Indonesia
NovelToon NovelToon

Balasan Dari Neraka

BDN Bab 1

"Dek, kamu liat kotak perhiasan yang ada di lemari Mas, gak?"

Sugeng baru saja pulang dari luar kota, bukannya menyapa istrinya yang sedang sedang tertidur di ranjang dengan kecupan, pria itu malah membangunkan istrinya dengan cukup kasar karena saat dia masuk ke dalam kamar dan mencari perhiasan yang dia simpan di dalam lemari, ternyata tak ada.

Romlah yang sedang tidur merasa kaget, kepalanya bahkan terasa sakit. Namun, dia cepat-cepat bangun karena rindu dengan suaminya itu.

"Mas pulang? Sejak kapan?" tanya Romlah yang langsung turun dari tempat tidur dan memeluk pria itu.

Bukannya membalas pelukan Romlah, Sugeng malah mendorong bahu wanita itu dengan cukup keras dan kembali berkata.

"Aku itu nanya perhiasan yang ada di dalam lemari aku loh, bukannya menjawab kamu malah tanya balik?"

"Ya ampun, Mas. Kamu itu baru pulang dari luar kota, dua minggu loh kamu di sana. Seenggaknya kalau pulang itu kangen-kangenan dulu sama istri, bukan malah nanya perhiasan."

Romlah menatap suaminya dengan penuh kekecewaan, siang malam dia begitu merindukan istrinya. Namun, ketika pria itu pulang malah seperti tidak merindukan dirinya.

"Rom! Perhiasan itu hadiah ulang tahun untuk pemasok terbesar pabrik tekstil kita, makanya aku tanya."

"Iya, maaf. Aku pake, Mas. Abis aku kira itu hadiah untuk aku, sebentar lagi ulang tahun pernikahan kita yang pertama, jadi aku pikir itu hadiah untuk aku. Dua hari lagi loh, jadi aku pikir itu hadiah khusus yang kamu siapkan untuk aku."

Wajah Sugeng menegang, dia seperti ingin menelan Romlah hidup-hidup. Romlah sempat kaget, tetapi dengan cepat dia merubah aura wajahnya.

"Mana kalung dan juga gelangnya? Balikin, nanti Mas beliin yang baru." Sugeng menengadahkan tangannya.

"Kenapa harus dibalikin sih? Kenapa gak beli lagi aja? Aku suka kalungnya, bagus banget modelnya." Romlah menunduk lesu.

"Nggak bisa, itu udah pesenan. Katanya dia suka yang kaya gitu, makanya aku khusus pesankan. Jangan marah, kalau pemasok itu senang, pabrik kita juga yang untung."

"Iya, Mas."

Romlah melepaskan kalung dan juga gelang yang sudah dia pakai, lalu memberikannya kepada Sugeng. Setelah itu, dia kembali memeluk suaminya itu.

"Lepasin, Dek. Mas harus balik lagi malam ini juga, penting soalnya. Mas mau urusin pabrik tekstil yang diserahkan oleh bapak kepada Mas, Mas gak bisa kalau gak balik malam ini."

"Mas baru pulang loh, masa mau balik lagi sekarang sih? Mas gak kangen sama Adek?"

Sugeng menghela napas berat, dia mengelus puncak kepala istrinya lalu menurunkan nada bicaranya.

"Lagi banyak pesenan baju, kamu tahu sendiri 3 bulan lagi lebaran. Jadi pabrik tekstil milik bapak sedang memproduksi banyak baju, kamu paham sedikit ya. Toh juga uangnya kamu yang menikmati," ujar Sugeng.

"Aku tahu, tapi kamu tahu sendiri kalau kita sudah 2 minggu nggak bertemu. Aku itu kangen banget loh sama kamu, memangnya kamu nggak kangen sama aku?"

"Kangen, kangen banget. Cuma, kamu tahu sendiri kalau bapak itu maunya Mas membuat pabrik itu ramai. Jadi, Mas gak bisa santai gitu aja."

"Mas, Adek kangen. Setidaknya sebelum pergi, Adek mau mesra-mesraan dulu sama Mas."

