapa kita yang dipanggil?" Karina tetap kekeh tak mau disalahkan.

"Lebih baik ibu tanya saja sama dia deh, dia yang menyerang kita duluan kok." Balas Sofia menyerahkan semuanya pada Raisa.

Amanda menoleh menatap ke arah Raisa yang kesakitan.

"Saya tidak bersalah, bu. Justru mereka berdua yang memulai menyerang saya duluan." Raisa yang merasa disalahkan mencoba membela dirinya.

"Benar bu, Karina dan Sofia yang mencoba mencari masalah dengan Raisa." Tiba-tiba saja ada anak yang ikut menimpali, anak itu bernama Fitri yang tak lain adalah sahabat Raisa.

Mendengar Fitri ikut campur membuat Karina dan Sofia tak terima dan hendak menyerangnya sebelum dipisahkan kembali oleh Amanda.

"Cukup!!" Amanda menghentikan pertikaian mereka kembali dengan nada marah.

"Selain yang bersangkutan dilarang ikut campur! Jadi, semuanya silahkan masuk ke kelas masing-masing sekarang juga....!!!" Perintahnya pada murid lainnya yang tengah menonton dengan nada lantang.

Semua berhamburan masuk dan menyisahkan Raisa, Karina dan Sofia yang masih tertinggal.

"Raisa, kamu obati dulu luka kamu di UKS, nanti ibu akan memanggil kamu lagi setelah kamu selesai di obati." Pinta Amanda pada Raisa.

"Baik, bu." Jawab Raisa mulai menuju ruang UKS, yang kemudian dibantu oleh Fitri yang merasa kasihan melihat Raisa meringis kesakitan.

Amanda memperbolehkan Fitri membantu Raisa menuju ruang UKS saat Fitri mengajukan diri. Sebaliknya, Amanda masih ada yang harus diselesaikan pada Karina dan Sofia.

"Kalian berdua, ikut ibu keruangan BK sekarang juga!!." Kali ini Amanda memberi perintahnya pada Karina dan Sofia agar segera datang keruangan BK untuk mempertanggung jawabkan tindakan mereka.

"Saya tidak mau!." Namun, Karina enggan menuruti perintah Amanda, begitu pun dengan Sofia.

"Apa kalian mau diselesaikan dengan orang tua kalian dipanggil ke sekolah?" Ancam Amanda.

Karina tertawa meremehkan mendengar ucapan Amanda yang hendak membawa orang tua mereka ke sekolah.

"Memangnya hal itu bisa ibu lakukan?" Ujarnya sedikit meremehkan.

"Kalau begitu, ibu akan kirim surat ke orang tua kalian masing-masing." Ucap Amanda yang kemudian memilih pergi keruangan guru, seolah tak mau lagi beradu argumen dengan dua muridnya yang tak bisa di atur itu.

Sebuah tugas yang berat bagi Amanda yang ditunjuk sebagai wali kelas 1A. Yang ia hadapi adalah anak-anak SMA yang lagi masa puber, hal itu sempat membuatnya kewalahan dan stres, terlebih jika menyangkut murid yang susah untuk di atur.

Apalagi soal beberapa para wali murid tempatnya mengajar yang suka ikut campur, semakin membuatnya tertekan. Padahal dia hanyalah seorang guru biasa, namun tugasnya sangatlah berat.

Bukan hanya dituntut untuk mendidik murid-muridnya tapi juga diminta untuk menjaga sikap di depan muridnya sendiri agar tak menimbulkan masalah dengan para orang tuanya.

Hal itu sempat menimbulkan gelombang protes dari para guru karena menilai mereka terlalu ditekan dan di intimidasi.

Meski banyak guru yang protes dan menyampaikan keberatan, namun kepala sekolah seolah tak terlalu perduli dengan protes itu. Yang kepala sekolah perdulikan hanyalah soal menjaga perasaan beberapa wali murid yang dirasa penting untuknya karena telah banyak menyumbang donasi untuk sekolah. Mengingat ini adalah sekolah swasta, karena itu dana dari beberapa orang tua murid sangat dihargai oleh kepala sekolah. Meski harus menutup mata pada sikap murid yang bermasalah sekalipun.

Sekolah yang selalu menjadi tujuan siapapun untuk masuk dan menjadi salah satu sekolah swasta terbaik ini sepertinya sudah kehilangan arahnya.

