Indonesia
NovelToon NovelToon

Gagal Nikah

Pertama Bertamu

Terlihat seorang gadis cantik dengan hijab pasmina menutupi mahkotanya, terlihat tergesa-gesa melangkah masuk ke dalam sebuah lobby Rumah Sakit.

Setelah dia menanyakan kepada resepsionis dimana pasien yang di maksud berada, dia pun langsung melangkah dan berlari kecil menyusuri koridor Rumah Sakit. Dia melihat pintu sebuah lift terbuka membuat dia buru-buru untuk masuk ke dalam lift tersebut.

Tapi sayang, langkahnya harus terhenti saat tubuhnya tanpa sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari lift yang sama.

"Astaghfirullah..!" tubuh gadis itu pun terhuyung ke belakang. Beruntung dia tak jatuh karena tangannya sempat menarik lengan orang yang sudah dia tabrak tadi.

Orang itu pun reflek meraih pinggang ramping gadis itu supaya mereka tidak terjatuh.

Beberapa detik mata mereka terlihat saling tatap. Gadis itu terlihat bergidik ngeri saat melihat tatapan mata yang terlihat tajam mengarah padanya.

Gadis itu dengan cepat melepaskan diri dari rengkuhan pria itu.

Sedetik kemudian terdengar suara yang membuat gadis itu terkejut. "Apa-apaan ini!!" sebuah bentakan keras terdengar di telinga gadis itu.

"Ma_maaf..saya mohon maaf tuan, saya sangat ceroboh..maaf kalau..

Belum juga selesai bicara, pria itu melangkah pergi meninggalkan tempat itu membuat si gadis langsung diam.

Astaghfirullah,itu orang serem amat sih..muka sih ganteng, tapi..tatapan matanya menakutkan gadis itu hanya bisa membatin mengingat wajah tampan pria yang sempat dia tabrak itu dan yang membuat dia takut tatapan matanya yang tajam saat menatap dirinya.

Gadis itu menaiki lift menuju lantai dimana sang ibu sedang dirawat.

Gadis itu pun membuka pintu kamar rawat sang ibu. "Assalamualaikum."

"Wa'alaikum salam, Dania..kamu sudah datang." seorang perempuan paruh baya menatap ke arah gadis bernama Dania.

"Budhe, gimana keadaan ibu?" Dania menyalami tangan perempuan yang merupakan kakak dari ibunya itu.

"Dania,sakit jantung ibumu semakin parah. Dokter Heru yang menanganinya menyarankan untuk ibumu segara di operasi."

Dania menatap sang ibu yang terbaring lemah di atas brangkar dengan selang oksigen dan juga infus. "Kira-kira berapa biaya yang harus Nia butuhkan budhe?" dengan nada lirih Dania bicara pada Lela kakak dari ibu kandung Dania.

"Kata dokter, kira-kira kamu harus sediakan dana dua ratus juta lebih Nia."

Deg.

Ya Allah, dapat uang dari mana sebanyak itu? Bahkan aku belum dapat pekerjaan lagi. Dania hanya bisa membatin mengingat dirinya sampai sekarang belum juga mendapat pekerjaan lagi setelah di PHK saat bekerja di pabrik.

" Nia, apa kamu sudah dapat pekerjaan?" Dania menggelengkan kepalanya dengan lemah.

"Belum budhe, dari pagi Nia beberapa kali masukin lamaran semuanya nggak ada lowongan."

Lela mengusap punggung Dania. "Kamu yang sabar ya Nia, semoga kamu cepat dapat pekerjaan. Maafin budhe yang nggak bisa bantu banyak. Kamu tahu sendiri gaji Pakdhe kamu habis buat biaya kuliah Fitri. Sedangkan penghasilan warung budhe hanya cukup buat makan sama bayar kebutuhan rumah." Lela sebenarnya kasihan pada ponakan nya itu. Bagaimanapun dia hanya hidup berdua dengan ibunya yang sudah lama sakit-sakitan. Sedangkan dia hanya lulusan SMA.

