Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Istri Presiden Dingin

Bab : 1 Savannah Mackenzie

Salju turun membuat bumi di penuhi dengan tumpukan putih es yang dingin...

Di salah satu apartemen susun di lantai dua tepatnya pintu nomor 17 di huni oleh seorang remaja berusia 18 tahun bernama SAVANNAH MACKENZIE. Remaja cantik yang baru tiga Minggu lalu menyelesaikan masa sekolahnya di bangku SMA dengan jurusan IPA dan lulus dengan nilai terbaik.

Sejak tiga minggu itu pintu apartemen milik sava tak pernah lagi terbuka, sehingga apartemen itu bagai tak berpenghuni padahal sang pemilik jelas ada di dalam.

Sava gadis cantik yang hidup sebatang kara lantaran tak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Karena Saat sava bayi, sava di temukan di depan gerbang panti dalam sebuah keranjang bayi pada malam bersalju. Ibu panti yang kasihan pun membawa bayi sava masuk dan mulai merawat bayi sava hingga usia sava 15 tahun.

Sava tumbuh menjadi gadis yang cantik juga pendiam, ah lebih tepatnya sava terlalu malas untuk mengeluarkan suara.

Sava yang selalu nampak lesung dan acuh tak acuh dengan hal-hal lain membuat sava tak memiliki teman. Karena itu sava lebih sering menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan dan tidur di tempat-tempat yang sunyi dan tenang. Sava Janis cewek yang cuek dan bodo amat, tapi orang bilang marahnya seorang pendiam itu lebih menyeramkan dari mereka yang selalu nampak ceria dan muda bergaul. Terbukti, suatu hari ada yang membuat sava marah hingga lepas kendali dan hampir membuat anak yang usianya lebih tua dua tahun dari sava itu masuk rumah sakit.

Meski anak itu masih selamat namun dia jatuh koma selama seminggu. Dan sejak itu tak ada yang pernah berani lagi mengusik ataupun berdekatan dengan sava dan sava tak perduli akan itu. Selama dia tenang maka itu bukan urusannya.

Di usia sava yang masih 15 tahun, sava sudah duduk di bangku SMA kelas X. Meski sava selalu bermalas-malasan dan selalu tidur di jam pelajaran, dia selalu menjadi juara satu umum karena sava memiliki otak yang cerdas dan daya ingat yang kuat sehingga dalam hal belajar dia tak pernah mendapat masalah.

Saat sava duduk di bangku kelas 11 sava memilih untuk keluar dari panti dan mulai hidup sendiri di sebuah apartemen kecil. Tanpa siapapun tau sava adalah hacker jenius yang terkenal misterius dengan nama "M". Dari sana juga sava bisa hidup santai dan hanya duduk di depan komputer dan menghasilkan banyak uang untuk dirinya sendiri dan sesekali sava akan mengirim untuk panti.

Dan tiga Minggu lalu sava lulus dengan nilai tertinggi dari SMA. Sava sama sekali tak ada niatan untuk lanjut kuliah ataupun berniat untuk mencari pekerjaan. Bukan sava tidak mau, tapi sava terlalu malas dan mageran, dan sava tidak ingin berkuliah karena baginya itu terlalu melelahkan dan dia ingin pensiun. Lagian tanpa repot-repot mencari pekerjaan sava bisa menghasilkan banyak uang dari profesinya sebagai seorang hacker.

Dan sava juga tidak punya niat sama sekali untuk mencari tahu siapa orang tua

kandungnya, sava terlalu malas dia lebih suka ketenangan tanpa gangguan dan lebih suka menghabiskan waktunya menonton para suami-suami halu nya itu.

Ya, asal kalian tau satu-satunya hal yang dapat membuat sava tahan lama untuk tetap sadar selain bermain komputer adalah menonton Drama-drama dimana para pemainnya adalah pria-pria tampan. Selain itu sava juga adalah seorang fujo, Dia paling suka dengan hal-hal imut dan juga hewan berbulu. Terbukti dari sava yang memlihara beberapa ekor kucing semua satu warna yaitu putih. Sava merawat kucing-kucing nya dengan baik sehingga mereka tumbuh dengan sehat terutama bulu mereka yang bagai tak ternoda sama sekali dan sangat-sangat lembut.

"Ganteng banget suami aku.. iya nggak cimol?" Ucap sava sambil membelai buku kucing putih berukuran besar di pangkuannya yang sedang tertidur malas yang sava beri nama Cimol.

