Indonesia
NovelToon NovelToon

Bukan Sistem Biasa

Bab 1

Brak!

​Brak! Brak! Kali ini, bukan ketukan. Itu adalah dentuman palu godam ke daun pintu yang reyot. Getarannya terasa hingga ke lantai papan, menembus kelelahan Rama.

​"Rama, keluar kamu! Sudah waktunya bayar utang!" Suara Kohar bukan berteriak, melainkan mengguruh, dingin dan mengandung ancaman yang fatal.

​"Siapa si, ganggu orang lagi istirahat aja," gerutunya, namun langkah kakinya terasa berat, menahan beban yang lebih besar dari utang. Aroma tembakau lintingan murahan dan keringat basi yang selalu menguar dari Kohar sudah tercium samar-samar. Beberapa langkah saja dari tempat tidurnya, ia sudah di depan pintu.

​Cklek. Ia menarik kunci grendel. "Lho, Bang Kohar? Ada—ap"?

​"Ada apa, ada apa?!" potong Kohar. Wajahnya yang penuh bekas luka berjarak hanya sejengkal dari wajah Rama. Mata rentenir itu bukan marah, tapi puas. "Jangan pura-pura lupa, Rama. Ini sudah waktunya bayar utang! Sepuluh juta beserta bunganya!"

​Rama mundur selangkah, napasnya tertahan.

"Tapi, Bang... Orang tua saya cuma berutang lima juta. Kenapa tiba-tiba jadi sepuluh juta?"

​Kohar menyeringai, menampilkan gigi kuningnya. "Itu biaya ketidakmampuan orang tuamu. Mau banyak omong? Bayar sekarang juga, atau gubuk cantikmu ini akan saya jadikan kayu bakar!" Suara Kohar yang keras membuat beberapa tetangga mulai berdatangan.

​"Tapi Bang, saya belum punya uang," ucap Rama, suaranya tercekat.

​"Saya enggak mau tahu! Bayar sekarang juga atau kamu terima sendiri akibatnya!"

​Rama menelan ludah. Ia tahu Kohar kejam. Anak buahnya banyak. Ia melihat tetangga. Beberapa menunjukkan rasa iba, tetapi banyak yang hanya berdiri, menikmati tontonan kehancuran.

​"Tolong Bang, kasih saya waktu... Saya benar-benar enggak punya uang sekarang."

​Kohar mendorong Rama mundur dengan jari telunjuknya yang kasar. "Asal kamu tahu, Ram. Saya sudah kasih orang tuamu waktu tiga bulan. Sekarang, saya enggak mau tahu! Bayar sekarang, atau kamu serahkan sertifikat tanah sawah peninggalan orang tuamu yang saat ini dititipkan pada pamanmu."

​Rama terkejut, seperti dihantam palu. Sawah? Ia tak pernah tahu tentang sawah itu. "Ma-maaf Bang," ia menunduk, otaknya kalut.

​"Jadi mau bayar atau tidak? Atau panggil pamanmu kemari dan bawa surat kepemilikan sawah itu untuk melunasi utang orang tuamu!"

​"Ja-jangan Bang, saya janji akan segera melunasinya... Tolong berikan saya sedikit waktu!"

​"Sudahlah, Baron, panggil si Mamat itu kemari. Suruh dia bawa surat tanah peninggalan si Gufron dan Masitoh. Kalau dia tidak mau, hajar saja dia sampai menurut!"

​"Baik, Tuan."

​"Saya mohon Bang Kohar, beri saya sedikit waktu saja," Rama jatuh berlutut, memohon sambil memegang kaki Kohar.

​Bruk!

​"Diam kamu!" Kohar menendang Rama sampai terjungkal. Namun Rama tidak menyerah, terus memohon agar warisan orang tuanya tidak diambil.

​Tap. Tap. Tap.

​Baron kembali bersama seorang pria paruh baya yang berjalan membungkuk dan berkeringat dingin: Mamat, adik dari mendiang ayah Rama.

​"Bos, saya sudah membawa Mamat," lapor Baron.

​Mamat mendekati Kohar, matanya menghindari pandangan Rama.

​"Paman," suara Rama tercekat, lebih sakit dari tendangan yang ia terima. "Kenapa Paman tidak pernah bilang kalau Ayah dan Ibu sebenarnya punya sawah yang dititipkan pada Paman?"

​Mamat mengangkat dagu, sorot matanya yang selama ini tampak iba kini berubah dingin dan penuh perhitungan. "Diam kamu! Memangnya kamu mengerti soal mengurus sawah? Apalagi sawah itu warisan Kakekmu. Aku yang lebih berhak sebagai anaknya, daripada seorang cucu tak berguna sepertimu."

​Tawa Kohar meledak, memecah ketegangan. "Hahaha! Mamat, Mamat. Kau licik juga, ya. Tapi kalian tidak usah khawatir. Mulai sekarang, kalian tidak akan memperebutkan sawah itu lagi. Karena sawah itu akan jadi milikku."

​"Tuan Kohar, sawah itu milik saya karena Kak Gufron sendiri yang sudah memberikannya pada saya. Jadi sawah itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Rama," elak Mamat.

​"Paman, apa yang Paman katakan!" jerit Rama, tak menyangka pamannya sekejam ini.

​"Diam kalian! Saya sudah bilang, sawah itu milik saya sekarang. Jika kalian tidak menurut, saya tidak akan segan memukuli kalian sampai masuk rumah sakit!" Kohar memberi isyarat kepada anak buahnya.

​Mamat langsung mundur beberapa langkah. Rama masih meringkuk, memegangi perutnya yang sakit.

​"Sekarang... Bawa kemari suratnya," Kohar menatap tajam ke arah Mamat.

​"Jangan Paman, sawah itu milik Ayah dan Ibu saya... Tolong jangan berikan pada Bang Kohar!"

​Mamat mengabaikan permohonan keponakannya. Ia menyerahkan surat tanah itu pada Kohar seolah sedang membuang sampah.

