Byuuur....
"Astaga!!! "
"Heh .... Harusnya kamu itu sadar diri dong!! Udah tau numpang tapi malas malasan" suara makian dari seorang wanita gendut yang sedang memarahi seorang wanita yang baru saja dia siram dengan air.
wanita itu hanya menunduk, dia takut dan lelah karena dia baru saja tidur setelah mengerjakan tugas kuliahnya. Padahal dia tadi sudah meminta ijin untuk beristirahat sebentar sebelum dia berangkat kerja. Namun baru saja merasa nyenyak tidur, wajahnya justru di siram oleh air satu ember.
"Kamu itu.. Kerjaannya tidur tidur doang,,, "
"Maaf bude. Tapi cucian baju sama piring kotor sudah bersih semua"
Benar.
Walau dia menumpang, tapi semua pekerjaan rumah dia yang mengerjakan. Dari menyapu, mengepel, bahkan sampai mencuci pakaian keluarga budenya. Dia sadar karena hanya keluarga budenya saja yang mau menerima dia tinggal di kota.
Perkenalkan dulu, namanya Lisa Anggraeni. Dia baru saja pindah ke kota setelah mendapatkan beasiswa FULL dari salah satu kampus ternama. Lisa yang berasal dari desa berniat ingin mengekost saja. Tapi saat hendak berangkat ke kota, salah satu saudara dari pihak mendiang ayahnya mengatakan jika dia bisa tinggal di rumahnya. Karena bingung Lisa memilih untuk tinggal bersama saudaranya untuk beberapa waktu sebelum dia menemukan kost yang pas harga di kantongnya.
Namun setelah tinggal dua bulan di rumah itu, Lisa justru seperti seorang pembantu yang di suruh suruh oleh istri dari pamannya. Dia harus melakukan semuanya. tanpa pamannya tahu jika dirinya di perlakukan tidak adil oleh istrinya itu.
*
*
Sebelum fajar menyingsing, Lisa sudah terbangun dari tidurnya. Dengan langkah yang masih terasa berat, dia menghampiri dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga pamannya. Dalam hati kecilnya, dia merasa lelah, tapi dia tahu dia tidak bisa mengeluh. Setiap sudut rumah itu harus bersih sebelum dia berangkat ke kampus.
Lisa menyeka keringat di dahinya dengan ujung baju yang sudah agak basah, sambil sesekali melirik jam dinding yang seolah bergerak begitu lambat. Dia menghela napas, mengingatkan diri sendiri bahwa ini semua akan berakhir, bahwa suatu hari dia akan bisa meninggalkan rumah ini.
Suara bentakan dari ruang tamu menarik perhatiannya. Istri pamannya, Tante Rina, sedang berteriak pada anaknya yang tampaknya telah membuat ulah lagi. Lisa tahu dia harus menghadapi ini. Dia mengambil sapu dan mulai membersihkan serpihan biskuit yang berserakan di lantai, sambil sesekali mengintip keadaan di ruang tamu.
“Sudah berapa kali harus ibu bilang untuk tidak bermain bola di dalam rumah?!” teriak Tante Rina pada anaknya yang hanya menunduk. Lisa bisa melihat betapa takutnya anak itu, dan dia tahu betul perasaan itu.
Meski ingin menolong, Lisa sadar dia hanya seorang keponakan yang menumpang dan tidak memiliki banyak suara di rumah ini. Jadi dia kembali ke dapurnya, menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan berdoa agar semuanya cepat selesai. Dia sudah tidak sabar untuk berangkat ke kampus, tempat dimana dia bisa sedikit bernafas lega dari semua ketegangan ini.
Dia memandang sekilas pakaian kuliahnya yang sudah tergantung rapi di pintu kamar. Itu adalah simbol harapan, bahwa setiap buku yang dibaca dan setiap ujian yang dilalui membawanya lebih dekat kepada kebebasan. Dan dengan gaji pertama dari pekerjaan paruh waktu yang telah dia amankan, Lisa yakin, tidak akan lama lagi dia akan meninggalkan rumah ini.
"Mungkin nanti sore aku harus ke rumah Hani.."
*
*
"Eh... Lisa., coba lo baca novel ini deh.. Seru banget ceritanya."