Meong~~

"Hem, Hem.. aku tau kamu pasti akan setuju dengan aku."

Sava tersenyum bangga dengan mata fokus menatap ke dalam layar laptop dimana kini menayangkan sebuah drama Drakor yang viral akhir-akhir ini.

"Ah- kok yu Xie imut sekali yaa molll... Pantes aja Wang ji menyukai nya. Ugh, Wang ji juga ganteng bangett... Mol, aku harus ottoke??"

Cimol yang di uyel-uyel gemas oleh sava hanya pasrah dengan tingkah lebay dan dramatis majikannya itu.

Itulah nasib karena memiliki majika seorang fujo.Pikir cimol

meong~~

"Eh, hehehe.. maaf ya mol, abisnya aku gemes banget sama yu Xie, imut BANGETTT...."

sekali lagi cimol hanya pasrah di peluk erat oleh sava bahkan kini sava menenggelamkan wajahnya di hulu lebay cimol.

"Ah.. aku berharap punya suami ganteng biar tiap hari aku bisa cuci mata terus hahah ya nggak mol?" Halu sava sambil meminta persetujuan cimol dengan menatap wajah cimol.

Cimol menatap malas majikannya itu. Kini wajah cimol sudah berada tepat di depan wajah sava.

Cimol tidak menyahut malah menguap lebar membuat sava gemas dan kembali mendusel di bulu halus cimol..

"Aaaa... Cimol gemes bagett aku tuh sama kamu....." Sava memekik gemas

Meong!!..

Cimol protes bahkan kaki depan kucing putih besar itu sudah di atas wajah sava mencoba mendorong jauh majikannya itu. Namun, dengan jahilnya sava bukannya melepas malah semakin memelukku tubuh cimol membuat kucing itu menjerit bagai orang yang mendapat pelecehan.

"Hahahahah..."

Cimol menatap sinis sava yang tertawa, setelah berhasil lepas dari majikan ganasnya itu cimol langsung berbalik pergi menuju kandangnya setelah melepas tatapan sinis ke arah majikannya itu.

"Mol, mau kemana?" Panggil sava namun di abaikan oleh cimol.

Kruk...kruk....

"Ughh.. cacing-cacing ku sudah pada demo, lebih baik aku segera memberi mereka makan sebelum mereka balik demo lagi." Sava mengusap perutnya yang berbunyi dan turun dari atas ranjang setelah mematikan laptop nya dan berjalan keluar dari kamar menuju dapur.

Sava menatap lelah ke arah salju-salju yang berjatuhan sambil memeluk erat jaket bulu tebalnya tak lupa topi rajut menghiasi kepalanya dan sarung tangan penghalang hawa dingin.

"Demi bertahan hidup dan demi keberlangsungan hidup, aku dengan terpaksa harus menerjang marah bahasa di luar sana!" Sava berucap dramatis bin lebay nya itu.

Sava menatap sengit di mana saat ini salju-salju berjatuhan menutupi jalan.

Ya, saat ini sava berdiri di depan pintu apartemen nya dengan seluruh tubuh tertutup pakaian tebal anti tembus.

Sebenarnya dia terpaksa.Saat sava ingin mencari makan tadi dia baru ingat jika dirinya belum menstok bahan makanan lagi. Dan karena itu, setelah pertimbangan yang amat keras dan keteguhan hati, jiwa dan tekatnya. Akhirnya sava memutuskan menepis rasa malasnya dan keluarga dari gua-ah, maksudnya apartemen untuk membeli makanan dan juga beberapa stok.

Dan disinilah sava sekarang, berdiri di depan pintu apartemennya dengan tubuh menggigil malas menatap ke arah dimana hujan salju saat ini terjadi.Berat rasanya untuk melangkah, tapi demi bisa tetap hidup dan bernafas, sava mau tak mau melangkah kan kakinya berjalan di lorong apartemen.

Malam sudah menunjukkan pukul 11 tak heran saat ini suasana terasa sepi. Sava baru tau jika di luar apartemen nya setiap malam akan sesepi ini, maklum aja dia anaknya lebih suka mendekam di dalam kamar sambil menonton-i para suami-suaminya dan berhalu hal-hal yang di luar nalar.

Dan kesan horor sangat terasa di sepanjang sava jalan karena memang apartemen yang di tempati oleh sava itu adalah apartemen dengan harga bayar murah dan juga hanya terdapat tiga lantai saja. Dan tidak semua kamar terisi, sava sendiri tak tau ada berapa orang yang menempati apartemen itu.

