Suara tembakan bergema di ruangan gelap.
Mayat-mayat berserakan di lantai, darah menetes perlahan, menimbulkan aroma besi yang menusuk hidung.
"Cepat, tembak mereka sekarang! ".
Di tengah kekacauan itu, seorang pria bergerak dengan cepat- matanya tajam, langkahnya senyap.
Ia menembak dengan pistol yang sudah di modifikasi khusus: tanpa suara, tapi mematikan. Peluru menembus kepala lawannya, meninggalkan lubang kecil yang langsung meneteskan darah panas.
Zephyrion Llewellyn, atau biasa di panggil Rion, adalah seorang assassin tingkat tinggi. Dunia bawah mengenalnya dengan satu julukan:
"The Silent Reaper"- Pembunuh tanpa suara.
Langit malam tanpa cahaya bulan menjadi saksi bisu dari pertumpahan darah itu. Mayat berserakan, dan mereka yang masih hidup menunggu giliran mati.
Rion melangkah menghampiri rekan-rekannya yang berada tak jauh darinya. Tubuh mereka berlumuran darah, pakaian robek, nafas tersenggal-semua tampak kelelahan setelah pertempuran panjang.
"Misi selesai". Ujar Rion dingin. " Sekarang kita kembali ke markas".
Semua mengangguk.
Namun ketika Rion menoleh, salah satu rekan mendekatinya- tanpa tanda-tanda mencurigakan.
Jlep
Sebuah belati menembus dada kirinya.
Tepat di jantung.
Rion terpaku.
Mulutnya mengeluarkan darah, nafasnya terkenal. Ia menatap wajah rekannya- mata itu penuh pengkhianatan.
"kau... ". Ucapnya lirih darah mengalir di sudut bibirnya. " mengkhianatiku?".
Rekannya menatap Rion dengan tatapan menghina. Tubuh Rion terjatuh ke tanah, darah mengalir membentuk genangan merah gelap di bawahnya.
"Sayang sekali kau harus mati, ketua". Suara itu dingin, tapi sarat kepuasan.
"Kau tau kenapa aku membunuh mu? Karena aku iri. Pemimpin lebih menyukai mu daripada aku. Jadi... aku harus menyingkirkanmu, agar tempatmu menjadi milik ku".
Rion menatap tajam ke arah pria itu, tapi tubuhnya tak mampu bergerak. Matanya di penuhi kebencian dan ketidakpercayaan.
Beberapa orang lain hanya menatap dingin, lalu berbalik pergi, meninggalkan tubuhnya yang perlahan kehilangan kehidupan.
Sunyi.
Hanya desiran angin malam dan bau darah yang menemani.
Rion menatap langit-langit tanpa bulan, tanpa bintang. Senyum tipis muncul di wajahnya, getir dan hampa.
"Padahal aku begitu mempercayaimu...
Tapi yang kudapat hanya pengkhianatan".
Ia tertawa pelan, suara tawanya lebih mirip gumaman putus asa.
"apakah ini karma untukku? seorang pembunuh akhirnya di bunuh.... oleh orang yang ia percayai".
Wajah rion semakin pucat.
Nafasnya berat. Pandangannya berkunang- kunang. Ia tersenyum sekali lagi-bukan senyum bahagia, tapi senyum yang menerima takdir.
"Sepertinya... ini akhir dariku".
Kelopak matanya perlahan tertutup.
Dunia menjadi gelap.
Dan untuk sesaat, keheningan benar- benar menelan segalanya.
###
Namun, dalam kegelapan itu- ada sesuatu yang lain.
Bukan kehampaan, tapi arus hangat yang mengalir di tubuhnya.
Ia mendengar suara lembut, samar namun jelas, seperti gema dari tempat jauh:
"Anak ku... tidurlah sebentar lagi. Bayanganmu belum berakhir".
Seketika, cahaya keemasan menembus kegelapan. Tubuhnya terasa ringan, lalu....
####
Udara lembab memenuhi kamar tua itu.
Cahaya keemasan dari lilin di sudut ruangan bergetar pelan, menari di dinding baru yang mulai di telan jamur dan debu.
Kasur reyot di tengah ruangan tampak menyimpan seseorang- seorang remaja berwajah pucat, tampak rapuh, seolah waktu sendiri telah berhenti di sana.
Lalu... kelopak mata itu bergerak.
Perlahan terbuka, menampilkan sepasang iris berwarna emas murni-berkilau lembut di bawah cahaya yang redup.
Mata yang indah, namun menatap dunia dengan kebingungan mendalam.
"... Dimana ini? kenapa aku ada disini? ".
Suara itu serak, lebih lembut dari pada yang seharusnya.
Tak ada jawaban.
Hanya bunyi detak jam tua yang berderit pelan di dinding dan aroma debu bercampur obat herbal.
Hening yang panjang di pecah oleh suara engsel pintu berderit.
kreeeekkk...
Pintu kamar terbuka, menampilkan seorang pria muda berpakaian pelayan-kemeja putih yang sedikit robek, rompi gelap, dan celemek berdebu.
"Pangeran! syukurlah anda sudah sadar! ".
Pelayan itu berlari mendekat, wajahnya antara terkejut dan bahagia, lalu segera membantu remaja itu duduk
Remaja itu-Zephyrion Llewellyn- hanya bisa memandang bingung.
" S-siapa?".
Pelayan itu membeku di tempat.
"Pangeran... apa anda melupakan saya? Saya Alaric, pelayan pribadi anda".