Di tengah keramaian kantin kampus yang dipenuhi suara riuh mahasiswa, Lisa menatap buku novel berjudul 'Kau dan Dia' yang baru saja diberikan Hani kepadanya. Cover buku itu sederhana, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Cerita apa ini?" tanya Lisa dengan rasa penasaran yang tergambar jelas di wajahnya.
Hani, yang sedang menikmati jus jeruknya, menoleh dengan senyum tipis. "Ini tentang pemuda yang selalu memprioritaskan teman kecilnya daripada pacarnya, dan seorang anak yang benci dengan keluarganya sendiri" jelas Hani, matanya berkilau penuh antusias.
Lisa terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. "Gila! Terus gimana ceritanya?" tanyanya lagi, ketertarikan semakin terlihat.
Hani menutup sedotannya dan menatap Lisa. "Aku sudah bosan dengan cerita-cerita yang alurnya bisa ditebak. Protagonis yang selalu menang, antagonis yang kalah karena kejahatannya," ujarnya, rasa jenuh terasa dalam nada bicaranya.
Lisa menggelengkan kepala, tersenyum kecil mendengar keluhan Hani. "Yah, itu memang klasik," sahutnya sambil membuka halaman pertama novel tersebut.
"Tapi kamu harus baca sendiri, seru kok. Ada plot twist yang tidak terduga di akhir cerita," tambah Hani, menggoda Lisa dengan sebuah kedipan mata.
"bener ya. kalo ceritanya kayak yang biasa aku baca. ku getok kepala kamu."
Lisa, yang kini menjadi penasaran, memutuskan untuk membaca novel itu selagi menikmati suasana kantin yang ramai. Di hatinya, ia berharap menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari cerita-cerita yang biasa ia baca.
Lisa terus larut dalam setiap kata yang tertulis di novel yang dipinjam dari sahabatnya. Cahaya matahari siang hari yang terang menerobos jendela kantin, namun tak cukup untuk mengalihkan perhatiannya.
Tiba-tiba, sebuah dentuman keras terdengar ketika Sesil menabrakkan tangannya ke meja tempat Lisa membaca. Buku itu terhempas, dan beberapa halaman melayang sebelum mendarat kembali dengan pelan.
Lisa yang terkejut, mendongak dan menemukan Sesil yang berdiri tegak dengan wajah memerah dan mata yang berbinar marah. "Lo ya. Gue udah bilang jangan deketin Ferdi. Tapi kenapa masih gatel aja sih?" teriak Sesil, suaranya memenuhi ruang kantin dan membuat semua mata tertuju pada mereka.
Lisa, dengan ketenangannya yang mengejutkan, menjawab dengan nada angkuh, "Emang kenapa? Dia yang deketin gue." Suaranya tenang namun penuh kepercayaan diri. Lisa tidak menunjukkan rasa takut, dia berdiri tegak, menantang balik Sesil dengan pandangan yang tajam.
Di sekeliling mereka, bisikan dan tatapan penasaran menguar di antara teman-teman sekelas yang kebetulan juga berada di kantin. Beberapa dari mereka saling berpandangan, bertanya-tanya dengan suara lirih tentang kebenaran dari tuduhan Sesil.
Namun, di dalam hati Lisa, dia tahu kebenaran yang tidak bisa diungkapkan di depan kerumunan ini. Hubungannya dengan Ferdi tidak lebih dari sekadar pertemanan, namun Sesil terlalu buta oleh cemburu untuk bisa melihatnya dengan jelas.
Di tengah kerumunan yang menjadi hening, Sesil dengan cepat menarik rambut Lisa dengan kekuatan penuh, menyebabkan Lisa mengerang kesakitan. Tak ingin dipermainkan, Lisa pun membalas dengan menarik rambut Sesil, keduanya mengerang dan mengumpat dalam rasa sakit dan amarah.
"Sialan! Lepasin rambut gue, bego!" teriak Sesil, sambil menambah kekuatan tarikannya, membuat Lisa semakin kesakitan.
"Rambut dibalas dengan rambut!" balas Lisa, semakin mengencangkan genggamannya pada rambut Sesil.
Hani, yang semula hanya bingung menyaksikan pertengkaran itu, segera bergegas mengambil segelas air dan menyiramkan isi gelas tersebut ke atas kepala Sesil dan Lisa. Kedua gadis itu terkejut dan secara refleks melepaskan cengkeraman mereka masing-masing.
