Indonesia
NovelToon NovelToon

SIMPANAN KAPTEN

SIMPANAN KAPTEN 1

Udara dingin pegunungan menusuk tulang. Di balik jendela tenda komandonya, Kapten Regan Adiaksa Putro memejamkan mata, mencoba menghalau dingin yang merambat ke dalam jiwanya.

Bayangan Ratu, istrinya, kembali menghantuinya. Kata-kata dingin Ratu masih bergema di telinganya.

"Pernikahan ini hanya di atas kertas. Jangan mengharapkan hal lebih dari itu, sebab ada hati yang harus kujaga. Aku mencintai pria lain, dan dia sedang menungguku."

Pernikahan mereka yang berawal dari sebuah perjodohan yang la paksakan untuk menyetujuinya demi menyenangkan ibunya, kini terasa seperti kutukan. Sebuah penjara es di puncak gunung tertinggi. Sebuah penjara emas yang memisahkannya dari sentuhan wanita.

Suara sapaan membuyarkan lamunannya. Sertu Bima, anak buahnya yang setia, masuk dengan wajah serius.

"Kapten, ada laporan dari klinik lapangan. Salah satu dokter muda kita membutuhkan pinjaman besar untuk ibunya yang sakit keras. Kondisinya cukup mendesak."

Regan mengerutkan dahi, menggosok hidungnya yang terasa dingin.

"Siapa namanya?"

"Dokter Azura, Kapten. Ia sedang bertugas di klinik, menolong seorang prajurit yang terluka. Namun, Ia terlihat tidak dapat fokus, karena beban pikirannya." jawab Sertu Bima.

Dia kemudian, melanjutkan dengan penjelasan tentang apa yang sedang menimpa Azura, dan mengapa wanita itu sangat membutuhkan uang secepatnya.

Regan terdiam sejenak.

"Panggil dia ke sini," perintahnya.

Ia memikirkan betapa sulitnya menjadi dokter muda di klinik terpencil itu, jauh dari fasilitas memadai.

Beberapa saat kemudian, Azura Claire, nama sang dokter muda yang cantik itu, telah berdiri di hadapannya.

Dokter muda, dengan wajah khas wanita blasteran, terlihat lelah dan sedih, hingga membuatnya tak kuasa untuk berbicara.

Mata Azura yang biasanya berbinar, kini sayu dan redup. Kesedihan terpancar jelas dari raut wajahnya, kontras dengan dinginnya tenda komando. Regan menyuruh Sertu Bima pergi.

Tatapannya menilai Azura dari atas hingga bawah.

"Saya tahu tentang ibumu," katanya, suaranya berat dan rendah, seakan beradu dengan dinginnya angin gunung.

"Saya bisa membantumu. Tapi..." Ia sengaja menjeda kalimatnya, membuat Azura semakin cemas.

"...ada syaratnya."

Azura hanya terdiam beberapa saat sambil meremat ujung jas putih yang Ia kenakan. Ia tertunduk sedalam dalamnya. Khawatir akan syarat apa, yang akan ditawarkan oleh Sang Kapten tampan itu.

"I-iya Kapten!" jawab Azura gugup.

"Iya, apa?" cecar Regan.

"Saya akan mendengarkan syaratnya, Kapten! Kalau saya bisa atau mampu melakukannya, saya pasti melakukannya, demi ibu saya," ujar Azura, sembari berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Saya akan menanggung semua biaya perawatan ibumu, hingga sembuh. Termasuk uang bulanan ibu dan adikmu," tandas Regan dengan tatapan tajam, yang membuat Azura terus saja menunduk, tidak ingin bertemu pandang dengan pria itu.

"Namun, aku membutuhkan partner ranjang. Apa kau bersedia?" ungkap sang Kapten to the point.

Bak bergelantungan di tepi jurang dalam yang siap menerkamnya. Azura mematung tanpa tahu harus bagaimana menyelamatkan dirinya. Seketika, oksigen menipis, Ia sangat kesulitan untuk bernafas.

Tawaran itu, tentu sangat menggiurkan bagi masalah yang Ia hadapi saat ini. Namun, apakah Ia harus melakukannya?

Biar bagaimanapun, ibunya adalah seorang yang sangat penting dalam hidupnya. Keputusannya untuk mengikuti satgas ke tempat terpencil itu adalah usahanya agar dapat memenuhi kebutuhan perawatan ibunya yang sedang berjuang melawan penyakit mematikan yang sudah memasuki stadium akhir.

Besar harapan, ibunya akan segera pulih dari penyakitnya, namun sebagai gantinya, Ia harus merelakan mahkotanya direnggut oleh seorang pria beristri yang sudah pasti hanya ingin mencicipi tubuhnya tanpa ada ikatan diantara mereka.

"Ya Tuhan, tolong aku! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengambil tawaran tak bermoral ini? Mengapa aku harus berada dalam pilihan yang begitu sulit, seperti ini?" jerit hati Azura, semakin menenggelamkan dirinya dalam keputusasaan.

Regan menatap Azura dengan tatapan datar. Ia tidak berniat meralat ucapannya. Membuat Azura semakin tertekan.

"Kau boleh memikirkannya, lalu kembali padaku esok hari dengan jawabanmu! Sekarang, kembali ke tendamu. Malam sudah semakin larut!"

ujar Regan dengan nada yang sedikit lebih keras, agar wanita yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri itu, dapat mendengarkannya.

