“Sayyidah!”
Suara tangis yang lirih tapi terus-menerus membuat kepalanya terasa berdenyut.
Sayyidah Yasmeen Azmira Al Nayyirah bint Zahir berusaha membuka matanya. Berat. Seolah kelopak matanya direkatkan pasir. Dengan sisa tenaga, ia hanya sempat menggeram pelan, “Diam…”
Namun bisikan itu justru disambut dengan jeritan lega.
“Sayyidah bicara! Sayyidah sudah sadar!”
“Ya Allah, akhirnya Sayyidah membuka mata juga!”
Yasmeen mengerutkan alis. Di akhirat pun, ia tidak bisa mendapat sedikit ketenangan, rupanya. Ia menarik napas panjang dan tiba-tiba membuka mata lebar.
Dua wajah muda langsung menyambut pandangannya dari jarak sangat dekat. Seorang gadis berwajah bulat dengan mata merah seperti kelinci, dan satu lagi dengan hidung berair, buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.
“Sayyidah sudah sadar!” si gadis bermata merah hampir berteriak gembira.
Yang satu lagi ikut menimpali, “Aku… aku panggil Umm Shalimah!”
“Zahiya, Nasima…” Yasmeen berbisik pelan. Tenggorokannya kering. “Kalian… benar-benar di sini?”
Itu dua dayang kecil yang dulu tumbuh bersamanya di istana Emir Nayyirah di gurun Azhar.
Zahiya, si lincah yang selalu melindunginya, mati demi menyelamatkannya dari pengawal istana.
Nasima, si polos yang menemaninya sampai hari pernikahan, meninggal karena wabah tak lama setelah itu.
Ia mengingat semuanya.
Tapi kenapa sekarang, mereka tampak begitu muda? Sekitar tiga belas, empat belas tahun, usia ketika mereka pertama kali menemaninya masuk ke istana Sultan.
Tiba-tiba, Yasmeen menggenggam tangan Nasima. Hangat.
Ia membeku. Itu… kehangatan tubuh manusia hidup.
Jantungnya berdetak keras.
Tangannya… kecil?
“Zahiya,” katanya cepat. “Ambilkan cermin perunggu milikku.”
Gadis itu menatap bingung, tapi menurut tanpa banyak tanya.
Saat cermin berbentuk bunga delima itu didekatkan, Yasmeen hampir terjatuh.
Di pantulan cermin, bukan wajah wanita berusia tiga puluh lima tahun yang menatap balik, melainkan wajah seorang gadis kecil, kulit seputih mutiara pasir, mata besar hitam pekat, bibir merah alami. Rambutnya hitam mengalir, menyentuh bahu kecil yang belum terbentuk sempurna.
Ia tersentak.
Suara yang keluar dari tenggorokannya pun terdengar lembut, muda… dan asing.
“Sekarang… tahun berapa?” tanyanya pelan, nyaris gemetar.
Zahiya bingung. “Sayyidah, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Apakah tadi bermimpi buruk?”
Nasima meringis kesakitan. “Sayyidah… tolong lepas dulu tangan hamba. Perih…”
Yasmeen baru sadar ia mencengkeram tangan gadis itu terlalu erat. Begitu terlepas, ia melihat pergelangan Nasima memerah, padahal ia merasa hanya memegang ringan.
Semua ini… nyata?
Ia menarik napas panjang. “Kalian keluar dulu. Panggilkan Umm Shalimah.”
Dua dayang muda itu menunduk dan keluar dengan langkah cepat.
Sesaat kemudian, seorang wanita paruh baya masuk. Wajahnya teduh, tubuhnya ramping, mengenakan gamis sederhana warna gading. Aroma minyak gaharu lembut menguar setiap kali langkahnya bergerak.
“Sayyidahku, kau sudah bangun?” suara Umm Shalimah bergetar lembut. “Apakah kau mimpi buruk lagi?”
Yasmeen tak tahan. Air matanya jatuh begitu saja. Tanpa pikir panjang, ia memeluk pengasuh itu erat, seolah takut wanita itu akan hilang lagi.
“Umm…” suaranya pecah. “Aku… merindukanmu…”
Umm Shalimah terkejut tapi segera membalas pelukan itu, mengusap punggung Sayyidah kecilnya dengan lembut.
“Tenang, Sayyidah kecilku. Tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Umm ada di sisimu.”
Yasmeen memejamkan mata.
Ia mengingat jelas, di kehidupan sebelumnya, Umm Shalimah mati karena demam tinggi, tak sempat menemaninya ke istana.
Dan setelah itu…
semuanya hancur.
Sayyid Zahir Al-Muntasir, Abīnya, menyuruhnya menikah dengan Emir Harith demi perdamaian dua negeri.
Ia patuh dan meninggalkan lelaki yang dicintainya.
Namun, Harith justru mati muda, meninggalkan Yasmeen menjadi janda muda di usia dua puluh.
Ia menolak menikah lagi, membesarkan putranya sendiri.
Namun, ketika putranya dewasa, ia justru dihukum mati karena fitnah tidak suci dan racun itu… diberikan langsung oleh tangan anak yang ia besarkan dengan penuh cinta.
Kehidupan yang lalu berakhir dalam darah dan air mata.
Sekarang… Tuhan memberinya kesempatan lagi?
Yasmeen menghapus air matanya. “Umm, aku tidak apa-apa.” Ia memaksa tersenyum kecil. “Mulai hari ini, aku tak akan menangis lagi.”
Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya tajam, dewasa, terlalu dalam untuk anak seusianya.
Umm Shalimah menatapnya lama, agak cemas. “Sayyidah?”
Namun, Yasmeen hanya menunduk pelan, seolah menyembunyikan sesuatu.
