Nala Purnama Dirgantara, ia menarik nafas panjang, menatap kosong pada tangannya yang baru saja di genggam oleh suaminya, Gaza Aliandra.
“Mas…” panggil Nala.
Gaza menatap Nala, lalu kembali fokus pada telepon genggamnya. Senyum terukur di sudut bibirnya. Manis dan membuat Nala terpesona, tapi yang harus Nala ketahui, Gaza hanya suaminya saat bersama orang banyak.
Nala lelah, ia ingin bebas tanpa perlu bersandiwara, pernikahan tanpa cinta, desakan keluarga dan banyak hal lainnya membuat Nala kehabisan energi.
“Mas, Ayo cerai!”
Sontak saja, pria yang tadi sibuk dengan telepon genggam itu menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Nala. Matanya menyipit seolah meyakini apa yang baru saja Nala ucapkan.
“Ulangi!” Gaza berucap penuh penekanan.
“Aku ingin kita bercerai saja,” ulang Nala, lalu menundukkan pandangannya. “Satu tahun kita menikah semuanya penuh sandiwara. Tak ada cinta di antara kita, hanya wasiat Ayah, jadi…”
“Sandiwara?” Gaza tersenyum mengejek. “Satu tahun lalu aku memenuhi permintaan Almarhum ayahmu. Menikahi kamu didepan jenazah ayahmu sendiri, lalu kamu bilang itu sandiwara?”
Nala meneguk ludahnya kasar, suara Gaza tak meninggi tapi penuh penekanan.
“Bukan itu, kehidupan setelah pernikahan. Semuanya penuh kepalsuan, di hadapan keluarga dan orang-orang kita terlihat baik-baik saja, tapi saat di rumah… kita asing.” Suara Nala bergetar, menahan gejolak yang selama ini ia pendam.
“Lalu kamu ingin seperti apa? di cintai? Kamu tau aku gak bisa untuk itu, Nala. Untuk saat ini jangan menuntut itu padaku,” tegas Gaza.
Mendengar itu, Nala sontak menatap Gaza. “Maka dari itu, ayo bercerai! Agar kamu bisa bersama dengan orang yang kamu cintai!”
“Cukup!” bentak Gaza. “Jangan memancing emosiku, kita sedang di rumah keluargaku. Bersikap baiklah.”
Nala menekan dadanya saat ia merasakan denyut samar, sakit tapi tak bisa disembuhkan seorang diri.
“Aku capek! Capek sekali, Gaza Aliandar,” ucap Nala lirih.
Setelah mengatakan itu, Nala segera berbalik memasuki kamar mandi. Ia tak mau Gaza melihatnya menangis dan terkesan lemah. Hanya dengan berkedip saja, Nala yakin air matanya pasti akan jatuh.
Gaza menghembuskan nafas berat melihat sikap Nala yang tiba-tiba berubah. Tapi, tak ada yang salah dari ucapan Nala. Pernikahan ini penuh sandiwara dan saling menyakit. Namun, menuruti permintaan Nala adalah sesuatu yang tak mungkin Gaza lakukan.
Cukup lama Nala di kamar mandi, menenangkan diri dan memastikan tak ada sisa air mata di pipinya. Saat keluar, dia masih melihat Gaza berdiri di tempat tadi. Tanpa beranjak sedikitpun, seolah menunggu Nala.
Nala menghembuskan nafasnya kasar. Ia memilih berlalu, tapi tangannya kembali di cekal oleh Gaza. Tatapan suaminya berhasil membuat nyali Nala mengecil.
“Nala, jangan pernah berpikir untuk berpisah. Keluarga Aliandra sangat menjaga reputasi keluarga. Jadi, sebesar apapun keinginan untuk bercerai, itu tidak akan terjadi.” Gaza kembali memperingati Nala, gadis manis yang ia nikahi secara paksa setahun lalu.
