Indonesia
NovelToon NovelToon

KAMU DAN WASIAT YANG KAU GENGGAM

Bab. 1

"Mas, hapenya bunyi. Coba diangkat! pasti urgent, enggak biasanya jam segini ada yang menghubungi mas." Renata yang baru keluar dari kamar mandi, memanggil laki-laki yang kembali menggulung tubuhnya dengan selimut dari sehabis sholat subuh tadi.

Membuat seorang laki-laki bernama Fauzan yang tadinya berniat ingin mengabaikan dering ponselnya, kini menyibak selimut dengan malas. "Siapa sih? jam segini sudah nelepon!" Gerutunya sambil melirik kearah jam yang masih menunjukkan pukul lima kurang. Namun tak urung pria itu meraih ponselnya yang berada diatas nakas.

"Ibu!"

Sentaknya kaget saat melihat nama sang ibu yang terpampang dilayar ponselnya. Perasaannya mendadak tidak karuan, pikirannya langsung melayang pada sang adik yang tengah sakit.

"Siapa mas?" Renata menghampiri Fauzan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

Tanpa menghiraukan pertanyaan sang istri, Fauzan dengan cepat mengangkat panggilan dari sang ibu. "Assalamualaikum, halo bu ada apa?" Cecarnya dengan nada penuh kekhawatiran. Suasana kian mencekam saat diseberang sana terdengar isakan seorang perempuan yang suara sudah familiar di pendengarannya.

"Waalaikumsalam, Fauzan... Adikmu!" Ucap sang ibu kandas, tak lama kemudian terdengar suara sirine ambulans yang memekik. Fauzan mematung, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Berharap ada yang bisa memberi penjelasan padanya.

Melihat sang suami yang terdiam kebingungan, Renata segera meraih ponsel dari tangan Fauzan. "Halo ibu! ibu disana baik-baik saja kan? bu, tolong jawab! jangan bikin kami khawatir." Seru Renata setengah berteriak, berharap suaranya ditengah kebisingan sirine bisa didengar oleh Kartika, ibu mertuanya. Namun sampai beberapa menit berlalu tak ada sahutan dari mertuanya itu.

Membuat Renata akhirnya memutus sambungan telepon dari mertuanya. Kemudian perempuan berusia dua puluh tujuh tahun tersebut beralih menghubungi Sophia, istri dari Fajar adik iparnya yang kebetulan rumahnya bersisian dengan rumah sang mertua.

Tak butuh waktu lama, panggilannya langsung tersambung dengan Sophia. "Assalamualaikum mbak." Ucap perempuan yang tak lain adalah Sophia, suaranya terdengar sengau seperti tengah menangis.

"Waalaikumsalam, Sophi! disana ada apa? apa kalian baik-baik saja? barusan ibu nelepon tapi malah terputus." Tanya Renata tak sabar, namun keningnya mengernyit saat mendengar isakan Sophia.

"Sophi! kamu dengar mbak kan?"

"Mas Fajar mbak! beliau drop dari setengah jam lalu, dan baru saja dibawa ke rumah sakit, hiks."

"Innalilahi, yang kuat ya! Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus kuat, ingat! ada si kembar yang juga membutuhkanmu. Kalau kamu rapuh, mereka akan rewel karena tahu ibunya sedih." Ucap Renata berusaha menguatkan, meski ia tahu kalau dirinya berada di posisi Sophia belum tentu juga bisa sekuat perempuan itu.

Sedangkan Fauzan yang duduk di tepi ranjang, menatap Renata dengan raut khawatir bercampur penasaran. Membuat Renata yang paham dengan tatapan suaminya segera pamit pada Sophia, "Sophi, mbak tutup dulu ya teleponnya. Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban Sophia, Renata langsung mematikan sambungan teleponnya. Perempuan itu beralih menatap Fauzan yang sedari tadi terduduk di tepi ranjang tanpa mengalihkan perhatian darinya.

"Mas, katanya Fajar drop dari setengah jam yang lalu. Dan sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit." Ucapnya sambil meletakkan ponsel diatas nakas, kemudian beralih memegang tangan Fauzan, berusaha menguatkan laki-laki yang telah menikahinya dari tiga tahun lalu itu. "Sebaiknya mas berangkat ke Bandung saja sekarang, aku paling nanti sore sepulang kerja baru nyusul. Terlanjur aku sudah menyanggupi gantiin Mila masuk pagi. Mas enggak apa-apa kan?" Tanya nya sambil mengeratkan genggaman tangannya, seolah memberi tahu kalau dirinya ada buat sang suami.

