Angin gurun berhembus kencang, membawa butiran pasir yang menusuk kulit seperti jarum halus. Matahari menggantung rendah, memancarkan cahaya merah keemasan yang menyelimuti hamparan pasir tanpa ujung.
Di tengah lautan pasir itu, deru mesin terdengar meraung. Beberapa jeep militer melaju kencang, bannya menghantam permukaan gurun, meninggalkan jejak panjang yang segera tertelan angin.
Empat prajurit di setiap kendaraan menggenggam senjata mereka erat. Keringat bercampur debu menempel di wajah yang terbungkus di balik sorban putih yang menutup wajah. Namun mata mereka tetap tajam, menatap ke depan.
“Terdapat pergerakan dari bawah pasir!”
Tiba-tiba—
Pasir di hadapan mereka bergejolak.
Seperti sesuatu yang mendidih di bawah permukaan, butiran pasir bergetar, lalu meledak ke atas. Dari dalamnya, tangan-tangan kering muncul: kulit membusuk, tulang terlihat jelas, kain pembungkus tubuh yang lapuk terurai diterpa angin.
Satu.
Dua.
Lalu puluhan.
Dalam hitungan detik, ratusan mumi bangkit dari dalam tanah, mata kosong mereka menghadap ke arah para prajurit. Gerakan mereka kaku, namun tak terhentikan.
"Graghh!"
“Tembak!!”
Rentetan peluru memecah keheningan gurun. Kilatan senjata otomatis menyambar, menghantam tubuh-tubuh kering itu. Beberapa mumi hancur, dan terlempar kembali ke pasir.
Beberapa berhasil ditumbangkan. Tubuh mereka yang ambruk, lekas menguap bagaikan tetesan air di padang gurun.
Namun, seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, pasir kembali bergejolak. Diikuti mumi lain muncul satu persatu.
Jeep berputar mencoba menjaga jarak. Salah satu prajurit berdiri di belakang kendaraan, menembakkan senapan berat tanpa henti. Selongsong peluru berjatuhan, berdenting panas di atas logam kendaraan.
“Jumlah mereka terus bertambah! Kita tak bisa terus-terusan membuang amunisi!”
Angin semakin kencang. Badai pasir mulai terbentuk hingga mengaburkan pandangan.
Dan di balik badai itu, siluet besar mulai terlihat.
Di kejauhan, berdiri sosok yang tak bergerak.
Tubuhnya megah, setengah terkubur oleh pasir yang berputar di sekelilingnya. Wajahnya tenang, namun mata itu—mata itu memandang seluruh kekacauan seperti seorang raja yang mengawasi pasukannya.
Sphinx.
Makhluk kuno itu tidak menyerang. Tidak pula bergerak.
Namun setiap kali angin berhembus, setiap kali pasir bergeser, memunculkan lebih banyak mumi bangkit. Seolah gurun itu sendiri adalah perintahnya.
Seorang prajurit menatap ke arah sosok itu dengan napas tertahan.
“Itu? Itu apa?”
Rentetan peluru dengan tangan gemetar kembali menggema. Jeep terus melaju, berusaha keluar dari uluran tangan-tangan mumi yang terus muncul dari bawah pasir.
Gurun itu kini bukan lagi tanah kosong.
Ia telah menjadi makam yang menolak untuk tetap diam.
---
Di belahan dunia lain, hanya ada hamparan putih yang terlalu kontras dengan warna emas pasir gurun.
Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan salju yang membungkus hutan pinus dengan keheningan yang menekan. Angin berdesir pelan, membawa butiran es yang berkilau seperti serpihan kaca.
Di tengah lanskap beku itu, satu peleton pasukan bergerak perlahan.
Seragam putih mereka menyatu sempurna dengan lingkungan, nyaris tak terlihat jika bukan karena bayangan samar yang bergeser di antara pepohonan.
Di kepala mereka, night vision menyala redup—lensa hijau yang memindai setiap gerakan sekecil apa pun. Nafas mereka membentuk uap tipis, langsung menghilang ditelan udara dingin.
"Whoshhh!"
Suara napas dingin beriringan dengan langkah yang hati-hati.
“Regu serigala kutub mencoba menyisir area selatan. Pemindaian area akan terus kami perbarui tiap beberapa menit,” bisik salah satu komandan melalui radio.
"Dimengerti."
