Indonesia
NovelToon NovelToon

LUPIN : Atlantis Crown Theft

Chapter 1 : Saksi Sunyi dan Api

Pada saat kepulan asap pertama membubung ke langit malam, si pelaku pembakaran sudah melarikan diri. Jalanan sepi. Cahaya kuning redup memancar dari gedung pengadilan itu, tidak cukup terang untuk menantang cahaya bulan atau lampu neon yang menandakan bir di kedai minum di seberang jalan.

Asap semakin pekat. Namun, ketika ada mobil yang melaju lewat, kepulan asap yang bergulung-gulung pekat dan marah itu hanya membuat mobil itu melesat lebih cepat. Tidak lama kemudian, lidah api berwarna jingga mulai ter-lihat di atap gedung, menggantikan asap tadi. Kini, apinya begitu menyilaukan sampai mata seseorang tidak bisa lagi membedakan antara warna abu-abu gelap dan hitamnya langit. Orang-orang bermunculan tepat ketika jendela-jendela meledak, secara beruntun, dalam serangkaian letupan kering. Lidah api menjalar keluar dari setiap jendela, meliuk-liuk gila ke arah kerumunan orang.

Sirene meraung-raung, tetapi tidak seorang pun bisa mendengarnya. Suara api mengalahkan segalanya, menggeram rendah dan ringan, seperti geraman peringatan kucing. Dua gadis keluar dari kedai minum, terlambat bergabung dengan keriuhan yang sedang berlangsung. Salah satu dari gadis itu berlari ke arah api, sambil bertanya apakah ada orang di dalam sana, apakah ada yang melihat sesuatu. Gadis yang satu lagi berdiri diam, bahunya tegang, dan sebelah tangannya membekap mulut.

Ketika para petugas pemadam kebakaran muncul, jalanan yang terang benderang itu terlihat seperti siang hari. Kerumunan orang melangkah mundur, orang-orang yang berdiri paling dekat dengan api bersimbah keringat. Mata semua orang berkaca-kaca Mungkin akibat asap yang mengepul di udara, tapi beruntungnya tidak akan ada yang berduka. Karena saat kebakaran terjadi, gedung pengadilan itu kosong.

...***...

"Ayolah, Mr. Steve. Kau tahu aku benci tim itu. Ya, kau bisa bilang begitu." Riley tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Suaranya memantul di ruang kosong yang remang.

Tangan kirinya memegang telepon, sementara tangan kanan mengarahkan senter ke setiap sudut museum. Balok cahaya memantul di kaca display, melewati patung-patung batu yang menatap kosong ke arahnya. Seharusnya malam ini dia duduk di sofa rumah, menonton pacuan kuda favoritnya, segelas bir dingin di tangan. Tapi kenyataannya, dia harus mondar-mandir di antara lorong dingin Museum Whitechapel, menghitung menit menuju pagi.

"Ya, kita bicara lagi nanti." Ucapnya menutup sambungan. Sunyi kembali merayap masuk, hanya terdengar dengung pendingin udara. Riley menghela napas, bahunya sedikit merosot. "Malam yang sial bagiku," gumamnya, sebelum melangkah ke ruang berikutnya.

Langkah Riley bergema di lorong sempit, memantul di kaca-kaca display yang berjejer seperti saksi bisu. Senter di tangannya bergerak lambat, menyapu barisan artefak topeng kayu dari Afrika Barat, senjata perunggu yang berkarat, dan sebuah guci besar dengan ukiran naga yang tampak hidup di bawah cahaya. Ia berhenti sejenak di depan patung Mesir setinggi bahunya. Mata batu patung itu menatap lurus, dingin, seolah mengikuti gerakan siapa pun yang berani mendekat. Riley mengedipkan mata, lalu berpaling cepat. Pekerjaan ini sudah cukup membuatnya jenuh, tidak perlu ditambah pikiran aneh-aneh.

Di ujung lorong, terdengar suara samar—seperti benda kecil jatuh di lantai. Riley memutar tubuh, sorot senternya memotong kegelapan. Tidak ada apa-apa, hanya lorong panjang yang kembali hening. Ia menarik napas, lalu melangkah lagi. Tapi kali ini, telinganya menangkap suara lain. Bukan benda jatuh. Lebih mirip napas—pelan, berat, dan terlalu dekat untuk diabaikan.

"Aku harap wali kota menaikan gajiku bulan ini, atau setidaknya memberiku rekan di tempat pengap ini." Riley kembali menggerutu, mencoba mengalihkan pikirannya dari hal-hal aneh. Namun, tepat saat ia berbelok ke lorong artefak perhiasan kuno, senter di tangannya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada—sebuah bayangan bergerak di belakang vitrin kaca. Bukan pantulan dirinya. Bayangan itu melintas cepat, seperti tarikan kain hitam yang licin.