"Iya, mas akan kesana sekarang. Kasihan ibu sama bapak tidak ada yang bantuin ngurusin segala macamnya." Ucap Fauzan pelan seraya beranjak dari tempat tidur.

.

.

Renata dan Fauzan adalah pasangan suami istri yang baru menjalani biduk rumah tangga selama tiga tahun. Renata Prameswari perempuan berusia 27 tahun itu, seorang bidan yang bekerja disalah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Utara. Sedangkan Fauzan, yang bernama lengkap Fauzan Nugraha, berusia 30 tahun bekerja sebagai staf kantor disalah satu perusahaan Swasta di Jakarta.

Selama ini mereka sering bolak balik ke Bandung setiap kali ada waktu senggang. Menengok dan menemani Fajar adik dari Fauzan yang kini tengah berjuang melawan leukimia yang sudah menggerogotinya dari satu tahun yang lalu mulai terdeteksi nya saat sudah stadium dua. Dan setelah melewati proses pengobatan panjang hingga operasi, keadaannya berangsur membaik bahkan sudah kuat beraktifitas lagi. Tetapi pagi ini sebuah kabar benar-benar mengejutkan Fauzan dan Renata dengan drop nya Fajar hingga harus dilarikan ke rumah sakit..

Tepat jam enam pagi, sepasang suami istri itu sudah duduk di dalam mobil hendak menuju stasiun Gambir. Fauzan memilih berangkat ke Bandung menggunakan kereta api. Sebab Renata melarangnya membawa kendaraan sendiri, dengan alasan fokusnya yang akan terbagi selama berkendara.

"Mas, enggak apa-apa kan aku enggak ikut sekarang? soalnya aku sudah terlanjur gantian shift dan Mila juga sudah berangkat dari semalam ke Bogor." Ucap Renata kembali memastikan, sebab ia tidak bisa menemani Fauzan berangkat ke Bandung pagi ini karena harus menggantikan temannya yang tengah ijin karena menghadiri acara keluarganya di Bogor.

"Enggak apa-apa sayang. Nanti sore juga kalau sekiranya tidak memungkinkan untuk berangkat, kamu jangan maksain berangkat. Do'akan saja supaya Fajar segera sehat, kasihan si kembar mana masih bayi." Sahut Fauzan, sorot matanya tak bisa menyembunyikan kesedihannya, mengingat sang adik yang memiliki bayi kembar yang kini baru berusia tiga bulan.

"Pastinya mas, aku selalu mendoakan mereka. Aku sudah menganggap Fajar dan Sophi seperti adikku sendiri." Sahut Renata menghela napas, sembari menambah kecepatan laju mobilnya.

.

.

.

Renata memeluk erat Fauzan memberi dukungan pada suaminya yang terlihat murung karena kabar dropnya Fajar, adik satu-satunya sang suami. Setelah beberapa saat dengan berat ia melepaskan pelukannya. "Mas yang kuat, Insya Allah Fajar akan baik-baik saja." Ucapnya yang langsung diangguki oleh Fauzan. Laki-laki itu mencium kening Renata sesaat, kemudian perlahan mundur sambil melambaikan tangannya. "Hati-hati di jalan, jangan lupa do'akan terus Fajar ya." Ucapnya lirih hampir tak terdengar diantara riuh lalu lalang para pengunjung Stasiun.

Bab. 2

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, Fauzan sampai di sebuah rumah sakit tempat dimana Fajar dirawat. Pria itu langsung memasuki ruang ICU sang adik yang sudah dikonfirmasikan sebelumnya oleh sang ibu.

Ia langsung memaksa masuk tanpa menunggu salah satu orang tuanya keluar "Assalamualaikum. Bu, pak!" Ucapnya seraya menghampiri kedua orang tua yang tengah berdiri disamping ranjang. Fauzan mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian. Kemudian ia menghampiri Fajar yang terbaring lemah dengan beberapa alat yang terpasang ditubuhnya. "Kamu pasti bisa! semangat dek, Azka dan Azkia tengah menunggumu." Bisiknya ditelinga Fajar, ia menangis dalam diam menumpahkan rasa takut yang memenuhi relung hatinya.

"Sedari subuh dia mencarimu terus Zan." Ucap Kartika pelan, tatapannya berpusat pada dua sosok putranya dengan kondisi yang berbeda.

