Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Rahasia Sang CEO

SAH

“Sah!”

“Sah!”

Suara itu menggema saling bersahutan di aula pertemuan balai desa Cimara.

Di hadapan seorang pemuka agama yang menikahkan mereka dan sebagian besar warga desa, Alan dan Tara terdiam kaku. Tak ada sedikitpun senyum di wajah meraka, hanya kesunyian yang terasa menyesakkan di antara bisik-bisik warga.

Tara menunduk dalam, jemarinya menggenggam ujung selendang putih yang menjuntai panjang dari kepalanya erat-erat. Ia bahkan belum benar-benar memahami apa yang barusaja terjadi, bahwa dalam hitungan menit hidupnya berubah. Dari Tara yang tak sampai satu jam lalu masih berstatus single, kini telah berubah menjadi istri seseorang yang bahkan baru ia ketahui namanya kemarin hari.

Alandra Hardinata, pria yang ia temukan tergeletak pingsan dengan banyak luka di pinggiran hutan itu entah berasal dari mana, ia sendiri belum sempat bertanya.

Sementara di sampingnya, Alan yang barusaja mengucapkan kalimat penerimaan atas pernikahan itu tampak memejamkan mata. Baginya ini terlalu cepat, terlalu mendadak. Ia tak pernah membayangkan akan terikat dalam pernikahan seperti ini, apalagi dengan gadis yang bahkan belum genap ia kenal dalam sehari.

‘Sial!’ batinnya mengumpat.

“Ananda berdua...” suara pemuka agama memecah keheningan. “Penikahan bukan hanya tentang sah di mata agama dan adat. Ini tentang menjaga marwah diri, tentang tanggung jawab yang kelak akan ditanya. Apapun yang melatarbelakangi peristiwa ini, anggaplah sebagai ujian. Aib dapat ditutupi dengan kesungguhan untuk memperbaiki, bukan dengan kebencian.”

Kata-kata “aib” itu seperti sebilah pisau tajam yang menghujam dada Tara, membuat matanya memanas. Memangnya aib seperti apa yang sudah ia lakukan? Apakah menolong orang lain yang sedang menderita adalah aib? Batinnya bertanya.

Tara masih tak mengatakan apapun, ia lebih memilih menundukkan kepalanya lebih dalam saat air matanya meluncur melewati pipinya yang pucat tanpa mampu ia bendung.

Pemuka agama lalu menutup acara malam itu dengan do’a. Arif, ayah Tara membantu putri semata wayangnya itu berdiri. Sementara Alan, meski tubuhnya masih terasa sakit akibat luka-luka di tubuhnya tetap berusaha berdiri sendiri.

Tak seperti lazimnya sebuah pesta pernikahan, para warga desa yang tadinya berkerumun dan ikut menyaksikan prosesi itu sama sekali tak berinisiatif untuk menyalami atau mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Yang ada justru mereka mencibir dan mengolok, membuat dada Tara semakin sesak. Ingin sekali gadis itu segera menghilang dari pandangan semua orang.

Sedangkan Alan, pria itu hanya berdiri kaku di tempatnya, tatapannya begitu dingin mengarah ke kerumunan para warga.

Malam sudah semakin larut saat warga mulai bubar meninggalkan balai desa, menyisakan Arif beserta putri dan menantu dadakannya.

Arif menepuk pundak Tara lembut. “Ayo pulang, Tara,” ujarnya lirih.

Tara mengangguk. Ia lalu meraih lengan Alan dan membantu pria itu berdiri. Selanjutnya Tara memapah Alan menuruni anak tangga balai desa, sementara Arif mengikuti keduanya dari belakang dengan tatapan sendu. Ia masih belum sepenuhnya rela melihat nasib Tara jadi seperti ini.

Ketiganya melangkah pelan menyusuri jalanan setapak yang hanya bermandikan cahaya lampu jalan yang remang menuju rumah mungil peninggalan orang tua Arif yang jaraknya sekitar satu kilometer dari balai desa itu.

