Langit Gaza pagi itu berwarna kelabu, seperti menangisi luka yang baru saja ditorehkan malam sebelumnya. Bau mesiu masih pekat di udara, bercampur dengan debu bangunan yang hancur dan tangisan orang-orang yang kehilangan. Di antara reruntuhan beton dan puing-puing besi, suara sirene ambulan meraung tanpa henti.
Dokter Yasmin Ameena, seorang relawan medis asal Indonesia, berlari menembus kepulan asap bersama timnya. Tangannya gemetar menahan sedih setiap kali menemukan tubuh tak bernyawa di balik tumpukan puing. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara lirih dari balik reruntuhan dinding yang hangus.
“ Ummi, 'abi, min fadlika....(Ummi… abi… tolong…)”
Yasmin segera berlutut. Di sana, seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun terbaring dengan luka di kakinya, tubuhnya berdebu, wajahnya pucat. Yasmin menyingkirkan batu-batu runtuhan dengan hati-hati, lalu mengangkat gadis itu dalam pelukannya.
“ Anti bi'aman ya buniya (Kau selamat, nak…). La taqliq, sa'aakhudhuk 'iilaa makan amina.( Tenanglah, aku akan membawamu ke tempat aman,) " bisiknya lembut, meski matanya mulai berkaca.
Di belakang gadis itu, Yasmin menemukan dua jasad orang dewasa dan seorang bayi kecil yang tertindih puing. Nafasnya tercekat. Ia menunduk sejenak, menutup mata ketiganya dengan kain putih seadanya, dan menyuruh tim nya untuk segera membawa jenazah itu. Yasmin lalu berlari membawa sang gadis menuju tenda darurat.
Dua hari berlalu. Di rumah sakit darurat yang dikelola para relawan internasional, gadis kecil itu belum juga sadar. Yasmin hampir setiap malam duduk di sampingnya, membersihkan luka-lukanya, menunggu dalam diam.
Hingga pada pagi ketiga, gadis itu membuka mata. Pandangannya kabur, menatap langit-langit putih yang asing. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya lemah.
“ Hal 'anti mustayqiz ya abni? (Kau sudah sadar, nak?)” suara lembut menyapanya.
“ 'Ayna... 'ana? (Di mana… aku?)” suaranya serak.
“ Anti fi mustashfaa altawarii. 'Ana aldukturat Yasmin. (Kau di rumah sakit darurat. Aku dokter Yasmin,)” jawab sang dokter sambil tersenyum hangat. “ Hal taerif ma hu ismuka? (Apa kau tahu siapa namamu?)”
“Medina… Medina Khaled,” jawab gadis itu lirih. “ Ummi wa'abi wa'akhi alsaghira. 'ayna hum? (Ummi… Abi… dan adik bayiku… di mana mereka?)”
Hening sesaat. Yasmin menggenggam tangan kecil itu erat, menatapnya dengan mata basah.
“ iinahum fi salam fi aljanati. Lasta wahdaka. 'Ana huna. ( Mereka sudah tenang di surga. Kau tidak sendiri. Ada aku disini. )”
Tangis Medina pecah. Tubuh kecilnya bergetar, menumpahkan semua kehilangan yang tak sempat diucapkan. Yasmin memeluknya erat—seerat seorang ibu yang baru menemukan anaknya kembali dari reruntuhan dunia.
Beberapa minggu kemudian, setelah luka Medina sembuh dan perang kembali menggila di kota itu, Yasmin membuat keputusan besar. Ia tak sanggup meninggalkan anak itu di tanah yang terus berdarah. Dengan bantuan pemerintah Gaza dan dukungan dari duta besar Indonesia, Yasmin mengajukan permohonan adopsi.
Melalui serangkaian izin dan pengawasan ketat, akhirnya Medina Khaled resmi menjadi anak angkat Dokter Yasmin Ameena dan Ardan Mahesa, suaminya.
Hari ketika pesawat yang membawa mereka lepas landas, Medina menatap jendela, melihat Gaza mengecil di bawah awan. Ia menggenggam tangan Yasmin, berjanji dalam hati, bahwa ia akan hidup baik—untuk keluarganya yang telah pergi.