"Nggak apa-apa budhe, Nia juga mini maaf kalau Nia sana ibu selalu nyusahin keluarga budhe. Apalagi dengan kondisi ibu, sering Nia tinggal pergi. Menyita waktu budhe buat nengokin ibu. Apalagi ibu yang suka kumat,Nia ucapkan banyak terimakasih."

"Jangan sungkan Nia, cuma keluarga budhe sekarang jelas-jelas keluarga kamu. Kalau ada apa-apa jangan ragu bilang kami yaa.."

"Iya budhe terimakasih." Lela menepuk bahu Dania.

Lama tak berselang, Lela berpamitan pada Dania untuk pulang lebih dulu. Sementara ibu Dania masih terpejam matanya, kata dokter kira-kira satu jam lagi beliau sadar.

Dania berniat ingin membeli beberapa makanan kecil dan melaksanakan solat. Sebelum meninggalkan ruangan ibunya, dia menitipkan ibunya pada suster jaga.

Saat menunggu pesanan, tanpa sengaja Dania mendengar dua orang sedang bicara serius. Terlihat laki-laki paruh baya berseragam safari duduk di depan wanita yang tak jauh umur nya dengan laki-laki itu.

"Anto, saya minta kamu cari asisten rumah tangga satu lagi. Saya mau secepatnya, tapi ingat...jangan asal-asalan. Kamu tahu kan, sifat Kendra bagaimana?"

"Baik nyonya, saya akan bilang sama Suti juga, kali saja dia punya tetangga yang kebetulan sedang mencari pekerjaan." wanita itu terlihat menganggukan kepalanya.

Asisten rumah tangga, sepertinya aku harus coba bicara sama ibu itu. Kali saja ibu itu bisa ngasih kerjaan buat aku. Dania yang mendengar percakapan dua orang itu, akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan pekerjaan pada perempuan yang saat ini masih duduk di kantin Rumah Sakit.

Dania yang melihat dua orang yang tadi sempat ngobrol itu sudah beranjak dari tempat duduknya, bahkan melangkah siap meninggalkan tempat itu. Dania dengan cepat mendekati dua orang tersebut.

"Permisi nyonya, maaf kalau saya lancang. Kebetulan tadi saya dengar kalau nyonya sedang mencari orang untuk jadi asisten rumah tangga? Apa saya boleh mengajukan diri untuk bekerja dengan nyonya?"

Wanita dan laki-laki itu pun saling tatap sejenak. "Memang benar saya sedang cari asisten rumah tangga. Tapi maaf, kamu kelihatan masih muda, umur kamu berapa?"

"Umur saya 20 tahun nyonya.."

"Nama kamu?"

"Nama saya Dania.Saya kebetulan baru di PHK dari pekerjaan saya sebelumnya. Makanya saya sedang mencari pekerjaan.Jadi, jika nyonya berkenan..saya ingin mendaftar dan siap untuk bekerja dengan nyonya kapan pun nyonya butuhkan."

Wanita itu tersenyum tipis mendengar ucapan Dania. "Baiklah Dania, saya terima kamu bekerja dengan catatan kamu harus rajin dan jangan main-main, saya percaya kamu dan sebaliknya kamu harus jaga kepercayaan saya, mengerti?"

Mendengar ucapan wanita itu, Dania merasa senang dan lega karena itu artinya dia akan bekerja besok.

"Mengerti nyonya, terimakasih atas kesempatan nya. Insyallah saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang nyonya kasih ke saya."

"Kalau begitu, ini kartu nama saya. Kamu bisa datang ke rumah langsung." Dania mengambil kartu nama yang di sodorkan padanya.

" Terimakasih sekali lagi nyonya."

Dirasa pembicaraan mereka sudah cukup, wanita bernama Yunita itu melangkah pergi meninggalkan Dania.

Sementara Dania menatap kartu nama itu tersenyum lega.

"Yunita Mahendra.." Dania bergumam dengan membaca nama yang tercantum di kartu tersebut.

Dania kemudian kembali ke ruang rawat sang ibu. Sampai di ruangan itu, terlihat ibu nya sudah tersadar dari pengaruh Obat tidur.

Terlihat wajah ibunya yang pucat dan tubuhnya pun tak sesegar tahun lalu, Dania tentunya merasa sedih melihat keadaan ibunya saat ini. Tapi, mau bagaimana lagi..dia harus berusaha tegar untuk mendampingi sang ibu dan selalu menyemangati ibunya supaya tetap semangat.