Azura hanya mengangguk dan segera berlalu dari hadapan sang Kapten, tanpa sepatah katapun.

Setibanya, Azura ditendanya, salah seorang prajurit segera menghampirinya.

"Dokter Azura ada telepon dari adikmu, tolong ke tenda monitoring, karena adik anda akan segera menelpon kembali!"

Baru saja azura ingin menenangkan guncangan hatinya yang disebabkan oleh tawaran sang Kapten, Ia harus menghadapi guncangan berikutnya, tentang kondisi ibunya.

Dengan langkah gemetar, karena udara dingin dan juga beban pikiran yang memeluknya erat, Azura menuju tenda monitoring untuk mendengar apa yang akan disampaikan adiknya tentang kondisi terkini ibunya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Nazirah adiknya kembali menghubunginya.

"Halo dek!" sapa Azura dengan suara bergetar.

"Kakak gimana sih, aku kan udah bilang, ibu butuh obat itu segera. Kata dokter, sebelum pagi obatnya sudah harus disuntikan ke tubuh ibu untuk mengurangi rasa sakitnya. Mana uang yang aku minta? Awas saja, kalau ibu sampai kenapa-napa, itu salahmu, kau harus bertanggung jawab. Percuma ibu menyekolahkanmu sampai setinggi itu, tapi malah jadi tidak berguna, disaat seperti ini." Cecar Nazirah tanpa membalas sapaan kakaknya.

"Sabar dek, kakak juga lagi nyari! Sudah malam begini, kalaupun ada, disini gak ada jaringan internet. Kakak gak bisa ngirim malam-malam begini, harus ke kota besok pagi." balas azura, dengan nada sedih.

"Pokoknya aku gak mau tau yahh, malam ini juga udah harus ada duitnya. Kalau gak, jangan pulang sekalian! Dan kalau ibu ada apa-apa, itu karena salah kakak! Dasar anak durhaka!" teriak adiknya, yang lalu memutuskan panggilan mereka tanpa pamit.

Deghh...

Hati Azura bergemuruh. Tubuhnya bergetar tak kuasa menerima kata-kata bak belatih yang ditikamkan adiknya tepat di jantungnya.

Namun, lebih menyakitkan dari itu, kondisi ibunya yang semakin drop tanpa Ia bisa melakukan apa-apa. Ya, dia sebenarnya bisa melakukan apa-apa itu, namun haruskah Ia menjual dirinya, demi pengobatan ibunya.

Selepas mengakhiri panggilan itu, Azura jatuh terduduk disana. Kakinya seperti tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Ia kini berada di persimpangan, tanpa tahu arah dan tujuan. Hatinya sakit, menerima semua umpatan adiknya yang Ia terima tanpa membantahnya sedikitpun.

"Kapten Regan, hanya dia yang bisa menolongku saat ini. Aku harus menemuinya." guman azura. Ia segera bangkit dan menuju tenda komando milik Kapten Regan kembali.

Setelah melapor pada penjaga disana, Ia dipersilahkan masuk untuk menemui sang Kapten yang masih duduk terdiam disana menatap malam pekat diluar tendanya. Semilir angin yang sesekali menerpa wajah tampannya, membuatnya betah berlama-lama ditempat duduknya itu.

"Ma-maaf kapten, saya kembali lagi mengganggu anda," ucap azura pelan, nyaris seperti berbisik.

Namun, karena jarak yang cukup dekat, Kapten Regan dapat mendengarnya dengan jelas.

"Jadi apa jawabanmu?" balas Regan tanpa basa basi.

"Saya akan mengambil tawaran i-itu Kapten," jawab azura gugup. Ia tidak yakin dengan pilihannya ini, tapi Iapun tidak memiliki pilihan lain saat ini.

"Baiklah, berikan nomor rekening keluargamu yang bisa saya gunakan untuk mentransfer biaya pengobatan ibumu! Sebelumnya, berapa yang kau butuhkan?" tanya Regan tanpa berfikir panjang, dan mengabaikan kegelisahan hati sang dokter cantik itu.

"Sa-saya membutuhkan 50 juta untuk biaya obat dan penanganan medis ibu saya Kapten." tukasnya.

Azura segera memberikan nomor rekening ibunya pada Regan.

"Baiklah." Regan segera mengontak atik telepon satelit yang Ia raih, dari atas nakas dan melakukan panggilan dari sana.

Azura masih mematung ditempatnya, tanpa tahu harus berbuat apa lagi. Berdiri dengan kaki dan tangan yang bergetar. Ia masih tak percaya akan keputusannya ini. Pikirannya sedang sangat kacau. Namun atensinya dikejutkan dengan suara berat dan dalam sang kapten.

"Dim, kirim 100 juta ke nomor rekening yang saya berikan itu! Sekarang juga. Nanti kirim buktinya pada saya!"

Azura membelalakkan matanya, mendengar nominal yang disebutkan sang Kapten. Ia ingin menginterupsi perkataan sang Kapten. Namun pria itu segera mengangkat tangannya, menahan laju suaranya yang sudah berada diujung lidahnya.

