"Mas, tiket mu sudah aku pesan kan!" Aku berkata pada suami ku yang tampak fokus pada ponsel nya.
"Iya, makasih sayang!" Mas Randi tersenyum pada ku.
"Maaf ya mas, lebaran kali ini aku gak bisa ikut Mas mudik!" Aku merasa bersalah pada suami ku dan keluarga nya.
"Gak papa kok, keluarga ku pasti mengerti kesibukan mu!" Mas Randi menenangkan kan aku.
"Aku gak enak nih sama ayah dan ibu, karena membiarkan Mas mudik sendirian tahun ini!" Aku masih merasa tidak enak dengan keluarga suami ku di kampung nya.
"Mas akan jelas kan alasan nya, mas yakin mereka pasti akan paham dengan kesibukan manajer seperti mu!" Mas Randi membelai rambut ku yang tidak tertutup jilbab sama sekali.
Jika di rumah aku memang tidak mengenakan jilbab sama sekali, tapi kalau aku pergi keluar entah itu bekerja atau pun berbelanja aku pasti mengenakan jilbab ku.
Nama ku Arini Ambar Sari, aku bekerja sebagai seorang manajer di sebuah bank swasta di ibu kota ini. Sementara Suami ku bernama Randi Pratama, dia bekerja sebagai guru PNS di salah satu sekolah Negeri di Jakarta.
Mas Randi bukan asli orang dari sini, dia berasal dari salah satu daerah di kota Palembang. Kedua orang tua nya berada di kampung halaman nya di Palembang, bapak nya mengalami penyakit struk.
Aku adalah anak yatim piatu, kedua orang tua ku sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku anak tunggal, jadi itu lah sebab nya setiap kali lebaran aku akan ikut suami ku pulang ke kampung halaman nya di Palembang.
"Sayang, kapan kita akan belanja oleh - oleh nya?" Mas Randi meletakkan ponsel di atas sofa dan beralih pada ku.
"Lusa aja mas, kan hari minggu. kebetulan aku libur kalau minggu, jadi kita bisa puas belanja oleh - oleh nya!" Aku memberi saran pada mas Randi.
"Ya udah, mas setuju. oh ya sayang apa menu buka puasa kita sore ini?" Mas Randi menanyakan menu buka puasa sore ini, karena sebentar lagi akan memasuki waktu magrib.
"Tadi aku udah beli ikan kakap bakar kesukaan kamu mas, aku juga udah beli es cendol dan juga burgo kok untuk buka puasa nanti!" Aku berkata pada suami ku sambil menunjuk kan kantong yang masih berada di atas meja, sejak pulang tadi aku belum sempat pergi ke dapur. Jadi apa yang aku beli tadi masih aku letak kan di atas meja ruang tamu.
"Makasih sayang!" Mas Randi ingin memeluk ku.
"Mas, aku ke belakang dulu, aku juga belum mandi!" Aku bergegas pergi ke dapur membawa makan yang sudah aku beli di perjalanan pulang tadi.
Aku langsung menata semua nya di atas meja makan, lalu aku bergegas naik ke lantai dua di mana kamar kami berada.
Tubuh ku terasa lengket dan aku langsung mandi agar lebih segar. Ini adalah lebaran ketiga aku bersama suami ku, usia pernikahan kami sudah memasuki usia 3 tahun. Tapi kami belum di percayakan oleh Allah untuk mengasuh seorang anak.
"Alhamdulillah, udah waktu nya berbuka puasa!" Aku mengucap kan syukur ketika aku mendengar suara azan magrib dari masjid yang berada di komplek ini.
Aku segera turun ke bawah, dan ku lihat suami ku masih duduk di sofa ruang tamu.
"Mas, udah waktu nya buka puasa. buka yuk!" Aku mengajak suami ku untuk segera berbuka.
"Oh, udah buka ya sayang!" Mas Randi pun meletakkan ponsel nya di atas meja.
Aku segera memberikan es cendol kesukaan mas Randi, lalu memberikan mangkok berisi burgo, makanan yang berasal dari Kampung halaman mas Randi dan banyak di jual di sini saat bulan ramadhan.
