Indonesia
NovelToon NovelToon

AKU TALAK SUAMI-MU!

Prolog

Dalam heningnya gelap malam, mata Adira terpejam, merasakan betapa tenangnya hidup tanpa keributan. Tak ada siapapun yang mengganggunya lagi seperti dahulu. Ada tersempil rasa rindu hangat di masa lalu, namun Adira enggan kembali merasakan hal itu.

Tak ada lagi tawa hangat dari seorang sahabat dan tidak ada lelucon penghibur hati agar lebih semangat. Bagi Adira yang saat ini, itu bukanlah masalah. Namun dia masih tidak habis pikir dengan manusia yang dengan tega menodai sesuatu yang sakral dengan alasan konyol, Khilaf.

Haha..

Adira tidak bisa memungkiri jika masa lalu sangat sulit untuk di lupakan dan maafkan. Walaupun hidupnya kini sudah berangsur membaik, juga mendapatkan apa yang selama ini dia impikan. Rasa trauma terhadap sikap manusia yang tidak bisa bertanggung jawab atas kepercayaan itu membuat Adira yang sekarang bersifat keras.

"Pecat!" Ujar Adira pagi tadi di kantornya tanpa melirik sedikit pun pada karyawannya yang ternyata berselingkuh dan vidio mesumnya beredar di internet.

"Cuih! Perempuan tolol! Bukankah pekerjaan yang aku handle selama ini selalu tepat waktu dan bersih? Hanya karena aku berselingkuh lantaran khilaf, kau seenaknya me-mecat aku!" lelaki itu tidak terima.

"Aturan dan Larangan yang tertera di kontrak kerja jelas. Dan anda sudah menyetujui hal tersebut secara sadar. Tidak ada kata khilaf dalam kesalahan. Karena saya tidak akan memaklumi hal tersebut." beberapa karyawan perempuan menatap Adira dengan kagum pada ketegasan yang bos mereka tunjukkan, tak ada rasa gentar pada wanita itu.

"Halah! Bilang saja kau itu trauma dan sakit hati bukan? karena sudah di khianati oleh suamimu! Pantas saja dia berkhianat, kau keras kepala dan merasa benar sendiri!" Lelaki bernama Dimas itu lalu mengacak-acak meja restoran dengan menyiramkan air sirup.

"Fisikmu terlihat seperti lonte!"

"Tubuh Mira dan parasnya lebih cantik daripada kau!"

Dan perkataan Dimas itu membuat Adira terus-menerus merasa tidak nyaman. Kembali mempertanyakan dirinya di masa lalu. Perkataan itu teringat hingga malam hari.

Bahkan di saat butuh penenang, Adira hanya dapat memeluk dirinya. Lalu mengatur nafas. Semua orang hanya boleh tau jika Adira yang sekarang adalah wanita kuat seperti ratu Balqis.

"Aku yang menceraikannya." Satu kepuasan yang terus Adira banggakan dalam hidupnya. Yang membuat dirinya tetap kuat dengan tekad.

"Aku tidak butuh lelaki!"

...*...

...*...

...*...

7 Tahun sebelumnya... >>

"Kamu beneran mau jadi pacar aku Dira?" tanya seorang lelaki berperawakan tinggi dan memiliki kulit coklat bersih.

Adira menodongkan sedikit kepalanya menatap yakin pada Yovan. Dia sudah lama merasa nyaman dengan perlakuan dan sikap lelaki ini. Walaupun hanya melalui chatting, juga telfon Yovan mampu mengimbangi segala hal random yang Adira utarakan. Gadis itu merasa Yovan sangat mengerti tentang dirinya dan memahami Adira. Juga menerima Adira apa adanya.

"Iya Van, aku mau jadi pacar kamu!" Sorot mata Adira berbinar-binar dan gadis itu menunjukkannya tanpa malu. Membuat Yovan semakin merasa jatuh cinta pada Adira.

Lalu perlahan Yovan melangkah maju dan memeluk gadis itu. Untung saja taman di komplek perumahan ini selalu sepi.

Dalam hangat dekapan itu Adira yang ceria dan penuh kasih langsung membayangkan sebuah pernikahan. Padahal mereka baru saja berpacaran. Aneh bukan? Tapi itulah perempuan. Baru di puji cantik saja mereka bisa langsung kepedean.