"Banyak sekali. Padahal ibu hanya membutuhkan...," Gumamannya terhenti karena panggilan dari sang Kapten, yang ternyata sudah mengakhiri panggilannya, dengan entahlah siapa.

"Dokter Azura!"

"I-iya Kapten!"

"Saya sudah melakukan tugas saya, sekarang giliranmu!"

Degh...

Azura tertegun sesaat, Ia tidak menyangka, segalanya akan berjalan secepat ini. Seluruh hati tubuh dan jiwa raganya, belum mampu menerima ini semua. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Berusaha menetralkan kekalutan hatinya.

"Dokter Azura !" Regan kembali menyebutkan nama itu, nama yang akan terus Ia sebut di hari-harinya yang akan datang.

Azura mengela nafas panjang, "I-iya Kapten!"

"Apa yang membuatmu begitu gugup, tidakkah kau senang, salah satu masalahmu telah teratasi?" tanya Regan dengan senyum smirk diwajahnya.

Bak menelan batu besar, suara azura tercekat di tenggorokannya. Berbagai pikiran buruk mulai bercokol dalam benaknya. Ia sulit untuk menjawab pertanyaan sesimpel itu.

"Baiklah dengarkan saya! Saya tahu, akan haram bagimu untuk melakukan hal ini. Saya sudah memikirkannya. Jadi saya putuskan, untuk menikahimu secara siri. Namun, satu hal yang kau harus ingat. Segala yang akan kita jalani nantinya, hanyalah sebuah kesepakatan tanpa menggunakan perasaan. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi...," Regan menjeda kata-katanya.

Azura akhirnya mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Namun, air mata itu masih tertahan disana.

"Kau tidak boleh berhubungan dengan pria lain, selagi kau menjadi istri siri saya. Saya akan pastikan, kau tidak akan kekurangan. Saya akan memenuhi semua kebutuhanmu. Dan menjalankan tugas saya sebagai suami, kecuali cinta. Itu hal yang tidak dapat saya berikan. Apa sampai disini kau sudah paham?"

Azura hanya mengangguk tanpa kata. Ia ingin memprotes setiap perkataan pria itu dan ingin berjanji akan menggantikan uangnya, namun keberaniannya seperti mengkhianatinya dan pergi meninggalkannya.

Sehingga Ia hanya bisa terdiam seribu bahasa, mendengar setiap tutur kata pria yang sangat Ia segani itu.

"Baiklah, jika tidak ada yang ingin kau katakan, kau bisa kembali dan persiapkan dirimu. Besok kita akan ke KUA dan melangsungkan pernikahan sirinya. Jadi, persiapkan dirimu."

Mendengar perkataan Regan itu, airmata azura akhirnya menetes, Ia tidak menyangka, pria yang begitu Ia kagumi sejak lama. Menganggap dirinya begitu rendah, sehingga ingin menukarkan dirinya dengan uang, dan memanfaatkan keputusasaannya dengan cara seperti ini.

Setelah terdiam begitu lama, azura akhirnya membuka suara.

"Bagaimana dengan istrimu Kapten?" Regan segera menoleh dan memicingkan matanya.

"Dia tidak akan tahu, karena ini akan menjadi rahasia kita berdua. Kita akan berinteraksi seperti biasa, jika berada didepan semua orang. Termasuk rekan kerja dan keluargamu, tidak ada yang boleh tahu tentang hal ini. Apa kau paham?"

"Bagaimana jika ketahuan? Karirku pasti akan hancur!" ucap azura pelan.

"Saya sudah katakan, ini akan menjadi rahasia kita berdua. Maka segalanya akan baik-baik saja." azura membuang nafas kasar lalu kembali menunduk.

"Baiklah Kapten!"

"Dan... Satu lagi, Saya tidak suka menggunakan jas hujan. Sebaiknya, kau menggunakan KB, untuk mencegah kehamilan," suara berat dan dalam itu, membuat Azura yang tertunduk lesu, berakhir mengangkat wajahnya dan menatap kedua manik yang begitu menawan dengan bulu mata yang lentik, namun menyorot tajam bak laser yang mampu membunuh dari kejauhan.

"Apa? Ja-jas hujan? K-KB?"

SIMPANAN KAPTEN 2

"Ja-jas hujan? K-KB?" Azura menyebutkan kembali dua hal yang membuat tubuhnya menegang, mendengarnya.

Bukan karena azura tidak mengetahuinya, namun hal itu erat kaitannya dengan hubungan suami istri, dan hal itu yang memicu ketegangan dalam dirinya. Biar bagaimanapun, ini hal baru baginya.

"Iya, apa kau tidak memahami dua hal itu?" Ujar Regan dengan senyum nakal. Ia berniat menggoda sang dokter cantik itu.

Azura masih terdiam dengan wajah yang mulai memerah karena malu. Melihat reaksi azura, Regan semakin tersenyum nakal. Ia bisa menebak, ini akan menjadi pertama bagi dokter cantik itu, dan rasanya Regan semakin tidak sabar.

"Jas hujan adalah alat kontrasepsi yang harus saya gunakan saat ingin menggenjotmu nanti, dan KB adal...,"

"I-iya, Kapten! sa-saya sudah tau," selah Azura.

Ia tidak ingin mendengar penjelasan pria itu lebih lanjut lagi. Sebab penggunaan bahasanya sangat eksplisit dan membuat sekujur tubuh azura terasa ngilu saat mendengarnya.