Dari kejauhan mereka bisa melihat beberapa pemuda sedang nongkrong sambil bercengkrama di pertigaan jalan.

“Tahu murahan, kemarin dah ku booking duluan.” Celetuk seorang pemuda yang kemudian disusul tawa cekikikan teman-temannya.

“Iya, penampilan saja yang sok polos” timpal yang lain. “Eh tak tahunya...”

“Makanya jangan tertipu sama penampilan. Wajah kalem belum tentu wanita suci.”

Langkah Arif sontak terhenti. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal kuat. Andai Tara tidak segera menahan lengannya, mungkin ia sudah menghampiri para pemuda itu dan menghajar mereka.

“Ayah, jangan. Biarkan saja,” ujar Tara dengan suara lirih, membuat Arif memejamkan mata untuk meredam bara yang menyala di dadanya.

Sementara Alan, pria itu hanya menatap taja ke arah segerombolan pemuda itu. Wajahnya yang terlihat masih pucat tak mampu menyamarkan sorot matanya yang menusuk seperti belati tajam. Andai kondisi tubuhnya tidak seperti sekarang, mungkin malam itu tak akan berakhir damai untuk mereka.

Tanpa sepatah kata, ketiganya melanjutkan langkah, meskipun di belakang sana para pemuda itu masih saja mencibir mereka.

Saat mereka telah masuk ke dalam rumah, Arif menatap Tara lalu beralih pada  Alan yang tak mampu berdiri sendiri dengan tegak.

“Ajak dia ke kamar, Tara. Dia masih harus istirahat. Luka-lukanya itu bahkan masih basah.”

Tara mengangguk pela, “Baik, Yah.”

“Jangan lupa ganti perbannya. Dia juga harus minum obat,” imbuh Arif berusaha tetap tenang, berusaha menyembunyikan hatinya yang hancur.

“Iya, Yah.”

Sebelum berbalik ke kamarnya sendiri, Arif sempat menatap punggung Tara yang tengah memapah Alan menuju ke kamar yang sejak kemarin ditempati oleh lelaki itu.

Hatinya berdenyut nyeri, namun Arif berusaha tetap tegar. Dalam hati ia berkata, ‘Tuhan tahu bahwa semua ini bukanlah dosa, melainkan sebuah keterpaksaan.’

Begitu keduanya tiba di kamar, Tara membantu Alan duduk di tepian dipan kayu iliknya. Punggung pria itu bersandar pada dinding sedang kedua kakinya selonjoran di atas kasur tipis.

Tara menghela napas panjang sebelum tangannya meraih kotak berisi obat-obatan Alan yang ia dapatkan dari mantri setempat. Dengan gerakan hati-hati ia mulai membersihkan luka di bahu Alan dengan kapas basah.

Alan meringis kecil menahan nyeri setiap kali kapas itu menyentuh kulitnya yang masih mengeluarkan darah tipis.

“Kalau sakit bilang, Kak,” gumam Tara menoleh sebentar kepada Alan sebelum kembali menunduk.

Alan tersenyum miring. “Sudah cukup banyak rasa sakit hari ini. Tambahan sedikit bukan masalah.”

Meski tenang, namun entah kenapa ucapan Alan barusan terdengar sinis di telinga Tara. Tapi gadis itu memilih tidak membalas. Ini sudah terlalu malam, akan sangat tidak baik jika mereka bertengkar.

Tara akhirnya melanjutkan pekerjaannya tanpa kata.

“Jujur saja, sebenarnya aku tidak perlu melakukan ini,” ujar Alan setelah beberapa menit berlalu.

Tara menoleh cepat, “Melakukan apa?”

“Menikahimu,” jawab pria itu santai dan enteng. “Kau tahu, aku hanya... kasihan melihatmu dipermalukan oleh orang-orang itu. Jadi kupikir seseorang harus menyelamatkanmu.”