*****
Di Indonesia, Yasmin memperkenalkan Medina pada keluarga barunya.
"Ayah, Rendra. Ini Medina Khaled yang bunda ceritakan. Dia akan tinggal disini. Jadi keluarga kita. "
Ardan dan Rendra hanya diam mengangguk dengan senyum simpul.
Yasmin menggandeng lagi lengan Medina.
"Hu zawji. 'Ardan mahesa. yumkinuk munadati bi Ayah. (Dia adalah suamiku, kau boleh panggil Ayah)."
Medina mengangguk, dan bersuara lirih. "Ayah...."
Yasmin mengusap kepala Medina lembut. "Na'am. (Iya)."
"Wa hu abni, Rendra mahesa. yumkinuk munadati bi Kakak. (Dan dia adalah putraku, Rendra Mahesa. Kau boleh panggil Kakak)."
"Kakak?" lirih Medina lagi. Yasmin mengangguk.
"Wa 'anti 'aydan tunadini Bunda. (Dan kau juga panggil aku, Bunda)." Medina mengangguk, lalu Yasmin mengantarkan Medina ke dalam kamarnya.
Ardan Mahesa, pria tenang yang bekerja sebagai pengusaha, dan Rendra Mahesa, putra tunggal mereka, seorang remaja cerdas berusia tujuh belas tahun yang sedang menempuh kelas akhir SMA.
Selama tinggal disana, Medina mendapat les privat bahasa Indonesia. Hingga waktu berjalan, Medina semakin lancar berbicara dengan bahasa Indonesia, dan mulai mengenal budaya Indonesia.
Rendra awalnya kaku, tapi seiring waktu, ia memperlakukan Medina seperti adik kecilnya sendiri. Mereka sering belajar bersama, bermain piano, dan terkadang, Rendra membawakan Medina makanan ringan setiap pulang sekolah.
" Medina, kakak pulang bawa apa coba tebak?" seru Rendra saat pulang sekolah, dengan membawa tentengan.
Medina dengan wajah ceria, menghampiri Rendra yang masih memakai seragam sekolah.
"Wah.. pasti sesuatu yang enak. Apa itu asinan buah?" dengan mata berbinar, Rendra mengangguk semangat.
Medina sangat suka asinan buah. Ia baru merasakan makanan itu, saat Yasmin membelinya karena cuaca panas hujan. Yasmin ingin makan sesuatu yang segar namun pedas. Jadilah ia membeli asinan buah. Dan itu pertama kalinya Medina memakannya.
Rendra juga sering mengajak Medina jalan-jalan dengan motor gedenya.
"Medina, mau ikut kakak?"
Dengan wajah cerianya, ia pun mengangguk. "Kita akan kemana kak?"
"Membeli martabak, kamu mau?"
"Aku mau, aku suka martabak keju."
"Oke, ayooo berangkat...!" mereka pergi dengan hati senang. Medina bahagia, karena ia merasa di sayangi dan di perhatikan oleh keluarga Yasmin, oleh Ardan dan juga Rendra yang selalu menghiburnya.
Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama. Setelah lulus SMA, Rendra melanjutkan kuliah di Harvard University Amerika Serikat. Empat tahun ia belajar dan bekerja paruh waktu di sana, Rendra bahkan mengelola cabang perusahaan ayahnya setelah lulus. Sesekali ia pulang untuk melepas rindu dengan keluarga di rumah, tapi sebagian besar waktunya dihabiskan di luar negeri.
...----------------...
Delapan tahun berlalu. Medina tumbuh menjadi gadis dewasa yang lembut dan bijak. Setelah lulus SMA, ia menolak tawaran Yasmin untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
“Aku sudah terlalu banyak menerima kebaikan, Bunda. Biarkan aku bekerja dan hidup mandiri di sini,” katanya pelan.
Namun, Yasmin yang semakin menua merasa khawatir. Ia ingin memastikan masa depan Medina aman sebelum dirinya tiada.
Suatu hari, Yasmin berbicara kepada Rendra yang sedang berada di Amerika.
Ddrrtt... ddrrtt...!