​"Bang Kohar, saya mohon jangan ambil sawah orang tua saya, tolong berikan saja saya waktu satu bulan! Saya berjanji akan melunasinya!" Mohon Rama, tidak menyerah.

​Kohar melirik Baron. Tanpa kata-kata, Baron maju.

​BUK! Pukulan telak di rahang. Rama mencicipi rasa logam darahnya sendiri.

BRUK! Tendangan di rusuk. Napas Rama tercekik. Ia meringkuk, berusaha melindungi perutnya yang kosong.

​Rama menjerit kesakitan, hidungnya mengeluarkan darah. Ia melihat Mamat yang berdiri di sebelah Kohar, menatap penganiayaan keponakannya tanpa sedikit pun emosi iba.

​"Sekarang... Kamu sebaiknya tanda tangani surat ini. Kesabaranku sangat terbatas," ucap Kohar, menyodorkan pena ke arah Rama yang meringkuk kesakitan.

​"Ti-tidak... Sampai kapanpun saya tidak akan mendatangani," desis Rama.

​"Pukuli dia sampai mau mendatangani!" geram Kohar.

​Buk! Bugh! Akhh! Rama menjerit kesakitan. Orang-orang di sekitar hanya menahan napas. Mereka tahu, tidak ada yang bisa melawan Kohar di desa itu.

:Kehilangan Segalanya

​Rama hampir tidak bisa menahannya lagi. Tepat pada saat itu, suara teriakan seseorang membuatnya berusaha membuka mata.

​"Ramaaa!"

​Suhardi, teman dekat Ayah Rama, langsung menghampiri dan memeluk tubuh pemuda itu. Ia menatap Kohar dengan sorot mata marah.

​"Mamat! Dasar manusia biadab! Keponakan sendiri dipukuli, kamu hanya melihat saja? Apa kamu lupa waktu anakmu di penjara, Gufron-lah yang membebaskannya?!" teriak Suhardi.

​Mamat terdiam sejenak, lalu berkata pada Kohar, "Tuan... Kalau begitu saya mohon pamit."

​Plak! Plak! Plak!

​Tiga kali tamparan keras mendarat di pipi Mamat. Mamat terhuyung, memegang pipinya yang bengkak, tetapi mulutnya seolah terkunci, tak berani membantah.

​"Hahaha! Kamu boleh pergi sekarang," ucap Kohar puas.

​"Te-terima kasih bang," Mamat langsung lari terbirit-birit.

​"Kohar, bajingan! Kenapa kamu memukuli Rama?!" Suhardi menahan amarah.

​"Uhuk..." Rama terbatuk, darah mengalir dari hidung dan mulutnya.

​"Rama, kamu tahan ya. Sekarang kita ke rumah Bapak untuk mengobati lukamu," Suhardi membantu Rama berdiri.

​Rama menoleh kembali pada Kohar dan berkata dengan suara yang lemah, tetapi penuh kepastian. "Sampai matipun... Saya tidak akan mendatangani surat tanah hasil jerih payah orang tua saya!"

​Kohar menggeretakkan giginya. "Kamu masih tak ingin menyerah, ya?" Ia kemudian memerintahkan anak buahnya.

​"Bakar gubuk tua itu!"

​"Kohar, dasar bajingan!" Rama berusaha bangkit, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Pak Suhardi segera menahannya.

​"Sudahlah Nak, kamu bisa tinggal di rumah Bapak. Yang terpenting kita obati lukamu dulu."

​JAUH DI BELAKANG GUBUK, TERDENGAR SUARA KRETEK. BAU ASAP MULAI TERCIUM DI UDARA..

​"Siapa bilang kalian boleh pergi dari sini?" teriak Kohar, suaranya dingin.

​"Kohar, apalagi yang kamu inginkan? Apakah kamu belum cukup membuat Rama menderita?" umpat Suhardi.

​Kohar melemparkan sebuah surat pemindahan nama kepemilikan tanah. "Tanda tangani dan kalian boleh pergi," ucapnya datar.

​Suhardi menggeretakkan giginya. "Kohar, kamu jangan keterlaluan! Memangnya berapa utang Gufron padamu? Biar aku yang melunasinya!"

​"Pak..." lirih Rama, menggelengkan kepalanya pada Suhardi.

​Kohar tersenyum samar. "Jangan ikut campur, Suhardi. Kamu sudah terlalu jauh."

​Baron dan dua orang lainnya langsung mendekati Pak Suhardi.

​"Tu-tunggu! Ba-baik. Saya akan tanda tangani suratnya," Rama mengambil keputusan cepat. Ia tidak ingin Pak Suhardi celaka.

"​Ayah... Ibu. Ma-maafkan aku."

​Rama membubuhkan tanda tangan. Di saat yang sama, ia bisa mendengar atap gubuknya runtuh dimakan api.

​"Bagus. Kamu mulai cukup pintar," ucap Kohar dengan wajah puas. Ia mengambil surat itu. "Andai saja kamu menurut dari awal, Rama. Setidaknya kamu masih punya tempat untuk mati."

​Kohar, Baron, dan anak buahnya pergi, meninggalkan Rama dan Pak Suhardi yang berdiri di depan puing-puing gubuk yang terbakar. Rama tidak hanya kehilangan gubuk, ia kehilangan segala-galanya dan hatinya dipenuhi amarah yang kini tak memiliki tujuan.

Bab 2 Kemunculan dari sistem

Sesampainya di rumah Pak Suhardi

​"Ya ampun, Bapak, ada apa dengan Nak Rama?" Bu Maya terlihat cemas, segera membantu Pak Suhardi menuntun Rama ke tempat duduk.

​"Ceritanya panjang, Bu, sekarang lebih baik kita obati luka Rama terlebih dahulu," kata Pak Suhardi.

​Sementara itu, Bela baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar suara panik ibunya. Dia terkejut melihat keadaan Rama, sosok pemuda yang cukup dekat dengannya.

​"Bu... Apa yang terjadi dengan Kak Rama?" Tanyanya, ikut khawatir melihat keadaan Rama yang terluka parah.