"Lo!," pekik keduanya kaget karena rasa dingin di kepala.
"Tenang, gue cuma mau melerai!" kata Hani, mencoba menenangkan situasi yang sudah memanas itu.
Ferdi tiba di kantin dengan nafas yang terengah-engah, seakan-akan baru saja menyelesaikan maraton. Matanya mencari sosok yang telah mengiriminya pesan mendesak itu, dan akhirnya terhenti pada Sesil yang sedang berdiri dengan raut wajah meram padam.
"Sayang!! Kamu ini kenapa sih?" ucap Ferdi dengan nada kesal yang tak tersembunyi lagi. Rasa frustrasi memuncak setiap kali topik tentang Lisa dibawa ke permukaan.
Sesil, dengan sorot mata tajam, menunjuk ke arah Lisa yang duduk tak jauh dari mereka. "Dia deketin kamu. Aku ga terima ya," keluhnya, suara penuh kecemburuan.
Ferdi menghela napas berat, kepalanya terasa berat dengan tuduhan yang sama berulang kali. "Turunkan jarimu," katanya dengan tenang namun tegas. "Gue udah bilang berkali-kali. Gue ga ada hubungan apapun sama dia. Dan lo, Fer—lebih baik pertemanan kita udah aja deh. Ribet sama cewek lo." ujar Lisa yang sudah muak dengan kekasih temannya itu.
Lisa, yang telah mencoba untuk tetap tenang setelah rambutnya di jambak, akhirnya duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat kecewa dan sedikit kesal karena dia selalu dituduh.
Lisa mengemasi barangnya dan di masukan ke dalam tas. lalu dia berjalan pergi meninggalkan kantin, diikuti oleh Hani yang mencoba menenangkannya.
Tinggal Ferdi dan Sesil yang saling menatap, udara di antara mereka terasa begitu berat dan dingin. Sesil tampak ingin berkata lebih banyak namun kata-kata terasa terhenti di tenggorokannya.
"asal lo tau aja. gue deket sama dia karena Lisa kerja di cafe gue. jujur aja, Sil. gue kecewa sama tingkah lo yang kayak gini."
Ferdi berbalik meninggalkan Sesil yang diam di tempatnya, dia hanya bisa berharap agar keadaan bisa segera membaik, meski di dalam hatinya ia tahu, beberapa keretakan memang sulit untuk diobati.
*
*
Sore menjelang malam itu, di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai menjadi saksi bisu dua sahabat, Lisa dan Hani yang sibuk dengan dunia mereka. Mereka berdua duduk berhadapan, masing-masing tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Hani asyik menggulir layar ponselnya membalas pesan dari suaminya, sementara Lisa tenggelam dalam alur cerita novel yang dipinjamkan oleh Hani.
Udara dinginnya AC menyengat, namun dinginnya cerita yang dibaca Lisa membuatnya lupa akan cuaca. Dia begitu terhanyut, hingga halaman demi halaman terlipat begitu saja. Namun, ketika ia tiba pada bab terakhir, emosinya tak terbendung.
"Sialan," umpatnya keras, kecewa dengan akhir cerita tersebut.
Hani yang duduk di sampingnya terlonjak kaget. "Bikin kaget aja," pekiknya, menatap Lisa dengan tatapan tajam.
Lisa menutup buku itu dengan kasar, raut mukanya memerah, "Jadi mereka malah salah paham dan berakhir saling menyakiti. Sialan," gerutunya lagi, lebih kepada diri sendiri yang kenapa sampai tamat membaca buku itu.
Hani menoleh, mencoba memahami. "Ceritanya padahal bagus tapi malah sampai kamu sekesal itu"
Lisa menghela napas, matanya masih membara. "Antagonisnya, dia... dia sebenarnya hanya ingin memperbaiki hidupnya, menjadi lebih baik. Tapi, sang protagonis itu, dia selalu menyalah setiap tindakan ke antagonis itu. Apapun yang dilakukan antagonis, selalu dianggap salah. Jadi, bukannya membantu, dia malah menambah masalah. Sialan betul. bego!."
Hani memandang penuh simpati, mengerti betapa sebuah cerita bisa mempengaruhi emosi seseorang. "Itu memang menyebalkan. Kadang-kadang penulis bisa bikin kita ikut emosi juga dengan tokohnya, ya kan?"