"Ahh siapa sih ganggu aja... " desah suara wanita yang tengah terlentang di atas ranjang.
"Bunda.. ini bunda ku. Aku angkat telefon dulu. " tegas Rendra meninggalkan wanita yang sedang di ujung hasrat itu.
"Hallo bund, ada apa?"
“Nak, pulanglah. Bunda ingin....... Kau menikahi Medina.”
Rendra terdiam. Sedikit lama ia berpikir. Permintaan itu bukan hal kecil. Tapi demi ibunya—dan demi gadis yang dulu selalu memandangnya dengan mata penuh rasa hormat—ia pun bersedia untuk pulang.
"Baik bund. Besok Rendra akan pulang. Apa Medina juga setuju dengan permintaan bunda? "
"Dia anak yang soleha Ren, tidak akan menolak keinginan bunda yang ini.. Pulanglah, Bunda menunggumu."
Rendra sedikit menghela nafas, pandangannya jauh menatap ke ujung jendela kaca. Ucapan bundanya baru dan, tak ayal membuat Rendra kembali melanjutkan ritualnya yang tertuda.
Rendra menoleh pada wanita yang sedang duduk dibatas ranjang, lalu mendekati nya kembali.
*****
Beberapa bulan kemudian, dalam upacara sederhana di halaman rumah, Rendra Mahesa dan Medina Khaled mengucap janji suci di bawah langit senja.
Takdir mempertemukan mereka dalam kenangan masa kecil Medina, dan kini, cinta yang belum mereka pahami sepenuhnya, akan mulai berakar perlahan.
“Saya terima nikahnya Medina Khaled binti almarhum Omar Nasser dengan mas kawin berupa emas Antam seberat 100 gram dan seperangkat alat salat, dibayar tunai!” satu tarikan nafas, Rendra mengucapkan ijab Qobul di depan penghulu.
Karena Medina anak yatim piatu, ia menggunakan wali hakim sebagai wali nikahnya.
“Saksi, sah?”
Dan para saksi akan menjawab:
“Sah.”
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Alḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn, waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā asyrafil anbiyā’i wal mursaliin, sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Allāhumma bārik lahumā, wa bārik ‘alayhimā, wa ajma‘ baynahumā fī khayr.
“Semoga Allah menjadikan rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, wa rahmah. Diberi keturunan yang saleh dan salehah, panjang umur dalam keberkahan, dan rezeki yang halal lagi melimpah. Āmīn.”
“Alhamdulillah, akad nikah antara saudara Rendra Mahesa bin Ardan Mahesa dan saudari Medina Khaled binti almarhum Omar Nasser telah sah. Selanjutnya, mohon kedua mempelai, wali, serta para saksi untuk menandatangani dokumen pernikahan.”
“Dengan ini, secara resmi saya serahkan buku nikah warna coklat untuk suami dan buku nikah warna hijau untuk istri, sebagai tanda sahnya pernikahan di mata agama dan negara.”
“Selamat menempuh hidup baru.”
"Silahkan, untuk istri mencium tangan suami. Dan suami mencium kening istri. " tuntun sang penghulu lagi.
Selesai acara ijab qobul yang khidmat, malamnya suasana berubah gemerlap.
Lampu-lampu kristal menggantung indah di langit-langit gedung hotel bintang lima tempat resepsi digelar. Musik lembut mengalun, memadukan nada klasik dengan aroma bunga segar yang memenuhi ruangan.
Ayah dan Bunda Rendra menyambut tamu-tamu terhormat dengan senyum bahagia.
Para rekan bisnis, kolega ayahnya, juga sahabat-sahabat Rendra datang memberi ucapan selamat. Flash kamera tak berhenti menyorot kedua mempelai yang tampak anggun dan gagah dalam balutan busana adat modern.
Namun di balik senyum manisnya, Medina mulai merasa lelah. Tubuhnya terasa ringan, pandangannya sempat berkunang. Rendra yang menyadari perubahan wajah istrinya segera menunduk khawatir.
“Kamu capek, ya?” bisiknya lembut di telinga Medina.
Medina hanya mengangguk pelan, "Aku juga ngantuk.." bibirnya berusaha tetap tersenyum pada tamu yang lewat.