​"Kamu cepat ambilkan kotak obat. Kita harus segera mengobati lukanya sebelum infeksi," ucap Bu Maya. Bela pun bergegas mengambil obat tanpa bertanya lagi.

​"Sebenarnya ada apa to, Pak? Kok bisa sampai seperti ini?" Setelah Bela kembali dan membawa kotak obat, tak lupa Bu Maya menyuruh Bela mengambilkan air hangat ke dalam baskom. Bu Maya lantas mulai mengobati luka Rama.

​"Jadi begini, Bu. Sepulang dari rumah Pak Slamet, Bapak ketemu ibu-ibu di jalan yang membicarakan kalau di rumah Rama banyak anak buah Kohar. Karena perasaan Bapak tidak enak, makanya Bapak langsung buru-buru ke sana. Eh, pas setibanya Bapak di sana... Nak Rama sedang dipukuli oleh Baron, anak buah si Kohar itu," jelas Suhardi.

​Bela, yang sembari meletakkan baskom berisi air, langsung menangis. Ia merasa kasihan pada Rama.

​"Hiks... Hiks... Kak, malang sekali nasibmu," ucapnya lirih sembari mengusap luka Rama dengan lap basah.

​Rama tersadar dari pingsannya dan sedikit meringis. "Sudah-sudah, Kakak tidak apa-apa, kok, Bel," ucapnya dengan suara lemah. Perhatian dari keluarga Pak Suhardi ini cukup membuat hatinya menghangat.

​Rama bahkan sudah menganggap Bela sebagai adiknya, karena dari kecil mereka tumbuh bersama. Apalagi, orang tua Rama hanya memiliki satu anak, begitu juga dengan Pak Suhardi dan istrinya yang hanya memiliki Bela. Terlebih, Pak Suhardi dan Ayah Rama sudah bersahabat sejak lama.

​Setelah beberapa saat

​Rama mulai tenang dan semua lukanya telah diobati. Rama pun mulai menceritakan semuanya tentang masalah hutang kedua orang tuanya pada Bang Kohar, serta tentang sawah yang dititipkan pada pamannya—yang ternyata justru ingin menguasainya dan sengaja tidak memberitahu Rama.

​Pak Suhardi maupun Bu Maya merasa iba pada nasib pemuda itu, tetapi mereka juga tak bisa berbuat apa-apa selain memberi wejangan agar Rama tetap sabar dan ikhlas.

​"Yang sabar ya, Nak Rama. Meski Bapak dan Ibu tak bisa banyak membantu, tetapi mulai sekarang Nak Rama tinggal saja di rumah ini," ucap Bu Maya penuh ketulusan.

​Rama merasa terharu mendengarnya. Memang, di desa ini, Rama merasa tidak ada yang lebih peduli padanya selain Pak Suhardi dan keluarganya.

​"Terima kasih," Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca.

​"Nah, sekarang kamu bawa Nak Rama ke kamar tamu untuk beristirahat. Jangan diajak bicara dulu. Biar Nak Rama bisa beristirahat dengan tenang," ucap Bu Maya pada Bela, dan gadis itu pun mengangguk patuh.

​"Ayo, Kak, aku bantu ke kamar."

​Rama yang memang masih lemah untuk sekadar berdiri tegak, ia pun mengangguk. Dengan bantuan Bela memapahnya, ia memasuki kamar tamu di rumah Pak Suhardi.

​"Terima kasih ya, Bel, kamu selalu saja baik pada Kakak."

​"Apa sih yang Kakak bicarakan? Aku sudah menganggap Kak Rama itu seperti kakak aku sendiri. Lagipula, Kakak juga dulu sering sekali membantu Bela."

​Rama hanya bisa tersenyum lembut, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu. Sementara Bela langsung beranjak keluar.

"Jika Kakak butuh sesuatu, jangan sungkan memanggil Bela, ya," ucapnya sebelum menutup pintu kamar.

​Rama menghela napas berat. Terlalu berat beban hidup yang ia jalani. Lima bulan lalu kedua orang tuanya meninggal dunia akibat bencana tanah longsor yang menimpa rumahnya. Masih teringat jelas di ingatannya tentang kejadian itu.

​Dan yang baru saja ia alami sekarang, adalah salah satu dari penderitaannya sejak ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

​"Ayah, Ibu... Maafkan aku," ucapnya lirih lalu mulai memejamkan matanya dengan harapan setelah bangun nanti hidupnya akan berubah, meski pada kenyataannya ia sudah ingin menyerah.

​Keesokan paginya

​Waktu menunjukkan pukul 07.30. Rama merasa seluruh tubuhnya masih terasa sakit, yang membuatnya malas untuk bangun.

​Tok

Tok

Tok

​Bu Maya langsung memutuskan untuk masuk karena ia berpikir Rama masih tertidur dan ia tidak ingin mengganggunya. Ia berniat masuk hanya untuk memastikan keadaan pemuda itu dan menaruh makanan sebelum dirinya pergi ke sawah.

​"Bu Maya... Maaf, saya baru saja ingin membuka pintunya tadi."

​"Eh, tidak usah bangun. Ibu cuma mau menaruh makan ini untuk kamu," ucap Bu Maya ketika melihat rupanya Rama sudah bangun, dan ia segera menahan pemuda itu yang ingin bangkit.

​Rama pun kembali berbaring dan Bu Maya kembali berkata, "Kata Bapak, kamu istirahat saja sampai benar-benar pulih, baru boleh membantu lagi di sawah." Selama ini Rama memang bekerja sebagai kuli di sawah Pak Suhardi, karena selain Pak Suhardi sangat baik padanya, ia juga bisa sekalian membantu keluarga Pak Suhardi sesuai kemampuannya.

​"Iya, Bu. Terima kasih karena sudah membantu Rama dan memberi tempat buat Rama tidur. Maaf karena Rama selalu merepotkan keluarga Ibu."