Perlu di akui jika memang benar perempuan itu lemah, pada perasaanya. Bukan fisik. Dan perempuan lemah rasa itu adalah ADIRA.

Akankah Adira bahagia bersama Yovan?

BAB

•Baru jadian udah LDR

Setelah resmi berpacaran dengan Yovan hidup Adira dan kebiasaannya berubah. Biasanya Adira bangun tidur hanya akan melamun, kini ia harus membuka aplikasi chat untuk mengabari kekasihnya. Jika Adira akan keluar atau melakukan apapun itu, harus memberitahu Yovan. Awalnya semua itu terasa mudah bagi Adira. Toh, hanya tinggal mengetik dan mengabari saja.

Hingga akhirnya hal yang sepele itu menjadi ujian untuk hubungannya.

Di karenakan Yovan yang semula tinggal di rumah sodaranya harus kembali pulang ke Jakarta, tempat tinggal orangtuanya. Karena kerja sama pekerjaan Yovan dan sepupunya, Rain sudah selesai. Alhasil, mereka berdua pun menjalani hubungan jarak jauh, yaitu, LDR.

"Kabarin aku terus ya Sayang dan jaga diri.." Ucap Yovan saat berpamitan pada Adira di depan rumah gadis itu. Karena Yovan pergi mengendarai sepeda motor.

Adira menahan rasa sedih namun menahan air matanya, karena sejujurnya dia lebih merasa kesal dengan keadaan ini. Karena baru saja pacaran dua hari masa sudah harus berjarak jauh. "Iya Sayang, hati-hati. Kabarin aku juga."

Padahal Adira mendambakan hubungan yang bisa bertemu secara rutin dan berkembang dalam berbagai hal bersama. Tapi itu hanyalah mimpi Adira.

Lalu Yovan pun melajukan motornya dan pergi menjauh dari pandangan mata Adira. Mereka berdua sebenarnya sama-sama berat untuk menerima kondisi ini. Tetapi, Yovan yang bekerja sebagai freelance, walaupun bisa dimana saja. Dia tetap harus kembali ke rumahnya. Karena sang ibu yang terus rewel.

"Dih, Dira! Gitu amat sih liatin si Yovan pergi, kayak pacar kamu aja! Inget Dir, si Yovan itu udah ada ceweknya." Suara sahabat sekaligus anak angkat orangtua Dira terdengar dari arah depan. Mendengar ucapan itu Adira hanya memutar bola matanya malas. Dan segera masuk ke dalam rumah minimalis dengan dua lantai meninggalkan Mira yang berlari kecil menyusulnya.

Di dalam kamar pun Mira mengekori Adira. Padahal gadis itu disediakan kamar sendiri oleh orangtua Adira. Jelas Adira tau, Mira pasti akan mengoceh tentang lelaki atau pacarnya.

Mira naik ke atas ranjang dan tidur terlentang di samping Adira yang tengkurap.

"Dir, gimana ya caranya luluhin hati Mas Rain? Padahal mantanku dari SMA itu semuanya mudah lhoo di gaet!"

Adira yang sedang men-chat Yovan pun mengerutkan dahinya. "Kamu bukan typenya, Mas Rain kali."

PLAKK

Mira menepuk pantat Adira. Karena tidak terima dengan perkataan saudaranya itu. Lantaran dari segi fisik tentu saja Mira sangat cantik seperti artis. Kulit putih mulus, hidung kecil, bibir pink alami. Dan rambutnya hitam lurus sepunggung. Dia juga sangat modis. Belum lagi dadanya berisi dan ukurannya cukup menggoda, pinggul membahana. Apa yang kurang?

"Apa mungkin Mas Rain sukanya cewek kurus kerempeng ya?" Tebak Mira.

Jelas saja Adira tertawa mendengar hal itu.

"Kamu itu Mir, dari kecil ngejer Mas Rain. Gak capek apa? Padahal udah banyak cowok yang kamu pacarin. Masih aja setiap jadi jomblo baliknya ke Mas Rain."

Mira bangkit dari kasur lalu berdiri di depan cermin tinggi. Mengetatkan pakaiannya, membuat lekuk tubuhnya tercetak dengan indah di balik balutan daster selutut yang dia kenakan.

