Suara heels terdengar memasuki rumah, dengan Mona yang lenggak-lenggok membawa belanjaan begitu banyak.
"Mona!" langkahnya terhenti melihat ke ruang tamu.
"Kak Meisya," sahut Mona dengan tersenyum dan menghampiri Meisya.
"Kakak tidak pemotretan hari ini?" tanya Mona.
"Apa kamu yang menekan Dellon untuk meminta alih Perusahaan beralih padanya?" tanya Meisya.
"Memang kenapa? Arini juga tidak masalah sama sekali," jawabnya dengan santai.
"Kenapa kamu mengambil tindakan seperti itu?"
"Kenapa biarkan saja," jawabnya dengan santai.
"Mona kamu harus jaga batasan kamu. Kamu tahu Arini mencurigai kamu berhubungan dengan Dellon," tegas Meisya memperingati Mona.
"Baguslah kalau dia curiga dan aku bahkan menunggu-nunggu dia mengetahui yang sebenarnya," jawab Mona dengan santai.
"Apa maksud kamu. Kamu hanya akan mendapatkan masalah dan Kakak tidak bisa membantu kamu!" tegas Meisya.
"Kak Meisya cukup! Aku itu adik kandung Kakak dan sementara dia hanya adik tiri. Kakak seharusnya berpihak kepadaku dan mendukung semua apa yang aku lakukan dan bukan malah berpihak pada dia! Aku hanya mencoba mencari kesenanganku!" tegas Mona.
"Tetapi tidak harus memiliki hubungan dengan Dellon yang sebentar lagi akan menikah dengan Arini. Kamu juga keterlaluan membuat rencana dengan Perusahaan sekarang ditangani Dellon. Kamu tidak berpikir panjang!" tegas Meisya.
"Kak aku malas mendengar semua ceramah Kakak. Jika pada akhirnya Arini tahu, aku sama sekali tidak peduli. Dellon selama ini mendekatinya hanya menginginkan Posisi Direktur. Ketika semua didapatkan, dia juga akan dibuang sejauh mungkin," ucap Mona dengan tersenyum miring.
"Ada apa ini?" tiba-tiba seorang wanita menuruni anak tangga.
"Biasalah. Ma, kak Meisya selalu saja berpihak kepada adik kesayangannya," sahut Mona mengadu.
"Aku tidak berpihak kepada siapapun dan aku hanya memberi ingat kepada kamu untuk tidak bertindak terlalu jauh," jawab Meisya.
"Sudahlah! Mama tidak ingin kalian bertengkar hanya karena semua ini. Meisya kamu punya tugas yang harus kamu selesaikan dan kamu Mona jaga sikap kamu lain kali," tegas Irena.
"Baiklah," ucapnya terdengar santai dan langsung pergi dari ruang tamu.
Meisya menghela nafas dengan memijat kepalanya.
"Hanya Posisi Direktur dan kamu sudah panik seperti itu," sahut Meisya.
"Bagaimana aku tidak memikirkan semua itu, Mona terlalu ceroboh dan mempercayai orang begitu saja," sahut Meisya.
"Posisi Direktur tidak apa-apanya dengan aset yang lain, kamu jangan berlebihan dan lakukan saja tugas yang Mama berikan dan juga fokus pada karir kamu sebagai artis terkenal," ucap Irene membuat Meisya menghela nafas.
****
Arini bersama ibu tirinya, Mona, Meisya sedang berada di meja makan menikmati makan malam.
"Mama sudah berapa persen persiapan pernikahan Arini?" tanya Arini melihat ke arah Irena.
"Kamu yang menikah kenapa harus bertanya kepada Mama," sahut Mona.
"Bukankah, Mama yang ingin mengambil alih persiapan pernikahan aku dan Dellon," sahut Arini.
"Benarkah! memang kamu yakin akan menikah dengan Dellon?" tanya Mona tersenyum penuh arti.
Ekspresi wajah Arini terlihat datar mencoba mencari tahu apa arti dari senyuman itu.
