Anshela Pradipta, yang akrab disapa Shela, merupakan anak bungsu dalam keluarga beranggotakan empat bersaudara. Namun, ia tak hanya menjadi anak bungsu, tetapi juga anak perempuan satu-satunya di tengah-tengah saudara-saudaranya yang semuanya laki-laki. Dibalik posisinya yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya, Shela justru dihadapkan pada takdir yang menyedihkan.
Kematian sang ibu yang terjadi tak lama setelah melahirkannya, menjadikan Shela tercoreng stigma sebagai penyebab kematian sang ibu. Bahkan, mereka sering menyebutnya dengan sebutan anak pembawa sial. Kehidupan dalam lingkungan keluarga yang suram, menjadi saksi bagi tumbuh kembang Shela yang diliputi kegelapan.
Tiga kakak laki-laki yang tampan di matanya, sama sekali tidak memberikan pengaruh positif karena mereka justru mengabaikannya. Bukan hanya itu, sang ayah juga ikut memberikan tatapan penuh kebencian, setiap kali menatap wajah Shela . Kekurangan kasih sayang yang kronis inilah yang pada akhirnya melahirkan sifat-sifat buruk dalam diri Shela. Gadis ini tumbuh menjadi sosok yang arogan, sombong, dan angkuh. Shela terbiasa hidup sesuka hati, menjalani kehidupan dengan kebekuan emosional akibat rasa sakit yang selama ini ditekannya.
Meskipun begitu, Shela selalu berusaha mencuri perhatian sang kakak, bahkan sampai menyukai salah satu teman baiknya, Marvin, ketua geng Black Eagle yang terkenal. Pria itu memiliki wajah tampan, tubuh atletis, serta tatapan dingin yang tajam sehingga Shela jatuh cinta padanya. Sayangnya, pria itu telah memiliki kekasih, Fiona, gadis cantik berparas menawan, pintar, ramah, baik hati, polos, dan lugu, yang juga meraih beasiswa di sekolahnya.
Kisah asmara Marvin dan Fiona seperti roman yang digambarkan dalam novel-novel populer, di mana sang ketua geng jatuh cinta kepada gadis cantik, lugu, dan penerima beasiswa. Dan seperti plot cerita dalam novel, pastilah ada sosok antagonis yang menghiasi kisah mereka; dan sosok itu adalah Shela. Inilah alasan mengapa banyak orang membencinya - dia selalu membully orang-orang yang lebih lemah, seperti Fiona, hanya karena perasaan cemburu yang menyelimuti hatinya.
Shela juga tidak memiliki bakat apapun, ia bodoh dalam segala hal. Itulah yang membuat dirinya selalu dihina oleh keluarganya terutama kakaknya, hal itu juga yang membuat mereka semakin membenci Shela. Tapi itu dari sisi mereka. Tanpa keluarganya ketahui, Shela merupakan anak yang pintar, di tempat lain ia juga sering berlatih bela diri dan juga alat musik. Ia sengaja tidak menunjukkan itu semua karena rasanya percuma mereka tidak akan menghargai apapun usahanya.
Setiap malam di dalam kamar ia selalu membaca buku, meski ia anak yang bermasalah tapi pendidikan penting baginya,meski di sekolah apa yang ia pelajari tidak ia tunjukkan. Ia tidak peduli jika orang-orang menganggapnya sebagai anak bodoh, yang ia inginkan bukan pujian dari orang-orang itu. Ia hanya ingin pujian dari keluarganya setidaknya salah satu dari keempat anggota keluarganya. Sayangnya semua itu tidak pernah Shela dapatkan.
Di sekolah, Shela dikenal sebagai gadis pemberontak yang selalu membuat keributan, dan selalu mengikuti Marvin,laki-laki yang menjadi pusat perhatiannya. Ia bahkan dijuluki 'Ratu Bully' karena siapa saja yang berani menyentuhnya pasti akan menjadi sasaran balas dendamnya.
