Indonesia
NovelToon NovelToon

Asi Babysitter Penggoda

1. Mansion Maheswara

...0o0__0o0...

...Mansion Maheswara pagi itu terlihat sangat sepi, aura dingin dan dominan menyelimuti ruangan itu....

...“Siapa namamu ?” tanya Arya datar, tatapan matanya tajam menusuk....

...“Naya Larasati, Tuan. Biasa di panggil Naya,” jawabnya gugup, kedua tangannya saling meremas di pangkuan....

...“Kau tahu tugas mu di sini apa ?” suara Arya terdengar dalam, penuh tekanan....

...“Tahu, Tuan. Menjaga... dan menyusui bayi,” sahut Naya lirih....

...Arya meletakkan selembar surat kontrak di atas meja. “Baca. Kalau tidak keberatan, tandatangani.”...

...Naya menelan ludah. Ia membaca cepat baris demi baris dengan wajah tegang....

...“Astaga, peraturan-nya banyak banget,” batinnya meringis....

...“Waktu mu satu menit. Jika lewat dan belum kau tanda tangani, aku anggap kau menolak,” ucap Arya tanpa ekspresi....

...Mata Naya membulat kaget. Tanpa pikir panjang, ia meraih bolpoin dan menandatangani kontrak itu....

...Arya menyeringai tipis. Ia menarik cepat kertas itu dari tangan Naya....

...“Ingat. Kau tidak boleh keluar dari mansion ini tanpa izin dariku.”...

...“Baik, Tuan.”...

...“Sekarang, putraku tanggung jawab mu. Jika terjadi sesuatu padanya…” Arya mendekat, tatapannya menusuk. “Kepala mu taruhan-nya.”...

...“A-Astaga…Serem sekali,” gumam Naya dalam hati. Ia mengangguk kaku....

...“Kau harus pastikan ASI untuk putraku tercukupi. Paham ?”...

...“Paham, Tuan.”...

...“Dan jangan coba-coba macam-macam di mansion ini kalau kau masih mau hidup.”...

...Glek..!...

...Naya menelan ludah, wajahnya pucat....

...“Jawab! Aku tidak mempekerjakan orang bisu!” Kata Arya datar, dingin....

...“Ba… baik, Tuan. Saya paham,” sahutnya terbata....

...Arya berdiri, berbalik menuju Lift untuk naik ke lantai atas....

...“Apa yang kau tunggu ?” katanya datar. “Ikuti saya.”...

...Naya tersentak. Ia segera bangkit dan mengikuti dari belakang, langkahnya kecil dan gugup....

...0o0__0o0...

...Ceklek!...

...Arya membuka pintu kamar yang di dominasi warna abu-abu dan hitam....

...Di sana, sebuah box bayi tampak di dekat jendela besar....

...Bayi laki-laki mungil itu tertidur pulas—hingga suara langkah Arya terdengar....

...Seketika tangisan keras pecah di udara....

...“Karan Alvaro Maheswara,” gumam Ardan lirih, suaranya sedikit melunak. “Putraku.”...

...Naya terpaku. Suara tangisan bayi itu menggema di dadanya, membuat naluri keibuan-nya bangkit....

...Tangisan Karan semakin keras, menggema di kamar luas itu....

...Naya refleks melangkah maju, tapi sempat berhenti saat menyadari tatapan Arya yang tajam masih mengawasi-nya dari sisi ranjang....

...“Boleh saya… menggendong-nya, Tuan ?” tanya Naya pelan, suara-nya bergetar....

...Arya hanya diam beberapa detik. Sorot matanya menilai, tajam tapi menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. Akhirnya ia mengangguk kecil. ...

...“Lakukan.” Balasnya singkat....

...Dengan hati-hati, Naya mendekati box bayi itu. Tangan-nya sedikit gemetar saat menyentuh selimut lembut yang membungkus tubuh kecil Karan....

...Bayi itu masih menangis, wajahnya memerah....