​"Haish... Siapa yang merepotkan? Kan sudah Ibu bilang, mulai sekarang kamu tinggal saja di sini. Ibu sama Bapak juga tidak keberatan, malah senang karena Bela nantinya akan memiliki teman di rumah ini ketika Bapak sama Ibu sedang tidak ada di rumah," ucap Bu Maya, benar-benar membuat hati Rama tersentuh. Ia berjanji akan membalas kebaikan keluarga Pak Suhardi ini di masa depan.

​"S-saya hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Ibu dan Bapak," ucapnya dengan nada bergetar.

​"Iya, sama-sama. Lagian selama ini kamu juga sudah banyak membantu keluarga Ibu. Jadi ke depannya Nak Rama jangan sungkan lagi ya, anggap saja keluarga sendiri. Kamu juga bisa menganggap kami sebagai orang tuamu. Dengan begitu, harapan Bela untuk memiliki kakak akan terpenuhi," ujar Bu Maya dengan senyum lembut penuh ketulusan.

​Rama hanya bisa diam tanpa kata, tetapi tatapan matanya sudah menunjukkan ungkapan terima kasih yang tulus kepada Bu Maya dan keluarga. "Ya sudah, kalau begitu Ibu tinggal dulu ya. Jangan lupa dimakan, biar tubuh kamu cepat membaik."

​"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya."

​Setelah Bu Maya keluar, Rama kembali memejamkan matanya, namun kali ini pikirannya melayang entah ke mana. "Ya Tuhan, kenapa hidupku begitu menyedihkan? Tidakkah Kamu memberiku sedikit saja kebahagiaan atau kesempatan untuk memperbaiki semuanya?"

​Lima bulan berlalu, tetapi sakit di tulang punggungnya—yang retak karena terkena sedikit reruntuhan atap kala itu—seolah menjadi pengingat abadi atas tragedi tersebut. Hanya karena waktu itu ia dilindungi oleh sang Ayah dan Ibu dari atap rumahnya yang ambruk, nyawanya terselamatkan. Saat itu kejadiannya begitu cepat di malam hari, hingga membuat dirinya beserta kedua orang tuanya tak memiliki waktu untuk melarikan diri. Di tengah kepanikan itu, kedua orang tua Rama berusaha melindungi dirinya dari reruntuhan atap rumah yang menimpanya, dan alhasil kedua orang tuanya kehilangan kesadaran di atas tubuhnya.

​Tepat ketika dirinya berusaha bangkit untuk mengangkat tubuh kedua orang tuanya, sebuah lemari menimpanya. Ingatan terakhirnya melihat tubuh kedua orang tuanya tertimpa reruntuhan lainnya.

​"Hiks... hiks... Ayah, Ibu, maafin Rama. R-Rama lah yang telah membuat kalian... Hiks... hiks..." Rama menangis sejadi-jadinya, teringat kejadian itu, sebuah kejadian yang terus menghantui dirinya siang dan malam.

​Namun... tepat di sela-sela tangisannya, suara aneh tiba-tiba terdengar.

[​DING: BUKAN SISTEM BIASA: SIAP DI AKTIFKAN

SISTEM MENDETEKSI TUAN RUMAH YANG DITAKDIRKAN DALAM KEADAAN TERPURUK. APAKAH TUAN RUMAH MEMBUTUHKAN BANTUAN DARI SISTEM? SILAHKAN TUAN PILIH (YA) ATAU (TIDAK).

​Rama bengong sesaat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah memastikan apakah barusan dia mendengar ada yang berbicara.

[​DING: APAKAH TUAN INGIN MEMASANG... BUKAN SISTEM BIASA? YA ATAU TIDAK?"]

​"Eh?" Rama bingung. Ia merasa suara itu ada di dalam kepalanya sendiri. Rama menggelengkan kepalanya cepat. "Apakah aku sudah gila? Mungkinkah kemarin anak buah Bang Kohar terlalu berlebihan memukul kepalaku?" Gumamnya bingung.

[​DING: MENURUT ANALISIS DARI SISTEM, TUAN HANYA MENGALAMI SEDIKIT KERUSAKAN PADA FISIK TUAN, TETAPI TIDAK MEMPENGARUHI PADA ANGGOTA TUBUH LAIN TERMASUK OTAK TUAN. JIKA TUAN BERSEDIA... SISTEM AKAN MEMBANTU TUAN UNTUK MEMPERBAIKI KERUSAKAN PADA FISIK TUAN, TETAPI TUAN HARUS MENERIMA TERLEBIH DAHULU KEHADIRAN SISTEM AGAR MENYATU DENGAN TUBUH TUAN.

APAKAH TUAN AKAN MAU MENERIMANYA? YA ATAU TIDAK...?]

​"I-ini...?" Rama merasa ada yang aneh pada dirinya.

​"Sis-sistem... Apa-apa itu? Apakah kamu setan? Atau ma-malaikat?" Tanya Rama gugup penuh kebingungan.

[​DING: TIDAK, TUAN. SAYA ADALAH SISTEM YANG BISA DISEBUT DENGAN NAMA, BUKAN SISTEM BIASA. SAYA ADALAH SISTEM YANG AKAN MEMBANTU MERUBAH TAKDIR TUAN. APAKAH TUAN INGIN MENGAKTIFKAN BUKAN SISTEM BIASA? YA ATAU TIDAK?]

​"Akhh... Daripada aku pusing sendiri, lebih baik aku ikuti saja," pikir Rama.

[​DING: JADI APAKAH TUAN INGIN MENERIMA SISTEM? YA ATAU TIDAK?]

​"Ya... ya... Aku mau menerimamu!" Jawab Rama lantang karena ia berpikir ini hanyalah halusinasi dan mungkin setelah ia menjawab Ya, semuanya kembali normal. Namun, justru setelah jawaban itu terlontar dari mulutnya, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di kepalanya.

[​DING: PENYATUAN SISTEM DENGAN TUBUH TUAN DIMULAI.]

​"Akhhh... Ap-apa yang terjadi? Ke-kenapa tiba-tiba kepalaku sakit sekali?"

​10%

20%

30%

40%

50%

.......

100%

[​DING: PENYATUAN SISTEM DENGAN TUBUH TUAN TELAH SELESAI.]