Nala tersenyum, ia memperlihatkan deretan giginya hingga membuat Gaza mengerutkan keningnya. Tadi ia melihat Nala yang sedih, seolah menjadi istri paling tersakiti. Lalu sekarang tersenyum lebar seolah semua baik-baik saja.
“Aku akan membuat Pak Gaza menceraikan aku, jadi bersiaplah.” Nala berucap sembari mengedipkan matanya.
Gaza menyipitkan matanya, entah apa lagi yang akan Nala lakukan. Tapi, Gaza menduga setelah ini, istri kecilnya ini akan semakin membuatnya pusing.
“Nala…” Gaza memperhatikan istrinya dari atas hingga ujung kaki.
Nala yang merasa di perhatikan segera menarik diri, ia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya.
“Ganti pakaian kekurangan bahan itu. Tubuhmu terlalu kurus, gak pantas.” Gaza tersenyum mengejek, kemudian berlalu dari hadapan Nala. Ia mengabaikan Nala yang menatapnya penuh dendam.
“Apa? Kurus? Aku…”
“Sholat, Nala…” potong Gaza. “Sholat, agar pikiranmu jernih dan tidak berpikir untuk bercerai. Kamu tau… itu tak mungkin.” Gaza kembali menegaskan ucapannya sebelum hilang di balik pintu.
Nala meraup udara sebanyak mungkin, satu ruangan dengan Gaza membuat dadanya sesak. Sikap dingin Gaza semakin hari semakin menyiksa, semua bukan tanpa sebab. Nala mencintai pria itu, semakin hari semakin tak bisa mengendalikan perasaannya. Jadi, sebelum semua semakin menyiksa, berpisah adalah jalan satu-satunya. Jalan menuju move on dari cinta sepihak, begitulah pikir Nala.
Nala memutuskan mengganti pakaiannya, bukan karena ucapan Gaza. Tapi saat ini Nala berada di rumah mertuanya. Setelah ia keluar dan berkumpul bersama keluarga suaminya, maka penampilannya akan menjadi pusat perhatian, mengingat keluarga suaminya cukup taat agama.
setelah berganti dengan baju yang lebih sopan, Nala menuruni tangga, tujuannya adalah ruang keluarga. Di sana semua telah berkumpul, Ibu mertuanya, adik iparnya dan jangan lupakan tetua di rumah ini, Neneknya Gaza, perempuan paling cerewet setelah Ibunya Nala.
“Kak Nala…” panggil, Zanna adik perempuan Gaza. wajahnya adik kakak itu mirip, hanya saja Zanna mempunyai sifat ramah dan mudah bergaul, tidak seperti Gaza. “Sini, duduk.”
Zanna menepuk sofa di sampingnya, tapi belum sempat Nala duduk. Gaza sudah menariknya untuk duduk di samping pria itu.
“Kak Gaza!” teriak Zanna. “Biarin Nala duduk di samping aku, Kak. Ihh… pelit banget, ‘kan Kakak tiap hari berdua terus,” protes Zanna.
Gaza tak menjawab, ia membiarkan adiknya meluapkan semua kekesalannya. Ia tetap merangkul pinggang Nala membuat istrinya bergerak gelisah.
“Sudah, jangan ribut. Biarkan saja Kakakmu, Nala ‘kan istrinya, jadi wajar,” ucap Maya, Ibu dari Gaza dan Zanna.
Zanna yang mendengar ucapan Ibunya semakin kesal. Bagaimanapun Nala dan Zanna sudah berteman lama. Semenjak Nala menikah dengan Kakaknya, keduanya jadi jarang bertemu dan berbagi cerita.
“Hem…”
Semua seketika hening ketika wanita tua itu berdehem ringan, ia menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan. Tatapannya berhenti pada Nala, tajam serta penuh selidik.
“Sudah hamil?” Puspa, Nenek tua yang dihormati keluarga Aliandra.
Nala menggeleng, tapi ia tetap tersenyum. “Maaf, Nek…” hanya itu yang Nala ucapkan setiap orang bertanya perihal dirinya.