"Ini kalau di jadiin lokasi acara film horor bisa nih.Suasana sama bangunannya aja memadai dan sangat mendalami pandangan dan pendapat orang lain akan ke hororannya."

Saat sava tepat melewati pintu apartemen terlahir dengan tangga turun tepat tak jauh dari pintu kamar apartemen itu, langkah sava spontan berhenti dengan wajah syok mengapa ke arah pintu itu.

Ahh-Ahhhmm

"Anjir, suara apaan tuh?!" Sava memekik horor dengan mata melotot

Ah-Ah-

"Sialan, ini sih lebih serem dari suara miss kun anjir." Mulut mendelik namun tidak dengan tindakan.

Gimana nggak? Di mulut dia berkata apa namun tubuhnya malah bertindak berbeda. Lihat saja sekarang, bukannya segera pergi, sava malah menjulurkan lehernya ke depan pintu dan menajamkan pendengarnya.

Arghhh~~ah!

"Buset! Eh, anjir.. ngapain aku masih disini? Ck, telinga suci ku jadi kotor kan karena suara-suara syaitan lagi kawin."

Gerutu sava dia menatap pintu itu kemudian melengos. "Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini sebelum pikiran ku semakin sesat karena suara-suara haram mereka. Lagian suami-suami ku masih menunggu princess cantik ini buat liat mereka. Berrrr... Dingin bangetttt.."

Sava melanjutkan langkahnya Namaun sebelum itu sava masih sempat-sempatnya mendendang pintu apartemen itu, sava yakin orang yang ada di dalamnya terkejut karena seketika tak ada lagi suara-suara aneh dari dalam dan itu membuat sava cekikikan.

BRAK!

"Hahaha.. gagal dah tuh nabur bibitnya. Lagian siapa suruh nganu kok suara nggak di kontrol." Puas sava tertawa.

Save Menuruni anak tangga dengan langkah demi langkah sambil terus memeluk dirinya karena hawa dingin yang menerpa wajah mulusnya.

"Kali ini aja, ya! Untuk kali ini aja aku melangkahkan kaki ku dimalam bersalju dan dingin ini. Ughhh.. pengen ku terjang sat set sat langsung tapi diri ini masih sadar jika aku nekat maka aku hanya memiliki dua pilihan, Yaitu rumah sakit dan langsung ke surga. Eh, tapi apa gue bakal langsung ke surga ya? Gue sadar dosa gue banyak tapi kebaikan hati ku juga lebih banyak sih, perasaan.. jadi kayanya gue masih bisa masuk surga deh."

Monolog sava berpikir, ia menghentikan langkahnya di tengah-tengah anakan tangga dengan tangan di bawah dagunya sedang berpikir.

"Eh, tapi gue nggak mau mati dulu njir, kalau gue mati gimana sama suami-suami gue?

Terus mimpi gue jadi pengangguran kaya raya gimana?"

Sangking sibuknya sava memikirkan jika dia mati nanti, cewek yang hobinya halu dan mata duitan itu tak menyadari jika seekor anjing kecil entah dari mana berjalan menuruni tangga dan berhenti di bawah tepat kaki sava.

Anjing berwarna coklat dengan bulu lebat itu mendongak, mata bulat coklat itu menatap sava yang sama sekali tak di sadari oleh cewek yang sedang berdebat dengan dirinya sendiri itu

"Hem.. lebih bai-"

UWOFF..!

"Ba, ba, baARGHH...!"

Bruk!..bruk!..bruk...! Bug!..

Tubuh sava terbaring tengkurap di atas tanah dengan darah yang mengalir membuat salju yang awalnya putih kini berwarna merah.

Ya, karena terkejut sava sampai kehilangan keseimbangannya membuat tubuh sava terjatuh dan menggelinding dari tangga hingga mendarat di atas salju putih.

Mata sava menyayu dengan keluhan

"Aaa.. ak-u.. tidak menyangka akan ma-mati.. den-an ti, hah.. tidak elit se-hah.. seperti ini..." Gumam sava dengan nafas yang tersenggal.

Uwoff..