Tak hanya itu, Shela juga sengaja memodifikasi seragam sekolahnya agar terlihat lebih pendek dan ketat, sementara wajahnya tak pernah lepas dari riasan make up tebal nan mencolok. Padahal, di balik topeng kegarangan dan penampilannya yang berlebihan, terselip paras wajah cantik yang sayangnya terkubur oleh make up tebal dan sifat buruknya.
Meskipun kerap menimbulkan masalah, ada batasan moral yang tidak pernah Shela langgar, seperti mengonsumsi alkohol atau pergi ke tempat hiburan malam. Ia sangat menentang tindakan-tindakan tersebut.
Shela punya alasan kuat mengapa ia memilih berdandan dan mengenakan pakaian yang mencolok seperti itu. Semua dilakukan demi menarik perhatian Marvin, dengan harapan pakaian ketat yang ia kenakan bisa memikat hati lelaki itu.
Sayangnya, itu hanyalah angan-angan semata. Marvin tidak pernah menaruh perhatian pada Shela, bahkan justru merasa jijik dengan sikap dan penampilan Shela yang terkesan seperti perempuan murahan. Gaya bicara menggemaskan yang dibuat-buat serta sifat manja yang terkesan berlebihan membuat Marvin merasa risih. Marvin bahkan tak segan untuk berkata keras pada Shela dan menyebutnya sebagai perempuan jalang, karena ia kerap menempel pada dirinya.
"Lepas, sialan! Apa gak bisa, satu hari aja lo gak nempel terus sama gue?" tegas Marvin sambil menatap tajam ke arah Shela.
Namun, bukannya gentar, Shela malah tertawa. "Ya, sebentar lagi juga pasti hati lo luluh, Kak. Lagipula, si cupu kan gak masuk hari ini, jadi gue mau memaksimalkan waktu berdua sama lo," ucap Shela sambil menggelayut pada lengan Marvin dengan gaya manja yang membuat Marvin makin muak.
Dari belakang, Dika - kakaknya, serta beberapa teman Marvin yang lain, menatap penuh sinisme ke arah Shela. Mereka sudah bosan mencoba menghalau Shela yang keras kepala itu.
Marvin melepaskan tangan Shela dengan kasar, lalu mendorong tubuh gadis itu, tidak terlalu keras namun cukup untuk membuat Shela terhuyung dan nyaris terjatuh. Shela memandang penuh amarah sambil menyeimbangkan tubuhnya, dan ia kembali mendekati Marvin dengan langkah penuh tekad.
"Jal*ang sialan! Lo punya kuping gak si?!" Sentak Marvin dengan suara melengking.
Dika yang melihat temannya mulai kehilangan kendali segera menarik kasar tangan adiknya, memutuskan tindakan Shela yang mulai kelewat batas. Dengan tatapan tajam, ia mencengkram pergelangan tangan Shela erat-erat.
"Pergi sialan!" ujar Dika dengan tenang, namun kata-katanya penuh penekanan.
Bibir Shela mengerucut, tak mampu menyembunyikan rasa sakit hati. "Abang, kok gitu sih? Aku kan cuma mau deket sama Kak Marvin. Emang salah ya?" gumamnya dengan suara tersedu. Terlihat betapa hatinya tersayat melihat keadaan ini, namun ia tetap mencoba membela diri.
Dika menatap adiknya dengan penuh jijik, kemudian menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar. "Jijik banget gue liat lo! Dasar perempuan murahan, kalo mau nempelin cowok, mending cari om-om buat perawatan muka lo yang jelek itu. Emang lo gak sadar diri apa, jadi cewek kayak gini gak ada yang mau sama lo!" Ujar Dika dengan nada yang penuh meremehkan.