Melirik sekilas membuat Adira tak habis pikir dengan saudara angkatnya itu. Yang selalu ingin meraih Mas Rain yang sikapnya seperti es kulkul, dengan kasta yang sangat tidak mungkin untuk Mira gapai. Ya mungkin saja di gapai, kan jodoh tidak ada yang tau. Tapi masalahnya Mira bergonta-ganti pacar dan itu di ketahui oleh Mas Rain. Yang kebiasaannya bersih dan higienis setau Adira.

Menurut pemikiran Adira, pasti Mas Rain tidak suka dengan gaya hubungan yang Mira jalani selama ini.

"Dir.."

Adira tak menoleh dan sibuk dengan sharelok live yang di kirim oleh Yovan. Pacarnya itu bilang jika dia tidak ingin Adira merasa khawatir, makanya lelaki itu mengirimkan lokasinya. Tentu Adira merasa sangat senang.

"Dir.. " Panggil Mira lagi.

"Hm.. Iya?"

"Aku pernah bilangkan ke kamu, kalau Yovan itu dekat sama Olif."

Mendengar perkataan itu lagi membuat perasaan Adira tidak enak. Dari awal dia berkenalan dengan Yovan, selalu saja Mira mengatakan jika lelaki itu dekat dengan seseorang bernama Olif. Awalnya Adira percaya, namun setelah mengetahui kebenarannya dari Yovan. Bahwa Olif sudah bertunangan dan mereka hanya sebatas dekat sebagai teman. Tentu saja Adira tak lagi mendengarkan ucapan Mira.

Dan, tentang hubungan Yovan dan Adira sedari awal, Adira tidak memberitahukan hal itu pada Mira. Bukan karena tidak ingin, tapi entah kenapa Adira malas untuk di komentari atau membahas hubungan pribadinya itu.

"Iya kamu sering bilang hal itu, kenapa?"

"Aku sebenarnya gak suka sama Olif, kemarin itu pas dia dateng ke kafe, Mas Rain senyum sama dia. Padahalkan dia udah deket sama Yovan!"

"Lhoo kan mereka udah kenal dari kecil Mir, kenapa kamu harus engga suka?" Jelas saja Adira lebih tau tentang hubungan ketiga orang itu karena Yovan menjelaskan. Sedangkan Mira, mengambil kesimpulan dari apa yang dia ingin simpulkan saja.

"Astaga! Dir, kamu gausah kepolosan deh.. Mas Rain sama Yovan itu orang kaya. Pasti si Olif itu mau nguasain mereka berdua. Dan aku ga rela."

Deg, perasaan Adira menjadi tidak enak ketika Mira mengatakan hal itu. "Kamu mau deketin Mas Yovan?" tanya Adira ragu. Takut jawaban Mira membuatnya merasa tidak nyaman.

"Enggak! Aku sukanya sama Mas Rain! Aku harus bikin Olif sama Yovan jadian. Biar cewek itu gak ganggu Mas Rain lagi."

Perasaan lega terasa di dada Adira. Namun dia tak habis pikir dengan tujuan Mira ingin menyatukan Yovan dengan Olif.

"Buat apa kamu lakuin hal itu? Toh kita kan gak tau hubungan pribadi mereka gimana. Dan juga hidup mereka seperti apa."

"Ish kamu tuh ya Dir! Gak umur 17, enggak sekarang udah 19 tahun. Masih aja lugu. Cowok cewek itu gak ada sejarahnya murni temenan. Makanya aku gak akan biarin Olif bikin Mas Rain jatuh hati."

"Yaudah kamu tunjukin aja dong kehebatan dan keunggulan kamu. Bukan malah mau nyomblangin orang." Jelas saja Adira akan berusaha agar Mira tidak mengusik ketenangan Yovan dan dirinya.

"Ouh jelas dong, dari segi fisik aja aku menang. Olif itu badannya flat walaupun berisi. Juga kulitnya agak coklat. Gak selevel sama aku. Dia cuma menang karena udah lama kenal aja sama Mas Rain. Dan juga karna si Yovan tuh."

Sebenarnya Adira merasa aneh dengan sifat Mira yang selalu merasa hebat dan tidak tertandingi oleh siapapun. Seolah semua lelaki di muka bumi ini akan bersujud tersungkur di kakinya untuk mengemis cinta. Padahal itu kan hanya masalah tipe saja.