Lisa mengangguk, masih terbawa suasana. Di benaknya, dia tidak hanya kecewa, tapi juga merasa sedikit terluka, seolah-olah dia sendiri yang mengalami kesalahpahaman itu. Di luar kekecewaannya pada plot cerita, ada sesuatu tentang cara cerita itu berakhir yang meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya, sebuah pelajaran tentang pentingnya komunikasi dan pengertian.
"Udah, yuk pulang. " Ajak Hani.
Lisa beranjak dan menenteng buku novel itu di tangan. Dan Hani berjalan di sampingnya keluar dari cafe. Keduanya sudah berada di luar cafe. baik Lisa dan Hani sama sama berhenti sejenak dan menatap kanan kiri memastikan jalanan kosong.
keduanya menyebrang bersamaan, namun saat menyebrang dan keduanya sudah berada di tengah jalan. Sebuah motor dari kejauhan melaju dengan kencang dan langsung menghantam Lisa yang sudah mendorong Hani, karena dia menyadari bahaya.
Bughh....
"Lisaaaaaaa......"
Di rumah sakit,
Keriuhan terasa menggema di sepanjang koridor rumah sakit saat ambulans tiba dengan sirene yang memekakkan telinga. Pintu belakang ambulans terbuka, para petugas medis segera menurunkan sebuah tandu darurat yang menopang tubuh seorang wanita yang seluruh pakaiannya tak lagi berwarna seperti sebelumnya, kini pakaian itu sudah berubah merah oleh darah yang berlumuran.
Hani, yang berdiri terpaku di samping, hanya mampu menatap dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, tangan tergenggam erat, bibir bergetar seraya berdoa dalam hati agar keadaan tidak lebih buruk dari yang terlihat.
"Lisa, bertahanlah!"
yap, Lisa lah yang menjadi korban tabrak lari sebuah motor saat keduanya menyebrang jalan yang dikira sudah sepi dari kendaraan.
Dengan cepat, Lisa di bawa ke dalam Unit Gawat Darurat, dan Hani mengikuti dengan langkah cepat. Lisa sudah berada di dalam IGD dan meninggalkan Hani yang kini mondar-mandir di luar ruangan, rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. Setiap detik terasa begitu lambat, menunggu kabar dari dalam ruangan yang terkunci itu.
Suasana menjadi semakin tegang ketika dua orang polisi tiba di tempat kejadian. Mereka mendekati Hani, wajah serius mereka seolah menyiratkan kabar penting. "Kami sudah menangkap pelaku yang kabur, dan dia akan bertanggung jawab atas kejadian ini," ujar salah satu polisi dengan nada yang mendayu.
Hani, yang mendengar kabar itu, langsung terisak, "Tolong, beri hukuman setimpal karena ulah pelaku itu, pak," pintanya dengan nada memohon, mata sembabnya menatap dalam ke arah polisi, mencari secercah keadilan di tengah kekacauan yang terjadi.
Tak lama, pintu IGD terbuka, seorang perawat keluar dengan wajah terlihat serius. Hani segera mendekat meninggalkan polisi yang juga ikut mendekat ke arah perawat itu.
"dimana yang bernama Hani? "
"Saya"
"Pasien ingin bertemu,"
Suasana di ruang IGD tegang dan penuh kecemasan. Hani yang baru saja mendengar permintaan perawat langsung berlari memasuki ruangan tersebut. Matanya langsung terarah pada Lisa yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya. Hani tergagap, tak sanggup menutupi rasa panik dan takutnya saat melihat sahabatnya dalam kondisi kritis.
"Li-Lisa," suara Hani bergetar, penuh kekhawatiran.
Lisa membuka matanya dengan susah payah, matanya redup namun masih mencoba memberikan senyuman yang paling hangat yang bisa ia berikan dalam kondisi seperti itu. "Aku mau minta tolong," suaranya lirih, hampir tak terdengar di tengah kebisingan ruangan itu.
"tolong? Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Hani, matanya berkaca-kaca, hatinya berdebar kencang menunggu permintaan Lisa yang tampaknya sangat penting.
Lisa menggenggam tangan Hani, cengkeraman yang lemah namun penuh dengan urgensi. "Titip jaga Hanum ya dan ambil uang yang ada di tabungan untuk hadiah ulang tahun Hanum bulan depan," ucapnya dengan napas yang semakin berat.
