"Hufft... Hari ini hari pertamaku di Jakarta."
Rayna menarik napas panjang. Udara sore Menteng hangat, beraroma pepohonan dan bunga. Dari balkon apartemennya, ia melihat jalan bersih dengan mobil premium. Matahari merunduk, menyinari rumah kolonial dan gedung modern dengan cahaya oranye lembut.
Ia menatap pemandangan itu kosong. "Aku nggak tahu bisa betah di sini atau nggak," gumamnya. "Setelah semua yang kutinggalkan di Eropa, rasanya masih berat."
Suara pikirannya bergema di kepala. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya.
Jakarta.
Dulu nama kota ini selalu membuatnya bersemangat. Ia ingat betapa seringnya ia bercerita pada teman-temannya di sekolah dulu, bahwa suatu hari ia ingin tinggal di sini. Ia ingin merasakan hiruk pikuknya, lampu-lampunya, dan kehidupan cepatnya yang sering ia lihat di internet. Tapi kini, ketika impian itu benar-benar terjadi, rasanya seperti berdiri di tempat asing.
Terlalu ramai. Terlalu panas. Terlalu jauh dari semua yang ia kenal. Dan anehnya, terlalu sepi.
Rayna memejamkan mata. Potongan kenangan menari di kepalanya: jalan berbatu kecil di depan apartemen lamanya di Praha, aroma roti dari toko langganannya, tawa teman-teman di taman dekat sungai. Tapi yang paling jelas adalah wajah seseorang.
Seseorang yang ia tinggalkan.
DORRR!!!
Rayna hampir meloncat dari tempatnya.
"Mamaaaa! Ya ampun, bikin Rayna kaget aja!" serunya sambil menoleh ke belakang.
Sang mama berdiri di ambang pintu balkon sambil membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk. Ia tertawa kecil. "Habis kamu ngelamun aja, sih. Dari tadi dipanggil juga nggak nyaut. Lagi mikirin apa, Sayang?"
Rayna menghela napas. Ia mengambil gelas itu dan duduk di kursi rotan. "Enggak apa-apa kok, Ma. Cuma... belum terbiasa aja di sini."
Mama ikut duduk di sebelahnya. "Wajar, kamu kan baru pindah. Dulu juga waktu pertama kali pindah ke Praha, kamu butuh waktu lama buat nyaman di sana, kan?"
"Iya, tapi beda, Ma."
Rayna memandang langit yang kini mulai berubah warna menjadi ungu gelap. "Di sana aku punya teman, sekolah, semuanya udah terasa rumah. Di sini... semuanya asing."
Mama tersenyum lembut. "Kalau gitu, coba deh kamu jalan-jalan. Lihat sekitar. Kenalan sama tetangga, atau sekalian mampir ke sekolah barumu. Siapa tahu langsung ketemu teman baru."
Rayna menggeleng. "Enggak ah, Ma. Rayna ke kamar aja, ya."
"Ya sudah. Mama nggak maksa. Tapi jangan terus di kamar, nanti malah makin kepikiran."
Rayna hanya tersenyum tipis lalu melangkah pergi.
Kamar barunya di Jakarta masih setengah berantakan. Beberapa koper belum dibuka. Kardus-kardus menumpuk di sudut. Namun Rayna langsung menuju jendela besar yang menghadap jalan raya.
Dari sana, ia bisa melihat lautan lampu kendaraan yang tak berhenti bergerak. Suara klakson bersahutan, bercampur dengan bunyi azan dari masjid di ujung jalan.
Ia menyandarkan dagu di tangan. "Dulu aku pengen banget lihat ini tiap hari," gumamnya lirih. "Sekarang malah capek lihatnya."
Tatapannya menerawang jauh. Di matanya, gedung-gedung tinggi itu berubah menjadi bayangan jembatan tua di Praha yang dulu sering ia datangi bersama seseorang.
Vando.
Nama itu kembali bergema di kepalanya.
Teman kecilnya. Orang yang selalu ada sejak ia masih SD. Mereka berdua seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan. Sama-sama suka menggambar, suka naik sepeda ke sungai, dan suka bicara soal mimpi masa depan.
