Asa memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk menusuk di sela-sela matanya.
Setelah pandangannya sedikit jernih, Asa malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di sana. Belum lagi tenggorokannya yang entah mengapa terasa kering seperti tidak diberi cairan bertahun-tahun.
Asa meringis tidak suka ketika mencium bau obat-obatan yang sangat pekat dari tempatnya. Ah, dia benar-benar benci sekali dengan aroma ini, membuat mual saja.
Ia mendesah lemas dan kemudian bergumam seolah baru menyadari sesuatu. Ini di mana? Asa mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Keningnya mengerut samar, ini bukan kamarnya, tetapi rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?
Asa berusaha mengingat apa yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini. Kenapa ia bisa sampai berada di rumah sakit dengan keadaan tubuh seperti habis dihajar orang sekampung, terasa sangat sakit dan ngilu.
Kecelakaan
Samar-samar ingatan ketika mobilnya ditabrak tiba-tiba memasuki kepalanya. Saat itu seharusnya ia pergi menuju rumah Kinar untuk mendiskusikan tentang novel yang dibuat oleh sahabatnya itu. Namun, di perjalanan tiba-tiba ada sebuah mobil yang sepertinya kehilangan kendali sehingga menabrak mobilnya.
Asa meringis, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya itu. Ia menghela napas panjang, sejujurnya masih tidak percaya bahwa dirinya masih bisa selamat setelah mengalami kecelakaan maut itu.
Sebelum memejamkan mata saat itu, ia merasa jiwanya seperti tertarik hingga terasa sangat menyakitkan. Tapi sekarang, Asa merasa sangat lega dan bersyukur ternyata Tuhan masih memberikannya kesempatan.
"Non Zia! Ya Tuhan... Non sudah bangun?" Asa tersentak mendengar teriakan itu.
Ia mengedip beberapa kali mencoba menegaskan haluannya yang tiba-tiba datang lalu berteriak heboh seperti itu.
"Sebentar, Non. Saya panggilkan dokter dulu." Wanita itu berlari tergesa keluar dan tidak lama setelah itu muncul lagi dengan seorang dokter dan perawat yang berjalan di belakangnya.
Dokter dan perawat itu memeriksa Asa dengan teliti mengenai keadaannya. Setelah itu, dokter langsung memberi beberapa pertanyaan untuknya.
"Zia, apa yang kamu rasakan?"
Asa mengerjap. Zia? Siapa Zia yang dokter ini maksud?
"A-air," pintanya.
Ia benar-benar sangat haus. Perawat dengan sigap langsung memberikannya air dan membantu Asa untuk minum dengan perlahan.
"Bagaimana? Ada yang kamu rasakan lagi atau bagian mana yang masih terasa sakit?" tanya dokter tersebut.
"K-kepala... pusing..." jawabnya terbata.
"Itu wajar, kepala kamu mengalami benturan yang cukup kuat akibat terjatuh dari tangga sehingga menyebabkan sakit berlebih di kepala kamu. Tapi tenang saja, kalau kamu rutin minum obat dan istirahat dengan baik, seiring berjalannya waktu sakitnya pasti akan berangsur pulih," jelas dokter itu sambil menyuntikkan sesuatu di infusannya.
Asa tidak menganggap jelas penjelasan dokter, tapi ada beberapa kata yang membuatnya terkejut adalah jatuh dari tangga? Kenapa bisa jadi seperti itu, ia jelas-jelas tertabrak mobil bukan jatuh dari tangga.
"J-jatuh dari tangga?"
"Iya, kamu tidak ingat?" tanya dokter bingung. "Zia, kamu ingat siapa kamu?" Dokter menatapnya intens.
Zia? Asa termangu, lagi-lagi nama itu yang mereka ucapkan. Ekspresi gadis itu bertambah rumit, ada sedikit ketakutan muncul di matanya. Seingatnya ia tidak pernah mempunyai kenalan bernama Zia, apalagi nama samaran seperti itu tapi saat mendengar nama tersebut entah mengapa Asa merasa tidak asing.