Tara menatap tak percaya kepada Alan seraya menghentikan pekerjaannya sebentar. “Kasihan katamu?”

“Ya,” jawab Alan spontan dan ringan. “Anggap saja sebagai balas budi karena kau telah menyelamatkanku kemarin. Itu saja.”

Tara yang masih menatap Alan tersenyum miring beberapa saat setelahnya, “Balas budi?” ulangnya tak percaya. Ia membuang wajah ke samping sebelum kembali menatap pria itu. “Dengar Tuan, Aku tidak memerlukan balas budimu. Jadi seharusnya kau tadi menolaknya saja.”

“Tapi aku tidak ingin melihat seorang gadis hancur reputasinya di depan banyak orang,” balas Alan spontan. “Dan aku pikir... ini hanya pernikahan secara agama. Kita bisa mengakhiri kapan saja, bukan?”

Tara terdiam dan menatap pria itu lama. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan. Ia memilih melanjutkan membalut luka di lengan Alan dalam diam.

Alan sempat memperhatikan gerakan tangan Tara di lengannya sebelum pandangannya beralih sejenak ke wajah gadis di hadapannya itu. Ia lalu menuduk.

“Dan lagipula... aku sudah menikah, Tara.”

Gerakan tangan Tara seketika terhenti. Ia kemudian menatap Alan dengan mata membulat tak percaya.

“Kau... sudah menikah?” ulangnya pelan.

Alan menatap balik perempuan itu dengan tatapan datar dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Ya. Dan aku sangat mencintai istriku.”

Aku Bukan Anak Kecil

“Kenapa kau tidak bilang sejak awal?”

Tara menatap Alandra cukup lama, seolah tengah mencari tanda bahwa pria itu sedang bercanda. Tapi... ia hanya mendapati tatapan Alan yang dingin dan serius.

“Aku tidak ada waktu untuk menjelaskan,” jawab Alan kemudian. “Dan seperti yang kubilang tadi, niatku hanya untuk menolongmu dari amukan warga. Tidak lebih.”

Tara terdiam sesaat lalu tertawa kecil. Ia memalingkan wajah menatap dinding sebelum kembali menatap Alandra.

“Menolong?” ujarnya seraya tersenyum miring. “Dengar, Tuan. Apa yang kau sebut dengan pertolongan itu justru telah menghancurkan hidupku. Sekarang seluruh desa menganggap aku istrimu. Apa kata mereka saat tahu yang sebenarnya?”

“Gampang saja,” jawab Alan spontan dengan nada yang begitu tenang. “Rahasiakan semuanya. Tak perlu ada siapapun yang tahu kalau aku sudah menikah sebelu ini, termasuk ayahmu.”

Alan menjeda ucapannya sejenak. “ Lagipula aku akan segera pergi, dan sebelum itu... akan akan mentalakmu. Kita berdua akan bebas. Tidak ada lagi urusan.”

Kata-kata itu seperti tamparan keras untuk Tara. Ia menatap Alan tak percaya. “Kau pikir bisa semudah itu?” ujarnya dengan nada sedikit meninggi karena menahan emosi. “Apa kau tahu apa artinya bagi seorang perempuan diceraikan begitu saja setelah semua yang terjadi?”

Alan menghela napas perlahan. “Ayolah, Tara. Kau terlalu berlebihan,” ujar pria itu tenang. “Kau seharusnya berterima kasih padaku karena aku membantumu keluar dari masalah dengan warga desa. Lagipula aku bahkan tidak menyentuhmu meskipun aku berhak melakukannya.”

Spontan Tara menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ia bahkan beringsut mundur, menjaga jarak aman dari Alan. “Jangan coba-coba,” ujarnya tajam.

Alan terkekeh pelan, “Jangan khawatir. Aku sama sekali tidak tertarik dengan anak kecil sepertimu.”

Tara mendengus, menatap Alan dengan kesal. “Aku bukan anak kecil! Aku sudah sembilan belas tahun, dan aku tahu batasanku.”