...“Ssst... tenang ya, Nak…” bisik Naya lembut, mengangkat-nya ke pelukan. “Kamu pasti lapar, ya ?”...

...Tangis itu perlahan mereda, berganti dengan suara rengekan kecil....

...Naya duduk di kursi dekat jendela, membenahi posisi kain penutup dadanya. Gerakan-nya lembut tapi ragu-ragu. Menyadari tatapan majikan-nya yang masih terpaku padanya....

...Arya tidak berkata apa pun. Hanya berdiri di sana, kedua tangan-nya bersedekap, rahang-nya mengeras....

...Ada sesuatu di matanya—bukan lagi sekadar dingin, tapi lebih... rumit....

...“Bayi akan cepat tenang kalau di susui,” ujar Naya hati-hati, berusaha mencairkan suasana....

...Arya tidak langsung menjawab. Pandangan-nya turun ke arah Putra-nya yang kini tenang dalam pelukan perempuan muda itu....

...Ada keheningan yang aneh—campuran antara lega dan sesuatu yang tak ingin di akui....

...“Lakukan tugas mu dengan baik,” katanya akhirnya, nada suaranya lebih pelan dari sebelum-nya. “Kalau Karan tenang di tangan mu... jangan lepaskan sampai tertidur.”...

...Naya menunduk. “Baik, Tuan.”...

...Arya berbalik, melangkah menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia sempat berhenti sejenak—menatap punggung Naya yang mengayun pelan, menidurkan putranya....

...Ada sesuatu di dada Arya yang terasa sesak, tapi ia tak tahu kenapa. “Kau punya aura yang lembut,” ucapnya tiba-tiba, datar namun tulus. “Jaga itu.”...

...Naya terkejut, menatap punggung Arya yang perlahan menghilang di balik pintu....

...“Tuan Arya…” gumam-nya pelan, tak tahu harus takut atau justru kagum....

...Naya menatap bayi di gendongan-nya yang kini tertidur pulas....

...“Ayahmu... menyeramkan sekali, Nak,” bisiknya sambil tersenyum tipis. “Tapi entah kenapa… aku tidak merasa ingin lari.”...

...0o0__0o0...

...Arya berdiri di depan monitor ruang kerja pribadinya. Salah satu layar menampilkan rekaman dari kamera di kamar putra pertamanya....

...Mata tajamnya melihat Naya duduk di kursi dekat jendela, menggendong Karan dengan penuh kasih....

...Wajah perempuan itu tampak tenang, penuh kelembutan yang sudah lama tidak Arya lihat di rumah ini....

...Tangan-nya terhenti di meja. Tatapan-nya tak bisa lepas. Setiap gerak Naya terlihat alami, lembut, dan penuh kasih....

...Karan kecilnya tampak nyaman di pelukan Babysitter baru itu. Sementara dirinya hanya bisa berdiri diam, menatap dari balik layar rekaman Cctv....

...Ada sesuatu yang menekan dadanya....

..."Kenapa aku... memperhatikan sejauh ini ?" pikirnya geram pada diri sendiri. "Dia hanya seorang pengasuh. Hanya itu."...

...Tapi matanya tak juga berpaling. Ada daya yang aneh—hangat, menenangkan, sekaligus membingungkan....

...Naya tampak berbeda dari perempuan lain yang pernah ia temui: polos, sederhana, tapi punya aura yang membuat suasana kamar itu terasa hidup....

...Tangan-nya mengepal di sisi meja. ...

...“Bodoh,” gumamnya pelan, memalingkan pandangan. “Kau terlalu lama sendirian, Arya.”...

...Namun sebelum mematikan layar, ia sempat melihat Naya membelai lembut kepala putranya, bibirnya membentuk senyum kecil yang tulus....

...Senyum itu, anehnya membuat dada Arya terasa hangat, meski ia menolak mengakuinya....

...0o0__0o0...

...Naya duduk di kursi dekat jendela, sinar sore menembus tirai tipis dan menyelimuti wajahnya dengan cahaya keemasan....