 Bersambung

Hari Pertama Kerja

"Da_Daniaa.." suara lirih terdengar di telinga Dania.

Dia menatap ke arah tempat di mana sang ibu terbaring. Dania tersenyum tipis saat melihat sang ibu telah siuman.

"Ibu, alhamdulilah..ibu sudah bangun. Sebentar ya bu..Nia panggil dokter dulu buat periksa keadaan ibu." Dania lantas menemui dokter jaga yang stanby di depan ruangan tak jauh dari kamar rawat ibunya.

Setelah beberapa saat kemudian, ibu Dania selesai di periksa. Dokter mengatakan jika keadaan ibunya sedikit lebih baik. Walaupun demikian masih perlu selalu di cek kondisi nya.

"Ibu, makan dulu yaa..biar bisa minum obat agar cepet sembuh." Dania membantu sang ibu untuk lebih nyaman memposisikan diri nya untuk makan. Dia terlihat menaikkan bagian kepala ranjang untuk ibu nya lebih sedikit mengangkat tubuh nya.

Dania mulai menyuapkan makanan yang di berikan Rumah Sakit untuk ibunya. " Maafkan ibu ya nak, ibu hanya bisa menyusahkan kamu." dengan suara lirih ibu Dania yang bernama Kartika meminta maaf pada putrinya atas keadaannya yang saat ini pastinya menyusahkan putrinya.

"Ibu ini ngomong apa, ibu nggak pernah menyusahkan Nia. Ibu, jangan pernah berpikir begitu. Nia cuma punya ibu, tolong semangat untuk sembuh ya bu..jangan tinggalin Nia sendirian..itu akan buat Nia pastinya hilang arah."

Kartika mengambil tangan Dania dan mengusapnya. "Terimakasih banyak kamu sudah berjuang, maafin ibu..karena seharusnya ibu yang rawat kamu sampai kamu dapat laki-laki yang mampu menjaga dan membahagiakan kamu."

"Ibu jangan pernah berpikir seperti itu, kita sama-sama lewati bersama apapun yang terjadi. Alhamdulillah..Nia sudah dapat kerja. Walaupun jadi asisten rumah tangga, itu lebih baik dari pada Nia menganggur. Ibu doakan. semoga Nia betah kerja di rumah nyonya Yunita."

"Syukur Alhamdulillah, yang terpenting..kamu bekerja dengan baik, jangan sia-siakan kesempatan ini dan jangan kecewakan orang yang sudah baik sama kita ya nak.." Dania mengangguk dan memeluk tubuh lemah sang ibu.

"Sekarang ibu harus lebih semangat buat sembuh, agar Nia juga kerjanya lebih semangat, oke!" Kartika mengedipkan matanya dan tersenyum pada putrinya serta mengusap pipi Dania dengan lembut.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Keesokan harinya, setelah kedatangan budhe Lela..Dania langsung menuju ke rumah keluarga Mahendra.

Tak sampai satu jam dia sudah ada di depan pagar rumah mewah milik keluarga Mahendra yang kaya raya itu.

Masyaallah, rumah segini besarnya .. ternyata nyonya Yunita itu begitu kaya raya. Dania hanya bisa mengagumi kemewahan yang ada di depannya saat ini.

" Maaf mba, anda siapa? Ada keperluan apa anda di depan pintu rumah majikan saya?"

Dania melihat seorang laki-laki dengan seragam security sudah berdiri di depan gerbang rumah itu.

"Ah maaf pak, benar ini rumah nyonya Yunita Mahendra?"

"Iya benar, kamu siapa? Ada perlu apa sama nyonya?" terlihat security itu menatap ke arah Dania dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Saya Dania, saya pembantu baru di rumah ini. Nyonya Yunita meminta saya datang hari ini."

"Ohh..kamu pembantu baru, maru masuk..nyonya sudah nunggu kamu di dalam." Dania menganggukan kepalanya dan bergegas ke arah motor matic nya dan masuk ke dalam halaman luas rumah mewah itu.