"Mona diamlah! Kamu lanjutkan makan dan jangan banyak bicara!" tegur Irena.
"Untuk persiapan pernikahan kamu sudah mencapai 80%, kamu jangan khawatir," sahut Irene.
"Baiklah! Kak Meisya besok pagi temani Arini untuk fitting baju pengantin," ucap Arini.
"Baiklah, setelah selesai promo film. Kakak akan menemui kamu," jawab Meisya.
"Arini sangat senang dengan orang-orang yang ada di rumah ini membantu mempersiapkan pernikahan Arini. Papa di atas sana pasti sangat bahagia. Ma, terima kasih selama ini menjaga Arini dan menjalankan amanah yang diberikan Papa," ucap Arini.
"Sama-sama. Saya adalah istrinya dan menemani beliau selama belasan tahun. Sayang sekali setahun yang lalu beliau harus meninggalkan dunia ini," jawab Irene.
"Papa pasti bangga dengan Mama," sahut Arini.
Irena hanya memberi senyuman datar dan kembali melanjutkan makan malamnya.
"Dasar sok puitis," gumam Mona terdengar begitu sewot dan bahkan suaranya mampu membuat Arini menoleh ke arahnya walau perkataan itu tidak jelas.
Mona memang sangat tidak menyukai wanita sebaya dengannya itu, sejak kecil Mona selalu menunjukkan rasa iri kepada Arini. Ibu Arini meninggal dunia ketika usianya 7 tahun.
Ayahnya menikah dengan Irena saat usianya 10 tahun dan saat itu membawa anak bernama Meisya yang berusia 15 tahun dan Mona 10 tahun. Keduanya kerap kali sering bertengkar saat kecil dari merebut mainan dan segalanya.
Sampai dewasa keduanya juga tampak tidak akrab. Mona bahkan juga bermain di belakang Arini dengan calon suami Arini.
****
Butik
Arini berada di salah satu butik mewah dengan Arini mencoba gaun pengantin yang sangat Indah.
Arini memakai gaun itu berdiri di depan cermin dengan wajahnya terlihat sangat bahagia, bagaimana tidak sebentar lagi hari pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari.
"Wau ini cantik sekali dan cocok untuk kamu!" Meisya berdiri di belakangnya memberi pujian kepada adiknya itu.
"Sungguh?" tanya Arini membalikkan tubuhnya
"Benar Arini! Kamu cantik sekali menggunakan gaun ini, kamu akan menjadi pengantin paling cantik di seluruh dunia!" puji Meisya.
"Kak Meisya bisa saja," sahut Arini dengan tersenyum lebar.
"Hmmm, kenapa Dellon belum datang juga," Arini terlihat gelisah dan kemudian mengambil ponselnya.
"Aku akan menghubungi Dellon sebentar," ucap Arini. Meisya menganggukkan kepala.
Arini terus saja menghubungi kekasihnya itu dan tidak ada jawaban sama sekali, bagaimana tidak ponsel Dellon berdering di dalam mobil dan ternyata pria itu sedang bermesraan dengan Mona penuh dengan hasrat dan nafsu.
Keduanya kerap kali berhubungan seksual tanpa melihat tempat dan hanya mencari sensasi kenikmatan diantara keduanya dan mengabaikan panggilan telepon tersebut.
Arini masih mencoba menghubungi calon suaminya terlihat gelisah dengan perasaan yang mulai tidak enak.
"Arini!" tegur Meisya.
"Dellon tidak bisa dihubungi, apa dia sedang meeting?" tanya Arini.
"Kemungkinan, bukankah tugas sebagai Direktur itu sangat banyak dan mungkin saja memang Dellon sedang bersama klien," jawab Meisya.
"Begitu! Ya sudahlah aku mengambil beberapa gaun saja dan nanti Dellon akan memilih jas sendiri untuknya," ucap Arini.
"Lakukan saja apa yang terbaik. Kakak ikut saja apapun yang kamu katakan," ucap Meisya.
"Baik, Kak," sahut Arini kembali mencoba beberapa gaun pengantin dan sementara Meisya hanya menghela nafas.