Salah satu mimpi mereka waktu itu sederhana: ketika sudah dewasa, mereka akan ke Jakarta bersama. Mereka ingin melihat kota besar yang katanya tak pernah tidur.
Tapi hidup berjalan cepat. Saat Rayna ikut orang tuanya pindah, hubungan mereka terputus. Terakhir mereka bertemu di Praha, setelah itu... tidak pernah lagi.
Ia menggigit bibir. "Kamu gimana ya sekarang, Do?"
Tiba-tiba, suara notifikasi memecah kesunyian.
KRING!
Rayna menoleh cepat ke meja. Ponselnya menyala, menampilkan ikon pesan dari aplikasi yang bahkan jarang ia buka.
"TeleChat?" gumamnya heran. "Sejak kapan aku punya teman di TeleChat?"
Ia meraih ponsel, membuka layar. Ada satu pesan baru dari nomor tak dikenal.
["Rayi, kamu baik-baik aja kan di sana?"]
Rayna mengernyit. Tak ada foto profil. Tak ada nama. Hanya nomor asing dengan kode negara yang bahkan tidak ia kenal.
"Siapa, sih? Mungkin orang iseng," gumamnya, lalu meletakkan ponsel di tempat tidur.
Namun baru beberapa detik, suara notifikasi kembali terdengar.
KRING! KRING! KRING!
Kali ini berturut-turut. Pesan dari nomor yang sama.
["Rayi, ini bener kamu kan?"]
["Tolong jawab, Rayi."]
["Aku cuma pengen tahu kamu baik-baik aja."]
Rayna menatap layar. Ada sesuatu yang aneh. Nama panggilan itu, Rayi, bukan Rayna, cara menulisnya seperti seseorang yang benar-benar mengenalnya.
Tapi siapa?
Sebelum sempat berpikir, ponselnya bergetar keras.
DDZZTT... DDZZTT...
Panggilan masuk. Nomor yang sama.
Rayna menatap layar beberapa detik. Jantungnya berdegup cepat. Jari-jarinya sempat ragu sebelum akhirnya menekan tombol hijau.
"Halo?" suaranya pelan.
Hening.
Lalu suara itu terdengar.
"Raynaaa..."
Dunia seolah berhenti sesaat. Suara itu...
"Vando?" suaranya bergetar.
Di seberang sana, terdengar tawa kecil yang sangat familiar. "Rayiiiiii, aku kangen banget sama kamu."
Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. "Sumpah, ini kamu? Aku nggak nyangka banget bisa denger suara kamu lagi, Do..."
"Aku udah coba hubungin kamu terus di banyak platform, Instagram kamu, Facebook dan yang lainnya. Tapi nggak pernah ada jawaban. Aku sempat pikir kamu udah lupa."
"Maaf ya... aku ganti nomor waktu pindah ke sini. Dan lagi semua akun sosial media aku, aku udah nggak pegang lagi. Terus username kamu... aneh banget. Aku kira orang iseng."
Vando tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Kamu tuh ya... dari dulu masih aja kayak gitu. Nggak berubah."
Rayna ikut tertawa di sela air matanya. "Ya abis, aku beneran nggak nyangka kalau itu kamu. Kamu masih di Praha?"
"Iya. Tapi aku lagi rencana pindah kerja ke Jakarta tahun depan."
Rayna terdiam.
Dadanya bergetar hebat. "Serius?"
"Iya. Ingat nggak dulu waktu kita kecil, kita janji bakal ke Jakarta bareng dan melihat monas yang selalu kita lukis itu?"
Rayna menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota berkilau seperti bintang jatuh. "Aku ingat banget."
"Nah, aku pengen menepati itu. Sekalian nyari kamu."
Suasana hening sejenak. Hanya suara napas dari dua sisi sambungan.
"Dooo..." suara Rayna nyaris berbisik. "Aku kangen banget."
"Aku juga, Rayi." Suara itu terdengar lembut, dalam. "Setiap lewat taman dekat sungai, aku masih ingat kamu suka bawa sketchbook, terus gambar burung yang lewat."
Rayna tertawa kecil sambil menyeka air mata. "Kamu masih ingat aja."
"Gimana bisa lupa? Kamu gambar satu burung aja bisa dua jam. Aku sampai ngantuk di kursi taman."
