Indonesia
NovelToon NovelToon

Sang Penyelamat

Manipulasi

Setahun yang lalu

Di sebuah ruang operasi, nampak lima orang tenaga medis akan memulai proses operasi seorang pasien yang mengalami masalah dengan parunya. Seorang dokter bedah umum senior memimpin jalannya operasi. Dokter bernama Handaru itu sudah lama berprofesi sebagai dokter spesialis bedah digestif atau saluran cerna. Dia mengabdi mulai dari usia 27 tahun sampai sekarang usianya sudah mencapai 48 tahun.

Selain bedah digestif, pria itu juga memiliki keahlian bedah toraks. Selama berkarir di Rumah Sakit Ibnu Sina, entah sudah berapa banyak pasien yang sudah dioperasinya. Karenanya pria itu menjadi sangat terkenal di rumah sakit swasta tersebut. Banyak pasien yang merujuknya sebagai dokter bedah mereka. Operasi yang dia lakukan kali ini, entah sudah yang ke berapa kali.

Selain dirinya, ada pula dokter residen tahun ketiga, dokter anestesi dan dua orang perawat. Dokter anestesi mulai memberikan obat bius pada sang pasien. Setelah pasien kehilangan kesadarannya, mereka pun bersiap melakukan operasi.

“Pasien bernama Agus Hambali, usia 39 tahun. Dia terkena efimisma yang cukup parah. Kita akan mengangkat bagian paru-paru yang rusak, mengembalikan kesempatan hidup pria ini. Kalian siap?”

Semua menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Handaru. Sang perawat pun mulai memberikan pisau bedah pada dokter spesialis bedah tersebut. Dengan hati-hati Handaru menyayat bagian dada, kemudian memperlebar sayatan dengan menggunakan rektraktor.

“Saline.”

Perawat segera memasukkan cairan saline ke bagian yang terkena bedah untuk membersihkan luka. Cairan saline bercampur dengan darah langsung terlihat di dalam tubuh pasien yang terbuka.

“Suction.”

Kini perawat memasukkan alat untuk menyedot cairan yang bercampur dengan darah. Dengan hati-hati Handaru mengeluarkan bagian paru-paru yang rusak. Bagian yang rusak akan dibuang, baru kemudian masukkan kembali ke tempatnya. Saat tengah membuang bagian paru-paru yang rusak, terdengar suara dari monitor pemantau organ vital pasien.

“Saturasi oksigen pasien menurun, dokter!”

“Segara stabilkan, aku akan berusaha menyelesaikan ini dengan cepat.”

Dokter anestesi berusaha sekuat tenaga menjaga mengembalikan saturasi oksigen pasien. Perawat meremat kantong darah untuk memompa darah masuk ke dalam tubuh pasien. Dalam waktu cepat, Handaru sudah berhasil membuang bagian paru-paru yang rusak.

“Dokter, sepertinya ada sedikit masalah di lambungnya,” ujar dokter residen.

“Kita akan sekalian menyelesaikannya di sini.”

“Tapi mungkin pasien tidak akan bertahan. Kita harus menghentikan operasi dan melanjutkannya nanti,” dokter anestesi memberikan sarannya.

“Kita harus menyelesaikannya sekarang!”

Karena Handaru bersikeras, akhirnya semua menuruti apa yang dikatakan dokter bedah tersebut. Handaru mencari bagian yang bermasalah dan hendak membuangnya. Namun tanpa sengaja, pisau di tangannya mengenai pembuluh darah. Dengan cepat darah memancar dan terus keluar dari pembuluh darah yang tersayat.

“Suction!”

Bergantian perawat menyedot darah dan mengeringkan dengan kasa, namun darah tidak berhenti mengalir. Dokter anestesi terus berusaha mempertahankan stabilitas pasien, namun tekanan darah dan saturasi oksigennya terus menurun.

Dengan cepat Handaru mencari pembuluh darah yang terkena sayatan kemudian menjahitnya. Baru saja dia selesai menutup robekan di pembuluh darah, pasien mengalami henti jantung. Dokter residen segera memberikan kompresi.

Perawat memasangkan dua bantalan ke tubuh pasien, dokter residen menghentikan kompresi dan kejutan pun diberikan. Detak jantung pasien belum kembali, sang dokter residen kembali melakukan kompresi.

“Epi! Naikkan 200 joule!” teriak Handaru.