...Di pelukan-nya, bayi kecil itu tampak nyaman—napasnya kecil, matanya besar, bening, menatap wajah Naya dengan polos....

...“Hei, Baby Boy...” bisik Naya sambil tersenyum. “Nama mu Karan, ya ? Karan Alvaro Maheswara. Nama yang keren banget untuk bayi sekecil kamu.”...

...Karan menggerakkan bibir mungil-nya, seperti berusaha menjawab....

...Naya terkekeh kecil, menatap-nya dengan tatapan penuh sayang bercampur gemas....

...“Kamu tahu nggak, aku deg-degan banget pas pertama kali ketemu Daddy mu tadi. Tatapan-nya... duh, kayak mau nembus tulang sampai gemetar.”...

...“Tapi kamu...” Naya menyentuh pipi Karan lembut. “Kamu malah bikin hati aku adem dan tenang.”...

...Bayi itu menguap kecil, lalu meng-genggam jari Naya dengan tangan mungil-nya....

...Naya tersenyum semakin lebar, hatinya hangat....

...“Aduh, kuat banget genggaman-nya, Baby Boy. Kamu pasti calon pria tangguh kayak Daddy mu, ya ?”...

...“Tapi janji, jangan sekeras hatinya, ya ?” candanya pelan, di sertai tawa kecil....

...Karan mendecak pelan, suaranya seperti gumaman lucu....

...Naya mengelus ubun-ubunnya perlahan, ayunan-nya lembut, irama napasnya menyatu dengan napas bayi itu....

...“Mulai hari ini, Sus Naya yang bakal jaga kamu, Sayang. Aku nggak tahu apa aku bisa jadi yang terbaik, tapi aku janji... aku bakal sayang sama kamu kayak anakku sendiri.”...

...Suara angin di luar jendela terdengar lembut, membuat suasana kamar terasa damai....

...Karan perlahan memejamkan mata, tertidur pulas dalam pelukan hangat itu....

...Naya menatap wajah mungilnya lama-lama, lalu berbisik pelan....

...“Tidurlah, Karan. Dunia di luar sini terlalu keras, tapi semoga kamu tumbuh jadi seseorang yang penuh kasih.”...

...“Aku di sini, Baby. Aku nggak akan ke mana-mana.”...

...Naya masih duduk di kursi itu, memandangi wajah kecil yang kini tertidur damai di pelukannya....

...Suara napas bayi itu berirama lembut, seperti meluruhkan seluruh ketegangan dalam dirinya....

...Untuk pertama kalinya sejak tiba di mansion itu, Naya merasa tenang. Ia menatap keluar jendela—langit senja mulai memudar, meninggalkan cahaya jingga terakhir yang menembus tirai....

...Senyumnya tipis, tapi tulus. “Mungkin tempat ini nggak seburuk yang aku kira,” bisiknya pelan....

...Tanpa Naya sadari, dari balik pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata tajam memperhatikan dalam diam....

...Arya berdiri di sana—tanpa ekspresi, tapi pandangan-nya tidak bisa lepas dari sosok pengasuh muda yang kini memeluk putranya dengan begitu lembut....

...Laki-laki itu menarik napas panjang, lalu menutup pintu perlahan, tanpa suara....

...“Naya Larasati…” gumamnya rendah. “Jangan buat aku menyesal memperkerjakan mu.”...

...Langkah kakinya menjauh, bergema pelan di koridor panjang mansion itu....

...Sementara di dalam kamar, Naya bersandar pelan di sandaran kursi, masih memeluk bayi kecil itu, tak tahu bahwa kehadiran-nya sudah mulai mengusik hati seseorang yang telah lama membeku....

...0o0__0o0...

2. Godaan Babysitter

...0o0__0o0...

...Tengah malam....

...Di ruang kerjanya yang remang, Arya masih berkutat dengan tumpukan dokumen di atas meja....

