Indonesia
NovelToon NovelToon

Di Selingkuhi Tanpa Rasa Bersalah

Bab: 1

Pagi itu, udara terasa hangat dan lembut menyapa kulit. Matahari baru saja menampakkan sinarnya dari sela tirai kamar. Lara terbangun dengan senyum yang merekah menyambut pagi. Hari ini Arga, suaminya, akan berangkat dinas ke luar kota selama seminggu. Hal biasa terjadi, karena sebagai pembisnis pastinya Arga harus selalu bertemu klien bahkan di luar kota.

Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya, rambutnya masih basah, aroma sabun maskulin menguar memenuhi ruangan. Ia tersenyum, lalu berjalan menghampiri Lara yang tengah merapikan kemeja yang sudah disetrika semalam.

“Sayang,” panggilnya lembut.

Lara menoleh, matanya menatap wajah suaminya yang tenang dan teduh. “Hmm?”

Arga mendekat, mengambil kemeja itu dari tangannya, lalu mengenakannya sambil masih menatap mata Lara. “Kamu nggak usah terlalu khawatir, ya. Cuma seminggu kok. Setelah itu aku pulang, dan kita bisa jalan-jalan ke mana pun kamu mau.”

Lara tersenyum kecil. “Aku bukan khawatir, cuma di rumah jadi sepi lagi." Ucap Lara.

Arga menatapnya lembut. Ia memegang pipi Lara dengan kedua tangannya, menunduk sedikit, dan mengecup keningnya perlahan.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Setiap kecupan terasa seperti janji kecil bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Aku cinta kamu, Ra,” ucap Arga pelan.

Lara tersenyum bahagia. “Aku juga cinta kamu, Mas.”

Mereka berpelukan lama.  Arga menepuk punggungnya pelan.

“Jangan sedih, nanti aku nggak jadi berangkat,” katanya, mencoba bercanda.

Lara tertawa kecil. “Dasar lebay.”

Arga akhirnya berangkat dengan koper di tangan. Lara mengantar sampai halaman, melihat mobil yang membawanya menjauh. Sebelum mobil itu berbelok, Arga menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Lara membalas lambaian itu dengan dada yang hangat, meski ada sedikit perasaan sepi yang diam-diam mulai tumbuh.

Malamnya, seperti biasa, Arga menghubunginya.

“Sayang, aku udah sampai, kamu nggak usah khawatir, ya.”

Suara Arga terdengar ceria dari seberang.

“Syukurlah. Aku tadi hampir nelpon terus, takut kamu belum nyampe,” jawab Lara sambil tertawa kecil.

“Kamu ngapain aja hari ini?”

“Nggak banyak. Beresin rumah, nyiram bunga. Selebihnya cuma rebahan sambil mikirin kamu.”

“Hei, jangan melankolis gitu, nanti aku nggak fokus kerja.”

Lara terkekeh. “Yaudah deh. Kerja yang bener, jangan lupa makan.”

“Siap, istri cantikku.”

Malam itu Lara tidur dengan hati tenang. Arga selalu memperlakukannya dengan penuh cinta, perhatian, dan kelembutan.

Hari kedua. Lara bangun pagi dengan niat menelepon Arga lagi. Ia ingin meminta izin pulang kampung ke desa, sekadar menengok kedua orang tuanya dan adiknya. Sudah berbulan-bulan ia tak pulang, dan rindu mulai terasa menggelayuti dada.

Namun ketika ia mencoba menelepon, suara operator menjawab dingin.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Lara mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Lima kali.

Masih sama.

Nomor Arga tidak aktif.

“Ah, mungkin lagi rapat,” gumamnya sambil menaruh ponsel di meja.

Siang hari, ia mencoba lagi. Malam pun begitu. Tapi tetap tak bisa. Tidak ada pesan, tidak ada kabar.