Hani menatap Lisa dengan mata yang terbelalak, rasa sakit dan ketakutan menghujam jantungnya. Ia tahu betapa dekatnya Lisa dengan anak tiri satu-satunya, Hanum. Permintaan itu seperti pengakuan bahwa Lisa mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi. Hani mengangguk, bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang ingin meledak.
"Iya, Lisa, aku janji akan jaga Hanum sebaik-baiknya. Kamu tenang saja, dia kan anak aku" kata Hani, suaranya serak oleh emosi yang mencoba ia tahan.
"makasih, Han"
Lisa tersenyum lemah, matanya perlahan terpejam, seolah-olah mendapatkan sedikit kedamaian setelah mendengar janji dari Hani. Hani terduduk di samping tempat tidur Lisa, tangan Lisa masih dalam genggamannya, berharap keajaiban akan terjadi meski realita pahit terus menghantui setiap detik yang berlalu.
Lisa membuka matanya dan menatap ke langit-langit kamar rumah sakit dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bayangan wajah Hanum gadis kecil berambut hitam dan senyum cerah terpampang jelas di benaknya.
Meski Hanum bukan darah daging Hani, kasih sayang yang terpancar dari Hani begitu tulus, seolah gadis itu adalah anak kandungnya sendiri. Lisa pun merasakan hal yang sama, hatinya penuh dengan cinta dan kehangatan yang tak terucapkan untuk Hanum, seperti adik yang sangat ia lindungi.
“Hani, aku ada hadiah buat Hanum di dalam tas ku,” ucapnya dengan suara yang serak dan napas terengah-engah, tangan Hani gemetar saat mengulurkan sebuah tas milik Lisa yang dia bawa.
“Tolong terima ya... Aku juga punya tabungan, tolong kamu yang pegang. Terserah kamu mau pakai tabungan itu untuk apa,” lanjutnya, kata-katanya tercekat oleh rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.
"kamu udah kasih uang buat hadiah Hanum. tapi kenapa ada hadiah lagi? ini uang kamu pake buat berobat setelah ini."
"aku udah nggak kuat lagi, Hani. maafin aku, aku banyak salah sama kamu selama ini,"
Suara nyaring dari monitor yang terhubung ke tubuh Lisa tiba-tiba menggema memenuhi ruangan. Garis di layar berubah menjadi lurus tanpa denyut, seolah menggambarkan keheningan yang menakutkan. Lisa menutup matanya perlahan, seakan ingin menyimpan momen terakhir itu bersama matanya yang menatap Hani untuk terakhir kalinya.
"Lisaa... Engga engga Lis... Dok-dokter" Teriak Hani yang masih menggenggam tangan Lisa.
*
*
Di suatu tempat,
Seorang gadis cantik membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa lemas saat mencoba duduk. Suara burung berkicau dan desiran angin menyapa telinganya, namun yang terlihat di sekelilingnya adalah taman yang asing, rumput hijau terhampar rapi, bunga-bunga bermekaran dengan warna mencolok, dan beberapa bangku kosong yang tertata rapi di bawah pepohonan rindang. Hanya dia seorang yang berada di sana, kesunyian menyelimuti tanpa ada seorang pun yang lewat.
“Ini... ini di mana?” suaranya terdengar lirih, hampir seperti bisikan yang ragu. Ia menatap sekeliling dengan mata yang mulai membelalak, berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia tiba-tiba terbangun di tempat ini.
Ketika ia menggerakkan tangannya, matanya membelalak lebih lebar. Tangan itu, putih, halus, dan tak seperti miliknya yang selama ini kasar karena hasil dia bekerja dan membersihkan rumah pamannya. Jari-jarinya tertutup kuku berwarna merah menyala, warna yang sama sekali asing baginya karena ia ingat betul kuku jarinya selalu polos dan bersih tanpa cat.
“Looh... kenapa tangan gue putih begini! Ini jari-jari siapa yang ada di tangan gue!”