​"Ap-apa itu tadi? Kenapa rasanya kepalaku hampir meledak?" Keringat bercucuran dari wajah Rama. Selama proses tadi, ia terus berteriak kesakitan memegangi kepalanya, hingga pada titik di mana suara 100% anehnya, rasa sakitnya langsung hilang begitu saja, digantikan dengan suara: "Penyatuan dengan tubuh Tuan telah selesai."

[​DING: SELAMAT,TUAN TELAH MENJADI TUAN RUMAH RESMI BUKAN SISTEM BIASA!

TUAN MENDAPATKAN HADIAH PENYATUAN DARI SISTEM BERUPA PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI.

APAKAH TUAN AKAN MENGAMBILNYA SEKARANG? YA ATAU TIDAK?]

​"Hah, yang benar saja. Ini-ini sepertinya bukan halusinasi?" Gumamnya tersadar. Suara itu masih terdengar di kepalanya dan justru kali ini suaranya begitu jelas.

[DING: 100% KEBENARANNYA, TUAN. APAKAH TUAN AKAN MENGAMBILNYA SEKARANG? YA ATAU TIDAK?]

​Rama terdiam dengan waktu yang cukup lama. Ia mencoba mencerna semuanya, menepuk-nepuk pipinya dan sesekali mencubit lengannya dengan cukup keras, yang membuat dirinya meringis.

​"Sial... Ini nyata, tapi... Ah sudahlah. Lebih baik aku ikuti saja alurnya. Entah apa yang ada di kepalaku, yang jelas masa bodoh dengan keanehan ini," pikirnya.

[​DING: JADI, APAKAH TUAN INGIN MENGAMBIL HADIAH INI SEKARANG? YA ATAU TIDAK?]

​"Ya, aku mau mengambilnya sekarang!" Jawab Rama dengan suara keras. Andai ada orang di luar kamarnya dan melihat dirinya, mungkin mereka akan mengira dirinya gila karena berbicara sendiri.

[​DING: PROSES PENGELUARAN HADIAH BUTUH WAKTU SEKITAR 30 DETIK.]

​PLUK

​Tepat ketika waktu 30 detik telah berlalu, tiba-tiba pil sebesar biji salak muncul.

​"Eh...?" Dengan kejutan yang tak bisa disembunyikan, Rama menatap pil di atas kasur tanpa berkedip.

​Aneh. Bingung. Takut. Gila. Semua rasa itu bercampur menjadi satu dirasakan Rama. Ia ingin tidak percaya, tetapi ada bukti nyata sebuah hadiah yang disebutkan oleh sistem di kepalanya tadi, kini muncul di hadapannya.

​"Ini... Ap-apa kah ini asli?" Gumamnya tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk mengambil pil tersebut.

[​DING: 100% KEASLIANNYA, TUAN. TUAN BISA LANGSUNG MENCOBANYA DAN RASAKAN MANFAATNYA SECARA NYATA.]

​"Sistem, tunggu! Ka-kamu mengatakan ini adalah Pil Penyembuh Tingkat Tinggi. Bi-bisakah kamu jelaskan lebih detail?" Entah kenapa, Rama merasa apa yang ia alami sekarang begitu di luar akal sehatnya, tetapi karena semuanya tampak begitu nyata, Rama pun tidak sungkan lagi untuk bertanya pada sistem di kepalanya itu.

[​DING: TENTU SAJA, TUAN. PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI ADALAH HADIAH PERTAMA YANG DIBERIKAN UNTUK TUAN RUMAH YANG BERHASIL MELAKUKAN PENYATUAN SISTEM. MANFAAT UTAMA PIL INI ADALAH:]

1. PEMULIHAN INSTAN: Mampu menyembuhkan segala jenis luka fisik non-fatal, termasuk patah tulang, luka dalam, dan penyakit kronis, dalam hitungan detik.

2. PENGHILANGAN BEKAS LUKA: Mengembalikan kondisi fisik tubuh Tuan seperti sebelum mengalami cedera.

3. PEMBERSIHAN TOKSIN: Membersihkan segala racun atau zat berbahaya yang mungkin terakumulasi di dalam tubuh Tuan.

4. PENINGKATAN KEBUGARAN DASAR: Setelah penyembuhan, fisik Tuan akan sedikit ditingkatkan dari kondisi normal.

​"Sebentar... Kamu bilang, mampu menyembuhkan patah tulang? Termasuk... tulang punggungku yang retak?" Tanya Rama, suaranya tercekat oleh harapan yang tiba-tiba membuncah.

[​DING: BENAR, TUAN. PIL INI JUGA AKAN MEMULIHKAN KERUSAKAN TULANG PUNGGUNG TUAN YANG DIAKIBATKAN OLEH BENCANA LIMA BULAN LALU.]

​Rama menatap Pil Penyembuh di tangannya. Air matanya kembali menetes, tetapi kali ini, itu adalah air mata kelegaan. Ini bukan hanya pil, ini adalah kesempatan kedua.

​"Aku... Aku akan meminumnya," ucap Rama yakin.

[​DING: TUAN RUMAH MEMILIH UNTUK MENGKONSUMSI PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI. PROSES DIMULAI.]

Bab 3 misi pertama dari sistem

Rama menelan. Seketika pil itu mencair di tenggorokannya, rasanya seperti meminum besi panas yang cair. Bukan hanya rasa sakit, tapi seluruh tubuhnya memberontak—uratnya menegang, ototnya serasa dicabik dari tulang. Napasnya tercekat, mata Rama melotot menatap langit-langit.

​"Akhh! Sistem... Pil apa yang... yang ka-kau berikan?! Kenapa efeknya se-sakit ini!" Suara pekikan Rama bercampur rintihan tajam, tenggorokannya tercekat.

​Hening. Tidak ada balasan.

​"Sialan..." Kepalanya terhempas ke bantal. Rasa sakit itu bukan lagi gelombang, tapi badai tak berkesudahan yang merenggut kesadarannya secara paksa. Gelap.

​Siang hari menjelang sore.