Mata sava melirik perlahan ke arah atas tangga dimana pelaku yang membuatnya terjatuh berada di sana dan terus menggonggong

"An-anjing sialan!..ah... Ak- aku ng-nggak terima hah..hah.. ak-u masihhh... Be-lum mewujudkan mim-pi kuhhh..." Hati sava menangis tak rela

Mata sava semakin menyanyi dengan deru nafasnya yang kian mengecil.

"Tapi, jika aku benar-benar mati, aku hanya berdoa sama tuhan, jika di beri kesempatan kedua, aku ingin terlahir di keluarga yang kaya raya sehingga aku tak perlu bersusah paya memulai dari awal lagi. Dan aku juga berdoa untuk di kehidupan kedua ku nanti aku bertemu dengan cogan-cogan yang belum sempat aku wujudkan di dunia ini."

Sava berdoa dalam hatinya dan perlahan tapi pasti kedua mata yang selalu memandang perut sobek dan berbinar cerah jika melihat uang dan para cogan mulai menutup.

"Ahh.. aku lupa, cimol. Mol, semoga kamu dapat majikan baru ya. Yang pasti lebih baik dari aku, walaupun itu suatu kemustahilan. Tapi apa salahnya kalau aku mendoakan mu kan? Dan aku hara kamu bisa menjaga sodara-sodara kamu sejak aku tak ada. Jangan bertengkar dan jangan merusak barang-barang ku! Kalau tidak aku akan kembali dan mencekik mu!."

Hiks.. selamat tinggal dunia tipu-tipu dan juga selamat tinggal para cogan-cogan ku...."

Dan itulah akhir dari ungkapan-ungkapan dari seorang Savannah Mackenzie di akhir hidupnya yang monoton.

*Bersambung*

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih 🙏*

*Salam manis dari AUTHOR 🤭*

*ig@vera_miceela.*

Bab 2 Savannah Artemia Dickson

"Hahhh..."

Sava menghela nafas malas untuk yang kesekian kalinya namun senyum tertawan perempuan itu tak bisa ia tutupi bahwa ia juga tengah merasa senang sekarang ini.

Ya, kalian nggak salah baca kok. Dia sava, ah lebih jelasnya jiwa sava yang kini bersemayam di dalam tubuh seorang wanita yang memiliki nama depan sama dengan sava namun bedanya wanita itu di panggil Anna.

SAVANNAH ARTEMΙΑ DICKSON. Nama tubuh yang di tempati oleh jiwa sava. Seorang wanita yang telah bersuami dan memiliki satu orang putra berusia 4 tahun.

Sava senang namun juga menggerutu mengutuk pemilik tubuh asli.Bagaimana tidak? Dari ingatan pemilik tubuh, sava mengetahui bahwa wanita itu adalah cewek bodo bin tolol menurut sava. Masa hanya karena obsesi dan cintanya pada laki-laki yang merupakan suaminya malah mengabaikan anak kandungnya sendiri demi mengejar suami yang sama sekali tak memandang ataupun menganggap dirinya sebagai istri. Bahkan laki-laki itu sama sekali tak pernah memandangnya dengan hangat, malah tatap dingin dan acuh tak acuh dan jijik yang selalu ia dapatkan.

Sampai kecelakaan itu terjadi, kecelakaan dimana membuat jiwa Anna kini tiada dan tubuhnya yang berakhir di isi oleh jiwa sava. yang mirisnya, pemilik tubuh meninggal karena selingkuhan suaminya sendiri.

"Bodoh. anak sendiri di telantar-in. terus malah sibuk mengejar-ngejar laki-laki yang sama sekali Memandang dirinya. Terus yang paling sayang sekali, dia malah tidak nikmatin duit dan kekayaan suaminya. Hadehh... Definisi hidup tapi tidak berguna Si ini mah kalau kata aku."

Kemudian senyum menyeringai dan mata cerah penuh rencana terhias di wajah tertutup make up itu.

"Heheh.. tapi nggak papa sih, jadi aku bisa menempati tubuh ini. Tidak masalah sama kehidupan dan kenyataan bahwa nih tubuh udah nggak Ting-ting lagi, di kesempatan kedua ini aku tidak akan hidup seperti pemilik asli yang bodo. Aku akan menikmati hidup ini dengan uang milik suami pemilik asli ah atau sekarang menjadi suami ku juga? Ah bodo amat yang penting aku bisa bersantai tapi duit tetap ngalir hahaha... Urusan pelakor itu nanti aja deh aku pikirin, soalnya aku lagi males mikir." Sava masa bodo

"Ah, lebih baik aku tidur cantik dulu buat isi tenaga untuk menyambut dunia baru penuh dengan uang dan pria tampan esok hari"

Baru saja sava memejamkan matanya kembali. namun tak cukup sedetik mata berwarna kuning keemasan itu kembali terbuka lebar.