"Mas," Bibir Fajar bergerak. Pria itu membuka mata menatap sang kakak dengan sorot penuh harap.

"Katakan! mau apa? atau mau ikut ke Jakarta saja berobat di sana? ayo kalau mau! nanti siang, besok atau lusa kita berangkat. Mas kapan pun siap yang penting kamu kuat di jalannya." Seru Fauzan antusias, berusaha membangkitkan semangat sang adik satu-satunya. Mereka hanya dua bersaudara, sebab itulah Fauzan begitu menyayangi Fajar. Apapun yang diinginkan sang adik maka ia akan mengabulkannya.

Mendengar ajakan sang kakak, Fajar menggeleng lemah. Pria itu beralih menggenggam tangan Fauzan. "Mas, a-ku su-dah le-lah. Ma-af se-la-ma i-ni se-la-lu me-re-pot-kan mas dan mbak Rena." Ucapnya terbata dengan napas yang mulai tersengal seperti habis melewati tanjakan.

"Jangan berbicara seperti itu! kamu adik mas satu-satunya. Apapun yang kamu minta dan bisa membuat kamu kembali sembuh akan mas lakukan selama mas mampu. Sekarang fokus pada kesehatanmu, bilang mau apa atau berobat dimana? mas akan usahakan." Ucap Fauzan sedikit menaikan nada bicaranya, ia kesal melihat sang adik yang seakan menyerah padahal masih muda dan ada bayi kembar yang masih sangat  membutuhkan sosok Fajar sebagai ayahnya.

Sedangkan di sisi ranjang sebelahnya, Kartika mulai menangis mendengar ucapan Fajar. Meskipun pelan dan terbata, namun ia masih bisa mendengarnya dengan jelas. Mengerti maksud dari semua yang diucapkan putra bungsunya itu.

"Ma-ss, ti-tip si kem-bar d d-dan Sop-phie. Sa-ya-ngi mer re-ka se-per-ti a-nak ma-ss ssen-di-ri. Kas-sih-han ib-bu d-ddan bap-pak sud-dah tu-a. Tol-long ya ma-ss."

Fauzan tersentak saat merasakan genggaman tangan Fajar melemah. Ia menatap wajah sang adik, dadanya semakin tersengal dengan bibir yang terus bergumam seolah tengah mengatakan sesuatu. Melihat itu, Fauzan perlahan melepaskan tangan Fajar kemudian menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.

"Bu, pak!" Seru Fauzan pada kedua orang tuanya yang sontak berdiri saat melihat keadaan Fajar yang terlihat seperti mendengkur dengan bibir yang bergumam.

Melihat itu pak Ikram segera mendekap kepala Fajar, membisikkan do'a disamping telinga sang putra. Air matanya yang sedari tadi mengembun hampir membobol pertahanannya, namun sekuat tenaga ia berusaha menahannya.

Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, ia tahu kondisi apa yang tengah dialami putranya saat ini. Sehingga ia pun perlahan menuntun Fajar mengucapkan kalimat yang membuat Kartika semakin terisak.

"Bu, sebaiknya kita telpon Sophie suruh kesini sekarang juga! si kembar biar dijagain bi Nining." Fauzan merogoh ponsel dari saku celananya kemudian menghubungi Sophia dan meminta adik iparnya itu untuk segera datang ke rumah sakit saat ini juga.

Pintu ruangan terbuka, masuk dua orang dokter bersama beberapa orang perawat yang langsung mengelilingi Fajar dengan beberapa peralatan medis ditangan mereka.

"Tolong keluarga sebaiknya keluar dulu, sekarang!" Ucap salah satu dokter yang berusia sekitar 40 tahunan tersebut. Namun dokter yang lebih tua menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil terus menempelkan sebuah alat ke dada Fajar. Membuat Fauzan memejamkan mata, tidak tega melihat kondisi sang adik yang tengah berjuang.

Tit tit tiiiitttttt

Suara yang berasal dari monitor Elektrokardiogram terdengar bergerak cepat, diakhiri suara pekikan panjang dari arah benda tersebut membuat Fauzan beserta kedua orang tuanya terhenyak. Suara yang berasal dari benda berlayar tersebut memenuhi ruangan, meruntuhkan asa yang berusaha di tinggikan berharap ada keajaiban datang. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan dibuka dari luar menampakkan sosok perempuan muda mengenakan jilbab pastel yang menutupi dadanya.