Salah satu perawat segera menyuntikkan epinephrine, dan satunya lagi mengisi daya defibrilator. Setelah daya terisi, pasien kembali dikejutkan, namun detak jantung pasien masih belum kembali.

“Naikkan 300 joule!”

Kembali mereka melakukan hal sama, melakukan kompresi, menyuntikkan epinephrine dan memberikan kejutan. Tapi tanda di monitor masih menunjukkan garis lurus.

“350 joule!”

Semua petugas medis di ruang operasi berusaha sekuat tenaga mengembalikan detak jantung pasien. Kejutan dengan volume 350 joule diberikan, namun sia-sia. Detak jantung tidak juga kembali. dokter residen kembali memberikan kompresi. Keringat sudah bercucuran dari kening dokter pria itu. Bergantian dengan dokter anestesi, mereka terus melakukan kompresi. Setelah melakukannya selama dua puluh menit, akhirnya mereka berhenti.

“Waktu kematian pukul 14.10.”

Semua langsung terdiam. Operasi yang awalnya dianggap tidak terlalu rumit, justru membuahkan petaka. Handaru mengambil tablet yang berisi rekam medis pasien.

“Apa yang harus kita katakan pada wali pasien?” terdengar suara dokter anestesi.

“Pasien mengalami pendarahan ketika kita berusaha menyelamatkan lambungnya,” jawab sang dokter residen.

“Dan kamu yang memegang pisaunya,” Handaru melihat pada dokter bimbingannya.

Dokter residen bernama Galih itu tentu saja terkejut. Hanya tinggal sebentar lagi dia akan menyelesaikan program residensinya, jika ini masuk ke dalam catatan buruknya, tentunya berdampak negatif pada residensinya.

“Kenapa aku?”

“Kalau aku yang melakukannya, apa ada yang percaya?”

Dokter Handaru malah balik bertanya. Kedua perawat yang ada di dalam ruangan hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dokter anestesi bernama Tomi menarik Handaru sedikit menjauh.

“Kamu tidak bisa mengorbankan karirnya begitu saja,” ujar Tomi dengan suara pelan.

“Bagaimana kalau kamu yang bertanggung jawab? Aku pernah menyelamatkan karir mu ketika kamu melakukan kesalahan di ruang operasi.”

“Aku sudah membayarnya. Aku menyelamatkan mu tiga kali, sementara aku hanya satu kali melakukan kesalahan. Jangan mencoba menyudutkan ku,” kesal Tomi.

“Kalau begitu kita bisa katakan pasien meninggal karena gagal jantung. Dari hasil pemeriksaan kesehatannya, terlihat jantungnya memang bermasalah.”

“Itu ide bagus.”

Keduanya segera kembali ke dekat meja operasi. Semua yang ada di sana menunggu dengan cemas apa yang akan dikatakan Handaru, terutama Galih.

“Pasien meninggal karena mengalami kegagalan jantung. Jantungnya tidak kuat menerima anestesi yang diberikan dan lama jalannya operasi. Kita sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan detak jantungnya, tapi tidak berhasil. Itu yang akan kita katakan pada keluarga pasien. Mengerti?”

Semua menganggukkan kepala tanda mengerti. Tidak ada yang berani mengatakan kebenaran di luar ruang operasi. Jika ini sampai bocor, bukan hanya karir dokter Handaru yang akan tamat, tapi juga semua kru medis yang berada di ruang operasi.

***

Begitu Handaru keluar dari ruang operasi, pria itu langsung dihampiri oleh keluarga pasien. Operasi yang berjalan selama hampir dua jam lebih serasa setahun lamanya bagi mereka.

“Dokter, bagaimana operasinya?”

“Saya minta maaf. Pasien memiliki masalah jantung. Jantung pasien tidak kuat menjalani lamanya jalannya operasi dan dosis obat bius selama menjalani operasi. Kami sudah berusaha mengembalikan detak jantungnya. Tapi semuanya sia-sia, maafkan saya.”

Tangis istri pasien langsung pecah. Tubuhnya hampir saja terjatuh kalau sang adik tidak menahannya. Sekali lagi Handaru mengucapkan bela sungkawa, kemudian beranjak dari sana. Tidak lama kemudian jenazah pasien dibawa keluar oleh perawat.

Istri sang pasien langsung menangis sambil memeluk tubuh suaminya yang sudah terbujur kaku. Kain hijau yang menutupi tubuh sang suami dibuka olehnya. Wajah pucat suaminya langsung terpampang di depan matanya. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Bayangan menjalani hari-hari tanpa kehadiran orang yang dicintainya langsung terbayang di pelupuk matanya.