“Besok kita kerumah sakit,” ucap Puspa membuat suasan kembali hening.
Nala mengangguk tapi tangannya dengan cepat menepis tangan Gaza yang masih merangkul pinggangnya. Pelan tapi pasti, Nala menggeser duduknya sedikit menjauh dari Gaza.
Gaza merasakan pergerakan Nala, pria itu menoleh ia menatap Nala yang membuang muka ke arah lain. Tatapan intimidasi Gaza tak berhasil membuat Nala takut.
“Apa susahnya menghamili istri sendiri,” sindir Puspa lagi, kini wanita tua itu menatap Gaza kesal.
“Anak itu anugerah, Nek. Kami sudah berusaha, hasilnya tetap menjadi keputusan Allah.” Gaza berusaha bersikap bijak.
Nala mendengus kesal. Keputusan Allah mana yang suaminya tunggu. Gaza tau betul kenapa hingga saat ini Nala tak bisa hamil. Tapi selama ini Nala hanya bisa membela diri sendiri. Sedangkan suaminya, berlindung di balik kata-kata bijak dan menyalahkan takdir.
“Huff, Nek, sebenarnya… Akh…” Nala tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Gaza kembali menarik pinggangnya hingga terasa sakit. “Mas pelan-pelan.” Suara Nala tertahan, ia nyaris membentak jika tidak ingat dia sedang berada di mana.
Maya mengerutkan keningnya, “Nala mau ngomong apa?” tanya Maya berusaha mencari tahu.
Nala kembali merasakan genggaman kuat di pinggangnya. “Lupa, Bu.” Nala menjawab seadanya.
“Kalau memang kamu belum siap hamil, biarkan Gaza menikah lagi!”
“Kalau memang kamu belum siap hamil, biarkan Gaza menikah lagi!” ucap Puspa sembari menatap Nala sinis.
Nala hanya diam, tetap tenang tak peduli bagaimana pendapat puspa terhadapnya.
“Jika memang Mas Gaza Setuju…”
“Tidak!” Gaza memotong ucapan Nala. “Nek, Gaza sudah menikah dengan Nala. Jadi, jangan meminta sesuatu yang tidak akan pernah bisa Gaza lakukan lagi.” Gaza menatap serius anggota keluarganya.
Puspa menarik nafasnya kesal. “Tapi usia Nenek gak ada yang tau.”
Nala tersenyum sinis, ia melirik ke arah Gaza. Suaminya tetap tenang tak ada pembelaan lagi. Hanya segitukah usaha suaminya menjaga nama baiknya. Sepertinya Nala terlalu berharap.
“Jika Mas Gaza menikah lagi, kami harus bercerai dulu, Nek. Tolong jelaskan itu pada Gaza.” Setelah mengucapkan itu. Nala melepas paksa genggaman tangan Gaza pada pinggangnya.
“Mau ke mana?” tanya Gaza.
Nala hanya melirik sekilas kemudian beralih ke arah Puspa dan Maya. “Maaf, Nala izin ke kamar dulu. Malam ini kalian makan saja, tidak usah menunggu Nala.”
Nala berlalu menaiki tangga dengan tenang, hanya terlihat tenang. Air matanya bahkan sudah jatuh saat ia membalikkan tubuhnya tadi. Ia hanya tak ingin terlihat lemah.
Suasana seketika hening, Zanna melirik sekilas pada Gaza yang mengusap wajahnya kasar. Zanna memilih diam, bukan ranahnya untuk bicara. Pendapatnya tak akan didengar sama sekali.
“Nek…” panggil Gaza pelan. “Maaf, bukan maksud kami menunda. Gaza menikahi Nala di usianya yang cukup muda. Biarkan dulu istri Gaza menikmati masa mudanya. Lagi pula kami tidak menunda, hanya belum diberikan saja.” Gaza berucap sangat hati-hati, ia takut menyinggung Neneknya.