...Sejak pulang dari luar kota, pria itu belum beranjak dari kursinya—sibuk, tenggelam dalam urusan kantor hingga lupa waktu....

...Lembar demi lembar sudah di periksa, di tandatangani, dan di susun rapi. Saat tangannya hendak meraih berkas terakhir, pikirannya tiba-tiba melayang pada sosok putranya....

...Hari ini Arya belum sempat menengok sang anak sama sekali....

...Dengan helaan napas pelan, ia mengambil iPad di sisi meja, lalu membuka aplikasi CCTV rumah....

...Jarinya menggeser layar mencari rekaman kamar sang putra. Tapi detik berikutnya, napasnya tertahan....

...Di layar tampak kamar Karan dalam cahaya temaram lampu tidur. Awalnya terlihat normal—Karan tidur nyenyak di ranjangnya...

...Di layar iPad itu, tampak suasana kamar sang putra yang gelap, hanya di terangi lampu tidur kecil di sudut ruangan. Arya mengernyit, jemarinya men-tap layar untuk memperbesar tampilan....

...Awalnya tak ada yang aneh — putranya, Karan, tampak terlelap di ranjang, posisi tidurnya seperti biasa. Namun beberapa detik kemudian, sesuatu membuat dada Arya menegang....

...Bayangan samar melintas di sisi tempat tidur. Bukan… bukan pantulan. Itu jelas seseorang....

...Arya memajukan rekaman beberapa detik ke depan. Sosok itu muncul lebih jelas — seorang wanita berdiri di tepi ranjang, mengenakan baju tidur pendek. Rambutnya tercepol asal, memperlihatkan kaki jenjang putih mulusnya....

...Detik berikutnya, lampu kamar terang benderang… lalu sosok itu duduk pinggir ranjang. dengan tubuh hanya memakai kain segita berenda putih tipis. Setelah melepas baju tidurnya....

...Naya tampak gelisah di rekaman itu. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri karena produksi ASI yang terus meningkat....

...Dengan raut menahan sakit, gadis itu duduk dan mulai memompa ASI-nya menggunakan alat khusus....

...Wajahnya terlihat lelah, tapi juga lega ketika rasa sesak itu perlahan mereda....

...Arya terpaku di depan layar. Urat di rahangnya menegang, matanya tak berkedip menatap sosok itu. Ia mundurkan rekaman, memutarnya kembali dan hasilnya tetap sama. Sosok di video itu... babysitter putranya sendiri....

...“Kenapa produksi Asiku makin banyak, ya…” gumam Naya lelah sambil menatap alat pompa di tangannya. “Padahal tadi Karan sudah menyusu.”...

...Raut wajahnya terlihat letih tapi tetap lembut. Gadis itu terus memompa ASI-nya sampai wadah penampungnya perlahan terisi penuh....

...Sejak usia 18 tahun, Naya memang mengalami ketidak seimbangan hormon yang membuat produksi ASI-nya berlebih. Kini, setelah menyusui anak majikannya, kondisi itu semakin terasa....

...Makanan sehat yang Naya konsumsi setiap hari membuat produksi ASI-nya semakin meningkat. Dan gadis itu setiap hari menahan rasa nyeri akibat payudara yang penuh justru jauh lebih menyakitkan, sehingga memompa menjadi satu-satunya cara untuk meredakan....

...Beberapa menit kemudian, Naya selesai. Ia memindahkan hasil ASI itu ke botol, lalu menyimpannya hati-hati di dalam kulkas kecil di kamar....

...“Lumayan juga…” ujarnya kecil, menatap botol-botol itu dengan senyum tipis. “Kalau di jual, mungkin bisa jadi penghasilan tambahan.” Ia terkikik pelan, mencoba menghibur diri di tengah lelahnya malam....

...Arya berdiri terpaku di depan layar monitor. Pundaknya menegang, napasnya tak beraturan. Ia tak menyangka akan melihat sisi lain dari Naya — sisi yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya....

