Pagi itu, matahari belum naik tinggi ketika alarm ponsel berbunyi nyaring. “Ulangi bersama aku : uang tidak akan datang kalau kamu terus tidur. Ayo bangun dasar manusia malas!”
Begitulah bunyi alarm ponsel nya yang tiap pagi berbunyi di kamar gelap nya. Sayangnya sang empunya selalu menghiraukan suara serak-serak bosok itu.
“Ugh… lima menit lagi… Oke?” gumam Jiao Lizhi, menggulung diri di balik selimut tebal. Rambut hitamnya berantakan, wajah cantiknya tertutup setengah bantal, tangan kanannya bergerak malas menekan tombol snooze. Tapi alarm tak menyerah. Lima kali snooze, lima kali juga suara itu kembali meraung.
Akhirnya Jiao Lizhi menyerah. “Oke, oke! Aku bangun! Kau menang, benda sialan!” serunya sambil menendang selimut. Dengan langkah gontai, Jiao Lizhi menuju kamar mandi. Lantai dingin membuatnya meringis. “Uh dingin sekali hari ini. Hey, bukankah hari ini sedang libur, kenapa aku terbangun. Huft!”
Di depan cermin, Jiao Lizhi menatap bayangannya. Wajah itu cantik dan tegas, tapi lingkar mata gelap menandakan malam-malam lembur. “Agen rahasia apa ini... lebih mirip zombie kelelahan,” ucapnya pelan, mengikat rambutnya ke atas.
Ia mengambil sikat gigi dan pasta gigi, mengambil cangkir dan di isi nya dengan air. Lalu berjalan ke luar kamar menuju ke dapur.
Sembari menggosok gigi, Jiao Lizhi menyalakan televisi kecil di dapur. Suara lembut penyiar berita gosip mengalun, menyiarkan skandal artis ternama.
“Aktor papan atas Jiang Yue terlihat keluar dari hotel mewah bersama seorang wanita misterius.”
Gagang sikat gigi hampir terpeleset dari tangan Jiao Lizhi. “Ah! Aku tahu, kan! Kemarin juga sudah kelihatan tanda-tandanya. Lihat saja ekspresi Jiang Yue waktu wawancara! Pasti ada sesuatu di balik itu! Sudah ku dugem.” gumamnya dengan penuh semangat.
Setiap pagi, gosip selebriti menjadi vitamin utama bagi Jiao Lizhi. Entah artis, politisi, bahkan gosip ringan tentang selebritas luar negeri, semua diserapnya dengan gairah. “Gosip itu bukan cuma cerita,” katanya sering kali membela diri. “Gosip itu refleksi karakter manusia. Siapa tahu berguna di lapangan nanti.”
Sambil mendengarkan suara televisi, Jiao Lizhi kembali ke kamar mandi untuk melakukan aktivitas kecilnya.
Selesai mandi dan berdandan sederhana, Jiao Lizhi mengenakan hoodie abu-abu dan celana pendek santai. Ia membuka kulkas, melihat isinya kosong kecuali telur, susu, dan saus tomat. “Ya ampun, hidup macam apa ini. Agen rahasia elit, uang banyak tapi sarapan cuma telur goreng.” desahnya.
Bagaimana tidak, meskipun uang nya banyak, ia bahkan belum sempat menikmati nya, karna kesibukannya. Bahkan hari libur pun kadang ia harus tetap bekerja karna mempunyai misi darurat, hingga berbelanja pun sangat sulit ia lakukan.
Tiga menit kemudian, aroma telur dan kopi hitam memenuhi ruangan. Jiao Lizhi duduk di kursi tinggi dekat meja bar sambil membuka tablet. Layar menampilkan portal berita online, bagian hiburan, tentu saja.
“Skandal baru di kementerian keuangan? Ia terciduk kamera berpelukan dengan seorang wanita? LC?”
“Ahaha! Bahkan pejabat juga manusia, toh. Hm, ini menarik…” gumam Jiao Lizhi sambil mengunyah telur.