Ia menatap tangan itu dengan campuran kebingungan dan panik, jari-jarinya bergetar kecil saat disentuhnya berulang kali, seolah mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya bukanlah mimpi.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, dada terasa sesak. “Ini lengan siapa? Ini bukan lengan tangan gue!” gumamnya dengan nada hampir menjerit, tubuhnya bergemetar saat kenyataan aneh itu perlahan menjerat pikirannya, bahwa dirinya berada di dunia yang asing, dengan tubuh yang bukan miliknya.
Lisa menepuk pakaiannya yang kotor perlahan, langkahnya sedikit gemetar dan berat, seolah setiap jengkal tanah menuntut tenaga ekstra. Pusing yang menusuk di pelipisnya membuat pandangan menjadi kabur, membuat tiap detik terasa seperti tarian bayangan yang menyesatkan.
Lisa berjalan mencari seseorang yang bisa di tanyakan dimana saat ini. dengan langkahnya pelan, dia menyusuri lorong yang menuju koridor.
"kayak sekolahan!"
Suasana koridor sekolah yang biasanya ramai kini berubah menjadi sunyi mencekam, hanya terdengar gema langkah kakinya yang tersisa. Dinding-dinding putih yang dingin dan ruangan yang asing baginya.
Gumamnya nyaris tak terdengar, "Ini dimana? Apa gue lagi mimpi ya." Suaranya bergetar, mencerminkan kebingungan dan ketakutan yang merayap di hatinya. Dengan tangan gemetar, Lisa menyusuri koridor panjang itu, matanya mencari-cari petunjuk di setiap sudut, tapi yang didapat hanyalah bayangan kosong dan suara hampa.
Saat pandangannya terpaku pada papan bangunan sekolah, sebuah kaca besar terpajang di hadapannya. Bayangan samar seorang wanita di balik kaca itu perlahan membentuk sosok yang begitu familiar namun asing.
Mata Lisa membesar, jantungnya berdegup cepat tak terkendali. "Siapa wanita itu!!" bisiknya, langkahnya beringsut mendekat, tangan terulur seolah ingin menyentuh bayangan itu dan menghapus rasa takut.
Tiba-tiba, sosok dalam kaca itu bergerak, wajahnya berubah menjadi ekspresi penuh ketakutan dan teriakan yang tak bisa dijelaskan. Lidah Lisa kelu, napasnya tercekat, lalu suara teriakannya meledak, "Aaaaaarrghh! itu bukan gue,"
Ia berbalik dan berlari panik, tubuhnya gemetar hebat, dada sesak oleh kecemasan yang mencekam. Setiap langkahnya dipenuhi oleh desakan ingin lari dari kenyataan yang tak bisa ia pahami, meninggalkan jejak ketakutan yang membekas di setiap sudut koridor.
"Enggak... Enggak.. Pasti ini mimpi.. Hani, kamu dimana Hani,"
Lisa berlari tanpa arah yang jelas, napasnya tersengal dan keringat membasahi dahinya. Kepalanya terasa berdenyut tajam, seolah ada badai di dalam pikirannya. Saat melewati sekelompok siswa di lapangan basket, tubuhnya yang linglung tanpa sengaja mendorong beberapa dari mereka hingga terkejut dan mundur langkah.
"Lo Rubby, kan?" suara seorang pemuda terdengar dari belakang, nada bicaranya penuh heran sekaligus sedikit jengkel.
"ngapain lo kesini?"
Lisa semakin panik, matanya yang berkaca-kaca berkeliling mencari jalan keluar, tapi malah bertabrakan dengan sosok yang lebih besar.
Tangan kuat mencengkeram pergelangan Lisa, menariknya sampai tubuh mereka hampir bertabrakan. "Nggak usah cari perhatian ke gue lagi, Rubby," desis pria itu dengan nada dingin dan tajam, seolah menyembunyikan kemarahan yang membara.
Lisa menatap pemuda itu dengan alis berkerut, matanya berusaha menangkap wajah yang seolah sudah sangat dikenalnya tapi terasa asing. "Rubby!" suaranya tercekat, penuh kebingungan dan ketakutan.
Tiba-tiba, kepala Lisa seperti diremas, nyeri yang menusuk membuat ingatan-ingatan lama berhamburan ke permukaan, fragmen wajah, suara, dan peristiwa yang selama ini ia coba lupakan. Tubuhnya gemetar, dan pandangan mulai mengabur, seolah dunia di sekitarnya runtuh perlahan.