...Gerak lembut gadis itu di rekaman, ekspresi lelah tapi tulus saat memompa ASI untuk anaknya, menimbulkan sesuatu yang sulit ia jelaskan. Ada rasa kagum… tapi juga sesuatu yang mengusik nalarnya....

...“Kenapa aku… bereaksi begini ?” desisnya pelan....

...Arya mengusap wajah, berusaha menepis bayangan yang menari di kepalanya. Namun semakin di tolak, semakin kuat bayangan tubuh meng-goda itu menghantam-nya....

..."Sial, Babysitter itu tampak sangat menggoda iman." Umpatnya frustasi....

...Arya menarik napas panjang, menutup laptop-nya dengan hentakan ringan. Ia memejamkan mata sejenak, menenangkan diri....

...“Kau cuma lelah, Arya,” bisiknya, meyakinkan diri sendiri. Tapi denyut di tengah selangkangan-nya berkata sebaliknya....

..."Shit!" Umpat Arya. Saat pusaka'nya membengkak dan berontak meminta jatah....

...Laki-laki itu berusaha mengalihkan pikiran kotornya, namun tidak berhasil. Arya langsung bergairah hanya dengan mengingat tubuh Babysitter putranya....

..."Aku tidak tahan lagi." Guman'nya. Bangkit menuju kamar mandi....

...Arya berdiri di bawah pancuran air dingin shower yang membasahi tubuh polosnya. Sedangkan tangannya di bawah sana terus bergerak cepat, mengocok pusaka'nya....

..."Argh..! Sial. Tubuh gadis itu benar-benar menggoda." Erang-nya. Sambil terus membayangkan tubuh Babysitter putranya yang montok....

..."Bagaimana jika aku menghisap kuat dada sintalnya itu ?" Batin membayangkan hal gila. "ASI-nya pasti rasanya enak dan bikin nagih." Racau-nya....

...Tangan Arya terus bergerak naik-turun semakin cepat, apalagi saat membayangkan mulut Babysitter itu terisi benda ber-uratnya yang panjang dan besar ini....

..."Ah, Naya." Desahnya. "Mulutmu pasti enak saat di sodok sampai mentok."...

...Arya semakin mempercepat kocokannya, saat pusaka'nya semakin membengkak dan berada di ujung pelepasan....

..."Ahhhhh...Naya.."...

...Desahan panjang lolos dari bibir duda kaya raya itu. Rasanya lega saat ia berhasil sampai pada puncaknya....

...Arya mendongak, dengan nafas naik-turun sedikit cepat, lega meskipun tidak sepenuhnya....

...Entah kenapa Duda itu langsung tergoda hanya dengan melihat tubuh Naya lewat cctv. Padahal di luar sana banyak wanita sexy yang selalu menggodanya, namun tidak mampu membuat pusaka'nya terbangun....

..."Shit !" Umpat'nya. Saat membayangkan sempitnya pepek milik Babysitter putranya itu....

...Arya gegas mandi, sebelum tubuh'nya kembali bereaksi dan membuatnya harus berjuang solo lagi....

..."Naya Larasati" Guman'nya datar. "Jangan tubuhmu baik-baik, sebelum aku benar-benar hilang kendali."...

...0o0__0o0...

...Sedangkan di dalam kamar, Naya duduk di sofa panjang dengan kaki terbuka lebar. Tangannya mengelus lembut bulu-bulu yang tumbuh lebat pada bagian intim-nya....

..."Cepat sekali tumbuh, baru seminggu lalu aku cukur." Guman'nya pelan....

...Naya menunduk, melihat pusat inti tubuh'nya yang berwarna pink, tembem dan belum terjamah oleh siapapun. Ia langsung mencukur bersih bulu-bulunya, sampai tak tersisa....

..."Sial, aku jadi horny." Umpat Naya....

...Meskipun tinggal di kampung, Naya bukan gadis polos. Ia justru merawat tubuhnya sebagai aset terpenting untuk mendapatkan ladang uang....