Romlah yang begitu merindukan suaminya langsung membuka kancing kemeja yang dipakai oleh pria itu, tanpa ragu dia bahkan mengecupi leher sampai dada suaminya. Bahkan, Romlah bermain dengan chocochips milik suaminya.

Tangan Romlah bergerak dengan cepat membuka kain yang menutup bagian bawah milik Sugeng, pria itu langsung tidak bisa berkutik dan akhirnya melakukan hal yang diinginkan oleh Romlah.

Malam ini keduanya memadu kasih dengan begitu panas, Sugeng begitu menikmati malam ini. Begitu juga dengan Romlah, hingga satu jam kemudian Sugeng dan juga Romlah sudah selesai melakukannya.

"Kamu, gak lupa untuk meminum pil kontrasepsi, kan?"

Romlah kaget, karena bisa-bisanya pria itu masih saja mengurusi masalah obat pencegah hamil. Padahal, mereka sudah menikah hampir satu tahun, tetapi dirinya masih saja tidak diperbolehkan untuk hamil."

"Kalau misalkan aku lupa dan hamil, memangnya kenapa?"

"Ck! Kamu itu masih muda, belum cocok jadi ibu. Nanti saja kalau kamu udah dewasa, biar gak stres kalau punya anak nanti."

"Kalau misalkan aku hamil, terus aku punya anak, aku udah siap kok."

"Ck! Terserah," ujar Sugeng yang langsung turun dari tempat tidur.

"Mas, nginep ya?"

Romlah memohon agar suaminya itu mau menemani dirinya walaupun hanya satu malam, sayangnya Sugeng langsung menggelengkan kepalanya. Dia bahkan pergi ke luar kota tanpa mandi terlebih dahulu, karena takut telat untuk datang ke sana.

"Maaf," ujar Sugeng ketika pria itu pergi.

Romlah hanya bisa pasrah, keesokan harinya dia merasa sepi. Akhirnya wanita itu pergi ke rumah bapaknya, ke rumah yang paling besar yang ada di kota itu. Karena memang Trisno merupakan orang terkaya di kota itu.

Romlah jarang sekali pulang, paling hanya datang sebulan sekali ke rumah ayahnya walaupun jaraknya tidak terlalu jauh. Dia hanya takut kalau dirinya akan keceplosan dalam berbicara.

Tahun lalu dia mengemis kepada ayahnya untuk dinikahkan dengan Sugeng, karena wanita itu begitu mencintai Sugeng. Pria yang merupakan anak dari pembantu yang bekerja di sana.

Romlah pernah ditolak oleh Sugeng, pria itu berkata sudah memiliki wanita idaman lain. Selain itu, Sugeng juga berkata kalau dia tidak pantas bersanding dengan Romlah.

Karena status mereka yang berbeda. Namun, saat itu Romlah yang bucin tidak mau kehilangan Sugeng, dia bahkan berusaha bunuh diri, akhirnya Sugeng mau menikahi wanita itu.

Ayahnya awalnya tidak setuju, tetapi karena ingin melihat kebahagiaan di wajah anaknya, dia menyetujuinya dengan syarat kalau Sugeng harus mengembangkan pabrik tekstil yang ada di luar kota.

Sugeng menyanggupinya, keduanya langsung keluar dari rumah besar itu dan berumah tangga sendiri di rumah mereka. Rumah yang tentunya dihadiahkan oleh Trisno terhadap putrinya, sebagai bentuk kasih sayangnya.

Ibu dari Sugeng tinggal di luar kota, di sebuah rumah yang dekat dengan pabrik cabang. Setahu Romlah, mertuanya itu yang selalu mengurus suaminya itu kala sedang berada di luar kota.

Sebenarnya Romlah selalu ingin ikut keluar kota, dia berkata tidak apa-apa tinggal di sana saja. Namun, Sugeng selalu beralasan kalau istrinya itu lebih baik tinggal di kota saja. Karena selain menjaga rumah mereka, Romlah juga harus menjaga Trisno. Pria itu sudah tua, takutnya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap pria itu.

Bapaknya mengurus pabrik tekstil yang ada di kota itu, mengurus pabrik utama. Sedangkan Romlah, wanita itu hanya asik berdiam diri di rumah. Sesekali dia akan pergi ke pabrik agar tak bosan, membantu karyawan yang sedang bekerja di sana.