“Bu, Maya setuju dengan Gaza, jangan terlalu menekan Nala, Bu. Apalagi masih kuliah. Mungkin itu yang menyebabkan mereka belum diberikan anak, Nala dan Gaza sama-sama sibuk. Belum waktunya.” Maya berusaha menenangkan Ibu mertuanya itu.
Puspa menatap Maya jengah. “Kalian selalu memanjakan Nala dan Gaza. Apa aku harus mati dulu baru kalian memikirkan anak.”
“Gak Nek…”
“Pokoknya…” Puspa kembali memotong ucapan Gaza. “Kalian harus pergi memeriksakan kesuburan. Atau…” Pupsa menatap Gaza penuh selidik.
“Apalagi?” tanya Gaza lelah.
“Kamu dan Nala menggunakan kontrasepsi?” tebak Puspa.
Gaza menarik nafas dalam, ia berusaha menahan diri agar tidak menyakiti Neneknya. “Gak, Nek. Kami tidak menggunakan apapun sama sekali, memang belum waktunya saja.” Gaza masih berusaha memenangkan Puspa.
“Ya sudah, bujuk istri mu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Kamu juga ikut. Kalau kamu yang gak bisa punya anak, kamu Nenek pecat jadi cucu.” Puspa kemudian berlalu meninggalkan Gaza yang terkejut akibat ucapannya.
***
Zanna dan Nala sedang berbaring di kamar Zanna, ruangan yang dipenuhi nuansa berwarna merah mudah. Sangat identik dengan Zanna yang ceria dan riang. Sesekali Zanna memainkan ujung rambut Nala yang sedikit pirang. Zanna tau, Nala dan Kakaknya sedang ribut, sehingga Nala memilih mengurung diri di kamar Zanna.
“Maafin Kak Gaza dan keluarga aku ya,” pinta Zanna membuat Nala menoleh dan tersenyum lembut.
Nala menggeleng pelan, sesekali ia menarik nafas berat. “Aku memutuskan untuk bercerai, tapi Mas Gaza menolak.”
Sontak saja Zanna terkejut, ia menatap tak percaya ke arah Nala. “Kamu minta cerai?” tanya Zanna tak percaya.
“Hem…” gumam Nala sembari mengangguk.
Zanna menarik tubuh Nala agar duduk menghadap dirinya, ia memperhatikan dengan baik apa ada bagian tubuh Nala yang terluka atau mengalami kekerasan.
“Kenapa sih?” tanya Nala kesal.
“Kamu gak di apa-apain ‘kan sama Kak Gaza?” tanya Zanna panik.
Nala tertawa pelan. “Gak, aku baik-baik saja. Meniduriku aja dia gak berani apalagi berbuat kasar.”
Zanna menghentikan gerakannya. ia bisa merasakan bagaimana menderitanya Nala selama ini. Ia dituntut untuk hamil, sementara syarat untuk hamil saya tidak dilakukan keduanya. Selama ini Zanna selalu pendengar yang baik, sehingga semua masalah yang terjadi di rumah tangga kakaknya, ia tahu sedikit-sedikit.
“Jangan suruh aku bersabar, aku sudah capek,” ucap Nala saat melihat Zanna yang siap menasehatinya.
Zanna tak jadi mengelurakan ucapannya, kata-kata Nala cukup membungkamnya. Kakaknya memang keterlaluan.
“Malam ini tidur di sini?” Zanna mengalihkan pembahasan.
Nala tak menjawab, wajahnya jelas menyiratkan kelelahan yang luar biasa. “Nenek meminta Mas Gaza menikah lagi…” suara Nala bergetar. “Aku gak mau jadi yang kedua, Na. Lebih baik berpisah saja, toh Mas Gaza gak cinta sama aku.”
Zanna mengusap lengan Nala. Zanna pun tak habis pikir dengan ucapan Neneknya tadi. Walaupun, Kakaknya menolak dengan tegas, tapi Zanna yakin, pembahasan ini akan terus berlanjut dan membuat Nala semakin menderita.