Dari balik patung batu, seseorang melangkah keluar. Tubuhnya tegap, berselimut mantel panjang berwarna gelap. Topi fedora menutupi sebagian wajah yang juga memakai topeng Phantom, tapi sinar senter menangkap seulas senyum miring. Di lehernya tergantung tali tipis yang terhubung ke sebuah kait besi kecil—peralatan panjat.

"Siapa kau?"

"Panggil aku...Lupin." Ujarnya. Suaranya terdengar jelas sebagai seorang perempuan. Riley mengetahui nama itu seperti mengutuk. Kisahnya terkenal di koran, pencuri elegan yang menghilang sebelum polisi sempat mengedipkan mata.

Sang Lupin menunduk sedikit, seolah memberi salam. "Penjaga malam, ya? Aku harap kau tidak keberatan aku… meminjam sedikit koleksi," ucapnya ringan, suaranya seperti orang yang sedang mengajak minum teh.

Riley menegakkan tubuhnya, senter terangkat sejajar mata. "Kau di tempat yang salah." Ucapnya sambil menodongkan pistol yang dia ambil dari saku samping.

"Tidak," Lupin tersenyum lebih lebar, matanya berkilat di bawah bayangan topi. "Aku berada di tempat yang tepat… di waktu yang sempurna."

Di saat Riley bergerak maju, lampu lorong tiba-tiba meredup. Bunyi klik halus terdengar—dan ketika cahaya kembali, Lupin sudah tidak berdiri di sana. Hanya tersisa pintu vitrin terbuka, dan sebuah kalung permata yang menghilang dari dudukannya.

...***...

Mobil Jeep berwarna hitam berhenti di tugu peringatan di depan gedung pengadilan yang terbakar semalam. Saat pintu mobil terbuka, seorang pria tinggi berdiri dengan sikap santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia mengenakan setelan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih rapi dan dasi hitam bergambar emblem di tengahnya.

Di atas jasnya, terdapat harness hitam yang memberikan kesan taktis dan modern. Rambutnya hitam dengan potongan rapi namun sedikit berantakan di bagian atas, memberikan kesan stylish namun tetap maskulin. Wajahnya tegas dengan rahang yang tegas, alis tebal, dan mata tajam yang memancarkan karisma tenang.

Pria itu mengigit sebatang rokok, menyalakan pemantik, mengirup kuat-kuat, lalu asap dari mulutnya terbang ke udara. Cahaya matahari membuat rambut hitamnya mengkilap. Ia bersandar pada jeep hitam miliknya, sambil memperhatikan gedung pengadilan yang menjadi korban dari tangan-tangan nakal yang membakarnya.

Asap rokok tipis menari di udara, terbawa angin pagi yang sudah panas. Pria itu tidak terburu-buru, matanya memandangi setiap sudut gedung yang hangus—jendela pecah, tiang-tiang penyangga gosong, dan sisa-sisa papan nama yang nyaris runtuh. Ada sesuatu di tatapannya, semacam pengukuran dingin, seperti sedang menilai hasil kerja seseorang… atau mungkin mencari celah yang tertinggal. Dari balik asap, ia menunduk sebentar, menginjak puntung rokok, lalu melangkah ke arah garis polisi yang melingkari bangunan. Sepatu kulitnya berdecit di atas aspal retak. Petugas di pintu pagar mengangkat tangan, siap menghentikannya, tapi berhenti begitu melihat kartu identitas hitam yang dikeluarkannya—tidak ada kata-kata, hanya tatapan singkat.

Begitu berada di dalam, pria itu mengedarkan pandangan, memperhatikan coretan arang di dinding yang tersisa, tumpukan berkas yang hangus, dan bau menyengat campuran asap dan plastik terbakar. Di tengah ruangan utama, bekas podium hakim masih berdiri, setengah runtuh. Ia berjongkok, menyentuh salah satu bekas jejak sepatu di lantai berdebu, lalu tersenyum samar—senyum yang sama sekali tidak hangat. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan singkat.

Ponsel dikembalikan ke saku. Pria itu berdiri, menepuk-nepuk debu dari lutut celananya, lalu berjalan menuju pintu samping yang hampir tertutup puing. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak, menatap kembali ke arah puing-puing itu, seolah mencoba menghafalkan setiap detail. Di kejauhan, suara sirene terdengar mendekat. Pria itu tidak berniat pergi. Ia mungkin menunggu seseorang, kenalan lama—mungkin.