"Pak!"

Romlah langsung memeluk ayahnya yang kebetulan sedang ada di rumah, dia hari ini memilih untuk bekerja setengah hari saja, karena ingin pergi ke makam mendiang istrinya.

"Kenapa? Apa Sugeng menyakiti kamu?"

"Nggak kok, Pak. Hanya saja, Romlah kangen Bapak."

"Kamu ini, terus... Sugeng sekarang di mana?"

"Kerja, sesuai dengan keinginan Bapak. Tapi, tadi malam pulang walaupun hanya semalam saja."

"Bagus, Bapak sebenarnya ingin mengontrol pabrik yang ada di luar kota. Bagaimana kalau kita ke sana saja? Sekalian kasih kejutan buat dia, dia itu sudah bekerja keras. Sekalian juga rayain ulang tahun pernikahan kalian yang pertama? Gimana? Mau gak?"

BDN Bab 2

Romlah begitu bahagia sekali karena ayahnya dirasa begitu pengertian, setelah mengobrol mereka langsung pergi menuju luar kota untuk menemui Sugeng. Di jalan Romlah bahkan membeli baju, celana dan juga jam tangan yang akan dia hadiahkan untuk suaminya.

Sepanjang perjalanan ke luar kota, Romlah tak hentinya tersenyum karena membayangkan pertemuannya yang akan begitu indah dengan suaminya. Dia sampai tak mau tidur.

"Nginep di penginapan aja ya? Besok baru kita kasih kejutan sama Sugeng," ujar Trisno ketika mereka tiba saat sore hari.

"Iya, Pak. Romlah sebenarnya gak sabar, tapi harus bisa nunggu waktu besok. Biar bisa kasih kejutan pas acara ulang tahun pernikahan," ujarnya sambil memejamkan matanya karena membayangkan wajah suaminya.

Keduanya akhirnya menyewa dua kamar di penginapan, saat dia masuk ke dalam kamar, Romlah merasa ingin jalan-jalan. Menikmati waktu sore hari di kota itu.

"Pak, Romlah mau jalan-jalan sore sambil nyari jajanan. Bete kalau di kamar terus," ujar Romlah.

"Ya, hati-hati. Bapak gak bisa ikut, ngantuk abis nyetir sampai enam jam."

"Iya, Bapak istirahat aja. Biar aku yang pergi, nanti kalau ada jajanan enak Romlah belikan."

Romlah melangkahkan kakinya di pinggir jalan kota itu, matanya bergerak ke sana ke mari mencari makanan enak yang ingin dia makan. Tak lama kemudian dia melihat ada jajanan yang menurutnya sangat enak.

"Kayaknya makan pake garang asem enak, sambelnya yang banyak dan juga beli tahu gimbal. Minumnya teh tawar aja," ujar Romlah.

Wanita itu cepat-cepat memesan makanan dan juga minuman yang dia suka, lalu memakannya dengan lahap. Setelah itu dia membelikan makanan untuk Trisno.

"Udah ah, makanannya udah banyak."

Romlah memutuskan untuk pulang ke penginapan, tetapi saat sedang berjalan, tanpa sengaja matanya menangkap sosok wanita yang sangat dia kenal.

"Ibu mertua," ujar Romlah.

Romlah ingin menemui wanita itu, karena walau bagaimanapun juga wanita itu adalah wanita yang sudah melahirkan suaminya. Namun, kalau dia mendekat ke arah mertuanya itu, pasti wanita itu akan cerewet dan memberitahukan kehadirannya di sana.

"Ck! Nanti malah gak jadi kejutan, tapi aku penasaran juga dengan apa yang akan dilakukan olehnya. Apa aku ikuti dia aja ya?"

Karena penasaran, akhirnya Romlah mengikuti mertuanya. Tentunya Romlah menjaga jarak aman agar Wati tidak mengetahui keberadaannya.

Romlah bisa melihat kalau wanita itu sedang membeli banyak kue, kue yang nampak enak sekali. Setelahnya dia pergi dari sana dengan berjalan kaki, karena memang rumah Romlah yang ada di kota itu tak jauh dari sana.