Ia berjanji dalam hati, kali ini, tak akan ada lagi pengkhianatan.
Ia akan merebut kembali kehormatan yang dulu dirampas. Ia akan membuat mereka semua membayar.
Tok… tok… tok…
Ketukan lembut di pintu.
“Yasmeen, abuki datang,” suara lembut tapi tegas terdengar dari balik tirai.
Napas Yasmeen tercekat.
Umm Shalimah beranjak membuka pintu.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh masuk. Jubahnya hitam berbordir emas, mata cokelatnya tenang dan tajam. Ia tampak begitu terhormat, seorang bangsawan sejati dari gurun Azhar.
“Sayyidahku,” katanya lembut, “kau sudah sembuh?”
Sayyid Zahir Al-Muntasir. Abīnya..Lelaki yang di kehidupan lalu menjerumuskannya ke lingkaran racun istana, dengan wajah penuh kasih seperti ini.
Yasmeen menatapnya lama, senyumnya tipis dan dingin.
Dalam hati, ia berbisik pelan.
Baiklah, Abī. Mari kita mulai lagi dari awal.
---
Sayyid Zahir Al-Muntasir berasal dari keluarga bangsawan kecil di Kota Agung Azhar, bukan darah utama, hanya cabang jauh dari Klan Al-Muntasir yang dulu berjaya.
Sejak muda, dia rajin belajar, dikenal tenang dan cerdas.
Saat berusia tujuh belas, ia sudah lulus ujian kesultanan dan sempat menjadi juru tulis muda di kantor pengadilan.
Setahun kemudian, ketika sedang melakukan perjalanan belajar ke Emirat Nayyirah, ia menginap di Masjid Al-Baidha, tempat yang terkenal dengan aroma gaharu dan burung merpati putih yang memenuhi kubahnya.
Hari itu, di bawah sinar mentari yang menembus jendela kaca berwarna, seorang gadis datang untuk berdoa.
Gadis itu mengenakan kerudung tipis warna biru langit, kulitnya pucat seperti mutiara pasir, dan matanya hitam berkilau.
Sayyid Zahir menatapnya, dan di antara aroma gaharu yang membubung, pandangan mereka bertemu.
Satu detik, dua detik…
Gurun berhenti berhembus.
Itu pertama kalinya dia bertemu Sayyidah Ameera, putri tunggal Emir Nayyirah, perempuan yang kelak menjadi seluruh hidupnya.
Emir Nayyirah saat itu adalah paman dari Sultan Al-Rashid, bangsawan kuat yang memegang kekuasaan di selatan.
Sayyidah Ameera adalah satu-satunya anak yang ia miliki, gadis rapuh yang sejak kecil sering jatuh sakit. Karena itu, sang Emir menyayanginya melebihi apa pun.
Ketika Sayyidah Ameera bersikeras ingin menikah dengan Zahir, sang Emir sempat marah besar.
Namun, demi kebahagiaan putrinya, ia akhirnya menyerah.
Tak mungkin seorang putri turun derajat menikahi lelaki tanpa gelar, jadi mereka sepakat untuk menjadikan Zahir sebagai menantu masuk, gelar yang di gurun sama saja dengan “tamu yang diangkat menjadi keluarga.”
Tak terlalu terhormat, tapi cukup untuk mengikat dua nama besar.
Keluarga Zahir tak banyak bicara. Bagi mereka, mendapat menantu dari keluarga Emir adalah anugerah yang tak terbayangkan.
Setelah Zahir resmi menikah dan masuk ke istana Emirat Nayyirah, keluarga besarnya bahkan rajin mengirim hadiah tiap tahun, seolah ingin terus menunjukkan rasa syukur mereka.
Pada awalnya, kehidupan pernikahan itu indah.
Zahir mencintai Ameera dengan tulus. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan dua tahun. Saat melahirkan, Ameera mengalami pendarahan hebat dan tak pernah bangun lagi.
Zahir hancur. Dia jatuh sakit lama, dan ketika sembuh, tak lagi sama. Walau masa berkabung hanya diwajibkan setahun, dia mengenakan pakaian hitam selama tiga tahun penuh, katanya untuk mengenang istrinya.
Melihat kesetiaan itu, sang Emir pun tergerak. Ia bahkan menghadiahkan salah satu pelayan pribadi putrinya, seorang gadis muda bernama Mehra, untuk mengurus kebutuhan Zahir.
Namun, tak lama kemudian, Mehra mengandung.
Zahir sangat senang, karena akhirnya memiliki keturunan.
Ketika anak laki-laki itu lahir, ia menamakannya Zain, berharap kelak bisa menjadi pewaris sejati yang membawa keberuntungan bagi keluarga.
Tapi sang Emir berkata tegas,
“Anakku Ameera sudah memiliki garis keturunan sendiri. Jangan ambil yang bukan hakmu. Kelak, yang akan meneruskan namanya adalah darah dagingnya sendiri.”
Zahir tak mengerti maksudnya. Namun tak lama kemudian, surat dari istana datang.
Sang Sultan menyetujui permintaan Emir Nayyirah:
menobatkan cucunya, Sayyidah Yasmeen Azmira, menjadi Putri Emirat Nayyirah, mewarisi nama dan kedudukan keluarga ibunya.
Nama Sayyidah Yasmeen Azmira Al Nayyirah bint Zahir pun tercatat dalam daftar resmi keluarga kerajaan, menjadikannya satu-satunya putri yang boleh membawa garis keturunan ibunya.
Mehra melahirkan lagi setahun kemudian, kali ini seorang anak perempuan.
Zahir lalu menempatkan mereka bertiga di sisi barat istana, jauh dari pusat kediaman Yasmeen.
Di depan umum, Mehra dan anak-anaknya jarang terlihat.