“Mungkin kedepannya aku akan jarang berkunjung, Na. Mas Gaza juga gak bisa membela aku. Jelas-jelas dia tau kenapa sampai detik ini aku gak hamil. Tekanan keluarga kalian luar biasa, Na. Aku hanya ingin menjaga mentalku saja, setidaknya aku harus fokus untuk menyelesaikan kuliahku, KKN dan skripsi. Aku gak mau mati di usia muda.”
Zanna mengerucutkan bibirnya, ia tak terima dengan Nala yang terkesan ingin menyerah dengan pernikahannya. “Jangan begitu, buktikan kalau kamu mampu. Aku ada di pihak kamu kok.”
“Aku gak bisa hamil, Na. Aku sendirian. Jadi… Aku menyerah.” Nala membaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur. “Numpang tidur malam ini ya, subuh nanti aku pindah.”
Nala memejamkan matanya, ia ingin mengabikan semua perasaan di hatinya. Mengenai berpisah dengan Gaza, dan tuntutan untuk hamil.
Zanna hanya menatap punggung kakak iparnya itu, semakin hari semakin kurus, Zanna bisa melihat dengan jelas perubahan Nala selama ini. Masih ceria, tapi hanya untuk menutupi kesedihan di hatinya.
“Kak Gaza jahat,” gumam Zanna sendiri, ia kemudian ikut berbaring di sisi Nala.
Zanna larut dalam pikirannya, matanya tak bisa terpejam. Ia tak mau Nala terpisah dari Kakaknya, tapi membuat mereka saling mencintai rasanya akan sulit, tapi Zanna ingin mencoba sekali saja.
Suara pintu yang terbuka membuat Zanna menghela nafasnya pelan, siapa lagi kalau bukan suami dari perempuan yang kini terlelap di sampingnya.
Gaza mendekat, mengetahui adiknya belum terlelap membuat Gaza menghentikan langkahnya.
“Udah tidur dari tadi, sambil nangis kayaknya.” Zanna berbohong, setidaknya Gaza harus merasa bersalah sedikit saja.
“Dia bukan perempuan cengeng,” ucap Gaza yang mendekat ke arah istrinya.
Zanna jengah, Kakaknya selalu saja menganggap semuanya biasa saja. “Jangan mau nikah lagi, jangan dengarkan ucapan Nenek,” ucap Zanna pelan.
Gaza yang ingin mendekati Nala berhenti, ia menatap Zanna yang ikut menatapnya serius. “Gak ada yang mau menikah lagi,” ucap Gaza dengan suara yang menyerupai berbisik, ia takut Nala akan terbaung.
“Janji…” Zanna mengulurkan jari kelingkingnya. Gaza menyambut, tak mau berdebat dengan adiknya yang sedikit cerewet tapi selalu perhatian padanya.
“Kalau Kakak ingkar janji, aku akan bawah Nala pergi yang jauh,” ancam Zanna serius.
Gaza mengabaikan ucapan Zanna, ia memilih mendekat ke istrinya. Pelan tapi pasti, Gaza mengangkat tubuh kecil istrinya untuk di bawah ke kamar mereka.
“Jangan disakiti…” Zanna kembali memperingati sebelum Gaza keluar dari kamarnya.
Gaza hanya mengangguk, entah di lihat oleh adiknya atau tidak. Ia hanya ingin mengakhiri perdebatan mereka.
Perlahan Gaza meletakkan Nala di tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi tubuh Nala. Tangannya terulur, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nala. Cantik, dan tak terusik sedikitpun.
Terdengar hembusan nafas kasar dari Gaza, ia masih memikirkan kenapa ia bisa menikahi Nala, gadis kecil yang wajahnya menyerupai perempuan yang ia sukai. Saat itu, Gaza bahkan mempunyai kesempatan untuk mundur dan menikah dengan wanita itu. Tapi hatinya justru ragu dan menerima dengan yakin kehadiran Nala.