Moncong senjata bergerak mengikuti arah pandang. Mata mereka menyisir setiap celah di antara batang pinus yang tinggi dan gelap.
Karena mereka tahu, yang mereka hadapi tidak terlihat sampai terlambat.
Di kejauhan, suara ranting patah tiba-tiba terdengar. Membuat sepuluh anggota itu refleks semua berhenti.
Jari-jari mengencang di pelatuk.
Night vision berputar ke arah suara. Tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan. Salju. Bayangan.
Lalu—
Bayangan itu bergerak Cepat.
Terlalu cepat.
Salah satu prajurit menoleh, tapi hanya sempat melihat sesuatu melintas di antara pohon—tinggi, kurus, dengan gerakan yang tidak wajar. Seperti tubuh yang dipaksa bergerak oleh kelaparan.
“Serangan! Di selat—!”
Kalimat itu terputus. Regu lain menoleh ke arah area yang belum sempat diucapkan secara sempurna.
Sosok itu sudah tidak ada.
Hanya jejak kaki panjang yang tertanam dalam salju, dan bekas cakar yang menggores tubuh anggota paling belakang.
Detak jantung mulai tak teratur. Nafas mereka semakin berat.
“Wendigo…” gumam seseorang, hampir tak terdengar.
Angin tiba-tiba berubah arah. Lebih dingin. Lebih tajam.
Suhu pun ikut turun drastis.
Dari balik pepohonan, dari atas cabang, dari belakang bayangan, mereka mulai mengelilingi regu itu.
Siluet-siluet tinggi dengan tulang mencuat, mata redup yang memantulkan cahaya night vision, dan gerakan yang patah namun cepat.
Membuat rentetan peluru langsung dilepaskan. Kilatan senjata memecah kegelapan bagaikan kembang api di padang salju.
Makhluk itu ikut beradaptasi.
Mereka meloncat. Berlari di antara batang pohon. Menghilang. Lalu muncul lagi di sudut yang berbeda. Seperti sedang mempermainkan ketakutan.
Sebuah suara dari radio memotong kekacauan dan menghentikan peluru yang sebelumnya menggema.
Hening langsung merayap. Memperdengarkan alunan desis kematian yang hadir bersama desir angin.
Suara lain masuk dengan nada ebih tenang. Tetapi juga lebih jauh.
Sniper.
“Ini Eagle-1. Saya punya visual dari ketinggian.”
Semua pasukan menahan napas.
“Target bukan hanya makhluk-makhluk itu, Komandan!”
Ada jeda. Beberapa anggota refleks siaga dan menyisir pandangan diantara semak yang bergoyang.
“Ada sesuatu yang membantu penyerangan di belakang mereka.”
Lensa sniper memperbesar. Menembus badai salju yang mulai terbentuk.
Di kejauhan sana, berdiri sosok wanita berdiri diam.
Gaunnya menyatu dengan salju, rambutnya tergerai mengikuti angin yang tidak menyentuh yang lain. Tangannya terangkat perlahan dan setiap gerakannya membuat salju di sekitarnya bergerak seperti hidup.
“Dia penyihir pengendali salju!”
Telunjuk sang sniper menekan pelatuk. Peluru melesat menembus kabut salju bagaikan meteor kecil yang menyibak atmosfer.
Namun di tengah lintasan, butiran es mulai terbentuk di sekelilingnya. Yang membuat peluru itu membeku dalam hitungan detik.
Peluru jatuh dan tenggelam diantara selimut salju. Tak pernah mencapai target.
Sunyi.
Radio kembali berbunyi, kali ini dengan nada yang berbeda.
Lebih berat.
“Ini bukan target biasa…”
Jeda panjang.
“Kita butuh dukungan penuh dari pusat. Ulangi—kita butuh bantuan skala militer penuh.”
Di bawah sana, di antara pepohonan beku, para prajurit mulai menyadari satu hal:
Mereka bukan sedang berburu.
Mereka sedang diburu.
---
Langit di atas negara kepulauan menggelap.
Bukan karena malam. .elainkan karena sesuatu yang bergerak di bawah permukaan laut.
Ombak yang biasanya berirama kini berguncang tak beraturan. Air laut naik turun seperti dada yang terengah, menandakan sesuatu yang terlalu besar sedang bangkit dari kedalaman.
Sirine bahaya meraung di sepanjang garis pantai.