Zia, Zia, Zi... Mata Asa membelalak setelah berhasil mengingat nama itu, mulutnya menganga dengan ekspresi tidak percaya. Asa menatap sekeliling dengan pandangan ngeri. Tidak mungkin!
"Zia," dokter kembali memanggilnya dengan nama itu membuat Asa semakin dilanda ketakutan. "Ada apa, kamu baik-baik saja?"
Asa menggigit bibirnya mencoba menahan teriakan yang ingin ia keluarkan. Sumpah! Saat ini Asa benar-benar merasa panik dan takut dengan dugaan yang ada di otaknya.
"Zia," panggil dokter berhasil menyentak Asa dari lamunan.
"Iya?" Secara tidak sadar Asa menjawab. "Aku... I'm fine..." jawabnya gugup.
Sial! Rasanya dia ingin berteriak dan mengatakan sekencang-kencangnya bahwa ia tidak baik-baik saja dan dia bukan Zia. Tapi dia takut apa yang ada di kepalanya memang benar-benar terjadi, dan jika ia mengatakannya maka ia akan si kira gila.
Dokter menatapnya kemudian menghela napas pelan. "Ya udah, sebaiknya kamu kembali istirahat."
Asa kembali menghela napas kasar lalu mengalihkan matanya pada wanita paruh baya yang juga tengah menatapnya dengan pandangan segan, seperti ingin mendekat tapi takut.
Asa menggigit bibirnya yang terasa kering kemudian menghela napas lagi sebelum berkata dengan suara pelan.
"Mbok Leni," sumpah demi apa pun, Asa berharap ia keliru menyebut nama wanita itu.
Ia berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena ia salah menyebutkan nama. Namun...
"Iya, Non?"
What the fuck!
Asa memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah ia benar-benar masuk ke novel karya sahabatnya atau saat ini Asa hanya sedang bermimpi di dalam kematian.
Mbok Leni mengernyit bingung, ia mendekat dengan raut wajah cemas. Wanita paruh baya itu sedikit ragu ingin menanyakan keadaannya, takut Zia akan marah.
Asa melirik Mbok Leni yang terlihat kaku, menghembuskan napas berat, mengontrol dirinya agar tidak terlihat semakin panik. Jika sekarang Asa benar-benar berada di kehidupan novel yang berjudul It’s always you who gets hurt, ia sangat maklum melihat wajah antisipasi pelayan itu terhadapnya.
Di dalam cerita, Zia adalah tokoh antagonis berengsek tidak punya otak yang setiap langkahnya mengundang kebencian bagi orang lain. Jadi, tidak heran beberapa kali Asa menangkap sorot ketakutan dari wanita paruh baya itu karena karakter Zia memang sejahat itu.
Asa sangat penasaran bagaimana dengan wajahnya saat ini. Ia butuh cermin. "Em, Mbok Leni, bisa tolong ambilkan aku cermin?" pinta Asa dengan suara yang masih serak.
Namun, ia baru menyadari ternyata suaranya masih sama persis dengan suara aslinya.
Untuk sesaat Mbok Leni terdiam sedikit linglung, sejak kapan majikannya yang arogan dan minus attitude ini memerintah orang lain dengan menyelipkan kata "tolong"? Ini sedikit aneh dan mengejutkan.
Tidak ingin terlalu memikirkannya, Mbok Leni langsung mengambil sebuah cermin berbentuk kotak di atas meja dengan terburu-buru lalu memberikannya kepada gadis itu.
"Thanks."
Sekali lagi wanita paruh baya itu terperangah mendengar satu kata yang biasa saja jika diucapkan orang lain, tapi sangat luar biasa jika diucapkan oleh Zia, anak majikannya.
Asa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Mbok Leni berdiri dengan mata melotot seperti itu. Apa yang salah darinya? Tadi pelayan itu menatapnya dengan ketakutan, sekarang malah melototinya seperti orang yang tidak kenal takut.
Asa berdeham pelan. "Mbok Leni bisa tinggalin aku sendiri, gak? Soalnya aku mau istirahat tanpa gangguan," pintanya.