"Aku lupa! Pantes saja aku merasa wajah ku seperti tertumpuk sesuatu yang menyesakkan ternyata aku lupa jika wajah ini masih mengenakan make-up yang tertumpuk hingga terbentuk tujuh lapisan." sava membelalak kemudia kembali bangun.

Ah, iya satu lagi, hal yang membuat suami pemilik tubuh selalu menatapnya jijik selain Anna tak tau malu adalah karena anna selalu menghiasi wajahnya dengan tumpukan-tumpukan bedak dan warna-warna lainnya. Buka terlihat cantik dan menarik, malah terlihat seperti tante-tante girang sangking menor nya.

"Stttt..."

Ringgisan keluar dari bibir pucat sava saat dia Tiba-tiba mendudukkan dirinya.

Sava memegang wajahnya dan detik itu juga raut ringis jijik tercipta di wajah sava.

"Ihh.. OMG!! apa ini???

Tepung kah? Atau apa nih??"

Sava memegang wajahnya yang terasa mendempul seakan memakai sesuatu yang berlapis-lapis.Sava turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa dan berlari gontai ke arah kamar mandi dengan raut panik.

ARRGGHΗΗΗΗ......!!!

Suara teriakan sava menggelegar hingga terdengar keluar. Beruntung kamar sava kedap suara sehingga suara sava hanya terdengar di dalam kamar saja tak sampai keluar, jika tidak sudah di pastikan suara toa sava akan mengundang semua penghuni mension megah itu.

Sementara sava yang ada di dalam kamar mandi tengah mematung dengan tubuh kaku di dapan kaca besar yang ada di kamar mandi dan ekspresi wajahnya yang melongo syok melihat ke arah cermin, ah lebih tepatnya melihat ke arah pantulan dirinya sendiri.

"Astaghfirullah-eh, aku kristen astaga!, eh tapi.. ITU SIAPA??!!" jerit sava menunjuk pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.

Bagaimana tidak syok?Wajah yang kini berada di dalam pantulan cermin itu mirip dengan badut bahkan menurut sava sendiri badut lebih mending dari pada orang yang ada di dalam cermin itu.

Sungguh, sava benar-benar frustasi melihat wajah barunya.. benar-benar lebih jelek dari pada badut yang pernah ia lihat saat di kehidupan pertamanya.

"Apa ini? Kenapa warnanya begitu mencolok sekali? Dan ini tepung atau apa? Kenapa tebal sekali?? Dan OMG apa lagi ini di atas mata ku?? Dan HAH?!" sava terus menggerutu hingga saat ia tak sengaja melepas bulu mata palsunya yang membuat sava syok bukan main.

"Kok buku mata aku copot? Eh, tunggu.... ini palsu? aku kira asli beneran, Haisss..buat princess kaget saja. Kirain beneran bulu mata ku lepas, kan nggak elit kalau sampai aku hanya memiliki sebelah bulu mata hahah.."

Sava melepas bulu mata yang sebelahnya juga sehingga kini hanya menyusahkan bulu mata Anna yang asli. Dan sava cukup puas karena ternyata bulu mata pemilik tubuh lentik dan juga panjang.

"Haiss.. lebih baik aku membersihkan wajah ini dulu, aku benar-benar sangat tidak nyaman, seperti wajahku sangat berat dan terasa sesak."

Sava lalu mulai membersihkan wajahnya dengan ekstrak bersih hingga tak ada setitik makeup pun lagi.

"Hem? Wow, cantik juga aga mirip dengan wajah ku yang dulu, tapi ini versi dewasanya."

Guama sava

"Aku tidak habis pikir, muka cantik Peripurna kaya gini kok malah di tutupin sama gumpalan tepung sih?. Mana berlapis-lapis lagi, tidak sesek apa ya?" Monolognya

"Bagaimana suaminya mau menatapnya coba? Jangankan lihat, lirik saja udah bikin horor.

Tck,tck.." cibir sava

Sava terus berdecak kagum dengan wajah cantik yang sekarang ini menjadi miliknya. Ya miliknya! Dan karena itu sudah menjadi miliknya maka dia bebas untuk menggunakannya semua dia.