“Tapi serius, siapa pun yang bocorin info ini pasti hebat. Pasti wartawan itu punya koneksi dalam.”
Suara tawa kecil keluar dari bibirnya, tapi hanya berlangsung sebentar sebelum ponselnya bergetar dengan nada dering berbeda, suara khusus dari atasannya. Wajah Jiao Lizhi langsung berubah. Alis nya kini seperti pedang, dna mengkerut hingga kedua alis nya menyatu. Tangan yang tadinya santai kini terangkat cepat, menekan tombol jawab.
“Hallo, Komandan,” ucap Jiao Lizhi datar.
Suara di ujung telepon terdengar rendah dan tegas. “Agen 27, ada misi darurat.”
Agen 27 merupakan nama untuk Jiao Lizhi bekerja sebagai agen profesional.
“Artefak kuno dari museum nasional dicuri semalam. Kami menduga pelakunya adalah sindikat internasional yang beroperasi di Asia Timur. Kau tahu apa artinya.”
“Sektor bayangan?”
“Benar. Kami butuhmu segera. Lokasi dan data dikirim ke sistemmu. Waktu persiapan: dua jam.”
Jiao Lizhi berdiri dari kursi, ekspresinya benar-benar berubah. Wajah yang tadi malas dan ceria kini dingin dan penuh fokus. Suaranya tenang, tapi tajam seperti bilah pisau.
“Perintah diterima. Aku berangkat dalam waktu satu jam.”
Begitu panggilan berakhir, suasana ruangan seolah berubah total. Televisi masih menayangkan gosip, tapi Jiao Lizhi sudah tak memperhatikan lagi. Ia berjalan ke kamar, membuka lemari tersembunyi di balik rak buku. Sebuah sistem keamanan retina memindai matanya, lalu rak itu terbuka perlahan.
Di dalamnya terdapat perlengkapan misi: pakaian serba hitam, sarung tangan, pistol kecil, dan beberapa alat elektronik berteknologi tinggi. Di dinding terdapat deretan foto, peta dunia, beberapa kulit manusia, rambut untuk penyamaran dan catatan tentang sindikat yang pernah ia hadapi.
Jiao Lizhi menghela napas pelan, mengenakan sarung tangan. “Artefak kuno, ya… benda semacam itu selalu membawa masalah.”
Tapi sebelum sepenuhnya bersiap, ponselnya berbunyi lagi. Nama di layar, Lin You, teman dekat sekaligus rekan satu tim, sayangnya ia mendapatkan misi lain.
“Lizhi! Aku dengar kau dapat misi baru. Tolong hati-hati, ya. Katanya yang terlibat bukan cuma pencuri biasa.”
“Aku selalu hati-hati,” jawab Jiao Lizhi, memasukkan pistol kecil ke sarung paha.
“Kau tahu maksudku.”
“Lin You, ini tugasku. Aku bisa tangani.”
“Aku tahu. Tapi... hanya ingin bilang, jangan mati, oke?”
Hening sejenak. Mata Jiao Lizhi memantulkan cahaya dingin dari lampu kamar. “Tenang saja. Aku belum sempat menikmati hidup.” katanya, tersenyum samar.
Lin You tertawa kecil. “Baiklah.”
Panggilan terputus.
Dalam diam, Jiao Lizhi memeriksa perlengkapan, menaruh pisau kecil di sepatu bot, dan menatap dirinya di cermin. Rambut panjang yang tadi berantakan kini diikat ketat ke belakang. Make-up sederhana dihapus, digantikan oleh garis tegas dan dingin di wajah dengan mata tajam dan aura mematikan.
Namun sebelum keluar, pandangan Jiao Lizhi terhenti pada layar televisi yang masih menyala. Penyiar berita tengah membaca laporan tentang kebakaran misterius di distrik utara, lokasi yang kebetulan sama dengan tempat artefak itu terakhir terdeteksi.
“Kebetulan sekali!”
Ia mematikan televisi, memasukkan earcom ke telinga, lalu melangkah keluar apartemen. Begitu pintu tertutup, suasana di luar berubah. Dunia modern terasa begitu bising, tapi Jiao Lizhi menapakinya dengan langkah pasti.