"Eh? Kok rame banget ya?"

Saat dia tiba tak jauh dari rumahnya, dia melihat di latar rumah itu sangat ramai. Ada pelampang dan juga bangku-bangku yang berjajar rapi, di sana juga ada beberapa orang yang lalu lalang. Romlah menjadi penasaran.

"Ehm! Bu, maaf. Aku mau nanya, boleh?"

Romlah menghampiri salah satu orang yang rumahnya tidak jauh dari sana, orang itu sedang menyapu halaman rumahnya.

"Boleh, mau tanya apa ya?"

"Itu loh, Bu. Kok rumah di depan rame banget, ada acara apa ya?"

Ini kali pertama dia datang ke rumah itu, rumah yang dibelikan oleh ayahnya setelah mereka menikah. Namun, rumah itu dari pertama dibeli hanya ditinggali oleh Sugeng dan juga Wati.

Wanita paruh baya itu menolehkan wajahnya ke arah rumah yang ditunjuk oleh Romlah, wanita itu tersenyum hangat lalu berkata.

"Itu loh, Dek. Pak Sugeng dan juga istrinya mau mengadakan acara aqiqah untuk anak pertama mereka," jawabnya.

Deg!

Ucapan dari bibir wanita paruh baya itu membuat jantung Romlah seakan hendak copot, jika suaminya akan mengadakan acara aqiqah dengan istrinya, lalu siapa dirinya?

Dia ada seorang wanita yang dinikahi oleh Sugeng setahun yang lalu, mereka menikah secara resmi. Pernikahan mereka diakui oleh negara dan juga agama, lalu... Wanita mana yang disebut istri oleh wanita paruh baya itu?

"Ada acara aqiqah, Bu?" tanya Romlah memastikan.

"Ya, abis isya acaranya. Makanya udah rame banget," jawab wanita paruh baya itu.

"Memangnya dia tinggal dengan siapa saja di rumah itu?" tanya Romlah dengan perasaan yang sudah hancur.

"Setahu saya, dari pak Sugeng pindah ke sini, dia datang dengan istrinya dan juga ibunya. Mereka tinggal bertiga, tapi suka ada yang datang untuk bersih-bersih kalau pagi, pulangnya sore."

Perasaan Romlah semakin hancur saja mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, jika dari pertama datang Sugeng sudah membawa wanita yang disebut sebagai istrinya, itu artinya beberapa hari setelah mereka menikah, Sugeng menikah kembali.

"Siapa nama istrinya?''

"Namanya bu Inah, kenapa ya, Dek? Kok dari tadi nanya-nanya terus?"

"Nggak, Bu. Gak apa-apa, cuma tanya aja. Makasih," ujar Romlah.

Wanita itu langkahkan kakinya untuk sedikit menjauh dari sana, dia bersembunyi di balik pohon sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas. Wanita itu menangis di sana, dia merasa sakit hati.

Di saat dia sedang menangis, tiba-tiba saja dia teringat akan sahabatnya. Wanita yang tinggal satu kota dengan dirinya, wanita itu dulu sering datang ke rumahnya. Anak yatim piatu yang untuk biaya sehari-hari saja dibantu oleh Trisno.

Wanita itu bahkan sudah dianggap anak oleh Trisno, karena wanita itu begitu menyedihkan dan dirasa sangat tak beruntung.

"Sebentar deh, Ibu tadi bilang kalau nama istri mas Sugeng itu adalah Inah. Apakah mungkin Inah sahabat aku yang menjadi istri mas Sugeng?"

Kepala Romlah terasa mau pecah, dia juga merasa kalau badannya begitu lemas dan susah untuk bergerak. Namun, dia ingin tahu sebenarnya siapa yang menjadi istri dari Sugeng.

Dia ingin tahu siapa sebenarnya madunya, atau mungkin dia yang dimadu. Terlalu banyak sekali hal yang berseliweran di otaknya, hal yang ingin sekali dia dapatkan jawabannya.

"Aku harus memastikan sendiri, sebenarnya siapa istri dari mas Sugeng? Apakah benar kalau istri dari mas Sugeng itu adalah Inah sahabat aku?"