Hatinya mulai gelisah. Tapi ia mencoba berpikir positif. Arga orangnya profesional, mungkin sedang sibuk.

Namun malam itu, saat ia duduk di tepi ranjang menatap ponsel yang diam. perasaan rindu yang menekan dadanya semakin tak tertahankan. Besok sebaiknya dia pulang saja, setelah sampai atau di perjalanan dia akan kembali menghubungi Arga.

“Ya sudah,” gumamnya. “Aku pulang aja. Nggak apa-apa. Toh cuma beberapa hari.”

Keesokan paginya, Lara membereskan barang-barangnya. Ia memasukkan beberapa baju ke dalam koper kecil, Ia sempat ragu karena belum sempat meminta izin ke Arga, tapi hatinya berkata tidak apa-apa. Arga pasti mengerti.

“Tentu mereka bakal kaget,” katanya dalam hati.

Ia ingin memberi kejutan pada kedua orang tuanya, makanya tidak memberitahukan tentang kedatangannya.

Perjalanan memakan waktu enam jam. Mobil yang ia tumpangi berhenti di depan jalan kecil menuju rumahnya. Dari kejauhan, Lara melihat beberapa orang berkumpul di halaman. Banyak kursi, tenda putih dengan hiasan bunga.

Alisnya berkerut.

“Ada acara apa ini?”

Ia turun dari mobil, menenteng koper kecilnya, berjalan perlahan ke arah rumah. Beberapa tetangga melihatnya dan tersenyum.

“Lara! Wah, kamu pulang!” sapa salah satu tetangga dengan ramah.

Lara membalas senyum itu, meski hatinya mulai dipenuhi tanya.

Lara semakin penasaran. Langkahnya cepat menuju halaman rumah. Dari luar, terdengar lantunan doa dan suara penghulu.

“......Apakah Anda menerima Dila binti Rahman sebagai istri sah Anda dengan mas kawin tersebut?” Suara penghulu menggema.

“Saya terima nikahnya Dila binti Rahman dengan mas kawin tersebut, tunai.” Suara pria itu tegas dan jelas.

Namun, suara itu begitu Lara kenal, Suara yang menusuk telinga Lara seperti petir di siang bolong.

Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.

"Kenapa mirip seperti suara mas Arga?"

Ia mempercepat langkah, menembus kerumunan orang. Beberapa wajah menoleh padanya, dan di sanalah semuanya berhenti.

Dunia seolah mematung.

Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan setelan jas abu-abu. Wajah itu…

Wajah yang sama yang beberapa hari lalu mengecup keningnya berkali-kali.

Dan di sebelah pria itu, dengan pakaian pengantin dengan wajah yang berhias cantik, duduk adiknya. Tersenyum malu-malu di hadapan penghulu.

Seketika ruangan hening, lalu disambut ucapan “Sah! Sah!” dari para saksi dan tamu.

Semua orang tersenyum bahagia.

Semua… kecuali Lara.

Tangannya gemetar. Koper kecil yang dibawanya terjatuh, menghantam lantai keras. Suara dentumannya membuat beberapa tamu menoleh ke arahnya.

“Lara?” suara ibunya, wajahnya seketika pucat.

Lara hanya bisa menatap dua orang itu, suaminya dan adiknya, yang kini telah resmi menjadi suami-istri di hadapan Tuhan.

Seketika pandangannya berkunang. Dunia terasa berputar. Nafasnya sesak.

Air mata yang sejak tadi ditahan tumpah tanpa bisa dicegah.

“Nggak… ini nggak mungkin…” gumamnya nyaris tanpa suara.

Langkahnya goyah, tapi ia tetap menatap Arga.

Pria itu, suaminya, juga menatap balik dengan wajah yang entah seperti apa. Arga juga tampak terkejut melihat Lara.

Semua orang di ruangan itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat Lara menangis. Mungkin mereka berpikir ia terlalu terharu karena adiknya menikah.