Setelah meninggalkan ruangan operasi, Handaru kembali ke ruangannya. Pria itu berdiri di depan meja kerjanya seraya menaruh kedua tangannya di sisi meja. Pria itu mengesah panjang. Kematian pria tadi semakin menambah daftar pasien yang mati di tangannya di meja operasi. Beberapa diakui sebagai kesalahannya karena tingkat operasi yang sulit. Namun sisanya dilimpahkan pada dokter anestesi atau dokter residen, bahkan mencari alasan lain atas penyebab kematian seperti hari ini.

Lamunan Handaru buyar ketika mendengar suara getaran ponselnya. Tangannya segera merogoh saku celananya. Di layar ponsel tertera nama Iskak Nasir, pria yang terus mendekatinya akhir-akhir ini. Iskak adalah dewan komisaris Rumah Sakit Bandung Medical Center. Pria itu tengah membujuk Handaru agar mau pindah ke rumah sakitnya.

“Halo.”

“Apa kamu sudah memikirkan tawaran ku?” tanya pria bernama Iskak tanpa basa-basi.

“Aku tidak hanya mau menjadi dokter kepala bedah di sana.”

“Tentu saja. Kamu akan menjadi direktur di sana. Ini penawaran terakhir. Apa kamu mau mengambilnya.”

“Baiklah.”

Usai melakukan pembicaraan melalui telepon, Handaru segera keluar dari ruangannya. Pria itu akan segera mengajukan pengunduran dirinya. Dia harus secepatnya keluar dari rumah sakit yang sudah membesarkan namanya sebelum kecurangan yang dilakukannya terbongkar. Bukannya dia tidak tahu kalau Irsyad tengah gencar mencari kesalahannya. Dokter bedah trauma itu sudah menjadi musuh terbesarnya sejak lama.

TOK’

TOK

TOK

“Masuk!”

Terdengar suara dari dalam ruangan. Handaru segera masuk ke dalam ruangan. Matanya langsung tertuju pada Aqeel yang ada di belakang meja kerjanya. Pria itu sekarang menjabat sebagai direktur rumah sakit Ibnu Sina. Handaru menarik kursi di depan pria itu.

“Bagaimana operasinya?”

“Pasien tidak bisa ku selamatkan.”

Wajah Handaru menunjukkan kesedihan ketika menceritakan apa yang terjadi di ruang operasi, tentu saja menurut versi yang dibuatnya sendiri. Terdengar hembusan nafas panjang Aqeel.

“Apa kamu sudah memberi tahu keluarganya?”

“Ya. Aku minta maaf.”

“Kita adalah dokter, bukan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasien. Tapi hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah.”

“Ya kamu benar. Sebenarnya tujuan ku datang ke sini untuk mengajukan pengunduran diri.”

“Pengunduran diri? Kamu benar-benar serius soal itu?”

“Aku sudah memberitahu mu sebelumnya.”

“Soal tawaran Bandung Medical Center?”

“Ya, aku sudah menerimanya. Aku perlu lompatan besar dalam karir ku. Aku sudah menjadi dokter bedah ternama selama bertahun-tahun. Sekarang aku mau mencoba hal baru.”

“Kamu yakin?”

“Ya.”

“Aku hanya bisa mendoakan kesuksesan mu. Semoga kamu berhasil di tempat baru mu.”

Aqeel bangun dari duduknya kemudian menyalami Handaru. Sebelumnya Handaru sudah memberikan surat pengunduran dirinya pada Aqeel. Namun Aqeel masih menahannya dan memberi Handaru waktu untuk memikirkan kembali keputusannya.

“Good luck,” ujar Aqeel seraya menyalami Handaru.

***

Hai² aku datang dengan cerita baru. Sekarang aku mencoba mengangkat cerita medis secara lengkap berikut kehidupan di rumah sakit. Jangan khawatir, ada kisah romance mereka juga kok. Semoga kalian bisa menikmati karya baru ku. Jangan lupa tinggalkan jejak seperti like, komen, rate bintang 5 dan masukkan ke dalam favorit kalian supaya bisa tetap dapat notifikasi setiap up date. Terima kasih🙏🏻

Internal Bleeding

Masa kini (setahun kemudian)

Sebuah ambulans berhenti di depan pintu IGD Ibnu Sina. Dua orang petugas turun dari dalam ambulans lalu mendorong brankar masuk ke dalam IGD. Seorang dokter dan perawat langsung menyambut pasien tersebut.