Setelah keduanya selesai dari butik dan mereka mampir sebentar di salah satu Restaurant.
"Kakak akan bertemu dengan Kak Aditya?" tanya Arini.
"Hmmm, tapi masih ada waktu satu jam lagi. Pesawatnya masih belum tiba," jawab Meisya.
"Syukurlah jadi ada yang menemaniku untuk makan siang hari ini," jawab Arini tersenyum merangkul lengan Meisya dan keduanya berjalan menuju Restoran tersebut.
Tetapi langkah Arini tiba-tiba saja terhenti yang diikuti dengan langkah Meisya. Mata Arini melihat ke dalam Restoran dan juga diikuti oleh Meisya.
Arini begitu sangat terkejut melihat Dellon dan Mona yang duduk di salah satu bangku dengan makan berdua dan tampak begitu romantis saling menyuapi satu sama lain. Keduanya sudah seperti orang berkencan.
"Dellon, Mona..." lirih Arini benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sejak tadi dia menghubungi pria itu di mana keduanya berjanji untuk bertemu melakukan fitting baju pengantin dan ternyata pria yang akan menjadi suaminya itu malah sibuk romantis dengan saudara tirinya
Meisya juga melihat hal itu kesulitan menelan ludahnya, dan menoleh ke arah Arini menatap nanar Arini terlihat masih schok.
Bersambung.....
...Hay para pembaca, aku kembali memberikan karya baru. Aku tidak akan bosan-bosan memberikan karya jika terus didukung para pembaca setiaku....
Ku Balas Pengkhianatan Dengan Setimpal
...Karya ini dibuat dengan sepenuh hati dan atas dukungan kalian, kita sama-sama berdoa agar karya ini sukses dan disukai para pembaca....
...Jangan lupa untuk terus memberikan dukungannya, subscribe, like, vote dan berikan komentar yang positif dan membangun. ...
...Ingan jangan suka nabung BAB, baca dari bab 1 sampai akhir karena setiap episode memiliki kejutan. ...
...Terima kasih saya ucapkan untuk para pembaca, salam cinta dari saya Author 🌹🌹...
"Arini!" tegur Meisya.
"Apa-apaan ini," ucapnya dengan perasaan yang tidak enak dan rasa amarah didalam tubuhnya.
Arini ternyata tidak mampu mengendalikan dirinya memasuki Restaurant tersebut.
"Arini tunggu!" Meisya mengejar adiknya itu.
"Dellon!" teriak Arini membuat Dellon dan Mona kaget.
Hanya Dellon yang panik dan sementara Mona tampak santai yang sepertinya memang itu yang dia inginkan Arini menangkap basah hubungan mereka.
Meisya juga sudah berada di sana, karena teriakan Arini membuat orang-orang yang berada di restoran tersebut mencuri perhatian mereka.
Meisya sebagai orang terkenal dalam dunia entertainment mencoba untuk memalingkan wajahnya agar tidak dikenali oleh masyarakat karena hal ini sangat memalukan ketika berada diantara pertengkaran.
"Arini!" Dellon langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Apa yang kamu lakukan di sini bersamanya hah! Aku sejak tadi menghubungi kamu dan menunggu kamu di butik, kamu lupa jika kita berdua melakukan fitting baju pengantin dan kamu malah asik-asik, kan romantis seperti ini sama dia!" tegas Arini mengeluarkan semua rasa amarahnya.
"Arini kamu tenang dulu!" Meisya mencoba menenangkan Arini agar suaranya tidak terdengar begitu kuat yang hanya membuat orang-orang penasaran.
"Arini kamu jangan salah paham, aku tadi meeting dengan klien dan ponselku memang sengaja aku tidak membawanya agar tidak mengganggu. Aku tidak sengaja bertemu dengan Mona," Dellon masih saja memberi alasan.
"Kalau memang kamu tidak sengaja bertemu dengan Mona, kamu tidak akan suap-suapan seperti tadi!" tegas Arini.