Mbok Leni tersadar. "Tapi Non..." ia ragu untuk mengiyakan. Takut nanti Zia butuh bantuan, tapi tidak ada siapa-siapa di ruangan ini.
Asa tahu apa yang ada di pikiran wanita paruh baya itu. "No problem, kalau aku butuh sesuatu nanti tinggal pencet tombol ini," Asa menunjuk tombol nurse call yang disediakan rumah sakit jika pasien membutuhkan sesuatu. "Jadi, Mbok Leni gak usah khawatir."
Mendengar itu, Mbok Leni akhirnya mengangguk dan pamit keluar. Setelah memastikan Mbok Leni benar-benar pergi, Asa langsung mendesah lega, dia kemudian segera mengangkat cermin yang sedari tadi dipegangnya dan seketika Asa tercengang melihat wajah yang ada di dalam cermin itu.
Apakah ia benar-benar masuk ke dalam dunia novel?
Setelah melihat bayangan wajahnya di dalam cermin, Asa semakin dibuat kebingungan. Ini jelas wajahnya walaupun wajah itu tampak lebih pucat dari biasanya, di tambah perban yang melilit di kepalanya semakin membuat penampilannya terlihat mengenaskan.
Namun, Asa tidak mungkin salah mengenali wajahnya sendiri. Lalu yang menjadi pertanyaannya, apakah ia benar-benar berada di dunia novel? Seharusnya tidak, melihat wajahnya masih sama persis dengan wajahnya sendiri.
Tetapi bagaimana dengan Mbok Leni? Dan bagaimana dengan orang-orang tadi yang memanggilnya dengan panggilan Zia Angelina? Asa benar-benar pusing tujuh keliling. Ini lebih pusing dari menghafal pasal-pasal materi kuliahnya.
"ZIA!"
Asa mengangkat kepalanya melihat seorang gadis muncul dari ambang pintu dengan memakai seragam dan rok sekolah yang menurutnya sangat-sangat pendek dan ketat. Gadis itu menarik kursi di sampingnya dan langsung duduk tanpa disuruh.
"Zia, astaga! Akhirnya lo sadar juga. Gue sampai bolos sekolah pas denger lo udah siuman," pekik gadis itu heboh.
Asa terdiam bingung, tidak tahu harus merespons apa pada gadis tersebut. Terlebih lagi, ia masih bingung dengan posisinya saat ini.
"Bisa-bisanya lo gak sadar selama lima hari, gue udah khawatir banget kira-kira lo emang gak niat bangun lagi. Inget ya Zia, dosa lo masih banyak. Lo harus tetap hidup, jangan pernah putus asa cuma karena ditolak Arza Regaza," ucap gadis itu.
Pikirannya bertambah rumit setelah mendengar ucapan terakhir gadis itu. Lagi-lagi ia merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh gadis itu. Arza Regaza? Benar, tidak salah lagi dia adalah sang tokoh utama pria di dalam novel milik sahabatnya.
Astaga!
Jadi, dirinya benar-benar terjebak di sebuah cerita novel dan parahnya lagi dari sekian banyak tokoh novel itu, Asa terjebak di tubuh Zia Angelina, seorang tokoh antagonis yang tolol setengah mampus. Dan bucin gila dengan karakter utama pria.
Mata Asa bergulir melirik gadis yang masih terus berbicara tanpa henti itu, melihat name tag yang tertera di seragam ketatnya Maddy Lauren. Maddy? Keningnya mengerut, ia ingat.
Di cerita novel itu Maddy adalah sahabat Zia. Satu-satunya orang yang tetap berdiri di samping Zia saat semua orang enggan mendekat.
Gambaran kisah persahabatan mereka yang membuat Kana sedikit kagum dalam cerita novel tersebut, di balik kehidupan seorang Zia yang berantakan ia memiliki Maddy yang sangat tulus padanya.
"Omong-omong kemarin gue lihat adik lo sama Arza di kafe Fanse. Selama ini yang kita tahu Arza gak pernah deket sama cewek mana pun, tapi liat dia makan berdua sama Gaby kayaknya mereka emang beneran pacaran," kata Maddy.