Warga sipil berlarian, sebagian menoleh ke belakang dengan wajah memucat, menyaksikan laut yang mulai menggila. Anak-anak menangis, orang dewasa menggenggam tangan keluarga mereka erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahan dunia agar tidak runtuh.
Di kejauhan, permukaan laut mulai terbelah.
Sebuah bayangan raksasa muncul perlahan, diikuti suara gemuruh yang tidak berasal dari langit. Air laut terangkat seperti ditolak oleh sesuatu dari bawah.
Lalu ia muncul.
Leviathan dengan tinggi puluhan meter.
Tubuhnya menjulang, diselimuti air yang jatuh seperti hujan deras dari sisiknya. Setiap gerakan membuat ombak menggulung tinggi, menghantam kapal-kapal yang terlalu dekat. Raungannya menggema: dalam, berat, dan cukup untuk membuat dada siapa pun bergetar tanpa sadar.
“Target visual terkonfirmasi!”
Di daratan, barisan militer sudah bersiaga atas laporan sebelumnya. Kendaraan tempur berjajar, radar berputar, dan moncong peluncur mengarah ke laut.
“Kunci target!”
Lampu indikator menyala.
Dalam hitungan detik, rudal diluncurkan.
Suara ledakan memecah udara, garis api melesat menuju makhluk itu. Langit seakan dipenuhi cahaya yang mengarah ke satu titik yang sama.
Ledakan menghantam tubuh monster itu. Air dan asap membumbung tinggi, menciptakan kabut panas di atas laut.
Makhluk itu meraung bagaikan terompet yang menggema di antara awan. Mengguncang kaca-kaca bangunan di sepanjang pesisir.
Byurrr!!
Makhluk itu tumbang hingga menghasilkan ombak tsunami yang menghantam daratan. Lalu menyapu apa saja yang berada di jalurnya.
Di garis evakuasi, seorang tentara berlutut di depan seorang anak kecil yang menangis. Tangannya gemetar, tapi ia tetap memaksakan senyum.
“Tidak apa-apa… kami di sini. Kamu akan baik-baik saja.”
Di belakangnya, langit kembali menyala oleh peluncuran rudal berikutnya.
Di sisi lain, seorang komandan menatap layar radar dengan rahang mengeras.
“Terus tembak! Jangan beri celah meski target terdeteksi melemah!”
Namun di dalam dirinya, ia tahu.
Ini bukan musuh yang bisa dijatuhkan hanya dengan kekuatan api.
Sirine terus meraung. Raungan monster terus menggema dari bawah permukaan laut.
Samudera Pasifik yang luas tiba-tiba bergetar.
Gelombang berubah liar, berputar membentuk pusaran raksasa. Langit di atasnya retak oleh cahaya yang tak wajar. Menghasilkan sebuah lingkaran energi yang terbuka perlahan, membelah cakrawala antara laut dan langit.
Portal dari kesalahan proyek Helios itu pun muncul.
Cahaya dari dalamnya berdenyut, memancarkan energi yang membuat ombak menjauh seolah takut mendekat. Kamera satelit, drone militer, hingga siaran langsung dari berbagai negara, serempak mengarah ke satu titik yang sama. Dunia seakan ikut menahan napas.
Lalu…
Sosok itu melangkah keluar.
Besar.
Tubuhnya menyerupai manusia, kekar dan berotot. Namun kepalanya berparuh tajam, dan pergelangan tangannya berupa cakar yang mematikan—bagaikan Garuda yang menjelma dalam wujud hidup.
Zirah emas di dadanya berkilau, memantulkan cahaya pagi yang mulai merekah di ufuk timur. Di punggungnya, sayap emas terbentang luas—begitu besar hingga membentuk bayangan seperti gerhana yang menelan cakrawala. Setiap kepakan sayapnya membuat laut bergetar.
Di ruang siaran berita, suara pembawa acara bergetar menahan ketakutan.
Di markas militer, para jenderal berdiri kaku menatap layar.
Di dalam bunker, warga sipil berkumpul di sekitar radio, mendengarkan dengan napas tertahan.
Dan di tengah samudera itu, sosok tersebut membuka mulutnya.
Suaranya menggema—bukan hanya di udara, tapi seolah langsung terdengar di dalam benak setiap manusia di bumi.
“Aku adalah… The Ancient One.”