“Diana Tambunan, usia 26 tahun. Mengalami kecelakaan tunggal, mobilnya menabrak pohon. Tidak mengalami pendarahan luar, tekanan darah 80/60.”

Brankar yang membawa tubuh pasien bernama Diana segera dibawa ke ruang tindakan. Dengan cepat mereka memindahkan Diana ke atas ranjang. Dokter yang bernama Emir itu segera memeriksa keadaan pasien menggunakan stetoskopnya.

“Dokter, pasien mengalami hipotensi.”

“Siapkan cairan IV dan periksa golongan darahnya.”

Perawat segera mengambil sedikit darah pasien untuk dicek golongan darahnya. Dia berlari menuju laboratorium.

“Dokter, pasien kesulitan bernafas.”

“Berikan ambu bag.”

Dokter Emir mendekatkan telinganya ke dada pasien. Seorang perawat langsung memasangkan ambu bag ke hidung pasien hingga pasien bisa bernafas dengan teratur lagi.

“Pasien mengalami tamponade jantung. Lepaskan dulu ambu bag. Ambilkan jarum dan kateter.”

Dengan sigap perawat mengambilkan jarum dan kateter. Emir lebih dulu mengangkat kaki pasien sedikit tinggi untuk mengembalikan aliran darah ke jantung. Kemudian dia mengusap bagian bagian dada Diana lalu menusukkan jarum yang sudah terhubung dengan kateter. Perlahan cairan mulai keluar.

“Oke, segera berikan cairan IV dan lanjutkan ambu bag. Suster Mina, apa kamu sudah menghubungi keluarganya?”

“Sudah, dok. Keluarganya sedang menuju kemari.”

Di saat bersamaan perawat yang melakukan pengecekan darah kembali dengan membawa tiga kantong darah. Dia segera memasangkan darah pada Diana yang kondisinya semakin menurun saja. Emir mengoleskan gel pada probe, kemudian segera melakukan USG. Matanya terus melihat pada layar monitor.

“Dia mengalami pendarahan internal. Segera hubungi dokter Irsyad. Begitu orang tuanya datang, kita akan mengirimnya ke ruang operasi.”

Di nurse station, seorang perawat langsung menghubungi ruang operasi. Mereka diminta untuk bersiap melakukan operasi untuk pasien yang mengalami pendarahan internal. Dia juga menghubungi dokter anestesi dan dokter bedah yang akan melakukan operasi.

Sepasang suami istri memasuki IGD dengan terburu-buru. Matanya seperti tengah mencari seseorang. Sang suami segera mendekati nurse station.

“Suster, di mana anak saya?”

“Apa Bapak orang tua Diana Tambunan?”

“Iya.”

“Dokter Emir, orang tua pasien sudah datang.”

Bergegas Emir segera mendekati pasangan tersebut kemudian menerangkan apa yang terjadi pada kedua orang tua Diana. Mendengar penjelasan Emir, mereka langsung menyetujui rencana operasi yang diusulkan Emir.

“Emir, apa kamu masih ada pasien?” tanya Irsyad yang baru saja sampai di IGD.

“Ngga, dok.”

“Ikut saya ke OR.”

Dengan semangat empat lima, Emir bergegas menyusul Irsyad yang sudah lebih dulu pergi. Saat ini Emir sedang menjalani residensi spesialis bedah. Sekarang dia sudah berada di tahun kedua.

“Kamu siap?” tanya Irsyad yang sedang mencuci tangan.

“Tentu saja. Abang harus mengajarkan ku banyak hal hari ini,” Emir mengedipkan sebelah matanya.

Keduanya segera masuk ke ruang operasi. Suster yang bertugas segera membantu keduanya mengenakan sarung tangan dan jubah operasi. Dokter anestesi sudah siap bertugas. Irsyad berdiri di sisi kanan, sementara Emir berada di hadapannya.

“Pasien Diana Tambunan, usia 26 tahun. Mengalami pendarahan internal dan kita harus segera menghentikan pendarahannya. Dan mencari sumber lukanya, menutupnya dan operasi selesai.”

Semuanya berdoa lebih dulu sebelum memulai jalannya operasi. Dokter anestesi mulai memberikan bius total pada pasien.

“Mess.”

Irsyad menerima pisau bedah yang diberikan perawat. Pelan-pelan dia menyayat perut pasien secara horizontal. Seketika darah langsung menyembur keluar.