Keduanya tertawa bersamaan. Untuk pertama kalinya sejak pindah, tawa Rayna terdengar tulus.
Mereka terus berbicara. Tentang pekerjaan, keluarga, dan hal-hal kecil yang dulu mereka lakukan. Rayna menceritakan betapa asingnya Jakarta, sementara Vando berbagi kisah tentang musim dingin yang sebentar lagi datang di Praha.
Tanpa sadar, waktu berjalan cepat. Lampu kamar kini hanya tersisa redup cahaya dari meja belajar.
"Udah malam banget," kata Vando. "Kamu harus istirahat. Besok pasti hari yang panjang."
Rayna mengangguk, meski tahu Vando tak bisa melihatnya. "Iya. Tapi... aku senang banget bisa dengar kamu lagi."
"Aku juga. Dan kali ini, aku nggak mau kehilangan kontak kamu lagi."
Rayna tersenyum. "Aku janji nggak bakal ganti nomor atau bahkan akun sosmed lagi."
"Deal."
Suara mereka sama-sama pelan, tapi sarat makna. Setelah itu, panggilan terputus. Layar ponsel kembali gelap.
Rayna memandang pantulan wajahnya di jendela. Matanya masih merah, tapi ada senyum kecil di bibirnya.
Jakarta di luar sana masih bising. Suara motor masih bersahutan. Tapi malam itu, entah kenapa, kota ini terasa sedikit lebih hangat. Sedikit lebih hidup.
Ia menatap langit yang perlahan kehilangan bintangnya.
"Selamat malam, Do," bisiknya pelan. "Terima kasih udah nemuin aku lagi hihi."
Dan untuk pertama kalinya sejak ia datang di Jakarta, Rayna tertidur dengan perasaan tenang.
Bersambung...
"Semua orang bilang pindah itu awal baru, tapi hatiku masih di tempat lama."
Pagi itu, langit Jakarta berwarna abu muda. Sinar matahari menembus tirai kamar, memantul di cermin meja rias tempat Rayna berdiri. Ia menarik napas panjang sambil menatap pantulan dirinya.
Seragam putih abu-abu yang baru disetrika menggantung rapi di tubuhnya, pita kecil di kerahnya sedikit miring, tapi ia tidak terlalu peduli.
Ini hari pertama. Sekolah baru. Kota baru. Hidup baru.
Ia memandangi ID card sekolah yang tergantung di lehernya. Tulisan “SMA Pelita Jakarta” tercetak jelas di atas foto yang diunggah saat pendaftaran online waktu itu.
“Pelita Jakarta,” gumamnya pelan. “Nama sekolahnya aja udah berat, semoga anak-anaknya nggak.”
“Raynaaa!” terdengar suara Mama dari lantai bawah. “Ayo turun, nanti terlambat!”
“Iyaaa, Ma!”
Ia menenteng tas hitamnya dan menuruni tangga. Aroma roti panggang menyambut dari dapur. Mama sudah menunggu di meja makan bersama Pak Herman, sopir keluarga mereka yang setia sejak masih tinggal di luar negeri.
“Kamu udah siap banget nih,” kata Mama sambil tersenyum. “Deg-degan?”
“Sedikit,” jawab Rayna jujur. “Takut nggak bisa nyatu sama anak-anak sini.”
Mama menepuk bahunya. “Kamu anak baik, Sayang. Pasti bisa. Mereka bakal suka sama kamu.”
Rayna hanya tersenyum tipis, lalu meneguk segelas susu.
Mobil hitam keluarga mereka melaju pelan di antara padatnya lalu lintas Jakarta. Dari jendela belakang, Rayna melihat deretan pedagang, ojek, dan anak sekolah yang berjalan tergesa. Ia bersandar di kursi, memperhatikan papan-papan reklame besar di sepanjang jalan.
“Sekolah kamu besar, Non,” kata Pak Herman dari depan. “Banyak anak-anak pejabat juga di situ. Tapi jangan khawatir, guru-gurunya baik-baik kok.”
Rayna mengangguk. “Semoga aja begitu, Pak.”