...Setelah mencukur bersih, Naya duduk bersandar. Tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Ia mendongak dengan tangan meremas payudaranya sendiri....

..."Erghhh...!" Naya mengerang. "Gimana rasanya, jika tangan tuan Arya meremas aset ku ini ? Pasti rasanya jauh lebih nikmat." Guman'nya membayangkan....

...Naya terus meremas payudara-nya, hingga ASI-nya keluar, meluber mengalir ke perut. Namun ia tidak peduli dan meneruskan fantasi liarnya....

..."Owhh...tuan Arya, sedot yang kuat pucuknya." Racau Naya....

...Tangan Naya di bawah menggesek bagian intim-nya dengan jari. Semakin cepat dengan terus membayangkan hal vulgar tentang majikannya....

..."Ah... sedikit lagi, tuan Arya." Racau Naya pelan....

...Tangannya bekerja semakin cepat, hingga akhirnya gadis itu mencapai puncak klimaks....

..."Ahhhhh..."...

...Desa Naya lega. Tubuhnya langsung melemas dengan nafas naik-turun dan mulut setengah terbuka....

...Dan tanpa Naya sadari, dari balik cela pintu yang terbuka sedikit. Berdiri sosok laki-laki yang sedari tadi memperhatikan aktivitas Naya....

..."Menarik dan begitu menggoda." Guman'nya. Lalu berbalik pergi dari sana....

...0o0__0o0...

3. Asupan Pagi Hari

...0o0__0o0...

...Jam delapan pagi, Naya dan Karan sudah tampil sangat rapi dan harum. Hari ini mereka berdua akan ikut pergi bersama Arya....

...Naya menggendong bayi mungil itu yang baru berusia satu tahun, sementara Karan terlihat tampan sekaligus menggemaskan dengan baju bergambar singa dan topi kecil yang senada....

...Naya menghujani wajah bayi itu dengan ciuman bertubi-tubi hingga Karan tertawa lebar....

...“Baby Karan ganteng banget! Mau ikut Daddy kemana, hm ?” godanya sambil terkekeh....

...Tok! Tok!...

...Suara ketukan terdengar dari luar kamar....

...“Naya, cepat keluar. Tuan sudah nunggu di meja makan!" Seru Bik Mina dari luar....

...Mendengar itu, Naya langsung panik. Ia bergegas sambil menggendong Karan erat-erat....

...“Siap, Bik! Kita siap meluncur!” teriaknya riang....

...Bik Mina hanya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. “Dasar bocah, tapi pintar momong bocah,” gumamnya, lalu turun ke bawah....

...Meski masih muda, Naya punya naluri luar biasa dalam merawat bayi. Karan yang biasanya menolak di dekati siapa pun, justru anteng di pelukan-nya....

...Bahkan para pelayan mansion ini tidak ada yang bisa mendekati bayi kecil itu tanpa membuat-nya menangis histeris....

...Selama ini, Arya merawat putranya sendiri. Setiap kali mempekerjakan babysitter baru, hasilnya selalu sama, tangis keras dan penolakan total dari Karan....

...Sampai akhirnya datanglah Naya, gadis cantik yang entah dengan cara apa..mampu membuat Karan nyaman....

...Beberapa orang bilang mungkin karena naluri keibuan-nya atau karena Naya punya sesuatu yang di butuhkan bayi itu. Entahlah..?...

...0o0__0o0...

...Di ruang makan, Arya duduk tenang sambil menatap tablet, memeriksa email satu per satu. Wajahnya datar, seperti biasa....

...Tak lama kemudian, Naya muncul sambil menggendong Karan. Ia berhenti di ujung meja....

...“Pagi, Tuan,” sapanya sopan, tersenyum tipis....

...Arya menatap sekilas lalu mengangguk. “Duduk dan makan.” Ucapnya datar...

...Naya menoleh kanan-kiri, bingung. Tak ada siapa pun di sana selain dirinya. “Tuan… Menyuruh saya ?” tanyanya ragu....