"Baiklah kalau begitu! Sampai jumpa besok, Dokter Azura Claire calon istriku!"

Wajah memerah Azura begitu candu dipandangan Regan. Entah mengapa, reaksi malu dan gugup gadis itu, betul-betul menarik atensinya. Dia menyukainya.

Jika dibandingkan dengan tatapan Ratu yang penuh tipu daya, dia lebih menyukai tatapan polos gadis cantik itu.

Keesokan harinya, seperti rencana semalam. Regan dan Azura berangkat ke kota untuk mengeksekusi rencana mereka.

Hari ini, Azura meminta ijin pada atasannya untuk menyelesaikan persoalan terkait ibunya, yang sudah diketahui oleh atasannya dan diberikan ijin.

Ia berangkat bersama Regan yang sudah menunggunya. Regan termasuk, seorang yang sudah sangat lama bertugas di Papua dan sangat mengetahui medan di sana. Hal ini yang membuat Ia betah, jika bertugas disana.

Selain Ia mencintai pekerjaannya, Ia juga menyukai alam di ketinggian puncak Jayawijaya yang dingin dan asri itu.

Regan juga, akrab dengan penduduk disana, sehingga Ia diterima dengan sangat baik oleh penduduk asli setempat.

Perjalanan dari pos ke kota memakan waktu satu setengah Jam. Dalam perjalanan, azura hanya terdiam saat mereka berpapasan dengan suku asli disana yang terus bertegur sapa dengan Regan layaknya keluarga.

Regan juga membagi beberapa snack dan beberapa hal yang Ia sengaja bawa didalam mobil, untuk dibagikan pada mereka.

Senyuman manis yang terus menghiasi wajah tampan pria itu, yang kini hanya menggunakan celana panjang berbahan Levis, dengan Kaos Over Size berwarna putih, yang dipadukan dengan topi baseball berwarna merah marun, pria itu terlihat sangat menawan.

Hidung mancung, bibir merah basah, membuat Azura tak sengaja menggigit bibirnya, kala melihat senyuman sang kapten yang jika berada di pos kerap kali memasang wajah dingin.

"Tampan," gumam Azura tanpa sadar. Ia segera menepuk jidatnya, kala tersadar dengan kata-katanya.

Namun atensinya teralihkan, karena sapaan seorang pemuda setempat pada sang kapten tampan yang sedang berada di kursi kemudi.

"Eh, kaka regan, ko mo ke?"

("Kak Regan, kamu mau kemana?")

"Ah, sa mo ke kota dulu, ada keperluan. Ko tunggu ee, nanti sa balik, sa belikan ko baju baru. Ko pu baju itu, su tra laku skali," balas Regan sambil tertawa kecil.

("Oh, saya mau ke kota, ada keperluan. Kamu tunggu saya yah, nanti pas kembali, saya belikan kamu baju baru. Bajumu yang itu, udah jelek,")

"Ah Iyo kah? Terimakasih lagi kakak!"

("Beneran? Makasih yah kak!")

"Iyo sama-sama Bro! Daa...," Mereka lalu melanjutkan perjalanan.

("Iya sama-sama Bro! Dadah...,")

Mendengar Regan fasih menggunakan dialek Papua, membuat azura tersenyum manis. Ia sangat menyukai Regan dalam mode ini. Ini jelas, Regan yang sangat berbeda, dengan sang Kapten Regan yang Ia kenal.

"Bagaimana gak di tugasin disini terus, toh orangnya sudah seperti orang sini. Dia tahu bagaimana mendekatkan diri dengan penduduk sini. Bahkan obrolan mereka begitu akrab, aku kagum," batin azura dengan seulas senyuman manis, hingga memamerkan deretan gigi putih bersih miliknya.

"Mau sampai kapan, kamu tersenyum seperti itu. Bisa kering gigimu," ujar Regan yang melihat senyuman di wajah Azura.

Azura segera tersadar, namun tetap tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

"Mereka siapa Kapten?" Akhirnya azura memberanikan diri untuk berbicara, setelah diam yang hampir seribu tahun, ehh 🤭🤣

"Oh, mereka pemuda-pemuda setempat. Saya sering mengunjungi mereka untuk sekedar berbagi cerita dan membagikan hal-hal yang sekiranya mereka butuhkan."

"Disini mereka kebanyakan tidak sekolah, oleh sebab itu, saya sering membawakan buku, agar mereka bisa belajar membaca tulis. Yah, itu ajah sih!" jawab Regan dengan full senyuman. Terlihat jelas, pria itu begitu menyukai apa yang Ia lakukan.

"Asik yah," ujar azura.

"Banget. Definisi memiliki keluarga ditempat yang bagi semua orang berbahaya dan tempat konflik. Kau akan mengetahui kebenarannya yang begitu kontras dengan cerita diluar sana, setelah kau berada disini. Selamat bergabung Dokter azu...,"

"Zura, panggil saja saya zura!" potong Azura sembari tersenyum manis.

"Selamat bergabung Ra, saya lebih suka, memanggilmu dengan panggilan itu."

"Tidak masalah, itu artinya hanya Kapten yang memanggilku seperti itu. Dan menjadi berbeda itu, ada baiknya. Aku menyukai panggilan itu," balas Azura, sembari menggigit bibirnya, menahan rasa malu karena terlalu terbawa suasana, hingga berani mengatakan hal itu.