Sebuah mobil polisi berhenti di depan bangunan pengadilan, seorang pria yang sudah cukup berumur keluar dari dalam mobil. Wajahnya menatap ramah pada pria muda itu. Langkahnya ringan menghampiri si pria. Tapi ekspresi pria muda itu sama sekali tidak berubah—tetap dingin.

"Senang karena anda datang ke kota kecil ini, Detektif Wang yi." Sapa pria tua itu.

"Aku penasaran, orang tolol mana yang membakar gedung pengadilan ini." Ujar Wang yi, pandangannya mengamati sekeliling.

Pria tua itu—Kepala Polisi Frank Girardello—mengangkat bahu sambil menarik napas panjang. "Kalau kau tanya aku, pelakunya bukan sekadar perusuh. Semua titik api dimulai serentak di beberapa ruangan. Terlalu rapi untuk dibilang sebuah kebetulan."

Wang Yi mendekat ke salah satu tiang gosong, menyentuh arang yang rapuh dengan ujung jarinya. Debu hitam menempel, ia mengusapnya di ibu jari. "Jadi… ini pekerjaan orang yang tahu persis di mana harus memulai," gumamnya, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

Frank mengangguk. "Ada saksi yang melihat seseorang di atap gedung sebelum api membesar. Tapi tentu saja, rekaman CCTV—"

"Hilang," potong Wang Yi, suaranya datar.

"Ya," jawab Frank dengan nada berat. "Seperti sudah diduga. Kabelnya dipotong rapi."

Wang Yi berbalik, menatap langsung ke mata Frank. "Katakan padaku, Kepala. Nama 'Lupin' pernah lewat di telingamu?"

Ekspresi Frank sedikit mengeras. "Ah… nama itu. Dia baru saja mencuri sebuah kalung permata peninggalan ratu Inggris yang di simpan di museum kota, tadi malam. Penjaga museum melihatnya dan bahkan berbicara padanya. Tapi dia seperti hantu yang menghilang begitu saja dalam satu kedipan mata."

"Terdengar sangat akrab." ucap Wang Yi. Ia melangkah ke tengah ruangan, berdiri di bekas podium yang setengah runtuh. Pandangannya menyapu sekeliling, lalu berhenti pada sesuatu di lantai, sehelai kain hitam kecil, seperti potongan dari sarung tangan atau jubah. Ia membungkuk, mengambilnya, dan menyelipkannya ke saku dalam jas tanpa sepatah kata.

"Kalau aku tidak salah…" Frank menghela napas, "...kau berada di sini untuk menangkapnya, kan..."

Wang Yi menatap keluar jendela yang pecah, ke arah jalanan kota kecil yang tampak damai—seolah tidak tahu apa yang baru saja terjadi. "Ya. Kau benar. Dia buronan terkenal di ibu kota. Dia pernah mencuri permata berharga yang di jaga sangat ketat. Aku tidak tau kenapa dia bisa ada di kota kecil seperti Whitechapel."

Dari luar, suara mobil lain terdengar mendekat. Frank melirik ke arah pintu. "Bagaimana kalau kita mengobrol di bar, aku yang teraktir."

"Ya, tentu," jawab Wang Yi singkat. Ia berjalan melewati Frank, langkahnya mantap menuju Jeep hitam yang terparkir di luar.

Chapter 2 : Titik Balik Di Whitechaple

Celana pendek denim dan tank top yang dikenakan Freya ketika bekerja teronggok di sudut kamar tidurnya. Pakaian itu harus dicuci, tetapi ia malas melakukannya hari ini. Ia mengenakan kembali pakaian kusut itu. Tercium bau keringat dan bir yang melekat di sana. Ia selalu bau di akhir sifnya.

Freya menyelipkan ponsel ke saku belakang celana. Jemarinya gatal karena tidak lagi memegang ponsel. Sepanjang hari ini ia sudah berulang kali memeriksa e-mail.

Ia mengeluarkan sepatu dari kolong ranjang. Sepatunya masih baru, baru dibeli setelah sol sepatu lamanya robek. Sol sepatu lamanya memang sudah usang, dan ketika ia tersandung kerat bir, sol sepatunya langsung terlepas dari jahitan dan kaki-nya terpampang di tengah-tengah seperti lidah. Sepatu baru ini adalah sepatu putih murahan yang sudah terlihat kotor. Sepatu ini membuat tumitnya lecet-lecet kemarin malam. Ia meringis ketika mengenakan sepatunya. Semoga saja sepatu ini segera melembut, atau semoga kakinya semakin terbiasa.