Nama itu terasa asing di kepalanya.
Alaric? Aku tidak pernah punya pelayan bernama begitu. Dan sejak kapan aku dipanggil… pangeran?
Ia menatap sekeliling. Dinding batu. Perabotan kayu tua. Tirai tebal bergoyang tertiup angin malam.
Semuanya asing—tak ada cahaya neon, tak ada bau logam, tak ada suara kota yang biasa ia dengar.
Rion—atau entah siapa ia sekarang—memandangi tangannya sendiri.
Kulitnya pucat dan halus, bukan milik seorang pembunuh.
Tidak ada bekas luka, tidak ada goresan senjata.
“Tubuh ini… bukan milikku.”
Alaric memandang dengan cemas.
“Anda… tak ingat apa pun, Yang Mulia?”
Rion hanya diam.
Kepalanya berdenyut hebat, seperti ada ribuan suara berdesakan di dalam pikirannya.
Lalu tiba-tiba—
Brakk!
Rasa sakit menusuk kepalanya, memaksa ingatan yang bukan miliknya muncul begitu saja.
Suara tangisan seorang wanita.
Pekik api.
Dan teriakan tajam di telinganya—
“Lari, Valerian! Pergilah sebelum mereka menemukanmu!”
Matanya terbuka lebar. Napasnya tersengal.
Nama itu… Valerian.
Ia menggenggam dada kirinya yang berdebar cepat, lalu berbisik pelan, nyaris tak terdengar—
“Jadi ini… tubuh Valerian de Velthoria?”
Alaric memandang bingung, tak berani bertanya.
Sementara itu, cahaya lilin di ruangan bergetar lebih keras—
dan di udara yang dingin, bayangan di dinding perlahan memanjang…
menyentuh ujung ranjang tempat “pangeran” itu duduk.
Bayangan itu tersenyum.
Pangeran Valerian menatap ke arah Alaric. Pelayan muda itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, seolah takut membuat kesalahan di hadapan tuannya.
Valerian menelusuri ruangan dengan tatapan datar. Ia tidak tahu tempat apa ini.
Dari yang ia lihat, kamar ini lebih mirip gudang tua dari pada kamar pangeran. Dinding batu tertutup jamur, cat mengelupas, dan udara lembab menusuk hidung.
Kasur reyot di bawah tubuhnya terasa keras dan dingin- membuat punggungnya pegal meski baru sebentar berbaring di atasnya.
"Berapa usiaku?". Tanya Valerian pelan, suaranya terdengar datar namun tegas.
Alaric mengangkat wajahnya sedikit.
"Saat ini usia Anda empat belas tahun, Pangeran".
Valerian mengangguk perlahan.
Empat belas tahun. Tubuh muda, tapi terlalu lemah.
"baiklah". batinnya. " Mulai sekarang aku akan hidup sebagai Valerian de Velthoria. bukan sebagai pangeran yang lemah dan di kucilkan, tapi... aku yang baru.
Aku -Zephyrion Llewellyn, The Silent Reaper- akan mengambil alih hidup ini sepenuhnya".
Grrr....
Suara keras memecah kesunyian.
Valerian membeku sejenak, wajahnya langsung memerah. Ia melirik Alaric yang berusaha menahan tawa, tapi senyum kecil tetap lolos dari wajah pelayan itu.
"S-saya akan menyiapkan makanan untuk Anda, Pangeran". Ucap Alaric sambil menunduk.
Valerian berdeham pelan, menatap ke arah lain.
"T-terima kasih".
Alaric segera keluar dari kamar, meninggalkan Valerian sendirian.
Sunyi kembali.
Valerian menurunkan kakinya dari kasur dan mencoba berdiri, tapi tubuhnya langsung goyah.
Otot nya lemah, sendi- sendinya terasa berat.
" Huh... tubuh ini benar- benar lemah". Gumamnya kesal. "Kalau tubuhku yang dulu, aku bisa menundukkan tiga orang tanpa senjata".
Ia mengepalkan tangan.
Tangan itu kurus dan gemetar, tapi dalam genggamannya....
ada sensasi samar, seperti denyut energi hitam yang tertidur di bawah kulitnya.
Valerian berhenti.
Mata emasnya menyipit, menatap telapak tangannya.
"Apa ini...".
Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa lebih dingin. Bayangan di lantai bergoyang, menari di bawah cahaya lilin yang hampir padam. Untuk sesaat, ia melihat bentuk wajah samar di dalam bayangan itu- senyum halus seorang wanita.
"Bangkitlah, anakku".
Suara lembut dan menggema di telinganya. Valerian terdiam.
Nafasnua cekatan, jantungnya berdetak cepat.
"Siapa kau...? ".
Bayangan itu memudar seiring lilin padam sepenuhnya. Dan dalam gelap, Valerian tahu- tubuh ini tidak hanya menyimpan masa lalu orang lain, tapi juga kekuatan yang belum siap ia pahami.
Tak lama kemudian, suara engsel pintu kembali terdengar.
Kreeeeekk...
Alaric masuk sambil membawa nampan. Namun langkahnya berhenti seketika ketika melihat kamar pangerannya gelap gulita.
"pangeran...? anda di dalam?".
Ia buru - buru menyalakan lilin baru. Cahaya kekuningan menyingkap wajah Valerian yang duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela tanpa ekspresi.
" Ah! syukurlah... saya kira anda pingsan lagi". Ucap Alaric lega, lalu meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang.