Gadis itu kemudian bangkit, mengembalikan kotak obat ke atas meja dengan sedikit kasar, dan kemudian melangkah menuju pintu.

Sedangkan Alan, pria itu hanya menatap kepergian Tara dari atas kasur dengan pandangan datar, seolah tak perduli dengan suasana hati gadis yang kemarin mati-matian menolongnya itu.

Tara yang merasa dadanya sesak setelah perdebatannya dengan Alan barusan melangkah ke dapur. Ia lalu duduk di bangku kayu sembari memeluk lututnya.

Ia beberapa kali bergumam mengumpati sikap Alan yang menurutnya arogan dan terlalu merendahkannya.

“Tara, kau belum tidur?”

Tara menoleh ke arah pintu, menatap ayahnya yang entah sejak kapan berdiri di sana.

Tara buru-buru menurunkan kaki dari bangku. “Aku haus, Yah, Ujarnya  seraya menuangkan air ke dalam gelas lalu menegukkanya perlahan.

Sementara itu, Arif melangkah mendekat menghampirinya dan duduk di samping putrinya itu.

Beberapa saat suasana terasa hening, semirir angin malam yang berhembus dari celah pintu belakang yang sedikit terbuka menyapa wajah Tara.

“Ayah tahu ini bukan hari yang udah untukmu,” ucap Arif akhirnya. “Tapi Tara... pernikahan tidak selalu tentang bahagia di awal. Kadang itu butuh waktu, butuh sabar, dan butuh banyak pengertian.”

Tara hanya menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan. Sementara di sampingnya, Arif tersenyum kecil, mengusap punggung Tara seraya menatap wajah putrinya itu dengan penuh pengertian.

“Ayah memang bukan suami yang baik untuk ibumu. Tapi... ayah ingin menjadi ayah yang baik untukmu, Nak. Ayah hanya berharap kau bisa bahagia, meskipun jalan yang kamu lalui sangat tidak mudah.”

Tara  mengangguk pelan, ia lalu mencondongkan tubuhnya dan menyenderkan kepala di bahu sang ayah. “Aku tahu, Yah. Aku janji akan selalu bahagia. Untuk Ayah.”

Arif menunduk, mengecup puncak kepala Tara. Ia lalu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari sana.

“Ini untukmu, Nak.” Ucap pria itu menyodorkan bungkusan itu. “Ayah tidak bisa memberikan hadiah yang bagus. Ayah hanya bisa memberikan ini untukmu.”

Tara menegakkan kembali kepalanya, menatap sejenak bungkusan yang masih berada di tangan Arif sebelum menerimanya. “Apa ini, Yah?”

Arif tersenyum lembut. “Hanya hadiah kecil. Ayah sudah menyiapkan ini cukup lama.”

Tara membukanya dan menemukan sebuah kalung dengan liontin hati. “Ini untukku?”

Arif mengangguk, matanya berkaca melihat senyum kecil di wajah Tara. “Sebenarnya... kalung ini dulu ayah siapkan untuk ibumu Tapi...”

Ucapan Arif terhenti sejenak. Ia menghela napas berat sebelum melanjutkan. “Tapi ayah belum sempat memberikannya karena ibumu telah pergi ketika ayah baru pulang membeli hadiah itu.”

Senyum di wajah Tara perlahan memudar, ia menatap kalung itu lama. Ia tahu, luka kehilangan ibunya masih belum sepenuhnya sembuh di hati ayahnya.

Ibunya, Anggi Juwita pergi meninggalkan mereka ketika usianya baru menginjak satu tahun. Tanpa pamit, dan tanpa kabar hingga sekarang. Dirinya bahkan hanya mengenali sosok ibunya itu hanya melalui sebuah foto usang di buku pernikahan milik ayahnya.

“Ayah jangan sedih, ya. Ibu pasti senang kalau tahu kalung ini akhirnya Ayah berikan padaku,” ujar Tara lembut, berusaha menghibur sang ayah.