"Kamu itu kampungan tahu, memang kenapa kalau aku menyuapi Dellon," sahut Mona dengan rasa tidak bersalah sama sekali.
"Kamu bilang kenapa. Dia adalah tunanganku dan apa yang kamu lakukan tidak pantas!" jawab Arini dengan tegas sembari menunjuk Mona.
"Heh! kamu tidak perlu menunjuk-nunjuk ku seperti itu!" Mona tidak terima langsung berdiri dari tempat duduknya menghampiri Arini.
"Mona cukup!" Meisya langsung menghentikan adiknya itu yang menantang Arini.
"Kakak nggak usah terus belain dia. Dia kurang ajar kepadaku!" tegas Mona.
"Kamu yang kurang ajar," tegas Arini.
"Sudah cukup Arini hentikan! Kamu hanya salah paham, kamu tahu sendiri bagaimana posisi sebagai Direktur dengan pekerjaan yang sangat banyak. Aku benar-benar hanya bertemu dengan klien dan apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang terjadi sebenarnya. Kamu jangan berlebihan seperti ini dan apa yang kamu lakukan hanya membuatku malu!" tegas Dellon.
"Jadi kamu memikirkan rasa malu kamu dan kamu tidak malu dengan apa yang kamu lakukan barusan," sahut Arini.
"Arini stop! berapa kali aku harus menjelaskan kepadamu!" tegas Dellon dengan membentak Arini membuat Arini kaget.
Mona tersenyum miring, pasti suatu kebahagiaan untuknya melihat Arini dimarahi oleh Dellon di depan umum.
"Keterlaluan kalian berdua!" ucap Arini dengan mata berkaca-kaca dan langsung berlalu dari hadapan Dellon.
"Arini!" panggil Meisya.
"Mona, Dellon, kalian berdua benar-benar!" ucap Meisya dengan geleng-geleng kepala yang juga terlihat marah dan langsung menyusul Arini.
"Dasar lebay," sahut Mona dengan wajah kesal.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Dellon ternyata tidak mengejar Arini dan justru lebih mengkhawatirkan Mona.
"Kamu seharusnya langsung saja putuskan wanita itu. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Jangan-jangan kamu benar-benar ingin menikah dengannya," ucap Mona dengan kesal.
"Aku mana mungkin ingin menikah dengannya, kamu jangan salah paham. Aku hanya mencoba untuk bersikap netral saja. Aku pasti akan memutuskan hubungan itu, tapi tidak sekarang karena masih banyak yang ingin aku dapatkan," jawab Dellon.
"Tetap saja membuatku kesel," ucap Mona dengan kedua tangannya dilipat di dadanya dan wajahnya tampak cemberut.
"Sayang kamu jangan bersikap seperti ini dan percayalah kepadaku, aku akan segera mengakhiri hubunganku wanita bodoh itu," ucap Dellon mencoba membujuk Mona tanpa peduli dengan perasaan Arini.
***
Arini duduk di salah satu bangku menangis beberapa kali menyeka air matanya. Meisya sudah menghampirinya dengan menghela nafas dan kemudian duduk di samping Arini.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Meisya.
"Kenapa sejak dulu Mona selalu saja menggangguku, dia terus ingin bertengkar denganku dan sekarang dia seperti sengaja mendekati Dellon. Padahal dia tahu kalau kami akan menikah," ucap Arini mengadukan semua perasaannya kepada Meisya.
"Kakak mengerti perasaan kamu dan bukankah tadi Dellon sudah menjelaskan apa yang terjadi dan semua tergantung pada kamu. Kamu punya pilihan lain untuk percaya padanya atau tidak," ucap Meisya memang tidak bisa berkata apa-apa.
"Tetapi aku sangat mencintai Dellon. Tidak mungkin hanya karena masalah ini aku harus mengakhiri hubunganku dengan dia, tetapi Dellon tidak tegas. Mona sangat keterlaluan!" ucap Arini.
Meisya mengusap-usap lembut rambut Arini mencoba untuk menenangkan Arini.