Begitu mobil berhenti di depan gerbang besar bertuliskan SMA Pelita Jakarta, Rayna tertegun. Bangunannya megah, dengan tembok putih tinggi dan taman yang rapi. Suara riuh siswa bercampur dengan bunyi lonceng sekolah.
Ia turun dari mobil dan menatap sekitar. “Kayak kampus,” bisiknya.
Pak Herman tersenyum. “Nanti jam dua saya jemput lagi, ya.”
“Iya, Pak. Makasih.”
Rayna berjalan masuk melewati halaman luas. Setiap langkahnya terasa asing, namun di sisi lain, ada semacam dorongan ingin tahu. Ia melihat kelompok siswa bercanda di tangga, beberapa siswi selfie di taman depan, dan petugas keamanan yang berdiri di pojok gerbang.
Setelah menanyakan ke petugas TU, Rayna menemukan ruang kelasnya. Pintu bertuliskan Bahasa 12 berdiri di ujung koridor. Ia berdiri sebentar, menarik napas, lalu membuka pintu.
Suara riuh mendadak hening seketika. Puluhan pasang mata menatapnya.
Rayna berdiri tegak. Ia mencoba tersenyum, meski pipinya terasa kaku. “Hai semua, nama aku Rayna Kalie Nathan. Kalian bisa panggil aku Rayna,” ucapnya dengan nada ramah.
Beberapa anak mengangguk, beberapa hanya melirik lalu kembali sibuk.
Guru wali kelas tersenyum. “Baik, Rayna. Selamat datang di kelas Bahasa ini ya. Kamu duduk di bangku kosong itu ya.” Katanya sambil menunjuk sebuah bangku kosong di deretan ketiga bagian belakang.
“Iya, Bu.”
Rayna melangkah ke bangku yang ditunjuk, menaruh tasnya, dan duduk. Ia mencoba fokus pada pelajaran pertama, tapi dari sudut matanya, ia merasa ada seseorang yang terus memperhatikannya.
Ia berpura-pura mencatat, tapi rasa itu semakin kuat.
Akhirnya, ia menoleh ke kanan. Seorang cowok berambut sedikit berantakan duduk di sebelahnya, menatap ke arahnya dengan pandangan datar.
Rayna menaikkan alis. “Ada apa, ya? Dari tadi kayaknya kamu terus ngeliatin ke sini?”
Cowok itu mengangkat bahu santai. “Enggak kok. Gausah ge-er deh lo.”
Nada bicaranya tenang tapi tajam. Ia menoleh ke papan tulis seolah tak terjadi apa-apa.
Rayna mendengus pelan, menggulirkan matanya. “Oke, sorry,” gumamnya pelan. Ia berusaha kembali fokus, tapi sedikit kesal. Hari pertama, sudah disambut dingin. Bagus sekali ya.
Selama jam pelajaran berikutnya, mereka hampir tidak berbicara. Cowok itu tetap cuek, sibuk menggambar sesuatu di buku catatannya. Sementara Rayna, diam-diam melirik penasaran. Gambarnya bagus. Gaya goresannya mirip seseorang yang dulu sering menggambar bersamanya.
Vando.
Pikiran itu tiba-tiba muncul. Ia buru-buru menepisnya, tapi rasa rindu itu datang lagi tanpa izin.
Bel pulang akhirnya berbunyi. Suara riuh langsung memenuhi udara. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Rayna menarik napas lega, memasukkan buku ke tasnya.
“Capek banget,” gumamnya.
Cowok yang tadi bicara dengan Rayna menutup bukunya dan berkata, “Baru hari pertama udah capek?”
Rayna menatapnya sekilas. “Lo pikir pindah sekolah gampang?”
Cowok itu menatapnya balik, kali ini tanpa senyum. “Nggak gampang. Tapi lo kelihatannya kuat deh.”
Rayna sempat terdiam. Nada suaranya datar, tapi ucapannya jujur. Ia hanya mengangguk kecil lalu berdiri. “Makasih. Sampai besok.”
Cowok itu mengangguk pelan.
Di luar kelas, udara sore terasa hangat. Sinar matahari menembus pepohonan di halaman sekolah. Rayna berjalan menuju gerbang. Beberapa siswa lain melambaikan tangan ke arah orang tua mereka.