“Ayo, kita istirahat dulu,” ujar Rendra, sambil menggenggam tangan istrinya penuh kasih.
Mereka berdua pun perlahan meninggalkan riuh pesta. Di balik pintu suite hotel yang mewah, suasana berubah tenang.
Medina duduk di tepi ranjang, melepas sepatu hak tinggi sambil menarik napas panjang. Rendra menatapnya dengan tatapan lembut — bukan lagi sebagai tamu kehormatan malam itu, tapi sebagai suami yang ingin melindungi istrinya dari lelah dunia.
“Istirahatlah sebentar. Malam ini milik kita, tak perlu terburu-buru menyenangkan semua orang,”
"Mau ku bantu lepaskan gaunnya?" tanya Rendra. Tanpa penolakan, Medina menurut saja.
Rendra membantu membukakan ret seleting panjang di bagian belakang.
ujarnya sambil menyelimuti Medina. Lalu Medina pun berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai dengan ritual mandinya, Medina hanya mengenakan bathrobe yang tersedia di kamar hotel. Sesungguhnya ia sangat malu, namun ia tahu suaminya bukan lah seperti binatang biasanya akan siap menerkam kapan saja. Rendra menepuk ranjang sebelahnya agar Medina duduk.
" Sudah mengantuk?"
Medina mengangguk. "Iya kak, aku capek sekali." jawanya manja.
"Tidurlah, besok pagi kita akan take off ke Maldives." ungkapnya sambil menyelimuti Medina. Medina menutup semburat malu di wajahnya di balik selimut.
Medina memang sayang pada Rendra, namun rasa sayangnya masih seperti adik kepada kakak. Entahlah, pernikahan ini begitu tiba-tiba, dan ia tak mampu menolak. Karena ia pun tahu, Rendra sosok lelaki yang baik selama ia mengenalnya.
Medina menatapnya, tersenyum lemah, lalu memejamkan mata. Di luar, pesta masih berlanjut dengan gemerlap cahaya. Tapi bagi keduanya, malam itu telah menjadi awal dari kehidupan baru — tenang, sederhana, dan penuh janji yang belum terucap.
"Aku tak akan terburu-buru. Aku akan menunggumu sampai kau siap." lirih Rendra, menatap Medina yang tengah terlelap. Rendra dengan telaten mengusap lembut kepala Medina. Dia memang dari dulu sayang pada Medina, namun hanya sayang sebagai adik. Tapi pernikahan ini, akan menjadi awal bari bagi kehidupannya. Dan akan mencintai Medina.
...----------------...
Rendra masih tertidur pulas dengan lengan yang melingkar lembut di pinggang Medina. Napasnya teratur, hangatnya terasa di punggung wanita itu. Malam tadi tak terjadi apa-apa di antara mereka—keduanya terlalu lelah setelah resepsi panjang dan perjalanan yang melelahkan. Rendra pun memang tidak ingin memaksa. Ia tahu Medina butuh waktu, dan ia memilih menunggu sampai istrinya benar-benar siap.
Namun keheningan pagi itu terusik oleh getar halus dari ponsel di atas nakas. Suaranya nyaris tenggelam di balik dentingan hujan ringan di luar jendela, tapi cukup membuat Medina terusik. Ia membuka mata perlahan, mengerjap menatap jam digital di dinding yang menunjukkan pukul lima tepat.
Dengan hati-hati agar tidak membangunkan suaminya, Medina meraih ponsel itu. Layar menyala menampilkan nama yang membuat alisnya bertaut pelan.
“Vanessa Queen?” gumamnya pelan. Nama itu terdengar asing… tapi juga entah kenapa terasa mengusik.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, panggilan itu tiba-tiba terputus. Medina menatap layar yang kembali gelap, lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Ia menarik napas panjang, menepis pikiran buruk yang sempat berkelebat di kepalanya.
“Mungkin salah sambung…” bisiknya, mencoba menenangkan diri.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidur, menyingkap selimut yang masih menutupi tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai, Medina kembali dan menepuk pelan lengan Rendra.
“Kak…” panggilnya lembut.