"Kakak akan mencoba berbicara dengan Mona agar dia tahu batasannya. Kamu jangan khawatir semua akan baik-baik saja," ucap Meisya.
Arini melihat ke arah Meisya, "terima kasih Kakak selalu berada di pihakku, meski aku hanya adik tiri tetapi Kakak tidak pernah membela yang salah," ucap Arini sekarang perasaannya sudah jauh lebih lega daripada sebelumnya.
"Kita sudah tinggal begitu lama bersama dan tidak ada perkataan adik tiri atau adik kandung, kita berdua memang tidak saudara tetapi ikatan diantara kita berdua sudah seperti sedarah," ucap Mona dengan tersenyum.
Arini juga tersenyum, dia merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya karena ada yang menemaninya dan memberi masukan padanya.
"Kak tadi Arini sudah membuat malu di Restoran itu dan juga banyak orang di sana yang mengenali Kakak. Apa ini tidak masalah dengan nama baik Kakak?" tanya Arini.
"Untuk hal itu Kakak bisa mengatasinya, kamu jangan khawatir," ucap Meisya.
"Baiklah! Oh iya bukankah kakak harus bertemu dengan Kak Aditya?" tanya Arini
"Kamu benar ada pertemuan setelah ini dan tadi seharusnya kita makan siang bersama dan kemudian Kakak pergi. Tetapi Kakak sudah tidak punya waktu lagi untuk makan siang bersama kamu dan mungkin lain kali kita bisa makan bersama," jawab Meisya.
"Tidak apa-apa. Janji Kakak dengan kekasih Kakak jauh lebih penting dibandingkan tentang urusanku. Aku sudah baik-baik saja. Kak Aditya sudah lama di Luar Negeri dan pasti kalian berdua saling merindukan satu sama lain. Jadi pergilah temui dia," ucap Arini dengan tersenyum yang tidak masalah sama sekali.
"Kamu yakin sudah baik-baik saja?" tanya Meisya memastikan.
"Lihatlah aku jauh lebih baik," Arini dengan yakin tersenyum agar Meisya tidak khawatir padanya.
"Ya sudah kalau begitu Kakak pergi dulu. Kamu pulangnya hati-hati dan kalau ada Papa hubungi saja Kakak," ucap Meisya membuat Arini menganggukkan kepala.
Meisya akhirnya meninggalkan Arini. Arini menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
"Aku harus membicarakan semua ini dengan Mama agar Mama menegur Mona. Mona sudah keterlaluan dan menganggap semua enteng," ucap Arini dengan yakin.
"Jika aku hanya diam saja dan makam Mona akan merajalela, dia harus menyadari bahwa aku akan menikah dengan Dellon dan tidak pantas dia seperti itu. Dellon juga tidak tegas sama sekali. Lihatlah sekarang dia tidak muncul," ucap Arini menoleh ke belakang dengan harapan kekasihnya itu datang menjelaskan kembali kepadanya.
Arini hanya bisa mengharap dan tidak melihat kehadiran Dellon membuatnya berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan taman tersebut.
Bersambung ...
Arini kembali pulang ke rumahnya menghampiri Irena yang duduk di ruang tamu.
"Kamu sudah pulang?" tanya Mona melihat kehadiran Irena dan kembali melihat ponselnya.
"Arini ingin membicarakan hal yang penting dengan Mama," ucapnya.
"Mengapa tergesa-gesa seperti itu, katakan saja apa yang ingin kamu katakan," ucap Irene dengan melihat kearah Arini.
Arini kemudian duduk di sebelah Irena.
"Mama harus bicara pada Mona untuk menjauhi Dellon. Arini akan menikah dengan Dello dan sementara Mona keterlaluan di depan mata hari ini mereka romantis," ucap Arini mengadukan semua apa yang dia lihat.
Irena melihat ke arah Arini dengan tatapan datar.
"Arini tidak bohong dan bahkan Kak Meisya melihat semua itu. Mona merasa bersalah sama sekali dan seperti sengaja melakukannya," ucapnya meyakinkan Irene.