...Arya menaikkan alis, menatap Naya datar. “Kamu pikir di sini ada orang lain selain kamu ?”...

...“Tidak, Tuan,” jawab Naya cepat, senyum kaku di bibirnya....

...“Lalu tunggu apa lagi ?”...

...Nada suaranya datar, tapi ada sedikit nada gemas yang tak di sadari Arya sendiri....

...Naya langsung duduk di seberang, memangku Karan yang sibuk memainkan bajunya....

...“Dasar duda es batu… untung tampan dan kaya,” gumam-nya pelan dalam hati....

...Arya menjentikkan jarinya....

...Dua pelayan langsung datang....

...“Ambilkan makanan bergizi untuk Naya. Lengkap.” Perintah Arya datar....

...Sementara dirinya hanya mengambil roti panggang dan kopi hitam....

...Beberapa menit kemudian, sepiring penuh makanan sehat tersaji di depan Naya — daging, sayuran, buah, dan susu, semuanya lengkap....

...Naya menatapnya lebar-lebar....

...“Tuan, Anda mau bikin saya gendut, ya ?” protesnya spontan....

...Arya hanya melirik singkat. “Putra saya butuh ASI berkualitas tinggi. Kalau kamu keberatan, kamu boleh hengkang dari sini.” Ancaman-nya....

...Naya langsung panik. Gaji lima puluh juta sebulan, mana mungkin ia lepaskan begitu saja....

...“Tidak, Tuan! Saya makan, saya makan semua. Tapi… Boleh saya kurangi nasinya sedikit ?”...

...Arya menatapnya tajam. Belum sempat menjawab, Naya buru-buru menimpali....

...“Tuan, nasi itu kan nggak mengandung vitamin. Jadi nggak akan pengaruh ke kualitas ASI saya.”...

...Hening sejenak. Lalu Arya mengangguk pelan....

...Pelayan paham maksudnya, lalu mengurangi nasi di piring Naya....

...“Tolong kurangi lagi ya, satu centong saja,” ucap Naya lembut....

...Pelayan itu melirik sinis, tapi tetap menuruti perintah....

...“Dasar, sama-sama babu tapi banyak tingkah,” guman Friska kesal dalam hati....

...Hening....

...Baru satu suap nasi masuk ke mulut Naya, Karan mulai merengek, tangan kecilnya menarik-narik baju Naya sambil bersuara manja tak jelas....

...Bayi itu gelisah, menoleh ke sana kemari. Mencari sumber kehidupan-nya....

...Arya yang sudah selesai sarapan segera berdiri dan menghampiri mereka....

...“Berikan padaku. Biar Karan aku yang gendong,” katanya datar....

...Naya segera berdiri dan menyerahkan bayi itu. Namun Karan langsung menangis keras, tubuh mungilnya menegang, tangan-nya meraih kembali arah Naya....

...Arya mencoba menenangkan, mengayun perlahan, tapi Karan semakin keras menangis....

...Naya menatap canggung, lalu berkata hati-hati, “Tuan, sepertinya Baby Karan lapar. Biar saya susui sebentar, ya.”...

...Arya terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia menyerahkan kembali putranya....

...Begitu berada dalam pelukan Naya, tangis Karan langsung mereda. Wajah kecil itu menempel di dada sang pengasuh, matanya perlahan terpejam, mencari kenyamanan sambil menghisap rakus ASI-nya....

...Naya membelai kepala Karan lembut, menepuk pelan bokongnya sambil melanjutkan makannya perlahan....

...Arya memperhatikan pemandangan itu tanpa suara. Ada sesuatu di dadanya yang terasa aneh, tapi juga menekan. Ia tak pernah melihat putranya setenang itu bersama siapa pun selain dirinya sendiri....

...“Aneh… anak sekecil ini bisa begitu percaya padanya,” batin Arya pelan....

...Arya melonggarkan dasinya, entah karena udara pagi yang terasa pengap atau karena sesuatu yang membuat dadanya sesak....