Wibawa guru tiba-tiba hilang ditambah sikap murid yang semakin hari semakin kelewatan. Ada kemunduran dari beberapa tahun belakangan ini, terutama perihal pengabaian terhadap sikap murid yang bermasalah.

"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Amanda merenung memikirkan sikap seperti apa lagi agar bisa mendisiplinkan murid-muridnya yang semakin hari semakin tidak memiliki kesopanan terhadap para guru.

Memberi Hukuman

Tepat saat Amanda sedang merenung diruanganya, memikirkan tentang kekacauan tadi, tiba-tiba ada Raisa yang datang untuk menemuinya.

"Permisi, bu." Sapa Raisa.

"Oh, Raisa. Apa kamu sudah selesai di obati?" Balas Amanda ketika melihat kedatangan Raisa.

"Iya, bu sudah." Jawab Raisa lagi.

"Apa kamu baik-baik saja?" Amanda menanyakan kondisi Raisa yang sempat terbentur tembok dan terkena pecahan vas bunga dipundaknya.

"Syukurnya tidak ada yang parah bu, cuma sedikit nyeri dan bengkak dibagian dipundak, cuma beruntung tidak sampai berdarah kok, bu." Ungkap Raisa menjelaskan kondisinya.

"Baiklah kalau begitu." Ujar Amanda merasa lega mendengar penjelasan Raisa.

"Kita mengobrolnya diruangan BK saja, ya.." Pinta Amanda agar Raisa mengikutinya, mengingat sekarang mereka sedang berada diruang guru, jadi takut pembicaraan mereka mengganggu guru yang lain.

"Baik, bu." Raisa pun ikut bersama Amanda menuju ruangan BK bersama.

Mereka mengobrol cukup panjang tentang bagaimana awalnya Raisa bisa terlibat pertengkaran bersama Karina dan Sofia.

Yang ternyata Raisa hanya mencoba untuk membela Dewi yang sedang dirundung oleh Karina dan Sofia. Tegurannya saat itu ternyata membuat Karina dan Sofia tak terima sehingga timbullah perselisihan diantara mereka.

"Mereka sengaja menumpahkan minuman berwarna ke seragam milik Dewi, bu." Jelas Raisa.

"Begitu ya ternyata awal mulanya." Akhirnya Amanda pun menjadi sedikit paham alasan mereka bertengkar.

"Bukan hanya itu bu, mereka berdua tuh sudah cukup sering melakukan hal buruk pada Dewi, karena itu saya menegur mereka untuk berhenti mengganggu Dewi. Tapi, mereka malah tidak terima dan justru menyerang saya." Ungkap Raisa.

"Lalu bagaiman dengan Dewi sekarang?" Amanda menanyakan keberadaan Dewi yang tak ada tadi.

"Saya meminta Dewi untuk mengganti seragamnya yang kotor dengan seragam milik saya yang lain."

"Begitu ya, pantas tadi ibu tidak melihat dia."

"Tadinya, Dewi sempat tidak diperbolehkan mengganti seragamnya yang kotor oleh Karina dan Sofia, tapi saya yang memaksanya untuk segera mengganti seragamnya, karena itulah mereka berdua jadi murka sama saya, bu." Sambung Raisa.

Amanda terdiam mendengar penjelasan Raisa. Ia tak menyangka bahwa Karina dan Sofia bisa setega ini dengan temannya sendiri.

"Terimaksih sudah mau menjelaskan semuanya pada ibu, sekarang kamu boleh kembali ke kelas." Pintanya pada Raisa mengakhiri isi pembicaraan mereka. Sebelum itu, ia meminta Raisa untuk memanggilkan Dewi agar datang ke ruangan BK.

"Baik, kalau begitu saya permisi dulu bu." Kata Raisa yang mulai mengundurkan diri dari hadapan Amanda.

Setelah kepergian Raisa, Amanda terpaku ditempatnya. Ia mulai memikirkan sikap seperti apa yang harus ia lakukan untuk mendisiplinkan Karina dan Sofia yang hingga kini tak kunjung mendatanginya untuk menjelaskan duduk masalahnya.

Meski sudah mendapatkan kejelasan dari Raisa, Amanda tak bisa langsung menyimpulkan semuanya, karena itu ia masih butuh Karina dan Sofia datang untuk menjelaskan masalahnya sendiri dihadapannya.