Saat Jaddīnya wafat, Yasmeen baru berusia sepuluh tahun.
Zahir hampir setiap hari datang menemaninya, menunjukkan wajah seorang Abī yang penuh kasih. Ia selalu berkata lembut, tak pernah mengizinkan Mehra atau anak-anaknya mendekati Yasmeen.
Anak sekecil itu… bagaimana mungkin menaruh curiga pada kasih sayang Abīnya sendiri?
“Yasmeen,” kata Zahir lembut suatu malam, “Permaisuri Hazarah dari istana ingin memeliharamu di dalam tembok suci kerajaan. Itu kehormatan besar.” Ia tersenyum, membelai rambut anaknya yang halus. “Di sana kau akan diajar dengan benar, dilindungi dari lidah-lidah keji yang membicarakan masa lalu ibumu dan kelak, kau akan mendapat jodoh yang jauh lebih layak.”
Yasmeen yang kecil menatapnya dengan mata berkaca. Ia mengira Abīnya benar-benar memikirkan masa depannya.
Beberapa bulan kemudian, ia meninggalkan Emirat Nayyirah dan menuju Kota Agung Azhar.
Zahir, dengan langkah ringan, menjadi penguasa baru istana Nayyirah, rumah besar yang seharusnya diwariskan untuk Yasmeen.
Ketika Yasmeen akhirnya menikah dan menerima enam puluh peti perhiasan sebagai mas kawin, semua orang memujinya.
Hanya dia yang tahu, itu semua hasil kerja keras Jaddīnya dan sekarang, segalanya telah menjadi milik keluarga Zahir.
Semua tanpa perebutan, tanpa tipu muslihat. Hanya karena satu hal: kekuasaan seorang Abī.
Ia memejamkan mata.
Darahnya mendidih, kenangan itu terasa seperti bara di dada.
Dia membenci Abīnya… tapi lebih dari itu, ia membenci dirinya sendiri. Karena telah menutup mata, dan menyerahkan segalanya atas nama “kasih sayang seorang Abī.”
Namun kali ini berbeda. Langit memberinya kesempatan kedua.
Bunga bisa mekar dua kali.
Manusia pun bisa lahir kembali.
Ia menggenggam selimutnya erat.
Kali ini, nasibnya tidak akan dipermainkan siapa pun.
---
Ketika Sayyid Zahir masuk ke kamar putrinya, langkahnya mantap seperti biasa.
Tapi begitu melihat Yasmeen menatapnya, dadanya mendadak bergetar.
Tatapan itu… dingin.
Bukan milik anak sepuluh tahun, tapi seperti milik seseorang yang telah melewati jalan kematian.
Ia mencoba tersenyum. “Sayyidah kecilku, Permaisuri Hazarah mengirim utusan. Mereka sudah memasuki wilayah selatan. Aku berencana pergi sendiri menyambutnya di gerbang kota.”
Yasmeen menatapnya datar.
“Tidak perlu, Abī. Suruh saja Wazir Khalid yang berangkat bersama para pengawal. Itu sudah cukup.”
Zahir mengernyit. “Wazir Khalid orang sibuk. Tak pantas membiarkan tamu kehormatan datang tanpa sambutan dari keluarga Emir.”
Yasmeen menatap lurus ke arahnya. “Utusan Permaisuri datang dari istana. Abī bukan pejabat, tidak memiliki gelar. Jika Abī yang menyambut, justru tampak tidak sopan di mata mereka. Wazir Khalid adalah pejabat resmi, dan itu lebih pantas.”
Zahir membeku. Urat di lehernya menegang, wajahnya memerah.
Ya… dia memang bukan siapa-siapa. Bukan bangsawan sejati.
Hanya menantu yang diangkat.
Namun selama ini ia sudah mulai merasa nyaman dengan kekuasaan barunya. Ia mengira bisa memainkan peran penguasa, sampai anak kecil ini menamparnya dengan kalimat lembut yang mematikan.
“Yasmeen…” suaranya bergetar. “Abī melakukan semua ini untukmu.”
Gadis itu menatapnya, tersenyum samar. “Aku tahu, Abī. Namun, aku juga tahu apa yang seharusnya menjadi bagianku.”
Zahir terdiam. Dadanya sesak oleh sesuatu yang ia sendiri tak bisa jelaskan, rasa malu, marah, dan ketakutan bercampur jadi satu.
Sementara Yasmeen hanya menunduk ringan. Di balik senyum lembutnya, matanya berkilat seperti bilah pisau yang disembunyikan di balik kain sutra.
Permainan ini baru dimulai.
📌NOTE:
Abī \= Ayah
Abuki \= Ayahmu (ditujukan kepada perempuan)
Umm \= Ibu
Jaddī \= Kakek
“Berani sekali kau bicara begitu pada abuki sendiri?!”
Nada suara Sayyid Zahir Al-Muntasir meninggi. Wajah yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak retak oleh amarah. “Yasmeen, sebagai seorang putri, sudah seharusnya kau bersikap lembut dan tahu sopan santun!”
Sayyidah Yasmeen Azmira menatapnya datar, matanya tajam seperti pasir hitam gurun di malam hari.
“Dulu, saat Jaddī masih hidup, beliau tidak pernah mengajariku begitu,” ucapnya pelan tapi jelas. “Beliau berkata, dunia ini keras pada perempuan. Karena itu, perempuan harus belajar berdiri sendiri, kuat, dan menjaga harga dirinya.”
Ucapan itu membuat wajah Sayyid Zahir kaku sesaat, seolah tersedak udara. Emir tua itu, Abī dari mendiang Sayyidah Ameera, memang dikenal aneh di mata para bangsawan gurun.