​Tas sekolah Bela baru saja mendarat di kursi ruang tamu ketika ia bergegas menuju kamar Rama. Ia harus memastikan keadaan pemuda itu.

​Tok. Tok. Tok.

​"Kak Rama," panggilnya pelan. Tidak ada jawaban, hanya keheningan dari dalam.

​"Kak? Kamu ada di dalam?" Nada Bela naik satu oktaf. Ia tidak melihat Rama di sekitar rumah; kepanikan tipis mulai menjalar di dadanya.

​Samar-samar, suara itu menyentuh pendengaran Rama. Kelopak matanya bergerak, lalu terbuka perlahan.

​"Kak, Kakak ada di dalam, kan? Apa Kakak baik-baik saja?" Suara Bela di balik pintu terdengar mendesak.

​"Aduh... Apa yang terjadi denganku?" Rama bangkit, menopang tubuhnya yang berat. Aroma tak sedap—asam dan keringat—langsung menyeruak.

​"Kak, aku buka pintunya ya?" ujar Bela lagi.

​"Tu-tunggu sebentar, Dek!" Rama menyahut cepat, suaranya terdengar tercekat. "Kakak sudah bangun, kok. Kamu, kamu tunggu saja di ruang tamu. Kakak mandi dulu sebentar."

​Bela di luar pintu agak sedikit mengerutkan kening. "Tapi Kakak baik-baik saja kan?" tanyanya memastikan. Jelas sekali gadis itu mengkhawatirkannya.

​"Ya, ya, Kakak baik-baik saja! Sebentar lagi Kakak akan keluar," sahut Rama.

​"Oh, syukurlah. Kalau begitu Bela tunggu di ruang tamu ya, Kak. Tapi Bela mau ganti baju dulu sebentar."

​"Iya, Dek."

​Setelah memastikan Bela sudah pergi, Rama mulai menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Lebih tepatnya, semua rasa sakit akibat kejadian kemarin sudah tak ia rasakan lagi. Bahkan, Rama merasakan tubuhnya begitu segar dan penuh dengan tenaga yang meluap-luap.

​Tubuh Rama terasa ringan, seolah beban bertahun-tahun telah diangkat. Ia berdiri, menggerak-gerakkan bahu dan lehernya—tidak ada lagi bunyi gemeretak, tidak ada lagi rasa kaku. Ia mengangkat tangannya dan meraba keras punggungnya.

​Kosong.

​Tulang punggungnya. Sempurna. Bekas luka yang seharusnya terasa kasar dan menonjol, hilang tak berbekas.

​"I-ini...?" Rama mundur dua langkah, matanya terpaku pada jarinya sendiri. "Aku benar-benar sembuh? Ja-jadi Sistem itu nyata... dia tidak membohongiku!" Suaranya bergetar hebat, karena euforia yang campur aduk dengan kebingungan gila.

​DING: 100% BENAR, TUAN.

​Suara Sistem di kepalanya kembali mengejutkannya. Sungguh, Rama sampai saat ini masih sulit mempercayai atas apa yang dirinya alami.

​"Sistem, ja-jadi apa sebenarnya kamu?"

[​DING: TUAN, JIKA INGIN BERTANYA ATAU BERBICARA PADA SISTEM, TUAN CUKUP BERBICARA LEWAT PIKIRAN TUAN SAJA KARENA SAAT INI SISTEM SUDAH MENYATU DENGAN TUBUH TUAN.]

​Rama terdiam sesaat. Ia pun langsung mencoba berbicara, tetapi hanya menggunakan pikirannya.

​(Melalui Pikiran) "Jadi, apa kamu sebenarnya, Sistem? Jelaskan semua tentang dirimu. Dari mana kamu berasal, dan apa yang kamu inginkan dariku?"

​Ada jeda singkat, seolah Sistem sedang memproses perintah yang kompleks.

[​DING: SISTEM ADALAH SEBUAH ENTITAS PANDUAN EVOLUSI MULTIVERSAL YANG BERASAL DARI DIMENSI LEBIH TINGGI. TETAPI UNTUK LEBIH SPESIFIKNYA, ASAL SISTEM SENDIRI MASIH DI-RAHASIAKAN DAN TUAN HARUS MEMBUKA RAHASIA ITU DENGAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN TUAN.

​SISTEM SENDIRI DI-RANCANG UNTUK MEMBANTU SALAH SATU MAKHLUK YANG DI-TAKDIRKAN, DAN TUAN TELAH TERPILIH SEBAGAI MAKHLUK YANG DI-TAKDIRKAN ITU. NAMA SEMENTARA SISTEM ADALAH BUKAN SISTEM BIASA. BISA TUAN RUBAH SESUAI KEINGINAN TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Aduh. Kamu bicara seperti novel fantasi saja, Sistem? Apakah aku sekarang harus menjadi pahlawan super, atau semacamnya?"

[​DING: FOKUS TUAN SAAT INI ADALAH MENGUATKAN DIRI SENDIRI. PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI YANG TELAH TUAN KONSUMSI TELAH MEMPERBAIKI SEGALA CACAT TUBUH TUAN DAN MEMBUKA POTENSI EVOLUSI. SELANJUTNYA, SISTEM AKAN MEMANDU TUAN MELALUI MISI DAN MEMBERIKAN HADIAH UNTUK MENGAKUMULASI KEKUATAN.]

​"Misi? Hadiah? Ini benar-benar seperti permainan video! Oke, jika ini permainan..."

​"Kak... Ap-apa kamu masih mandi?" Tepat pada saat Rama ingin bertanya lebih lanjut, suara Bela di depan kamarnya kembali terdengar.

​"Ah sudahlah... Kita lanjutkan nanti saja. Sekarang aku ingin mandi dulu, kasihan Bela terus menunggu di luar."

​Selanjutnya, Rama pun keluar lewat pintu belakang. Tak berselang lama, suara guyuran air mulai terdengar. Rama, dengan perasaan yang berbeda, bergumam, "Ughhh. Segarnya... Ternyata Sistem benar. Sungguh pil yang menakjubkan. Andai saja masih banyak, pasti aku akan menjalaninya dengan harga mahal."