Asa terdiam, kepalanya pening mendapat fakta sebanyak ini secara tiba-tiba.
"Zia, lo gak apa-apa kan?" Tanya Maddy cemas menyadari sedari tadi Zia tidak merespons ucapannya.
"No problem," ucapnya pelan.
"Bagus deh. Kirain gue kenapa, abisnya lo tumben banget santai aja denger Arza sama cewek lain apalagi sama adik lo yang sok kece itu."
Mengingat Gaby, adik sahabatnya itu membuat dirinya kesal sendiri. Entah kenapa Maddy membenci wajah-wajah seperti itu, mungkin karena mereka adalah seorang munafik yang berlindung di wajah tanpa dosa.
"Gue cuma masih pusing aja."
Maddy mengangguk maklum. "Oh iya, kok lo bisa sampai jatuh dari tangga sih, Zia?"
Asa terdiam berusaha mengingat isi novel itu. Mengenai kejadian Zia jatuh dari tangga, saat itu Zia untuk pertama kalinya mengetahui kabar tentang hubungan antara Arza dengan Gaby.
Kylena Gabriella adalah tokoh utama wanita dalam novel itu, ia digambarkan sebagai gadis polos seperti kebanyakan tokoh utama wanita pada umumnya. Gaby adalah adik yang hanya berbeda satu tahun dari Zia.
Hubungan mereka tidak terlalu baik, bagi Zia sosok Gaby adalah musuh dan duri yang sudah merebut segala miliknya.
Di dunia ini ada tiga orang yang sangat Zia benci, yaitu Damian ayahnya angkatnya, dan juga Amanda ibu angkatnya, serta Gabriella. Zia membenci mereka sampai ke tulang. Dalam pikirannya mereka adalah penyebab ibu kandungnya meninggal.
Kebenciannya semakin tidak tertahankan ketika mendengar berita Arza Regaza, lelaki pujaannya, berpacaran dengan Gaby.
Kalap, dengan emosi yang menggebu ia menghampiri adiknya yang saat itu tengah belajar di kamarnya. Ia menarik paksa Gaby keluar kamar lalu menjambak, menampar adiknya itu.
Meski mendapat tindakan kasar, Gaby hanya bisa menangis tidak melawan sama sekali, namun saat Zia menarik gadis itu melewati tangga tiba-tiba kakinya terpeleset dan Zia jatuh tanpa bisa dicegah.
Asa meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Zia. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.
Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Arza yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan sulit ditebak. Arza muak dengan segala tingkah Zia yang terus mengejarnya tanpa henti, bahkan mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Zia mencintai Arza sejak duduk di bangku SMP. Ia melakukan segala cara untuk membuat cowok itu membalas cintanya meski harus bertindak bodoh dan tidak masuk akal, tapi sekalipun tidak pernah berhasil.
Arza malah semakin menganggapnya menjijikkan. Sampai akhirnya, secara tidak sengaja Arza bertemu dengan Gaby, siswa pindahan yang cantik namun cukup pendiam. Arza menolong Gaby yang saat itu tengah di-bully oleh Zia.
Semua orang tahu Arza sangat tidak pedulian terhadap apa pun, jadi tiba-tiba membantu Gaby adalah hal yang sangat mengagetkan. Arza tahu kalau Gaby adalah orang yang sangat dibenci Zia.
Maka dari itu, ia membuat kesepakatan dengan Gaby untuk berpura-pura menjadi pacarnya agar bisa terhindar dari kejaran Zia dan gadis lainnya. Awalnya Gaby sempat menolak, namun dengan segala ancaman akhirnya cewek itu menyetujui kesepakatan itu.
Kisah ini memang diawali dengan kepura-puraan, namun seiring berjalannya waktu mereka jatuh cinta. Arza yang seumur hidupnya tidak pernah mencintai siapa pun pada akhirnya bertekuk lutut kepada seorang Kylena Gabriella.