Sava menyeringai puas, meski dulu wajahnya dan wajah ini tak jauh berbeda, cuman wajahbarunya ini lebih banyak perawatan makanya lebih glowing sedangkan wajahnya yang dulu tak pernah di jamah dengan produk apapun. Benar-benar wajah bayi, tapi masih cantik.

bahkan tak kurang cowok-cowok mencoba mendekatinya namun dasarnya sava cewek cuek dan masa Modo dengan sekitarnya dia mengabaikan mereka semua dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan di kamar apartemennya sambil berhalu dan sava hanya memandang cogan serta uang saja, ah satu lagi sava akan bersemangat jika melihat hal-hal imut. Contohnya terhadap hewan berbulu putih dan lembut.

Ah, mengingat hewan berbulu putih dan lembut sava jadi mengingat si cimol-kucing kesayangannya itu.

"Pasti sekarang kucing pemalas itu tengah bersantai di atas kasur aku. Tapi tidak apa-apa, biar dia jadi pengantin ku, seetidaknya aku tidak rugi sudah beli apartemen itu. ada si cimol yang menjadi pemilik sementara aku tak ada. Tapi... Kalau di pikir-pikir aku jadi kangen sama buntalan bulu lembut itu.... Aaa cimolll... Mol, kamu pasti sedih karena taun kamu yang baik hati dan cantik ini udah meninggoy.. mol, kamu harus balas dendam aku sama anjing tetangga nyasar itu! Gara-gara dia majikan kamu mati dengan tidak elitnya Hiks, masa aku mati gara-gara kaget suara anjing mana guling-guling dari tangga lagi hiks..." Sava menggebu-gebu karena masih dendam dengan anjing kecil itu.

"Haiss.. sepertinya aku akan membeli kucing baru pengantin cimol biar aku tidak merindukan kucing gemuk pemalas itu. Malas-malas begitu dia aku rawat seperti anak sendiri, mana makananya bergaya sultan lagi."Lanjut sava

Hoaamm...

"Lebih baik aku kembali tidur, besok aku harus menyambut pagi yang indah karena besok adalah hari pertama aku hidup menjadi pengangguran kaya raya hehe.."

Setelah membersihkan sisa makeup di wajahnya, sava keluar dari dalam kamar mandi dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar dan empuk itu.

Bruk..

"Ahhh... Nyaman sekali~~"

Baru beberapa detik Sura dengkuran halus sudah terdengar. Ya, sava sudah tenggelam dalam mimpi haluannya.

Dan mulai besok, sosok baru seorang Anna akan mengubah segalanya.. apa yang selama ini Anna si pemilik asli dulu abaikan dan sia-sia kan karena terlalu berpusat pada satu tujuan kini tak akan lagi. Sava si cewek pencinta cogan dan kelebihan percaya diri, si cewek matre pencinta uang akan memulai kehidupannya sebagai seorang wanita miliader oh! Dia akan menikmati kekayaan suami pemilik asli dengan partner kecilnya si bocah menggemaskan anak yang di abaikan oleh sang ibu-anna yang bodo.

*Bersambung*

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih 🙏 *

*Salam manis dari AUTHOR 🤭*

*ig@vera_miceela.*

Bab : 3 Axellian Xamaleon Dickson

Pagi menyingsing, matahari sudah bersinar namun sinarnya bahkan tak bisa mengusik tidur seseorang yang kini masih tenggelam dalam mimpinya.

Sava, cew-eh maksudnya wanita cantik yang masih terbelit selimut tebal dan hanya menampakkan kepalanya saja dengan mata yang seakan terdekat oleh lem, Tertutup dengan rapih.

Ceklek...

Pintu kamar itu terbuka perlahan namun tak ada siapapun sampai sosok kepala bersuara perak muncul mengintip kecil ke dalam kamar sava.

Melihat ke arah atas ranjang dimana sava tidur, kepala bersurai perak itu perlahan mulai memunculkan tubuh gemuknya yang terbalut baju tidur bermotif harimau kecil berdiri dengan ragu-ragu di depan pintu ingin masuk tapi takut.

Sosok kecil dengan wajah imut dan tampan, mata bulat berwarna biru jernih dengan kulit putih dan bibir kecil yang berwana merah muda serta bulu mata yang lentik

Benar-benar sangat imut bagaikan boneka hidup untuk ukuran seorang anak laki-laki pada umumnya... Sungguh bibit unggul!!