Freya mengikat rambut sambil berjalan menyusuri koridor. Pergelangan tangannya bergerak-gerak dengan ahli. Freya tahu ia sudah telat ke tempat kerjanya, tetapi ia tetap berhenti untuk sekedar pergi ke dapur.

Freya keluar dari rumahnya. Ia menutup pintu kasa dan menyelipkan jarinya melewati kasa yang sudah rusak untuk menguncinya. Pintu itu benar-benar tidak berguna. Ia ingat ketika ia dan ibunya memasangnya bertahun-tahun yang lalu untuk alasan keamanan. Di masa sekarang ini, pintu itu sama sekali tidak akan mampu menghalangi penyusup. Pintu itu bahkan tidak mampu melindungi mereka dari lalat.

Pintu itu sama seperti semua hal lain dalam hidupnya, di kota ini. Setelah pabrik mobil ditutup, Whitechaple dengan cepat kehilangan tujuan. Dulu, kota ini kota yang menyenangkan. Sebagai kota terbesar di wilayah ini. Whitechaple dulu dianggap sebagai tempat yang menyenangkan untuk mampir dan bermalam di tengah perjalanan ke kota yang lebih besar. Kota ini cukup kecil untuk memiliki komunitas yang kuat, tetapi cukup besar sehingga kau bisa berjalan menyusuri jalan tanpa mengenal semua orang yang berpapasan denganmu.

Kini, semua yang ada di Whitechaple sudah rusak dan jelek. Orang-orang tidak lagi bersahabat. Banyak penduduk yang beralih dari acara minum-minum bersama teman ke kegiatan yang melibatkan narkoba. Tingkat kejahatan tinggi, tingkat pengangguran juga tinggi, tetapi populasi tetap sama. Rasanya seolah-olah semua orang merasa setia pada tempat ini. Well, Freya jelas tidak merasakan kesetiaan itu. Ia akan keluar dari sini. Gagasan itu membuatnya tersenyum. Gagasan bahwa ia tidak akan tinggal di tempat ini lagi, bahwa ia akan menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Menyadari langkah kakinya melambat, Freya memaksa diri berhenti melamun. Kehidupan barunya akan segera dimulai, tetapi saat ini ia sudah terlambat untuk bekerja.

Freya berjalan ke Union Street, sambil mengibaskan sebelah tangan di depan wajah untuk menghalau lalat. Walaupun mata hari tergantung tinggi di langit, ia tidak merasa aman berjalan sendirian. Ada rute yang lebih singkat, tetapi itu berarti ia harus melewati para 'fossicker'. Ia tidak sudi melakukannya, jadi ia terpaksa mengambil jalan memutar. Ia mengeluarkan ponsel dari saku, memeriksa e-mailnya sekali lagi. Tidak ada e-mail baru. Hatinya melesak. Mereka berkata bahwa mereka akan mengabarinya hari ini. Ia tidak sabar lagi. Ia tidak pernah merasa sesiap ini untuk apa pun seumur hidupnya.

Sejak masih kecil, ia selalu ingin menjadi wartawan. Ada banyak kesulitan yang harus dihadapinya, yang terburuk adalah ditutupnya koran setempat, The Star. Lalu, Freya menerima e-mail yang menyatakan bahwa namanya termasuk dalam daftar panjang calon karyawan magang, surat kabar nasional. Seminggu kemudian, ia diberitahu bahwa ia berhasil masuk daftar pendek. Walaupun begitu, Freya berusaha tidak terlalu gembira. Kejadian ini terlalu bagus, terlalu luar biasa baginya. Lalu, tepat delapan hari yang lalu, ia dikabarkan sebagai salah satu dari dua finalis. Hanya ada dirinya dan satu orang lain di luar sana yang sibuk memeriksa e-mail mereka hari ini.

Temannya, Zhou Shiyu, yakin Freya pasti mendapatkan posisi itu Freya tertawa dan bergurau tentang Zhou Shiyu yang terlalu mengada-ada, tetapi sebenarnya ia percaya pada Zhou Shiyu. Dalam hatinya, Freya tahu ia akan diterima dalam program magang itu, karena pasti tidak ada orang lain yang lebih menginginkan hal ini sebesar dirinya. Mustahil.

la berjalan cepat melewati danau, yang dikelilingi ilalang ke-ring setinggi lutut, yang merupakan sarang ular dan nyamuk. Tempat itu menguarkan bau kubangan. Di sampingnya terdapat seperangkat kerangka ayunan, kini berselimut rumput-rumput liar yang mulai berbunga. Ayunan itu sudah dipotong beberapa tahun yang lalu, jadi kini tinggal kerangkanya. Freya bertanya-tanya apakah ayunan-ayunan itu dipasang ulang di halaman belakang salah satu rumah di dekat sana, atau apakah ayunan-ayunan itu dihancurkan demi menghibur beberapa anak kecil.