Jiao Lizhi berjalan melangkah hingga berhenti di depan lift. Jemarinya menekan tombol turun, dan denting lembut terdengar tak lama kemudian. Pintu logam terbuka, memperlihatkan ruang kecil dengan pencahayaan lembut warna biru dingin.
Setelah Jiao Lizhi masuk, ia menekan tombol tutup. Tapi ia tidak menekan tombol lantai berapa ia akan turun. Sebaliknya, ia menoleh ke sisi berlawanan, ke arah dinding polos. Di sana, ada celah samar yang nyaris tak terlihat oleh mata biasa.
Jiao Lizhi merogoh saku, mengeluarkan kartu hitam berlapis chip perak, dan menempelkannya ke bagian dinding itu.
Bip.
Nada singkat terdengar.
Sekejap kemudian, dinding itu perlahan bergeser, menampakkan pintu logam lain yang lebih tebal dengan simbol “Λ-09” terpampang samar di atasnya.
Tanpa ragu, Jiao Lizhi melangkah masuk. Begitu tubuhnya sepenuhnya masuk ke ruang lift rahasia itu, pintu menutup rapat di belakangnya. Suara mekanik halus terdengar, disusul getaran lembut ketika lift bergerak turun.
Ia menyandarkan punggung pada dinding logam dingin, memejamkan mata sebentar.
“Harusnya hari ini aku tidur seharian, huft bekerja lagi.. Bekerja lagi!” keluhnya dalam hati.
Di dalam lift, layar kecil di atas pintu menyala, menampilkan logo lembaga tempatnya bekerja:
Division 9 – Phantom Unit.
Sebuah suara mekanik halus terdengar, “Identitas: Agen 27, Jiao Lizhi. Misi aktif. Otorisasi diterima.”
Lampu hijau berkedip.
Lift berhenti dengan ding lembut, lalu pintu terbuka menuju ruang bawah tanah luas.
Tempat itu menyerupai hanggar rahasia, diterangi lampu putih dingin. Deretan mobil hitam matte terparkir rapi; di sudut lain tampak meja operasi senjata dan layar monitor besar yang menampilkan peta digital kota. Beberapa agen lain lewat dengan langkah cepat, sebagian masih mengenakan pakaian tempur, sebagian lagi memeriksa perlengkapan.
Jiao Lizhi berjalan lurus, langkahnya tenang namun tegas. Begitu salah satu agen pria melihatnya datang, ia menegakkan tubuh.
“Agen 27, misi darurat tingkat B. Koordinat dikirim langsung ke sistem kendaraanmu.”
Jiao Lizhi hanya mengangguk tanpa banyak bicara.
Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara saat ia menuju mobil hitam yang sudah menunggu di dekat pintu keluar. Mobil itu tampak biasa dari luar, tapi interiornya seperti kokpit pesawat mini, layar data, panel kontrol otomatis, dan peta holografik.
Begitu ia duduk di kursi pengemudi, sabuk pengaman otomatis melilit tubuhnya, dan layar di depan menyala.
“Koordinat target: Distrik Utara, sektor bekas gudang arkeologi. Waktu tiba: tujuh menit.”
“Jalankan mode senyap,” ujar Jiao Lizhi singkat.
“Perintah diterima.”
Suara mesin bergemuruh pelan. Mobil meluncur keluar dari tempat bawah tanah, menembus jalan rahasia yang berkelok sebelum akhirnya muncul di jalan umum kota yang sibuk.
Berjejer toko dan kafe di depan. Jiao Lizhi menatapnya sebentar, matanya tanpa emosi. Tapi bibirnya terangkat sedikit, bukan karena kesenangan, melainkan karena sesuatu yang lain, sebuah refleks yang terbentuk dari kebiasaannya mendengarkan gosip.
“Gudang arkeologi, ya?” gumam Jiao Lizhi pelan. “Tempat yang katanya dikutuk itu? Kalau rumor internet benar, setiap orang yang masuk ke sana dalam seminggu terakhir mati tanpa sebab… huh, menarik.”