“Suction!”

Dengan cepat perawat memasukan alat penghisap. Darah di dalah perut dikeluarkan, sementara Irsyad mencari pembuluh darah yang sobek. Emir menambahkan saline ke dalam perut pasien agar Irsyad bisa melihat sumber pendarahan.

“Tekanan pasien semakin turun,” dokter anestesi memberi peringatan.

“Bantu aku, dokter Rizal.”

“I’ll do my best.”

Seorang perawat merem*s-rem*s kantung darah, agar cairan merah itu cepat masuk ke dalam tubuh pasien. Sementara dokter anestesi berusaha menstabilkan kondisi pasein. Sementara monitor terus berbunyi, memberikan peringatan.

Setelah beberapa saat, akhirnya Irsyad berhasil menemukan pembuluh darah yang robek. Dengan cepat Irsyad segera menjahitnya. Begitu robekan terjahit dengan sempurna, darah pun tidak keluar lagi dan kondisi pasien perlahan mulai stabil.

“Dokter, sepertinya pasien mengalami apendisitis abses,” ujar Emir sambil memperlihatkan bagian usus yang bernanah.

“Kita harus membuangnya.”

“Mungkin ini yang disebut musibah membawa berkah. Kalau dia tidak mengalami kecelakaan, kita tidak akan tahu soal kondisi ususnya. Bisa saja dia kritis karena peradangan usus.”

“Kamu bisa bantu memotongnya?” tanya Irsyad.

“Aku?”

“Ya, kamu itu R2 bedah. Sudah harus mulai berani melakukan ini di ruang operasi.”

“Oke.”

Emir menarik nafas panjang, baru kemudian mengambil peralatan yang diperlukan. Dengan seksama Irsyad memperhatikan Emir yang tengah membuang bagian usus yang terkena infeksi. Sesekali pria itu memberikan pengarahan.

“Good job.”

Terdengar helaan nafas lega Emir setelah menyelesaikan tugasnya.

“Oke, operasi selesai. Dokter Emir, selesaikan semuanya.”

Kepala Emir hanya mengangguk saja. Dia mengambil jarum yang sudah terpasang benang dari tangan sang perawat. Kemudian dengan berhati-hati dia menutup perut pasien yang dibuka. Sementara Irsyad sudah keluar dari ruang operasi.

Begitu keluar dari ruang operasi, dokter spesialis bedah itu langsung disambut berondongan pertanyaan dari keluarga pasien.

“Bagaimana anak saya?”

“Apa operasinya lancar?”

“Dia baik-baik saja kan?”

“Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Anak Ibu dan Bapak mengalami benturan keras di bagian perut yang menyebabkan pembuluh darahnya robek. Kami sudah berhasil menutupnya. Selain itu, kami menemukan kalau pasien menderita apenditisis abses atau usus bernanah. Ini disebabkan oleh infeksi. Kami sudah membuang usus yang terkena infeksi. Keadaannya baik-baik saja sekarang. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang ICU. Dia akan berada di sana sampai kondisinya stabil.”

“Terima kasih, dokter.”

Hanya anggukan kepala yang diberikan Irsyad. Setelah memberikan keterangan yang diperlukan keluarga pasien, pria itu segera meninggalkan ruang tunggu operasi. Ketika melintasi nurse station, terdengar suara seorang suster menghentikan langkahnya.

“Dokter Irsyad, dokter di tunggu di ruang direktur.”

“Oke.”

Bergegas Irsyad masuk ke dalam lift. Dia menekan tombol 4, lantai di mana ruangan direktur berada. Tak butuh waktu lama, pria itu sudah sampai di lantai empat. Sekretaris direktur segera memberitahukan kedatangan Irsyad pada atasannya.

“Irsyad, ayo duduk dulu.”

Irsyad segera mendekati meja kerja direktur rumah sakit yang sekarang dijabat oleh Aqeel. Dia menarik kursi di depan meja kerja Paman sekaligus atasannya.

“Bagaimana operasi mu?”

“Alhamdulillah lancar.”

“Oke,Om langsung saja. Kamu pasti tahu kalau pihak yayasan akan mengambil alih rumah sakit yang ada di daerah Cibiru.”

“Maksud Om, Rumah Sakit Bandung Medical Centre?”

“Ya. Yayasan Qurota’ayyun sudah menggelontorkan dana untuk investasi. Tapi pemberian investasi dilakukan bertahap. Mereka berencana menjadikan BMC trauma center di sana. Jadi pasien trauma yang berasal dari Bandung Timur tidak perlu dibawa ke sini.”