"Sayang, tadi mbak Hera telepon aku, kata nya dia minta beliin tas pada mu. Dia udah telepon kamu, tapi katanya gak di angkat!" Mas Randi berkata saat kami sedang berbuka.
"Iya mas, tadi aku gak denger kalau mbak Hera telepon aku, masalah nya tadi aku sibuk banget dan ponsel sengaja aku silent!" Aku menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.
"Iya sayang, makanya dia tadi telepon aku!" Mas Randi menyuap kan makanan berkuah santan tersebut ke dalam mulut nya.
Mbak Hera adalah kakak nya msa Randi, suami ku adalah anak kedua dari 3 saudara. Mas Randi memiliki seorang kakak perempuan yang sudah menikah, nama nya Mbak Hera dan seorang adik perempuan yang masih kuliah, nama nya Kinan.
"Mas, sholat dulu yuk!" Aku mengajak mas Randi untuk sholat setelah selesai berbuka puasa.
"Duluan aja sayang, perut mas rasa nya kenyang banget. Mas sholat nya belakangan aja!" Mas Randi meminta ku untuk sholat duluan
"Mas, waktu sholat magrib ini singkat loh, nanti waktu nya keburu habis ni!" Aku mengingat kan.
"Iya, nanti mas sholat. kamu duluan aja!" Mas Randi tetap menunda sholat nya.
Aku pun segera sholat magrib di atas karena takut waktu nya keburu berakhir, entah mas Randi dia jadi sholat apa tidak aku tidak tahu.
Trinng, suara ponsel ku berbunyi setelah aku selesai sholat magrib. Aku melihat Kinan yang mengirim kan aku pesan.
[Mbak, nanti belikan aku gamis yang ini ya!] Kinan mengirim kan gambar gamis yang dia mau beserta keterangan bahan dan warna nya.
[Iya, nanti Mbak belikan!] aku membalas pesan dari Kinan.
[Mbak, uang jajan ku udah habis, kirimin aku uang 3 juta aja!] Kinan kembali mengirim kan pesan pada ku.
[Iya, nanti Mbak kirim kan] aku membalas pesan dari adik ipar ku.
[Makasih ya mbak, gak pake lama] Kinan kembali mengingat kan aku
Selama ini memang aku lah yang membayar biaya kuliah Kinan, biaya sehari - hari dan biaya pengobatan bapak mertua aku yang tanggung.
Gaji mas Randi sebagai seorang guru PNS habis untuk uang bensin dan kebutuhan pribadi nya saja. Mas Randi pergi ke sekolah dengan menggunakan mobil ku, sementara aku pergi ke kantor dengan mobil dinas dari kantor.
Aku tidak mempermasalahkan semua itu, karena aku hanya ingin berbakti pada suami ku dan orang tua nya. orang tua ku sudah tiada, sementara aku hanyalah anak tunggal jadi aku merasa masih memiliki orang tua dan juga saudara dari suami ku.
"Dek, nanti transfer uang untuk THR ya, kan nanti kasihan kalau anak- anak mbak Hera meminta uang aku gak punya uang!" Mas Randi masuk ke dalam kamar menyusul ku.
"Iya mas, nanti aku transfer ya. oh ya jangan lupa nanti mas pulang ke sini bawain aku lemang ya!" Aku berkata sambil tersenyum.
"Pasti mas bawain untuk mu dek!" Mas Randi mengangguk kan kepala nya.
Lemang adalah makanan khas dari Kampung halaman suami ku yang sangat aku sukai, beras ketan yang di kasih santan dan di bakar di dalam bambu itu merupakan makanan yang paling aku cari saat aku mudik ke kampung halaman suami ku.
"Dek, nanti di kampung mas mau rental mobil ya, supaya lebih mudah kalau mau keluar. Kamu jangan lupa transfer uang nya!" Mas Randi berkata pada ku ketika aku sedang bersiap.
"Sebaik nya mas pulang bawa mobil aja, biar gak kesulitan kalau mau keluar pas di kampung!" Aku memberikan saran pada mas Randi.