"Innalilahi Wa Innailaihi Raji'un" Lirih pak Ikram bergetar, menahan tangis. Dunianya seakan runtuh mendapati kenyataan, putra bungsunya kini sudah terbujur kaku dalam dekapannya.

"Mas Fajaarrrr......!" Jerit Sophia setelah sempat terpaku beberapa detik. Perempuan berusia 26 tahun itu menghambur kearah ranjang hendak memeluk jasad Fajar yang sudah terbujur. Namun segera dihalangi oleh Fauzan, tubuh Sophia ambruk di lantai. Menangis tergugu meratapi kepergian sang belahan jiwa yang belum sempat mendengar panggilan ayah dari kedua anak kembar mereka yang kini baru berusia 3 bulan.

"Mas! kenapa kamu menyerah? bagaimana aku dengan si kembar, hiks!" Ratapnya pilu, tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya kedepan tanpa sosok suami. Sedangkan kedua anak kembarnya yang masih bayi belum mengerti apa-apa tentang semua yang terjadi saat ini. Terlebih sosok ayah yang selama ini begitu mencintai mereka telah pergi untuk selama-lamanya di saat mereka berusia tiga bulan.

"Sabar sayang, yang tabah, ikhlaskan! kalian masih ada ibu, bapak dan Fauzan yang akan menyayangi dan merawatmu beserta si kembar." Ucap Kartika disela tangisnya, ia memeluk Sophia dengan erat. Berusaha menegarkan diri untuk menguatkan Sophia.

"Maaf bapak, ibu! jenazah harus segera dipindahkan ke ruang jenazah, supaya bisa diurus secepatnya." Ucap salah satu perawat laki-laki yang baru saja masuk membawa brankar.

"Mas Fauzan, tolong! aku ingin menemui mas Fajar dulu." Seru Sophia disela tangisnya. Perempuan itu berusaha sekuat tenaga bangkit dibantu oleh Kartika.

"Baiklah, tapi jangan nangis. Kasihan kalau sampai almarhum kena air matamu, dia akan berat." Ucap Fauzan lirih seraya menuntun tangan Sophia mendekat kearah Fajar yang sudah ditutupi kain oleh perawat setelah melepas semua alat yang terpasang ditubuh almarhum.

"Kamu menyayanginya?" Tanya Fauzan yang langsung dijawab anggukan Sophia.

"Kalau kamu menyayanginya ikhlaskan dia, supaya tenang." Tambahnya lagi sembari mengusap punggung sang adik ipar yang tengah diapit oleh ibunya. Fauzan berusaha tegar meski sebenarnya hatinya hancur dengan kepergian Fajar di usia yang masih sangat muda.

Setelah beberapa menit, perawat yang sedari tadi berdiri dibelakang Fauzan kembali mendekat. "Permisi bu, maaf kami harus segera membawanya ke ruang jenazah." Ucapnya, membuat Sophia terpaksa harus mundur dan membiarkan jenazah sang suami dibawa untuk segera dimandikan.

Air mata terus mengalir, membasahi wajah cantik Sophia. Tatapannya nanar melihat kearah brankar yang didorong oleh beberapa perawat yang akhirnya menjauh dan hilang dari pandangannya.

"Mas... Mas Fajar." Lirihnya dengan bibir yang bergetar. Pandangannya mulai mengabur bersamaan dengan kakinya yang sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya yang lunglai.

Brukk

"Sophi!"

"Nak!"

Bab. 3

Suasana sore di komplek pemakaman, dengan langit yang mulai menggelap tertutup awan hitam yang bergelung diangkasa. Menjadi saksi beberapa orang yang menunduk larut dalam kesedihan yang mendalam, tepat diatas gundukan tanah merah yang tertutup taburan kelopak bunga setelah pemakaman selesai.

Puluhan orang yang hadir ikut mengantar dan melepas kepergian almarhum Fajar Septian, satu persatu mulai meninggalkan pusara setelah berdo'a dan menyampaikan ucapan duka cita pada keluarga.

Seorang perempuan yang mengenakan pakaian serba putih, sedari tadi masih bersimpuh dengan kedua tangannya yang memegangi papan yang ditancapkan diatas pusara. Tertera keterangan nama dan usia almarhum Fajar suaminya. Dibelakangnya terdapat Renata, Kartika dan Jaenab yang setia menemaninya dalam kebisuan.

Langit pun kian menggelap, dengan gulungan awan yang semakin menghitam pekat. Bahkan kini mulai dihiasi kilatan-kilatan yang saling menyambar, diiringi suara gemuruh yang menggelegar bersamaan dengan rintik-rintik yang mulai turun membasahi tanah.