“Tapi aku dengar rumah sakit itu bermasalah. Bukannya sedang terjadi perebutan dewan direksi di sana? Ditambah lagi cukup banyak kasus korupsi yang melibatkan perusahaan farmasi dan peralatan medis.”

“Ya. Om sudah memasukkan Dadvar ke sana. Dia sedang memperbaiki manajemen di sana. Tapi untuk urusan operasional masih kacau. Om mendengar kalau pasien BPJS tidak dilayani dengan baik di sana. Bahkan mereka pernah menolak terang-terangan pasien BPJS. Alasannya karena pemerintah belum membayar tunggakan rumah sakit.”

“Lalu apa hubungannya dengan ku?”

“Kamu Om kirim ke sana, sebagai staf. Kebetulan dokter spesialis bedah di sana sangat terbatas. Nantinya kami akan mengirimkan banyak dokter bedah ke sana. tapi sebagai permulaan, kamu yang akan ke sana lebih dulu. Amati situasi dan jika memungkinkan ubah pelayanan di sana. Kamu tahu sendiri standar pelayanan di sini seperti apa. Jadikan itu sebagai patokan.”

“Apa aku pergi sendiri?”

“Kamu boleh membawa rekan, maksimal hanya dua.”

“Aku akan mengajak Emir dan Ekon.”

Emir adalah dokter residen yang tadi membantunya di ruang operasi. Dokter muda itu adalah anak sulung pasangan Daffa dan Geya. Dia memilih profesi dokter sebagai jalan hidupnya, mengikuti jejak sang Ayah.

Sementara Ekon adalah dokter magang di Ibnu Sina. Dokter yang baru saja lulus itu adalah warga negara Nigeria yang mendapat beasiswa kuliah di Universitas Kedokteran Ibnu Sina.

“Pilihan yang bagus. Nantinya Emir yang akan memimpin IGD.”

“Memangnya tidak ada dokter kepala IGD di sana?”

“Untuk sementara kosong.”

“Lalu siapa direktur BMC sekarang?”

“Handaru Irawan.”

“HODAD?”

***

Sama seperti Azzam, buat novel ini tuh butuh effort. Karena aku bukan orang medis, jadi harus banyak baca referensi. Aku sampai nonton Pulse, The Pitt sama The Resident. BTW itu semua serial barat ya. Aku lagi kembali ke setelan pabrik, lebih senang nonton serial barat wkwkwk..

Kalau mau tahu ketegangan di IGD, bisa nonton The Pitt. Asli adegan medisnya gokil plus brutal banget. Kalau yang suka konflik di RS, bisa nonton The Resident. Dua²nya rekomen banget. Sekian sekilas info🤭

Talita

“HODAD?”

Aqeel hanya tertawa mendengar sebutan Irsyad untuk Handaru. Pria itu sudah mendapat julukan HODAD dari Irsyad sejak empat tahun yang lalu. Waktu pria itu masih bekerja di rumah sakit ini. Bukan tanpa alasan Irsyad memberinya gelar tersebut. Di tahun itu, Handaru cukup sering kehilangan pasien di meja operasi.

“Kamu masih menyebutnya seperti itu.”

“Itu kenyataan, Om?”

"Hand of Death and Destruction. Apa kamu tidak terlalu kejam memberinya julukan seperti itu?"

"Itu kenyataannya. Dia sudah banyak menghilangkan nyawa dan melakukan kerusakan saat operasi."

“Apa kamu masih menyalahkannya atas kematian Talita?”

Tidak ada jawaban dari Irsyad, pria itu hanya diam seribu bahasa. Namun Aqeel tahu kalau ada hal yang belum tuntas antara Handaru dan Irsyad. Semua karena Talita.

“Handaru itu adalah seorang dokter bedah yang handal. Kamu tahu kalau dia satu angkatan dengan Paman mu, Daffa. Jika Daffa mengambil subspesialis trauma, berbeda dengan Handaru yang mengambil subspesialis digestif. Keduanya adalah dokter hebat di Ibnu Sina dengan spesialis yang berbeda.”

“Ya aku tahu.”