Regan hanya tersenyum manis. Ia menyadari, Azura pun menyukai kedekatannya dengan penduduk sana. Tidak seperti Ratu yang bahkan tidak sudi untuk menginjakkan kaki disana.

Dan Regan pun, tidak ingin memaksanya, sebab hubungan mereka hanyalah status, keduanya sama-sama tidak memiliki perasaan apapun.

Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, sebab mereka berhenti beberapa kali karena bertegur sapa, akhirnya mereka sampai di kota Wamena.

Kota itu berada di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Kota Wamena masih memiliki udara yang segar dan jauh dari polusi udara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia. Tidak heran, suhu udara disana, terasa lebih dingin.

Mereka segera pergi ke kantor KUA untuk melangsungkan akad nikah. Untuk Regan Ia sudah memiliki walinya sendiri, yakni sepasang suami-isteri yang sudah Ia anggap seperti keluarganya saat berada di tempat tugas.

Sedangkan untuk Azura, mereka menggunakan wali hakim. Acaranya berlangsung hikmad, setelah menyiapkan beberapa keperluan yang harus mereka penuhi. Seperti baju dan perlengkapan lainnya seperti mempersiapkan mahar.

Azura sangat terkejut dengan mahar yang diberikan Regan untuknya. Mahar satu milyar bukanlah jumlah yang kecil untuk dirinya yang hidup pas-pasan, dan berusaha sekuat tenaga untuk meraih prestasi gemilang agar dapat menyelesaikan kuliahnya dengan jalur beasiswa.

Setelah proses nikahnya selesai, kini keduanya resmi menjadi suami istri. Hati Azura terasa sakit, karena harus mengambil keputusan sejauh ini. Namun, hal baik lainnya yang datang, membuat rasa sakit itu tersamarkan.

Ia menghubungi adiknya, untuk bertanya tentang kondisi sang ibu, dan jawaban yang Ia harapkan akhirnya terdengar dari seberang sana, bahwa kondisi sang ibu sudah membaik, setelah melakukan kemoterapi.

Ia bahkan sempat berbicara dengan ibunya. Hal itu yang membuat azura tidak menyesali keputusannya.

Kini, Ia hanya harus menjalankan perannya sebagai istri siri seorang Kapten Regan dengan baik. Dan tetap menjaga kerahasian hubungan ini, demi kebaikan bersama.

Setelah resmi menjadi suami istri. regan mengajak azura ke sebuah tempat indah di kota Wamena. Sebuah padang rumput luas, yang jika dilihat hamparannya indah bagai permadani berwarna merah ke unguan.

"Ini bulan Oktober 'kan?" tanya Regan.

"Iyah Kapten, emang napa?"

"Kita pergi ke Padang rumput Oktober yah," ujar Regan sekenanya.

"Apa, Padang rumput apa?" tanya azura tidak paham dengan arah pembicaraan sang kapten.

"Kita akan pergi untuk melihat padang rumput disini yang hanya akan bermekaran di bulan Oktober, sehingga rumput itu, dinamakan rumput Oktober. Bagus banget tau, semoga kamu suka yah," ujar Regan sembari menyunggingkan senyum tipis.

"Rumput, yang hanya mekar dibulan Oktober. Emang ada yang kek gitu disini?" Regan segera mengangguk, mengiyakan.

"Banyak hal bagus disini, tapi hari ini, kita hanya akan kesana, nanti kalau ada waktu luang, saya akan mengantarmu untuk mengunjungi banyak tempat bagus lainnya."

Azura mengangguk dengan senyuman. Regan dihadapannya ini, benar-benar Regan yang sangat berbeda dari biasanya. Namun, Ia menyukai hal ini.

Setelah tiba disana, azura membelalakkan matanya tak percaya dengan pemandangan indah yang berada dihadapannya.

"Sumpah, ini berasa diluar negeri gak sih? Bagus banget," cicit Azura yang segera berjalan mendekati rumput yang jika dilihat dari dekat, berwarna ungu, namun jika dilihat dari jauh, berwarna merah dan sangat indah dipandang mata.

Azura berbalik menatap Regan lekat-lekat. Air matanya perlahan menetes.

"Kita nikahnya, disaat bunga ini sedang mekar yahh, manis sekali kapten."

Regan menatap wajah cantik itu dan tersenyum lembut, "Hmm," Regan berdehem sambil mengangguk.

"Makasih, udah bawa aku kesini Kapten!" Regan hanya mengangguk sambil memandang ke depan.

Seakan menerawang jauh ke depan sana, entah bagaimana hubungan yang sudah terikat diantara mereka, berjalan nantinya. Ia hanya mengharapkan yang terbaik.

Dia ingin sosok istri yang benar-benar bisa melakukan tugasnya sebagai istri. Bukan hanya partner ranjang, namun juga selalu ada disaat dirinya membutuhkan dukungan moral dan perhatian.

Tanpa sadar, Regan telah menggantungkan harapan besarnya pada Azura, yang baru saja Ia nikahi secara siri.

"Ehh tunggu bentar yah, aku kesana dulu!" Ujar Regan sembari menunjuk ke arah, beberapa ibu-ibu yang sedang berdiri disana.