Hening. Tak ada yang berani menyela.
“Dunia ini… tidak semestinya diisi oleh dua peradaban.”
Ombak bergulung pelan, seakan laut pun mendengarkan.
“Pengetahuan kuno dan kemajuan teknologi. Sebelumnya telah mencapai keseimbangan.
“Namun... meserakahan pengetahuan kalian telah merobek tabir antara dunia manusia dan dunia kami.”
Bayangan sayapnya menutup sebagian cahaya matahari.
“Puluhan tahun, peperangan bahkan tak menunjukkan tanda-tanda salah satu pihak ingin menyerah.”
Suara itu tidak marah. Tidak pula lembut.
Ia hanya mutlak.
“Jika terus dibiarkan, peperangan yang tidak akan pernah berakhir ini dapat menghancurkan bumi yang terlalu indah untuk lenyap hanya karena ambisi sia-sia."
Seluruh dunia terdiam.
Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini dimulai, harapan—atau mungkin ketakutan baru—muncul di antara manusia.
The Ancient One mengangkat kepalanya sedikit, seolah menatap seluruh bumi sekaligus.
“Kirimkan perwakilan dari kalian. Lalu temui aku untuk penawaran yang mungkin akan bisa menyelematkan kalian. Bumi kalian”
Angin berhenti. Laut kembali sunyi.
Namun dunia tahu.
Setelah ini…
Tak akan ada yang sama lagi.
Presiden Amerika Serikat melangkah mantap menyusuri lorong panjang yang nyaris ambruk.
Dindingnya penuh retakan, kabel-kabel menjuntai dari langit-langit, dan suara gemuruh jauh di luar sana menandakan perang yang belum juga berakhir.
Setiap langkahnya bergema di antara puing-puing sejarah yang seolah dunia sendiri menahan napas menunggu keputusan sang pemimpin umat manusia.
Hari ini, ia bukan sekadar seorang presiden. Ia adalah simbol harapan terakhir umat manusia. Dan di ujung lorong itu, menantinya sosok yang bukan berasal dari dunia ini.
The Ancient One. Raja segala makhluk mitologi.
Di reruntuhan bekas markas PBB yang kini tinggal bayang-bayang kejayaannya, dua peradaban yang telah saling menghancurkan akan saling berhadapan. Bukan untuk berperang, tapi untuk menentukan apakah perdamaian masih mungkin ada.
Proyek Helios, mimpi besar manusia untuk menaklukkan energi tak terbatas, telah menorehkan luka pada jagat raya. Tabir yang memisahkan dunia manusia dan dunia mitologi robek hingga membuka jalan bagi kekacauan.
Bagi kaum mitologi, itu adalah penyerangan ke tanah suci mereka. Tetapi bagi manusia, kedatangan mereka adalah invasi tanpa peringatan. Yang membuat kedua pihak merasa menjadi korban, merasa berhak untuk ingin bertahan.
Maka di sinilah pria berambut pirang itu berdiri. Rambutnya disisir rapi meski abu dan debu menempel di jasnya. Wajahnya menua oleh beban dunia, namun matanya masih menyala dengan tekad yang sama seperti dulu saat ia berjanji melindungi bangsanya.
Beberapa menit ia melangkah dalam diam, sampai akhirnya dari balik kabut puing dan cahaya redup obor, muncul sosok besar menjulang.
Seekor Minotaur.
Setengah manusia, setengah lembu, tubuhnya berotot dan berlumur debu pertempuran. Kapak raksasa di tangannya masih meneteskan darah kering, dan setiap langkahnya mengguncang lantai beton yang retak.
Kedua pengawal presiden langsung menegakkan senjata, bersiap menembak jika makhluk itu tiba-tiba menyerang. Tetapi sang presiden hanya mengangkat tangan. Sebuah isyarat singkat yang tegas, namun penuh keyakinan.
“Turunkan senjata,” ujarnya datar. Nada suaranya tenang, tapi mengandung wibawa yang tak bisa dibantah.
Minotaur itu menatapnya lama, seolah menilai apakah manusia ini layak dipercaya.
Kemudian ia menundukkan kepala. Lalu memutar tubuhnya untuk memberi jalan.
Presiden melangkah melewatinya tanpa gentar.