"Baiklah! Nanti mama kan bicarakan dengannya," jawab Irene menanggapi dengan santai.
Arini menganggukan kepala percaya kepada ibu tirinya itu. Baru saja mereka membicarakan Mona dan akhirnya wanita itu kembali.
"Aku sudah pulang!" ucapnya seperti biasa membawa belanjaan begitu sangat banyak.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku memakai uangmu untuk belanja?" tanya Mona melihat tatapan Arini masih sangat marah padanya.
"Memang itu adalah uangku," jawab Arini.
"Apa katamu!" Mona tidak terima dengan perkataan itu dan langsung menjatuhkan semua belanjaannya.
"Kau barusan mengatakan apa hah!" ucapnya berdiri di hadapan Arini.
"Aku mengatakan hal yang benar jika apa yang kau pakai dan kau gunakan untuk belanja adalah uangku," jawab Arini dengan tegas.
"Kau...."
"Sudah cukup!" bentak Irena menghentikan Mona.
"Mama dengar sendiri apa yang dikatakan wanita ini dan sama saja menghina kita. Dia pikir selama ini aku makan uangnya hah!" sahut Mona kesal.
"Arini lain kali berbicaralah dengan baik dan jangan sembarangan seperti itu!" tegas Irena.
"Maaf. Ma, Arini tidak bermaksud menyinggung Mama. Arini masih kesel kepadanya," ucap Arini.
"Mona apa benar yang dikatakan Arini jika kamu makan bersama Dellon?" tanya Irena.
"Kalau memang benar kenapa," jawabnya menantang tanpa merasa bersalah sama sekali yang membuat Arini mengepal tangannya.
"Apa aku harus jelaskan kepadamu kenapa aku harus menenangkan hatimu melihat keromantisan kami. Heh jika aku makan bersamanya berarti itu bukan hanya aku saja yang menginginkannya tetapi juga Dellon. Jangan menyalahkanku begitu saja," jawabnya.
"Kau benar-benar keterlaluan Mona. Kau tahu sendiri aku akan menikah dengannya dan kau melakukan semua ini," ucap Arini sudah berdiri dari tempat duduknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa? Aku berhak melakukan apapun yang aku inginkan dan termasuk bersenang-senang dengan Dellon," jawabnya.
"Mama dengar sendiri apa yang dia katakan, dia sengaja melakukan semua ini dan ingin merebut Dellon dariku!" Arini berusaha mengharapkan pembelaan dari Irena agar tegas.
Irena menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan dan kemudian berdiri dari tempat duduknya menghadap Arini.
"Mama mendengarkan pengaduan kamu dan juga penjelasan Mona dan sekarang pilihannya ada pada kamu, melanjutkan hubungan kamu dengan Dellon atau menghentikan pernikahan kalian," ucap Mona dengan santai.
"Apa maksud Mama? Jadi Mama tidak bertindak tegas dan justru menyuruhku untuk mengakhiri hubungan kami karena dia menginginkan calon suamiku?" tanya Arini dengan jari telunjuknya menunjuk pada Mona.
"Semua pilihan ada pada kamu. Mama tidak bisa berbuat apa-apa dan sangat tidak suka ada pertengkaran hanya karena seorang pria," jawab Irena dengan santai dan kemudian berlalu dari hadapan Arini dan Mona.
"Ma tunggu! Mama tidak bisa melakukan semua ini kepadaku. Mama harus tegas. Mona salah!" teriak Arini.
"Mona salah," Mona menirukan suara Arini dengan mengejeknya membuat Arini menoleh ke arahnya dengan penuh kebencian.
"Kasian banget, kamu mengadu kepada Mama dan kamu pikir Mama akan membela kamu. Hey kalian berdua tidak ada aliran darah sama sekali dan mana mungkin Mama akan berpihak kepadamu," ucap Mona tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu jangan senang dulu dan kamu lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu merebut Dellon dariku!" tegas Arini.