Tak ada yang tahu, air mata itu bukan karena haru. Tapi karena hatinya baru saja dirobek hidup-hidup.

Ibunya menghampiri, mencoba menuntunnya duduk. Tapi Lara menepis lembut.

“Bu… ini apa?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

******

Untuk readers semua, selamat datang di karya baru author. Terima kasih untuk yang sudah membaca😘😘😘

Bab: 2

Betapa hancurnya hati Lara ketika matanya menangkap pemandangan itu.

Suaminya, lelaki yang beberapa hari lalu pamit dinas keluar kota, kini duduk bersanding di pelaminan, di samping adiknya sendiri.

Dan di depan mereka, ayahnya berdiri dengan wajah tenang, menjadi wali nikah dalam acara yang disebut hari bahagia.

Rasanya seperti mimpi buruk yang mustahil nyata. Tapi di depan mata, semuanya sungguh terjadi.

Wangi melati yang memenuhi udara menusuk hidungnya, membuat dadanya terasa sesak.

Musik lembut yang seharusnya membawa kebahagiaan justru terdengar seperti irama duka yang mengiringi pengkhianatan.

Setiap tawa, setiap tepuk tangan dari para tamu, terdengar seperti ejekan yang menampar hatinya berkali-kali.

Lara berdiri di antara kerumunan, tubuhnya kaku seperti patung.

Wajah-wajah di sekitarnya kabur, seolah dunia berputar hanya di antara dua sosok di depan penghulu.

Sosok lelaki yang ia panggil suami, dan perempuan yang sejak kecil ia peluk sebagai adik kandung.

Kini keduanya mengenakan busana pengantin serasi, duduk bersisian dengan senyum bahagia yang memahat luka dalam di hatinya.

Tangannya gemetar.

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia ingin berteriak, ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan, seolah seluruh udara di dalam tubuhnya menguap pergi.

“Apa ini, Bu?”

Suara itu keluar nyaris tak terdengar, bergetar dan pecah oleh tangis yang ia tahan mati-matian.

Ibunya yang berdiri tak jauh darinya menoleh, mata wanita itu redup, seperti menyimpan rahasia yang berat. Ia mendekat, menggenggam tangan Lara yang dingin, lalu berbisik pelan,

“Lara, Ibu mohon... kamu tenang dulu, Nak. Jangan buat keributan di hari bahagia ini.”

Kata-kata itu bagai belati dingin yang menembus dada Lara.

Hari bahagia?

Hari di mana suaminya menikahi adiknya?

Hari di mana keluarganya sendiri berpaling tanpa rasa bersalah?

Lara menatap ibunya dengan mata merah dan napas tersengal.

Ia tak tahu harus tertawa atau menangis. Tapi di tengah rasa hancur yang menyesakkan, ia masih berusaha menahan diri agar tidak menjerit di depan semua orang.

Namun tubuhnya sudah tak kuat lagi.

Kakinya bergetar. Dunia di sekelilingnya berputar pelan.

Bisikan-bisikan mulai terdengar dari para tamu. Tatapan-tatapan ingin tahu menusuk dari segala arah.

Ibunya kembali menghampiri, wajahnya dingin, tapi tangan yang menggandeng lengan Lara terasa tegas.

“Ayo ikut Ibu ke dalam. Jangan bikin Ayah malu di depan tamu.”

Ayah malu.

Lara hampir tertawa getir mendengarnya.

Jadi yang perlu dijaga hanyalah nama baik, bukan anak sendiri yang dikhianati.

Dengan langkah limbung, ia membiarkan ibunya menggiringnya masuk ke dalam rumah.

Lorong terasa panjang, suara musik dari halaman depan makin menjauh, berganti dengan keheningan yang mencekam.

Begitu pintu kamar tertutup, tubuh Lara seolah kehilangan kekuatan.

Ia duduk di tepi ranjang, wajahnya tertutup kedua tangan.