Dania memarkirkan motornya di dekat pos security dan kemudian dia diantar ke rumah oleh security bermana Yusuf.

"Kamu sudah datang, eemmm ..siapa nama kamu..maaf saya lupa."

Dania yang sudah menunggu di ruang tamu beranjak dari tempat duduknya dan sedikit menundukkan kepalanya saat melihat Yunita sudah datang mendekati dirinya.

"Saya Dania nyonya, panggil saja Nia.."

"Baik Dania, kamu bisa ikut Suti ya..nanti dia yang akan menunjukkan apa saja tugas kamu di rumah ini. Ingat, bekerja dengan baik yaa.."

"Baik nyonya, sekali lagi terimakasih sudah memberikan kesempatan pada saya untuk bekerja di sini." Yunita menganggukan kepalanya samar dan kemudian memberikan kode pada perempuan bernama Suti untuk menghandle apa yang sepatutnya Yunita terangkan.

"Dania, saya Suti..kamu bisa ikut saya.."

"Baik mba.." Kedua perempuan itu pun melangkah ke arah dapur dan ke area belakang.

Suti menerangkan tentang apa yang akan di kerjakan Dania saat bekerja nanti. Dania pun mendengarkan apa yang di jelaskan Suti dengan baik.

"Kamu paham kan apa yang saya jelaskan?"

"Paham mba.."

"Baiklah, kamu sudah bisa mulai bekerja sekarang. Saya tinggal yaa.."

"Baik mba.."

Dania pun mulai dengan pekerjaannya yang di arahkan oleh Suti.

Setelah beberapa jam kemudian, Dania sudah selesai dengan dua pekerjaan nya.Dia pun masuk ke dalam area dapur.

Siti yang menyadari kehadiran Dania langsung menatap ke arah Dania.

"Untung kamu datang Nia, saya minta tolong kamu antar ini ke kamar tuan muda yaa, kamarnya paling ujung sebelah kanan,kamu ketuk pintu sekali saja. Tunggu dia sampe sia keluar kamar, mengerti?"

Dania mengangguk paham. Dia pun langsung naik ke lantai dua dan saat sudah menampakkan kakinya di lantai dua, dia menoleh ke arah kanan. Setelah memastikan jika memang itu kamar tuan muda yang di sebut Suti tadi, Dania mengayunkan kakinya ke depan pintu sebuah kamar yang ada di bagian paling ujung sebelah kanan.

Dania menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan. Lalu dia pun mengetuk pintu tersebut tiga ketukan sebanyak sekali. Dia menunggu jawaban dari dalam kamar tapi, nyatanya tak ada jawaban yang terdengar dari dalam sana.

Ini sebenarnya ada orangnya nggak sih, apa bisu nggak bisa jawab gitu biar tahu ada orangnya atau nggak di dalam kamar. Dania benar-benar di buat kesal tidak ada jawaban dari dalam sana.

Dania pun berinisiatif untuk mengetuk kamar itu kembali. Tapi baru saja Dania mengayunkan tangan nya untuk mengetuk pintu itu, tiba-tiba saja kamar itu terbuka dan menampilkan sosok seorang laki-laki yang menatap ke arahnya dengan tajam.

"Kamu !! Kamu bukannya perempuan ceroboh yang di Rumah Sakit kemarin, kamu ngapain di rumah saya, hah!!"

Mendengar bentakan laki-laki yang ada di depannya, Dania sontak terperanjat dan mundur beberapa langkah.

Dania tak langsung menjawab. Dia menatap wajah laki-laki yang ada di depannya saat ini. Dia perhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya membesar saat mengingat bagaimana dia sudah menabrak tubuh laki-laki yang ada di depannya saat di Rumah Sakit.

"Ma_maaf tuan, buat yang kemarin benar-benar saya nggak bermaksud kurang ajar. Tapi, kemarin karena saya buru-buru. Maaf sekali lagi, saya kesini mau antar...

Belum juga Dania menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu pun langsung mengambil alih nampan yang di bawa Dania dan langsung menutup pintu kamar itu dengan kencang membuat Dania terperanjat.