Pak Herman sudah menunggu di depan mobil. Ia membukakan pintu. “Gimana sekolahnya, Non?”
“Lumayan, Pak. Cuma... belum kenal siapa-siapa aja.”
“Nanti juga kenal, Non. Namanya juga baru.”
Rayna tersenyum kecil. “Iya, Pak.”
Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah. Dari jendela, Rayna melihat lagi tulisan besar di gerbang: Pelita Jakarta. Entah kenapa, nama itu terasa seperti awal sesuatu yang besar.
Sesampainya di rumah, suasana tenang. Mama sedang di ruang tamu sambil berbicara lewat telepon. Dari arah tangga, Rayna sempat mendengar sepotong kalimat.
“Iya, Bu. Saya pastikan anak kita kenal dekat dan tetap bersama sampai tua nanti...”
Langkah Rayna terhenti. Ia menatap ke arah ruang tamu. Kata-kata itu terdengar aneh.
Anak kita? Bersama sampai tua?
Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah pelan mendekat.
“Maaa?” panggilnya lirih.
Mama tersentak kecil, lalu buru-buru menutup telepon. “Eh, anak mama udah pulang? Udah makan?” katanya dengan nada ceria yang agak dipaksakan.
“Belum. Tadi mama ngomong sama siapa, ya?”
Mama tersenyum, tapi matanya sedikit gugup. “Oh itu, cuma ngobrol sama teman lama aja. Nggak penting kok. Yuk, makan dulu. Kamu pasti lapar.”
Ia menarik tangan Rayna menuju ruang makan.
Rayna menatap wajah mamanya, mencoba membaca ekspresi di balik senyum itu. Ada sesuatu yang disembunyikan, ia bisa merasakannya. Tapi ia tidak mau memaksa.
Malam itu, setelah makan dan mandi, Rayna duduk di meja belajar sambil menatap jendela. Lampu kota berkedip di kejauhan. Di meja, ponselnya tergeletak diam.
Ia membuka TeleChat. Tak ada pesan baru. Hanya percakapan terakhir dengan Vando yang masih terbuka.
Kalimat terakhir dari Vando masih terpampang di layar:
“Kita bakal ketemu lagi, Rayi. Aku janji.”
Ia tersenyum kecil, lalu menatap langit malam.
Tiba-tiba, pikirannya kembali ke percakapan Mama tadi siang. “Anak kita kenal dekat dan tetap bersama sampai tua nanti...”
Hatinya berdebar. Kata-kata itu seperti potongan puzzle yang belum lengkap.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat sesuatu. Dulu, di Eropa, Mama dan Ibu Vando sering bertemu. Mereka bersahabat. Bahkan pernah bercanda, katanya Rayna dan Vando cocok kalau besar nanti.
Tapi... itu dulu. Masa iya Mama masih memikirkan hal itu?
Rayna tertawa kecil, menertawakan pikirannya sendiri. “Ah, nggak mungkin.” Tapi tawa itu cepat menghilang. Entah kenapa, bagian dalam dirinya justru berkata sebaliknya.
Ia mengambil buku catatan, membuka halaman kosong, lalu mulai menggambar.
Tangannya bergerak pelan, mengikuti ingatan.
Beberapa menit kemudian, wajah seorang anak laki-laki muncul di atas kertas.
Rambut sedikit acak, mata hangat, dan senyum yang selalu ia rindukan.
“Vando...” bisiknya.
Air matanya menetes di pojok halaman. Ia menyeka cepat, tapi garis air itu sudah sempat mengaburkan tinta.
Ia menatap gambar itu lama. “Kamu beneran bakal ke sini?”
Di luar jendela, Jakarta masih berisik seperti biasa. Tapi di hati Rayna, mulai tumbuh rasa yang baru. Campuran rindu, harapan, dan... firasat.
Bahwa semua yang terjadi hari ini, sekolah baru, teman baru, ucapan Mama, bukan kebetulan.
Mungkin, semuanya sedang membawanya kembali... ke janji yang dulu pernah diucapkan di bawah langit Eropa.
Bersambung...
Pukul sepuluh malam.