Shela merasakan sakit di dadanya, mengatupkan jemarinya, membentuk tinju. Meski sudah terbiasa mendengar cacian dari kakaknya, tak bisa dipungkiri jika ia merasa terluka mendengarnya. Shela mencoba mengabaikan perasaannya, dan berjalan kembali menghampiri Marvin. Tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Marvin, membuat laki-laki itu terkesiap.
"Kalau lo enggak biarin gue deketin lo, gue bakal siksa cewek lo setiap hari. Lo tinggal pilih aja," bisik Shela dengan suara yang penuh ancaman. Gadis itu tersenyum miring, menatap Marvin yang tampak terkejut sebelum beranjak pergi.
Marvin memandangi sosok Shela yang perlahan menjauh, dengan tangan yang dibanjiri kemarahan, menggenggam erat, dan tekad membara di dalam hatinya.
Tak seperti biasanya, usai pulang sekolah Shela biasanya akan langsung menuju rumah dan mencari perhatian kakaknya. Namun, kali ini begitu berbeda. Setelah pulang sekolah, ia pergi ke tempat yang tak akan pernah terbayangkan oleh orang lain. Ya, tempat pelatihan bela diri, di mana tak ada seorang pun yang tahu tentang sisi lain dari kehidupan Shela.
Shela meletakkan tas sekolahnya di sebuah loker yang disediakan, lalu ia menuju ruang ganti untuk mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian bela diri. Meski belum mencapai sabuk tertinggi, namun kemampuan bela dirinya sangat memukau. Shela memang tidak berniat untuk mencapai sabuk tertinggi itu, ia hanya mengikuti kegiatan ini agar dapat melindungi diri sendiri dari bahaya.
Meskipun Shela dikenal sebagai sosok yang suka membully, ia tak pernah menggunakan ilmu bela dirinya untuk melampiaskannya. Ia sadar akan batasan, menyakiti fisik orang lain terlalu parah akan membuatnya tak ubahnya seperti pelaku kekerasan itu sendiri.
"Shel? Udah datang, ya?"
Shela yang baru selesai mengganti pakaian menoleh, hatinya berdebar saat melihat wajah temannya. Di tempat pelatihan inilah ia merasa bisa menjalani kehidupan yang lebih bebas, berinteraksi dengan orang lain tanpa segan.
"Menurut lo?" ujar Shela dengan nada sarkastik, matanya melotot ke temannya.
"Yeu, santai aja, Shel."
"Lagian basa-basi lo itu basi banget, Ren. Udah tau gue ada di sini, nanya lagi."
"Namanya juga basa-basi, Shela," sahut Rena sambil tertawa.
Shela hanya bergumam, seakan ia ingin menunjukkan kesalnya, tetapi pada akhirnya ikut tersenyum. "Gue duluan, ya." Tanpa menunggu jawaban temannya, ia melangkah lantang keluar dari ruang ganti menuju ke loker untuk menyimpan seragam sekolahnya. Sebelum berlatih, ia mengusap lembut wajahnya, menghapus jejak make-up tebal yang seolah mewakili sisi lain kehidupannya yang penuh kepura-puraan.
Dua jam berlalu sejak latihan, Shela bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya dan dengan cermat memoleskan make up tebal di wajahnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Namun, Shela tak merasa cemas jika harus pulang dalam kegelapan, karena dalam hatinya dia yakin, tak ada seorang pun yang akan peduli kepadanya. Bahkan, seandainya ia menghilang pun, mungkin orang-orang di rumah tak akan mempedulikannya.
Shela melajukan mobil yang diberikan oleh ayahnya. Meskipun ia bersyukur ayahnya masih mau menyekolahkan dan memberikan fasilitas, walaupun terkadang Shela merasa perlu mencari uang tambahan untuk memenuhi keinginannya. Jarak hati dan kesibukan ayahnya membuat Shela enggan untuk meminta apapun pada pria yang seharusnya menjadi sandaran hidupnya.