Ia menikahi wanita dari keluarga prajurit rendah, hanya memiliki satu anak perempuan, dan tidak pernah mengambil selir.
Ketika putrinya wafat muda, ia tidak mencari keturunan lain. Sebaliknya, ia mengangkat cucunya, Sayyidah Yasmeen, sebagai pewaris tunggal Emirat Nayyirah. Bahkan gelar bangsawan dan seluruh kekayaan keluarga ia serahkan padanya.
Dan kini, semuanya berada di tangan Yasmeen, cucu perempuan yang seharusnya hanya menjadi pelengkap dalam istana lelaki.
Sayyid Zahir mengepalkan tangan di balik jubahnya. Semua itu seharusnya jadi milikku.
Namun Yasmeen tidak memberinya waktu untuk bicara.
“Urusan ini biar aku yang putuskan sendiri,” ucapnya dingin. “Abī sebaiknya pulang saja… temani Roobbatun Mehra dan anak-anak Abī.”
Sayyid Zahir tertegun. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk membalas.
Ia memaksa tersenyum kaku. “Baiklah. Kau istirahatlah. Nanti Abī datang lagi.”
Ia membungkuk sedikit, lalu berbalik pergi. Langkahnya tenang, tapi urat di pelipisnya menegang.
Yasmeen tidak menatap kepergiannya.
Umm Shalimah, pengasuh yang sudah bersamanya sejak kecil, baru sadar setelah semuanya terjadi. Ia buru-buru mengikuti dan mengantarkan Sayyid Zahir keluar dengan hormat.
Sayyid Zahir masih bisa menampilkan senyum ramah. “Umm Shalimah tak perlu repot. Yasmeen hanya sedang banyak pikiran. Temani dia baik-baik.”
“Baik, Tuan,” jawab Umm Shalimah sopan, menunduk.
Begitu punggung pria itu menghilang di balik lengkungan gerbang batu pasir, Umm Shalimah menarik napas panjang. “Ya Allah…” gumamnya lega. “Hari ini Putri sungguh berbeda…”
Namun di balik keterkejutan itu, ada sedikit kepuasan.
Kata-kata Putri tadi memang… sangat menyejukkan hati.
Umm Shalimah melangkah cepat kembali ke kamar Yasmeen, tapi sebelum ia sempat bicara, sang putri sudah membuka suara lebih dulu.
“Umm Shalimah,” bisiknya lirih, “tadi malam aku bermimpi. Emir Jaddī datang menemuiku.”
Mata Umm Shalimah langsung berbinar. “Emir Nayyirah? Arwah beliau memberi Putri petunjuk?”
Yasmeen mengangguk pelan. Tatapannya menerawang. “Beliau bilang, aku tidak boleh meninggalkan Emirat Nayyirah. Dan siapa pun yang berani mengincar warisan Emir… tangannya harus dipotong.”
Umm Shalimah menutup mulut, air matanya menetes tanpa sadar. “Alhamdulillah… akhirnya roh Emir masih menjaga Putri…”
Ia tahu betul, Emir Nayyirah dulu sangat mencintai cucu semata wayangnya itu dan selama setahun terakhir, Sayyid Zahir semakin terang-terangan mencoba mengambil alih urusan istana.
Beberapa pelayan sudah mulai beralih loyalitas, mencium peluang kekuasaan. Namun, Umm Shalimah tak pernah berani bicara, karena tidak ingin menghancurkan bayangan “Abī penyayang” dalam hati Yasmeen.
Sekarang, sepertinya Tuhan sendiri yang membukakan mata sang putri.
Yasmeen menghela napas. “Umm, suruh pelayan ke aula depan. Panggil semua pejabat istana, aku ingin bicara di ruang kerja Emir.”
Umm Shalimah segera menunduk dalam. “Baik, Sayyidah. Tapi izinkan hamba bantu Sayyidah bersiap dahulu.”
---
Di waktu yang sama, Sayyid Zahir melangkah cepat menuju halaman barat. Udara sore gurun terasa panas membakar, tapi hatinya jauh lebih membara.
Begitu ia memasuki kediamannya, seorang wanita cantik berselendang merah delima menyambutnya bersama dua anak kecil.
“Sayyid, kau pulang cepat hari ini?” Mehra menyambut dengan senyum lembut. “Tidak makan malam dengan Sayyidah Yasmeen?”
Zahir tidak menjawab. Ia hanya melepas sorbannya dan berjalan melewati mereka tanpa menoleh.
Kedua anak kecil itu memandangi Abī mereka dengan kagum. Putra sulungnya, Zain, berusia lima tahun, cerdas dan tampan, sangat mirip dengannya. Putrinya, Ruqayyah, berumur empat tahun, lembut dan manis seperti ibunya.
Namun Zahir hanya melambaikan tangan seolah mereka tak ada.
“Aku ke ruang baca. Jangan ganggu.”
Nyonya Mehra menunduk, menelan rasa malu. “Zain, Ruqayyah, Abīmu sedang sibuk. Mari kita makan malam dulu.”
Tapi ia tahu betul, Zahir tak pernah benar-benar “sibuk.”
Ia hanya tak tahan berada di bawah bayangan keluarga Ameera dan Emir Nayyirah yang sudah wafat. Semua kekayaan dan kekuasaan rumah ini mengalir dari mereka, bukan darinya.
Ia tahu dulu Zahir menikah masuk ke keluarga besar ini, demi kedudukan dan kini, Zahir sudah menunggu terlalu lama untuk merebutnya.
---
Ruang baca yang tenang dipenuhi aroma dupa kayu gaharu. Zahir duduk, wajahnya tenggelam dalam bayangan lampu minyak. Matanya penuh kebencian.