BDN Bab 3

Romlah diam dengan tatapan kosong, dia begitu terpukul mengetahui kalau suaminya berselingkuh. Wanita itu hanya diam sambil memperhatikan orang yang semakin sore semakin banyak saja, mereka datang untuk membawa makanan yang dipesan oleh Sugeng.

Ingin marah tapi tidak tahu harus seperti apa marah yang dia lakukan, ingin menangis tetapi air matanya seakan kering. Ingin bertanya tetapi tidak tahu kepada siapa, ingin masuk ke dalam rumah itu tetapi takut dengan kenyataan yang nantinya akan diterima.

"Ya Allah, Nak. Bapak nyariin kamu dari tadi, bilang mau jajan doang tapi nggak pulang-pulang. Kamu ngapain malah duduk di sini sambil bengong?"

Romlah yang sedang larut dalam lamunannya langsung tersadar dengan teguran dari bapaknya, Trisno ternyata datang menghampiri putrinya itu. Dia mencari Romlah dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat itu.

"Pak," ujar Romlah lirih.

Wanita itu langsung memeluk ayahnya, mata yang sejak tadi dirasa begitu kering kini mengeluarkan air mata. Trisno menjadi takut dibuatnya, karena dia tidak biasanya mendengar putrinya menangis dengan begitu pilu.

"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis? Apakah Sugeng menyakiti kamu?"

Romlah sebenarnya ingin sekali menceritakan apa yang sudah dia dengar, tetapi masalahnya dia belum melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengurai pelukannya, lalu berusaha untuk tersenyum di hadapan sama ayah.

"Romlah gak kenapa-kenapa, Pak. Kita pulang aja," ajak Romlah.

"Nggak bisa, Bapak ingin ketemu sama Sugeng. Mau bertanya sebenarnya apa yang terjadi, itu juga rumahnya kenapa rame banget?"

Beberapa waktu lalu ayahnya sempat drop keadaannya, saat dibawa ke dokter ternyata pria itu mengalami penyakit jantung. Romlah takut kalau misalkan ada hal buruk yang terjadi, ayahnya itu akan langsung meninggal di tempat.

"Kita pulang aja, Pak. Sepertinya mas Sugeng ingin memberikan kejutan kepada aku, makanya dia sekarang sedang merias ruma itu untuk acara ulang tahun pernikahan kita yang pertama."

"Gitu ya?"

"Iya, mending kita ke penginapan aja. Jangan ganggu dia yang sedang mempersiapkan kejutan untuk aku, bisa kita pulang sekarang?"

"Ya udah iya, Bapak parkirin mobilnya tadi di ujung gang. Soalnya kalau masuk ke sini nggak bisa, ayo cepat kita pergi."

"Ya," jawab Romlah.

Akhirnya keduanya pulang ke penginapan, tetapi sampai malam hari tiba Romlah tidak bisa memejamkan matanya. Dia teringat terus akan apa yang dikatakan oleh tetangga Sugeng, akhirnya setelah memastikan ayahnya tertidur dengan lelap, Romlah kembali ke kediamannya yang dihuni oleh Sugeng.

Saat dia tiba di sana, suasana sudah sepi. Namun, ada beberapa orang yang sedang merapikan bangku dan juga sampah yang ada di luar rumah. Romlah melangkahkan kakinya dengan begitu perlahan menuju pintu belakang.

Saat dia ingin membuka pintu itu, dia mendengar obrolan antara Wati dan juga Inah. Keduanya sedang mengobrol dan sesekali terdengar tawa dari bibir mereka.

"Alhamdulillah acara aqiqah putri kamu sudah selesai ya, Nah. Sugeng juga tadi antusias banget saat acara berlangsung, ibu senang."

Romlah bisa mendengar suara dari ibu mertuanya, tak lama kemudian dia mendengar suara Inah yang menyahuti ucapan dari mertuanya itu.

"Iya, Bu. Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar, mas Sugeng senang banget punya anak perempuan. Dia bahkan langsung menamai anak kami dengan nama Gendis.

Romlah mengintip dari balik jendela, ternyata benar kalau wanita yang sedang berbicara dengan Wati itu adalah Inah, sahabat dan juga wanita yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.