Begitu sampai di rumah, Shela langsung memarkir mobilnya di garasi dan melangkah masuk ke dalam rumahnya yang megah. Dari luar, orang-orang pasti akan menyangka hidupnya sempurna. Memiliki rumah mewah, harta yang melimpah, kakak-kakak tampan, dan ayah yang merupakan seorang pengusaha sukses. Namun sayangnya, itu semua hanyalah ilusi belaka. Kehidupan nyata Shela jauh berbeda dengan anggapan orang-orang.
Rumah mewah, kakak tampan, ayah pengusaha, dan segala yang dimilikinya seakan tak ada artinya tanpa kasih sayang yang seharusnya mengisi kehidupan keluarganya. Itulah yang Shela rasakan. Di depan keluarga dan banyak orang, Shela dikenal sebagai sosok yang mencari perhatian dan pemancing keributan. Namun, di balik semua itu, dalam kesendirian, Shela kerap kali terdiam dan menangisi takdir kehidupan yang diterimanya.
Shela mulai menaiki anak tangga pertama, melihat kakak ketiganya tengah berjalan turun. Begitu berpapasan, laki-laki itu menyenggol bahunya dengan keras, memperlihatkan ekspresi sinis yang terasa menusuk jantungnya.
Laki-laki itu berdecak kesal. "Jalan sambil lihat-lihat dong! Kayaknya sengaja banget kayaknya!"
"Apa sih, Kak? Kakak yang nyenggol aku dulu, kok aku yang disalahin?" Ujar Shela dengan nada sedih yang dibuat-buat, seperti biasa ia sedang mencari perhatian.
"Cih! Nyalahin gue lagi!" Dika menatapnya sinis, seolah-olah Shela adalah musuh terbesarnya, lalu melanjutkan langkahnya dengan emosi yang bergolak.
Shela menarik napas dalam-dalam, ia lelah sebenarnya menjalani hidup seperti ini. Tetapi, ia tak mau menyerah begitu saja. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian dan cinta yang ia dambakan dari keluarganya.
Masuk kedalam kamar, ia mengunci pintu kamarnya. Di simpannya tas di atas kursi, ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhyyang terasa lengket karena keringat.
____
"Eh, Non baru turun, ya? Baru saja Mbok mau beresin makanannya," ujar Mbok Inah, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah Shela. Wajah Shela tampak cemberut; lagi-lagi kakak-kakaknya makan malam tanpa mengajaknya.
"Jangan dulu dibersihin, Mbok. Aku mau makan."
Mbok Inah mengangguk, dan wanita paruh baya itu segera menuju dapur untuk mengambilkan piring. Sementara itu, Shela duduk di salah satu kursi di meja makan, memandangi hidangan makan malam dengan sedikit kecewa.
"Ini, Non. Piringnya," kata Mbok Inah sambil meletakkan piring di depan Shela.
"Udah makan, Mbok?" tanya Shela, mencoba meredakan kekecewaannya.
"Ah, Mbok jarang makan malam. Kalau lapar nanti juga makan sendiri, Non," jawab Mbok Inah dengan senyum ramah yang selalu membuat Shela merasa lebih tenang.
Shela menatap sekelilingnya, memastikan tidak ada kakak-kakaknya di dekatnya. Dengan hati berdebar, ia kembali menatap Mbok Inah.
"Makan bareng aku, yuk, Mbok. Gak enak kalau makan sendiri," ucap Shela penuh harap.
Mbok Inah segera menggelengkan kepalanya, seraya menjawab, "Gak usah, Non."
Shela mengerucutkan bibirnya, menunjukkan betapa kecewanya. "Yah, yaudah deh, Mbok. Kalau gak mau makan, duduk aja temenin aku. Gak enak tau makan sendirian."
Mbok Inah terdiam sejenak, seolah sedang berpikir keras. Lalu, detik berikutnya, ia mengangguk lemah. "Yowes, Mbok temenin. Tapi gak apa-apa toh kalau Mbok duduk?"