Ia masih ingat jelas bagaimana dulu Emir Nayyirah menatapnya dingin dan berkata, “Anak dari keluarga kami harus menyandang nama kami. Tapi cucumu bukan darah murni Nayyirah. Biarlah ia menyandang namamu sendiri.”
Rasa malu dan dendam yang terpendam itu membusuk dalam dirinya selama bertahun-tahun.
Kini, ia punya anak laki-laki sendiri dan ia tidak akan membiarkan warisan Emirat jatuh ke tangan seorang perempuan lagi.
“Faris,” panggilnya pelan.
Seorang pria muda masuk, mengenakan pakaian pelayan, wajahnya waspada. “Tuan.”
Zahir menatapnya tajam. “Aku ingin kau lakukan sesuatu untukku. Tidak perlu ada yang tahu.”
Faris menunduk dalam, menunggu perintah. Tapi ketika mendengar isi instruksi itu, matanya melebar kaget.
Namun, tatapan Zahir dingin dan penuh ancaman membuatnya tak berani membantah.
“Baik, Tuan,” jawabnya pelan.
---
Sementara itu, di aula besar istana Emirat Nayyirah, Sayyidah Yasmeen berdiri di depan pintu kayu besar berukir ayat-ayat kaligrafi lama. Tempat ini dulu milik Jaddīnya.
Sekarang, tempat ini akan menjadi titik awal kebangkitannya.
Ia menatap langit senja di atas kubah emas yang memantulkan cahaya kemerahan. Angin gurun berhembus lembut, membawa wangi dupa dan pasir hangat.
“Salam hormat untuk Sayyidah!”
Suara berat dan lantang terdengar di antara barisan prajurit bersenjata lengkap yang berjaga di depan ruang pertemuan Emirat Nayyirah.
Yasmeen menarik napas pelan, menenangkan diri sebelum menoleh. Dua puluh prajurit membungkuk memberi hormat, wajah mereka keras dan disiplin.
Di barisan terdepan berdiri seorang pria berkulit gelap dengan sorot mata tajam seperti elang gurun. Tubuhnya tegap, berdiri kokoh bagaikan menara batu di tengah badai pasir.
Itu adalah Tariq Ibn Malik, kepala pasukan pribadi Emirat—lelaki yang dulu dikenal sebagai tangan kanan Emir Nayyirah, Jaddīnya.
Tariq ini masih keponakan jauh dari mendiang Emir Nayyirah, Ayahnya Emir dan Neneknya Tariq adalah kakak beradik.
Tariq masuk istana saat berusia lima belas tahun. Karena keberanian dan kesetiaannya, ia diangkat menjadi pemimpin pasukan pengawal pribadi saat usianya dua puluh lima tahun.
Kini, meski hanya bergelar panglima tingkat menengah, wibawanya di istana tak bisa disepelekan.
Setelah Emir Nayyirah wafat, Yasmeen menjadi satu-satunya pewaris Emirat Nayyirah. Ia masih muda, tapi darah bangsawan mengalir deras di dalam dirinya—dan Tariq tahu itu.
Secara garis keturunan, Tariq adalah sepupu almarhum ibunda Yasmeen, Sayyidah Ameera. Artinya, ia adalah Khalī bagi Yasmeen.
Namun, karena menghormati aturan istana, ia tak pernah menyebut hubungan itu di depan umum.
Sekarang pun, di hadapan penguasa kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu, ia tetap membungkuk dalam-dalam.
Yasmeen menatapnya lama.
Ia ingat jelas dalam hidup sebelumnya—dialah lelaki yang dulu selalu berdiri di belakangnya, yang menjaga dari bayangan kematian sampai napas terakhir.
Waktu ia menikah dengan keluarga Emir Harith dan hidup di istana Kota Agung Azhar, Tariq ikut mendampingi bersama dua ratus pasukan pribadi.
Ia tak pernah banyak bicara, tapi tatapannya selalu siap menebas siapa pun yang berani menyentuh tuannya.
Namun, di usia senjanya, lelaki itu meninggal dengan luka di dada karena melindunginya dari pembunuh bayaran.
Dalam kehidupan yang lalu, ia sempat menggenggam tangan Tariq yang berlumur darah, mendengar kalimat terakhirnya di bawah sinar bulan gurun.
“Selama Sayyidah selamat... aku tak menyesal mati.”
Sekarang, ketika melihat sosok yang sama berdiri di hadapannya, wajahnya terasa panas dan matanya mulai basah.
Yasmeen melangkah cepat ke arahnya. Tangan kecilnya, yang seputih pualam dan bergetar halus, menggenggam tangan kasar penuh bekas luka itu.
“Khalī Tariq...”
Suaranya bergetar, parau oleh air mata yang tertahan.
Tariq tertegun.
Ia bahkan tak sempat menunduk lebih dalam, hanya bisa menatap gadis kecil itu dengan bingung.
Bahkan wajah kerasnya yang biasanya tak bergeming di medan perang kini tampak kaku dan memerah.
“Sayyidah... t-tidak pantas memanggil hamba begitu,” ucapnya tergagap, tampak benar-benar canggung. “Hamba tak berhak—”
“Tidak perlu bicara begitu,” ucap Yasmeen pelan, namun tegas. “Di dunia ini, hanya sedikit orang yang tulus padaku. Dan Khalī adalah salah satunya.”
Itu adalah senyuman pertama Yasmeen sejak hari ia terbangun kembali—hari di mana ia menyadari hidupnya bukan lagi yang dulu.
Senyuman itu lembut, tapi juga mengandung tekad.
Khalī Tariq nyaris lupa bernapas; anak perempuan kecil itu kini memancarkan aura yang membuat orang ingin tunduk tanpa paksaan.
“Sayyidah... datang ke ruang kerja Emir untuk sesuatu?” tanyanya hati-hati.