Arif mengangguk lalu mengusap rambut Tara dengan penuh kasih. “Simpanlah itu baik-baik. Anggap saja itu do’a dari kami untuk hidupmu ke depan.”

Tara mengangguk pelan. Ia menatap kalung itu lagi, sebelum melingkarkannya ke lehernya sendiri.

Setelah cukup lama duduk bersama ayahnya, Tara akhirnya pamit kembali ke kamar. Ia tidak ingin ayahnya curiga atau berfikir yang bukan-bukan.

“Sudah malam, Yah. Sebaiknya Ayah tidur,” ujar gadis itu lembut seraya beranjak dari bangku.

Arif hanya mengangguk, menatap sejenak wajah Tara sebelum akhirnya ia ikut beranjak.

Begitu tiba di kamarnya, Tara mendapati Alan yang rupanya masih terjaga. Pria itu masih bersandar seraya menatap kosong ke langit-langit kamar.

“Kau darimana saja?” tanya pria itu begitu Tara membuka pintu.

Tara enggan menjawab. Ia mendekat dan duduk di tepian dipan.

Untuk beberapa saat lamanya ia belum berbicara, hanya menunduk seraya menautkan jemari di pangkuan. Alan sendiri  tampak acuh meskipun gadis yang kini menjadi istri mudanya itu tak menjawab pertanyaannya.

“Tuan...” Tara akhirnya mendongak, menatap pria itu. “Bisakah aku meminta sesuatu darimu?”

Alan menaikkan alisnya sebelah sembari membalas tatapan itu. “Apa? Kau butuh uang?”

Tara spontan menggeleng, “Tidak,” jawabnya singkat.

“Lalu?” tanya Alan lagi.

Meskipun tampak ragu, Tara akhirnya berkata, “Aku tahu kau akan segera pergi, jadi... tolong pikirkan alasan yang masuk akal untuk dikatakan kepada ayahku nanti. Jangan sampai beliau tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Dahi Alan berkerut, “Alasan? Untuk apa repot-repot?”

Ia lalu mendengus. “Dengar Tara. Begitu aku pergi, aku tidak akan pernah kembali ke tempat ini. Jadi, tidak perlu dibuat rumit.”

“Mungkin untukmu tidak penting, Tuan. Tapi bagiku... ayahku adalah segalanya. Aku tidak ingin dia terluka mengetahui anak gadisnya sudah bercerai padahal baru menikah sehari.”

Tara menjeda ucapannya, berusaha meredam emosi. “Aku hanya ingin ayah tetap berfikir bahwa pernikahan putrinya baik-baik saja, setidaknya sampai aku bisa menjelaskannya sendiri.”

Alan menghela napas, lalu menegakkan punggungnya. Tatapan tajamnya masih mengarah kepada Tara. “Untuk apa repot-repot mengulur waktu kalau pada akhirnya dia juga akan tahu?”

Tara memejamkan mata sejenak. “Aku tahu. Tapi bisakah untuk sekali saja kau tidak bersikap egois? seolah dunia ini hanya tentang dirimu?”

“Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia yang kutinggali, Tara,” balas Alan dengan nada kesal.

“Aku tidak punya waktu untuk drama atau sandiwara kecil seperti ini,” lanjut pria itu dengan suara yang semakin dingin. “Begitu aku meninggalkan rumah ini, semuanya berakhir. Kau dan aku tidak pernah ada.”

Tara Menghilang

Pagi itu, ketika sinar atahari telah menerobos masuk melalui jendela kamar, Alan membuka matanya perlahan. Sejenak ia menatap langit-langit kamar yang terlihat usang sebelum menghela nafas panjang.

Ia menoleh ke bawah ranjang, tempat dimana semalam Tara berbaring di atas tikar. Istri mudanya itu sudah tidak berada di sana, bahkan tikar lusuh itu juga telah raib entah kemana.