Ia juga memanggil Dewi untuk memastikan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Raisa agar dia semakin yakin. Namun, sepertinya ia jadi semakin yakin setelah mendengar penjelasan dari Dewi. Terlebih, tak ada ikatan baik dari Karina dan Sofia untuk menjelaskan semuanya padanya.

Pada akhirnya, ia pun memilih untuk menghampiri mereka ke kelasnya

"Ibu sudah tahu harus menghukum kalian seperti apa." Ucap Amanda menghampiri Karina dan Sofia di dalam kelas.

"Apa maksud ibu yang mau menghukum kami?" Protes Sofia tak terima.

"Karena kalian tidak datang meski sudah ibu panggil, maka dari itu kalian harus mempertanggungjawabkan sikap kalian." Ucap Amanda memberikan lembaran kertas pada Sofia dan juga Karina.

"Apa-apa'an ini?" Sofia menatap lembaran kertas itu dengan ekspresi bingung.

"Setiap pulang sekolah, kalian harus membersihkan gudang sekolah selama satu minggu. Dan, tulis juga surat penyesalan dikertas ini sebagai rasa bersalah karena telah bersikap buruk pada teman kalian." Ujar Amanda.

"Ibu mau main-main sama kita, ya?" Karina melempar begitu saja kertas pemberian dari Amanda.

Ia berdiri menantang Amanda yang berani memberinya hukuman.

"Kalau kalian tidak mau melaksanakan hukuman ini, nilai kalian akan ibu kurangi." Balas Amanda tak memperdulikan protes mereka.

"Ibu akan menyesal karena sudah mencari masalah dengan kami." Ancam Karina.

Amanda tersenyum melihat sikap Karina, dan Karina menatapnya bingung.

"Ternyata kamu bukan apa-apa tanpa orang tua kamu, ya?" Amanda tak merasa takut meski muridnya itu mengancamnya.

Nampaknya ucapan Amanda sedikit melukai harga diri Karina.

"Setidaknya saya masih punya orang tua untuk membela saya dibandingkan bu Amanda yang sudah yatim piatu." Ejek Karina.

Plakk..

Tamparan keras mendarat di pipi Karina. Membuat semua murid yang melihat kejadian ini jadi ikut terkejut.

Karina sendiri tak percaya bahwa ia baru saja ditampar oleh Amanda, begitupun dengan Sofia yang ikut terkejut melihat Karina mendapatkan tamparan dari wali kelas mereka.

"Bukan hanya karena kamu terlahir dari keluarga berada, kamu bisa se enaknya menghina dan merendahkan orang Karina." Amanda menatap marah pada Karina. Merasa miris dengan sikapnya yang tak sopan.

"Kenapa? Apa ibu menampar saya karena ibu iri sama saya?" Karina merasa tak terima karena baru saja ditampar oleh Amanda.

"Woi, Karina!" Teriak Raisa mencoba menghentikan sikapnya yang tak sopan pada wali kelas mereka sendiri.

"Melihat sikapmu yang tidak ada sopan santunnya di depan gurumu sendiri seperti ini, justru memperlihatkan kalau kamu tuh tidak pernah di didik dengan benar oleh orang tua kamu." Ucap Raisa menghampiri Karina.

"Apa kamu bilang?" Karina tak terima dikritik oleh Raisa dan hendak menyerangnya.

"Sudah, cukup!" Teriak Amanda menghentikan pertengkaran mereka.

"Karina dan Sofia silahkan jalankan hukuman yang sudah ibu berikan untuk kalian, jika tidak ingin nilai kalian dikurangi nanti." Tekan Amanda yang kemudian meminta semua muridnya kembali ke bangkunya masing-masing, mengingat jam pelajaran akan segera dimulai.

Mendapat Tekanan

Hukuman yang Amanda berikan hanya bertujuan untuk memberikan efek jera bagi murid yang bermasalah. Mengingat perilaku mereka yang sudah kelewatan, jadi sudah seharusnya untuk di disiplinkan.

Sebagai wali kelas mereka, Amanda harus tegas agar mereka tidak lagi bersikap kurang ajar. Walau ia tahu hal ini akan membuatnya terkena masalah, karena sudah dengan berani menghukum murid yang seharusnya tak boleh dia sentuh.

Namun, Amanda menolak untuk patuh, mengingat apa yang sudah ia lakukan adalah tindakan yang wajar sebagai seorang wali kelas.