"Silakan, pangeran. Ini makanan anda".
Valerian membuka penutup nampan itu perlahan. yang terlihat hanya nasi putih dingin, sayur rebus nyaris tanpa warna dan semangkuk sup roti yang keras yang mengambang di atas air bening.
Ia terdiam sejenak, menatap makanan itu tanpa bicara. Bau anyir dan lembab dari ruangan bercampur dengan aroma sup hambar.
"Tidak heran tubuh ini kurus dan lemah". batinnya datar. " dengan makanan seperti ini, jangankan berlatih... untuk berdiri saja butuh tenaga besar".
Alaric menunduk dalam- dalam, suaranya pelan penuh rasa bersalah.
"Maaf, pangeran. uang kita tidak cukup untuk membeli daging. Yang mulia raja hanya memberi jatah kecil bulan ini... ".
Valerian menatapnya sekilas, lalu menghela nafas panjang.
"Tak apa. Kita akan mencari cara untuk mendapatkannya".
Nada suaranya tenang tapi tegas- bukan suara anak lemah, melainkan seseorang yang pernah hidup di dunia yang keras.
Ia mulai makan perlahan. Rasa gambar menempel di lidahnya, tapi tetap memaksa menelan.
"Rasa makanan tidak penting". Pikirnya. " Yang penting aku bertahan hidup. Dunia ini... belum selesai dengan ku".
Sementara itu, Alaric hanya berdiri di samping ranjang, menatap sang pangeran yang makan dengan lahap. Ada rasa haru dan bersalah di matanya- ia tahu betapa keras kehidupan pangerannya di tempat pembuangan ini.
Valerian menatap pelayannya sejenak, lalu berbicara di sela makannya.
"Ngomong-ngomong, kita.... ada di mana?".
Alaric segera menjawab dengan hormat.
"Menjawab pangeran, kita berada di benua astrein. Benua ini di penuhi Ksatria berbakat dalam sihir, juga banyak tumbuh tanaman obat langka".
Valerian berhenti mengunyah.
Sihir.
Kata itu berputar di kepalanya, membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Jadi... dunia ini penuh dengan sihir?".
Ia menatap ke arah api lilin yang bergetar pelan, matanya memantulkan cahaya emas yang samar. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Kalau begitu... sepertinya hidup di sini tidak akan membosankan".
Bayangan di dinding bergotang lembut, seolah ikut tersenyum bersamanya.
Selesai makan, alaric membereskan peralatan makan siang pangeran, lalu ia membantu pangeran berbaring di kasur.
"Selamat beristirahat pangeran".
Valerin menganggukkan kepalanya, alaric keluar dari kamar Valerian setelah mematikan lilin. Valerian harus melakukan sesuatu untuk mengenal lebih banyak tentang dunia yang baru saja ia masuki.
###
Keesokan harinya
Cahaya pagi menyinari benua Astrein. Pelayan- pelayan istana mulia bergegas menjalankan tugas mereka, sementara di kamar sederhana di ujung sayap istana, seorang remaja masih tidur nyenyak.
Pintu kamar berderit pelan.
Kreek...
alaric masuk membawa ember berisi air dingin. Uap tipis naik dari permukaannya.
"Pangeran, ayo bangun. Sudah saatnya Anda sarapan pagi".
Valerian menggeliat kecil, menarik selimutnya lebih rapat. Udara pagi menembus kulitnya seperti jarum halus yang dingin.
"Sebentar lagi". Gumamnya setengah sadar.
Alaric menghela nafas panjang. Ia mendekat, Lalu kembali membangunkan sang pangeran dengan lembut.
Valerian membuka matanya perlahan, menatap datar pelayannya dengan ekspresi jengkel.
Tatapan itu membuat Alaric refleks menunduk, sedikit gugup- tapi ia tahu tugasnya harus di jalankan.
"Pangeran, biar saya bantu membasuh wajah Anda".
Valerian hanya mengangguk.
Air dingin menyentuh wajahnya, membuatnya sedikit terkejut. Alaric mengambil sisir dan dengan hati-hati menyisir rambut perak yang halus dan lembut itu.
Valerian diam saja, matanya menatap pantulan dirinya di cermin retak dinding.
"Apa benar ini keturunan raja? kenapa perlakuan terhadap tubuh ini sangat berbeda dengan pangeran lain?". Batinnya dingin.
Setelah selesai, Alaric membungkuk sopan.
"Pangeran, saya akan menyiapkan sarapan Anda".
"Baiklah".
Alaric pergi, meninggalkan Valerian dalam kesunyian kamar itu. Udara pagi berhembus lewat jendela yang terbuka, membawa aroma rumput basah dan embun.
Tak lama kemudian, pelayan muda itu kembali membawa nampan perak sederhana. Ia meletakkannya di atas meja kecil dekat jendela dan membukanya perlahan.
Roti hangat dengan uap tipis dan secangkir teh masih mengepul di sebelah nya. Sederhana- tapi jauh lebih baik dari kemarin.
Valerian menatap Alaric sekilas, dan pelayan itu membalasnya dengan senyum kecil. Ia mulai makan perlahan, sementara alaric berdiri di sisi kanan dengan tenang.
Banyak hal yang ingin Valerian tanyakan, dan akhirnya ia membuka suara.
"Alaric kenapa tempat ini... berbeda?".
Alaric terdiam. Tatapan tegas pangerannya membuatnya tak bisa menghindar lagi. Ia menarik nafas, lalu berkata pelan.