"Gak apa-apa, Mbok. Cuma duduk doang kok," sahut Shela dengan tulus.
Mbok Inah lalu duduk di samping Shela, sambil menatap gadis itu mengambil nasi serta lauk ke atas piringnya.
"Aku makan ya, Mbok," ucap Shela dengan senyum lebar.
"Iya, Non," jawab Mbok Inah sambil tersenyum, menyaksikan gadis itu menikmati makanannya.
Shela mulai menyantap makanan dihadapannya. Meski sendiri setidaknya ada mbok Inah yang menemani. Hanya wanita paruh baya itu yang bisa Shela ajak komunikasi sewajarnya.
"Gimana sekolahnya, Non?" tiba-tiba Mbok Inah mengajukan pertanyaan di tengah kesibukan Shela menyantap hidangannya.
Shela terkejut, hatinya berdebar. Ini pertama kalinya ada orang yang menanyakan hal semacam ini kepadanya. Meski sudah lama bekerja di rumahnya, sebelumnya Mbok Inah dan dirinya hanya berinteraksi seperlunya. Dalam hati Shela merasa hangat, ada semacam kebersamaan yang selama ini ia rindukan.
"Gitu-gitu aja, Mbok, membosankan." Shela menghela napas, merasa lega bisa mengungkapkan isi hatinya.
Mbok Inah tersenyum kecil, lalu memberi semangat. "Belajar yang rajin ya, Non. Supaya sudah lulus nanti bisa masuk kampus yang bagus dan jadi orang sukses kayak Bapak."
Shela tersenyum getir, ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. "Aku gak mau kayak Ayah." ujarnya lirih.
Senyum Mbok Inah memudar, kekhawatirannya muncul saat mendengar ucapan Shela yang penuh duka. "Loh, kenapa? Bapak hebat loh, Non."
"Aku gak mau jadi orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sementara anaknya merasa terabaikan," Shela menundukkan kepala, tangannya bergetar saat menggenggam sendok. "Aku pengin lebih dari itu, Mbok."
Dalam diam yang menyelimuti ruangan, Shela kembali melanjutkan makan malamnya yang kian terasa pahit. Setiap gigitan membawa pertanyaan dan rasa penasarannya tentang hidup yang diidamkan.
Mbok Inah menatap prihatin Shela, wanita itu tau bagaimana keadaan keluarga majikannya itu. Ia juga tahu jika Shela sebenarnya anak yang baik,hanya saja kurangnya kasih sayang dan didikan membuat gadis itu menjadi gadis yang sedikit kasar dan selalu cari perhatian.
"Aku udah selesai,mbok."
Mbok Inah bangkit lalu segera merapihkan meja makan.
"Aku ke atas ya mbok."
"Iya,non."
Shela kembali melangkahkan kaki ke dalam kamar, dia kembali mengunci pintu kamarnya. Shela duduk di meja belajar dan mulai membuka buku pelajaran, rutinitas yang selalu ia lakukan sebelum tidur.
Di tengah kesibukan belajar, matanya tertuju pada tumpukan buku tugas yang tak kunjung ia kumpulkan. Betapa giat Shela menyelesaikan setiap tugasan, namun tak pernah berkeinginan mengumpulkannya. Sebab, di benaknya, tindakan itu akan membawa harapan agar pihak sekolah memanggil ayahnya. Membayangkan sang ayah yang akhirnya berkenan menemuinya, memberi nasihat, membuat Shela berbunga-bunga.
Namun, impian itu ternyata tak pernah menjadi kenyataan. Sebab ayahnya tak pernah hadir. Bukannya sosok yang ia rindukan, yang datang hanyalah seorang suruhan ayahnya - membenahi masalah hanya dengan lembaran uang. Shela terdiam, menahan pilu, karena nyatanya segala harapannya hanya mampu bertahan dalam angan-angan.