“Jangan pernah berfikir untuk bercerai, Nala. Bersabarlah sebenar,” ucap Gaza sembari mengecup kening Nala.
Gaza mengambil bantal, kemudian beranjak untuk berbaring di sofa, ia memiringkan tubuhnya hingga bisa melihat Nala yang terlelap di tempat tidur. Rasa aneh kembali menjalar di hati, terlebih mengingat bagaimana yakinnya Nala meminta cerai padanya siang tadi.
Gaza menggeleng, mengabaikan gunda di hatinya. Ia memilih memejamkan mata demi mengusir semua riuh di pikirannya. Ia berharap, itu hanya emosi sesaat saja. Mungkin Gaza harus memikirkan cara agar Nala tidak memikirkan perpisahan lagi.
Nala memperhatikan sekeliling kamarnya, ia sudah bisa menebak siapa yang membawanya ke kamar. Pasti Gaza yang memindahkannya. Mereka berada di rumah orang tuanya, jika saat ini mereka berada di rumah sendiri, Gaza tidak akan sepeduli itu padanya.
“Kenapa harus libur sih,” keluh Nala.
Sudah menjadi keharusan, sabtu dan minggu atau hari libur lainnya mereka akan menginap di kediaman orang tua Gaza, itulah syarat yang diminta orang tua Gaza saat keduanya memutuskan untuk pisah rumah.
Andai keluara Gaza tau, memilih tidak tinggal bersama bukan karena ingin mandiri, tetapi agar Gaza dan Nala tak terjebak sandiwara dan bisa tidur di kamar masing-masing tanpa ketahuan.
Nala melirik ke arah Gaza yang masih terlelap di sofa, azan subuh sudah berkumandang. Biasanya Gaza sudah bangun dan melaksanakan sholat subuh di masjid, mengingat ayah Gaza adalah kepala keluarga yang cukup tegas dalam semua aspek termasuk soal agama. Tetapi entah kenapa Gaza menjadi pria yang justru bermain-main dengan pernikahan.
Perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya, ia harus mempersiapkan diri. Entah drama apalagi yang akan terjadi di meja makan nanti. Semalam ia beruntung karena bapak mertuanya sedang menghadiri acara pengajian yang diadakan salah satu tetangganya. Jadi Nala bisa sedikit memberontak.
“Agrahhh…” Nala menepuk kepalanya, ia kesal dengan isi pikirannya sendiri. Kenapa dia terjebak dalam pernikahan seperti ini. Belum lagi ia harus bermesraan pada Gaza, hatinya selalu lemah soal itu.
“Pokoknya harus cerai,” ucap Nala dengan suara setengah berbisik. “Tapi bagaimana caranya?” tanya Nala lagi.
Nala memilih membungkus tubuhnya dengan selimut, ia mencaci gaza berulang kali. Hanya sandiwara, tapi hatinya justru terbawa arus.
Tanpa Nala sadari, Gaza melihat dan mendengar semuanya. Perasaannya aneh, tapi ia mengabaikannya. Gaza memilih bangun dan memasuki kamar mandi, ia sudah terlambat untuk sholat berjamaah di masjid.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup menyadarkan Nala, ia mengintip dari balik selimutnya. “Dia dengar gak ya?” tanya Nala pelan.
Gaza keluar dari kamar mandi, ia melihat Nala yang duduk sambil memeluk lututnya.
“Mandi! Aku tunggu kamu buat sholat berjamaah,” perintah Gaza.
Nala hanya melirik sekilas kemudian beranjak ke kamar mandi. Tapi sebelum menutup pintu kamar mandi ia menoleh ke arah Gaza yang sedang mengeringkan rambutnya.
“Mas, sholat saja. Gak usah tunggu aku. Cukup di depan manusia aja sandiwaranya, di depan Allah, jangan. Udah ketahuan soalnya.”
Ucapan Nala membuat Gaza diam sejenak. Ia melempar handuknya ke sembarang arah. Nala sudah mulai memberontak, bisa jadi semua orang akan tahu bagaimana kondisi rumah tangganya nanti.