"Macet dek, mas malau kalau harus terjebak macet selama berhari - hari! Apalagi nanti pas di pelabuhan Merak - Bakauheni!" Mas Randi beralasan.
"Ya udah mas, nanti aku transfer! sekarang mas buruan berangkat udah siang nih. Nanti siang kita bisa belanja dulu buat oleh - oleh setelah mas pulang!" Aku mengingat kan.
"Iya dek, mas berangkat dulu!" Mas Randi mengambil kunci mobil ku yang ada di atas nakas.
Mas Randi mengunakan mobil ku untuk pergi ke sekolah tempat dia mengajar, sementara aku menggunakan mobil yang merupakan fasilitas dari kantor tempat aku bekerja.
Aku segera memberes kan rumah, hari ini aku libur karena hari ini hari sabtu. Aku bekerja dari hari senin sampai jum'at hari sabtu dan minggu aku libur. Sementara mas Randi mengajar di sebuah sekolah Negeri dari senin sampai sabtu.
Aku lebih suka mengerjakan semua pekerjaan ini sendiri di saat libur, asisten rumah tanggaku bekerja hanya hari senin sampai jumat saja. Dia biasanya datang di pagi hari dan pulang sore hari.
Sambil menunggu mas Randi mengajar, aku pergi ke kafe dan restoran peninggalan orang tua ku. Kafe ini buka di sore hingga waktu sahur, karena saat ini sedang bulan ramadhan.
"Selamat pagi bu Arin!" Sapa maya seorang kasir di kafe ini.
"Pagi mai!" Aku membalas sapaan dari karyawan ku.
Aku langsung pergi ke belakang di ikuti oleh Maya, aku mengecek karyawan ku yang sedang mempersiapkan menu makanan untuk di jual sore nanti.
Kafe dan restoran ini biasa nya buka dari pagi, tapi karena sekarang bulan ramadhan, jam buka kafe ini menyesuaikan dengan jadwal puasa.
[Mas, pulang nanti langsung jemput aku di kafe ya!] Aku mengirim kan pesan pada mas Randi.
Setelah aku selesai sholat dzuhur, mas Randi datang menjemput ku. Kami berencana untuk belanja oleh- oleh untuk keluarga suami ku hari ini, sisa nya akan di lanjut kan besok. Kami tidak ingin terlalu lemas karena kami juga sedang berpuasa.
"Mas, sholat dulu sebelum berangkat, aku sudah sholat duluan!" Aku mengingat kan mas Randi.
"Nanti saja dek! Mas sholat di mushola saja nanti!" Mas Randi memberi ku alasan.
Aku hanya bisa menggeleng kan kepala melihat suami ku yang selalu menunda waktu sholat nya. Kami langsung pergi ke mall untuk membeli oleh - oleh yang akan di bawa oleh suami ku mudik ke kampung halaman nya.
"Mbak Hera pasti senang jika di bawain parcel seperti ini!" Mas Randi menunjuk kan deretan parcel yang di susun di mall.
"Mas kan naik pesawat, jadi gak bisa bawa semua itu. Kalau mas pulang bawa mobil, mas bisa bawa semua nya!" Aku berkata sambil melangkah ke sebuah gerai yang menjual berbagai jenis mukena dan pakaian muslim.
"Mas, ini bagus gak buat ibu?" Aku menunjuk kan satu set mukena berwarna putih dengan hiasan renda di pinggir nya.
"Bagus kok, ibu pasti suka!" Mas Randi setuju dengan pilihan ku.
Aku membelikan mukena untuk ibu, mbak Hera dan juga Kinan dengan warna dan motif yang sama. Tidak lupa aku juga membeli gamis model terbaru untuk mereka, juga aku membeli sarung dan baju koko untuk ayah mertua ku yang sedang menderita penyakit struk.
Aku juga tidak ketinggalan membelikan oleh - oleh buat anak - anak mbak Hera dan juga suami nya. Bagi ku keluarga nya mas Randi juga keluarga ku, aku tidak kekurangan masalah uang jadi apa salah nya aku menyenangkan mereka.