Kisah klise, namun menurut Asa ending-nya sangat membagongkan. Mungkin kebanyakan orang menganggap ending cerita tersebut happy ending, tapi tidak untuknya. Akhir inilah yang ingin ia perdebatkan dengan sahabatnya saat itu, namun Asa malah mengalami nasib sial.
"Zia! Zia Angelina!" Zia tersentak dari lamunan panjangnya.
"Nih anak malah ngelamun," gerutu Maddy sebal karena Zia tidak memperhatikannya.
"Sorry, gue cuma nggak fokus bentar."
"Gue tahu lo frustrasi karena Arza jadian sama Mentari. Tapi please, lo jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, Zia. Apalagi sampai bunuh diri, amit-amit. Walaupun lo ngeselinnya setengah mampus, tapi lo tetap sahabat gue satu-satunya. Pokoknya gue gak ikhlas kalau lo mati duluan gue."
"Gue gak segila itu," Zia tersenyum untuk pertama kalinya setelah sadar.
"Lo memang segila itu makanya gue khawatir. Lo tenang aja, gue pasti bakal bantu lo bu—" ucapan Maddy terhenti ketika menangkap raut wajah kebingungan dari sahabatnya.
Ia kemudian mengikuti arah pandang Zia lalu mendengus dengan wajah masam. "Gaby?"
Asa jelas mendengar gumaman itu. Ia menatap lekat gadis yang berdiri di ambang pintu. Gadis yang terlihat gugup dan takut saat menatapnya.
Jadi dia si tokoh utama wanita, Kylena Gabriella.
Kylena Gabriella. Sesuai dengan bayangannya mengenai tokoh utama. Gaby gadis cantik dengan struktur wajah halus, anggun, dan lembut. Sekali melihat saja orang pasti tahu siapa tokoh utamanya, Gaby adalah gambaran wanita rapuh yang membuat siapa pun tergerak ingin melindungi ketika melihatnya.
Definisi cantik itu bermuka dua. Pikir Asa.
Gadis itu mendekat dengan mata berkaca-kaca, wajahnya yang putih bersih memerah menahan tangis.
"Maafin aku," suaranya sangat halus. "Gara-gara aku, Kak Zia jadi kayak gini, maafin aku, Kak. Aku, aku salah."
Gaby menundukkan kepala seraya terisak pelan. Maddy mendengus sebal, bukan iba ia malah muak melihat tingkah Gaby saat ini.
Sudah dibilang ia sangat membenci wajah-wajah polos seperti ini, karena menurutnya kerjaan gadis lemah seperti itu kalau tidak meminta perlindungan ya menangis menyebalkan seolah menjadi mahluk paling tersakiti di muka bumi.
Di tengah suana tegang, tiba-tiba dua orang memasuki ruangan, mereka adalah Damian dan Amanda, ibu kandung Gaby. Sepasang suami istri itu kaget melihat putri mereka sedang menangis.
Damian dengan rahang mengeras menghampiri mereka. "Zia, kamu ngelakuin apalagi sama adikmu?!"
"Mas," Amanda di sampingnya berusaha menenangkan suaminya.
Asa mengernyit kemudian mendengus. Ah, Asa sudah bilang di awala kalo ia sangat tidak menyukai karakter dua orang ini, manusia egois yang mengatasnamakan segalanya demi cinta.
"Kamu keterlaluan Zia! Belum puas kamu menganiaya adikmu, ha? Papi kecewa sama kamu, kenapa kamu bisa berperilaku seperti binatang yang gak punya akal?"
Ucapan kemarahan yang keluar dari mulut Damian membuat Asa meringis dan sedikit tidak terima. Di kehidupannya dulu ia tidak pernah dibentak atau diteriaki kasar seperti ini oleh keluarganya.
"Binatang? Mending Papi ngaca deh dari mana perilaku ini muncul." Sahut Asa acuh.
"Zia!" Bentakan kembali terdengar, namun Asa terlihat tak menghiraukannya.