Rayna duduk di tempat tidurnya. Menggenggam ponsel. Membuka aplikasi TeleChat. Kemudian ia mengetik sebuah pesan untuk Vando.
[“Do?”]
[“Gimana kabar kamu hari ini?”]
[“Pasti ada cerita menarik ya disana? Aku jadi kepo banget, ingin dengerin kamu cerita lagi.”]
Tak ada balasan.
Ia menunggu beberapa menit. Masih hening.
"Apa dia udah tidur, ya?" pikirnya.
Ia mencoba mengirim satu pesan lagi,
[“Kamu sibuk banget ya? Atau udah tidur? Hemm.. Ya udah deh selamat tidur ya, Vando ❤️.”]
Namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya, ia meletakkan ponsel di meja kecil samping ranjang dan berbaring.
Langit malam Jakarta terasa sunyi, begitu pula hatinya.
Beberapa hari telah berlalu, dan hingga saat ini, pesan yang dikirim Rayna kepada Vando belum juga mendapat balasan. Ia juga sudah mencoba menghubunginya beberapa kali lewat telepon, namun tak sekali pun diangkat.
TOK TOK TOK.
Terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar Rayna. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya.
"Rayna, sini, Nak," seru Mama dari luar.
Rayna segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Kamu lagi sibuk nggak?”
“Nggak kok, Ma. Aku lagi rebahan santai aja.”
“Yuk ke depan, Mama mau bicara sama kamu," ucap Mama pelan.
"Emm.. Oke. Tumben Mama mau bicara sama aku," jawabnya, sedikit heran.
“Emang biasanya juga Mama bicara sama kamu kan? Kamu ini.” Ucap Mama.
“Bukan gitu, Ma. Maksudku muka Mama nggak pernah seserius ini, aku jadi gemeteran nih. Apa aku lakuin kesalahan ya sama Mama?.” Tanya Rayna memastikan.
“Enggak... Udah ayok ikut mama dulu.” Ucap Mama sambil mengulurkan tangannya.
“Oke, Ma.” Jawabnya singkat.
Rayna mengikuti Mama menuju ruang tamu. Matanya langsung menangkap sepasang suami istri yang duduk di sofa dan...
Ben? Apa yang dia lakukan disini?
Rayna mengerutkan kening.
Ben adalah cowok yang sempat ia tegur di hari pertama sekolah. Waktu itu, sikapnya dingin. Tak pernah Rayna sangka, tiba-tiba sosok itu berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.
"Ini ada apa ya, Ma?" tanyanya, bingung.
"Sini sayang, duduk di samping Mama dulu," ajak Mama sambil menepuk sofa.
Suasa a di ruangan itu terasa aneh. Tidak nyaman. Obrolan mereka terdengar formal, penuh rencana yang tak ia pahami. Rayna hanya duduk diam, mendengarkan semua dengan jantung yang tak tenang.
“Ini Ben, anak dari teman mama, katanya kalian satu kelas kan di sekolah.” Ucap Mamanya.
“Iya, Ma. Ben memang temen sekelas aku. Tapi ini sebenernya ada apa, Ma?” tanya Rayna keheranan.
Saat itu, Ben hanya tersenyum mendengar percakapan itu.
“Bagus dong kalau gitu, berarti kalian nggak harus perkenalan lagi.” Kata Mama Ben.
“Emm.. O- Okey.. lalu apa?” Rayna menatap kesemua mata yang ada disana.
"Mama harap kamu dan Ben bisa terus bersama sampai tua, ya," ujar Mama dengan nada penuh harap.
"Iya, kami semua juga berharap seperti itu sih, karena kelihatannya kalian memang cocok. Ya kan, Bu?," timpal Mama Ben.
“Iya benar itu, Nak. Lagi pula Ben juga anak yang baik, pinter juga kan disekolahnya. Mungkin kamu lebih tau soal dia gimana.”
Rayna hanya terdiam. Ia merasa bingung dan ingin segera keluar dari ruangan itu. Namun ia tetap mencoba menahan diri, walau hatinya semakin kacau.
"Aku sama sekali nggak ngerti dengan apa yang Mama dan Tante omongin. Mm.. Maksudnya gimana ya?" tanyanya, akhirnya tak mampu lagi menahan.