Di depan sana, di balik pintu besar dari batu yang retak, cahaya ungu samar memancar. Tempat di mana The Ancient One menunggu, dan nasib dua dunia akan ditentukan.
Pintu batu itu terbuka perlahan, mengeluarkan derit berat yang bergema di seluruh ruangan. Cahaya ungu lembut menembus celahnya, menyinari wajah Presiden yang kini berdiri di ambang sejarah.
Ia melangkah masuk, langkah kakinya bergema di aula besar bekas markas PBB. Tempat di mana dahulu manusia menegakkan perdamaian, kini menjadi medan diplomasi antara dua dunia yang saling menyalahkan.
Bendera-bendera negara tergantung lusuh, robek, dan berdebu. Lantai marmer penuh retakan seperti luka bumi yang belum sembuh. Di tengah ruangan itu, berdiri singgasana batu hitam, berukir lambang-lambang kuno yang berdenyut samar.
Dan di atasnya, The Ancient One.
Makhluk itu menjelma seperti penjelmaan mitologi sendiri. Bertubuh manusia yang tegap dan berotot, namun berkepala elang raksasa dengan paruh tajam keemasan yang berkilau di bawah cahaya ungu. Di dadanya terpasang zirah emas berukir simbol matahari dan kilat, berpendar lembut seolah menahan kekuatan yang tak terukur.
Di bawah kakinya berdiri para makhluk mitologi. Puluhan elf bersenjata panah dan tombak, naga kecil yang melingkar di tiang-tiang batu, dan makhluk bersayap kelelawar yang melayang seperti kabut malam. Semua hening, menunggu pemimpin mereka berbicara.
Presiden menghela napas berat melihat penjagaan itu. Lalu melangkah maju dengan mantap.
Jasnya memang berdebu, dan wajahnya letih. Namun sorot matanya tak kehilangan wibawa.
“Yang Mulia The Ancient One." Suaranya menggema di aula itu.
"Aku datang bukan membawa senjata, bukan pula membawa dendam. Tetapi aku datang dengan membawa satu-satunya harapan yang tersisa untuk kita semua.”
The Ancient One menatapnya lama. Dengan sepasang mata yang berkilat bagai dua bola api keemasan.
Ia bergerak sedikit. Suara gesekan antar sayap emas yang mengatup di punggungnya terdengar bagaikan desir pepohonan rimba.
Lalu membuka mulut. Suaranya terdengar dalam, berat, dan bergema seperti petir yang berbisik dari langit purba.
“Harapan? Kata yang terlalu indah keluar dari mulut manusia." Paruhnya bergerak perlahan.
“Namun setiap kali kalian mengucapkannya, bumi kami berlumur darah.”
Presiden tetap tegak. “Jika harapan adalah dosa, maka izinkan aku berdosa demi menyelamatkan umatku.”
Senyum samar—hampir seperti ejekan—terbit di wajah salah seorang Elf yang terlihat seperti pemimpin pasukan.
“Keberanian manusia selalu menarik dengan tubuh kalian yang rapuh. Tapi tak pernah berhenti menantang kehancuran.”
Presiden menatap lurus. Suaranya mengeras. Namun tak kehilangan tenangnya.
“Kesempatan untuk menebus. Proyek Helios adalah kesalahan kami, tapi juga bukti bahwa manusia mampu menciptakan keajaiban. Kami bisa memperbaiki apa yang kami rusak, tapi kami tak bisa melakukannya sendiri.”
Mata Elf itu berpendar. “Dan jika kami menolak?”
Presiden menjawab tanpa ragu.
“Maka biarlah kekuatan menentukan siapa yang pantas bertahan. Tapi jika Engkau percaya bahwa setiap kehidupan manusia, naga, atau roh berhak berada di bawah langit yang sama. Maka mari kita buktikan tanpa memusnahkan satu sama lain.”
Keheningan menelan ruangan.
Asap, debu, dan angin mengitari keduanya seperti waktu menahan diri.
Lalu perlahan, The Ancient One mengangkat salah satu tangannya yang bercakar Garuda.
Dari udara muncul lingkaran cahaya raksasa. Berisi simbol-simbol kuno yang berputar dan memancarkan sinar emas.
“Maka biarlah nasib dunia diputuskan melalui pertarungan." Suaranya bergema mengguncang udara.
"12 kali kesempatan. Dua belas kali pertarungan. Dua belas juara dari masing-masing dunia.