Maddy yang sedari tadi diam sejak kehadiran Gaby, ia tahu sendiri kalo Zia jelas-jelas disalahkan tanpa alasan. Gaby yang tiba-tiba datang lalu menangis seolah habis dianiaya dan sekarang Damian malah menyalahkan Zia karena membuat putri mereka menangis, sangat tidak masuk akal.
"Om ini bukan salah Zia, Gaby yang tiba-tiba datang terus nangis begitu," seru Maddy berusaha membela.
"Maddy, Om tahu kamu berusaha melindungi Zia, tapi anak itu sudah keterlaluan. Kamu sebaiknya pulang, lagi pula ini urusan keluarga Om sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur," sela Damian tegas.
Maddy ingin mengeluarkan suara, tapi bibirnya kembali tertaut ketika melihat gelengan samar dari Zia. Dengan berat hati Maddy keluar ruangan, sebelum keluar ia sempat melirik sinis ke arah Gabriella yang setia menunduk. Dalam hati Maddy menyumpahi supaya kepala gadis sok polos itu tidak bisa tegak kembali, sukur-sukur patah sekalian.
"Papi, yang Kak Maddy bilang benar. Bukan Kak Zia yang buat aku nangis, tapi..." Gaby mengangkat kepalanya melihat Damian dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku ngerasa bersalah, Pi. Gara-gara aku..."
Perkataan Gaby kembali tersendat karena isak tangisnya kembali terdengar.
Raut wajah tegas Damian melembut melihat kesedihan putrinya. "Bukan salah kamu, kamu gak salah. Papi yang salah karena nggak becus mendidik anak."
"Mas," Ratih mengusap lembut lengan suaminya. "Kamu jangan terlalu keras sama Zia, dia masih anak-anak."
Damian menoleh ke arah istrinya, "Kamu selalu membelanya. Itulah mengapa dia jadi besar kepala."
"Mas, Zia anak kita. Jangan begitu, kasihan dia."
"Tapi dia sudah keterlaluan, tingkah Zia sudah nggak tertolong." Damian mengusap wajahnya frustrasi.
"Aku pusing, kalau kalian masih mau berdebat silakan keluar," ucap Asa letih mendengar drama keluarga ini.
Damian semakin tersulut mendengar ucapan tidak sopan putrinya. "Zia!"
"Apa?" Asa menyaut santai tanpa emosi. "Ada yang salah? Aku pasien, dibawa ke rumah sakit supaya sembuh bukan malah stres denger drama kalian. Yang satu datang terus nangis gak jelas, yang satunya lagi tiba-tiba marah bikin pusing tau gak. Kalau kalian datang cuman buat aku tambah pusing, aku benar-benar gak butuh kedatangan kalian."
Mata Damian berkilat mendengar rentetan kalimat kurang ajar putrinya. Ia ingin memarahi, namun terhalang oleh istrinya.
"Mas, benar apa kata Zia, sebaiknya kita keluar. Biarkan dia istirahat. Kamu juga butuh meredakan amarah, gak baik berbicara saat sedang dikuasai amarah." Damian menarik napas lalu keluar kamar dengan ekspresi kaku.
"Sebaiknya kamu istirahat." Usai mengatakan itu Amanda dan Gaby keluar kamar menyusul Damian.
Asa melihat pintu tertutup, kamar yang tadinya ramai mendadak sepi, tapi sangat melegakan untuknya.
Ia membuang napas kasar. Apakah dirinya akan sanggup menerima takdirnya sebagai Zia, gadis yang hidupnya penuh kesengsaraan.
***
Sudah seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, kondisinya sudah sangat membaik dan hari ini hari pertama dia sekolah sebagai Zia. Cukup menyebalkan karena ia harus kembali menjadi anak SMA.
Ia adalah seorang mahasiswi hukum semester lima. Otaknya yang biasanya dipenuhi dengan pasal-pasal sekarang harus kembali mengulang pelajaran SMA.
Ah, sungguh membuang-buang waktu. Setelah selesai berpakaian Zia melangkah menuruni tangga untuk sarapan. Di sana sudah ada Damian, Amanda, dan Gaby yang sedang makan sambil berbincang hangat.