Azura mengangguk dan terus mengabadikan momen itu, dengan kamera handphonenya. Ada banyak foto dan video yang Ia buat. Hatinya membuncah dengan kebahagiaan.

Dan itulah tujuan utama regan membawa gadis itu kesana. Untuk mengatasi kegundahan dalam hatinya, paskah pernikahan mereka yang merupakan sebuah keterpaksaan bagi dokter cantik itu.

"Ra...," bisik regan, yang ternyata sudah berada dibelakang gadis yang sejak tadi sibuk menikmati pemandangan hamparan rumput Oktober di hadapannya.

"Ka-Kapten!" ujar azura sedikit terkejut, karena merasakan hembusan nafas pria itu di tengkuk lehernya.

"Nih," regan menyodorkan seikat bunga kehadapannya.

Azura segera menerima bunga itu sambil mengamatinya dengan seksama. Bunga yang kelopaknya terlihat seperti terbuat dari bahan plastik, namun batang dan daunnya, masih segar dan terlihat seperti bunga hidup.

"Ini... Bunga kok kek gini? Ini bunga hidup apa mati sih?" bingung azura.

"Itu namanya bunga Edelweiss Papua, atau orang sini sering menyebutnya bunga abadi. Ada juga yang menyebutnya bunga plastik karena tampilannya yang seperti terbuat dari plastik. Bunga ini mampu bertahan hingga 8 tahun lamanya. Hebat 'kan?" ucap regan yang hanya mendapatkan anggukan dari azura yang masih tidak percaya dengan bunga yang baru pertama kali Ia lihat ini.

"Ini bunga, hanya ada disini. Kamu gak akan nemuin bunga ini ditempat lain. Hanya ada di Papua." azura terkagum dengan pengetahuan seorang Kapten regan tentang tempat itu.

"Karena kita baru nikah, meskipun hanya nikah siri. Aku mau hubungan kita abadi, seperti nama bunga ini,

bunga abadi." Ucap azura dengan nada lirih.

Regan menghela nafas panjang, tak mampu menjawab ucapan itu. Karena baginya Ia hanya ingin menikmati kemolekan tubuh sang dokter cantik itu. Dan untuk abadinya, dia memiliki istri dan itu sangat tidak mungkin.

Namun entahlah, Ia pun tidak ingin menyakiti hati gadis itu, dengan menolak mentah-mentah harapan gadis cantik itu.

Setelah mengitari kota Wamena yang tidak begitu luas. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Karena kelelahan, mereka kembali ke hotel yang sudah mereka singgahi pagi tadi, untuk meletakkan bawaan mereka, sebelum melakukan semua yang ingin mereka lakukan.

Setelah mengajak gadis itu berjalan-jalan, guna meredam getaran kegelisahan dan rasa frustasinya, kini azura menjadi lebih santai dan tidak setegang tadi.

"Kita balik ke hotel yah?! Aku agak lelah. Juga gerah, ingin mandi." ucap regan.

"Ya udah hayuk, aku juga rasanya lengket banget ini, habis masuk ke rerumputan tadi," ujar azura sembari tertawa lepas. Merasa lucu pada dirinya sendiri, yang seperti orang udik, saat berada disana.

Regan pun tak dapat menahan tawanya, mengingat tingkah azura tadi, yang terlihat begitu menyukai berada disana, meskipun kini badannya memerah karena terlalu lama berada dekat dengan rerumputan itu.

...***...

Azura memutuskan untuk mandi lebih dulu. Sebab Ia sudah sangat lelah dan ingin segera berbaring. Setelah azura, regan pun gantian membersihkan tubuhnya.

Namun, regan sangat lama berada didalam sana. Bukan karena mandinya yang lama, namun ada sesuatu yang lain yang membuncah dalam hatinya.

Iya segera menghembuskan nafas kasar.

"Gila, belum juga lihat tubuhnya, udah bangun ajah kamu tong! Apa aku sepengen itu yahh! Tapi gadis itu, sepertinya belum pernah melakukannya. Akan sangat sulit mendekatinya, kalau dia belum siap." gumam regan sembari mengacak-acak rambutnya.

Ia sudah tidak dapat mengendalikan hasrat berci ntanya. Apalagi berada satu kamar dengan azura, regan kepayahan, menahan gejolak hasratnya yang semakin meninggi.

SIMPANAN KAPTEN 3

Berbeda dengan azura yang saat menjejalkan tubuhnya ke balik selimut yang terasa hangat, Ia langsung tertidur pulas, tanpa menunggu regan menyelesaikan mandinya.

Kini regan yang akhirnya keluar dari dalam kamar mandi setelah seribu tahun meringkuk disana,eh.

Segera naik ke atas ranjang yang sama dengan azura dan ikut menjejalkan tubuhnya dibalik selimut.

Ia segera memeluk gadis itu dari belakang. Pelukan yang awalnya biasa saja, kini semakin erat. Namun, gadis itu tak bergeming. Nafasnya teratur, tanda Ia masih tenggelam dalam mimpinya.

Regan berusaha memejamkan mata, namun usahanya yang sia-sia itu, akhirnya Ia akhiri setelah sejam Ia melakukannya.