Ia pikir mungkin Yasmeen datang karena rindu pada Emir Nayyirah.
Namun jawaban Yasmeen membuatnya tertegun.
“Khalī Tariq,” katanya, suaranya berubah serius, “panggil para penasehat ke ruang kerja Jaddī. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting.”
Tariq mengangkat kepala dengan ekspresi terkejut.
Ruang kerja itu dulunya tempat Emir Nayyirah menerima para penasehat dan menulis kebijakan Emirat. Setelah wafatnya sang pemimpin, tidak ada satu pun yang berani menggunakan ruangan itu tanpa izin khusus Sultan.
Dan kini, gadis kecil itu… hendak menggunakannya?
Namun, melihat sorot mata Yasmeen—tenang, tajam, dan matang di luar usia—Tariq tiba-tiba merasa seolah sedang menatap Emir Nayyirah muda.
Wajah yang sama, tekad yang sama.
Ia menunduk lagi, tangannya mengepal di dada.
“Perintah Sayyidah… akan segera dilaksanakan.”
Saat langkah-langkahnya menjauh, Yasmeen berdiri di hadapan pintu ruang bacaan peninggalan Jaddīnya.
Di dalam sana, masih tergantung lukisan pemandangan padang gurun saat matahari tenggelam—lukisan kesayangan sang Emir Nayyirah.
Angin gurun bertiup dari jendela terbuka, membawa aroma dupa dan pasir panas.
Yasmeen melangkah masuk ke ruang besar itu—ruang yang dulu menjadi tempat Jaddīnya membaca surat kerajaan dan membuat keputusan besar bagi Emirat Nayyirah.
Udara di dalam terasa berat, mengandung aroma kayu gaharu dan tinta. Cahaya matahari sore menembus jendela ukiran emas, membias di lantai marmer, membuat ruangan itu tampak seperti ruang suci.
Yasmeen menatap tempat duduk besar di ujung ruangan.
Tangannya perlahan mengepal.
“Jaddī,” bisiknya lembut, “aku sudah kembali. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut warisanmu.”
---
📌NOTE:
- Khalī \= Paman dari pihak ibu
- Roobbatun \= Panggilan untuk Ibu Tiri
Udara dingin yang biasanya mengisi ruang kerja mendiang Emir Nayyirah terasa membakar pipi Sayyidah Yasmeen Azmira. Ia berdiri membelakangi singgasana yang kini kosong, menatap Khalī Tariq yang baru saja menyelesaikan perintah pertamanya: memanggil tiga Wazir utama Emirat.
Khalī Tariq kembali dengan cepat, ekspresi elang gurunnya yang biasa kini diselimuti lapisan baru berupa kewaspadaan dan kebingungan yang sangat tersamar.
“Tiga Wazir utama, Wazir Khalid, Wazir Abbas, dan Wazir Ghanim, sudah menanti di aula utama, Sayyidah,” lapor Tariq, suaranya dalam dan teredam.
Yasmeen mengangguk. Tiga nama itu adalah loyalis yang pernah bekerja untuk Jaddīnya (Kakeknya), orang-orang pragmatis yang hanya akan mengikuti kekuasaan sah. Memenangkan mereka berarti mengendalikan mesin administrasi.
Ia melangkah mendekati Tariq. “Khalī Tariq, jangan biarkan siapa pun mengganggu pertemuan ini. Termasuk Abīku.”
Tariq mengangguk, namun raut wajahnya tampak rumit.
“Hamba tahu, Sayyid Zahir sedang tidak tenang setelah wafatnya Emir. Hamba akan pastikan ia tidak mengganggu urusan administrasi istana, sesuai perintah Sayyidah,” ujar Tariq, suaranya sedikit ragu, menyeimbangkan antara menghormati ayah kandung tuannya dan menuruti perintah tuannya.
Yasmeen memiringkan kepala, mata hijaunya memancarkan kesadaran yang terlalu tua untuk anak berusia sepuluh tahun. Ia tahu keraguan Tariq. Loyalitas pada Zahir adalah tradisi; loyalitas padanya adalah darah murni Emirat. Dalam kehidupan yang lalu, Tariq selalu ragu sebelum akhirnya harus berdarah-darah di masa tuanya untuk melindungi keputusan bodoh Yasmeen.
Kali ini tidak akan ada keraguan.
“Tariq,” bisiknya, menurunkan suaranya sehingga hanya pria itu yang bisa mendengarnya, “semalam, Jaddī berkata padaku bahwa hanya darah murni Nayyirah yang bisa menyelamatkan gurun ini dari badai pasir yang diciptakan oleh mereka yang haus akan kekuasaan. Siapa yang lebih Nayyirah di antara kami?”
Pria itu menegang, kata-kata itu menyentuh sumpah terbesarnya. Zahir adalah menantu yang diizinkan menikahi puteri Emir, tetapi Yasmeen adalah darah cucu tunggal sang Emir. Darah. Itulah segalanya di Emirat gurun ini.
“Hamba hanya melayani Emir Nayyirah, dan sekarang, penerus sahnya,” ucap Tariq, nada suaranya tegas tanpa cela. Kehati-hatian telah digantikan oleh ketegasan.
“Aku tahu itu,” balas Yasmeen. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat tersungging di bibirnya. “Bagus. Dengarkan. Sebelum kita membahas masalah pajak atau perairan, ada satu hal yang paling penting: sambutan tamu.”
“Sambutan tamu, Sayyidah?”
“Permaisuri Hazarah dari Kota Agung Azhar akan mengirimkan utusan dalam beberapa hari untuk membawaku pergi, seolah aku adalah barang yang bisa mereka beli. Mereka akan menggunakan kedok pendidikan. Abīku akan menerima mereka, mengira aku akan pergi.”