Tangisnya pecah, tak lagi bisa ditahan.

“Bu... kenapa?” suaranya lirih, nyaris seperti bisikan.

“Kenapa harus dia? Kenapa harus suamiku?”

Ibunya terdiam.

Wanita itu menarik napas panjang, seperti mencari keberanian untuk berkata sesuatu.

“Lara... Ibu tahu ini berat untukmu. Tapi kamu harus ikhlas, Nak. Mungkin ini memang jalan terbaik.”

Lara menatap ibunya dengan mata kosong, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Jalan terbaik? Untuk siapa, Bu? Untuk mereka? Untuk Ibu dan Ayah?” suaranya meninggi, namun tetap bergetar.

“Ibu tahu dia suamiku! Kami baru dua tahun menikah. Apa Ibu lupa? Dan, apakah ibu nggak tahu, di dalam Islam di larang dan haram seorang pria menikahi saudara kandung istrinya?”

Ibunya menunduk, menghindari tatapan putrinya.

“Mereka saling mencintai, Lara. Adikmu, Dila, benar-benar mencintai Arga. Ibu... Ibu tidak bisa memisahkan dua orang yang saling mencinta.”

Lara tercekat. Ia menatap ibunya tak percaya.

“Hanya karena Dila mencintai suamiku, kalian semua bisa setuju begitu saja? Tanpa bicara padaku dulu? Tanpa memikirkan aku? Tanpa peduli haram halalnya?”

Suaranya pecah di akhir kalimat.

“Kalau Ayah yang menikah lagi, apakah Ibu juga akan berkata begitu? Bahwa itu karena cinta?”

Nada sarkastik meluncur tanpa bisa ditahan.

Ibunya menggigit bibir.

“Lara, Ibu tahu kamu marah. Tapi semuanya sudah terlanjur. Hari ini pernikahan mereka berlangsung. Ibu mohon... jangan keluar dulu. Tunggu sampai tamu-tamu pulang, baru kita bicara lagi.”

Lalu wanita itu berdiri, menatap putrinya sebentar dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya berbalik meninggalkan kamar.

Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Lara sendirian dengan hati yang remuk berkeping-keping.

Lara menatap punggung ibunya yang menghilang di balik pintu, hingga yang tersisa hanya keheningan.

Tak ada lagi ruang untuk marah. Tak ada tenaga tersisa untuk menangis.

Yang ada hanya hampa.

Ia memandang lantai lama, sebelum kenangan-kenangan mulai menyeruak tanpa diundang.

Potongan wajah Arga muncul dalam benaknya, senyum gugupnya saat melamarnya, janji-janjinya tentang kesetiaan, genggaman tangan yang dulu begitu hangat.

Semuanya kini terasa seperti kebohongan besar.

Ia menatap jari manisnya.

Cincin kawin itu masih di sana, berkilau redup diterpa cahaya sore.

Cincin yang dulu dipasangkan Arga dengan tatapan penuh cinta.

Kini hanya menjadi lambang penghinaan yang membakar hati.

Tangannya gemetar saat mencoba melepaskannya. Tapi jari-jarinya kaku, seolah menolak kenyataan.

Akhirnya ia hanya menunduk, menatap cincin itu lama, sampai air mata jatuh satu per satu ke punggung tangannya.

Dari luar, terdengar suara tawa dan musik dangdut lembut.

Tanda resepsi telah dimulai.

Suara tamu-tamu bercakap, piring dan gelas beradu, semuanya terdengar seperti ejekan.

“Bu... aku ini anakmu juga kan?”

Suara itu keluar di sela tangisnya, pelan, nyaris tak terdengar.

Waktu berhenti baginya.

Dunia yang ia kenal runtuh sepenuhnya.

Bukan hanya pengkhianatan yang menyakitkan, tapi juga kebohongan yang rupanya telah direncanakan jauh sebelum hari ini.

Lara menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.