"Sihir melawan teknologi. Jiwa melawan baja.”
Matanya menyala terang.
“Dan biarlah langit yang retak menjadi saksi siapa yang layak mewarisi dunia ini.”
Presiden menatapnya dalam diam, lalu perlahan mengangguk.
Ia menatap lurus ke mata emas sang makhluk bersayap garuda itu.
“Semoga Tuhan dan para dewa yang masih peduli, mengampuni kita semua.”
Ledakan cahaya memancar. Lingkaran emas itu terangkat ke langit, membelah awan yang berwarna ungu, menandai dimulainya Era Dua Dunia.
Langit bergemuruh.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia dan legenda bersiap bertarung.
Bukan untuk membunuh, tapi untuk menentukan siapa yang berhak menulis masa depan dunia.
Langit siang itu bergetar. Awan-awan bergulung seperti lautan putih yang marah. Sementara sinar matahari menembus celah-celahnya, memantulkan kilau keemasan di seluruh cakrawala.
Di bawah gemuruh lembut angin surgawi itu, The Ancient One berdiri di atas tebing awan tertinggi. Tubuhnya menjulang, sayap garudanya terentang luas hingga menutupi separuh langit.
Sang Presiden memandang dari bawah bersama para penjaga dan juga seluruh umat manusia yang pasrah. Semua menatap ke atas—ke arah makhluk bersayap itu, yang kini tampak seperti dewa pencipta dari kisah purba.
The Ancient One mengangkat tangannya. Cakar emasnya menggores udara. Meninggalkan jejak cahaya yang berputar seperti pusaran matahari. Suara dalam yang menggema dari dadanya bukan sekadar kata-kata, melainkan firman alam itu sendiri.
"Jika dunia lama tak sanggup menampung kehendak dua ras, maka biarlah langit yang menjadi saksi bagi dunia baru.”
Awan-awan di bawahnya bergetar, menggulung seperti badai putih.
Dari pusaran itu, tanah muncul.
Bukan tanah biasa, melainkan hamparan raksasa yang membentang tanpa ujung. Terbuat dari batu, cahaya, dan energi murni.
Gunung-gunung kecil terbentuk di pinggirannya, dan pilar-pilar raksasa menjulang tinggi ke langit seperti tiang penopang nirwana.
Di tengahnya berdiri Colosseum Agung yang begitu besar. Hingga bayangannya sendiri menutupi awan sejauh ribuan mil.
Tembok-temboknya berwarna emas berkilau diselingi marmer putih dan ukiran makhluk-makhluk dari dua dunia. Naga, manusia, peri, automata, dan roh.
Arena utamanya membentang luas, seperti padang di tengah surga. Seolah mampu menampung ribuan pasukan sekaligus.
Kemudian dari tanah yang baru lahir itu, muncul tribun-tribun megah yang mengelilingi colosseum.
Di satu sisi, ribuan manusia duduk dengan pakaian dan simbol dari negara masing-masing. Dan di sisi lain, makhluk-makhluk mitologi dari segala ras, duduk berdampingan dengan suara menggema seperti riuh festival dan peperangan yang bercampur.
Di ujung tertinggi arena—di antara dua tiang cahaya yang menjulang ke langit—terbentuk dua singgasana.
Yang pertama di sisi timur—dari logam hitam yang berpadu dengan baja dan serat cahaya—tercipta Singgasana Teknologi tempat Sang Presiden duduk. Dengan hologram bendera dunia berkibar lembut di belakang singgasana. Seperti simbol yang menggantung nasibnya di ujung kehormatan.
Di sisi barat, berdiri singgasana megah di atas pilar kristal emas. Dengan hiasan ukiran matahari dan sayap burung yang membentang.
Singgasana Surya—milik The Ancient One.
Ketika ia duduk di atasnya, sayap-sayapnya terbentang ke langit. Membentuk bayangan raksasa yang menutupi matahari.
“Inilah panggung yang akan menentukan takdir kita,” ujarnya dengan suara bergemuruh.
"Sebuah arena tempat darah menjadi perjanjian. Dan kehormatan menjadi hukum.”
Presiden berdiri dari singgasananya. Menatap luasnya arena yang melayang di antara awan.
Ia berbicara tegas. Suaranya terbawa angin ke seluruh penjuru.