Diujung koridor dekat kantin sekolah, terdengar suara teriakan bersamaan dengan suara tawa menggelegar yang diyakini dari seorang perempuan. Di susul dengan suara rintihan serta permohonan maaf berasal dari suara perempuan juga.
Tiga orang perempuan itu tengah tertawa bersama sambil menatap sinis ke arah korban yang merupakan seorang perempuan yang terisak pilu dengan seluruh permukaan rambutnya telah di penuhi dengan tepung dan telur busuk, membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung menutup hidung sekaligus iba.
Masih dengan tawanya yang terdengar sadis, Shela maju ke depan menghampiri korbannya. Dengan hentakan yang keras, tangannya menarik rambut korbannya, membuat gadis malang itu meringis dengan air mata yang terus mengalir.
Shela menatap gadis malang itu dengan pandangan meremehkan. Tangan satunya lagi terjulur mencengkram dagu gadis gue, wajah gadis yang masih menjadi korbannya itu masih mulus, seperti prinsipnya meski ia suka membully dia tidak akan terlalu menyakiti fisik korbannya. Shela mendekatkan bibir merahnya ke telinga gadis itu.
"Biar gue perjelas lagi," ucap Shela penuh penekanan." Lo, bukan siapa-siapa Marvin. Dan lo gak usah sok cari perhatian dia. Kalau sekali lagi gue liat lo deketin Marvin, gue dan temen-temen gue akan ngelakuin hal yang lebih parah dari ini. Ngerti lo?!" Shela menghempaskan kepala gadis itu dengan keras membuat kepala gadis itu terhantuk ke dinding sehingga menyebabkan gadis itu pingsan. Hal itu jelas membuat Shela terkejut, ia tidak berniat membuat gadis itu pingsan.
Shela menatap gadis itu,lalu menyuruh temannya itu untuk membawa gadis itu ke gudang dan membaringkan gadis itu diatas matras yang sudah agak rusak.
"Kita tinggalin aja di sini, semoga nanti ada yang nemuin dia," ujar Shela pada kedua temannya.
Kedua gadis di belakang Shela mengangguk,lalu ketiganya pergi meninggalkan tempat itu.
Shela lalu melangkah menuju parkiran dimana mobilnya terparkir, sebelum masuk dia melemparkan sisa tepung ke temoat sampah di dekatnya.
" Gue balik duluan," ujarnya pad skedua gadis itu. Shela sebenarnya tidak punya teman dan dua orang itu hanyalah suruhannya saja. Ia tahu kedua gadis itu mau berteman dengannya hanya karena harta dan juga takut dibully, makanya mereka akan menurut setiap kali dia perintahkan. Shela tidak peduli, karena yang dia mau bukanlah perhatian dari orang lain atau teman, dia hanya butuh perhatian keluarganya.
____
Di dalam sebuah ruangan, seorang laki-laki sibuk dengan setumpuk kertas-kertas yang berserakan. Dengan dahi berkerut dan mata yang fokus pada lembaran kertas itu, Narendra masih menggerakkan pulpennya untuk menulis sesuatu.
Dua hari Dion menjabat sebagai ketua OSIS, tapi tugasnya sudah menumpuk saja. Waktu istirahatnya tersita banyak akibat tugas-tugas itu. Bukan hanya tugas dari OSIS,tugasnya di kelas pun sudah menumpuk. Untungnya tugas di kelas selalu diberikan tenggat waktu yang cukup lama sehingga dia bisa menyelesaikannya dengan tenang tanpa perlu terburu-buru.
"Yon, masih lama kah? Sini gue bantuin deh," tawar Faris yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya.
Dion mendongak lantas menggeleng." Gak usah, bentar lagi gue juga selesai."