"Mas, jangan lupa kalau sudah sampai di sana telepon aku!" Aku mengingat kan mas Randi saat aku mengantar nya ke bandara.
"Iya dek, nanti pasti mas kabar kan!" Mas Randi menjawab ucapan ku.
Aku menunggu keberangkatan mas Randi sebelum dia masuk ke dalam pesawat. Dari pengeras suara terdengar pemberitahuan bahwa penumpang di persilahkan untuk masuk ke dalam pesawat.
"Mas pergi dulu dek, jaga diri mu dek!" Mas Randi mencium kening ku sebelum dia pergi.
"Iya mas, sampai kan salam ku buat ibu dan bapak, sampai kan juga permohonan maaf ku karena tidak bisa mudik tahun ini!" Aku berkata sambil mencium tangan suami ku.
"Pasti dek!" Mas Randi segera pergi dan aku melepas kan keberangkatan mas Randi dengan berat hati.
'Ada apa ini ya Allah, padahal mas Randi cuma mudik ke kampung halaman nya selama setengah bulan, tapi kenapa aku merasakan sesuatu yang menyedihkan. Seolah - olah aku akan berpisah dari mas Randi!' Aku berguman di dalam hati.
Mungkin ini hanya perasan ku saja, entah kenapa aku merasa ada perasan yang tidak bisa aku jelas kan dengan kepulangan mas Randi kali ini.
"Lindungi lah suami ku dan keluarga nya, di mana pun dia berada! Semoga dia selamat hingga sampai di tempat tujuan nya!" Aku berdoa untuk keselamatan suami ku dan seluruh anggota keluarga nya.
Aku pun segera mengemudikan mobil ku menuju bank tempat aku bekerja, aku hanya meminta izin sebentar untuk mengantar kan suami ku pergi ke bandara.
Sampai di bank tempat aku bekerja pun aku masih merasakan sesuatu yang tidak enak, aku tidak tahu ada apa dengan ku. Perasan ku begitu cemas dan takut kehilangan mas Randi.
"Sebaik nya aku sholat dzuhur saja dulu, ini sudah masuk waktu dzuhur!" Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan ku dan ini sudah memasuki waktu sholat dzuhur.
Aku pun sholat di ruangan ku, Ruangan ku sebagai seorang manajer sangat luas. Bahkan di dalam nya ada ruangan lain yang di siap kan khusus untuk beristirahat.
"Ya Allah, lindungi lah suami ku di mana pun dia berada, semoga dia kembali pada ku dalam keadaan tanpa kekurangan suatu apa pun!" Aku memanjat kan doa keselamatan untuk suami ku yang saat ini jauh dari ku.
Aku kembali fokus pada laptop di depan ku, sesekali aku melihat jam di tangan ku. Aku tidak sabar ingin bicara dengan mas Randi, suami ku. Perjalanan dari Jakarta ke Palembang hanya memakan waktu satu jam dengan mengunakan pesawat terbang. Tapi jika mengunakan mobil atau pun bis, bisa memakan waktu hingga dua hingga 3 hari.
Apalagi di tambah jalanan yang macet karena mudik lebaran ini, bisa saja memakan waktu selama 3 atau empat hari perjalanan.
"Sudah satu jam lebih, mas Randi pasti sudah tiba di sana!" Aku langsung mengambil ponsel ku dan menghubungi nya.
Tidak butuh waktu lama, panggilan ku di angkat oleh suami ku.
"Hallo mas, apakah kau sudah tiba di Palembang?" Aku langsung bertanya pada suami ku.
"Iya dek, ini mas sudah turun dari pesawat lagi nunggu jemputan!" Mas Randi menjawab pertanyaan ku dari seberang sana.
"Syukur lah kalau mas sudah tiba di sana, entah kenapa aku malah mencemaskan mas Randi!" Aku berkata dengan perasaan lega.
"Iya dek, nanti mas telepon lagi ya. Mas udah di jemput!" Mas Randi memutuskan panggilan secara sepihak.