"Aaarrgghhhh,, " teriak Ruby yang menarik rambutnya dengan kencang.
Semuanya kaget saat gadis bernama Ruby berteriak tak jelas. bahkan pemuda yang awalnya ingin memarahi Ruby menjadi enggan dan memilih untuk mundur.
"hidungnya mimisan!" ucap seorang pemuda yang membawa bola basket.
"hey, lepasin tangan kamu, astaga!"
Suasana hening begitu terasa di telinga Lisa saat ini. Lisa terbangun dengan kepala yang terasa berat, pandangannya kabur menatap langit-langit ruangan rawat yang sunyi. Suara detak jam di dinding seolah menggema dalam kesunyian, menambah riuh kegelisahan di dalam pikirannya.
"Bisa -bisanya gue malah berpindah raga kayak gini," gumamnya serak, bibirnya bergetar menahan kebingungan yang merambat ke seluruh tubuh.
Ia menoleh ke sekeliling, ruangan itu asing namun terasa begitu nyata. lalu Lisa menyibak selimut yang menutupi diriny, dia melihat ke arah tubuhnya kini mungil, tak seperti yang dulu. Seorang gadis SMA tingkat dua, dengan seragam yang terasa ketat dan bau parfum dari tubuh ini begitu menyengat.
"nyengat banget ini baunya,"
Jantungnya berdebar tak menentu, pikiran yang seharusnya jernih kini berputar liar tanpa arah. "Haniii... gue malah berpindah jiwa, Hani. Ini dunia yang sama apa beda dunia, Han?"
Suaranya nyaris pecah, hanya nama sahabat yang mampu keluar dari mulutnya, seolah itu satu-satunya jangkar di lautan kekacauan ini.
Lisa bangkit perlahan, tubuhnya yang kecil terasa canggung saat ia duduk di tepi ranjang rumah sakit. Matanya menatap kosong ke seluruh sudut ruangan yang penuh peralatan medis dan tirai putih yang tersibak angin. Ia merasa terperangkap di antara kenyataan dan mimpi asing, antara tubuh yang kini asing dan jiwa yang masih berontak mencari jalan pulang. Napasnya memburu, tangan gemetar menyentuh kain seragam yang terasa tak pernah dikenalnya sebelumnya.
Dalam keheningan itu, rasa takut dan bingung menggerogoti hatinya. Lisa berusaha merangkai potongan ingatan yang tersisa, ingatan yang begitu menyakitkan, berjuang menerima kenyataan bahwa dirinya kini terjebak dalam tubuh orang lain, di dunia yang tak pernah ia bayangkan. Hanya satu yang pasti, ia harus menemukan Hani, satu-satunya yang bisa ia percaya, di tengah kekacauan yang belum bisa ia mengerti.
Pintu terbuka, Lisa segera menoleh ke arah pintu. Seorang perawat dan seorang wanita paruh baya masuk bergantian. Keduanya terbelalak melihat ke arah dirinya yang sudah berdiri di dekat bangkar.
"Nona... Anda sudah sadar!!" Peliknya bahagia dan segera mendekat lalu memegang tangan nya dengan erat.
Air mata wanita itu bahkan menetes menyusuri pipi gembul wanita itu. Lisa yang melihat hatinya terenyuh sakit. Baru sekarang ada seseorang asing yang menangis dirinya begitu dalam. Dia merasakan dari genggaman tangan dan elusan di lengannya.
"Nona.. Duduk dulu. Saya panggilkan dokter untuk di periksa."
Lisa yang bingung menurut dan duduk. Tapi tangannya masih di genggam erat oleh wanita paruh baya itu.
"Maaf, anda siapa?"
Degh....
"kamu mengenal dia?" tanya dokter yang hanya mendapatkan gelengan dari Lisa.
"siapa nama kamu?"
"Lisa,"
Beberapa saat kemudian, dokter menatap Lisa dengan lekas. Dokter kembali memberikan beberapa pertanyaan yang hanya di jawab seingatnya. tidak ada satupun jawaban yang pas dari apa yang terjadi dan apa yang dia dengar.
"Saya simpulkan jika nona Rubby mengalami amnesia ringan."
"Apa dok!!" Pekik wanita paruh baya itu.
Dokter mengenal nafasnya, "semua yang di katakan nona Rubby tidak ada yang sesuai dengan yang Anda katakan, bu. Nona Rubby bahkan tak mengingat namanya sendiri. Atau nama sekolahnya."