Tangisnya mengguncang kamar kecil itu, membuat udara terasa berat.

Sore semakin merambat turun, sinar matahari masuk melalui celah tirai, menyoroti wajahnya yang pucat dan sembab.

Ketika suara musik berhenti, adzan Maghrib terdengar sayup dari kejauhan.

Namun bagi Lara, waktu seolah berhenti.

Tak ada suara yang menenangkan, tak ada tempat yang memberi kedamaian.

Dengan langkah gontai, ia berdiri dan berjalan ke arah cermin di sudut kamar.

Wajah di depannya tampak asing, mata bengkak, bibir kering, pipi lembap oleh air mata.

Ia menatap pantulan itu lama, seolah menatap seseorang yang sudah mati di dalam dirinya.

“Lihat kamu, Lara...” bisiknya pelan.

“Kamu kehilangan segalanya dalam satu hari.”

Tangannya terulur, menyentuh permukaan kaca yang dingin.

Dingin itu merambat sampai ke jantungnya, membekukan semua yang tersisa.

Ia memejamkan mata, berharap ketika membukanya nanti, semuanya akan berakhir.

Bahwa semua ini hanya mimpi buruk yang bisa dihapus oleh pagi.

Namun saat kelopak matanya terbuka kembali, dunia masih sama.

Suaminya tetap menikahi adiknya.

Keluarganya tetap diam.

Dan dirinya tetap sendirian.

Waktu berjalan lambat.

Sesekali dari luar terdengar suara ibunya berbicara dengan tamu, kadang tawa, kadang bunyi sendok beradu dengan cangkir.

Semuanya berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.

Di dalam kamar itu, Lara duduk kembali di tepi ranjang.

Di tangannya, cincin kawin masih tergenggam erat.

Ia tahu, tidak ada yang bisa kembali seperti semula.

Hatinya telah hancur, dan tak ada seorang pun di rumah itu yang peduli.

Air matanya menetes lagi, tapi kali ini tanpa suara.

Hanya keheningan yang menemani.

Sementara di luar sana, pesta pernikahan antara suaminya dan adiknya masih berlangsung meriah, diiringi tawa dan doa kebahagiaan, untuk dua orang yang telah mencuri seluruh hidupnya.

******

Untuk readers selamat datang di karya baru author, untuk yang sudah membaca. Terima kasih banyak, jangan lupa support author dengan like, komen dan vote cerita ini ya biar author semangat up-nya. Terima kasih😘😘😘

Bab: 3

Sepanjang hari Lara hanya diam di dalam kamar. Lampu kamar itu redup, udara terasa sesak. Dia duduk di tepi ranjang, memeluk kedua lututnya, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Dari luar terdengar sayup tawa, tawa yang membuat dadanya makin perih.

Di ruang depan, orang-orang masih bercengkerama, meski pesta sudah nyaris usai. Suara gelas beradu, tawa tamu yang memuji “pengantin baru”, dan musik lembut dari pengeras suara semuanya menusuk telinga Lara seperti belati.

Kedua orang tuanya, Bu Liana dan Pak Rahman, tak satu pun mengetuk pintu kamar anak sulung mereka itu. Mereka sibuk memastikan semua tamu mendapat hidangan yang cukup, sibuk tersenyum, sibuk menjaga nama baik keluarga.

Lara sudah berhenti menangis sejak sore tadi. Air matanya kering, tapi hatinya masih banjir luka. Pandangannya kosong, seperti seseorang yang kehilangan arah hidup.

Di luar sana, Arga, lelaki yang dulu memanggilnya “sayang”, kini berdiri di sisi Dila, adik kandung Lara sendiri. Mereka tampak serasi, berdiri berdampingan menyambut para tamu, menerima ucapan selamat layaknya pasangan pengantin baru yang berbahagia tanpa merasa ada hati yang di hancurkan.