Buntalan kecil itu bukan lain adalah putra terabaikan milik Anna. Sosok kecil yang sejak kelahirannya tak pernah mendapat kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Anak kecil yang baru berusia 4 tahun yang selalu mendambakan akan pelukan hangat dari sosok wanita yang selalu ia perhatikan diam-diam dan selalu ia dengar gosip buruknya.

Anak kecil yang berusaha selalu mendekat kepada sang ibu meski berakhir di abaikan dan selalu menjadi pelampiasan dari kekesalan sang ibu karena sosok laki-laki yang menjadi ayahnya. Meski begitu, tak ada sedikit pun rasa benci di dalam hati kecilnya, dia hanya berpikir bahwa itu salah laki-laki yang selalu berwajah dingin dan seram itu. Karena dia, sang ibu mengabaikannya bahkan karena dia juga sang ibu selalu marah dan berakhir melampiaskannya ke pada dirinya.

Axellian Xamaleon Dickson.Axel dengan penuh pertimbangan perlahan melangkahkan kaki mungil polos tak terbalut apapun itu melangkah di lantai dingin kamar sava dengan perlahan.

Dia hanya ingin memeriksa keadaan sang mommy yang sudah dua hari ini tak sadarkan diri karena jatuh dari tangga beberapa hari lalu karena wanita yang selalu datang bersama laki-laki jahat itu yang bukan lain adalah ayah kandungnya.

Ya, Axel tau, dia tau jika penyebab ketidak sabaran sang mommy adalah karena wanita jelek yang selalu bersama ayahnya itu. Wanita yang jika dia datang akan selalu berakhir membuat sang mommy marah dan berakhir berdebat namun ujung-ujungnya laki-laki yang di kejar sang mommy tak memperdulikan dirinya.

Axel sadar dan semakin membenci sosok ayah yang tidak pernah memperdulikan dirinya itu.

"Mommy.."

Axel berucap pelan saat dirinya sudah berada tepat di tepi tempat tidur sang mommy yang masih terlelap.

Mata bulat yang selalu menatap dingin dan acuh tak acuh terhadap orang lain itu kini meredup menatap sendu penuh rindu sava yang masih tertidur

Tangan pendek berisi itu terulur ragu-ragu ingin menyentuh wajah sang mommy namun belum sampai, tangan itu sudah di tarik kembali.

Axel menidurkan kepalanya di tepian kasur dengan mata terus menatap sang mommy.

"Mommy kapan cembu?

Acel Lindu mommy..." Gumam Axel pelan

"Mommy cepat Cebu ya, acel mau liat mommy buka mata lAgi-"

"Udah kok, mommy udah buka matanya dari tadi." Axel bangun tersentak segera mundur dari rajang saat mendengar suara serak sava.

Anak itu nampak gugup saa melihat sang mommy yang bangun terduduk dengan wajah batalnya.

"Hoaammm... Morning boy.." sapa sava sambil tersenyum cerah.

Axel terusan dengan ekspresi terkejut yang membuat sava tertawa gemas dalam hati melihat itu.

Mata bulat Axel mengerjap menatap sosok wanita yang dirindukannya kini duduk dengan menatapnya dan..... Tersenyum?

Axel tak percaya, dia.. dia bisa melihat senyum yang ia lihat sebelumya, senyum yang selalu di tunjukkan ke pada laki-laki kejam yang berstatus sebagai daddy nya yang membuat Axel kadang cemburu.

Namun kini.. sang mommy memberikan senyum itu kepadanya?...

"Kenapa diam saja, Hem? Sini.." Axel tersadar dan menatap ragu sang mommy yang memanggilnya.

Ia berpikir jika sang mommy marah karena dirinya sudah lancang masuk tanpa izin. Namun sekali lagi Axel di buat bingung saat tak menemukan ekspresi marah ataupun bentakan dan tatapan tak suka yang selalu sang mommy berikan saat melihat dirinya.

"Hei.."

"Ma-maap, acel-"

"Kenapa minta maaf, Hem? Sini, Deket sama mommy."

Potong sava lembut sambil tersenyum manis

Axel mengerjap lucu yang membuat sava gemas dengan anak nya itu.

Ya anaknya. Mulai sekarang bocah lucu imut menggemaskan itu adalah anaknya. Dan dia tak akan pernah memperlakukan anak imut perpaduan tampan itu seperti dengan apa yang Anna si pemilik tubuh sebelumnya.