Kini naluri seorang pejantan tangguh, sudah menenggelamkan kewarasannya. Ia mulai memberanikan diri memasukkan tangannya kedalam kaos yang dikenakan azura dan menjamah salah satu bukit kembar azura yang masih terbungkus kacamata pelindungnya.

Ia mulai meremasnya perlahan, sambil berbisik di telinga gadis itu.

"Istriku, aku udah gak kuat, yuk... Bangun yuk!"

Azura menggeliat tak sadar dengan posisinya saat ini.

"Jangan banyak gerak, ntar si itingnya ngamuk!" ujar Regan sembari menyandarkan bagian bawah tubuhnya ke tubuh sang dokter dengan sedikit gerakan menekan, sehingga azura membuka matanya, karena merasakan tekanan dari rudal sang Kapten.

Saat membuka mata, azura segera tersadar, apa yang sedang terjadi, namun Ia pun tidak memiliki kuasa untuk menolak, sebab kini, Ia telah resmi menjadi istri sang kapten, dan dirinya halal bagi sang kapten, menurut hukum agama Islam.

"Ka-kapten!" lirih azura.

"Regan panggil saya Regan, saya suami kamu. Jangan cemas," ujar Regan menenangkan istri sirinya itu.

"Re...," azura masih merasa sungkan untuk menyebutkan nama itu. Ia segera terdiam. Namun, sentuhan demi sentuhan dibalik selimut itu, membuat azura pun tak mampu bertahan, sehingga desahan halus lolos dari mulutnya.

Mendengar hal itu, Regan kian lepas landas. Ia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Ia segera membalikkan tubuh azura, dan mulai melumat bibir sensual azura, yang terlihat sangat menggiurkan.

Ciu man yang awalnya lembut, berubah semakin dalam dan lebih dalam lagi. Membuat keduanya terlena dalam irama yang mereka ciptakan sendiri.

Tak sadar, baju yang dikenakan azura kini sudah terlepas dari tubuhnya. Regan segera melepaskan celana pendek yang dikenakan gadis itu, sehingga menyisakan segitiga dan kacamata pelindung tubuh wanita itu.

Azura sudah tidak dapat berfikir lagi. Dia begitu tenggelam dan diam-diam menyukai sentuhan sang kapten.

Kini Regan mulai melepaskan kacamata pelindung itu, sehingga kedua benda kenyal itu, terpampang sempurna didepan matanya. Ia begitu mengagumi keindahan tubuh sang dokter.

"Ouhh... Ra, aku sudah gak kuat!" lirih Regan yang sudah tidak menyebutkan dirinya dengan sebutan 'saya' lagi.

"Aku istrimu Kapten! Lakukan saja, jika kau ingin melakukannya sekarang. Aghh...," ujar azura yang disertai desahan, sebab tangan Regan kini sudah menurun dan menyentuh area sensitif milik azura.

"Udah ba sah sayang"

Mendengar perkataan Regan, sontak azura menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Regan tersenyum 'nakal', wajah merah merona azura betul-betul candu ditatapan penuh gairah menggebu-gebu pria itu.

"Ra...," suara Regan kian serak.

"Aku suka, saat kamu dalam mode ini!" bisik pria itu, di kuping azura. Sehingga azura semakin malu dibuatnya.

"Hentikan Kapten," lirih azura.

Regan mulai melancarkan aksinya, Ia ingin membuka pelindung terakhir yang masih melekat pada tubuh gadis itu. azura pun sudah sangat pasrah, meskipun disudut hatinya, Ia masih berharap, pria itu mau menunda hal ini, sampai dirinya betul-betul siap.

Namun, saat tangan pria itu sudah memegang segitiga pengaman yang dikenakan azura, tangan azura refleks menahan gerakan tangan pria itu.

"Kapten...," Lirih azura dengan suara yang nyaris tak terdengar. Cekalan tangannya, tidak terlalu kuat. Ia nyaris hanya menyentuh tangan Regan dengan lembut. Hanya untuk memberi isyarat kalau dirinya masih belum siap.

Namun, Regan yang sudah dikuasai hasrat yang meninggi, tak mampu lagi menghentikan apa yang sudah Ia mulai ini.

"Aku akan melakukannya dengan lembut, kau tidak perlu takut," ujar Regan menenangkan gadis itu.

Akhirnya, azura melepaskan tangannya dan memberi akses lepas landas pada regan.

Dengan penuh semangat, pria itu ingin melepaskan pelindung itu, namun kini halangan lain pun datang, yakni dering handphone milik azura yang memecah kesunyian didalam kamar itu.

Regan menutup mata dan menegakkan tubuhnya. Wajahnya terlihat gusar, sehingga azura tidak berani meraih handphonenya yang Ia letakkan diatas nakas disamping ranjang.

Regan ingin meraihnya dan memberikannya pada azura namun dari nada dering khusus yang Ia stel, azura tahu, itu adalah panggilan dari ibunya.

Kini ada rasa takut yang mulai muncul bahkan mulai menyelimuti dirinya, karena apa yang hendak Ia lakukan ini.

"Jangan Kapten! Biarkan saja. I-itu... Panggilan dari Ibu." Ucapnya pelan sembari menutup mata.

Regan segera memastikannya, dan benar saja tulisan Ibuku dengan dua emot love yang mengapitnya, terpampang jelas disana. regan jadi merasa bersalah.