Arga bahkan sempat tertawa, tawa yang dulu membuat Lara jatuh cinta. Sekarang tawa itu membuat perutnya terasa mual.

Tak ada yang peduli dengan raga yang kini seperti tak lagi bernyawa di balik pintu kamar. Tak ada yang bertanya bagaimana perasaan Lara yang kehilangan segalanya dalam satu hari, suaminya, harga dirinya, dan kepercayaannya pada keluarga.

Malam akhirnya datang. Langit gelap, pesta berakhir, para tamu pulang satu per satu. Suara tawa memudar, berganti keheningan yang berat.

Barulah saat itu, pintu kamar Lara diketuk pelan.

“Lara, ayo keluar, makan,” suara Bu Liana terdengar datar dari balik pintu.

Lara tidak menjawab. Dia hanya menatap kosong ke arah suara itu. Nafasnya pendek, matanya bengkak.

Pintu terbuka. Bu Liana masuk, mengenakan masih mengenakan kebaya, rambutnya masih tersanggul rapi yang semakin menusuk perasaan Lara.

“Lara,” katanya lagi, lembut tapi dingin. “Kamu harus makan. Dari tadi kamu belum makan apa-apa.”

Lara mengangkat wajahnya perlahan. Mata mereka bertemu. Tak ada kata. Hanya kesunyian yang menggantung di antara keduanya.

Bagaimana mungkin dia bisa makan? Lidahnya terasa pahit, dadanya sesak.

Bu Liana menghela napas, lalu berjalan masuk lebih dalam, menatap anak perempuannya dengan sorot mata yang entah, antara iba dan jengkel. “Jangan begini terus, Nak. Semuanya sudah terjadi.”

Lara masih diam.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka lagi. Kali ini Pak Rahman masuk, wajahnya serius. Di belakangnya muncul Dila dan Arga.

Lara menunduk, tubuhnya menegang seketika. Hatinya kembali bergetar hebat.

“Lara,” suara ayahnya tegas tapi tenang. “Kamu harus belajar ikhlas, Nak. Ini sudah takdir. Mau bagaimana pun, semua sudah terjadi.”

Kalimat itu menusuk seperti pisau tumpul yang di paksa menancap dan akhirnya membuat luka semakin nyeri. “Ikhlas.” Kata itu lagi. Kata yang paling dibencinya sejak pagi tadi. Seolah semua luka bisa sembuh hanya dengan kata ikhlas.

Air mata yang tadi sudah kering kembali mengalir pelan di pipinya.

Ayahnya menatapnya tajam, seolah kecewa karena Lara tak kunjung menjawab.

Lara akhirnya mengangkat kepalanya, menatap satu-persatu wajah mereka. Ibunya, ayahnya, Dila, dan Arga.

Matanya berhenti di wajah Dila.

“Kenapa, Dila?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. “Kenapa kamu melakukan itu?”

Dila terdiam. Pandangannya jatuh ke lantai. Bibirnya gemetar, tapi tak sepatah kata pun keluar.

Yang menjawab justru Arga. Dengan wajah datar dan suara tenang, seolah tak ada dosa.

“Lara, Dila nggak salah. Kalau kamu mau marah, marah ke aku. Aku yang salah.”

Lara menatap Arga tak percaya. Suaranya pecah, “Kamu pikir dengan bilang begitu semuanya selesai?”

Arga menunduk, tak berani menatapnya lama-lama.

Pak Rahman menghela napas berat, lalu bicara lagi. “Lara, kamu harus ikhlas menerima pernikahan mereka. Mau tak mau, sekarang mereka suami istri yang sah. Ini sudah keputusan keluarga.”

Kata-kata itu membuat tubuh Lara bergetar hebat. Seolah seluruh udara di ruangan tersedot keluar.

“Keputusan keluarga?” ia mengulang lirih, lalu tertawa getir. “Keluarga yang mana, Yah? Karena aku bahkan nggak tahu keluarga macam apa yang tega menikahkan adiknya dengan suami kakaknya.”