Nada suaranya datar, tapi matanya berkilat dingin. Ia menyalakan saluran komunikasi, suaranya berubah datar dan tegas.
“Agen 27 melapor. Dalam perjalanan ke lokasi. Mohon data pendukung.”
Suaranya di ujung lain terdengar berat. “Kami kehilangan dua agen di dalam. Sensor panas menunjukkan ada pergerakan tidak dikenal. Prioritas utama: amankan artefak. Ingat, itu bukan benda biasa.”
“Diterima,” jawab Jiao Lizhi singkat.
Mobil melaju cepat, meninggalkan pusat kota yang penuh orang beraktivitas dan menuju pinggiran yang gelap dengan pohon menjulang tinggi. Semakin jauh dari kota, semakin gelap jalan itu, hingga akhirnya hanya sinar lampu mobil yang menembus kabut.
Dalam kesunyian itu, Jiao Lizhi menatap foto digital yang muncul di layar, Sebuah artefak kecil berbentuk giok biru, dihiasi ukiran aneh seperti bulan sabit dan awan.
Ia menatap lama, alisnya sedikit berkerut. “Giok bulan biru…” bisiknya. “Kenapa selalu batu aneh seperti ini yang dibuat misi. Mana harusnya aku sedang libur.”
Mobil berhenti di depan area gudang yang telah dipasangi garis larangan. Beberapa kendaraan tim Phantom sudah parkir tak jauh dari sana.
Kabut menggantung rendah, menyelimuti reruntuhan gudang arkeologi tua.
Bau logam terbakar dan debu memenuhi udara, seperti sisa ledakan kecil yang baru saja terjadi.
Langkah Jiao Lizhi nyaris tak terdengar saat ia menapaki puing-puing beton retak. Senter kecil di senjatanya menyorot ke depan, memantulkan bayangan panjang di dinding yang hancur.
“Tim Phantom? posisi?” tanyanya pelan di alat komunikasi.
Tak ada jawaban. Hanya suara desir angin yang memantul di dinding kosong.
Wajah Jiao Lizhi menegang. “Sial. Semua sinyal terputus.”
Ia bergerak lebih dalam. Hanya cahaya lampu kilat dari senter dan derit baja yang roboh yang menemani langkahnya.
Beberapa detik kemudian, sebuah suara klik kecil terdengar di belakangnya.
Refleks cepat, Jiao Lizhi berputar sambil menodongkan pistol. “Keluar.”
Bayangan bergerak di balik tumpukan peti logam. Lalu tiga orang muncul, berpakaian serba hitam dengan masker setengah wajah, bersenjata laras pendek.
Salah satu dari mereka tertawa rendah. “Sepertinya keberuntungan ada di pihak kita. Si cantik Agen 27 datang sendiri.”
Jiao Lizhi mengangkat alis. “Sayang sekali. Aku datang bukan untuk main sandiwara.”
“Serahkan artefaknya,” ujar pria paling depan, suaranya dingin.
“Artefak?” Lizhi tertawa kecil. “Aku bahkan belum menemukannya. Tapi kalau kalian mau mati, silakan cari bersamaku.”
Tanpa aba-aba, peluru pertama melesat.
Jiao Lizhi menunduk cepat, berguling ke belakang peti logam. Dentuman peluru memantul di dinding baja, menghasilkan suara nyaring.
Dengan satu gerakan gesit, ia menendang peti besar hingga meluncur ke depan, menabrak salah satu penyerang.
Brak!
Orang itu terhempas dan senjatanya terlepas.
Dua penyerang lainnya bergerak maju. Jiao Lizhi melompat ke sisi kiri, menembak dua kali.
Bang! Bang!
Satu peluru mengenai bahu, satu lagi menembus lutut musuh.
Tapi pria ketiga lebih cepat. Ia menembakkan peluru jarak dekat.
Jiao Lizhi menangkis dengan pisau lipat kecil yang diselipkan di sarung tangannya. Percikan api memantul di udara.