“Maka biarlah di bawah langit ini, kekuatan dan keadilan yang berbicara. Tidak untuk kebencian, tapi untuk masa depan.”
Langit yang tadinya cerah perlahan mulai redup. Bayangan mendung menggelayut di antara awan putih yang bergulung di bawah Colosseum raksasa itu. Cahaya matahari yang tadi memantul di dinding-dinding arena kini terselubung lembut, seolah semesta menahan napas menantikan sesuatu yang agung.
Angin berembus pelan, membawa hawa sejuk yang menghapus sisa panas dari bebatuan arena yang baru saja terbentuk. Daun-daun kering yang entah dari mana datangnya beterbangan ringan, lalu berhenti ketika sebuah kilatan cahaya ungu membelah udara di tengah langit.
Dari sana, sosok itu melayang turun.
Libra sang pengadil dari bintang-bintang.
Tubuhnya bersinar lembut bagai cahaya bulan yang jatuh di permukaan air.
Rambutnya ungu, panjang menjuntai hingga mata kakinya. Dengan hiasan bintang dan bulan sabit berwarna keemasan bertabur di antara helaian rambutnya yang berpendar lembut, seperti potongan langit malam yang hidup.
Di tangan kirinya, ia menggenggam timbangan emas yang berayun ringan. Memancarkan cahaya kekuningan yang kontras dengan mendung di atas sana.
Seluruh penghuni tribun seakan terpaku pandangannya pada satu sosok dengan tatapan yang berbinar tenang. Memantulkan rasa ingin tahu yang dalam.
Ia melayang turun. Hingga tapak kakinya yang seputih gletser menyentuh marmer altar colloseum. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak cahaya perak di lantai batu.
The Ancient One menatapnya tanpa berkedip. Memandang setiap pergerakan dengan sorot mata waspada, namun gestur tubuhnya tak menunjukkan sikap siaga. Seolah sosok itu begitu murni tanpa noda. Bebas dari dendam yang selama ini ia lihat, baik dari rasnya sendiri maupun manusia.
"Siapa dia? Ras manusia? Atau... apa?" gumamnya gusar.
Rambut panjangnya bergoyang lembut ketika ia menggerakkan kepalanya ke seluruh makhluk. Timbangan di tangannya berayun pelan. Entah karena hembusan angin, atau karena sesuatu yang lain seperti pertikaian sebelumnya yang sempat berkecamuk.
Dengan suara lembut namun menggema seperti gema dalam gua. Ia berkata.
“Keseimbangan telah terusik. Dan kehadiranku kesini bukan untuk berpihak, tetapi untuk menimbang.”
Seisi Colosseum terdiam dalam nuansa gelisah.
Setiap makhluk seakan terbungkam oleh dosa dan darah yang masih belum kering dipermukaan bumi.
Mata ungu Libra yang masih berpendar bagai samudra ungu, memperhatikan keseluruhan makhluk. Lalu kembali berbicara dengan suara yang mengalun lembut.
“Jangan gentar, wahai anak-anak dari dua dunia. Aku bukan dewi, bukan pula penguasa. Aku hanyalah Libra. Potongan kecil dari langit yang kalian sebut rasi bintang.”
Timbangan emas di tangan kirinya berputar perlahan, memancarkan cahaya keperakan yang menyapu sekeliling tubuhnya.
“Aku menjelma menjadi sosok ini karena melihat saudaraku, sang Matahari, tampak gelisah dari takhta cahayanya. Ia menangis dalam nyala yang tak pernah padam. Menghasilkan sebuah getaran kegelisahan yang menuntunku ke planet biru yang kalian sebut Bumi.”
Kata-katanya melayang lembut, namun setiap hurufnya menampar hati dengan kejujuran telanjang.
Presiden menunduk dalam-dalam, merasa kecil di hadapan makhluk yang bahkan bukan berasal dari dunia manapun. Sementara The Ancient One menatapnya tanpa sepenuhnya waspada lagi, sembari mencoba menenangkan denyut emosinya yang bergejolak.
Dan untuk sesaat, belum ada yang berani bersuara.
Yang terdengar hanyalah suara napas dalam dada seluruh makhluk. Seolah sedang berbagi kegelisahan hati yang sama.
Langit mendung tetap bergelayut, tapi kini terasa berbeda. Bukan pertanda murka, melainkan pertanda awal penilaian.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!