"Tempat ini adalah Istana Utara pangeran.
Atau... lebih di kenal sebagai tempat pengasingan bagi darah kerjaan yang di anggap tidak berguna".
Valerian berhenti mengunyah.
Matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Anda di asingkan oleh Yang Mulia Raja tujuh tahan lalu, setelah wafatnya ibunda Anda, Ary Serephina. Sejak saat itu, Anda hidup disini dengan fasilitas seadanya... berbeda dengan Putra Mahkota dan Pangeran kedua".
Suara alaric sedikit bergetar.
"Sebelum wafat, Yang Mulia Ratu menitipkan Anda pada saya. Dan beliau juga menitipkan sesuatu untuk Anda".
Ia mengeluarkan sebuah buku kulit tua dan kalung perak dengan batu hitam di tengah nya.
Batu itu berkilau samar di bawah cahaya pagi.
Valerian menerima keduanya. Tangannya sedikit bergetar saat membuka halaman pertama buku itu.
Tinta sudah pudar, tapi masih bisa dibaca:
...Anda mungkin bukan yang terkuat, pangeran... tapi darahku mengalir dalam diri Anda. Jangan biarkan dunia menentukan siapa Anda. Saya percaya, bayangan pun bisa melindungi cahaya....
Valerian menutup buku itu pelan. Ia terdiam lama, matanya kosong tapi berisi amarah dan tekad yang menahan diri.
"Aku harus menjadi kuat, Untuknya... dan untuk membalas semua yang telah mereka lakukan".
Suara lembut alaric memecahkan lamunannya.
"Pangeran, sebaiknya Anda berjalan- jalan di luar. Tubuh Anda masih lemah, tapi sedikit latihan akan membantu Anda".
Valerian mengangguk.
"Baik, ayo".
Mereka berjalan bersama ke taman kecil di belakang istana tua itu. Angin berhembus lembut, membawa aroma dedauanan basah. Langkah Valerian masih goyah, dan Alaric berjalan di belakangnya, siap menahan bila sang pangeran jatuh.
Namun di setiap langkah, tatapan Valerian semakin tegas. Tubuh lemah itu menyembunyikan tekad baja- dan sesuatu yang perlahan mulai bangkit dari dalam darahnya.
Taman belakang istana tuan itu begitu luas, di penuhi tanaman liar dan bunga yang tumbuh tanpa perawatan.
Udara pagi berembus lembut, membawa aroma tanah dan embun.
Valerian menatap hamparan hijau itu dengan senyum miring. Matanya memandangi setiap jenis tanaman- dari daun berbulu tajam hingga bunga kecil berwarna ungu gelap di tepi pagar.
"Hemlock, foxbane, nightroot... semua ada disini". batinnya. " Sepertinya aku tidak akan kesulitan membuat racun kalau dibutuhkan".
Ia menunduk, menyentuh salah satu daun, jemarinya bergerak otomatis seperti dulu- refleks seorang pembunuh yang mengenali bahan- bahan mematikan hanya dengan sentuhan.
"Udara disini sangat sejuk". Gumamnya, menarik nafas dalam - dalam.
Namun baru saja ia melangkah lagi-
Brukk!
Tubuh Valerian ambruk ke tanah, Lututnya membentur keras, membuat debu berterbangan.
Alaric yang berdiri di belakangnya langsung panik.
" Pangeran!".
Ia berlari, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu: telapak tangan Valerian yang menyentuh tanah mengeluarkan nyala api biru- kecil, tapi terang dan panas, sebelum cepat padam begitu saja.
Alaric membeku di tempat, matanya melebar.
"A... pi biru?". Bisiknya tak percaya.
Ia segera membantu Valerian duduk di bangku batu taman. Wajah pangeran itu begitu pucat, tapi matanya tetap tenang.
"Pangeran, apakah Anda baik- baik saja? tadi... saya melihat api biru keluar dari telapak tangan Anda. Itu... sihir yang sangat langka".
Valerian menatapnya, alisnya berkerut.
" Api biru? aku bahkan tidak tahu ada sihir seperti itu".
Ia menggenggam tangannya perlahan, masih bisa merasakan panas samar di kulitnya. Jadi... tubuh ini punya sihir? Tapi kenapa rasanya tidak stabil...
Alaric menunduk dihadapan Valerian, lalu mulai memeriksa lutut pangerannya yang terluka.
Cahaya hijau lembut muncul dari tangannya, menyelimuti luka itu hingga tertutup sepenuhnya.
Valerian menatap dalam, matanya sedikit menyipit.
"Sihir apa itu?".
"Sihir penyembuh, pangeran". Jawab alaric dengan senyum tipis. "Saya memang tidak kuat, tapi sihir ini cukup untuk menyembuhkan luka ringan".
Valerian mengangguk kecil.
"Jadi, orang -orang disini bisa menggunakan sihir semacam itu?".
"Benar, Pangeran. Umumnya orang menguasai sihir elemen dasar- api, air, tanah, cahaya, pegi dan penyembuh.
Tapi keluarga Velthoria selalu dikenal dengan sihir cahaya. sedangkan api biru... dan sihir kegelapan, keduanya sangat langka. Hanya segelintir orang yang pernah memilikinya".
Valerian menatap telapak tangannya lagi, ekspresinya sulit dibaca.
"Api biru... kekuatan langka, tapi berasal dari bayangan? Apakah ini warisan dari ibunya... atau kutukan yang dikatakan orang?".