Krukkk

Alan mengusap perutnya yang terasa kosong, sejak semalam ia bahkan belum menyentuh makanan apapun. Itu semua terjadi karena ulah para warga desa yang tiba-tiba datang dan menuduhnya ini dan itu sebelum berakhir menjadi pengantin dadakan di balai desa.

Alan akhirnya bangkit dari dipan. Ia sempat meringis sakit karena luka-luka di tubuhnya. Dengan langkah pelan dan terseok, pria itu keluar kamar untuk mencari keberadaan Tara.

“Tara... kamu di mana?” panggilnya seraya terus melangkah menuju ke arah dapur.

Namun begitu ia tiba di dapur, bukan Tara yang ia temukan, melainkan Arif yang sedang menyesap air hangat di kursi kayu dekat pintu belakang.

“Nak Alan sudah bangun?” sapa Arif ramah ketika menyadari kehadiran menantunya.

“Iya, Yah,” sahut Alan yang kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan sempit itu. “Tara... di mana, yah?”

“Tara tadi pamitan, katanya ada urusan sebentar,” jawab Arif sembari meletakkan cangkirnya di meja.

Alan mengerutkan kening. “Pergi? Ke mana, Yah?”

Arif mengangkat bahu. “Dia tidak bilang mau ke mana, Nak Alan. Mungkin saja ke rumah Dita. Katanya temannya itu hari ini akan berangkat ke kota.”

Alan menghela napas  lalu menatap ke arah meja kecil di sampingnya. Sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan segelas teh hangat tersaji di sana.

“Nak Alan sebaiknya segera sarapan. Tadi Tara masak nasi goreng dan teh hangat untuk Nak Alan,” lanjut Arif.

Alan menatap hidangan di meja itu beberapa detik sebelum ia mengangguk dan kemudian menarik kursi dan duduk. Perutnya sudah terlalu lapar untuk menolak, meskipun ia tidak menyukai makanan berinyak seperti itu.

“Terima kasih, Yah,” ujarnya singkat.

Pria itupun menyantap nasi goreng buatan Tara dalam diam, demikian juga dengan Arif.

“Bagaimana dengan luka-lukamu, Nak Alan?” tanya Arif akhirnya.

Alan tersenyum kaku, lalu meneguk tehnya sebelum menjawab. “Sudah lebih baik, Yah.”

“Syukurlah kalau begitu. Ayah senang mendengarnya,” sahut Arif.

Setelah sarapan dan berbincang sebentar dengan ayah mertuanya, Alan berpamitan kembali ke kamar untuk membersihkan luka-lukanya. Sementara Arif, ia menemani tetangga sebelah rumah mengobrol di teras depan.

Waktu terus berjalan, dan matahari pun kini telah meninggi. Alan yang tidak tahu harus melakukan apa kembali melirik jam, sudah jam dua belas siang. Tapi belum ada tanda-tanda sama sekali akan kedatangan Tara.

Pria itu pun keluar kamar, kali ini ia melangkah menuju teras depan. Di sana ia melihat Arif yang yang tengah duduk sendirian dengan wajah gusar.

“Yah, Tara belum pulang?” tanyanya pelan.

Arif menoleh sebelum menggeleng pelan. “Belum, Nak. Entah pergi kemana anak itu sebenarnya. Biasanya dia tidak pernah keluar rumah lama-lama.”

Alan menatap ke jalan setapak di depan rumah yang membentang menuju kebun dan hutan kecil di ujung desa, tempat ia ditemukan pertama kali oleh Tara dua hari lalu.  Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Mau menelpon tapi bahkan Tara tidak punya benda itu, mau mencari tapi dia tidak tahu harus mencari kemana.

“Yah, apa tidak sebaiknya kita cari saja?” ucap Alan akhirnya. Bagaimanapun ia merasa berhutang nyawa pada Tara. Dan mengingat apa yang terjadi semalam, ia khawatir Tara mendapatkan masalah lagi dari warga.