"Iya Mir, gimana kamu aja deh." -asal jangan ganggu Yovan dan aku. Lanjut Amira dalam hatinya.

BAB

• Percikan api

Beberapa bulan berlalu tanpa terasa. Entah kenapa Adira mulai merasakan percik api di hubungannya dengan Yovan. Bukan karena adanya indikasi orang ketiga. Melainkan sikap Yovan yang semakin hari selalu saja meminta kabar Adira secara berlebihan.

Misalnya seperti saat ini, Adira tengah menemani Mamanya untuk belanja di supermarket. Dan sudah mengabari pada Yovan. Bahkan juga memvideokan momen itu dengan jelas. Namun seperti tidak pernah puas, Yovan meminta setiap detail tempat yang Adira singgahi. Kemana saja, melakukan apa saja. Setiap menit cek hpnya. Padahal sebelumnya Adira tidak seperti itu. Hingga membuat Mamanya pun kesal.

"Kamu tuh kalo lagi diluar bisa gak sih jangan hape mulu!" tegur Mama saat dia sedang menanyakan bahan apa saja yang habis dan malah tidak di gubris Adira yang sibuk mengetik chat.

Adira hanya bisa terdiam dan bingung harus bersikap seperti apa saat ini. Dia tidak bisa mmengabaikan Yovan, dan juga merasa bersalah pada Mamanya.

Karena sudah merasa kesal mamanya pun mengajak Adira untuk pulang.

Benar saja, setibanya di rumah, Adira langsung di tegur habis-habisan. Padahal belum duduk atau pun menaruh barang belanjaannya.

"Kamu Mama perhatikan selalu aja sibuk sama hape. Anak-anak jaman sekarang gatau waktu dan tempat! Kalo kamu mau main hape, udah di rumah aja jangan ikut lagi sama Mama."

Tak lama kemudian Mira datang dengan wajahnya yang di lumuri masker. "Ada apa Ma? Siang-siang kok ribut sih.."

"Itu tuh adek kamu, sibuk aja main hape di jalan, lagi belanja, gatau waktu banget.."

Adira hanya diam saja. Dia sadar perbuatannya salah dan pantas untuk di tegur.

Kling!

Kling!

Suara notifikasi hape Adira berbunyi berturut-turut, membuat Mama dan Mira langsung menatap Adira dengan sinis.

Mental Adira seketika menciut dan rasanya ingin kabur dari situasi yang mencekam ini. Merasa sangat serba salah. Ingin bergerak dan membuka notifikasi itu tapi takut makin di tegur. Tapi, jika tidak di buka suara notifikasi itu makin menjadi. Akhirnya Adira memencet tombol power dengan jempolnya dengan cukup lama. Hingga akhirnya hape nya pun mati.

-saat ini lebih baik menenangkan suasana hati Mama, maaf mas Yovan. Ucap Adira dalam hatinya. Dia harus menenangkan sang Mama yang ada di hadapannya ini. Dan memikirkan cara mengatakan permasalahan ini dengan Yovan agar tidak membludak menjadi sebuah pertengkaran. Karena sudah pasti nanti saat Adira menghidupkan kembali hapenya. Maka sudah di pastikan pesan dari Yovan akan menumpuk dan penuh tanya juga tuduhan yang berlandaskan overthinking.

"Tuh baru aja di bilangin, hapenya langsung bersisik!" Ujar Mamanya kesal. Lagipula orangtua mana yang senang melihat anaknya sibuk dengan hape padahal tengah berbelanja?

"Udah Ma.. Palingan Adira itu lagi koordinasi urusan dancenya sama temen-temen kpopnya. Lain kali jangan sampai bablas kayak gitu ya Dira, kalo lagi temenin Mama ya prioritasin dulu aja orangtua." Untung saja Mira menengahi. Jika tidak, maka perkataan lebih pedas kemungkinan akan Adira terima.

Mamanya yang sudah kepala empat itu pun membuang nafas panjang. "Intinya kamu itu pegang hape harus tau waktu dan tempat!"

"Iya ma.." Adira menundukkan kepalanya. Dari kecil sampai sudah berusia sembilan belas tahun, masih saja dia terkena teguran dari Mamanya itu. Membuat Adira merasa malu. Walaupun dia sadar ini kesalahannya.