...Pandangan-nya sempat tertahan pada sosok Naya yang tengah menenangkan Karan di pelukannya. Ada kehangatan yang sulit ia jelaskan, tapi juga menimbulkan gelisah....

...Namun mata'nya tak lepas dari dada Naya terlihat besar dan menggoda itu. "Sial, rasanya aku ingin ada di posisi Karan." Batin Arya gusar....

...Arya segera berdiri. “Makanlah perlahan, saya tunggu di luar,” ujarnya datar....

...Begitu keluar, Arya menyalakan rokok. Asap putih mengepul, tapi pikirannya tetap tak tenang....

...Duda itu membuang napas berat, mencoba menepis bayangan yang terus muncul di kepalanya....

..."Barangku sekarang jadi murahan sekali, hanya melihat penampakan payudara Babysitter Putraku... langsung terbangun." Guman'nya pelan....

...Bibirnya menghisap dalam-dalam rokok yang terselip di jemarinya. Keringat sebiji jagung terlihat di pelipisnya. Membuat auranya semakin mempesona....

...Tak lama kemudian, Naya muncul membawa Karan yang sudah terlelap. “Tuan, saya sudah selesai,” ucapnya hati-hati....

...Arya langsung mematikan rokoknya dan membuka pintu mobil. “Masuk.”...

...Naya menurut. Saat ia duduk, lipatan kain seragamnya tersingkap ke atas, menampakkan kulit putih mulus di pahanya....

...Arya sempat melihat, lalu berpaling cepat, tapi denyut di pelipisnya tak bisa berbohong. Bahwa Babysitter itu berhasil membuatnya gelisah....

...Sedangkan Naya melirik ke arah selangkangan bosnya yang terlihat jelas mengembung sempurna....

..."Dih, baru segini...tuh titit sudah bengkak." Batinnya menyeringai....

...Di sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka bicara. Tapi udara di dalam mobil seolah padat, oleh sesuatu yang tak semestinya mereka rasakan....

...Di dalam mobil, suasana hening....

...Hanya suara mesin yang terdengar, berpadu dengan napas halus Karan yang tertidur di pangkuan pengasunya....

...Naya menatap keluar jendela, seolah pemandangan jalan bisa menenangkan dadanya yang berdebar....

...Arya duduk di sampingnya, diam. Dari ekor mata, ia bisa melihat wajah Naya yang cantik, namun ada semburat letih di sana — yang entah kenapa membuat hatinya tergerak....

...Duda yang terkenal dingin itu tak pernah berlama-lama menatap seorang perempuan, apalagi sampai begini....

...Namun sejak Naya datang, tempatnya tak lagi sesunyi dulu....

...Ada tawa kecil, suara lembut, dan wangi susu bayi yang anehnya membuat mansion terasa hidup....

...Arya menghela napas dalam....

...Bukan hanya soal nafsu, tapi karena takut pada perasaan yang mulai tumbuh di tempat yang salah. Ia menatap Karan sekilas, lalu melirik paha mulus Naya, yang begitu menantang dan meng-goda....

...“Naya,” panggilnya lirih....

...Gadis itu menoleh cepat, seakan takut membuat kesalahan. “Iya, Tuan ?”...

...“Kalau… kalau Karan rewel nanti, jangan sungkan membangunkan saya.” Suara Arya terdengar serak, seolah ada sesuatu yang tertahan di tenggorokan-nya....

...Naya mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”...

...Keheningan kembali turun, kali ini lebih dalam....

...Naya menunduk, tak berani menatap lelaki di sampingnya. Tapi di dada, ada rasa hangat yang tak bisa ia pahami perasaan aneh yang muncul setiap kali mendengar suara Arya....

...Dan di sisi lain, Arya menatap keluar jendela, menekan gairah yang membuat celananya sesak....

...Hatinya berbisik, "Kenapa aku tak bisa menahan gejolak ini padanya…?"...

...0o0__0o0...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!