"Astaghfirullah, setan apa yang merasuki dia..bawaannya marah-marah terus." Dania cuma bisa bergumam dan mengusap dadanya yang berdebar karena terkejut dengan kelakuan laki-laki yang dia tahu dia bagian dari anggota keluarga Mahendra.

Bersambung

Kapan Nikah?

Jam tujuh pagi tepat, semua anggota keluarga Mahendra sudah berkumpul di meja makan. Disana terlihat nyonya sepuh Mahendra yaitu ibu dari Dimas Mahendra yang kemarin sempat di rawat di Rumah Sakit.

Ya, sebenarnya saat Yunita ada di Rumah Sakit dan Dania bisa bertemu dengan Kendra, mereka saat itu sedang mengurus kepulangan nyonya Ranti ibu dari Dimas Mahendra ayah dari Arkendra Zivan Mahendra.

Anggota keluarga Mahendra sudah berkumpul semua, ada nyonya Ranti sang tetua keluarga Mahendra, Dimas Mahendra, Yunita Mahendra, Anggita Ayu Mahendra anak pertama Yunita dan Dimas, ada juga Angga Pratama menantu pertama keluarga Mahendra dan ada Kendra anak bungsu dari Yunita dan Dimas.

Terlihat Yunita sedang menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya dan juga Anggi sedang menyiapkan makanan untuk suami nya. Tak lama Yunita beralih ke suaminya dan menyiapkan sarapan untuk Dimas.

"Kak, aku juga dong kak..masa mama siapin buat eyang sama papa, kamu cuma siapin buat Angga doang, sekalian aku juga kali.."

Terlihat Kendra memprotes tindakan sang kakak yang hanya melayani suaminya sedangkan Kendra ingin juga di layani seperti papa dan kakak iparnya.

"CK..makanya, nikah! biar bisa rasain kayak kak Angga sama papa."

Anggita atau biasa di panggil Gita, dia memprotes sang adik untuk mencari istri.

"Kok jadi kesitu sih, aku kan cuma minta diambilkan sarapan, kenapa malah ke nikah sih..nggak nyambung juga kali.." dengan sewot Kendra menimpali ucapan sang kakak.

Sudah jadi rahasia di keluarga Mahendra, jika Kendra malas untuk membahas tentang pernikahan.

Itu karena masa lalunya yang sudah membuat dia trauma akan pernikahan. Kekecewaan terhadap perempuan begitu membekas dihatinya.

"Nggak semua perempuan seperti itu nak, cobalah kamu mengenal perempuan lain yang pastinya tidak akan mengecewakanmu."

Kendra mental sang ibu yang mulai ikut bicara soal pernikahan yang di bahas sang kakak.

"CK..sama sajalah..apa bedanya, perempuan hanya bisa bikin kecewa."

"Tapi nggak bisa kamu pukul rata dong Ken, kalau kamu memukul rata soal persepsi kamu soal perempuan, termasuk mama, sama kakak bahkan eyang dong.." Pembicaraan terlihat semakin serius, Kendra mendengar ucapan sang kakak langsung menghembuskan nafas kasarnya.

"Nggak juga kakak, mama, atau eyang juga. Kalian pengecualian..yang jelas aku belum bisa mengubah pandangan aku soal perempuan kak.."

"Sudahlah, yang jelas kamu harus bisa mengubah pola pikir kamu soal perempuan. Kalau kamu sudah bisa menilai perempuan bukan karena kamu cinta dia, kamu pasti akan bisa bahagia dengan perempuan yang akan menerima kamu apa adanya." eyang Ranti pun akhirnya ikut bicara.

Ada kekhawatiran juga dalam diri wanita tua itu dengan keadaan sang cucu yang pernah gagal menikah di masa lalunya.

"Kalau kamu mau, mama bisa kenalkan dengan anak teman mama. Insyallah, dia tidak pernah mengecewakan kamu." Kendra menatap sang mama dan kemudian dia meletakkan alat makannya.

Tak lama dia beranjak dari tempat duduknya. " Aku berangkat kerja dulu." Kendra menyambar jas miliknya dan mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas meja.

Kendra pun melangkah meninggalkan ruang makan tanpa menghabiskan sarapannya.

"Kendra, kamu belum habiskan sarapan kamu nak...!" Yunita dengan suara lantangnya mencoba untuk menghentikan langkah putranya.