“Karir Handaru bisa dibilang cemerlang. Dia banyak menangani pasien dari kalangan atas dan pejabat. Namun ketika berada di puncak karir, kehidupan rumah tangganya tidak berbanding lurus dengan karirnya. Pernikahannya hancur, istrinya memilih bercerai dan meninggalkannya. Walau tidak mau mengakui, namun itu memberikan pukulan berat padanya. Om sudah menawarkan padanya untuk berkonsultasi dengan psikolog, tapi dia menolak. Dan depresi yang dialami olehnya mempengaruhi kondisi fisiknya. Tangannya kerap bergetar ketika melakukan operasi.”

“Karena hal itu dia banyak kehilangan pasien, termasuk Talita. Dan yang membuat ku kecewa, kenapa pihak rumah sakit menutupi hal itu?”

“Saat itu kepemimpinan rumah sakit dipegang oleh dokter Sumitro. Om tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka, tapi yang jelas dokter Sumitro begitu melindungi Handaru.”

“Sebelum dia mengundurkan diri dan pindah dari sini, dia juga kehilangan seorang pasien. Kenapa Om melepaskannya begitu saja?”

“Om tidak punya bukti. Semua kru yang berada di ruang operasi mengatakan hal sama. Lagi pula keluarga pasien menerima kematian pasien dan menolak dilakukan autopsi. Kita tidak bisa apa-apa.”

“Karena itu Om langsung menyetujui pengunduran dirinya?”

“Ya. Dan Om berharap dia bisa kembali ke dirinya yang dulu setelah berada di tempat yang baru.”

“Aku tidak yakin.”

“Om hanya berharap kamu bisa tetap bersikap objektif selama di sana. Hubungan kalian selama ini memang kurang baik. Tapi siapa tahu di tempat baru, kalian bisa bekerja sama dengan baik.”

Walau hatinya sangsi bisa melakukan apa yang dikatakan Aqeel, namun tak ayal kepala Irsyad mengangguk juga. Pria itu segera keluar dari ruangan direktur rumah sakit. Shift-nya hari ini sudah usai. Irsyad bermaksud pulang ke rumah dan mempersiapkan untuk kepindahannya ke BMC lusa.

***

Raungan suara sirine ambulans terdengar memasuki pelataran rumah sakit Ibnu Sina. Mobil itu terus melaju kemudian berhenti di depan pintu IGD. Dua orang dokter dan dua orang suster sudah siap menerima kedatangan pasien.

Dua orang petugas medis menurunkan brankar dari ambulans, kemudian mendorongnya memasuki IGD. Salah satu petugas medis memegang ambu untuk membantu pasien bernafas.

“Pasien wanita berusia 24 tahun mengalami tabrakan di jalan raya. Korban mengalami benturan di dada dan pendarahan di perut. Ada luka terbuka di bagian kaki karena terjepit pintu mobil.”

Petugas medis pria itu terus memberikan informasi tentang pasien yang dibawanya. Mereka mendorong brankar memasuki ruang tindakan satu. Sesuai aba-aba, mereka memindahkan pasien ke ranjang IGD. Emir yang mendengar kabar tentang korban bergegas memasuki ruang tindakan satu.

“Talita,” Emir nampak terkejut. Dia langsung memeriksa keadaan pasien yang bernama Talita tersebut.

“Saturasi oksigennya semakin menurun, dok.”

“Pasien mulai kesulitan bernafas.”

“Lakukan intubasi. Hubungi dokter Irsyad.”

Dengan cepat suster menyiapkan peralatan intubasi. Emir membuka mulut pasien, berusaha memasukkan laringoskop.

“Tidak bisa intubasi, terjadi pembengkakan. Lakukan cricothyroidotomy!”

Emir segera berpindah ke sisi pasien. Dia mengoleskan antiseptik ke leher pasien. Kemudian dengan pelan dia melakukan sayatan pada membran kriktiroid di leher pasien. Ini dilakukan untuk membuat jalan nafas karena tidak bisa melakukan intubasi.

Pelan-pelan Emir memasukkan pipa trakeostomi ke dalam membran kriktiroid. Setelah pipa masuk, pria itu memutar pipa 90 derajat kemudian memasukkan menuju paru-paru. Setelah pipa terpasang, suster segera meniup balon selang trakeostomi setelah itu menyambungkan selang ke ventilator.

Setelah berhasil membantu pernafasan pada Talita, Emir memeriksa kondisi perut wanita itu. dia menekan pelan bagian perut wanita itu.

“Bagian ini terasa keras, pasti terjadi pendarahan internal.”