Gaza dan Nala akhirnya shalat berjamaah, mau tak mau Nala menurut saat melihat Gaza menunggunya.
“Nala…” panggil Gaza setelah istrinya tersebut menyalami tangannya.
“Hem…” jawab Nala singkat, ia tak menatap Gaza, lebih memilih sibuk membereskan alat sholatnya.
“Kita harus bicara.” Gaza menatap Nala serius.
“Bicara?” tanya Nala bingung. “Tumben Mas? biasanya kita tidak pernah bicara jika berdua?”
“Kita sekarang ada di rumah orang tuaku, tolong bersikap baiklah,” ucap Gaza dengan suara datar.
Nala menghentikan pergerakan tangannya, ia berlatih menatap Gaza tajam. “Kali ini aku capek, Mas. Satu tahun ini aku kurang baik apa? dikatain mandul aja aku diam. Aku kurang baik apa? harusnya kamu Mas, kamu tegas. Aku tau hubungan kita gak wajar, tapi di depan keluargamu, minimal bela aku dikitlah. Didepan aku aja tegas, harus begini, begitu. Minimal di depan keluarga kamu juga begitu, bela aku.” Suara Nala bergetar.
“Baik,” jawab Gaza singkat.
Nala tercengang, ucapan panjang lebarnya hanya dijawab sesingkat itu.
“Satu lagi… Bagaimanapun caranya, aku gak mau melakukan tes kesuburan, Mas tau sendiri kenapa aku gak hamil-hamil sampai saat ini,” ucap Nala tegas.
Gaza hanya mengangguk, kali ini ia hanya bisa menuruti tak mau membantah banyak hal.
Setelah berbicara dengan Gaza, Nala memilih keluar dari kamar, ia harus membantu mertuanya di dapur. Meskipun ada asisten rumah tangga, tapi kebutuhan suaminya harus ia yang siapkan.
“Ciee habis keramas…” celetuk Zanna, gadis itu sudah menunggu di ujung tangga.
“Namanya juga mandi, masa gak keramas.” Nala menjawab seadanya.
“Mandi subuh-subuh?” Kembali Zanna bertanya. Wajah herannya terlalu di buat-buat, padahal gadis itu tau, tak ada yang terjadi.
Nala menatap Zanna kesal, ia menyesal tidak sempat mengeringkan rambutnya tadi. Apalagi melihat Ibu mertuanya yang senyum-senyum saat melihat interaksinya dengan Zanna.
“Sudah, Na. Kakak mu jangan di godain. Bantu ibu bawain tehnya Bapak,” perintah Maya membuat Zanna meninggalkan Nala yang masih menatapnya tajam.
Nala melakukan hal yang sama, menyiapkan teh untuk Gaza. Ia mengaduk teh cukup lama hingga Maya menatapnya heran.
“Jangan di aduk terus, sudah larut itu gulanya,” tegur Maya lembut.
Nala tersenyum kikuk, ia melihat Gaza yang sudah duduk di meja makan. Entah kapan pria itu datang. Keasyikan melamun membuat Nala tidak menyadari kehadirannya.
“Lagi bacakan mantra, Bu,” ucap Nala sembari tertawa.
Sandiwara dimulai.
Maya tersenyum lembut, “mantra buat apa?” tanyanya penasaran.
“Biar Mas Gaza gak nikah lagi,” jawab Nala dengan suara yang sedikit nyaring.
Senyum di wajah Maya surut, suasana seketika hening. Maya melirik ke arah suaminya yang serius menatap koran di tangannya. Sementara Gaza, ia hanya bisa memejamkan matanya, ia berharap bapaknya tidak mendengar ucapan istrinya tadi.
“Ucapan Nenek semalam jangan dimasukkan kehati ya,” bisik Maya lembut.
Nala tersenyum lebar, “bercanda Bu, aku gak masukkan ke hati kok.”