"Dasar wanita bodoh yang dibutakan oleh cinta dan sudah melihat apa di depan matamu, masih saja ingin bersama laki-laki itu. Kau hanya melihat kami makan berdua dan kau tidak tahu jika kami sudah melakukan hal yang lebih jauh lagi," ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Mona benar-benar ingin menunjukkan kepada Arini bahwa dia dan Dellon memiliki hubungan spesial.
"Kasihan!" ucap Mona tertawa penuh ejekan dan kemudian mengambil seluruh belanjaannya berlalu dari hadapan Arini.
"Kamu selalu mencari masalah denganku sejak kecil, kita bukan anak kecil lagi yang harus merebut seorang pria. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan semua ini padaku," ucap Arini mencoba untuk menenangkan dirinya.
***
"Stop Arini!" Dellon memukul meja kerjanya membuat Arini berdiri di depannya kaget.
"Kamu terus saja membahas masalahku dengan Mona. Kita akan menikah sebentar lagi dan kamu jangan curiga terus kepadaku!" tegas Dellon.
"Bagaimana aku tidak curiga jika Mona menjelaskan kepadaku bahwa kalian memang memiliki hubungan!" tegas Arini.
"Kamu jangan mudah percaya padanya. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa dia dan kamu terus bertengkar sejak kecil, Mona sengaja berbicara seperti itu untuk mengelabui kamu dan mengecoh hati kamu!" tegas Dellon.
"Baiklah! Aku percaya padamu dan ketika semua itu terjadi di depan mataku. Maka aku akan menarik semua posisi yang sudah diberikan kepada kamu!" tegas Arini memberi ancaman.
Dellon tampak begitu kesal mendengar ancaman itu dan tiba-tiba saja menarik tangan Arini mencengkeramnya begitu kuat.
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Dellon dengan menekan suaranya.
"Dellon apa yang kamu lakukan sakit!" Arini mencoba untuk melepaskan tangan tersebut, tapi bukan dilepaskan dan Dellon malah menarik rambutnya sehingga kepalanya mendongak ke atas.
"Dellon!"
"Kamu pikir bisa mengancam hah! Kamu jangan main-main padaku!" tegas Dellon.
"Kamu kenapa kasar seperti ini kepadaku! Lepaskan aku!" Arini mendapatkan perlakuan kasar itu mengeluarkan air matanya.
Dellon melepaskan dengan kasar dan hampir saja tubuh itu terjatuh. Arini benar-benar schok atas perbuatan calon suaminya itu.
"Jika sekali lagi kau berani mengungkit tentang Perusahaan. Maka aku akan melakukan hal yang lebih parah kepadamu!" tegas Dellon dan langsung berlalu dari hadapan Arini bahkan menyenggol bahu Arini membuat Arini hampir saja jatuh.
"Ada apa dengan kamu Dellon, kenapa begitu kasar kepadaku," ucap Arini dengan air mata yang jatuh.
Dellon dengan penuh amarah keluar dari ruangan itu.
"Sial! wanita itu berani-beraninya mengancamku ingin menarik kembali posisi yang sudah aku dapatkan bersusah payah. Aku tidak akan membiarkan semua ini hilang dari ku!"
"Aku harus meyakinkan semua pemegang saham di Perusahaan ini agar menyetujui posisiku dan wanita itu tidak akan bisa menarik posisiku lagi!"
"Aku harus menyusun rencana agar semua orang di Perusahaan ini tidak membutuhkannya," umpat Dellon dengan tangan terkepal penuh amarah.
Sementara Arini tampak terduduk dengan menangis yang tidak percaya jika pria yang selama ini dikenalnya sangat baik dan memperlakukannya seperti ratu dan ternyata mulai kasar kepadanya.
"Bu Arini!" Siska memasuki ruangan itu dan langsung menghampiri Arini.
"Apa yang terjadi? kenapa Ibu menangis seperti ini?" tanyanya panik.
"Tidak apa-apa Siska. Perasaan saya hanya tidak enak," jawab Arini tidak mungkin menceritakan semua kepada karyawan yang cukup dekat dengannya selama ini.
Siska tidak tahu apa-apa tetapi ikut prihatin yang membantu Arini berdiri.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!