Aku menarik nafas lega mendengar suamiku sudah tiba di sana dan dia baik - baik saja, aku mengucap kan syukur berkali-kali karena kecemasan ku rupanya tidak beralasan.
Suara takbir, tahmid berkumandang dari masjid yang berada di lingkungan komplek perumahan ini. Itu menandakan bahwa besok adalah hari kemenangan atau hari yang fitri bagi umat muslim sedunia.
Tiba - tiba tanpa aku sadari, air mata ku menetes karena aku teringat pada kedua orang tua ku yang sudah tiada. Tahun -tahun sebelum nya aku tidak begitu merasa kesepian, karena aku melewati hari idul fitri bersama suami ku dan keluarga nya di kampung halaman suami ku.
"Aku telepon mas Randi saja, mungkin aku kangen sama mas Randi!" Aku meraih ponsel ku dan mulai menelepon suami ku.
"Hallo mas, apakah kabar nya mas di sana?" Aku langsung menanyakan kabar suami ku.
"Alhamdulillah baik dek, mas lagi kumpul sama bapak dan ibu!" Mas Randi mengarah kan kamera ponsel pada bapak dan ibu mertua ku.
"Ibu sama bapak, apa kabar nya?" Aku menanyakan kabar kedua mertua ku.
"Ibu baik - baik saja Nak, oh ya kapan kau mau memberi kami cucu?" Ibu mertua ku langsung menanyakan tentang hal yang entah kapan bisa aku berikan.
"Aku sama mas Randi lagi berusaha bu, doa kan saja agar kami bisa mendapat kan nya secepat nya!" Aku berusaha menjawab sambil tersenyum ramah pada ibu mertua ku.
"Tahun ini Randi pasti mendapat kan keturunan, apa kau sudah siap menjadi ibu nya?" ibu mertua berbicara seolah- olah dia lah yang bisa menentukan kapan aku punya keturunan.
"Insya Allah bu, kapan pun Allah memberikan nya aku selalu siap!" Aku berkata dengan yakin.
"Bagus deh, ibu udah gak sabar lagi punya cucu dari Randi, dia adalah anak lelaki ibu satu - satu nya!" ibu mertua menyerah kan kembali ponsel nya pada mas Randi.
"Dek, nanti mas telepon lagi ya. Di sini lagi rame banget, malu kalau kita sambil teleponan!" Mas Randi berkata pada ku.
"Iya mas, mas jaga diri baik - baik di sana!" Aku mengingat kan mas Randi.
Mas Randi langsung memutuskan panggilan secara sepihak, sebelum aku selesai berbicara.
"Andai kan aku ada di sana, mungkin aku tidak begitu kesepian!" Aku pun berdiri dan bergegas ke kamar mandi.
Aku menghilang kan rasa sepi ini dengan melaksanakan sholat dan zikir untuk menenangkan hati yang gelisah.
Entah apa penyebab nya, semenjak keberangkatan mas Randi mudik ke kampung halaman nya aku merasa gelisah dan cemas tak menentu. Aku pun mengadukan semua kegelisahan ku pada yang maha kuasa.
- - - - -
Selesai sholat ied, aku pun langsung melajukan mobil ku menuju rumah tante Nadin. Tante Nadin adalah satu - satu nya adik dari almarhum ibu ku.
"Assalam mu'alaikum!" Aku langsung mengucap kan salam ketika tiba di depan pintu rumah tante Nadin.
"Wa'alaikum salam, Arin,,,,ayo masuk nak!" tante Nadin menyambut ku dan langsung memeluk tubuh ku.
Aku pun mencium punggung tangan tante Nadin dengan hormat, bagi ku dia sama seperti ibu ku sendiri.
"Mohon maaf lahir dan batin, tan!" Aku pun memeluk tubuh tante Nadin.
"Tante juga ya, mohon maaf lahir dan batin!" Tante Nadin mencium kening ku
"Kok sendirian sayang, Randi nya mana?" Tante Nadin menanyakan keberadaan suami ku.
"Mas Randi mudik ke kampung halaman nya Tan, aku gak bisa ikut karena aku batu dapat cuti H-1!" Aku pun melepas kan pelukan tante Nadin.