###
Sementara itu, di ruang kerja besar berhiaskan lambang phoenix keemasan, seorang pria berambut hitam dengan mata tajam menatap tumpukan dokumen di mejanya.
King Maelrick de Velthoria.
Pintu terbuka, dan seorang Ksatria berlutut di hadapannya.
"Hormat saya kepada Yang Mulia raja".
"Bangun. Ada kabar? ".
"Menjawab Yang Mulia... pangeran ketiga telah sadar. Saat ini beliau sedang berada di taman istana Utara".
Raja Maelrick diam sejenak. Tatapannya tidak menunjukkan emosi apa pun. Lalu ia kembali menatap berkas di tangannya.
" Kau boleh pergi".
Ksatria itu membungkuk, lalu keluar dengan cepat.
Ruangan kembali hening, hanya terdengar suara pena menulis du atas kertas. Raja Maelrick menatap jendela besar di hadapannya, matanya tajam namun kosong.
"Pangeran ketiga ya.. ". Gumamnya pelan.
"Anak dari wanita itu".
Ia tersenyum tipis- senyum dingin tanpa makna.
"Biarkan saja, anak itu tidak punya arti... tanpa sihir hanya di anggap aib bagi keluarga kerjaan".
Kembali ke istana Utara.
Langit siang tampak cerah, awan putih bergulung pelan di atas kepala. Sinar matahari menembus dedaunan, memantul di permukaan rumput yang basah oleh embuh pagi.
Udara segar membawa aroma tanya dan bunga liar.
Valerian berjongkok di antara semak- semak, jemarinya lincah memetik beberapa daun hijau tua dan bunga berwarna kelabu keperakan.
Keringat tipis membasahi pelipisnya, namun senyum miring menghiasi wajahnya.
"Aconite, silverleaf, dan blackroot... ".
Ia tersenyum kecil. " Tanaman beracun dan penyembuh... kombinasi yang sempurna".
Sebagai mantan assassin, ia tahu betul setiap aroma dan tekstur tumbuhan itu- mana yang bisa menyembuhkan, dan mana yang bisa menghabisi nyawa dalam sekejap.
"Dengan ini, aku bisa membuat ramuan langka. Dan menjualnya di pasar untuk. mendapatkan uang". Gumamnya sambil menatap kumpulan tanaman di tangannya.
Ia melirik ke arah alaric yang berdiri tidak jauh darinya, membawa keranjang penuh tumbuhan.
"Kita tidak bisa bergantung pada sisa jatah raja bajingan itu". Katanya datar.
"Kalau ingin bertahan hidup, kita harus menciptakan jalan kita sendiri".
Alaric menunduk sopan.
"Seperti yang Anda perintahkan, pangeran".
Setelah selesai mengumpulkan semua tanaman yang dibutuhkan, mereka kembali ke dalam istana utara- bangunan tua yang sepi dan dingin. nyaris tak terdengar suara kehidupan selain langkah mereka berdua.
Tidak ada pelayan lain.
Tidak ada penjaga.
Hanya ada keheningan dan debu yang menempel di dinding- dinding batu.
Valerian menaruh semua tanaman di meja kayu dekat dapur. Cahaya matahari menembus jendela kecil, menyoroti wajahnya yang tenang dan fokus.
"Aku akan melakukan ini sendiri". Katanya pada alaric.
" Baik, pangeran".
Alaric menunduk sopan, lalu keluar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Valerian mulai bekerja. Tangannya bergerak cepat- menggiling daun, menakar bubuk kering, mencampur cairan kental ke wadah kaca.
Aroma tajam dari bahan herbal memenuhi udara.
Setiap gerakannya teratur, dingin, dan penuh perhitungan. Sama seperti ketika ia dulu menyiapkan racun sebelum menjalankan misi pembunuhan. Tapi kali ini bukan untuk membunuh- melainkan untuk bertahan hidup.
"Heh... lucu". Gumamnya dengan senyum miring. " Dulu aku mencampur racun untuk menghabisi orang lain... sekarang aku membuat ramuan untuk menyelamatkan diriku sendiri".
Uap tipis berwarna ungu naik dari wadah kaca yang di panaskannya. Valerian menatapnya dengan tatapan puas.
"Ini akan menjadi ramuan yang langka... "
Ia tersenyum - senyum dingin, tapi penuh keyakinan.
"Dan mungkin... awal dari sesuatu yang lebih besar".
Cahaya matahari menyoroti wajahnya, sementara bayangan di dinding di belakangnya bergerak pelan- seolah kegelapan itu sendiri sedang mengakui kebangkitannya.
Selesai meracik ramuan, Valerian menatap puluhan botol kaca di hadapannya.
Cairan di dalamnya berkilau lembut di bawah cahaya siang, seolah menyimpan rahasia tersembunyi.
“Kira-kira, harganya akan mahal tidak ya?” gumamnya sambil menopang dagu.
Ia berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu kecilnya.
Tanpa banyak bicara, Valerian mengambil keranjang dari sudut ruangan dan mulai meletakkan satu per satu botol ramuan ke dalamnya dengan hati-hati.
Setelah itu, ia membuka satu botol kecil berisi cairan bening kehijauan.
Ramuan penambah stamina -racikannya sendiri.
Sekali teguk, cairan itu langsung mengalir di tenggorokannya, meninggalkan sensasi panas menyebar ke seluruh tubuh.
“Tubuhku terasa penuh energi.”