“Gerakanmu lambat,” ejek Lizhi dengan senyum sinis.
Dalam satu gerakan melingkar, ia menendang lutut lawan, lalu menghantam pelipisnya dengan gagang pistol.
Pria itu ambruk seketika.
Napas Lizhi teratur meski peluh menetes di pelipis. “Aku sudah bilang, jangan ganggu wanita cantik ini. Bagaimana kalian meminta barang itu padaku, sedangkan aku saja baru tiba. Huft!”
Tiba-tiba suara berderak terdengar dari langit-langit. Sebuah benda logam besar jatuh dan dari balik asap tebal, muncul lima orang lagi, berpakaian lebih berat dengan perlengkapan tempur canggih.
Mereka jelas bukan preman biasa.
“Unit Bayangan,” gumam Lizhi. “Hebat, sampai kirim kalian juga. Apa mau mu?”
Pemimpin kelompok itu maju satu langkah. “Kami tidak ingin bertarung, wanita cantik. Berikan artefak itu. Itu bukan milik lembagamu.”
Lizhi menurunkan pistol perlahan. “Kalau begitu ambil saja.”
Senyumnya tipis.
Saat salah satu dari mereka maju, Jiao Lizhi melempar granat kilat kecil dari balik pergelangan tangan.
BLAM!
Ledakan cahaya menyilaukan seluruh ruangan. Dalam sepersekian detik itu, ia bergerak cepat seperti bayangan.
Menyerang dari samping, mematahkan lengan lawan, memutar tubuh, menendang dada pria lain hingga terpental ke dinding.
“Jangan remehkan agen yang tidur hanya tiga jam semalam!” serunya.
Tiga lawan tersisa mulai menembak membabi buta. Jiao Lizhi berlindung di balik pilar, menembak balasan dengan presisi tinggi.
Satu jatuh. Dua lagi terpukul mundur.
Suasana hening kembali. Musuh mati semua. Asap mesiu perlahan menghilang.
Namun di tengah reruntuhan itu, Lizhi merasakan sesuatu yang aneh.
Udara bergetar, seperti ada medan energi yang hidup.
Ia menatap sekeliling, lalu matanya terpaku pada sebuah reruntuhan altar batu di ujung ruangan.
Cahaya biru lembut memancar dari celah batu yang retak.
Giok itu berkilau, pucat seperti bulan, tapi di dalamnya tampak pusaran cahaya seolah hidup.
“Hallo, kapten! Aku telah menemukannya!”
Langkah Jiao Lizhi mendekat perlahan. Suara elektronik di komunikatornya berderak, tapi tidak ada suara jawaban disana, kemudian mati total.
Angin dingin berhembus meski tak ada ventilasi, Lizhi langsung mengulurkan tangannya pada artefak itu.
Tubuh Jiao Lizhi terangkat di udara, dikelilingi pusaran cahaya biru. Rambutnya berhamburan, matanya melebar saat sekelilingnya berubah menjadi kekosongan bercahaya.
Seketika, semuanya lenyap.
Hening.
Gelap.
Yang tersisa hanyalah selembar bulir debu di udara
Ia menyentuh permukaan giok itu. Seketika, ledakan cahaya biru menyelimuti gedung.
Cahaya matahari menembus tirai sutra berwarna gading, memantulkan siluet lembut di dinding kayu berukir burung dan bunga. Aroma cendana menguar samar di udara, bercampur dengan wangi bunga peoni yang baru dipetik.
Langit-langit ruangan tinggi, dihiasi lukisan awan keemasan dan bintang perak yang tampak berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Di tengah ranjang besar berhias tirai merah muda, seorang gadis perlahan membuka matanya.
Kelopak matanya bergerak pelan, pupilnya menyesuaikan cahaya.
Rasa sakit berdenyut di pelipisnya. “Ugh... kepalaku... di mana ini?” gumamnya serak.
Ia berusaha duduk, namun tubuhnya terasa lemah. Pakaian di tubuhnya bukan seragam hitam agen seperti sebelumnya, melainkan jubah sutra tipis berwarna biru muda dengan bordiran awan perak di ujung lengan.