Maya mengangguk, ia mengusap pelan lengan Nala seolah memberi kekuatan.
Semua sudah duduk di meja makan, tak ada yang bersuara hanya denting sendok yang beradu dengan piring. Sikap tegas Iskandar Alindra selaku kepala keluarga membuat semuanya patuh pada aturan yang pria paruh baya itu tetapkan. Tapi hanya satu yang bisa melewati batasan itu, Puspa, Ibu dari pria Iskandar Alindra.
“Nala, hubungi Bundamu untuk makan malam di sini. Sudah lama kita tidak berkumpul, Jadi malam ini kalian bermalam lagi di sini. Besok atau lusa baru pulang, turun ke kampusnya dari sini saja.” Iskandar memecahkan keheningan setelah memastikan semua orang selesai dengan sarapannya.
“Oh Baik, Pak. Nala akan hubungi Bunda nanti.” Nala tersenyum senang, setidaknya ia bisa bertemu Bundanya malam ini.
“Anggia… Kamu suruh ke sini juga, Nak. Ibu kangen.” Maya meminta penuh semangat.
Nala mengangguk pelan, jika Kakaknya datang maka ia akan terabaikan. Ia melirik ke arah Gaza yang sedang berbicara dengan bapaknya, biasanya reaksi pria itu tak jauh berbeda dengan Ibunya jika soal Anggia.
“Gaza, Nala…” panggil Puspa pelan.
Nala menahan nafasnya, entah apa lagi yang akan wanita tua itu bicarakan. Nala melirik ke arah Zanna. Tatapan keduanya beradu. Zanna hanya tersenyum lembut seolah meminta Nala bersabar. Sementara Nala menghembuskan nafas kesal.
“Nenek sudah mencarikan dokter kandungan terbaik untuk kalian berdua.”
Nala menunduk, ia sudah tau arah pembicaraannya akan kesana. Ia ingin memberontak, tapi takut durhaka.
“Buat apa, Bu?” kali ini Iskandar angkat bicara. Ia menatap Ibunya kemudian beralih pada Gaza dan Nala.
Gaza menatap Puspa, kemudian tangannya menarik tangan Nala yang sedang memainkan ujung bajunya di balik meja makan.
“Nek, Gaza dan Nala ingin berusaha lebih giat lagi. Mengenai pemeriksaan kesuburan, kami merasa kami tidak ada masalah, jadi tolong hargai keputusan kami.” Gaza berbicara sangat hati-hati tapi terdengar tegas.
“Setahun, Gaza? Pernikahan selama itu dan kalian belum memiliki keturunan. Jelas saja ada masalah, kecuali kalian menunda mempunyai momongan, wajar saja. Tapi kamu sendiri yang bilang tidak menunda ‘kan?” Puspa mulai kesal, terdengar dari nada suaranya yang mulai meningkat.
Suasana hening, Iskandar mulai memahami situasi yang terjadi. Masalah ini bukan baru-baru ini terjadi, tetapi sepertinya sudah semakin serius.
“Bu… Biarkan dulu ya, Nala masih kuliah, sebentar lagi selesai.” Iskandar akhirnya menengahi saat melihat Gaza diam cukup lama.
“Terserah…” Puspa meninggalkan meja makan degan kesal dan sedikit kecewa karena putranya kali ini tidak membelanya.
Suasana meja makan terasa tegang, Nala hanya bisa menunduk. Ia kesal dengan Gaza yang membelanya sekedarnya, jika bukan karena Bapak mertuanya sudah pasti Nala akan diseret ke rumah sakit.
“Pa, terima kasih,” ucap Nala pelan.
Iskandar tersenyum lembut, tapi tatapannya berubah tajam saat ia melirik Gaza.
“Gaza, setelah ini temui Bapak di ruangan kerja.”
Perintah tegas dan jelas, tandanya pria paruh baya itu sedang marah. Gaza pasrah, ia tahu kelemahannya jika di hadapan keluarganya, terlalu penurut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!