Membuat Ikram yang berdiri bersisian dengan Fauzan dan juga Wira ayah dari Sophia, beranjak menghampiri istri dan kedua menantunya untuk segera meninggalkan area pemakaman. Mengetahui hujan sebentar lagi akan turun, seolah pertanda langit yang ikut menangis berduka dengan kepergian Fajar.

"Bu, ayo ajak Sophi pulang sekarang! sebentar lagi hujannya pasti semakin deras, kasihan juga si kembar sudah lama ditinggalin." Ucapnya pada Kartika supaya mengajak Sophi pulang. Membuat paruh baya yang sedari tadi menunduk diatas pusara putra bungsunya beringsut menyentuh bahu sang menantu.

"Nak, ayo kita pulang sekarang! besok kita bisa kesini lagi, kasihan si kembar pasti nungguin." Ucap Kartika dengan lembut.

"Ib-bu saja yang pu-lang. Ak-ku mau di sini nem men nin mas Fajar, hiks." Sophi kembali terisak, hatinya hancur saat di paksa harus menerima kenyataan kalau suaminya kini sudah pergi untuk selama-lamanya. Bagaimana ia dan si kembar nantinya, bisakah hidup dan membesarkan anak kembarnya yang kini baru berusia tiga bulan tanpa sosok suami.

Renata yang sedari tadi hanya diam dibelakang Sophia, kini perempuan itu menyentuh bahu istri dari almarhum adik iparnya. "Sophi, jawab pertanyaan mbak. Apa kamu mencintai Fajar?" Tanya nya dengan sorot iba yang langsung dijawab anggukan oleh Sophia sambil terisak.

"Kalau kamu mencintainya, maka ayo kita pulang sekarang. Rawat baik-baik si kembar sebagai bentuk cintamu pada almarhum, karena itu adalah buah cinta kalian yang di tinggalkan almarhum bersamamu. Kamu boleh bersedih karena kami pun merasakan hal yang sama, tapi jangan sampai kesedihanmu itu membuat si kembar terabaikan. Karena itu akan bikin almarhum tidak tenang di sana. Ayo pulang! kami selalu ada untukmu dan si kembar, kamu tidak sendirian."

Tutur Renata penuh perhatian, ia mengerti bagaimana perasaan Sophi, di usia yang masih terbilang muda harus menanggung beban sebagai single parent. Kehilangan belahan jiwa di saat baru saja menikmati momen sebagai orang tua baru bagi si kembar yang berusia tiga bulan bukanlah hal mudah. Sebab itu dirinya akan selalu berusaha menjadi kakak yang selalu ada untuk adiknya, meski Sophia hanya sebagai istri dari almarhum adik iparnya, tapi si kembar tetap keponakan dari suaminya dan ada darah yang sama mengalir ditubuh mereka.

Mendengar penuturan Renata, Sophia bergeming. Netranya kembali pada papan yang bertuliskan nama Fajar, lalu mengusapnya dengan lembut. "Mas, maaf aku pulang dulu kasihan si kembar. Besok aku pasti kesini lagi." Lirihnya hampir tak terdengar diakhiri dengan mendaratkan kecupan di kayu tersebut. Perlahan ia berdiri di bantu Renata yang sedari tadi tak jauh darinya. Semuanya melangkah beringinan kecuali Renata dan Sophia yang berdampingan, perempuan yang berprofesi sebagai bidan itu memapah Sophia penuh perhatian.

Sesampainya di area parkir pemakaman umum tersebut, Renata membawa Sophia kearah mobil mertuanya. "Ayo masuk" titahnya sambil membukakan pintu. Setelah memastikan Sophia masuk, Renata beralih pada Kartika dan Ikram mertuanya. "Bapak duduk di depan saja samping mas Zan, biar ibu dibelakang sama aku dan Sophi." Serunya penuh perhatian.

Titik-titik air semakin deras jatuh menimpa atap mobil, menimbulkan gemuruh di tengah suasana sendu. Fauzan perlahan melajukan mobil meninggalkan tempat pemakaman umum, dimana menjadi tempat peristirahatan terakhir sang adik.

.

.

.

Mobil tiba di pekarangan dua rumah yang berada dalam satu gerbang, Fauzan mematikan mobilnya kemudian ia melihat kearah spion. Menatap sang istri yang sedari tadi terus menenangkan Sophia penuh kasih. "Kita sudah sampai." Ucapnya seraya membuka pintu mobil, kemudian ia beralih membukakan pintu untuk Renata dan Sophia.