Tangannya kecil. Kulitnya pucat dan lembut.
Semua terasa asing.
“Bukankah tadi aku sedang di gedung?”
Ia mengerutkan alis. “Dan cahaya biru itu... batu artefak... di mana batu itu?”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, tiba-tiba rasa pusing hebat menyerang.
“Ah!”
Gadis itu memegangi kepala.
Dalam sekejap, gelombang memori asing berputar cepat di benaknya.
Bayangan demi bayangan menabrak pikirannya, seorang wanita berwajah lembut menangis di sisi ranjang, seorang pria berseragam pejabat dengan mata merah menatapnya dengan iba, seorang laki-laki tampan menatapnya dengan mata berair disudut matanya, lalu bisikan para wanita dengan pakaian yang lebih sederhana.
Potongan ingatan lain datang, namanya sama: Jiao Lizhi, anak perempuan dari Perdana Menteri Jiao Wenqing, tokoh penting di pemerintahan Dinasti Lanyue.
Tubuh aslinya berusia empat belas tahun, lembut, cerdas sejak kecil, namun setelah jatuh ke kolam istana sejak umur 10 tahun, ia menjadi berbeda.
Terkadang tertawa sendiri, terkadang berbicara dengan bunga di taman, terkadang menatap langit sambil menangis. Dan jika diajak bicara, terkadang tidak nyambung.
Namun meskipun seluruh kerajaan menganggapnya aneh, keluarganya tetap menyayanginya.
Karena kesehatannya yang memburuk, keluarga nya membawanya kesebuah kuil. Dan sejak itu, Jiao Lizhi tidak pernah keluar rumah.
Jiao Lizhi dewasa, yang kini berada dalam tubuh itu tertegun.
“Jadi... aku melintasi waktu? Ke Dinasti Lanyue, dengan nama dan wajah yang sama?” pikirnya.
Lan (瀾) berarti ombak, Yue (月) berarti bulan.
Sebuah Dinasti fiksi yang jelas tidak ada dibuku sejarah tempatnya berada sebelumnya.
Saat ini tubuhnya sangat lemah karena tubuh asli ini baru tenggelam di kolam, dan jiwa nya telah mati dan digantikan oleh Jiao Lizhi zaman modern.
Dinasti ini merupakan dinasti terbuka dimana bukan hanya laki-laki yang menjadi pejabat, perempuan juga bisa. Tapi bedanya perempuan masih terbatas dan tidak dianggap. Saat ini perempuan hanya bisa berdagang dan menjadi prajurit, itupun hanya bisa dihitung jari. Untuk menjadi pejabat pemerintahan, belum ada.
Jiao Lizhi menggelengkan kepalanya, ia mendesah dalam hati, “Oh tidak disini tidak ada TV, internet, ponsel.. Oh tidak.. Gosip ku!!!”
Ding!
Nyaring terdengar di telinganya. Suara elektronik yang sama sekali tidak cocok dengan dunia kuno ini. Ia melihat kanan kiri atas bawah, tidak ada seorang pun di depannya.
[Kunci ‘Gosip’ terbuka. Selamat datang, Tuan Rumah! Anda telah mengaktifkan Sistem Gosip versi 1.0!]
“Eh?!” Lizhi membeku, menoleh kanan kiri. “Siapa itu?!”
Suara itu terdengar lagi, ramah tapi agak sinting.
[Selamat datang di sistem gosip universal. Saya asisten Anda, Gu-Gu! Sistem ini akan membantu Anda menerima informasi bahkan yang bersifat rahasia di dunia ini dan akan ada hadiah !]
“Hadiah?” Lizhi mengerutkan alis. “Aku baru mati di dunia modern gara-gara misi, dan sekarang malah dapat sistem gosip?”
[Benar! Setiap gosip bernilai poin dan akan ada hadiah tersembunyi setelah mencapai poin maksimal.]