Tariq menghela napas. Semua orang tahu niat jahat itu. Mereka membutuhkan Nayyirah untuk perdamaian perbatasan. Yasmeen, sebagai calon pengantin Harith Al-Qaim, adalah kunci stabilitas politik mereka. Zahir, yang diangkat menjadi wali, tampaknya sudah bersepakat untuk menyerahkannya.
“Apa yang harus kami lakukan?”
“Ambil alih sepenuhnya urusan penyambutan utusan dari Abī. Alasan yang bisa kau gunakan adalah: Emir Jaddī datang dalam mimpiku dan berpesan bahwa hanya ia yang harus memilih cara aku dididik. Dan ia memilih aku untuk tetap di Nayyirah,” kata Yasmeen, suaranya dingin dan pasti. “Jaddī memberiku otoritas untuk menolak usulan mereka. Buat ini terlihat seperti perintah spiritual. Jangan pernah biarkan Abī terlibat lagi dalam urusan tamu istana. Jelas?”
Tariq menunduk, nyaris membungkuk di hadapan otoritas spiritual dan darah yang begitu kuat. “Hamba akan melaksanakan, Sayyidah.”
Ia melangkah mundur, ekspresinya kini tidak lagi terbagi. Di mata Yasmeen, Tariq kini sepenuhnya miliknya, tameng pertama di kehidupan ini. Ini memberinya kekuatan yang ia butuhkan.
*
Lima menit kemudian, ruang kerja itu terisi. Tiga Wazir duduk di hadapan meja besar marmer, tampak gelisah melihat seorang anak kecil memimpin mereka. Yasmeen, didampingi Umm Shalimah yang berdiri gugup, duduk di kursi besar Jaddīnya—kursi yang terlalu besar, membuat kakinya menggantung di udara.
Yasmeen mencondongkan tubuh sedikit. “Aku sudah memanggil kalian karena wasiat Jaddī. Aku tidak akan meninggalkan Nayyirah.”
Para Wazir saling pandang. Sebelum Wazir Khalid (Wazir Administrasi) sempat bicara, pintu terbuka keras.
Sayyid Zahir berdiri di ambang pintu, raut wajahnya tertekuk antara keprihatinan palsu dan amarah yang nyata.
“Apa-apaan ini, Yasmeen?” tanyanya, nada suaranya disengaja agar terdengar sabar dan kecewa. “Mengapa kau mengadakan rapat penting tanpa sepengetahuan Abī? Para Wazir ini punya pekerjaan, Nak. Jangan jadikan peninggalan Jaddīmu sebagai mainan.”
Zahir melangkah masuk, bermaksud duduk di kursi samping yang biasanya digunakan Emir saat rapat informal. Ini adalah upaya untuk merebut kendali pertemuan.
Yasmeen menatap Abīnya lurus-lurus. Peran seorang Ayah penyayang adalah topeng terbaikmu, Abī. Tapi di kehidupan ini, aku akan mencabutnya.
“Aku sedang tidak bermain, Abī,” jawab Yasmeen, suaranya tajam seperti pecahan kaca. “Dan aku mengadakan pertemuan ini sebagai Sayyidah Nayyirah, pewaris sah tunggal dari kakekku, berdasarkan hukum istana yang Abī sendiri setujui.”
Wazir Khalid tersedak. Tidak ada anak berusia sepuluh tahun yang berani berbicara dengan presisi hukum seperti itu.
“Tentu saja kau pewarisnya,” Zahir memaksakan senyum yang menakutkan. “Tapi aku adalah walimu! Dan akulah yang bertanggung jawab atas urusan politik istana selama kau belum cukup umur.”
“Lalu, mengapa urusan kedatangan Utusan Permaisuri Hazarah harus Abī yang urus?” tanya Yasmeen dingin, menyinggung langsung poin yang membuat Zahir senang—peluangnya untuk bernegosiasi dan mendapatkan imbalan dari Azhar karena berhasil 'menyerahkan' Nayyirah.
“Tentu saja, karena ini urusan diplomatik. Tugas Abī adalah menjamin keamananmu di Kota Agung dan mengatur transisinya—”
“Tidak akan ada transisi, Abī,” potong Yasmeen. Dia melompat turun dari kursi besar itu. Untuk pertama kalinya, dia menghadapi Abīnya dengan berani. “Jaddī sudah memutuskan. Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap tinggal di Nayyirah. Dan utusan itu, siapa pun mereka, akan diurus oleh Wazir Khalid, sesuai instruksiku. Tugas Abī di istana ini sebagai Wali—telah dicabut oleh darah Emirat.”
Kata-kata terakhir itu menusuk tepat ke jantung harga diri Zahir. Zahir hanyalah seorang menantu. Darahnya bukan darah Emirat. Dia mengendalikan Emirat melalui hubungan, bukan keturunan.
“Kau berani bicara begitu pada Abīmu?” Zahir bertanya pelan, matanya menyipit berbahaya. Dia meremehkan betapa cepatnya Yasmeen tumbuh dewasa, atau betapa hancurnya dirinya oleh rasa pengkhianatan di masa lalu.
“Jika Abī terus mengancam warisan yang diamanahkan Jaddī padaku, maka aku akan menganggap Abī bukan lagi Ayah, tapi musuh istana,” balas Yasmeen, suaranya lirih namun penuh ancaman. Ia menggigil sedikit di dalam, tetapi ekspresinya tak berubah.
Aku adalah Yasmeen yang dulu, tapi aku bukan lagi yang rapuh. Jika harus kehilangan hati nurani demi hidup, aku akan melakukannya.