"Kenapa gak nginep di rumah Tante Aja, Gita pun pulang sekarang masih di kamar nya!" Tante Nadia mengomeli ku.
"Beneran tan Gita pulang?" Aku bertanya pada tante Nadin, mengingat selama ini Gita jarang pulang ke rumah karena dia berada di luar Negeri.
"Iya, sekarang masih sibuk dipandang di kamar nya!" Tante Nadin menunjuk kan kamar Gita yang berada di atas.
"Om, minal Aidin Walfaizin mohon maaf lahir dan batin Om!" Aku pun bangkit dari kursi dan segera mencium panggung tangan suami nya tante Nadin.
"Om juga ya, maaf lahir dan batin!" Om Guntur menepuk bahu ku.
"Aku ke atas dulu ya Om, tante!" Aku pun berlari ke lantai atas, sudah beberapa tahun ini aku tidak bertemu dengan sepupu ku, Gita.
"Gita,,,,,!!!" Teriak ku di depan pintu kamar Gita yang setengah terbuka.
"Mbak Arin,,,!!! Aku kangen banget sama mbak Arin!" Gita pun langsung memeluk ku.
"Kok pulang - pulang gak ngabarin mbak sih!" Aku menjewer telinga adik sepupu ku.
"Maaf mbak, Aku gak mau gangguin mbak sama mas Randi!" Gita pun melepas kan tangan ku dari telinga nya.
"Apaan sih, ya enggak lah!" Jawab ku sambil tersenyum.
"Oh ya mbak, mas mbak gak mudik ke kampung ny mas Randi?" Gita bertanya pada ku.
"Mbak cuti nya H-1, jadi mbak gak ikut Mas Randi mudik. Tahun ini mas Randi mudik sendirian!" Aku berkata sambil membenarkan jilbab ku.
"Kok mbak biarin mas Randi mudik sendirian sih. Gimana kalau mas Randi macam - macam di sana!" Gita seolah - olah menakuti ku.
"Ya enggak lah, mas Randi itu tipe lelaki setia!" Aku membela suami ku.
"Jaman sekarang gak usah terlalu percaya mbak!" Gita tampak mencebik kan bibir nya.
"Udah ah, ayo kita turun. Mbak udah laper!" Aku menarik tangan Gita agar tidak membahas lagi tentang mas Randi.
Kami pun duduk di meja makan, aku menikmati rendang masakan tante ku dengan lahap.
"Rin, malam ini kamu nginep di rumah Tante ya!" Tante Nadin berbicara sambil menikmati lontong dan rendang nya.
"Iya mbak, Udah lama kita gak bertemu!" Gita ikut menimpali ucapan Mamah nya.
"Iya deh, mbak nginep di sini malem ini!" Aku mengiyakan permintaan tante Nadin dan juga Gita.
Kami duduk di ruang tamu sambil bercengkrama, sudah cukup lama dan karena kesibukan masing - masing hingga kami tidak pernah bertemu lagi.
"Aku mau telepon mas Randi dulu ya!" Aku pamit lalu melangkah menuju taman yang ada di samping rumah.
Entah kenapa aku tiba - tiba teringat pada suami ku, aku ingin tahu apa yang sedang dia lakukan di sana. Panggilan ku tersambung tapi tidak di angkat oleh mas Randi, hingga kali aku menelepon nya tetap tidak di angkat.
"Mas Randi kemana sih?" Aku berguman sambil terus menelepon nya.
Aku menjadi heran, kok sekarang nomor telepon mas Randi sudah tidak aktif lagi. Padahal tadi masih aktif dan tidak di angkat, sekarang sudah tidak aktif lagi.
"Loh, kok gak aktif lagi?" Aku menjadi heran kenapa nomor mas Randi tiba - tiba tidak aktif lagi.
Aku menjadi sangat kesal karena tidak bisa menelepon mas Randi, entah sedang apa suami ku di sana sekarang. Tiba - tiba sekarang aku kembali merasakan cemas dan gelisah memikirkan suami ku di kampung halaman nya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!