Valerian membawa keranjang itu keluar dapur. Di depan pintu, Alaric sudah berdiri menunggu dengan sikap sopan.
“Anda sudah selesai, Pangeran?”
“Sudah. Tolong bawakan ini ke kamarku,” jawab Valerian datar.
Alaric menerima keranjang itu dengan kedua tangan, lalu sedikit menunduk.
“Baik, Pangeran. Sebaiknya Anda beristirahat.”
Mereka berjalan menyusuri koridor sunyi Istana Utara.
Udara di dalam bangunan itu lembab, tapi suasana hati Valerian sedang bagus hari ini — pikirannya dipenuhi rencana dan angka.
“Jika di dunia lamaku aku tak perlu bersusah payah menjual ramuan…” batinnya.
“Tapi sekarang, uang adalah senjata pertama yang harus kupunya.”
Sesampainya di kamar, Valerian duduk di kursi tua yang berderit pelan.
Alaric meletakkan keranjang di meja kecil.
“Alaric, siapkan air mandiku. Rasanya panas sekali di sini.”
“Baik, Pangeran,” jawab Alaric sebelum pergi.
Ruangan kembali sunyi.
Valerian menatap buku lusuh di meja — buku peninggalan mendiang ibunya, Ratu Serephina.
Ia membuka halaman demi halaman sampai matanya berhenti pada satu bagian yang disertai peringatan:
“Untuk membuka segel darah, gunakan liontin hitam dan darahmu sendiri. Namun berhati-hatilah, karena bayangan yang terbangun mungkin tidak lagi sepenuhnya milikmu.”
Valerian tersenyum miring.
“Ternyata kekuatan ini begitu besar hingga harus disegel… menarik.”
Ia mengambil liontin hitam dari saku dan meletakkannya di telapak tangan.
Cahaya redup dari jendela memantul di permukaannya yang berkilau kelam.
Dengan cepat, ia mengambil pisau kecil, lalu melukai ujung jarinya.
Tetesan darah merah tua menetes ke liontin itu.
Hening.
Lalu…
Wusshh—
Cahaya hitam menyelimuti tubuhnya, berputar seperti pusaran kabut.
Dada Valerian terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas, darah keluar dari mulutnya.
“Ukh—s-sakit…”
Tubuhnya bergetar hebat, lututnya goyah hingga ia jatuh ke lantai.
Nafasnya tersengal, tangan kanannya bergetar hebat saat mencoba meraih meja.
Pintu kamar terbuka keras.
“Pangeran!” seru Alaric yang langsung berlutut di sisi Valerian.
Ia melihat darah di lantai dan cahaya gelap yang perlahan memudar.
“Apa yang terjadi pada Anda?!”
Valerian hanya bisa terengah, matanya setengah terbuka, bibirnya berlumuran darah.
“S-sakit…” rintihnya lemah.
“Bertahanlah, Pangeran!”
Alaric segera menekan tangannya di dada Valerian, mengalirkan sihir penyembuh.
Cahaya hijau lembut muncul, menyelimuti tubuh sang pangeran.
Namun bahkan dengan sihir penyembuh tingkat tinggi, napas Valerian masih berat.
Di antara kesadarannya yang mulai kabur, ia sempat berpikir getir:
“Sial… tidak tertulis kalau prosesnya akan sesakit ini.”
Cahaya hitam akhirnya menghilang sepenuhnya, menyisakan ruangan yang sunyi dan udara yang terasa berat.
Alaric terus memanggil nama pangerannya, sementara Valerian perlahan kehilangan kesadaran —
tapi di balik tubuh lemah itu, sesuatu telah terbangun.
Kelopak mata Valerian perlahan terbuka.
Cahaya senja menembus jendela, menyinari ruangan yang kini dipenuhi aroma obat dan darah kering.
Di samping tempat tidurnya, Alaric duduk dengan mata sembab, menatapnya lega.
“Pangeran, akhirnya Anda sadar,” ucapnya cepat, suaranya terdengar lega sekaligus khawatir.
Valerian menatap Alaric dengan pandangan tenang, meski tubuhnya masih terasa berat.
“Berapa lama aku pingsan?”
“Sekitar tiga jam, Pangeran,” jawab Alaric, menunduk hormat.
Valerian tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk perlahan, merasakan rasa sakit samar di dada dan lengan.
“Aku ingin mandi.”
“Baik, Pangeran. Saya bantu Anda untuk—”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri,” potong Valerian pelan namun tegas.
Alaric menunduk dan menyingkir.
Valerian berjalan masuk ke kamar mandi, membuka pakaiannya yang berlumuran darah kering. Setiap lipatan kain terasa berat, seolah menempel di kulitnya.
Air hangat memenuhi bak kayu, uapnya mengembun di udara.
Valerian perlahan masuk ke dalamnya, menutup matanya sesaat.
Sensasi hangat itu membuat otot-ototnya rileks, tapi di dalam tubuhnya… ada sesuatu yang berdenyut aneh.
Ia menatap telapak tangannya di atas air.
Di sana — seberkas api biru kecil muncul, menari pelan seperti kehidupan baru yang belum stabil.
Cahayanya lembut tapi memberi rasa panas yang menggigit.
Valerian memandang api itu lama, lalu menambahkan sedikit sihir kegelapan yang mengalir dari inti tubuhnya.
Api itu membesar, warnanya makin pekat, berubah dari biru lembut menjadi biru tua dengan semburat hitam di tepinya.
Panasnya meningkat drastis.