"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya nya pada Renata, menatap wajah sang istri yang terlihat sembab. Gurat lelah terlihat jelas di wajah cantik Renata yang berusaha tersenyum menatap kearahnya.

"Baik, cuma sedikit mual. Sebaiknya mas langsung bersih-bersih dan sholat duluan, sudah adzan." Sahut Renata yang baru turun dari mobil, namun ia kembali memapah Sophia dan membawanya masuk ke dalam rumah sang mertua karena arahan dari suaminya. Meskipun rumah almarhum Fajar dan orang tuanya bersisian, namun selama masa duka Fauzan meminta Sophia untuk tinggal bersama kedua orang tuanya.

"Sophi, mbak langsung antar ke kamar ya. Mandi dulu baru nanti megang si kembar, usahakan jangan interaksi dulu sama mereka sebelum membersihkan badan. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja, kami selalu ada untukmu dan si kembar. Ayo!"

"Terimakasih banyak mbak, aku tidak tahu akan seperti apa kalau enggak ada mbak sama mas Zan." Lirih Sophia kembali terisak, ia berdiri di depan pintu kamar mandi menatap sendu Renata. Sorotnya memancarkan kesedihan yang mendalam.

"Kamu adik mbak, tidak ada seorang kakak yang akan membiarkan adiknya sendirian dalam kondisi apapun." Sela Renata mengusap punggung Sophia, tanpa mereka sadari Kartika berdiri menatap keduanya dengan mata  berkaca-kaca.

Perlahan perempuan paruh baya itu menghampiri kedua menantunya. Ia memeluk keduanya dari belakang membuat Renata dan Sophia menoleh secara bersamaan.

"Ibu!" panggil keduanya serempak.

"Kalian perempuan hebat. Rena, terimakasih banyak sudah menjadi menantu ibu yang menyayangi Sophia. Ibu harap semua ini sampai nanti dan kamu tetap menyayangi Sophia dan si kembar seperti menyayangi anakmu sendiri dan Fauzan. Ibu hanya punya kalian, dan kamu Sophi. Sampai kapanpun kamu tetap menantu ibu dan jangan pindah dari sini apalagi memisahkan si kembar dengan ibu, ibu enggak bisa membayangkan bagaimana mana ibu harus menghabiskan masa tua tanpa mereka."

Ucap Kartika disela isakannya, ia dan Sophia kembali menangis tersedu sambil berpelukan. Sedangkan Rena yang berada diantara mereka hanya mengusap sudutan matanya yang mengembun, namun kata-kata Kartika seperti ambigu buat dirinya.

Tak ingin larut dalam pemikiran dan kesedihan dua perempuan beda generasi yang masih berada dalam pelukannya. Renata bersuara, "Sophi, sebaiknya cepetan bersih-bersih nanti keburu si kembar kehausan." Ucapnya seraya menarik tangannya dari tubuh sang mertua dan istri almarhum adik iparnya.

"Ibu, ayo aku antar ibu ke kamar."

"Ibu mau lihat si kembar dulu, Re." Sahut Kartika kemudian melangkah menuju kamar dimana si kembar berada bersama pengasuhnya.

"Ibu usahakan jangan sampai menyentuh si kembar dulu, ibu habis dari pemakaman belum bersih-bersih." Ucap Renata kembali mengingatkan dan langsung diangguki oleh Kartika.

.

.

.

Malam harinya sekitar pukul setengah sembilan, acara tahlilan baru selesai dilaksanakan. Para tamu yang di dominasi oleh bapak-bapak satu persatu pulang dengan membawa bingkisan sebagai tanda terimakasih. Dan kegiatan tersebut akan berlangsung sampai hari ke tujuh kepergian almarhum Fajar.

Setelah para tamu pulang semua, rumah dengan dua ruangan yang dikosongkan kembali sepi meski ada beberapa kerabat yang memilih menginap atas permintaan Ikram dan Kartika. Suasana duka kian terasa saat beberapa sosok terdiam dalam keheningan yang mencekam. Duka mendalam tak hanya dirasakan oleh Sophia, istri dari almarhum Fajar. Namun juga seluruh keluarga merasa kehilangan sosok muda nan bersahaja tersebut, terlebih Kartika ibunya yang sampai saat ini masih sering mengeluarkan airmata menangisi kepergian almarhum putra bungsunya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!