"Tapi, Bu. Aku cape jadi istri siri terus, kapan mas Sugeng menceraikan Romlah? Katanya dia tidak cinta terhadap Romlah, kenapa sampai saat ini dia tidak menceraikan wanita itu juga?"

"Sabar, Nduk. Kamu itu nggak usah takut, lagi pula Sugeng tidak mencintai Romlah. Selama ini dia mengawini wanita itu hanya untuk mengambil hartanya saja, bukannya kamu bisa merasakan selama menikah dengan Sugeng begitu banyak uang yang dia berikan kepada kamu?"

Romlah langsung menangis sambil menutup mulutnya karena takut kedengaran, dia tidak menyangka kalau Sugeng ternyata sangatlah jahat. Mau menikah dengan dirinya tetapi hanya untuk harta.

Pantas aja selama ini pria itu tidak pernah bersikap baik kepada dirinya, bahkan saat mereka berhubungan badan di atas ranjang pun pria itu sangat dingin walaupun mampu memuaskannya.

Romlah juga jadi berpikir kenapa selama ini pria itu selalu meminta dirinya untuk mengkonsumsi pil kontrasepsi, ternyata pria itu tidak ingin memiliki anak dari dirinya.

'Pantas saja saat aku mau menikah Inah tidak mau datang ke pernikahanku, dia bilang mendapatkan pekerjaan di kota lain. Tahunya dia malah menjadi istri siri dari mas Sugeng di sini,' ujar Romlah dalam hati.

Wanita itu terdiam ketika mengingat pernikahannya dengan Sugeng, pernikahan yang dilakukan dengan secara megah dan juga meriah. Namun, esok harinya Sugeng meminta izin untuk pergi ke luar kota.

Pria itu beralasan kalau dirinya akan melihat pabrik yang ada di kota ini, kini Romlah mulai paham. Sepertinya setelah Sugeng menikahi dirinya secara resmi, keesokan harinya pria itu menikahi Inah secara siri.

"Lagi pula Sugeng selalu berkata kalau dia tidak pernah menyentuh wanita itu, kamu itu nggak usah takut kalau Sugeng akan berpaling kepada Romlah. Toh kamu sendiri bisa merasakan, kalau Sugeng lebih sering berada di dekat kamu."

"Iya juga sih, Bu. Tapi tetep aja aku suka cemburu kalau ingat mas Sugeng lagi dua-duaan sama Romlah," ujar Inah.

"Udah jangan dipikirin, mending kamu susul Sugeng ke kamar. Dia pasti sudah menidurkan Ayu," ujar Wati.

Iya, Bu."

Inah hendak bangun dari duduknya, dia ingin masuk ke dalam kamar. Namun, tiba-tiba saja pintu belakang terbuka dengan begitu lebar.

"Ro--- Romlah!" teriak Inah dan juga Wati.

"Kenapa? Kaget liat aku datang?"

"Sejak kapan kamu datang?" tanya Wati.

Raut wajahnya yang tadi terlihat kaget berubah menjadi kesal, karena wanita itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkan dirinya. Romlah mendekat ke arah Wati.

"Sejak tadi, aku tidak menyangka ternyata kalian itu merupakan orang-orang yang busuk. Kamu, Bu. Kamu ternyata merupakan wanita yang busuk, karena mendukung niat jahat putra kamu."

Romlah lalu menolehkan wajahnya ke arah Inah, wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.

"Kamu, Inah. Padahal kamu itu sahabat aku, tetapi tega banget kamu merusak rumah tangga aku."

"Nggak ada yang namanya aku merusak rumah tangga kamu, yang ada kamu datang menjadi orang ketiga di dalam hubungan aku dan juga Sugeng."

"Kalau emang dia memiliki hubungan yang kuat dengan kamu, pasti dia akan menikahi kamu lebih dulu. Bukan menikahi aku lalu menikahi kamu dan memanfaatkan aku, itu namanya kamu yang menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kami."

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Romlah, pelakunya bukan Wati ataupun Inah, tetapi pelakunya adalah Sugeng.

"Mas, kamu tampar aku?" tanya Romlah sambil menangis karena begitu sedih.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!