Valerian meringis pelan dan cepat-cepat mencelupkan tangannya ke dalam air.
Uap mengepul, permukaan air berdesis.
“Kegelapan, ya…” gumamnya pelan.
“Aku tidak semudah itu untuk dikendalikan.”
Ia menatap pantulan dirinya di air yang beriak pelan — mata emasnya kini tampak lebih tajam, dengan bayangan hitam samar di sekeliling irisnya.
Untuk sesaat, Valerian tersenyum kecil.
“Tapi cepat atau lambat… aku yang akan menguasaimu.”
Air di bak berguncang ringan, seperti merespons sumpahnya.
Dan di luar kamar mandi, Alaric menatap pintu tertutup itu dengan wajah tegang.
Ia bisa merasakan hawa dingin dan tekanan sihir kuat yang merembes keluar dari balik kayu.
“Kekuatan itu… bukan sihir biasa,” bisiknya cemas.
Valerian menghela napas panjang, kesunyian memenuhi seluruh ruangan.
Matanya menatap kosong ke arah jendela, di mana angin malam meniup lembut rambut peraknya yang berkilau dalam cahaya redup.
Sejak ia sadar kemarin, tak ada satu pun anggota keluarga kerajaan yang datang menjenguk.
Tidak sang ayah, tidak pula saudara-saudaranya.
Hal itu cukup untuk menunjukkan betapa diabaikannya pemilik tubuh ini.
“Bahkan setelah hampir mati pun… tak ada yang peduli,” gumamnya pelan.
Valerian juga tak banyak tahu tentang keluarga kerajaan Velthoria.
Ingatan yang tertinggal dari pemilik tubuh ini sangat sedikit — hanya potongan samar tanpa wajah yang jelas.
Suara pintu terbuka memecah keheningan.
Alaric masuk membawa nampan berisi makan malam. Ia meletakkannya di atas meja kecil dan menunduk hormat.
Valerian membuka penutup nampan dan mulai makan dengan tenang.
“Alaric, besok kita akan pergi keluar. Aku ingin menjual ramuan yang sudah kusiapkan.”
Alaric menatap pangerannya, sedikit terkejut namun segera menunduk.
“Baik, Pangeran. Saya akan ikut dengan Anda.”
Valerian menyendok sayur ke mulutnya, mengunyah perlahan.
“Apa orang-orang di luar tahu wajahku?”
Alaric terdiam sejenak, lalu menjawab hati-hati.
“Tidak, Pangeran. Baik rakyat maupun bangsawan tak mengenal wajah Anda. Sejak Anda diasingkan ke Istana Utara, Yang Mulia Raja mengumumkan bahwa Anda telah meninggal karena diracun oleh musuh.”
Sendok di tangan Valerian berhenti. Ia menatap kosong ke arah makanan, lalu tersenyum tipis — senyum getir tanpa emosi.
“Mati, ya… padahal aku masih hidup.”
“Ah, sudahlah. Siapkan saja keperluan untuk besok. Kau tahu tempat yang tepat untuk menjual ramuan, bukan?”
“Saya mengenal satu toko penjual obat di kota bawah, Pangeran. Pemiliknya orang baik, pasti akan menyetujui.”
Valerian mengangguk pelan, kembali menyendok makanannya dengan tenang.
Namun pikirannya sudah jauh — tentang dunia luar yang belum pernah ia lihat, dan tentang kekuatan yang mulai bangkit di dalam dirinya.
Setelah makan malam, Alaric keluar untuk membawa nampan ke dapur.
Valerian duduk bersandar di kursi, menghirup udara malam yang masuk lewat jendela terbuka.
Udara dingin menusuk kulitnya, tapi rasa dingin itu terasa menyenangkan.
“Waktu yang tepat untuk berlatih,” gumamnya lirih.
Ia bangkit dan melangkah keluar kamar, berjalan menuju taman belakang Istana Utara.
Langit malam terbentang luas — tak berbintang, hanya kegelapan yang dalam.
Tidak ada siapa pun di sana.
Valerian berdiri di tengah taman, mengangkat tangannya, dan memusatkan fokusnya.
Udara di sekitarnya mulai bergetar.
Bayangan dari pepohonan bergerak aneh, mengikuti irama detak jantungnya.
Api biru kecil muncul di telapak tangannya — bergetar, tak stabil.
Ia menambahkan sedikit sihir kegelapan, dan api itu berubah bentuk seperti pusaran, memanjang lalu padam tiba-tiba.
Panas terasa membakar telapak tangannya, tapi Valerian tak menghentikan diri.
Keringat membasahi wajahnya, napasnya berat, namun matanya memantulkan tekad yang keras.
“Kalau kau ingin menjadi milikku…” gumamnya rendah, suaranya hampir seperti bisikan.
“...maka tunduklah padaku.”
Udara di taman bergetar sesaat, seperti menjawab tantangannya.
Di antara bisikan angin malam, api biru kembali menyala — kali ini lebih tenang, lebih jinak, tapi auranya lebih pekat.
Dan di balik kegelapan taman, sesuatu yang tak terlihat seolah menatap Valerian dengan diam.
Valerian berhenti melatih sihirnya. Tubuhnya terasa berat, keringat menetes di pelipis, dan napasnya memburu. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap langit yang mulai memucat menjelang fajar.
Sudah cukup untuk malam ini, batinnya. Ia berbalik menuju kamar, menutup pintu perlahan. Ada rencana yang harus dijalankan besok—dan untuk saat ini, ia perlu mengisi tenaga kembali.