Faris hanya bisa mendengus dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya melipat tangan di depan dada. Ia memperhatikan temannya yang sedang fokus ke tumpukan kertas dan laptop di hadapannya. Faris sudah mengenal Naren dari mereka SMP, dama seperti Elang temannya yang lain. Dia sudah hafal bagaimana Dion, laki-laki selalu menyelesaikan masalahnya sendiri, lebih tepatnya memaksakan diri untuk menyelesaikan masalah sendiri. Padahal dia bisa saja meminta bantuan kepadanya atau pada Elang.
Sebenarnya Dion tidak bermaksud untuk membuat Faris merasa tertolak. Ia hanya tidak ingin merepotkan temannya itu. Malah Dion merasa senang bisa memiliki sahabat seperti Faris dan Elang yang senantiasa membantu dirinya.
" Eh curut, gue cariin lo kemana-mana, taunya di sini."
Suara seseorang membuat Dion dan Faris menoleh. Ia mendapati Elang yang tengah berjalan menghampiri mereka dengan sepiring batagor yang baru saja di beli di kantin.
" Lo di cariin pak Bagas. Katanya ada hal penting yang mau diomongin," ujar Elang memberi tahu amanah yang diberikan pak Bagas pada Faris.
"Mau ngomong apa?"
Elang mengedikkan bahunya." Mana gue tau, lo kan sekretaris OSIS, jadi mungkin pak Bagas perlu bantuan lo," jawab Elang dengan mulut yang penuh dengan batagor.
Gadis berdecak. Elah, mau ngapain si?! Mentang-mentang gue sekretaris OSIS, gue Mulu yang di suruh perasan." Faris mendengus kesal seraya mengacak rambutnya. Pasalnya tadi Faris udah beberapa kali naik turun tangga ke lantai satu dan tiga hanya untuk mengantar buku-buku kelas siswa lain yang baru diperiksa oleh pak Bagas. Padahal di OSIS yang jadi sekretaris bukan hanya dirinya, ada juga Rosa. Tapi kenapa Pak Bagas selalu menyuruhnya.
"Kenapa si marah-marah mulu? Lagi PMS lo?" tanya Elang merasa geram dengan Faris yang marah-marah.
"Gak liat gue lagi kesel ini. Sini jadi gue Langsung, biar Lo tau kenapa gue marah-marah mulu."
"Ogah, lagian suruh siapa lo jadi OSIS."
Lalu setelahnya hening beberapa saat. Dion masih sibuk dengan setumpuk kertas dan juga laptop, Elang sibuk memakan batagornya dan Faris sibuk memainkan ponselnya.
"Gila!!!"
Teriakan Faris itu membuat Dion dan Elang tersentak kaget. Bahkan Elang langsung tersedak karena saking terkejutnya.
"Sialan lo, Ris! Untung gue cuma kesedak bumbu kacangnya doang, coba kalau batagornya gimana? Bisa mati gue," protes Elang sambil menatap garang ke arah Faris.
" Lebay banget- aw!!" Faris meringis ketika sebuah benda keras mengenai dahinya, dia lalu menatap sang pelaku yang melempar benda itu, yang tak lain adalah Elang.
"Apa? Mau gue lempar lagi?!" tantang Elang.
"Ck! Lo pada ngapain si?" lerai Dion sambil menatap Faris dan Elang bergantian. " Lo juga kenapa teriak-teriak? Udah tau ini ruang OSIS."
Dion merapihkan lembaran kertas di depannya,dia lakukan menghampiri Faris untuk melihat penyebab laki-laki itu teriak tadi.
"Nih,Yon liat! Seksi banget ya? Cantik pula."
Dion menggelengkan kepalanya,ia kira ada apa. Ia menatap bosan ke arah ponsel Faris yang menunjukkan foto seorang gadis dengan pakaian cukup minim di sosial media.
"Bener-bener nih cewek," ucap Faris sambil terus memandang foto di layar ponselnya.
"Siapa sih? Shela ya?" Elang yang mulai penasaran mendekat.
"Kepo!" Faris sambil menjauhkan ponselnya.
"Elah, pelit amat si lo,"cibir elang." Liat!"