Sava bertekad akan menjadikan Axel sebagai partner dalam menikmati kekayaan milik suami Anna itu. Masa bodo dengan pengejaran cinta suami, sava tak perduli. Selama dia bisa menikmati hidup mewah dan uang yang terus mengalir tanpa dia harus mengeluarkan tenaga dan menguras otaknya, sava masa bodo.

Dia akan mengajak dan memperkenalkan dunia luar kepada putra imutnya dan melimpahkan kasih sayang kepada anak itu.

Kebetulan juga sava si maniak Imut dan pencinta cogan menemukan semua itu dalam diri Axel putra barunya. Mana mungkin sava akan mengabaikan hal langka seperti itu? Oh tidak akan.

"Mo-mommy..?" Axel ragu-ragu, anak itu meremat ujung baju tidurnya

Sava gemas, kelewat gemas.. dengan tak sabarnya sava turun dari tempat tidur dan langsung mengangkat tubuh kecil itu kedalam dengannya dan membawa Axel ke atas ranjang kembali.

Axel tersentak kaku dengan perlakuan asing namun membuat hatinya bahagia itu.

Axel dengan ragu-ragu memeluk leher sang mommy dan menyembunyikan wajahnya di potongan leher sava dan menghirup aroma wangi sang mommy.

"Mommy wangi, Acel cuka...

"Hei, ada apa sayang? Apa Axel ngantuk?" Sontak Axel spontan menjauhkan kepalanya dari leher sang mommy dan menunduk takut.

Ia takut jika sang mommy risih dengannya dan kembali mendorongnya jauh dan memarahinya seperti dulu.

"Kenapa Hem? Kok malah nunduk sih? Apa ada recehan di bawa?" canda sava sambil tertawa kecil

Axel mengintip dan terteguh dengan hati yang mengangkat saat melihat tawa sang mommy.

Benar kata paman Robert, mommy itu cantik bahkan benar-benar cantik. Pikir Axel

Ia suka melihat senyum dan tawa mommy nya. Axel menatap sava yang tertawa tanda sadar anak itu tersenyum.

"Kenapa Hem?" Sava lembut sambil membelai rambut Axel.

"Halus sekalii.. "batin sava

Sava mengusap pipi mochi Axel membuat anak itu terkejut namun kembali rileks saat merasakan usapan lembut sava.

"Axel pagi-pagi sudah bangun, tapi kenapa tidak memakai alas kaki saat berjalan Hem.." ucap sava lembut

"Eh, Acel nda cadal, Acel langcung datang Ke kamal mommy kalena Acel mau liat mommy.." ucap Axel pelan sambil memainkan ujung bajunya.

Sava gemas dan langsung menyerang anak itu dan memeluknya brutal yang membuat Axel kembali terkejut kecil.

"Kyaaa... Imut sekalii..aku tidak bisa tahan lagi mmmm...." Gemas sava

Sava mengusapkan pipinya dengan sebelah pipi lembut seperti mochi milik Axel.

"Mom-mommyy..... Acel cecak napac! lepac mom-my..."

"Eh, astaga anak imut mommy, maaf ya sayang mommy khilaf. Habisnya Axel imut banget sih jadinya mommy tidak kuat untuk tidak gemas dengan putra tampan mommy ini~~" Ucap sava namun sama sekali tak ada raut sesal di wajah itu. Hanya ada ekspresi puas dan bahagia di sana.

Bibir Axel mengerucut begitu saja dengan wajah yang cemberut membuat sava mati-matian menahan diri agar tak kembali menyerah anak menggemaskan itu.

"Tahan sava tahannn... Ughhh... Sumpah imut sekalii... Layak jadi anak ku, sudah ganteng sejak dini imutnya melebihi kapasitas rata-rata perimutan!... Benar-benar bibir unggul ini mah. Calon-calon cogannya udah kelihatan padahal masih bocil gini. Sungguh keberuntungan mana lagi yang kau coba dustakan sava??" Batin sava penuh kepuasan.

Benar-benar sava sudah jatuh cinta dengan anak itu.. sava tidak akan pernah membiarkan putra imutnya ini kenapa-kenapa dan akan membuat anak itu selalu bahagia dan bertambah gemuk.

Ya, sava sudah bertekad!!... Untuk anak imut nya itu.

*Bersambung*

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih 🙏*

*Salam manis dari AUTHOR 🤭*

*ig@vera_miceela.*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!