Rendra mengerjap, separuh sadar. “Hmm…?”
“Subuh, Kak. Kita sholat berjamaah, ya.”
Rendra menatap wajah istrinya yang diterangi lembut cahaya pagi dari sela tirai. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.
“Baik, istriku…” ujarnya serak, sebelum bangkit pelan dan mengikuti Medina menuju sajadah yang telah terhampar di sudut kamar.
Suasana pagi itu begitu tenang. Tak ada yang tahu, satu nama asing di layar ponsel itu kelak akan mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Usai menunaikan sholat berjamaah, Medina masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Matanya terpejam, bibirnya bergetar lembut melantunkan doa. Di sampingnya, Rendra menatap dalam diam—ada ketenangan di wajah istrinya yang membuat dada Rendra terasa hangat sekaligus sesak. Ia bersyukur, tapi entah mengapa pagi itu terasa sedikit berat.
Setelah berdoa, Medina menoleh sambil tersenyum kecil.
“Apa kamu sudah lapar” tanya Rendra lembut, suaranya pelan tapi cukup untuk memecah keheningan.
Medina tersenyum manis. “Tentu saja lapar, semalam aku hanya makan sedikit. "
Rendra mengangguk, lalu berdiri dan melangkah ke arah dapur kecil di dalam kamar hotel tempat mereka menginap. Aroma teh hangat segera memenuhi ruangan, berpadu dengan sisa wangi sabun dari tubuh mereka yang baru selesai berwudhu.
"Minum teh hangat dulu, aku sudah pesankan makanan. Sebentar lagi sampai. "
"Terimakasih kak.. "
"Bolehkah panggilan itu, kini di ganti?"
"Ya? "
"Aku kan sekarang suamimu, bukan kakak Rendra lagi. "
"Aku harus panggil apa?" lirih Medina menunduk.
"Hmm mas boleh, atau sayang lebih bagus." goda Rendra.
"Euh mas saja dulu..." jawab Medina malu-malu.
"Baiklah sayang.." bisiknya lembut di telinga.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
"Ah itu pasti makanannya sudah datang. Aku buka dulu. " Medina izin membuka pintu, Rendra hanya mengangguk.
Rendra menatap ponselnya yang masih di atas nakas. Ketika ia meraihnya, layar menyala menampilkan panggilan tak terjawab—nama itu terpampang jelas. Vanessa Queen.
Dahi Rendra berkerut, matanya memanas sejenak. Ia tahu nama itu tak seharusnya muncul di waktu seperti ini, pagi pertama setelah pernikahan mereka.
Medina kembali membawakan makanan di atas meja kecil di dekat sofa. “Ini, Mas. Ayo kita sarapan dulu. ”
Rendra segera menyambutnya dan berusaha tersenyum. “Baiklah.. Makasih, Sayang.” sambutnya, lalu mengecup lembut kepala Medina. Membuat Medina jantung Medina sedikit berdebar.
Selesai dengan sarapan, mereka berbincang ringan sebelum keberangkatan nya ke bandara.
Namun, saat Medina duduk di tepi ranjang dan menatap ponsel di tangan Rendra, pandangannya berubah samar.
“Tadi pagi ada yang nelpon, Mas…” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.
Rendra menoleh cepat. “Hmm? Siapa?”
“Namanya Vanessa Queen. Aku mau angkat, tapi langsung terputus.”
Keheningan turun sesaat. Hanya bunyi detik jam yang terdengar di antara mereka.
Rendra menunduk, mencoba menetralkan ekspresinya. “Oh… mungkin teman kerja. Aku belum sempat hapus kontak-kontak lama.”
Medina tersenyum tipis, menatap cangkirnya. “Oh begitu…” gumamnya, tapi nada suaranya tak sepenuhnya yakin.
Rendra menatap istrinya, lalu menyentuh tangannya. “Sayang, jangan mikir yang aneh-aneh, ya. Sekarang cuma kamu yang penting buat aku.”
Medina menatap balik, matanya lembut tapi di dalamnya ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan—rasa was-was kecil yang diam-diam tumbuh
di balik kehangatan pagi itu.
...----------------...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!