Hukuman yang ia berikan pada mereka pun tidak begitu berat, hanya meminta mereka untuk membersihkan gudang belakang sekolah ditambah menulis surat penyesalan atas sikap mereka yang tak sopan.

Tapi, tiba-tiba saja kepala sekolah meminta Amanda untuk mencabut hukuman yang ia berikan pada Karina dan Sofia tepat saat anak-anak akan pulang sekolah. Mengingat hukuman yang ia berikan pada mereka adalah dengan membersihkan gudang sekolah setelah jam pulang sekolah.

"Kenapa anda menghukum mereka bu Amanda?" Ucap kepala sekolah langsung pada intinya ketika memanggil Amanda keruangannya.

"Karena mereka bersalah, pak." Jawab Amanda.

"Apa anda tidak tahu siapa orang tua mereka?" Tanya kepala sekolah sekali lagi.

"Saya tahu pak." Amanda sangat mengetahui betul tentang siapa kedua orang tua Karina dan Sofia.

Kedua orang tua Karina dan Sofia adalah salah satu penyumbang dana terbesar bagi SMA Mutiara.

"Kalau sudah tau, kenapa anda masih menghukum mereka?" Kepala sekolah terlihat marah pada Amanda.

"Saya menghukum mereka karena mereka bersalah, pak." Jawab Amanda menjelaskan alasan dirinya menghukum Karina dan Sofia.

"Bu Amanda, saya ingatkan sekali lagi. Tolong cabut hukuman untuk keduanya." Tekan pak kepala sekolah agar Amanda mencabut hukuman bagi keduanya.

"Hukuman yang saya berikan masih tergolong ringan, seharusnya hal ini masih aman untuk mereka lakukan." Amanda tak mau menyerah.

"Ini bukan soal ringan atau berat! Tapi, ini soal sekolah kita yang akan kena imbasnya akibat anda menghukum mereka!!" Tekan pak kepala sekolah.

"Saya tidak tahu ternyata pak kepala sekolah lebih takut dengan orang tua murid dibanding menegakkan peraturan sekolah yang sudah sangat jelas melarang adanya kekerasan dalam sekolah." Amanda terlihat kecewa dengan sikap kepala sekolah yang terkesan tak tegas.

"Apa anda bilang?" Pak kepala sekolah merasa tak terima.

"Terimakasih atas sarannya pak, tapi hukuman itu tidak akan saya cabut demi kebaikan mereka sendiri. " Ucap Amanda yang kemudian memilih keluar begitu saja dari ruangan kepala sekolah, meski kepala sekolah memintanya untuk tetap duduk ditempat karena merasa pembicaraan mereka belum selesai.

Amanda memilih tetap keluar karena merasa pembicaraan mereka sudah selesai. Ia berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan berkecamuk.

Jika ia membatalkan hukuman itu, maka akan semakin membuat mereka bersikap angkuh. Karena itu, Amanda mencoba untuk bersikap lebih tegas pada mereka.

Huft...

Amanda menghela nafas panjang mencoba untuk merilekskan diri dari tekanan. Berjalan dengan perlahan menuju ruangan guru. Begitu sampai ia sudah disambut oleh bu Anggi, salah satu rekannya. Yang menanyakan tentang pertemuannya dengan kepala sekolah.

Ternyata semua guru sudah menyadari bahwa Amanda pasti akan mendapatkan masalah setelah menghukum anak yang seharusnya tak boleh disentuh itu, karenanya banyak yang menghawatirkan keadaan Amanda.

"Terimakasih atas perhatiannya, bu Anggi. Saya tidak kenapa-napa kok." Ucap Amanda menenangkan bu Anggi dan yang lainnya.

"Duh, syukurlah ya bu kalau begitu." Bu Anggi ikut merasa lega mendengarnya.

Wajar jika semua menghawatirkan keadaan Amanda, mengingat sudah ada guru yang pernah mendapatkan hukuman dari kepala sekolah akibat bersikap keras pada Karina dan Sofia.

Akibat kejadian itu membuat proses belajar mengajar disekolah ini menjadi tak tenang dan membuat banyak guru jadi bersikap lebih hati-hati kepada mereka berdua.

Amanda sangat menyadari hal itu, namun ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan mencoba untuk tegas demi menciptakan kedamaian lagi dalam sekolah ini yang berubah semenjak adanya mereka.

"Semoga saja mereka tak kembali berulah." Ujar Amanda berharap Karina dan Sofia tak lagi membuat masalah baru.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!