Lalu Mamanya pun pergi ke kamarnya. Meninggalkan Adira dan Mira berdua.

"Tumben banget hape kamu notifnya se-brisik itu? Kayak yang udah punya pacar.."

Adira terdiam, benar dia di selamatkan oleh Mira. Tapi kini dia akan di interogasi oleh kakak angkatnya itu.

"Kenapa diem? Sini hape-nya kalo gitu."

Adira segera menggelengkan kepalanya. "Enggak Mir, itu cuma notifikasi dari grup dance aku. Makasih ya kamu udah bantuin aku buat jelasin ke Mama. Beneran deh aku kalo udah di omelin Mama kayak tadi, gak tau mau jawab apa."

Mata Mira mengicing, mencoba melihat raut kebohongan di wajah Adira yang polos. Tentu saja tidak dia temukan. "Hm.. Lagian kamu sih, padahal tinggal jelasin aja lagi apa ke Mama. Daripada diem kayak tadi, kalo aku gak bantuin tadi gimana hayo? Kamu pasti udah denger kata-kata kasar dari mulut Mama."

Adira membuang nafas gundah, masalah dengan Mamanya sudah usai karena di lerai oleh Mira. Tinggal masalahnya dengan Yovan yang mungkin harus melalui perdebatan yang cukup panjang jika Adira tidak mengatakannya to the poin. Seperti apa yang barusan Mira katakan.

Tapi, bukan Adira namanya jika bisa langsung to the poin seperti itu.

"Dari pada ngelamun, mending sana ke kamar istirahat. Biar aku yang rapihin barang belanjaannya. Inget Dira, kamu harus bisa sesuatu itu dengan to the poin. Biar orang gak salah paham. Dan masalah enggak menjalar kemana-mana."

Adira pun menuju ke kamarnya sambil terus terngiang-ngiang perkataan Mira.

Di dalam kamar, Adira menatap layar hapenya yang hitam karena mati. Dia merasa belum siap untuk melihat pesan panjang yang Yovan kirimkan. Jujur saja, Adira tidak pandai memahami perasaan yang di ungkapkan. Apalagi jika Yovan sudah menegurnya tentang sikap dan kabar. sel-sel saraf otak Adira sulit untuk mencerna itu.

Tapi benar perkataan Mira lebih baik untuk menghadapi masalah itu. Jadilah Adira menghidupkan kembali hapenya.

Notifikasi langsung berbunyi tak beraturan, layar hape Adira sampai kaku karena banyaknya pesan dan juga misscal yang datang dari Yovan.

"Aku benci harus ada masalah begini!" Adira sudah panik duluan sebelum sempat membaca pesan itu. Emosinya justru malah naik dan ingin sekali memaki Yovan yang tidak paham situasi nya saat ini.

Nafas Adira mulai tak beraturan naik turun, dia memejamkan matanya belum siap untuk bersabar. Adira tak ingin memperkeruh keadaan. Tapi suara notifikasi tak kunjung berhenti. Amira tak bisa menangis, dirinya makin geram.

Lalu dengan emosi yang meledak-ledak, Adira membaca pesan Yovan. Betapa khawatirnya lelaki itu, dan mempertanyakan keadaan Adira. Lalu juga sedikit bercanda(?) menuduh Adira bersama lelaki lain.

Dari panjangnya dan banyaknya pesan itu, Adira sadar bahwa Yovan tidak menyalahkan ataupun memakinya. Lelaki itu mengutarakan kekhawatiran. Tetapi Adira terlanjur merasa kesal. Karena secara tidak langsung, karena ulah Yovan, dirinya malah di omelin oleh Mamanya.

Awalnya Adira memaksakan diri untuk membalas dengan kata-kata yang baik. Namun, Yovan malah bertubi-tubi melayangkan pertanyaan.

[Kamu kemana aja? Kenapa ga kasih tau aku dulu, tinggal ketik aja padahal. Malah ngilang, sengaja ya matiin hape tadi? Huu]

Entahlah, tapi pesan itu berhasil membuka kunci borgol amarah Adira. Gadis itu mengetik panjang lebar dan menyalahkan Yovan atas Omelan yang dia dapatkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!