Pada akhirnya Faris dan Elang kembali ribut, hanya karena sebuah foto perempuan berpakaian seksi di ponsel.
Dion yang jengah dengan tingkah kedua temannya memilih bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Ia berniat mengambil proposal yang tertinggal di kelasnya.
"Mau kemana, Yon?"
"Kelas," jawab Dion yang kemudian keluar dan menutup kembali pintu ruangan itu.
Dio berjalan santai di koridor. Sesekali dia tersenyum dan membalas sapaan murid-murid yang mengenalnya. Saat akan belok menuju tangga, Indra pendengarannya menangkap suara di ujung koridor dekat gudang sekolah. Dion menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara itu. Ujung koridor itu begitu sepi, bahkan belokan di koridor tempat Dion berpijak sekarang tidak ada satupun siswa atau siswa yang berlalu lalang.
Dahi Dion mengernyit saat mendengar suara tawa seseorang disusul dengan suara tangisan yang Dion tebak berasal dari seorang perempuan. Karena penasaran, Dia berjalan mendekati hingga langkahnya terhenti di balik loker. Dari situ Dion dapat mendengar suara yang begitu jelas.
" Masih mau lo deketin Marvin, hah?!"
"Eng-nggak kak, a-aku gak deketin kak Marvin. Aku cuma di suruh guru buat manggil dia ke kantor."
Shela tertawa sinis." Gak usah ngeles lo!" Gue tau maksud Lo itu mau deketin dia kan?!"
Shela jengah mendengar rintihan yang terdengar berlebihan di telinganya, dia hendak menyiram gadis yang terduduk di lantai itu dengan air bekas pelan di tangannya. Ia menghentikan pergerakannya ketika seseorang muncul dan menahan tangannya.
Shela berbalik lalu menatap laki-laki asing di belakangnya. Ia menepis kasar tangan laki-laki itu.
"Siapa lo?! Ini urusan gue, lo orang asing jadi gak berhak ikut campur!"
"Gue berhak ikut campur, gue ketua OSIS, jelas tindakan ko ini melanggar peraturan sekolah."
Shela tersenyum miring, dia mendekatkan diri sehingga jarak diantara keduanya begitu dekat." Terus apa yang akan lo lakuin dengan jabatan Lo itu? Hukum gue?" Shela tertawa kecil.
"Jelas gue akan hukum lo!" Ucap Dion dengan nada sinis, dia menatap Shela dari bawah ke atas.
" Lo udah banyak melanggar peraturan, selain tindakan ko juga penampilan lo jelas tidak sesuai peraturan. Jangankan di hukum, lo udah pasti kena SP atau mungkin bisa di drop out dari sekolah ini.
Shela tekekeh geli, seakan apa yang dikatakan Dion adalah lelucon baginya." Gue udah biasa dihukum, tapi gak ada satupun guru yang berani keluarin gue dari sekolah ini. Sedangkan lo.." ia berdecih lalu menatap remeh Dion."... Lo cuma ketua OSIS yang gak guna, orang kayak lo gak mungkin bisa ngeluarin gue dari sekolah ini "
Dion memperhatikan wajah gadis itu, ia baru menyadari jika gadis ini adalah gadis yang sama dengan foto yang ditunjukkan Faris tadi.
"Oke, gue akan pastiin Lo dihukum seberat-beratnya supaya Lo kapok!"
"Silahkan,gue gak takut," ujar Shela meremehkan. Ia berbalik kembali menghadap ke arah gadis yang kini sudah berdiri. Dia menyuruh gadis itu pergi." Pergi! Jangan pernah deket-deket Marvin lagi, kalau sampai gue liat Lo sama Marvin lagi, gue akan lakuin hal yang lebih gila dari ini!" Ancam Shela.
Shela berbalik, ketika berpapasan dengan Dion dengan sengaja dia menabrak bahu laki-laki itu dengan keras. Lalu pergi begitu saja.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!