Keheningan mematikan melingkupi ruangan itu. Wazir Abbas berdeham canggung, sementara Wazir Ghanim menghindari tatapan Zahir. Tariq berdiri kokoh di dekat pintu, tidak bergerak.
Zahir akhirnya mengerti. Dia tidak hanya kalah dalam argumen; dia kehilangan panggung dan otoritas yang ia pegang di mata para pejabat istana.
Ia menarik napas panjang, memasang kembali topengnya. “Baik. Kau berhak menentukan ke mana arah kakimu melangkah, Sayyidah . Aku hanya khawatir tentang reputasimu. Jangan sampai kau terlihat gila dan haus kekuasaan.”
Ia membungkuk kecil, penghinaan yang dingin. “Aku akan biarkan kau bermain politik dengan para Wazir. Jika kau butuh Abī, aku ada di kamar baca.”
Zahir berbalik, melangkah cepat, menyembunyikan tangannya yang terkepal. Ia tidak melihat wajah Yasmeen. Jika ia melihat, ia akan tahu bahwa di mata gadis itu tidak ada setetes pun ketakutan, hanya tekad untuk menghancurkannya.
Setelah pintu tertutup di belakang Zahir, Wazir Khalid dengan hati-hati memecah keheningan.
“Sayyidah,” katanya, “urusan Utusan Azhar adalah urusan besar. Jika Sayyidah menolak datang, kita harus siap menghadapi tekanan diplomatik. Mengalihkan tugas ini dari Sayyid Zahir akan menimbulkan konflik. Apakah ini keputusan mutlak?”
Yasmeen kembali ke kursinya. “Mutlak,” tegasnya. “Wazir Khalid, buat mereka menunggu. Alasan apa pun, entah itu kondisi cuaca, tradisi, atau pemakaman ulang Jaddīku. Ulur waktu minimal dua minggu. Katakan kepada mereka, Nayyirah tidak akan pernah diurus oleh seorang anak yang dididik di istana asing.”
Ia menoleh pada Wazir Abbas. “Kau urus keuangan dan perbatasan. Tidak ada pergerakan aset. Tidak ada pinjaman.”
Yasmeen mengeluarkan serangkaian perintah mendesak. Ia tahu apa yang harus dilakukan Wazir: mengunci Nayyirah. Para Wazir, terkesima oleh kejelasan dan kepastian dalam perintah gadis kecil itu—perintah yang bahkan lebih terperinci daripada Emir Nayyirah di tahun-tahun terakhirnya—hanya bisa mengangguk dan menulis.
Mereka telah melihat pertunjukan otoritas, dan itu adalah pertunjukan yang mengesankan.
Setengah jam kemudian, para Wazir telah pergi, menyisakan Yasmeen, Umm Shalimah, dan Khalī Tariq di ruangan sunyi itu.
“Sayyidah benar-benar… dewasa,” gumam Umm Shalimah, mengelus kepala Yasmeen.
Yasmeen bersandar ke sandaran kursi, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Kepalanya pusing, hasil dari berakting penuh amarah dan wibawa yang bukan miliknya. Aku hanya gadis berusia sepuluh tahun, Tuhan. Tapi aku harus bertarung seperti seorang ratu perang yang telah bertempur selama dua dekade.
“Khalī Tariq, kumpulkan pengawal utama,” perintahnya lirih. “Katakan pada mereka untuk bersiap siaga di sekitar istana. Malam ini akan panjang.”
“Baik, Sayyidah,” jawab Tariq, kini loyalitasnya sekuat besi gurun.
Tariq membungkuk dan segera melangkah cepat keluar, meninggalkan ruang kerja. Kepergiannya memunculkan bunyi tapak kaki yang berat dan disiplin.
Yasmeen bangkit, kakinya kini menyentuh lantai. Ia merasa ingin menyentuh lukisan Jaddīnya di dinding, mencari kekuatan terakhir. Ia melangkah menuju ambang pintu besar yang baru saja ia lalui, dan di dekat kaki pintu itu, terlipat di atas lantai marmer gelap, tergeletak selembar perkamen tipis.
Surat itu tampak tua, terlipat rapi namun sudah lusuh di sudut-sudutnya, dan tintanya berwarna ungu pudar. Itu bukan kertas resmi istana. Umm Shalimah dan Yasmeen menukik bersamaan.
Yasmeen lebih cepat. Ia meraih perkamen itu, jemarinya yang dingin menyentuh permukaan kertas yang kasar.
“Surat apa ini, Sayyidah? Apakah itu wasiat dari istana Azhar?” tanya Umm Shalimah dengan napas tertahan.
Yasmeen menggeleng. Matanya memindai tulisan tangan yang ia kenal—tulisan Zahir. Tapi kontennya membuatnya terpaku. Itu adalah surat perjanjian yang ditujukan kepada klan Al-Muntasir yang kini berada di Kota Agung.
Jantungnya mencelos ke dasar perut. Ini tidak pernah ada di kehidupan lamaku.
Di bawah tawa pudar dan basah tinta ungu yang menandakan sebuah kesepakatan rahasia, tertera tandatangan Sayyid Zahir yang ia kenali. Tepat di sampingnya, ada janji: Penyerahan hak milik sumur perak di Pegunungan Selatan.
Ia membacanya lagi, lalu menemukan kalimat kecil di bagian bawah yang nyaris tak terbaca:
“...akan diserahkan sepenuhnya, efektif tiga hari setelah keberangkatan Sayyidah ke Kota Agung Azhar.”
Napas Yasmeen terhenti. Ini bukan hanya upaya untuk menjualnya sebagai pengantin. Zahir sudah menyiapkan semuanya, secara rahasia, untuk merampok Nayyirah begitu ia pergi. Dan kali ini, rencananya jauh lebih maju dan berbahaya dari yang ia ingat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!