Tapi, ternyata ucapan Yunita tidak di gubris Kendra sama sekali. Terlihat Kendra cuek dan tetap melangkah keluar dari rumah.

Saat Kendra keluar rumah, dia melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Baru saja Kendra membuka pintu mobil, pandangannya sepintas melihat sosok baru yang hadir di rumahnya.

Terlihat Dania yang sedang membersihkan dedaunan kering yang ada di pot tanaman dan bunga yang terletak di sebuah kebun kecil halaman rumah itu.

Mata Kendra sempat mengernyit heran saat melihat Dania yang sedang membersihkan kebun dengan bibir komat kamit baca mantra.

Aneh, kenapa dia kayak orang nggak waras gitu, komat kamit kayak ngomong sendiri. CK..astaga, bisa-bisanya dia ngomong sama tanaman, bener-benar cewek aneh.

Kendra hanya bisa membatin melihat kelakuan pembantu baru di rumah nya. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dania.

Melihat kelakuan Dania membuat kepalanya semakin pening. Kendra langsung masuk ke dalam mobil miliknya dan langsung menyatakan nya perlahan mulai meninggalkan mansion Mahendra.

Yunita hanya bisa membuang nafas kasarnya saat mendengar suara mobil putranya pertanda jika Kendra siap untuk meninggalkan rumah. "Hahh..kapan anak kita akan menikah ya pa, Kendra selalu saja seperti itu setiap kita bahas soal pernikahan." Yunita jelas sedih dengan sikap putranya yang enggan membahas soal pernikahan.

"Sabar ma, ini karena Kendra masih trauma dengan masa lalunya. Mama jangan terlalu push dia untuk menikah. Apalagi mendorong dia berkenalan dengan kenalan-kenalan mama itu, pasti akan ada masanya dia mencari pendamping hidup yang sesuai dengan keinginan nya. Itu artinya dia sudah sembuh dari rasa traumanya dulu."

"Mama hanya ingin Kendra bahagia pah, mama ingin melihat Kendra seperti dulu. Kendra yang ceria dan menyenangkan. Bukan Kendra yang dingin dan menakutkan."

"Sudahlah, sebaiknya kita jangan bahas pernikahan dulu di depan Kendra."

Yunita yang mendengar peringatan dari suaminya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia pun langsung diam tak lagi membahas soal pernikahan Kendra. Rasanya jika bicara soal pernikahan anaknya yang satu itu tak pernah ada kata damai setelahnya.

Sedangkan Kendra yang ada di kantornya, hari ini rasanya moodnya begitu hancur karena pembahasan tentang pernikahan tadi pagi.

Rasanya dia kembali mengingat bagaimana rasa kecewa dan sakit nya di sakiti dan di kecewakan oleh orang yang dia percaya , dia cintai dengan sepenuh hati.

"Arrrgghhhh! Breng*ek Lo!!"

Kendra mengerang frustasi saat ingatannya pada seorang wanita yang sudah menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.

Rasanya dia sudah berusaha untuk melepaskan semuanya tapi jika di ingatkan lagi, Kendra merasa dirinya benar-benar bod*h karena sampai saat ini belum bisa mengusir namanya sepenuhnya dalam hatinya.

"Harus sampai kapan aku harus ingat pengkhianatan kamu,bahkan kamu nggak sedikit pun memikirkan bagaimana aku saat kamu tinggalkan. Aku ingin kamu hilang, aku ingin kamu hilang selamanya dari dalam hati dan detak jantung ku anj*ng!!" Kendra menjambak rambutnya frustasi.

Benar-benar tak habis pikir kenapa dia mudah sekali untuk marah dengan pembahasan soal pernikahan. Apalagi ibunya yang terlihat bersemangat untuk mengenalkan perempuan padanya dadi lapangan-lapangan yang setara dengan keluarga Mahendra.

Tapi, bagi Kendra, perempuan hanya menyusahkan dan menyakiti saja.

Bahkan rasanya Kendra ingin memecat semua karyawan perempuan yang berhubungan langsung dengan dirinya. Tapi, beruntung Kendra tak sampai segil* itu.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!