Bu Liana menatapnya tajam. “Kamu jangan bicara begitu, Lara. Kamu juga harus lihat kenyataan. Arga dan Dila saling mencintai.”

Lara terpaku. Napasnya tersengal. Kata “saling mencintai” itu seperti cambuk yang diayunkan ke wajahnya.

“Dan aku ini apa, Bu?” suaranya meninggi. “Aku ini siapa buat kalian semua?”

Bu Liana menunduk sesaat, lalu berkata pelan tapi tegas, “Kamu itu anak sulung kami. Tapi kamu juga harus belajar mengalah. Kamu tahu sendiri Dila itu anak yang lembut, dia nggak akan bahagia kalau terus merasa bersalah sama kamu. Jadi tolong, demi keluarga kita, kamu ikhlaskan semuanya.”

Lara menatap ibunya tak percaya. Dadanya berdegup keras, wajahnya pucat.

“Jadi aku harus mengalah demi kebahagiaan mereka?”

“Ya,” jawab ayahnya singkat. “Dila masih muda, masa depannya panjang. Sementara kamu…” Pak Rahman berhenti sejenak, menatap Lara dengan tatapan datar. “Kamu sudah dewasa, sudah seharusnya lebih bijak.”

Lara berdiri. Tangannya mengepal begitu keras hingga kukunya menembus kulit telapak tangan.

“Kenapa aku harus ikhlas!” teriaknya akhirnya, suaranya memecah kesunyian ruangan. “Kenapa aku harus mengikhlaskan sesuatu yang nggak bisa aku ikhlaskan!”

Tangisnya pecah, bukan lagi isakan, melainkan jeritan dari hati yang benar-benar remuk.

“Kenapa Ibu sama Ayah tega sama aku?! Kenapa kalian semua tega melakukan ini sama aku!”

Pak Rahman terdiam, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. “Sudahlah, Lara. Jangan buat semuanya makin sulit!”

“Sulit buat siapa? Buat kalian yang sudah menghancurkan hidupku?” jawab Lara tajam. “Dari dulu kalian selalu begitu! Apa pun yang Dila mau, harus dikasih. Aku cuma disuruh mengalah, mengalah, dan mengalah!”

Bu Liana mencoba menenangkan, tapi suaranya malah terdengar menyalahkan.

“Lara. Ibu cuma ingin yang terbaik. Dila itu anak yang rapuh, kamu tahu sendiri.”

“Rapuh?” Lara tersenyum pahit. “Rapuh sampai tega menikah dengan suami kakaknya sendiri?”

Dila menunduk, air matanya jatuh, tapi tak ada kata maaf keluar. Arga hanya memegang tangan Dila seolah ingin melindunginya dari amarah Lara.

Dan pemandangan itu, tatapan saling menguatkan antara mereka berdua, membuat hati Lara makin runtuh.

“Lihat?” ucapnya lirih tapi tajam. “Bahkan sekarang pun kalian berdiri di pihak mereka. Aku yang disalahkan, aku yang disuruh mengerti. Padahal aku yang dikhianati.”

Pak Rahman menatapnya dengan nada marah yang ditahan. “Cukup, Lara. Jangan bicara kasar di depan orang tua.”

“Kalau kalian benar-benar orang tua,” jawab Lara sambil menatap keduanya tajam, “seharusnya kalian melindungi anak kalian yang disakiti, bukan membenarkan yang menyakiti.”

Ruangan itu hening. Tak ada yang berani bicara lagi. Hanya suara tangis pelan Dila dan desah napas Lara yang terengah karena emosi.

​******

Untuk readers selamat datang di karya baru author, untuk yang sudah membaca. Terima kasih banyak, jangan lupa support author dengan like, komen dan vote cerita ini ya biar author semangat up-nya. Terima kasih😘😘😘

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!