Keesokan paginya, sinar mentari menyusup melalui celah jendela istana utara. Valerian berdiri di depan meja, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap. Rambut peraknya disembunyikan di balik tudung jubah hitam.
Pintu kamar terbuka. Alaric masuk, juga mengenakan tudung.
“Apakah Anda sudah siap, Pangeran?” tanyanya sopan.
Valerian mengangguk. “Sudah. Mari kita pergi.”
Ia mengambil gulungan teleportasi dari meja dan merobeknya perlahan. Cahaya lembut menyelimuti tubuh mereka, membuat udara di sekitar bergetar. Saat cahaya itu memudar, keduanya telah tiba di tempat yang sama sekali berbeda.
Suara pedagang berteriak, langkah kaki saling bersahutan, dan aroma rempah serta roti panggang memenuhi udara. Pasar ibu kota Elyndor terbentang luas, hidup dan penuh warna.
“Apakah ini... pasar?” tanya Valerian kagum.
“Benar, Pangeran. Ini pasar ibu kota,” jawab Alaric sambil menatap hiruk pikuk di sekeliling mereka.
“Jangan panggil aku Pangeran. Di luar, cukup panggil Valerian.”
“Tapi—”
“Kita tidak sedang di istana,” potongnya lembut.
Alaric akhirnya mengangguk. “Baiklah... Valerian.”
Mereka berjalan menyusuri jalan batu yang ramai. Pedagang menawarkan buah, kain, dan berbagai ramuan, sementara anak-anak berlari kecil membawa bunga liar. Valerian memperhatikan semuanya dengan rasa ingin tahu yang jarang ia tunjukkan.
Suatu hari nanti, aku ingin mencicipi semua makanan di sini, pikirnya sambil tersenyum tipis.
Namun langkahnya terhenti saat melihat banyak orang berkerumun di ujung jalan. Suara panik terdengar di antara teriakan pedagang yang berhenti berjualan.
“Alaric, ada apa di sana?”
“Sepertinya seseorang pingsan, Tuan—eh, Valerian.”
Tanpa pikir panjang, mereka berjalan mendekat. Di tengah kerumunan, seorang pria paruh baya berpakaian bangsawan tergeletak. Wajahnya pucat, napasnya tersendat. Para ajudannya panik.
“Tuan, biarkan aku memeriksanya,” ujar Valerian datar.
Seorang ajudan menatapnya sinis dari atas ke bawah. “Kau? Bocah seperti kau mau apa? Pergi sana!”
Valerian menatapnya dengan sorot tajam. “Jika kalian tak ingin tuan kalian mati, maka diamlah.”
Nada suaranya dingin namun penuh otoritas, membuat semua orang tanpa sadar menyingkir.
Ia berlutut di samping pria itu, memeriksa denyut nadi, lalu mengendus aroma samar dari leher korban.
“Racun daun Silvertide...” gumamnya pelan.
Valerian mengeluarkan sebotol kecil dari saku jubahnya dan menuangkan cairan kehijauan ke mulut pria itu. Beberapa orang menahan napas, menatap dengan ragu. Namun sesaat kemudian, tubuh pria itu bergetar ringan, diselimuti cahaya hijau, dan napasnya kembali normal.
Perlahan, matanya terbuka. Ia menatap Valerian lama — bola matanya sedikit membesar, seolah mengenali sesuatu.
Rambut perak... mata emas... mustahil salah.
Namun alih-alih bereaksi, sang pria tersenyum kecil. “Terima kasih, anak muda. Aku merasa jauh lebih baik sekarang.”
Suara lembutnya membuat para ajudan terdiam.
“Tidak perlu berterima kasih. Anda diracuni, tapi racunnya sudah saya netralkan. Pastikan Anda beristirahat,” jelas Valerian datar, kemudian berdiri.
Sang bangsawan—seorang duke ternama di Elyndor—mengulurkan sekantong uang. “Ambillah ini, sebagai rasa terima kasihku.”
Valerian sempat hendak menolak, tapi tatapan tenang pria itu membuatnya menerima dengan sopan. “Baiklah. Terima kasih.”
“Semoga takdir membawa kita bertemu lagi,” ucap duke itu dengan nada bermakna.
Valerian mengangguk ringan dan berjalan pergi bersama Alaric. Orang-orang di sekitar berbisik kagum, sebagian bahkan mencoba mengejar untuk membeli ramuan darinya.
“Valerian, ramuan Anda benar-benar hebat,” puji Alaric.
Valerian hanya tersenyum samar. “Ramuan yang tepat di waktu yang tepat. Itu saja.”
Di toko obat, pemilik toko—seorang wanita tua berhidung mancung—menatap ramuan buatan Valerian dengan mata berbinar.
“Anak muda, ini kualitas terbaik yang pernah kulihat! Aku akan membelinya semuanya.”
Valerian menyerahkan ramuan itu satu per satu. Setelah menerima kantong uang tebal, ia dan Alaric berjalan keluar toko.
Udara sore mulai turun perlahan, membawa aroma manis bunga kering. Valerian menatap sekantong uang di tangannya. “Cukup untuk hari ini,” gumamnya.
Namun jauh di belakang, dari atas balkon sebuah penginapan, sang duke berdiri diam menatap mereka pergi.
Angin menerpa jubah hitamnya, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Pangeran ketiga... ternyata kau masih hidup,” bisiknya pelan, “dan lebih berbahaya dari yang kuduga.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!