Mendengar kabar tentang Talita, Irsyad berlari cepat menuju IGD. Talita adalah calon istri Irsyad. Keduanya telah melakukan pertunangan sebulan yang lalu. Sedianya dua bulan ke depan mereka akan melangusngkan pernikahan.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Irsyad sesampainya di ruang tindakan.

“Buruk. Kami baru saja melakukan rontgen. Bagian dadanya mengalami pneumothorax. Perutnya mengalami pendarahan internal, belum lagi robekan di bagian betis. Dia harus segera menjalani operasi.”

“Aku akan menghubungi orang tuanya.”

Irsyad keluar dari ruang tindakan kemudian menghubungi kedua orang Talita. Keduanya tentu saja terkejut mendengar kabar kecelakaan sang anak. Irsyad menerangkan kondisi Talita yang membutuhkan tindakan operasi sesegera mungkin.

“Kamu bisa mewakili kami sebagai walinya. Kami mengijinkan dia menjalani operasi,” putus Ayah Talita.

“Baik, Om.”

Tanpa menunggu lama, Irsyad segera menandatangani lembar persetujuan operasi. Dia meminta suster segera menghubungi ruang operasi dan dokter anestesi.

“Hubungi dokter Daffa.”

“Dokter Daffa sedang berada di ruang operasi.”

“Berapa lama lagi operasinya?”

“Dokter Daffa baru masuk sekitar dua puluh menit.”

“Kalau begitu hubungi dokter Farzan.”

“Dokter Farzan terjebak kemacetan. Jaraknya masih cukup jauh dari rumah sakit.”

“Siapa dokter yang standby?”

“Dokter Handaru.”

“Kalau begitu aku sendiri yang akan mengoperasi.”

Mendengar nama Handaru, Irsyad memilih mengoperasi sendiri Talita. Dia segera memerintahkan Emir membawa Talita untuk dilakukan pindai CT kemudian dibawa ke ruang operasi. Dua orang perawat segera mendorong ranjang Talita.

“Abang ngga bisa masuk ke ruang operasi.”

Emir berusaha mencegah Irsyad masuk ke ruang operasi. Seorang dokter bedah yang memiliki kedekatan atau hubungan dengan pasien memang dianjurkan tidak melakukan operasi. Dikhawatirkan dokter mengalami penilaian subjektif ketika operasi berlangsung. Selain itu juga dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi sang dokter.

“Hanya ada dokter Handaru yang tersisa. Aku tidak bisa menyerahkan Talita padanya.”

“Dokter Handaru adalah dokter yang hebat. Aku yakin dia bisa menyelamatkan Talita.”

Emir berusaha mencegah Irsyad ke ruang operasi. Bagaimana pun juga kondisi mental Kakak sepupunya sedang tidak baik-baik saja. Dikhawatirkan hal tersebut mengganggu konsentrasi dokter bedah itu dan sulit mengambil keputusan di saat genting.

Di tengah perdebatan kedua dokter muda itu, Handaru muncul disusul oleh Aqeel. Dokter bedah anak itu segera menenangkan keponakannya.

“Biar dokter Handaru yang mengoperasinya.”

“Tapi aku tetap mau masuk ke ruang operasi.”

“Irsyad, percayakan semuanya pada dokter Handaru.”

“Aku bisa mengatasi ini. Percayalah, aku akan menyelamatkan tunangan mu.”

Bergegas Handaru memasuki ruang operasi. Seorang dokter residen tahun ketiga turut mendampingi dokter bedah digestif tersebut. Irsyad memasuki ruang lain, di mana dia bisa mengawasi jalannya operasi. Emir terus mendampingi Kakak sepupunya itu.

Operasi baru berjalan selama satu jam ketika Arini, dokter bedah tulang memasuki ruang operasi. Dokter tersebut akan menangani luka di bagian kaki Talita. Dokter itu terdiam sejenak melihat Handaru yang tengah menggerak-gerakkan tangannya. dia menutup dan membuka tangannya beberapa kali. Handaru berusaha menghentikan getaran di tangannya yang tiba-tiba muncul.

“Dokter Handaru, kamu tidak apa-apa?”

“Ya. Kami masih mengatasi organ dalamnya, tapi anda bisa memulai menangani kakinya.”

Handaru melanjutkan kembali pekerjaannya. Dari ruang lain, Irsyad terus mengawasi dengan perasaan cemas. Baru saja Handaru hendak menjahit luka robekan, tiba-tiba darah keluar dari salah satu kapiler atau pembuluh darah kecil di dekat lambung.

***

Waduh🫣

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!