“Ayah juga tadi berfikir begitu,” sahut Arif setuju. Dengan kondisi lututnya yang sering ngilu, pria paruh baya itu bangkit, lalu melangkah bersama Alan menuruni undakan teras.

“Lho... itu Tara, nak Alan,” ujar Arif ketika mata tuanya menatap ke ujung jalan, dimana seorang gadis dengan setelan kulot sedehana muncul dengan membawa tas kecil di tangan.

Alan spontan menatap tajam ke arah itu, rahangnya mengeras.

Begitu jarak mereka semakin dekat, ia menyilangkan tangan di dada.

“Pergi ke mana saja kamu?” tanyanya tajam. “Kamu tahu jam berapa sekarang?”

Tara sempat tertegun, tak menyangka pria menyebalkan itu masih punya rasa khawatir terhadapnya. “Aku... dari rumah teman sebentar,” jawabnya seraya menundukkan kepala, sedikit takut dengan tatapan tajam pria itu.

“Sebentar?” Alan tersenyum miring, merasa tak puas dengan jawaban itu. “Kau pergi tanpa pamit dari pagi hingga tengah hari begini kamu bilang sebentar? Kamu tahu kai hampir keliling desa mencarimu?” lanjut pria itu kesal.

Arif menatap keduanya bergantian, ingin berusaha menengahi. Namun saat ia hendak berucap, Tara mendahuluinya berbicara. “Tadi... tadi setelah dari rumah Dita aku mampir ke rumah pak Mantri. Obatmu hampir habis, jadi aku sekalian minta salep baru.”

Tara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang dibawanya, lalu memperlihatkannya pada Alan.

Alan terdiam. Tatapannya sedikit melunak setelah melihat salep di tangan gadis itu. Namun selanjutnya ia buru-buru mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Lain kali, kasih tahu dulu sebelum pergi,” gumamnya dengan suara yang tetap dingin.

Tara hanya mengangguk, tak menyahuti lebih jauh. Sementara Arif tampak tersenyum kecil, berusaha mencairkan ketegangan. “Sudah... sudah. Yang terpenting Tara sudah kembali.”

Ia lalu menepuk bahu putrinya lembut, “Sudah sana masuk. Nak Alan pasti sudah lapar sekarang. Dia juga harus minum obatnya, kan?”

Tara mendesah kesal seraya menatap suami dadakannya itu sekilas. Ia masih jengkel dengan sikap Alan semalam tapi mencoba menahan diri karena ada ayahnya.

Tanpa banyak kata, Tara langsung melangkah menuju dapur, diikuti oleh Alan yang entah kenapa justru mengekorinya dari belakang.

Begitu tiba di dapur, Tara langsung menyalakn tungku dan menyiapkan panci berisi air.

“Kamu mau masak apa? Aku sudah sangat lapar,” ujar Alan sambil menarik kursi, tapi matanya masih mengekori gerak tubuh Tara.

“Tinggal masak nasi. Aku sudah masak sayur lodeh tadi pagi,” jawab Tara datar.

Alan yang telah duduk di kursi mendengus pelan seraya menyandarkan punggung. “Tidak adakah makanan lainnya? Pasta atau steak... misalnya.”

Tara spontan menoleh, melongo memandang pria itu dengan tatapan tak percaya. “Steak?” ulangnya. “Kamu pikir ini restoran di kota?”

“Aku hanya mengatakan keinginanku, tidak usah nyolot begitu jawabnya.” Sahut Alan datar tanpa ekspresi yang berarti. “Kalau tidak bisa masak steak, ayam panggangpun tidak masalah.”

Tara mendengus, menatap pria itu sejenak. “Dengar Tuan kota, ya. Tidak ada steak atau ayam panggang. Kalau mau makan, makan saja yang ada. Kalau tidak, ya jangan makan sekalian.”

Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah tungku. Senyum kecut muncul di wajahnya, pasrah menghadapi pria yang belum genap sehari menjadi suaminya tapi sudah sangat pandai membuat tekanan darahnya melonjak naik.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!