Freya berpaling dan mempercepat langkah, sol karet sepatu barunya menampar aspal lengket. la berusaha tidak mengenang bagaimana dulu, ketika air danau masih biru, ia berpiknik di tepi danau bersama ibunya. Ibunya, yang duduk diam di samping suami barunya, Axin, setelah ayah kandung Freya meninggal dunia. Pria itu memberitahu Freya bahwa sudah waktunya Freya keluar dari rumah. Bukan masalah, karena pekerjaan magang itu ada di kota besar dan akomodasi juga akan disediakan. Walaupun begitu, rasanya tetap menyakitkan.

Freya menyeberang ke arah Union Street, berhati-hati melangkahi katak yang menempel rata di jalan. Di sini, orang-orang rela berpindah jalur hanya demi melindas katak. Bangkai-bangkai katak itu akan menempel di jalan, serata panekuk, dikerubungi semut, sampai bangkai itu berubah kaku dan keras seperti kulit kering di bawah terik matahari.

Jalan utama di Whitechaple terbentang sepanjang tiga blok. Hanya ada seperangkat lampu lalu lintas dan ada tempat penyeberangan di depan gereja dari bata merah. Ada sebuah pub tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dari balik jendelanya yang buram, Freya bisa melihat adegan pacuan anjing di layar televisi.

Di penghujung hari, jendela itu sering kali berlepotan darah akibat perkelahian yang terjadi dalam bar. Restoran Cina, dengan plang merahnya yang menyala terang, terimpit di antara restoran India dan toko antik-dua-duanya sudah tutup bertahun-tahun yang lalu.

Di depan sana terdapat gedung SD dan gedung balai kota Dari tempatnya berdiri menunggu lampu lalu lintas berubah warna supaya ia bisa menyeberang, Freya nyaris bisa melihat gedung pengadilan yang terbakar habis. Gedung itu berdiri di antara perpustakaan, yang berhasil lolos dari api, dan toko bahan makanan, yang tidak berhasil lolos. Di depan anak-anak tangga gedung pengadilan terdapat tugu peringatan yang biasanya digunakan jika ada yang berduka. Dari tempatnya berdiri, Freya bisa melihat garis polisi yang mengelilingi gedung itu. Dan seorang pria tampan yang Freya yakini mungkin adalah polisi baru, berjalan keluar dari dalam mobil Jeep. Pria itu sangat tampan dengan mata yang sedikit sipit. Tapi, Freya mengacuhkannya seperti tidak pernah terlihat.

Freya menatap bangunan yang hangus itu. Kini, setelah semua dokumen di dalam gedung pengadilan itu berubah menjadi abu dan komputer-komputer meleleh menjadi bongkahan plastik dan kabel, apakah itu artinya persidangan-persidangan yang sudah dijadwalkan sebelumnya akan ditangguhkan? Apakah itu berarti orang-orang yang seharusnya adalah kriminal tidak lagi dianggap kriminal? Apakah hukum akan ditunda sampai tempat itu di-bangun kembali? Freya bisa mencium baunya dari sini. Bau kayu, batu bata, dan plastik yang terbakar di bawah terik mata hari.

Ponselnya bergetar dalam saku. Ia mengeluarkan ponsel dengan tangan yang diusahakan tidak gemetar. Ia setengah berharap yang masuk adalah pesan singkat konyol dari Zhou Shiyu atau e-mail spam. Namun bukan. Ia membuka e-mail, bukan dari tempat ia melamar, tapi dari yang lain. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, bersiap-siap tersenyum lebar, bersiap-siap menahan jeritan penuh kegembiraan.

Semuanya sudah selesai, kau bisa datang kapan saja.

Freya menyunggingkan senyum miring, sementara ia menyeberang jalan ke arah Motel Blind Beggar.

Chapter 3 : Gadis Di Blind Beggar

Sebagian besar usaha di Whitechaple,

Motel Blind Beggar dulunya salah satu bangunan mewah di kota ini. Bangunan itu lebih besar daripada bangunan-bangunan lain dan terlihat lebih megah dengan tangga yang lebar dan jendela-jendela ganda. Namun, kemewahan yang dulu dimiliki tempat itu sudah lama hilang. Tempat itu sudah membutuhkan lapisan cat baru sejak dua puluh tahun yang lalu. Kini, penampilan depan bangunan itu kusam dan kotor. Di jendelanya terpasang plang neon yang menandakan kedai bir. Blind XXXX Gold.