"Zia, ayo sarapan dulu. Mami masak nasi goreng kesukaan kamu," tawar Amanda tersenyum hangat.
Zia tidak menyaut dengan santai menarik kursi lalu mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat di atas roti itu. Ia memang tidak terlalu suka sarapan pagi dengan nasi, ia lebih suka makanan yang tidak terlalu berat.
"Zia!"
"Mas," suara Damian terhenti karena melihat gelengan istrinya.
Ia melihat Zia yang tetap makan dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan apa pun, kemudian barulah berpaling melihat istrinya.
Melihat Zia bahkan dilirik pun tidak. Damian tidak habis pikir dengan perilaku putrinya, hampir setiap hari Zia selalu membuatnya marah.
"Zia, kamu berangkat sama Pak Imam, biar Gaby bareng Papi," ucap Damian.
Ia memang sengaja tidak menyatukan mereka karena tidak mau ada hal buruk di perjalanan.
Zia mengambil tisu mengelap bibirnya. Ia mendongak melihat Damian. Tersenyum tipis, tanpa mengucapkan apa pun ia berdiri dari kursi dan berjalan dengan santai ke luar rumah.
Semakin lama hidup di dunia ini ia semakin menyadari mengapa Zia bisa menjadi manusia penuh kebencian. Segala tingkah laku orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memang menyakitinya. Tidak disadari memang, tapi berjejak telak pada hatinya.
Di perjalanan menuju sekolah Zia membuka ponsel yang baru dia temui semalam di kolong tempat tidur. Zia membuka setiap chat yang kebanyakan dari grup kelas dan Maddy. Kemudian membuka chat yang bertuliskan nama Arza dengan emoji hati di belakang namanya.
Zia mendengus, dari hampir puluhan bahkan ratusan chat tidak ada yang dibalas bahkan dibaca pun tidak. Bahkan chat terakhir pun hanya bertanda centang satu yang berarti diblokir.
Zia menghapus semua chat itu sekalian memorinya, tidak penting untuk disimpan. Dia kemudian membuka galeri dan menemukan sebuah folder dengan nama Arza Love.
Zia membuka folder itu dan kembali meringis melihat isinya terdapat banyak sekali foto lelaki yang ternyata juga fotonya di kamar Zia. Zia menghapus folder itu tanpa beban, kemudian kembali mengunci ponselnya ketika mobil mulai memasuki gerbang sekolah yang bertuliskan Bintang High School.
Zia turun setelah Pak Imam membukakan pintu mobil. Ia menarik napas pelan menegadahkan pandangannya pada gedung sekolah. Saat ini yang Zia bingungkan adalah keberadaan kelasnya, di dalam novel itu dituliskan Zia di kelas 12 IPS 3 sekelas dengan Maddy dan Arza, tapi ia tidak tahu di mana kelas itu. Ingin bertanya, tapi takut menimbulkan kecurigaan.
Beberapa saat kemudian dia akhirnya mendesah lega ketika melihat ada Maddy di ujung koridor sedang melambaikan tangan padanya, segera Zia menghampiri gadis itu. Maddy langsung merangkulnya.
"Gue kira lo masih betah di rumah," ucap Maddy, mereka berjalan beriringan menuju kelas sambil berbincang satu arah.
Bukan tidak menyadari ketika menginjakkan kaki di sekolah ini beberapa kali Zia menangkap pandangan takut dan segan di sekelilingnya, bahkan Zia melihat tidak hanya sekali siswa yang memilih putar arah daripada berpapasan dengannya.
Tokoh Zia memang terkenal dengan julukan iblis berparas malaikat. Mempunyai wajah cantik, tapi tidak dengan hati dan kelakuannya.
Sampai di kelas, Zia duduk di bangku paling pojok. Di belakangnya ada satu bangku kosong yang ia tidak tahu siapa pemiliknya sementara di depannya tempat duduk Maddy.
"Males banget gue ngulang pelajaran mulu," gumamnya jenuh. "Tahu gini, usaha keras gue kayak nggak ad artinya."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!