Lizhi mendengus. “Aku tidak butuh itu. Aku cuma ingin rebahan, makan makanan enak, dan hidup damai bersama keluarga kaya yang menyayangiku. Di kehidupanku dulu, aku bahkan belum sempat menikmati uang yang kuhasilkan. Disini, aku akan menghabiskan uang keluarga baruku dengan santai. Hahaha. ”
[Apakah Tuan Rumah menolak misi?]
“Ya. Aku menolak semua bentuk kerja keras. Terima kasih.”
[Jika tuan rumah menolak misi, maka akan ada hukuman!]
“Hah? Hukuman? Ada yang begitu? Oh ayolah, aku hanya ingin hidup senang-senang dan rebahan disini. Oke?”
[Tidak bisa tuan rumah, apakah Tuan Rumah tidak ingin terlihat selalu cantik, lembut dan mempesona?]
“Bukankah sekarang aku masih muda? Hey lihatlah kulitku yang putih bersih.”
[Sebentar lagi kulitmu akan terlihat coklat, dan tak menarik! Dan tuan rumah akan lemah lagi.]
“Tidak mau, sebentar aku lihat dulu di cermin.”
Jiao Lizhi mengambil sebuah kaca perunggu yang berada di kasur nya. Wajah ini sangat cantik, kulitnya sangat lembut dan halus, rambutnya hitam, halus dan lembut, mata nya sangat cerah. Tampilan ini sangat berbeda dengan Jiao Lizhi di zaman modern yang mempunyai otot lengan, perut dan beberapa tempat lainnya.
“Khem, baiklah. Tapi, izinkan aku beberapa hari ini libur bekerja dahulu.”
Sang sistem mendengar ucapan tuan rumah nya sangat bingung, emang ada hari libur untuk makan melon?
“Kau tahu, Gu gu, aku baru disini, fisikku sangat lemah dan kau lihat, tubuhku masih sangat lemah.” sedihnya.
Gu gu mendengar itu sangat ingin memutar wajahnya, eh sistem nya mana ada wajah. Meskipun terlihat tubuh nya lemah, terlihat sekali tuan rumah nya ini masih memiliki kekuatan yang sangat mampu. Hanya malas saja.
Suara langkah lembut terdengar di lantai kayu.
Pintu berukir terbuka perlahan, menimbulkan bunyi derit halus.
Seorang gadis muda melangkah masuk sambil menenteng nampan kayu. Ia mengenakan pakaian pelayan berwarna hijau pucat.
“Nona Muda...?” panggilnya pelan, nyaris berbisik. “Anda sudah bangun?”
Jiao Lizhi menoleh dengan sedikit kaget, melihat gadis itu menatapnya dengan ekspresi antara takut dan tak percaya.
“Hem, ya... aku sudah bangun,” jawab Lizhi tenang sambil menyesuaikan duduknya di ranjang besar yang dihiasi tirai merah muda.
Ia mencoba tersenyum, tapi wajah pelayan itu malah memucat seolah baru melihat hantu.
“Nona... Anda... Anda bisa menjawab?” Suara Cui bergetar, matanya melebar.
Dialah Cui, salah satu pelayan setianya dari kecil hingga otaknya tak waras masih menemani nya sampai saat ini.
Lizhi menatap bingung. “Kenapa? Apakah aku tidak boleh menjawab?”
Cui menatapnya lama, lalu air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Nampan di tangannya bergetar, hampir terjatuh. Ia segera berlutut di samping ranjang sambil terisak.
“Hamba... hamba kira hamba tak akan mendengar suara Nona lagi...” Air matanya menetes di lantai kayu, menimbulkan titik-titik basah.
Lizhi berkedip, merasa kepalanya berdenyut pelan. “Eh? Kenapa kau menangis seperti ini? Aku cuma tidur sedikit lama, bukan mati, kan?” katanya pelan, mencoba bercanda.
Cui menggigit bibir, menatap wajah majikannya yang kini tampak berbeda, tatapannya jernih, suaranya tenang, bukan seperti Nona Muda yang biasanya berbicara pada bunga atau tertawa tanpa sebab. Seperti Nona Muda nya dahulu sebelum kecelakaan itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!