Di dalam, lagu-lagu Bruce Springsteen diputar tanpa henti. Baunya tajam. Bau apak dan bir basi. Penerangannya redup, mungkin itu semacam usaha untuk menyembunyikan kebobrokan yang ada. Walaupun begitu, kegelapan sepekat apa pun tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa segalanya terasa agak lengket. Ini jenis tempat yang memiliki beberapa kamar motel di bagian belakang, tetapi tidak seorang pun sudi bermalam di sana kecuali mereka mabuk berat.

Separuh bar ditempati para pekerja dan polisi yang duduk di kursi kayu berwarna gelap dan sibuk menenggak habis gaji mereka. Tempat ini populer di kalangan penegak hukum. Kantor polisi di sebelah melayani Whitechaple dan kota-kota lain yang lebih kecil di wilayah ini, tetapi para polisi tidak suka minum-minum di tempat yang jauh dari kantor polisi. Mengingat apa yang kadang-kadang harus mereka saksikan, berjalan sepuluh langkah pasti sudah terasa seperti perjalanan yang terlalu jauh hanya untuk minum bir. Kedai minum lain yang agak jauh dari sana adalah tempat yang harus di kunjungi apabila seseorang ingin menyatakan dengan jelas bahwa dia tidak suka bergaul dengan polisi. Walaupun begitu, siapa pun yang masih minum-minum di tempat umum dan bukannya mendekam di rumah bersama sebungkus narkoba dan pipa kaca dianggap sebagai aset, tidak peduli di mana mereka memilih untuk minum-minum.

Di bawah foto hitam putih pudar yang menampilkan keluarga Addam's, penghuni pertama rumah ini, terdapat bar berbentuk huruf L di mana Freya mengobrol dengan Zhou Shiyu yang memiliki keturunan darah Tiongkok asli, entah apa yang membuat gadis cantik itu terdampar di kota kecil seperti Whitechaple. Mereka sudah bekerja di kedai ini bersama-sama selama bertahun-tahun dan sudah menghabiskan ratusan jam melakukan apa yang mereka lakukan sekarang, bersandar di bar, menyesap Coke, dan mengoceh tidak keruan.

Freya bukan satu-satunya orang yang berpikir Zhou Shiyu mirip putri raja. Siapapun yang melihatnya akan berpikir, gadis ini adalah reinkarnasi dari Zhou Feiyan, permaisuri kaisar Cheng dari dinasti Han. Walaupun dengan tato yang menghiasi lengan atasnya, baik Freya ataupun Zhou Shiyu terlihat polos dan sempurna seperti bintang film. Sesapan pertama dari cairan kuning dingin yang dituangkan oleh Freya sendiri adalah pengalaman yang paling menggembirakan bagi semua pelanggan tempat ini. Ditengah keramaian kedai itu, lonceng yang berada di atas pintu masuk berbunyi. Pelanggan lainnya datang.

"Ada kemajuan, pak kepala?" Frank menolah pada Bob, sersan yang Tahun lalu di lantik dan langsung menjadi bawahannya.

"Belum," ucap Frank. Ia mengajak Wang yi, untuk duduk di salah satu kursi.

"Tempat yang menarik." Wang yi mengamati sekeliling bar.

Freya melirik sekilas dari balik bar, melihat sosok pria Asia berjas rapi yang baru saja duduk bersama Frank. Ia mengingat pria itu sebagai orang yang dia lihat keluar dari mobil Jeep, di depan bangunan pengadilan tadi pagi. Tampangnya terlalu bersih untuk ukuran pengunjung Blind Beggar—seperti seseorang yang biasanya minum di lounge hotel berbintang, bukan di tempat berbau bir basi ini.

"Dia terlihat sexy," bisik Zhou Shiyu sambil memiringkan kepalanya. "Lihat sepatunya? Gucci asli. Tidak ada yang pakai itu di Whitechaple kecuali mau dipalak."

Freya pura-pura sibuk membersihkan gelas, tapi matanya mengawasi. Pria itu—yang Frank panggil Wang Yi—duduk dengan punggung tegak, memandang sekeliling dengan tatapan yang terlalu hati-hati.

"Kau bisa membayangkan, jika seandainya dia menjepitmu dengan selangkangannya, hangat dan bergairah." Ucap Zhou Shiyu yang masih tidak berhenti memandangi Wang yi dari balik bar.

Frank menepuk bahunya sambil berkata, "Kalau mau tahu kebenaran tentang kota ini, kau tidak akan dapat dari kantor walikota. Duduk di sini, dengar, dan lihat siapa yang masuk. Kau akan paham."