​"Hahaha. Keajaiban, sungguh keajaiban... Akhirnya Tuhan sang Pencipta alam tak tutup mata atas penderitaan yang aku alami selama ini," Rama terus bergumam sendiri sembari mengguyurkan air pada tubuhnya, sampai ia memutuskan untuk menyudahi mandinya.

​Cklek.

​Rama membuka pintu kamarnya dengan senyuman yang merekah, juga pakaian milik Pak Suhardi yang ia kenakan. Di depan pintu kamarnya, Bela sudah menunggu dengan sabar.

​"Kak. Kakak udah sembuh? Kok kelihatannya—AHH?!" Bela tiba-tiba memekik, telapak tangannya terangkat menutupi mulut.

​"K-kenapa, Bel? Kamu kenapa?" Rama menatapnya panik, raut wajahnya seketika cemas.

​"I-itu... Luka Kakak, kok hilang?" Bela menurunkan tangannya, bola matanya bergerak cepat memindai wajah Rama. Ia dengan berani meraih pergelangan tangan Rama, membalikkannya, lalu sedikit mengangkat ujung kaus Rama ke atas. Nihil. Tidak ada sedikit pun bekas luka yang ia obati semalam.

​"Bagaimana mungkin?" bisiknya, matanya menyipit penuh kecurigaan saat menatap Rama. Jelas dia yang merawat luka-luka itu.

​"Eh, itu... Mmh, mungkin karena luka Kakak dirawat oleh seorang gadis cantik dengan penuh ketulusan, jadi... luka Kakak langsung sembuh begitu saja!" Rama sedikit gelagapan untuk menjawab. Ia melupakan hal penting ini: luka yang sembuh total dalam semalam jelas bukan hal yang normal.

​"Kak. Kamu...?" Jelas wajah Bela seketika langsung memerah mendengar jawaban dari Rama.

​Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menyunggingkan senyum kaku. "Ja-jadi ada apa kamu memanggil Kakak?" tanya Rama, berusaha menghilangkan ketegangan.

​Bela tak segera menjawab. Ia justru mengingit bibir bawahnya sambil memandangi tubuh Rama dari atas sampai bawah, membuat Rama hanya bisa pasrah. "Oh ya, Ibu sama Bapakmu apakah sudah pulang?"

​"Belum. Bapak masih di sawah, sedangkan Ibu mau ke rumah Pak RT, enggak tahu mau ngapain," jawab Bela, meski pandangannya masih meneliti Rama, tak percaya luka di wajah Rama hilang begitu saja.

​"Ah. Kalau begitu Kakak mau ke kamar lagi saja. Badan Kakak sebenarnya masih sakit, mungkin butuh istirahat sebentar lagi untuk benar-benar pulih," Rama terpaksa mencari alasan karena dia harus memahami sistem di kepalanya.

​"Hm. Ya sudah deh, Bela juga mau ke kamar aja mau tidur, capek soalnya baru pulang sekolah." Bela tersenyum kecil. "Tadinya sebenarnya Bela mau mijitin Kak Rama, karena di sekolah Bela kepikiran terus, takutnya Kak Rama sakitnya makin parah. Eh, tahunya... udah sembuh kayaknya."

​Ucapan Bela membuat hati Rama menghangat. "Ya sudah, Kakak duluan ya ke kamar. Makasih sudah perhatian sama Kakak," sambil mencubit pipi Bela sedikit, Rama pun memasuki kamarnya kembali.

​"I-iya, Kak," jawab Bela dengan pipi kembali memerah, bukan karena cubitan, tetapi karena hal lain yang membuat dirinya justru langsung salah tingkah dan tersenyum sekilas saat Rama sudah menghilang masuk ke kamarnya.

​Di dalam kamar.

​(Melalui Pikiran) "Sistem, apakah kamu mendengarku?"

[​DING: TENTU SAJA, SISTEM AKAN SELALU MENDENGAR TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Baiklah, kalau begitu jelaskan kembali semua tentangmu,"

[​DING: SISTEM ADALAH SEBUAH KEAJAIBAN DAN HANYA ADA SATU-SATUNYA DI DUNIA INI, DAN TUAN ADALAH MANUSIA PALING BERUNTUNG KARENA TELAH DI-PILIH OLEH SISTEM. SISTEM SUDAH MENYATU DENGAN TUBUH TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Jelaskan lebih detail lagi, tentang kegunaan, mulai tentang bagaimana aku menggunakanmu atau misi apa saja yang akan kamu berikan padaku?"

[​DING: SEMUA YANG TUAN BUTUHKAN AKAN SISTEM SEDIAKAN, HANYA SAJA TUAN HARUS MEMBELI YANG TUAN BUTUHKAN DENGAN SEBUAH POIN. DAN POIN TERSEBUT BISA TUAN DAPATKAN MELALUI MISI YANG AKAN SISTEM BERIKAN NANTINYA. HADIAH DARI MISI TERGANTUNG KEBERUNTUNGAN TUAN; TERKADANG TUAN HANYA AKAN MENDAPATKAN POIN, TETAPI AKAN ADA JUGA HADIAH KEJUTAN LAINNYA.

​SELAIN ITU, SETIAP TUAN MELAKUKAN LOGIN HARIAN, TUAN AKAN MENDAPATKAN POIN DAN JUGA HADIAH SECARA ACAK.]

​(Melalui Pikiran) "Hm... Cukup menarik."Lalu berapa poin yang aku miliki sekarang?"

[​DING: TUAN HANYA PERLU MEMBUKA PROFIL TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Eh," Rama tidak berharap akan ada hal semacam itu juga. (Melalui Pikiran) "Lalu bagaimana caranya aku membuka profilku?"

[DING: TUAN TINGGAL MENYEBUTKAN KATA KUNCI UNTUK MEMBUKANYA, DAN SISTEM AKAN SECARA OTOMATIS MENYIMPAN KATA KUNCI YANG TUAN BERIKAN.]