“Mama… dan orang tuanya Ben… ingin kamu dan Ben menikah,” ucap Mama pelan tapi tegas.
"Hah? Menikah?" wajah Rayna langsung berkaca-kaca.
"Tt... Tapi, Ma. Lagian aku masih sekolah. Mama ini kenapa sih? Aneh-aneh aja!."
Ucapannya tercekat. Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya jatuh juga. Tanpa bisa berkata lebih lanjut, Rayna bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar.
Mama menyusulnya meninggalkan para tamu yang masih duduk disana. Ia masuk ke kamar dan duduk di samping Rayna yang sudah meringkuk sambil menangis.
"Ma... aku nggak mau, Ma... hiksss.. hiksss..." isaknya.
“Aku nggak ngerti kenapa mama tiba-tiba mau menjodohkan aku dengan Ben. Orang yang bahkan baru aja aku kenal di sekolah beberapa hari lalu.” Lanjutnya Rayna dengan terus meneteskan air matanya.
“Apa ini sebenernya alasan Mama, minta untuk kita pindah cepat ke Jakarta?” tanyanya terus menerus.
"Kamu harus mau, sayang. Ini demi kebaikan kamu dan keluarga kita," ucap Mama, menatap penuh tekanan.
Rayna menatap balik, penuh luka.
“Kk.. Kebaikanku? Kebaikan apa sih yang ada dibayangan Mama?”, ucap Rayna. Dadanya terasa sangat sesak.
“Mama tahu kan, aku sayang dan cinta sama Vando. Aku maunya sama dia. Kebaikan buatku itu kalau aku bisa bersama Vando, Ma... hikss..." lanjut Rayna.
"Ben anak yang baik, Sayang. Kamu nggak boleh nolak dia," kata Mama tegas.
"Tapi, Ma... aku nggak cinta sama dia. Aku cintanya cuman sama Vando!"
"Cinta?" bentak Mama. "Tahu apa kamu tentang cinta, hah?!"
Rayna menatap wajah Mamanya yang mulai basah air mata.
“Cinta cuma bikin hancur, Rayna,” suara Mama bergetar. “Mama dulu juga pernah percaya cinta. Papa kamu bilang hal yang sama, katanya cinta bisa bikin hidup bahagia.”
Mama tersenyum pahit. “Nyatanya, dia pergi. Meninggalkan Mama dengan luka dan anak kecil yang harus Mama besarkan sendirian.”
Rayna terdiam. Hatinya terasa berat. Ia baru sadar, semua keputusan Mama mungkin lahir dari rasa takut, bukan kebencian.
“Makanya, Mama cuma mau kamu aman,” lanjutnya pelan. “Nggak usah mikirin cinta. Yang penting hidupmu tenang, ada orang yang bisa jaga kamu. Itu cukup.”
Tangis Mama akhirnya pecah.
Ya, memang benar. Mama dan Papa Rayna sudah lama bercerai. Saat itu Rayna masih kecil. Papa Rayna sering berselingkuh dan kasar, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Padahal sejak awal mereka menikah itu, alasan utamanya ialah karena saling mencintai satu sama lain.
Setelah bercerai, Mama membawanya ke Eropa, berharap bisa sembuh dari luka itu. Tapi luka lama tak pernah benar-benar hilang.
Sementara itu, Rayna hanya bisa terisak. Hancur. Bimbang. Tak tahu harus berbuat apa.
“Tolong pikirkan baik-baik apa yang Mama bilang,” ucap Mama pelan sebelum berdiri dan melangkah ke pintu. Ia membuka, lalu menutupnya perlahan, meninggalkan Rayna sendirian di kamar.
Rayna hanya bisa menangis sambil memeluk gulingnya. Sesekali ia menatap ponselnya yang tergeletak di atas laci kecil persis di samping tempat tidurnya. Lalu kemudian menyimpannya kembali di tempat semula.
Rasanya ia ingin menceritakan semua yang telah terjadi hari ini kepada seseorang.
Tapi kepada siapa?
Ia sudah tak punya siapa pun untuk bercerita. Dulu ada Vando. Tapi sekarang, bahkan pesan yang ia kirim beberapa hari lalu pun belum dibalas.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!