Wang Yi tersenyum tipis, seolah mengerti maksudnya. Tapi Freya menangkap sesuatu di balik senyum itu—sebuah ketegangan yang tidak cocok dengan suasana santai di bar.

Lalu, pintu berderit lagi. Angin dingin masuk bersamaan dengan seorang pria jangkung berjaket kulit, wajahnya sebagian tertutup oleh topi beanie hitam. Ia tidak langsung menuju bar, tapi berhenti sebentar di dekat pintu, menatap seisi ruangan. Pandangannya hanya sebentar ke arah Freya… namun cukup lama untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Zhou Shiyu memicingkan mata. "Kenal?" tanyanya pelan.

Freya menggeleng, tapi tangannya yang memegang lap mengencang. "Nggak tahu. Tapi rasanya… pernah lihat dia di suatu tempat."

Pria itu lalu berjalan ke sudut gelap ruangan, duduk sendirian. Frank dan Bob saling melirik, sementara Wang Yi tampak semakin waspada.

Zhou Shiyu menyajikan bir dengan buih setinggi lima belas sentimeter di meja Wang Yi. Ia sempat memberikan kedipan mata pada pria itu. Wang yi tersenyum miring, menerima bir itu, memberikan tip untuk Zhou Shiyu, dan mencoba menenggak minuman itu.

Di sekelilingnya, rekan rekan polisi lain membahas teori-teori mereka menyangkut kasus terbaru, yang sudah menggantikan kasus pembakaran gedung pengadilan ataupun pencurian sang lupin dalam benak mereka. Berbeda dengan Frank Ada pembakar brengsek yang menimbulkan kehebohan selama setahun terakhir. "Awalnya hanya kebakaran-kebakaran kecil, seperti semak-semak atau kotak surat yang terbakar." Ujar Frank mulai menjelaskan situasinya. "Para polisi cenderung berpikir bahwa itu hasil karya remaja-remaja yang bosan, walaupun kemungkinannya kecil. SMA setempat sudah ditutup tahun ini karena jumlah pendaftaran yang sedikit, jumlahnya bahkan tidak mencapai seperempat dari jumlah pendaftaran sebelumnya. Sebagian besar anak remaja bekerja di peternakan ayam atau sudah terlibat sepenuhnya dengan narkoba. Anak-anak remaja yang mengonsumsi narkoba masih melakukan kejahatan-kejahatan, sebagian besarnya penyerangan dan perampokan, tetapi sepertinya tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki kesabaran untuk menyulut api hanya karena mereka suka melihat sesuatu terbakar."

Wang yi mendengarkan, sesekali meminum bir-nya sampai habis, atau sedikit membolehkan pandangannya pada Zhou Shiyu yang berada di balik bar. Gadis itu juga sepertinya menyadarinya.

"Lalu, bulan lalu, segalanya tiba-tiba saja memburuk. Orang gila itu terlalu senang bermain-main dengan pemantiknya sampa ia membakar separuh blok di Union Street." Ucap Frank.

Wang yi sudah pernah menyaksikan banyak kejadian buruk. Dan hanya satu yang membuatnya kesal sampai mati, Sang lupin yang saat ini menjadi buronannya. Matanya melirik pada Freya yang menghampiri pria di sudut ruangan, menyajikan bir. Tidak ada yang mencurigakan soal itu.

"Menurutmu pelakunya akan muncul lagi malam ini?" Tanya Wang yi.

"Sulit di tebak. Ditambah dengan sang lupin. Aku pikir pelakunya ada dua orang." Balas Frank.

"Kau tau," Ucap Wang yi. "Bisa saja sekarang pelakunya ada di sini. Si pembakar," mata Wang yi menyisir dari sudut bar ke sudut yang lain. "Dan, sang lupin." Kini matanya tertuju pada pada gadis di balik bar.

"Setidaknya kita tau, kalau sang lupin adalah seorang gadis." Timpal Frank. Dia meminum bir-nya sampai habis, kemudian meminta pada Zhou Shiyu untuk mengisinya lagi.

Freya menuang bir ke dalam gelas-gelas, lalu kembali membolak, balikkan koran. Ia berbicara dengan lirih kepada Zhou Shiyu. Mereka berdua bersikap seolah-olah mereka sedang bersantai di rumah dan bukannya sedang bekerja, Zhou Shiyu mengangkat tangan mengusap rambutnya. Gerakannya sangat sederhana, sangat santai, tetapi gerakan itu membuat tenggorokan Wang yi sedikit tersekat. Demi Tuhan, ia tidak pernah merasakan sensasi yang begitu bergairah sebelum ini.