"Ya Tuhan!! " Lirihnya, air mata kembali menitih pelan. "Apa ingatannya akan kembali?" Lanjutnya dengan tangan yang masih menggenggam jemari Lisa.
"Saya tidak tahu. Kemungkinan bisa cepat sembuh atau justru amnesia permanen dan itu akan membuat nona Rubby seperti kehilangan arah."
"apa tidak ada cara lain dok?"
"biarkan nona Ruby mengingat sendiri, karena jika di paksa. akan membuat kepalanya sakit dan bahkan tidak akan mengingat apapun."
*
*
setelah sehari di rawat, kini Lisa duduk terdiam di kursi belakang mobil, matanya menatap kosong ke luar jendela yang mulai gelap diterpa senja. Suara mesin kendaraan dan deru jalanan menjadi latar yang sunyi baginya, seolah-olah dunia di luar tak lagi berarti. Ketika punggung tangannya di sentuh bi Ning, dia menoleh sebentar ke Bi Ningrum, yang dengan lembut menyebut namanya, "Rubby." Lisa tak mengelak, justru hatinya terasa sedikit lega mendengar sapaan itu—nama baru yang di kehidupan ini dengan status baru miliknya.
"Non Rubby, mau makan apa nanti?" suara Bi Ning terdengar hangat dan penuh perhatian, menyelipkan rasa nyaman yang selama ini ia rindukan.
Lisa menoleh kembali, menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan tapi tegas, "Yang penting buat kenyang aja, Bi."
Tersenyum kecil, Bi Ning merasa bahagia. Senyum itu tak hanya untuk Rubby, tapi juga untuk harapan membuat anak majikannya ini menjadi lebih baik, bi Ning tahu bahwa luka itu bisa sembuh, dan penerimaan menjadi langkah pertama menuju kedamaian.
Di dalam hati Lisa, meski banyak yang masih tak terucap, kini ia memilih diam dan menerima—menerima apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
"Mungkin aku harus menerima kenyataan ini.. Tapi kemana jiwa dari raga ini?"
*
*
(Langsung pake nama Rubby)
kini Rubby berdiri terpaku, matanya membesar menatap bangunan megah yang menjulang di hadapannya. Dinding-dinding bercat putih bersih, jendela kaca besar yang memantulkan sinar matahari sore, dan taman yang tertata rapi seolah tak pernah lepas dari sentuhan tangan ahli. "Ini rumahku?" suaranya bergetar, lirih tak percaya.
"Iya non, ayo masuk. Tuan sama nyonya pasti nungguin non," sahut Bi Ning dengan senyum tipis, tapi nada suaranya membuat dada Rubby terasa sesak. Nama itu, tuan dan nyonya mengusik sesuatu di hatinya, campuran antara ragu dan rasa sakit yang tak bisa dia jelaskan.
Keduanya melangkah pelan, sepatu Rubby berderak ringan di atas granit teras yang dingin. Setiap langkah seakan menembus batas antara dunia lama yang sederhana dan kehidupan baru yang penuh kemewahan ini. Saat pintu terbuka, aroma wangian mahal dan bunga segar langsung menyambutnya, sementara mata Rubby tertuju pada dekorasi mewah yang memenuhi ruang tamu, lukisan klasik, lampu gantung kristal, dan perabot berlapis emas yang membuat jiwanya berguncang.
Rubby menelan ludah, pikirannya berbisik pelan, "Rubby, anak orang kaya." Namun bisikan itu terasa asing dan berat, seperti topeng yang tiba-tiba harus ia kenakan.
Perlahan, mereka melangkah menuju ruang makan, di mana suara ramai dan gelak tawa terdengar menggema, membelah keheningan yang menyesakkan dada Rubby. Ia merasakan tatapan-tatapan hangat sekaligus penuh harap mengarah padanya, dan jantungnya berdetak cepat, antara takut dan penasaran akan kehidupan yang kini harus ia jalani.
"Rubby.. Kamu kembali nak!!!"
"Siapa mereka bi?"
semuanya terperangah mendengar jawaban, lalu menatap ke arah Bi Ning yang berdiri di samping Ruby.
"non Ruby mengalami amnesia, pak, bu."
Degh...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!