​Rama mulai mengerti, dan ia pun langsung berkata di dalam pikirannya: (Melalui Pikiran) "Sistem buka profilku."

[​DING: KATA KUNCI DI-SIMPAN. MOHON TUAN TUNGGU BENDA SAAT.]

​Lalu tak berselang lama, sebuah panel atau layar transparan muncul di depan mukanya. Dengan sangat jelas Rama melihat profil tentangnya.

[​DING: PROFIL TERBUKA

​NAMA : Rama Keswara

RAS : Manusia

UMUR : 17 Tahun

KEKUATAN TUBUH : 20% / 1000%

POIN TUKAR : 30

KEAHLIAN YANG DI-KUASAI : 0

​PROFIL INI AKAN TERUS BERTAMBAH DAN BERGANTI SESUAI KEBERUNTUNGAN TUAN JUGA USAHA TUAN DALAM MENYELESAIKAN MISI.]

​"Ini...? Bukankah ini terlalu luar biasa," serunya hingga tepat ketika dirinya melihat angka tentang kekuatan tubuh. Andai saja ia sedang minum, pasti dirinya sudah menyemburkan air itu dari mulutnya.

​"Pffftttt... Ap-apaan ini? Kenapa kekuatan tubuhku hanya 20% dari 1000? Apakah kamu tidak salah, Sistem?" Kepalanya menggeleng tak percaya.

[​DING: JUJUR SAJA, TUBUH TUAN SAAT INI MEMANG MASIH LEMAH. JADI, TUAN HARAP SADAR DIRI DAN PERBANYAK BERLATIH FISIK.]

​"Sial... Kau menghinaku, Sistem! Pernahkah kau merasakan di pukul bagian bokong?" gerutu Rama kesal. Namun, jawaban dari Sistem selanjutnya membuat dirinya ingin muntah darah saat itu juga.

[​DING: TUAN PUKUL SAJA BOKONG TUAN, KARENA BOKONG TUAN ADALAH BOKONG SISTEM JUGA.]

​Rama tidak tahu antara ingin tertawa atau menangis. Ia merasa, makin ia mengetahui banyak tentang sistem ini, makin aneh pula sistem ini.

​"Sudahlah... Lebih baik aku keluar rumah sekalian cari angin," ucapnya lalu keluar kamar. Ia melihat sekilas ke arah kamar Bela. Mendapati pintu kamar gadis itu tertutup rapat, Rama pun langsung pergi keluar dari rumah itu.

​Namun baru saja ia tiba hendak menyeberangi jalan.

[​DING: MISI PERTAMA UNTUK TUAN RUMAH.

BANTU ANAK KECIL YANG TERSESAT. HADIAH BERUPA KEAHLIAN MEMASAK RAJA CHEF DAN 100 POIN PENUKARAN.]

​"Eh, misi pertama?" gumamnya lalu melihat ke sekeliling, mencari sosok anak kecil yang dimaksud oleh Sistem.

​"Hiks... hiks hiks... Ayah, Ibu, kalian di mana... Adi takut,"

​Tepat pada saat Rama mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pohon pinggir jalan, ia melihat sosok anak kecil tengah menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut, bahunya bergetar karena tangis.

​Segera Rama pun menghampiri anak kecil itu dan bertanya, "Adik, kenapa kamu menangis sendirian di sini?"

​Anak kecil itu mendongak dengan sesenggukan. "Kak, tolong Adi. Adi takut..." ucapnya pelan.

​"Iya, iya... Adik tenang dulu ya. Jangan menangis dan coba ceritain sama Kakak. Kenapa Adik sendirian di sini? Ke mana kedua orang tua Adik?" Melihat penampilan bocah itu—sepatu bersih dan pakaian rapih—Rama menduga pasti ia berasal dari kota. Ia juga tidak mengenal anak itu.

​"Adi, Adi enggak tahu, Kak. Tadinya Adi bermain di taman bareng Ayah sama Ibu Adi, terus Adi lihat layangan putus... Terus Adi kejar sampai sini, Kak. Hiks hiks hiks,"

​Rama sedikit mengerutkan keningnya. Di desa ini hanya ada satu tempat yang bisa disebut taman, dan itu berada tak jauh dari sini. "Oh, jadi nama kamu Adi."

​"Iya, Kak."

​"Nama Kakak Rama. Adi bisa panggil Kak Rama. Kalau Adi mau, Kakak bisa antar Adi ke taman di mana sebelumnya Adi main?"

​Anak laki-laki itu menatap Rama cukup lama dengan mata berkaca-kacanya. Meskipun ia merasa Rama bukan orang jahat, tetapi bagaimanapun dirinya selalu diingatkan oleh kedua orang tuanya agar tidak sembarang ikut dengan orang baru.

​"Jangan menangis lagi. Kakak bukan orang jahat, kok. Kakak juga tinggal tak jauh dari sini... Rumah Kakak ada di sebelah sana. Atau, jika Adi mau, kita ke rumah Kakak saja, nanti biar Kakak yang cari di mana kedua orang tua Adi berada. Bagaimana?" Rama berusaha agar tidak membuat anak itu takut, apalagi anak kota biasanya selalu hati-hati dengan orang baru.

​"Adi, Adi mau ketemu Ayah sama Ibu Adi, Kak. Mereka pasti nyariin Adi."

​"Kalau gitu, kita ke taman aja. Siapa tahu Ayah sama Ibu Adi masih ada di sana."

​Setelah diam sesaat, bocah itu pun mengangguk pelan. Rama tersenyum lega dan langsung mengajak anak itu ke tempat yang biasa disebut taman itu.

​"Umur Adi berapa?" tanya Rama sembari berjalan pelan agar tidak membuat anak itu tegang.

​"Tu-tujuh tahun, Kak."

​"Adi bukan berasal dari desa ini, ya?"

​"Iya, Kak. Adi ke sini ikut sama Kakek."

​Setelah beberapa saat berjalan, Rama dan anak kecil itu tiba di sebuah balai desa, yang mana taman yang disebut oleh Adi letaknya tak jauh dari sana.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!