Zhou Shiyu menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Kedai minum itu cukup sepi sehingga ia bisa mendengar apa yang dikatakan Freya.

"Karena Saturnus berdekatan dengan Aquarius, tidak ada yang mustahil." Freya membaca. "Sesuatu yang tak terduga akan mengejutkanmu hari ini." Ia mendengus tertawa. "Berhati-hatilah, gadis-gadis lajang."

"Tidak ada tulisan seperti itu," Wang Yi mendengar Zhou Shiyu berkata. Lalu suara mereka tak terdengar lagi.

Wang Yi mendongak dan melihat mereka sedang menatap ke arah mejanya. Ia dengan cepat menenggak sisa minumannya dan berjalan ke arah mereka.

"Ladies, boleh aku tanya sesuatu?"

Freya dan Zhou Shiyu saling bertukar pandang cepat. Nada suara Wang Yi tenang, tapi ada sesuatu di balik tatapan matanya—campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan—yang membuat Freya sedikit mengerutkan kening.

"Tergantung pertanyaannya," jawab Freya sambil meletakkan lap di atas meja bar. "Kalau ini soal pesanan minum, kau bicara dengan bartender yang tepat. Kalau ini soal gosip, kau bicara dengan orang yang… mungkin akan bohong."

Zhou Shiyu terkikik pelan, pura-pura menyesap Coke-nya. Wang Yi menarik kursi itu tanpa melepaskan pandangannya dari mereka. "Aku hanya penasaran…," ia berhenti sejenak, memastikan tak ada yang terlalu dekat untuk mendengar. "...kalian berdua bekerja di sini sudah berapa lama?"

"Sangat Lama," jawab Freya singkat. "Kenapa?"

"Karena kalau seseorang ingin tahu apa yang benar-benar terjadi di Whitechaple, dia tidak akan bertanya pada polisi. Dia tanya bartender," ucap Wang Yi, nadanya setengah serius, setengah menguji.

Zhou Shiyu tersenyum, tapi matanya menyipit. "Dan kalau ada orang asing memakai jas rapi masuk ke sini dan mulai mengajukan pertanyaan aneh, biasanya kami akan berpikir dia adalah polisi—atau orang yang lebih berbahaya dari polisi."

Senyum Wang Yi melebar sedikit, tapi bukan senyum yang sepenuhnya ramah. "Aku hanya butuh informasi. Seorang gadis, bersuara lembut, tapi memiliki hati sedingin es."

"Banyak gadis berhati es di kota ini. Kau tidak akan menemukannya hanya dari melihat wajah cantik atau tubuh Sexy mereka." Ucap Zhou Shiyu.

Wang Yi menatap Freya dan melihat gadis itu menggeleng-geleng kecil, membuat sepercik ale tumpah ke pergelangan tangannya. Ia mengusapkan tangan ke bagian bokong celananya dan menyerahkan bir itu kepada Wang Yi.

"Semacam itulah," kata Freya. Wang Yi hendak bertanya lebih jauh, mendesaknya seperti ia mendesak tersangka di ruang interogasi, tetapi Zhou Shiyu menyela.

"Coba kita lihat." Zhou Shiyu memungut gelas kosong Wang Yi dari bar dan menatap buih di dalamnya dengan mata disipitkan.

"Apakah ada ramalan tentang kehidupan cintaku di dalam sana?" tanya Wang Yi, sambil kembali menatap Zhou Shiyu.

"Well," kata Zhou Shiyu sambil memutar-mutar gelas, "aku melihat banyak kemungkinan di sini. Aku melihat tidak ada yang mustahil. Akan terjadi sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang akan membuatmu terkejut."

Mereka berpandangan. Wang Yi tidak tahu apakah dirinya di-jadikan bahan lelucon. Itu tidak penting. Ia menyambar kesempatan itu. "Sejujurnya, gadis sepertimu terlalu indah untuk berada di tempat ini."

"Aku setuju, jadi—apakah kau berniat untuk membawaku pergi?" Tanya Zhou Shiyu.

"Tergantung situasinya..."

Zhou Shiyu tertawa kecil, "Aku menantikan seorang pangeran yang datang menjemputku dengan kuda putihnya."

"Aku memiliki yang hitam." Balas Wang Yi. Ia kembali ke mejanya.

Dibelakangnya, ia mendengar Zhou Shiyu berkata, "Kau tahu, menurutku dia sangat sexy."

Bahu Wang Yi menegang. Ia menyesap bir. Membayangkan sesuatu untuk pertama kali dalam hidupnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!