Ia tahu, azura sangat ingin menjawab panggilan itu, namun karena situasi mereka yang tidak memungkinkan membuat wanita itu mengurungkan niatnya.

"Ra... Jawab panggilannya, agar kau bisa mengetahui kondisi terkini ibumu." azura menggeleng cepat.

"Jangan Kapten, biarkan saja. Aku akan menelepon balik, nanti!" Melihat wajah sedih azura, sekejap saja, hasrat regan yang sudah sangat meninggi, akhirnya perlahan meredah.

"Jawab!" titah Regan sembari menyodorkan handphone itu ke hadapan azura. Namun, panggilan itu keburu terputus.

"Telepon balik!" tambahnya lagi.

"No regan, i can't!" airmata azura mulai berderai. Dan azura yang menyebutkan namanya barusan, membuat pria itu merasa bersalah. Kini dia bisa merasakan kegelisahan dan ketakutan gadis itu, karena telah melakukan hal besar ini, tanpa sepengetahuan ibunya.

Regan segera menarik selimut tebal itu, hingga menutupi seluruh tubuh azura. Ia segera membawa azura dalam pelukan hangatnya. Namun, bukan lagi pelukan penuh nafsu, melainkan pelukan hangat, untuk menenangkan hati gadis itu, yang sedang terisak, karena beban pikirannya yang begitu menyiksa.

"All Right, yuk kita tidur. Siang pertamanya, nanti ajah yah, istriku yang cantik!" Ucap Julian menenangkan azura.

"Makasih kap...,"

"Regan Ra, regan! Kau punya banyak waktu untuk memanggilku Kapten. Namun, saat seperti ini, aku ingin kau menyebutkan namaku."

"Mas gan, aku akan manggil kamu itu ajah, yah?!"

"Baiklah istriku, terserah kamu saja" balas regan sembari mengecup lembut pucuk kepala azura.

"Mas...,"

"Hmm!"

"Aku bantuin yah!?"

"Bantuin apa?"

"Keluarin, nanggung," ujar azura sembari menunjuk rudal Kapten tampan itu.

"Blow Job? Emang kamu bisa?"

"Aku seorang dokter Mas, aku tahu akibat menahan ejakulasi, tidak baik untuk kesehatan! Jadi aku akan berusaha semampuku, Bantu aku untuk ngarahin yahh!?"

Regan menggigit bibirnya dan tersenyum nakal.

"Ya udah, boleh, tapi aku sambil nyentuh itu yahh?!"

Wajah azura memanas, hingga ke telinganya memerah. "Gimana Sayang, boleh yahh?" tambah regan, yang membuat Azura semakin malu.

Namun, kali ini azura memberanikan dirinya, untuk menatap pria tampan yang sejak tadi terus saja menggodanya. Kedua manik dengan bulu mata yang begitu lentik, membuat azura begitu terpesona, dan tak akan bosan, menatap kedua mata yang terlihat sayu, karena aktivitas panas yang sedang mereka lakukan ini.

"Jangan nakal, Mas! Berhenti godain aku!" ujar azura pelan yang membuat regan sangat gemas.

Ia segera mencium lembut bibir gadis itu. azura pun segera membalasnya dengan sangat dalam, membuat regan membelalakkan matanya, sebab kini hasratnya kembali naik, menerima perlakuan itu.

Setelah hampir semenit mereka saling menikmati lumatan-lumatan yang membawa angin panas yang menerpa keduanya, kini azura yang segera memutuskannya lebih dulu, mulai bergerak turun, menyusuri setiap inci perut sixpack sang kapten, hingga berhenti disana.

"Ouuhh, Raaa...," erangan panjang itu, menandakan, betapa regan terbuai dengan sent uhan lembut sang istri di tubuhnya.

Azura segera menjalankan peran pertamanya sebagai seorang istri, pada pria yang sudah sangat berjasa dalam membantu pengobatan ibunya.

Setelah selesai melakukan hal itu, keduanya jatuh terlelap.

***

Waktu berlalu, malam di kota Wamena Papua, adalah malam terdingin di seluruh pulau Papua yang cenderung panas, karena letak geografis yang mendekati garis katulistiwa.

Kedua insan yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri itu, baru saja terbangun.

"Mas, Mas...!" panggil Azura, sebab pria itu sejak tadi terus memeluk tubuhnya dengan sangat posesif, dan tidak melepaskannya.

"Hmm," dehem regan.

"Aku kebelet pi pis, lepasin gak! Ntar aku ngompol loh ini," ujar azura dengan wajah yang memerah, menahan buang air kecil.

Regan tersenyum, lalu mengecup lembut pucuk kepala istrinya itu, dan melepaskannya.

Setelah selesai urusan di toilet Azura mengajak Regan untuk keluar dari kamar hotel.

"Udah malam mas, aku agak lapar. Cari makan yuk! Trus ada beberapa hal yang harus aku beli, kita belanja sekarang yah, biar besok pagi gak ribet, dan tinggal kembali ke pos." Lagi-lagi regan hanya berdehem untuk menjawab ucapan azura.

Mereka segera melakukan apa yang perlu dilakukan, agar mereka dapat kembali pagi-pagi sekali.

Setelah berbelanja semua kebutuhan dan mampir untuk mengisi perut, mereka segera kembali ke hotel tempat mereka menginap.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!